Connect with us

Box Office

Review Film John Wick: Chapter 3 – Parabellum, aksi memukau dengan cerita yang solid

Published

on

GwiGwi.com- Pasca menghabisi nyawa anggota High Table dalam The Continental di film sebelumnya, John wick (Keanu Reeves) mulai diburu dengan bayaran kepala seharga 14 juta USD.

Lantas, gerak-gerik John pun menjadi tidak tenang dimanapun ia berada karena diburu oleh pembunuh bayaran dari seluruh dunia. You can run but you can’t hide.

Keanu Reeves stars as ‘John Wick’ in JOHN WICK: CHAPTER 3 – PARABELLUM.

Dalam masa waktu tersebut, ia mendapatkan pertolongan dari pembunuh bayaran yang masih percaya dengannya bernama Sofia (Halle Berry). Dengan sekuat tenaga, John harus berkutat dengan waktu dan para pembunuh bayaran yang Siap mengincar kepalanya kapanpun dan dimanapun.

Mampukah ia berhasil lolos dari perburuan Ini? Atau malah berakhir dengan maut?

Film yang dinahkodai oleh Chad Stahelski dan naskahnya dikerjakan kembali oleh Derek Kolstad yang menulis dua film John wick sebelumnya.

Film Ini memiliki aksi yang intens dari awal hingga akhir. Judul film ini diambil dari kutipan militer Romawi abad ke-4 yang terkenal “Si vis pacem, para bellum,” yang artinya, “Jika Anda menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk perang.”

Performa Keanu Reeves pun dalam saga John Wick Ini pun seakan melepas dahaga para penonton seperti bangkit kembali sebagai aktor film action, setelah namanya meredup usai membintangi Constantine (2005).

Untuk sebuah sekuel, film Ini makin memiliki lingkup yang lebih besar dari para pembunuh bayaran yang mengincar John Wick dengan harga bounty yang besar.

Penulis naskahnya pun juga memahami apa yang diinginkan penonton. Terbukti tanpa banyak basa-basi penonton sudah dibuat terpukau lewat serangkaian adegan aksi John Wick dengan senjata yang seadanya.

Baca Juga:  Review Film The Crawl, Aksi menegangkan melawan teror Aligator dan bencana alam

Pengembangan karakternya pun juga terlihat di film Ini, dengan skala aksi yang lebih besar sudah pasti karakternya pun juga ikut tumbuh berkembang seiring berjalannya cerita.

Tidak hanya mengandalkan aksi yang memukau, film ini juga memiliki narasi cerita yang solid dibandingkan dua film sebelumnya.

Si sutradara dan penulis naskah mengetahui bagaimana menyajikan film Ini, cerita beserta aksinya bersinergi dengan baik dan diimbangi dengan kemunculan tokoh-tokoh yang sudah dikenal dalam saga Ini maupun tokoh yang baru muncul di film Ini.

Bagian paling menarik adalah kemunculan dua aktor laga asal Indonesia yaitu Yayan Ruhiyan dan Cecep Arif Rahman yang terkenal lewat film The Raid.

Bukan hanya unjuk kebolehan kemampuan bela dirinya saja, namun juga berdialog dengan bahasa Indonesia dan Keanu Reeves sebagai John Wick juga membalas dengan bahasa Indonesia juga. Mungkin kita akan terpukau di bagian ini, Karena mereka berdua memiliki screen time yang cukup banyak tidak seperti di film-film lain dimana Kang Yayan dan Kang Cecep terlibat.

Secara keseluruhan, John Wick 3: Parabellum Ini merupakan sebuah film dengan paket lengkap. Aksi yang intens serta narasi cerita yang solid dan tidak lupa sinematografi yang indah secara estetika untuk sebuah film.

Meskipun film Ini konon menjadi penutup dari kisah John Wick si pembunuh bayaran. Mungkin saja setelah menyaksikan film Ini, kemungkinan besar akan membuat penonton ingin terus melihat aksi Keanu Reeves sebagai John Wick.

Ya, mungkin saja akan seperti franchise Fast and Furious wannabe yang ditunggu oleh penggemar maupun penikmat film awam yang mencari hiburan di layar lebar.

Box Office

Review Film Stuber, komedi aksi a la Dave Bautista dan Iko Uwais

Published

on

By

GwiGwi.com – Vic (Dave Bautista) dan partnernya Morris (Karen Gillan), anggota kepolisian LAPD mendapatkan tugas untuk menangkap seorang drug dealer bernama Tedjo (Iko Uwais).

Sialnya, kasus tersebut berakhir dengan kematian Morris yang dibunuh oleh Tedjo.

Dirundung perasaan bersalah dan sulit untuk menerima kematian Partnernya, Vic pun menjadi terobsesi untuk mengejar dan menangkap Tedjo.

Selang beberapa bulan kemudian, Vic mendapat kabar bahwa Tedjo kembali untuk melakukan transaksi pengedaran narkoba di Los Angeles (LA).

Mendengar hal ini, Vic pun langsung mencari tahu di mana keberadaan Tedjo sebenarnya.

Sayangnya, kembalinya Tedjo ini berbarengan dengan kondisi Vic yang baru saja menyelesaikan operasi lasik karena kerap merasa kurang praktikal apabila terjun ke lapangan menggunakan kacamata.

Dikarenakan kondisi mata yang belum pulih, ia pun masih mengalami kesulitan untuk melihat.

Hal itulah yang akhirnya membuatnya memutuskan untuk memburu Tedjo menggunakan moda transportasi online Uber dan mendapatkan Stu sebagai driver-nya.

Bagaimana Vic dan Stu bersatu untuk menangani kasus berat Ini?

Film garapan sutradara Michael Dowse berhasil memadukan genre film action dan komedi dengan sangat baik dan seimbang.

Tidak hanya dari segi action saja, dari segi komedinya. Jokes yang keluar di film Ini patut diacungi jempol.

Penggabungan karakter yang sangat bertolak belakang antara Vic dan Stu pun sangat mengundang tawa, di mana Vic adalah seseorang yang sangat serius, sedangkan Stu merupakan seseorang yang sangat humoris namun juga sensitif.

Baca Juga:  Review Film Stuber, komedi aksi a la Dave Bautista dan Iko Uwais

Jokes-jokes yang berhamburan sepanjang Film tepat sasaran dan tandeman antara Dave Bautista dan Kumal Nanjiani berhasil tersaji dengan baik dan berhasil membuat penonton terpingkal-pingkal.

Namanya juga film action, pasti harus Ada adegan aksi yang intens menjadi daya tarik utamanya.

Apalagi ada Iko Uwais, fighting choreography-nya juga diurus oleh aktor asal Indonesia yang terkenal lewat film Merantau dan The Raid.

“Semua orang memiliki karakter fighter-nya sendiri-sendiri. Tidak mungkin ada yang sama sepenuhnya dan tidak perlu harus mempelajari pencak silat terlebih dahulu untuk memahaminya. Dari judo, karate, dan seni bela diri lainnya pun bisa sehingga pada akhirnya akan muncul karakter fighter yang unik dan berbeda-beda pada setiap orang”, ujar Iko dalam acara press release film Stuber.

Saat menyaksikan film ini, kalian pun disajikan dan ikut merasakan hasil fighting choreography yang menakjubkan dari Iko Uwais.

Terlebih saat scene perkelahian antara Vic dan Tedjo. Menurut gue, semua pemain telah berhasil memperlihatkan fighting skills mereka dengan baik.

Secara keseluruhan, film Stuber merupakan film yang menarik ditengah gempuran trend sekuel, reboot dan remake di perfilman Hollywood.

Sebuah sajian segar dengan genre action-komedi ditambah dengan rasa bangga kita sebagai orang Indonesia dengan performa Iko Uwais yang memukau.

Oiya, film ini akan dirilis di tanggal 24 Juli 2019 di bioskop seluruh Indonesia.

Continue Reading

Box Office

Kolaborasi Spesial Disney Indonesia dan Riomotret dalam “Disney’s The Lion King Through Our Lens”

Published

on

GwiGwi.com – Untuk menyambut perilisan film Disney’s “The Lion King”, Disney Indonesia berkolaborasi dengan fotografer Riomotret untuk menghadirkan koleksi foto spesial yang bertajuk “Disney’s The Lion King Through Our Lens”. Mulai dari tanggal 16 Juli hingga 4 Agustus 2019, para penggemar dapat melihat koleksi foto spesial tersebut di area Disney’s “The Lion King” yang terletak di lantai dasar Mall Plaza Senayan,
Jakarta.

Sembilan foto spesial dalam kolaborasi “Disney’s The Lion King Through Our Lens” menampilkan nuansa serta elemen yang terinspirasi dari salah satu film Disney paling legendaris tersebut. Kolaborasi spesial ini juga melibatkan deretan selebriti para penggemar seperti Asmirandah dan Jonas Rivanno, Cinta Laura, Gisella Anastasia dan Gempita, Glenn Alinskie, Chelsea Olivia dan Nastusha, Luna Maya, Marsha Aruan, Rossa, dan Titi Kamal.

“Rasanya sangat menyenangkan karena dapat menghadirkan sebuah karya spesial yang terinspirasi dari salah satu kisah favorit saya. Saya harap kolaborasi ini dapat menjadi cara yang unik dan segar bagi para penggemar untuk menikmati cerita, karakter, serta elemen elemen yang ada dalam film Disney’s ‘The Lion King’,” ungkap Riomotret.

Baca Juga:  Review Film Toy Story 4, berhasil membuat kita nangis lagi?

Disutradarai oleh Jon Favreau, Disney’s “The Lion King” menghadirkan sebuah petualangan di padang rumput Afrika dimana sang raja dilahirkan. Simba sangat mengagumi sosok ayahnya, Mufasa, dan siap memenuhi takdirnya sebagai pewaris tahta kerajaan. Namun, tidak semua orang di kerajaan tersebut menyambut kehadiran Simba dengan baik. Scar, saudara Mufasa yang tadinya merupakan pewaris utama kerajaan, memiliki rencana lain untuk Simba.

Pertarungan di Pride Rock yang dipenuhi dengan pengkhianatan dan tragedi akhirnya membuat Simba akhirnya diasingkan. Dengan bantuan dari dua teman barunya, Simba harus berusaha untuk menjadi sosok yang lebih dewasa sehingga siap merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.

Dibintangi oleh Donald Glover sebagai Simba, Beyoncé Knowles-Carter sebagai Nala, James Earl Jones, yang kembali memerankan Mufasa, ayah Simba, Chiwetel Ejiofor memerankan tokoh antagonis Scar, Seth Rogen sebagai Pumba dan Billy Eichner sebagai Timon. Dengan teknologi  pembuatan film modern untuk membawa kembali kisah dan karakter ikonik para penggemar, Disney’s “The Lion King” hadir di bioskop-bioskop favorit penggemar mulai dari 17 Juli 2019.

Continue Reading

Box Office

Review Film Dua Garis Biru, penyampaian sebuah pesan yang dikemas dengan fun

Published

on

GwiGwi.com – Dara (Zara JKT 48) dan Bima (Angga Aldi Yunanda) adalah sepasang kekasih yang masih duduk di bangku SMA yang lagi sayang-sayangnya, terlepas keduanya memiliki latar belakang sosial yang berbeda.

Malah saking lekatnya, keduanya kerap dicap sebagai “suami-istri” oleh teman-teman sekelas mereka.

Well omongan adalah doa, Bima dan Dara tidak sengaja “kebablasan”. Akibat perbuatan ini, kehidupan keduanya mengalami perubahan drastis.

Kini di usia mereka yang masih belia, keduanya harus menghadapi kenyataan pahit untuk menjadi calon ayah dan ibu serta menanggung malu dari teman, orang tua, dan lingkungan sekitar. Karena masih di usia yang sangat terbilang muda.

Lantas, bagaimana mereka menyikapi semua ini?

Film ini merupakan debut sutradara dari penulis naskah kawakan Gina S.Noer (Perempuan berkalung sorban, ayat-ayat cinta) yang juga menulis naskah untuk film ini, konon ia telah mengembangkan naskah untuk dua garis biru selama 8 tahun.

Pas trailernya pertama kali keluar sempat ada gerakan boikot untuk film Ini, namun show must go on. Karena tujuan dari film ini bisa menjadi media edukasi seks yang sangat efektif bagi remaja-remaja di negeri kita saat ini.

Meskipun memiliki premis yang sangat umum jika kita melihat film luar negeri. Namun kali ini gue terkejut kalau Indonesia juga bisa dan Film Ini terlihat keren.

Tiap shot di sepanjang film terlihat apik dan membuat penonton terpukau serta naskah yang to-the-point tanpa harus bertele-tele.

Menurut gue, mbak Gina juga berhasil menyampaikan bahwa pentingnya pendidikan seks untuk para remaja tanpa harus menggurui.

Hal ini diwakili lewat beberapa adegan baik secara tersirat maupun tersurat yang menunjukkan seenggak tahunya Dara dan Bima soal apa yang udah mereka perbuat. Serta konsekuensi yang mereka tanggung di sepanjang film.

Selain jadi pembuka mata dan pikiran masyarakat tentang betapa pentingnya pendidikan sex untuk remaja, film ini juga berhasil ngasih pesan mendalam soal tanggung jawab, hubungan dengan keluarga, dan yang paling penting keberanian buat melakukan hal yang benar.

Baca Juga:  Review Film The Crawl, Aksi menegangkan melawan teror Aligator dan bencana alam

Film yang dibintangi oleh Zara JKT48, Angga Yunanda, Rachel Amanda, Asri Welas, Lulu Tobing, Dwi Sasono, Cut Mini, dan Arswendy Bening Swara berhasil melakukan performa terbaiknya masing-masing BRAVO !!!

Hal ini ditunjukan lewat scene long take sekitar 6 menit yang melibatkan para anak dan orang tua di UKS sekolah.

Scene ini terasa intens banget. Berhasil meluapkan semua emosi yang ada, bahkan penonton bisa nahan napas saking kerennya adegan ini.

Lewat scene ini, Sang sutradara ingin memberikan kesempatan buat para orangtua dan anak untuk bisa melakukan pembicaraan dari hati ke hati. Sesuatu yang kadang jadi hal yang perlu dilakukan untuk bisa memecahkan masalah secara bersama-sama.

Chemistry yang dibangun oleh karakter Bima dan Dara juga gak terlalu berlebihan, porsinya pas tanpa bikin orang gagal fokus ke Isu yang sebenernya ada di film Ini.

Terdapat juga sisi komedi yang diselipkan di film Ini biar gak serius-serius banget. Lewat beberapa jokes yang muncul sepanjang film yang memberikan sentilan untuk Bima dan Dara berupa reaksi keluarga, judging dari orang lain, dan bahkan lingkungan yang memberikan contoh tentang sulitnya berumah tangga.

Tidak lupa dengan soundtrack yang mengiringi sepanjang film ini berjalan juga pas dengan adegan filmnya dan membuat film Ini lebih hidup. Misal lagu “growing up” dari Rara Sekar, serta lagu “Jikalau” milik band Naif.

Secara keseluruhan, lewat Film Dua Garis Biru mbak Gina S. Noer berhasil membuat debut penyutradaraannya dengan apik, serta menyampaikan pesan mulia yaitu tentang pentingnya pendidikan seks sejak dini, punya perspektif yang adil dari anak dan orangtua bahwa konsekuensi yang ditanggung adalah tanggung jawab semua pihak. Serta dikemas dengan shot dan naskah yang cerdas.

Continue Reading
Advertisement SGCC 2019
Advertisement DICARI REPORTER
Advertisement

GwiGwi Space

GWIDEV

Trending