Connect with us

Box Office

Review Film Dolittle, Sang Dokter datang Membawa Tawa

Published

on

GwiGwi.com – Terakhir kali penonton seantero dunia melihat Robert Downey Jr. adalah saat dia mengucapkan selamat tinggal untuk perannya sebagai Tony Stark atau Iron Man yang mungkin adalah penampilan terbaiknya setelah 10 tahun lebih menjadi tokoh orang kaya jenius dermawan tersebut. Disela film-film Marvel dia juga memulai franchise baru dengan SHERLOCK HOLMES (2009) yang juga cukup sukses hingga menelurkan sekuelnya, SHERLOCK HOLMES: A GAME OF SHADOWS (2011) dan film ketiganya nanti dengan tanggal rilis tahun 2021.

Mungkin menjadi wajah franchise baru adalah kesukaan pribadi Robert Downey Jr. atau studio-studio besar memang gemar memakai jasa beliau untuk memanfaatkan nama tenarnya, berharap DOLITTLE akan menjadi kesuksesan kesekian kalinya. Meskipun seringkali sulit untuk sebuah film berdiri sendiri bila elemen lain demikian lemahnya hingga nama besar sulit untuk membantu.

Berkisah tentang John Dolittle (Robert Downey Jr.) seorang dokter yang bisa berbicara pada binatang yang mau bergaul dengan segala spesies hewan yang ada rumahnya tapi menolak untuk menemui makhluk berkaki dua sepertinya disebabkan trauma masa lalu. Semua berubah ketika Stubbins (Harry Scollet) dan utusan Ratu Victoria (Jessie Buckley), Lady Rose (Carmel Laniado) memasuki hidupnya.

DOLITTLE memiliki premis cerita yang sederhana dan memiliki unsur petualangan yang secara naratif, memberi banyak ruang untuk Dolittle bekerja sama dengan para binatang atau para binatangnya berinisiatif beraksi sendiri. Ketegangan dan komedi berbunga dari situ. Robert Downey Jr. memerankan Dolittle kurang lebih mirip dengan karakter Jack Sparrow. Meski Jack Sparrow sering berpenampilan dan bertingkah eksentrik, namun percikan pikiran briliannya membuatnya menarik dan kompleks. DOLITTLE mencoba melakukan hal yang sama dengan hasil kurang baik. Sisi cerdas Dolittle terasa kurang dieksplor lebih jauh dan mendetail lagi. Spotlight lambat laun justru lebih banyak diberikan pada para binatang membuat Dolittle justru terkesan pelengkap saja. Belum lagi pilihan aksen bicaranya yang sulit didengar. Untung saja penonton Indonesia disuguhi subtitle.

Baca Juga:  Review Film Her Blue Sky, Drama Kehidupan Yang Generik

Unsur hiburan yang paling menonjol adalah tingkah para binatang. Gorilla yang penakut, Beruang kutub yang takut dingin, Rubah yang berbicara bahasa perancis, Burung Unta yang malas, dll. Semua kepribadian berbeda ini membaur, beraksi, bekerja sama, dan berhasil mengundang tawa walau tidak selalu mendarat mulus. Para binatang ini mungkin satu-satunya yang secara konsisten membuat DOLITTLE mengambang saat momen emosional, cerita dan karakternya sering kali kesulitan.

Untuk film yang mengedepankan CG hasil akhirnya secara begitu kasat mata sering kurang meyakinkan. Para binatang terkadang begitu terlihat artifisialnya. Spesial efek untuk latar belakangnya pun begitu kasar nan kentara apalagi saat Stubbins pertama kali melihat gajah di pekarangan Dolittle. Sesuatu yang harusnya bisa dijual sebagai momen magis baik itu untuk karakter Stubbins dan penonton disajikan begitu cepat dan kurang rapih sehingga terkesan hanya adegan sekelebat tak terlalu penting saja.

Pada akhirnya DOLITTLE adalah film yang dikemas dengan sebisa mungkin untuk anak-anak (sepertinya diakui oleh LSF Indonesia yang kini mempunyai pemberitahuan rating yang manis sebelum film dimulai); plot sederhana minimal ancaman berarti, antagonis bercerita tentang rencana jahatnya secara gamblang terang benderang, dan para binatang lucu berwarna warni. DOLITTLE mungkin tak mempunyai resep yang manjur untuk yang menginginkan lebih, tapi bagi yang ingin memberi sang dokter kesempatan, ini adalah film yang bisa mengundang tawa bagi anak anak dan juga kalian gwiples.

Box Office

Review Film Bloodshot, Jadi Pembuka Universe tapi Maju Mundur

Published

on

GwiGwi.comSony Pictures bekerjasama dengan Valiant Entertainment sebuah perusahaan buku komik dengan beberapa karakter menarik seperti Bloodshot, Harbringer, dan XO Manowar yang konon akan membuat sebuah cinematic universe dimana karakter adaptasi dari komiknya menjadi satu semesta dan saling berhubungan satu sama lain yang dimulai dari Bloodshot yang komiknya diciptakan oleh Kevin VanHook, Don Perlin, dan Bob Layton yang dibintangi oleh Vin Diesel.

Bloodshot bercerita tentang seorang tentara yang bernama Ray Garrison yang menjadi percobaan sebuah eksperimen yang diprakarsai oleh sebuah perusahaan bernama Rising Spirit tech bernama project Bloodshot.

Well, menurut saya ini merupakan langkah yang memiliki potensi luar biasa untuk Sony Pictures yang mencoba berupaya mendapatkan keuntungan dari adaptasi komik selain mengurusi manusia laba-laba a.k.a Spider-Man. Menciptakan sebuah semesta sinematik dari salah satu penerbit komik medioker. Sebuah simbiosis mutualisme untuk si rumah produksi dan juga penerbit komiknya, well it Looks promising.

Dengan kemasan cerita yang tidak biasa disertai twist yang lumayan sulit untuk ditebak berhasil memberikan impresi yang baik, namun ada beberapa bagian yang di eksekusi dengan nanggung dan cenderung main aman untuk sebuah film yang katanya adaptasi dari komik dan akan Jadi pembuka untuk sesuatu yang lebih besar yaitu cinematic universe. Mungkin memang ini merupakan proyek gambling yang dilakukan oleh Sony dan Valiant comics. Seharusnya Sony bersama Valiant mampu membawakannya dengan lebih percaya diri unutk memperkenalkan proyek film anyar nya ini. Namun sayangnya mereka terlihat kurang PD.

Dari sisi cast nya, pertama kali saat lihat trailer nya. Saya agak berat hati melihat Vin Diesel yang berperan sebagai Ray Garrison, mungkin dengan memasang aktor dengan nama yang menjual bisa menjadi magnet agar orang mau menonton filmnya, tapi hasilnya ia masih sama terlihat dengan imej di film yang sebelumnya ia perankan. Harusnya disini Vin harus terlihat untuk melampaui batas diri nya dan menanggalkan sedikit imej yang di film-film yang sebelumnya ia perankan. Pada beberapa adegan terlihat meyakinkan, tapi di sisi lain terlihat seperti biasa Vin Diesel memerankan jagoan di film-film bergenre action yang ia perankan.

Baca Juga:  Disney Indonesia Umumkan Kolaborasi Spesial Bersama Empat Penyanyi Indonesia Untuk Disney’s ‘Mulan’

Untuk kalian yang membaca komiknya Bloodshot ini mungkin terlihat kurang pas vin diesel memerankan tokoh Ini, Menurut saya andai saja Scott Adkins atau Kellan Lutz mungkin lebih terlihat pas untuk memerankan Bloodshot.

Selain Vin Diesel, aktris Elza Gonzalez juga steal the screen di film ini. Ia berhasil memerankan Femme Fatale yang mencuri perhatian di film Ini, tidak lupa ada Guy Pearce sebagai Dr. Emil Harting CEO dari Rising Spirit tech sebuah potensi besar untuk para co-starring di film ini untuk keberlanjutan dari Valiant cinematic universe namun sangat disayangkan potensi dari karakter mereka gak digali lebih dalam lagi. Malah Jadi terkesan ya nasib mereka cuman sampai di film Ini saja.

Secara keseluruhan Bloodshot tetap menjadi film yang mengasyikan jika kalian mengharapkan film bergenre action yang menghibur. Namun untuk sebuah pembuka universe yang lebih besar lagi saya rasa film ini masih bisa di push lebih jauh lagi. Semoga saja di proyek film selanjutnya dari Valiant Comics bisa lebih dari Film Ini dikarenakan memang karakter yang ada memiliki cerita dan karakteristik yang berbeda dari yang disajikan oleh publisher comic yang sudah Ada.

So Gwiples, bagi kalian yang mencari “Universe” baru, This is it Gwiples, jangan sampai dilewatkan!

Continue Reading

Box Office

Review Film Her Blue Sky, Drama Kehidupan Yang Generik

Published

on

GwiGwi.comHer Blue Sky atau lebih dikenal sebagai Sora no Aosa o Shiru Hito yo merupakan anime movie buatan studio Clover Works yang disutradarai Tatsuyuki Nagai, ditulis oleh Mari Okada, dan desain karakter oleh Masayoshi Tanaka. Movie ini merupakan kelanjutan kolaborasi mereka setelah Ano Hana dan Anthem of The Heart.

Aioi Aoi senang bermain bass dan ingin meninggalkan kota tempat ia tinggal untuk menjadi anggota band di Tokyo setelah lulus SMU. Keinginan itu tercetus karena ia tidak lagi ingin terus membebani kakaknya, Akane yang sudah merawatnya selama 13 tahun lebih sejak kedua orang tua mereka meninggal. Untuk itu ia tekun berlatih di dalam kuil kosong dekat rumahnya. Kuil tersebut dulunya menjadi base camp tempat gebetan Akane, Shinnosuke beserta bandnya berlatih saat mereka SMU dulu. Shinnosuke sudah belasan tahun meninggalkan kota untuk menjadi musisi di Tokyo dan tidak terdengar lagi kabarnya.

Tak disangka-sangka saat berlatih Aoi dikagetkan dengan kemunculan Shinnosuke yang fisiknya persis saat masih SMU. Aoi pun menyangka bahwa Shinnosuke sudah meninggal dan arwahnya gentayangan di kuil tersebut. Aoi tidak langsung memberitahu Akane karena masih tidak yakin dengan apa yang dialaminya. Dan apakah yang menyebabkan “arwah” Shinnosuke muncul di kuil tersebut? Itulah yang perlu dicari tahu oleh Aoi

Baca Juga:  Review Film Bloodshot, Jadi Pembuka Universe tapi Maju Mundur

Her Blue Sky terasa agak generik untuk sebuah drama tentang rasa cinta antara kakak dan adik serta bagaimana seseorang punya rasa penyesalan ketika memilih karirnya namun harus tetap maju terus. Premis film ini sudah bagus tapi kurang terasa impactnya pada emosi penonton. Jika dibandingkan dengan lika liku kehidupan kakak adik Taylor dan Amy di Violet Evergarden: Eternity and The Auto Memory Doll yang sukses bikin mewek, film ini belum bsia mengalahkannya. Film ini lebih cocok untuk mereka yang sudah berkarir dan berumur pertengahan 20 hingga awal 30-an tahun karena mengupas bagaimana impian saat kita SMU ternyata bisa berbeda realitasnya dengan yang dijalani nantinya. So gwiples buat kalian yang penasaran, jangan lupa disaksikan film satu ini ya

Continue Reading

Box Office

Disney Indonesia Umumkan Kolaborasi Spesial Bersama Empat Penyanyi Indonesia Untuk Disney’s ‘Mulan’

Published

on

By

GwiGwi.com – Disney Indonesia berkolaborasi dengan Yura Yunita, SIVIA, Agatha Pricilla, dan Nadin Amizah hadirkan sentuhan spesial dalam lagu ‘Reflection’ untuk menyambut film live-action terbaru Disney’s ‘Mulan’. Berbeda dengan versi orisinil lagu tersebut yang dipopulerkan oleh Christina Aguilera, lagu ‘Reflection’ versi terbaru ini dinyanyikan oleh empat penyanyi perempuan berbakat dari Indonesia dengan karakter suara yang unik dan berbeda-beda.

Lagu ‘Reflection’ merupakan soundtrack dari film animasi Disney’s ‘Mulan’ yang dirilis pada tahun 1998. Dalam film animasi Disney’s ‘Mulan’, lagu ‘Reflection’ dinyanyikan oleh pengisi suara dari karakter utama film tersebut, Lea Salonga, sedangkan versi pop dari ‘Reflection’ dinyanyikan oleh penyanyi Christina Aguilera. Diciptakan oleh Matthew Wilder and David Zippel, ‘Reflection’ merupakan salah satu lagu Disney terpopuler hingga saat ini.

Baca Juga:  Review Film Bloodshot, Jadi Pembuka Universe tapi Maju Mundur

Para penggemar di Indonesia dapat mendengarkan lagu “Reflection” versi Yura Yunita, Agatha Pricilla, SIVIA, dan Nadin Amizah di seluruh digital streaming platform mulai 20 Maret 2020 sebelum menyaksikan film Disney’s “Mulan”

Continue Reading

Trending