Connect with us

TV & Movies

Review Film Indiana Jones and The Dial of Destiny, Senja Sang Arkeolog

Published

on

Review Film Indiana Jones And The Dial Of Destiny, Senja Sang Arkeolog

www.gwigwi.com – 15 tahun silam INDIANA JONES AND THE Kingdom OF THE CRYSTAL SKULL (2008) dirilis dan menjadi film berpendapatan terbesar ketiga di belakang THE DARK KNIGHT (2008) dan IRON MAN (2008). Apakah hal tersebut yang mendasari Lucasfilm memutuskan menyetujui dibuatnya kisah akhir arkeolog ikonik Hollywood ini dengan INDIANA JONES AND THE DIAL OF DESTINY (2023) atau apakah para filmmaker memang memiliki konsep yang memang layak ditonton para Gen-Z?

Review Film Indiana Jones And The Dial Of Destiny, Senja Sang Arkeolog

Review Film Indiana Jones And The Dial Of Destiny, Senja Sang Arkeolog

Tahun 1969. Neil Armstrong dan kawan-kawan mendarat di Bulan. Menjanjikan masa depan yang cerah nan berkilau dibandingkan mempelajari situs tua beserta artifaknya. Indiana Jones (Harrison Ford) tak pernah merasa salah zaman seperti ini. Saat nongkrong di bar, Indy kedatangan Helena Shaw (Phoebe Waller Bridge), anak dari teman lamanya Basil Shaw (Toby Jones) yang menawarkan petualangan baru. Terdorong anak baptisnya ini, Indy terpaksa mengenakan topi ikoniknya dan menenteng cambuk lagi sebelum Jürgen Voller (Mads Mikkelsen), ilmuwan Nazi, menyatukan Dial of Destiny yang bisa mengubah sejarah selamanya.

Barangkali daya tarik naratif yang membuat pede film ini di green light adalah Indy yang sudah merasa tak punya tempat. Sudah umur, kelas arkeologi tak ramai dan perhatian di tahun itu adalah melihat ke depan. Klimaksnya merefleksikan itu dengan luar biasa. Momen yang emosional bagi Indy dan dibawakan dengan apik oleh Harrison Ford. Boleh jadi salah satu akting terbaik sepanjang karirnya. Sayangnya perjalanan ke sana tak semenarik itu.

Review Film Indiana Jones And The Dial Of Destiny, Senja Sang Arkeolog

Review Film Indiana Jones And The Dial Of Destiny, Senja Sang Arkeolog

Entah kenapa set up Indy di masa baru ini tak terfleksikan di aksinya atau bagaimana ia menghadapi kawan dan lawan. Seolah hanya ada di awal dan di akhir saja. Kontras Indy dan Helena hanya Indy idealis dan Helena mata duitan tapi tak terlihat ada scene yang menohok soal itu. Dinamik antar mereka jadi kurang berasa. Beda dengan Indy dan ayahnya di INDIANA JONES AND THE LAST CRUSADE (1989).

Interaksi antar karakter pun minus pesona dan komedi yang nendang walau terlihat sekali Phoebe Waller Bridge berusaha total. Its just doesnt have that extra factor beside Harrison Ford charisma.

Review Film Indiana Jones And The Dial Of Destiny, Senja Sang Arkeolog

Review Film Indiana Jones And The Dial Of Destiny, Senja Sang Arkeolog

Petualangan sepanjang film berasa…lifeless. Beberapa set piece aksi memang wah; saat full tracking shot kejar-kejaran di Tangier terlihat raw dan nyata namun begitu di close up reaksi aktornya keliatan backgroundnya CG. Dampaknya terasa berkurang. Ditambah kurangnya dinamik para karakter, meskipun atraksinya menarik di mata tapi rasa tidak ikut nyangkut. Jadi sulit ikut merasa tegang.

Beruntung desain produksi yang cakap bisa menjual eksotisme tempat-tempat yang didatangi Indy jadi nuansa petualangannya tetap terjaga.

Saat screening hampir atau malah nihil reaksi saat karakter lama bermunculan. Tak bisa disalahkan karena franchise sudah terlalu uzur hingga hype koneksi ini hanya bisa dirasakan sebagian fans saja. Semoga saja filmnya punya kekuatan sendiri tanpa perlu itu semua. Apakah Indy memang sudah saatnya pensiun total? Harrison Ford sih setuju saja.

Advertisement

TV & Movies

Review Film HOPE, Big Trouble in Little Village

Published

on

By

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Bencana besar di desa kecil. Mungkin deskripsi yang pas untuk HOPE.

Teror monster yang biasa menimpa kota besar, melibatkan tentara dan ilmuwan, kini harus dihadapi Beom Se-Ok (Hwang Jung-Min) kepala polisi lokal, sepupunya Sung Ki (Zo In-sung), para pemburu, peternak babi, tukang jugal daging dan warga desa lain.

Dari eksekusi sinematografinya, kamera mengisolasi POV penonton pada perjalanan tiap karakternya secara eye level napak tanah untuk mengungkap misteri layaknya progress video game. Bahkan sampai protagonis dapat upgrade senjata, berganti senapan yang lebih kuat. Mengkuti jejak si monsters dari jalanan, toko-toko sampai ke gang-gang kecil.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Cara demikian melokalisir teror pada skala kecil yang justru membuat lebih ngeri dibanding film monster umumnya yang seakan ingin main skala besar secepatnya.

Audiens tak melihat sosok si monster tapi dari kehancuran, gelimpangan mayat dan bangkai berceceran yang diakibatka, gambaran mengerikannya sudah begitu kuat.

Begitu saat akhirnya si sumber horror diperlihatkan…hem. Mengingatkan pada CG game zaman PS3? Barangkali terkendala budget tapi mengingat monster ini ternyata mempunyai peran yang lebih penting lagi, agak membingungkan kenapa tampilannya tidak dicoba lebih meyakinkan lagi.

Beruntung aksi cepat dan brutalnya menghujam efektif sampai rasanya kekurangan itu cukup termaafkan.

Kelemahan umum film monster, manusianya, justru menyala di sini.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Sembari tensi terus terjaga, HOPE mampu mengenalkan para karakternya secara singkat baik dengan cerita konyol atau pun sekedar dari bagaimana mereka memburu si monster. Sampai rasanya audiens sudah klop bersama mereka padahal baru sebentar. Polisi wanita Hoyeon (Sung-Ae) tak diperkenalkan bertele-tele, dari cara dia bernafsu mengejar si monster langsung membuat dia memorable.

Aksi tegang dan kadang bisa-bisanya dibumbui komedi memang mewarnai klimaks, tapi juga berasa terlalu diperpanjang. Tambah lagi ternyata film diakhiri dengan cliffhanger yang membuka sisi lain dari para monster. Untung saja paruh awal dan tengahnya cukup kuat sehingga rasa nanggung tak sampai mengganggu.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

HOPE seakan apabila Godzilla plus ALIEN dialami desa kecil di provinsi anda dan cerdas sekali memanfaatkan keunikan itu baik secara sosiologi manusianya dan kulturnya. Mungkin penonton hanya banyak melihat Hope Harbor dalam keadaan hancur tapi bisa jadi warga dan daerahnya lebih membekas di benak penonton dibanding film monster lain. Dan demikian rasanya sungguh key selling point dari film yang barangkali kurang memenuhi ekspektasi fans sutradara Na Hong-Jin paska THE WAILING.

Apakah terus bisa dia kawinkan aspek itu dengan aliennya nanti untuk sekuel yang sudah ditease? We may hope so….

Continue Reading

TV & Movies

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Published

on

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

www.gwigwi.com – John Miller (Alan Ritchson), seorang veteran Perang Vietnam yang bekerja di pabrik perakitan mobil, dijebak atas kejahatan yang tidak ia lakukan oleh Reynolds (Ben Foster), seorang penguasa mafia lokal yang terobsesi pada kekasih John, Sophia (Shailene Woodley).

Divonis 25 tahun di penjara berkeamanan maksimum, John bertahan hidup hanya dengan satu tujuan: keluar dan menuntaskan dendam.

Ketika kesempatan itu tiba, John melancarkan perburuan berdarah menyusuri jalanan Detroit yang dingin dan korup, melintasi jajaran anak buah Reynolds yang dijaga oleh seorang polisi korup bertangan besi (Pablo Schreiber).

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Sutradara Potsy Ponciroli (Old Henry) kembali memamerkan keahliannya dalam mengolah cerita klasik menjadi sajian visual yang segar melalui Motor City.

Setting kota Detroit tahun 1970-an yang kelam, film action-thriller ini mengusung eksperimen berani. Menyajikan kisah balas dendam yang intens dengan dialog yang dipangkas hampir sepenuhnya, menyerahkan seluruh penyampaian emosi pada gestur, aksi, dan desain suara.

Estetika gritty era 70-an dengan warna-warna pudar dan pencahayaan bernuansa neo-noir. Tanpa kata-kata, deru mesin mobil muscle, dentuman senapan, dan koreografi pertarungan menjadi “dialog” utama.

Penggunaan mobil antik, outfit era 70-an, serta lagu-lagu rock klasik memperkuat suasana kota industri yang sedang runtuh.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Menurut gue ini adalah hal yang sangat berani. Serta membuang dialog eksposisi yang membuat penonton harus fokus pada aksi instinktif dan emosi karakter.

Dari jajaran cast, Alan Ritchson memanfaatkan postur fisiknya yang intimidatif secara maksimal. Tanpa bantuan dialog, ia mengandalkan tatapan mata, nafas yang berat, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan kepedihan, rasa kehilangan, serta kemarahan murni.

Begitu juga dengan Ben Foster yang tampil mengintimidasi lewat aura psikologis yang dingin, sementara Pablo Schreiber memberikan ancaman fisik yang seimbang dengan karakter Ritchson.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Buat gue film ini emang cocok-cocokan dengan penonton masa kini. Bagi yang terbiasa dengan dialog cepat atau pacing modern, beberapa transisi babak tengah mungkin terasa berjalan lambat.

Secara keseluruhan, Motor City merupakan penghormatan yang solid terhadap genre action-thriller klasik.

Film ini membuktikan bahwa Alan Ritchson as an actor tidak hanya mengandalkan fisik semata, melainkan juga kemampuan akting non-verbal yang kuat di bawah arahan sutradara yang tepat.

Continue Reading

TV & Movies

Review Film INSIDIOUS OUT OF THE FURTHER, Wahana Rumah Hantu ala The Further

Published

on

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

www.gwigwi.com – Gemma (Amelie Eve) memiliki masa kecil buruk dengan Ibunya (Laura Gordon) dan berniat menjadi Ibu lebih baik untuk anaknya, Maya (ISLAND Austin).

Sampai dia dihantui mimpi mengerikan yang bisa jadi lebih dari sekedar khayalannya dan berhubungan dengan masa lalunya.

Kembali lagi franchisee horror yang film pertamanya sukses meski low budget dan ternyata penonton masih mau kembali mengeksplorasi alam barzah khas INSIDIOUS yakni the further.

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Dengan film ke 6 filmmaker seolah bermain dengan konsep untuk mengeksploitasi the further. Setelah dapat, seakan barulah dibuat cerita seputar itu dan rasanya memang demikian.

Motivasi yang trigger emosi penonton seputar hubungan ibu anak dan mencoba memutus trauma generasional. Diselingi permainan ketegangan yang lumayan oke memakai syaitonirojim dan eksplorasi the further, di mana paruh ketiganya memang cukup seru dan tak terduga.

Semuanya fine saja dan mungkin itulah fault dari INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER ini; wahana seram-seraman yang terasa eksploitasi (dalam artian yang masih terbilang baik) franchise saja. Bila penonton senang, sampai INSIDIOUS 11 pun seakan dijabanin BLUMHOUSE PRODUCTION.

INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER seolah hasil dari pikiran; karena penonton masih mau, maka filmmaker akan coba segala hal untuk isi gas franchisenya. Apakah mereka akan menemukan alasan kuat lagi untuk penonton mau kembali menjelajah The Further? We'll see…

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending