Connect with us
Maaf Anda Melihat Iklan

TV & Movies

Review Film Marlina, Si pembunuh dalam empat babak, genre baru di perfilman Indonesia ‘Satay Western’

Published

on

GwiGwi.com – Marlina, seorang janda yang baru saja ditinggal mendiang suaminya, didatangi oleh kawanan perampok.

Maaf Anda Melihat Iklan

Ketika diancam diperkosa secara bergiliran, Marlina memberontak dengan membunuh mereka. Tak tentu arah, Marlina memutuskan untuk keluar dari rumah dan pergi ke kantor polisi untuk menuntut keadilan sambil membawa kepala si perampok.

Karya ketiga dari sutradara dan penulis naskah berbakat Mouly Surya yang masih mengeksplorasi satu tema yang sama; bagaimana seorang wanita menghadapi dunia.

Dalam dua film sebelumnya, Fiksi (2008) dan Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta (2013) memang membahas peran wanita dalam konteks kehidupan urban.

Namun dalam Marlina the Murderer in Four Acts ( judul untuk distribusi internasional), penonton diajak ke tanah Sumba di Timur Indonesia.

Sebuah eksposisi tema dan konteks yang paralel; karakter dan latar yang sama-sama “terpinggirkan”.

Pas gue nonton film ini, beberapa penonton cenderung bingung sekaligus takjub melihat telepon genggam menjadi hal lumrah di desa pinggiran Sumba.

Tapi itulah ironi dari fakta yang ada di era modern 2017 ketika mereka mau tidak mau harus memiliki akses untuk berkomunikasi, tetapi listrik dan jalanan aspal masih menjadi komoditi mewah.

Sebuah gambaran yang memang harus diterima bagi warga urban yang terkadang take-it-for-granted, bahwa masih ada daerah atau kelompok masyarakat yang “ditinggalkan” atau cenderung terdegradasi.

Gimana enggak ?! mau buat laporan visum pemerkosaan di kantor polisi saja harus menunggu satu bulan lantaran tidak ada alat maupun dokter.

Tema yang sama juga dieksplorasi lewat karakternya yang perempuan, di mana mereka hidup di tengah masyarakat Sumba yang patriarkis. Peran pria diagung-agungkan sebagai pihak yang memberi nafkah sekaligus melindungi anggota keluarganya, sementara peran wanita hanyalah memasak, berhubungan seks, dan melahirkan.

Namun ketika seorang istri ditinggal mati oleh suaminya, maka tidak ada lagi yang akan melindunginya.

Serba salah memang, karena dengan begitu maka diri mereka akan sangat rentan terhadap berbagai pandangan negatif bahkan tindak kekerasan dari orang-orang di sekitarnya.

Seorang wanita hamil yang tak kunjung melahirkan? Biasanya sang suami akan menuduh bahwa bayi dalam kandungan berada dalam posisi terbalik, lantaran sang istri selingkuh dan berhubungan seks dengan pria lain.

Seorang janda yang membela diri dari para pemerkosa dan memenggal kepala mereka? Maka cap “pembunuh” akan melekat pada dirinya yang diteriakkan dengan lantang lewat judul film ini.

Baca Juga:  Review Film Till Death, Epic Comeback-nya Megan Fox

Satu-satunya tempat yang nyaman bagi para perempuan ini untuk berpijak adalah dengan perempuan lain, entah muda atau sudah berumur. Dalam film Marlina digambarkan bahwa Novi si ibu hamil mendapatkan kesegaran mental mengenai kandungannya dari seorang ‘mama' yang ditemuinya di perjalanan.

Karakter ini pun menonjol lantaran berpengaruh signifikan dalam mengimbangi film ‘sunyi dan lamban' ini dengan nada komedik, berkat penampilan cemerlang dari Rita Manu Mona.

Sementara Marlina sendiri membuat pertemanan yang singkat namun sejuk dengan seorang anak perempuan penjaga warung sate.

Yang membuat gue jatuh cinta pada film ini adalah bungkusannya yang sangat indah dan menyegarkan mata serta telinga.

Keindahan alam Sumba yang penuh dengan ladang rumput coklat yang berbukit-bukit serta langit mahabiru, tidak menjadi jualan murahan layaknya video klip perjalanan. Alam – dan juga latar budaya Sumba – hanya menjadi latar belakang film ini layaknya properti dalam panggung teater.

Sinematografinya sangat menawan, meski penempatan kameranya konsisten diam dalam satu titik untuk kemudian memberikan kebebasan bagi penonton untuk mengobservasi apa saja yang terjadi dalam layar dalam waktu yang lama.

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak yang telah beredar ke banyak festival di beberapa negara disebut sebagai “satay western”.

Sebutan yang merujuk pada film khas western ala Indonesia, layaknya “spaghetti western” ala Italia. Marlina memang digambarkan menunggangi kuda sebagai alternatif transportasi, kemudian menenteng golok panjang dan kepala orang sekaligus.

Koboi perempuan! Hal ini diperjelas dengan pilihan skoring musik yang sangat Morricone sekali dengan dentingan gitar ala western.

Ketika skoring satay western ini dipadukan dengan nyanyian daerah Sumba lewat suara aktor Yoga Pratama, tidak akan ada yang menyangka bahwa Indonesia juga bisa menelurkan film bergenre western namun bercita rasa lokal.

Secara keseluruhan, Lewat cerita yang diprakarsai oleh Garin Nugroho, Mouly Surya tidak hanya menelurkan genre baru dalam perfilman Indonesia.

Mampu mengeksplorasi tema yang sangat penting dan masih ramai dibicarakan di media sosial dalam hal pemerkosaan.

Serta penggambaran budaya Sumba juga sedemikian detil, sampai pada visualisasi menaruh jenazah dalam kondisi jongkok di dalam rumah yang termasuk tahapan ritual pemakaman orang Sumba.

Diceritakan dalam empat babak dengan judul ala Tarantino, jelas ini adalah tontonan film Indonesia yang sangat segar, sekaligus pengalaman budaya yang sangat mengesankan.

Maaf Anda Melihat Iklan
Maaf Anda Melihat Iklan
Advertisement
Click to comment
0 0 votes
Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

TV & Movies

Review Film Smile, Senyum membawa Petaka

Published

on

GwiGwi.com – Senyum. Senyum aneh yang seolah menertawakan Rose (Sosie Bacon) adalah hal terakhir yang dia lihat Laura (Caitlin Weaver) lakukan sebelum gadis itu menggorok lehernya sendiri. Laura kemudian tergeletak bersimbah darah dengan senyum tetap merekah.

Maaf Anda Melihat Iklan

Mengejutkan namun Rose pikir semua selesai, tapi dia mulai melihat senyum aneh itu di terpasang di orang sekitarnya dan bahkan di orang yang sudah mati saat dia sendirian. Stres, Rose mencoba menguak apa maksud di balik senyum itu sebelum semua terlambat.

SMILE memiliki ide absurd di mana senyum yang secara agama adalah ibadah menjadi teror. Ide yang konyol bila hanya mengandalkan itu sebagai scare tapi menariknya film ini menitikberatkan pada psikologis penderitanya. Bagaimana Rose berubah dari dokter psikologi yang tenang dan rapih penampilannya menjadi panikan nan dikuasai cemas yang berantakan tampilan mau pun hidupnya. Sayang logika terornya tak mendapat treatment yang imbang.

Aturan main dari horrornya begitu tidak jelas. Sebelumnya diberitahu kalau Rose bisa melihat senyum ngeri tu di berbagai situasi. Oke, namun tetiba si syaitonnya bisa memberikan ilusi yang luar biasa tipuannya seperti genjutsu sharingan di Naruto. Lain waktu si Syaiton sudah mendapat korbannya tapi dilepas begitu saja di scene berikutnya. Seakan film membuat buat aturannya sendiri yang penting ada adegan seram. Banyak jump scare yang menyebalkan menjadi produk pemikiran itu. Ya, pengadeganannya banyak yang menarik nan mencekam, tapi isinya begitu kosong dan berlogika tak jelas.

Baca Juga:  Review Film Arthur Malediction, Horor Dari Cerita Keluarga

Horor tak tentu aturan ini berefek pada isu trauma yang diangkat. Tentu sulit untuk korban berusaha tenang, membagi pikiran dan meminta bantuan orang pada teman bila kemampuan si syaiton begitu hebatnya sampai menutup kemungkinan itu. Berkesan SMILE memiliki pesan nihilis untuk para penderita kejadian kelam di masa lalu; anda tak bisa lari dan anda tak bisa sembuh, jadi berbagi aja kesakitan ini sampai orang juga merasakan deritanya.

SMILE boleh jadi salah satu lagi usaha hollywood untuk membuat franchise horor melihat dari endingnya. Tapi dari usahanya mendepiksikan penderita trauma agaknya endingnya begitu jomplang dengan niat mulia itu. Everything for “a scare for a buck and more bucks to come” i guess.

Strong, strong language and gore. Definitely R rated.

Maaf Anda Melihat Iklan
Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Live Action

Live-Action Alice in Borderland Season 2 Rilis Teaser Trailer Baru

Published

on

GwiGwi.com – Selama acara streaming langsung Netflix Tudum pada hari Sabtu, Netflix meluncurkan “trailer mega teaser” untuk musim kedua dari adaptasi live-action dari manga Alice in Borderland (Imawa no Kuni no Alice) karya Haro Aso.

Pada Desember 2022, musim kedua akan membuat debut global Netflix. Aktor berikut telah bergabung dengan pemeran: Yuri Tsunematsu sebagai Heiya, seorang siswa sekolah menengah; Tomohisa Yamashita sebagai Kyoma, “Raja Klub”; Hayato Isomura sebagai Banda; Kai Inowaki sebagai Matsushita; Katsuya Maiguma sebagai Yaba; dan Honami Sato sebagai Kotoko.

Maaf Anda Melihat Iklan

Menurut Netflix, plot musim kedua adalah sebagai berikut:

Untuk kembali ke planet mereka, Arisu dan Usagi harus memecahkan teka-teki Borderland.
Lokasi musim ini adalah Shibuya yang rusak dan diselimuti tanaman, sangat kontras dengan Shibuya yang sebelumnya kosong. Jangan lewatkan satu detik pun dari game bertahan hidup yang penuh aksi ini dengan narasi yang mencekam!

Pada Desember 2020, musim pertama Netflix tayang perdana. Itu ditempatkan di 10 besar di Netflix di 40 negara dan wilayah berbeda di seluruh dunia, dan itu adalah seri live-action yang paling banyak ditonton di Jepang pada tahun 2020.

Baca Juga:  Review Film Smile, Senyum membawa Petaka

Manga berkonsentrasi pada Ryohei Arisu, seorang siswa SMA laki-laki yang kesal dengan kehidupan sehari-hari yang tidak menyenangkan (Ryohei Arisu diucapkan mirip dengan “Alice” dalam bahasa Jepang). Dia pergi ke kota suatu malam dengan teman jahatnya Chota dan Karube. Namun, pertunjukan kembang api besar-besaran tiba-tiba menutupi seluruh kota. Ryohei menyadari bahwa tidak ada orang lain yang hadir saat dia sadar kembali. Ryohei, Karube, dan Chota menemukan diri mereka berada di lingkungan yang tidak dikenal dan dipaksa untuk bermain game bertahan hidup atau langsung binasa. Ketiganya berjuang untuk bertahan hidup dan kembali ke planet mereka sendiri.

Source: ANN

Maaf Anda Melihat Iklan
Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Live Action

Video Baru Film Live-Action ‘Whisper of the Heart’ Menjelajahi Set Toko Barang Antik

Published

on

GwiGwi.com – Pada hari Sabtu, sebuah video baru telah diunggah oleh tim produksi untuk film sekuel live-action dari manga Whisper of the Heart (Mimi wo Sumaseba) oleh Aoi Hiiragi. Video tersebut membahas World Emporium, rekreasi film dari toko barang antik yang penting untuk plot aslinya:

Patung Baron yang legendaris adalah salah satu barang antik di toko yang disorot dalam video. Teks bahasa Jepang video menyiratkan bahwa orang mungkin mendengar cello di lantai atas, persis seperti di film anime sebelumnya, karena memiliki musik cello di latar belakang.

Maaf Anda Melihat Iklan

Karena pandemi COVID-19, tanggal rilis awal film live-action pada 18 September 2020, dimundurkan menjadi 14 Oktober.

Film ini dibintangi Nana Seino sebagai Shizuku Tsukishima dan Tori Matsuzaka sebagai Seiji Amasawa. Nana Seino terkenal karena peran live-action-nya dalam film Kyou Kara Ore Wa!!, After the Rain, Nowhere Girl, dan Tokyo Tribe. Tori Matsuzaka terkenal karena perannya dalam HELLO WORLD, Himitsu – Top Secret,.hack/The Movie, Gatchaman, Ky, Koi o Shizuku dan Seiji diperankan oleh Runa Yasuhara dan Tsubasa Nakagawa masing-masing saat mereka masih di sekolah menengah.

Tatsuya Sugimura, anggota tim bisbol Shizuku dan teman masa kecilnya, diperankan oleh Yuki Yamada. Tatsuya naksir Shizuku. Sahabat Shizuku, Yko Harada, yang diperankan oleh Rio Uchida, mengembangkan emosi untuk Sugimura di sekolah menengah. Sugimura dan Yko diperankan oleh Towa Araki dan Sara Sumitomo saat mereka masih di sekolah menengah:

Film ini disutradarai oleh Yichir Hirakawa dan akan dirilis oleh Sony Pictures Entertainment dan Shochiku. Dia sebelumnya telah mengerjakan versi live-action dari The Promised Neverland, ERASED/Boku dake ga Inai Machi, Waiting for Spring, Rookies, dan proyek JIN. Lagu tema untuk film tersebut adalah membawakan lagu “Tsubasa o Kudasai” oleh Michio Yamagami oleh Anne Watanabe.

Baca Juga:  Novel BL Eternal Yesterday Mendapat Drama Live-action

Narasi film baru berlangsung 10 tahun setelah peristiwa manga aslinya. Shizuku, sekarang berusia 24 tahun, telah berhenti menulis novel tetapi masih berusaha keras sebagai editor buku anak-anak di sebuah penerbit untuk mempromosikan buku. Meskipun Seiji dan Shizuku lebih terpisah satu sama lain, dia masih mengejar keinginannya untuk tinggal di luar negeri.

Sebuah film animasi 1995 yang diproduksi oleh Yoshifumi Kond dan Studio Ghibli didasarkan pada manga aslinya. Narasi berpusat pada Shizuku, kutu buku sekolah menengah pertama, saat dia bertemu Seiji Amasawa, cucu pemilik toko, dan toko barang antik yang aneh. Shizuku juga tertarik pada Seiji, pembuat biola pemula, karena dia telah lama melihat namanya di kartu checkout dari buku yang dia pinjam dari perpustakaan. Shizuku termotivasi untuk bekerja menuju tujuannya menerbitkan buku dengan kecintaan Seiji dalam membuat biola.

Manga ini dirilis oleh Hiiragi pada Ribon edisi 1989 dari majalah manga shjo Shueisha. Pada tahun 1995, Hiiragi merilis sekuel manga berjudul Mimi o Sumaseba: Shiawase na Jikan, dan pada tahun 2002, ia merilis spin-off berjudul Baron: The Cat Returns. Baron: The Cat Returns dirilis oleh Viz Media dalam bahasa Inggris. Film 2002 The Cat Returns oleh Studio Ghibli dan Hiroyuki Morita terinspirasi oleh komik itu.

Source: Comic Natalie, ANN

Maaf Anda Melihat Iklan
Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Trakteer

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending

GwiGwi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x