Connect with us

TV & Movies

Review Film Panji Tengkorak, solid dan cukup berani

Published

on

Review Film Panji Tengkorak, Solid Dan Cukup Berani

www.gwigwi.com – Panji Tengkorak merupakan film adaptasi dari komik karya Hans Jaladara yang terbit di tahun 1968.

Pernah di alih wahanakan lewat film live action di tahun 1971 dan tahun 1983, serta sinetron di tahun 1996.

Kali ini Falcon Pictures dan Kumata Studio menggarap adaptasi komik Panji Tengkorak lewat film animasi layar lebar.

Dikisahkan Panji (Denny Sumargo) yang menjual jiwanya pada ilmu hitam demi membalaskan dendam kematian istrinya berniat untuk mengakhiri hidupnya, namun mendapatkan raganya kini terbelenggu ilmu hitam yang menguasai jiwanya.

Review Film Panji Tengkorak, Solid Dan Cukup Berani

Review Film Panji Tengkorak, Solid Dan Cukup Berani

Setelah luntang lantung berkelana tanpa arah, Panji bertemu seorang pendekar tua bernama Bramantya (Donny Damara) yang meminta bantuannya untuk mengejar seorang bandit komplotan milik Kalawereng (Tanta Ginting) yang telah merebut pusaka sakti yang konon bisa menghapuskan kuasa ilmu hitam.

Panji menerima tawaran tersebut yang menyeretnya ke perang panjang antara dua kerajaan serta menguak kenyataan masa lalunya yang kelam.

Sebenernya udah lama denger kabar Panji Tengkorak akan digarap oleh Falcon Pictures. Beberapa sutradara sudah diajak untuk terlibat di proyek ini namun mereka men-turn down atau batal digarap terkait perbedaan kreatifitas mungkin.

Hingga di tahun 2022 Falcon mengumumkan proyek ini dengan format film animasi karena sebelumnya pernah mengerjakan Si Juki dengan Kumata Studio.

Kali ini Daryl Wilson selaku sutradara beserta naskah yang ditulis oleh Agung Prasetiarso dan Theo Arnoldy berhasil mengemas kisah Panji Tengkorak dengan cerita yang cukup mendalam.

Review Film Panji Tengkorak, Solid Dan Cukup Berani

Review Film Panji Tengkorak, Solid Dan Cukup Berani

Jika dibandingkan film sejenis bisa dibilang Panji Tengkorak lah yang punya cerita yang cukup kuat dan digarap dengan optimal.

Mungkin di awal kita akan ngang-ngong-ngang-ngong, namun seiring berjalan nya durasi kita akan mengetahui efek sebab akibat dari sosok Panji Tengkorak dan juga karakter lainnya.

Semuanya happens for a reason.

Dari sisi animasi film yang melalui proses produksi selama 3 tahun ini dan dikerjakan oleh 250 animator asli Indonesia pilihan format animasi 2D adalah pilihan yang bijak karena kisah ini juga memiliki adegan kekerasan yang cukup brutal jika dibuat 3D mungkin akan terlihat imut.

Visualnya mengingatkan gue akan animasi Avatar The Last Airbender punya Nickelodeon namun tetap menglokal dan guratan-guratan ala pak Hans Jaladara juga gak hilang.

Adegan pertarungan final yang menurut gue paling pecah dan disajikan dengan keren ala genre shonen di anime.

Review Film Panji Tengkorak, Solid Dan Cukup Berani

Review Film Panji Tengkorak, Solid Dan Cukup Berani

Dari segi sulih suara, Falcon Pictures memasang cast yang sudah punya nama yang dimana untuk pertama kalinya mereka melakukan hal ini. Gue kasih dua jempol untuk effort nya para pemain yang membuat film ini hidup.

Masalahnya satu di film ini penggunaan original soundtrack yang ketika rilis terkesan kelam dan pas untuk filmnya, namun overused. Semoga pihak studio belajar akan hal ini.

Akhir kata film Panji Tengkorak merupakan sajian yang harus kita tonton ramai-ramai ke Bioskop untuk mendukung industri film animasi Indonesia. Jika merasa kurang boleh di kritik dengan kritik yang membangun, jika bagus tontonlah berkali-kali dan ajak semua masyarakat untuk menyaksikan film ini.

Dengan sajian cerita yang solid dan visual animasi yang apik. Gue rasa film ini wajib di apresiasi dengan ditonton di Bioskop.

 

Advertisement

TV & Movies

Review Film HOPE, Big Trouble in Little Village

Published

on

By

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Bencana besar di desa kecil. Mungkin deskripsi yang pas untuk HOPE.

Teror monster yang biasa menimpa kota besar, melibatkan tentara dan ilmuwan, kini harus dihadapi Beom Se-Ok (Hwang Jung-Min) kepala polisi lokal, sepupunya Sung Ki (Zo In-sung), para pemburu, peternak babi, tukang jugal daging dan warga desa lain.

Dari eksekusi sinematografinya, kamera mengisolasi POV penonton pada perjalanan tiap karakternya secara eye level napak tanah untuk mengungkap misteri layaknya progress video game. Bahkan sampai protagonis dapat upgrade senjata, berganti senapan yang lebih kuat. Mengkuti jejak si monsters dari jalanan, toko-toko sampai ke gang-gang kecil.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Cara demikian melokalisir teror pada skala kecil yang justru membuat lebih ngeri dibanding film monster umumnya yang seakan ingin main skala besar secepatnya.

Audiens tak melihat sosok si monster tapi dari kehancuran, gelimpangan mayat dan bangkai berceceran yang diakibatka, gambaran mengerikannya sudah begitu kuat.

Begitu saat akhirnya si sumber horror diperlihatkan…hem. Mengingatkan pada CG game zaman PS3? Barangkali terkendala budget tapi mengingat monster ini ternyata mempunyai peran yang lebih penting lagi, agak membingungkan kenapa tampilannya tidak dicoba lebih meyakinkan lagi.

Beruntung aksi cepat dan brutalnya menghujam efektif sampai rasanya kekurangan itu cukup termaafkan.

Kelemahan umum film monster, manusianya, justru menyala di sini.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Sembari tensi terus terjaga, HOPE mampu mengenalkan para karakternya secara singkat baik dengan cerita konyol atau pun sekedar dari bagaimana mereka memburu si monster. Sampai rasanya audiens sudah klop bersama mereka padahal baru sebentar. Polisi wanita Hoyeon (Sung-Ae) tak diperkenalkan bertele-tele, dari cara dia bernafsu mengejar si monster langsung membuat dia memorable.

Aksi tegang dan kadang bisa-bisanya dibumbui komedi memang mewarnai klimaks, tapi juga berasa terlalu diperpanjang. Tambah lagi ternyata film diakhiri dengan cliffhanger yang membuka sisi lain dari para monster. Untung saja paruh awal dan tengahnya cukup kuat sehingga rasa nanggung tak sampai mengganggu.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

HOPE seakan apabila Godzilla plus ALIEN dialami desa kecil di provinsi anda dan cerdas sekali memanfaatkan keunikan itu baik secara sosiologi manusianya dan kulturnya. Mungkin penonton hanya banyak melihat Hope Harbor dalam keadaan hancur tapi bisa jadi warga dan daerahnya lebih membekas di benak penonton dibanding film monster lain. Dan demikian rasanya sungguh key selling point dari film yang barangkali kurang memenuhi ekspektasi fans sutradara Na Hong-Jin paska THE WAILING.

Apakah terus bisa dia kawinkan aspek itu dengan aliennya nanti untuk sekuel yang sudah ditease? We may hope so….

Continue Reading

TV & Movies

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Published

on

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

www.gwigwi.com – John Miller (Alan Ritchson), seorang veteran Perang Vietnam yang bekerja di pabrik perakitan mobil, dijebak atas kejahatan yang tidak ia lakukan oleh Reynolds (Ben Foster), seorang penguasa mafia lokal yang terobsesi pada kekasih John, Sophia (Shailene Woodley).

Divonis 25 tahun di penjara berkeamanan maksimum, John bertahan hidup hanya dengan satu tujuan: keluar dan menuntaskan dendam.

Ketika kesempatan itu tiba, John melancarkan perburuan berdarah menyusuri jalanan Detroit yang dingin dan korup, melintasi jajaran anak buah Reynolds yang dijaga oleh seorang polisi korup bertangan besi (Pablo Schreiber).

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Sutradara Potsy Ponciroli (Old Henry) kembali memamerkan keahliannya dalam mengolah cerita klasik menjadi sajian visual yang segar melalui Motor City.

Setting kota Detroit tahun 1970-an yang kelam, film action-thriller ini mengusung eksperimen berani. Menyajikan kisah balas dendam yang intens dengan dialog yang dipangkas hampir sepenuhnya, menyerahkan seluruh penyampaian emosi pada gestur, aksi, dan desain suara.

Estetika gritty era 70-an dengan warna-warna pudar dan pencahayaan bernuansa neo-noir. Tanpa kata-kata, deru mesin mobil muscle, dentuman senapan, dan koreografi pertarungan menjadi “dialog” utama.

Penggunaan mobil antik, outfit era 70-an, serta lagu-lagu rock klasik memperkuat suasana kota industri yang sedang runtuh.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Menurut gue ini adalah hal yang sangat berani. Serta membuang dialog eksposisi yang membuat penonton harus fokus pada aksi instinktif dan emosi karakter.

Dari jajaran cast, Alan Ritchson memanfaatkan postur fisiknya yang intimidatif secara maksimal. Tanpa bantuan dialog, ia mengandalkan tatapan mata, nafas yang berat, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan kepedihan, rasa kehilangan, serta kemarahan murni.

Begitu juga dengan Ben Foster yang tampil mengintimidasi lewat aura psikologis yang dingin, sementara Pablo Schreiber memberikan ancaman fisik yang seimbang dengan karakter Ritchson.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Buat gue film ini emang cocok-cocokan dengan penonton masa kini. Bagi yang terbiasa dengan dialog cepat atau pacing modern, beberapa transisi babak tengah mungkin terasa berjalan lambat.

Secara keseluruhan, Motor City merupakan penghormatan yang solid terhadap genre action-thriller klasik.

Film ini membuktikan bahwa Alan Ritchson as an actor tidak hanya mengandalkan fisik semata, melainkan juga kemampuan akting non-verbal yang kuat di bawah arahan sutradara yang tepat.

Continue Reading

TV & Movies

Review Film INSIDIOUS OUT OF THE FURTHER, Wahana Rumah Hantu ala The Further

Published

on

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

www.gwigwi.com – Gemma (Amelie Eve) memiliki masa kecil buruk dengan Ibunya (Laura Gordon) dan berniat menjadi Ibu lebih baik untuk anaknya, Maya (ISLAND Austin).

Sampai dia dihantui mimpi mengerikan yang bisa jadi lebih dari sekedar khayalannya dan berhubungan dengan masa lalunya.

Kembali lagi franchisee horror yang film pertamanya sukses meski low budget dan ternyata penonton masih mau kembali mengeksplorasi alam barzah khas INSIDIOUS yakni the further.

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Dengan film ke 6 filmmaker seolah bermain dengan konsep untuk mengeksploitasi the further. Setelah dapat, seakan barulah dibuat cerita seputar itu dan rasanya memang demikian.

Motivasi yang trigger emosi penonton seputar hubungan ibu anak dan mencoba memutus trauma generasional. Diselingi permainan ketegangan yang lumayan oke memakai syaitonirojim dan eksplorasi the further, di mana paruh ketiganya memang cukup seru dan tak terduga.

Semuanya fine saja dan mungkin itulah fault dari INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER ini; wahana seram-seraman yang terasa eksploitasi (dalam artian yang masih terbilang baik) franchise saja. Bila penonton senang, sampai INSIDIOUS 11 pun seakan dijabanin BLUMHOUSE PRODUCTION.

INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER seolah hasil dari pikiran; karena penonton masih mau, maka filmmaker akan coba segala hal untuk isi gas franchisenya. Apakah mereka akan menemukan alasan kuat lagi untuk penonton mau kembali menjelajah The Further? We'll see…

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending