Connect with us

Box Office

Review Film Doctor Sleep, Trauma Mendalam yang Terus Menghantui

Published

on

GwiGwi.com – Janggutnya tak beraturan. Wajahnya kusut. Dan Torrance (Ewan McGregor) punya setelan bak gelandangan. Ingin hidupnya menjadi lebih baik, Dan Torrance bertemu dengan orang-orang baru di sebuah kota kecil yang tenang.

Sayang, ada hal yang terbenak di kepalanya. Ketika tertidur maupun saat menjadikan alkohol sebagai pelarian hidupnya, Dan kemudian mendengar suara-suara yang ingin dilupakannya. Suara-suara yang memanggilnya sejak sedari kecil. Bahkan sejak ayahnya melakukan hal gila di sebuah hotel bernama Overlook. Perpindahannya ke sebuah kota baru tak membuat Dan Torrance kehilangan suara-suara itu. Malah ia melihat sendiri dengan mata kepalanya, dinding kamar barunya menuliskan sebuah kata perkenalan. Mulai dari Abra Stone hingga kultus “awet muda” bernama The True Knot dengan kemampuan mereka masing-masing.

Siapa mereka? Apakah ini semua terhubung dengan masa lalu Dan? atau ini adalah takdir yang harus dipenuhinya ketika mendapatkan sebuah bakat yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya?

Sekuel langsung dari film The Shining, film Doctor Sleep sangat kuat pada bagian drama. Hampir tiga per empat film ini lebih mengandalkan kekuatan drama dan segala konfliknya. Tak hanya Dan, namun juga Abra, hingga Rose the Hat (Rebecca Ferguson).

Perkenalan masing-masing karakter dan tujuan mereka masing-masing menjadi bagian dari plot drama yang pada akhirnya tersaji dengan baik. Untungnya, drama film ini tidak bertele-tele. Jadinya cerita dalam film Doctor Sleep disampaikan secara lugas, jelas, tanpa basa-basi. Hanya saja bagi yang ingin mencari tahu bagaimana dan apa penyebab Dan kemudian menjadi pecandu alkohol serta mendapatkan kemampuannya, memang tidak dijelaskan secara gamblang melalui film ini. Tetapi disampaikan secara tersirat melalui gestur tubuh atau set hotel Overlook yang berbahaya sudah cukup menjelaskan kenapa ia bisa mendapatkan kemampuan tersebut.

Sisanya pada seperempat film, penonton akan dihadapkan pada situasi yang jauh dari kesan drama. Pada momen inilah sentuhan thriler-horor dihadirkan. Mengajak penonton menahan sakit, meredam jerit, dan mengikuti bagaimana para tokoh dalam film ini tampil menyelesaikan masalah masing-masing yang sudah disajikan sejak awal hingga berbuntut pada pemecahan masalah hingga akhir film.

Tidak terlihat mengerikan. Malah penonton memang dihadapkan pada sebuah fantasi horor yang terasa menyenangkan. Sebuah penyajian film bergenre horor dengan gaya baru. Tak perlu ada jumpscare atau hantu-hantuan. Pun, kalau ada, hantu-hantu ini justru hanyalah sebagai sebuah twist yang juga dipastikan akan mengejutkan penonton. Sebuah hal yang menarik untuk sebuah film yang menyematkan genre horor sebagai bagian ceritanya, dan ini menarik untuk ditonton.

Baca Juga:  Review Film Spies in Disguise, Aksi Spionase Kocak yang Sangat Menghibur

Semuanya karena unsur fantasi yang ditempatkan di dalam film ini. Bagaimana Dan dan Abra bermain-main dengan kemampuan mereka, memanipulasi hingga bicara dengan arwah-arwah adalah bagian fantasi kuat film ini ketika unsur dramanya terlalu banyak. Belum lagi, momen ketika Rose the That bersama kelompoknya bermain-main dengan ‘uap’ yang diambil dari orang-orang yang hidup dan kemudian dibunuh. Fantasinya pas, tidak berlebihan. Menjadi penyeimbang antara drama dan thriller yang ditawarkan di sepanjang film.

Tak ada lakon utama di film ini. Doctor Sleep langsung membaginya dengan tujuan yang yang konkrit. Dan dengan masa lalunya mencoba menyelematkan Abra dari cengkraman Rose the Hat yang ingin punya hidup panjang. Disinilah hampir semua tokoh diuji penampilannya untuk memaksimalkan sebuah film. Rebecca Ferguson yang berperan sebagai Rose the Hat di film Doctor Sleep selama ini dikenal lebih banyak bermain di film drama. Dengan memainkan tokoh jahat yang culas dan ambisius? Untuk kali sang aktris memang mampu memainkan perannya dengan baik. Licik adalah kekuatannya. Bukan hanya pertarungan kekuatan antara Rose the Hat melawan Abra atau Dan, namun caranya mendapatkan pengaruh untuk menjalankan ambisinya. Rebecca Ferguson berhasil memerankan antagonis yang membuat penonton gregetan.

Saya sempat ragu dengan film Doctor Sleep akan memiliki alur cerita yang berantakan. Apalagi, belum tentu film ini bisa diterima semua penonton. Hal ini penting mengingat rentang waktu antara film Doctor Sleep sebagai sekuel dari The Shining terlalu jauh. Bentuk kegilaan di film The Shining pun belum tentu akan terulang di film Doctor Sleep. Namun ternyata, semuanya berjalan dengan lancar ketika sudah seperempat bagian akhir film. Hubungan antara satu karakter di film Doctor Sleep menjelaskan semuanya. Plus, menawarkan sesuatu yang mengajak penonton The Shining bernostalgia.

Secara keseluruhan, Doctor Sleep merupakan salah satu sajian terbaik di bulan November ini, selain adaptasi dari novel Stephen King. Film ini juga memiliki pace yang tidak terburu-buru dari segi penceritaan, serta sajian drama, thriller, dan horror yang digabung menjadi satu di film ini bagaikan menaiki sebuah wahana roller coaster yang menyenangkan. Jadi jangan ragu untuk menonton film ini dan akan sangat disayangkan jika sampai terlewatkan gwiples!

Box Office

Review Film Dolittle, Sang Dokter datang Membawa Tawa

Published

on

GwiGwi.com – Terakhir kali penonton seantero dunia melihat Robert Downey Jr. adalah saat dia mengucapkan selamat tinggal untuk perannya sebagai Tony Stark atau Iron Man yang mungkin adalah penampilan terbaiknya setelah 10 tahun lebih menjadi tokoh orang kaya jenius dermawan tersebut. Disela film-film Marvel dia juga memulai franchise baru dengan SHERLOCK HOLMES (2009) yang juga cukup sukses hingga menelurkan sekuelnya, SHERLOCK HOLMES: A GAME OF SHADOWS (2011) dan film ketiganya nanti dengan tanggal rilis tahun 2021.

Mungkin menjadi wajah franchise baru adalah kesukaan pribadi Robert Downey Jr. atau studio-studio besar memang gemar memakai jasa beliau untuk memanfaatkan nama tenarnya, berharap DOLITTLE akan menjadi kesuksesan kesekian kalinya. Meskipun seringkali sulit untuk sebuah film berdiri sendiri bila elemen lain demikian lemahnya hingga nama besar sulit untuk membantu.

Berkisah tentang John Dolittle (Robert Downey Jr.) seorang dokter yang bisa berbicara pada binatang yang mau bergaul dengan segala spesies hewan yang ada rumahnya tapi menolak untuk menemui makhluk berkaki dua sepertinya disebabkan trauma masa lalu. Semua berubah ketika Stubbins (Harry Scollet) dan utusan Ratu Victoria (Jessie Buckley), Lady Rose (Carmel Laniado) memasuki hidupnya.

DOLITTLE memiliki premis cerita yang sederhana dan memiliki unsur petualangan yang secara naratif, memberi banyak ruang untuk Dolittle bekerja sama dengan para binatang atau para binatangnya berinisiatif beraksi sendiri. Ketegangan dan komedi berbunga dari situ. Robert Downey Jr. memerankan Dolittle kurang lebih mirip dengan karakter Jack Sparrow. Meski Jack Sparrow sering berpenampilan dan bertingkah eksentrik, namun percikan pikiran briliannya membuatnya menarik dan kompleks. DOLITTLE mencoba melakukan hal yang sama dengan hasil kurang baik. Sisi cerdas Dolittle terasa kurang dieksplor lebih jauh dan mendetail lagi. Spotlight lambat laun justru lebih banyak diberikan pada para binatang membuat Dolittle justru terkesan pelengkap saja. Belum lagi pilihan aksen bicaranya yang sulit didengar. Untung saja penonton Indonesia disuguhi subtitle.

Baca Juga:  Review Film Spies in Disguise, Aksi Spionase Kocak yang Sangat Menghibur

Unsur hiburan yang paling menonjol adalah tingkah para binatang. Gorilla yang penakut, Beruang kutub yang takut dingin, Rubah yang berbicara bahasa perancis, Burung Unta yang malas, dll. Semua kepribadian berbeda ini membaur, beraksi, bekerja sama, dan berhasil mengundang tawa walau tidak selalu mendarat mulus. Para binatang ini mungkin satu-satunya yang secara konsisten membuat DOLITTLE mengambang saat momen emosional, cerita dan karakternya sering kali kesulitan.

Untuk film yang mengedepankan CG hasil akhirnya secara begitu kasat mata sering kurang meyakinkan. Para binatang terkadang begitu terlihat artifisialnya. Spesial efek untuk latar belakangnya pun begitu kasar nan kentara apalagi saat Stubbins pertama kali melihat gajah di pekarangan Dolittle. Sesuatu yang harusnya bisa dijual sebagai momen magis baik itu untuk karakter Stubbins dan penonton disajikan begitu cepat dan kurang rapih sehingga terkesan hanya adegan sekelebat tak terlalu penting saja.

Pada akhirnya DOLITTLE adalah film yang dikemas dengan sebisa mungkin untuk anak-anak (sepertinya diakui oleh LSF Indonesia yang kini mempunyai pemberitahuan rating yang manis sebelum film dimulai); plot sederhana minimal ancaman berarti, antagonis bercerita tentang rencana jahatnya secara gamblang terang benderang, dan para binatang lucu berwarna warni. DOLITTLE mungkin tak mempunyai resep yang manjur untuk yang menginginkan lebih, tapi bagi yang ingin memberi sang dokter kesempatan, ini adalah film yang bisa mengundang tawa bagi anak anak dan juga kalian gwiples.

Continue Reading

Box Office

Review Film Cats, Indah Lagunya namun Seram Wujudnya

Published

on

GwiGwi.comCats adalah film yang berkisah tentang sekelompok kucing yang digambarkan seperti manusia yang hidup di lorong dan jalan-jalan di London, Inggris. Suatu hari, pemeran utama dalam film ini, yakni Victoria (Francesca Hayward), seekor kucing putih yang dibuang bertemu dengan kelompok suku kucing bernama Jellicle.

Victoria disambut oleh kucing Munkstrap (Robbie Fairchild) dan diperkenalkan kepada kawanan Jellicle tersebut. Victoria disambut oleh nyanyian dan musik riang, serta tarian-tarian energik dari kelompok Jellicle. Victoria mulai bisa beradaptasi dan menikmati keadaannya meski, harus menerima kenyataan telah dibuang. Seiring film berjalan, semakin menarik saat Victoria mengetahui bahwa kelompok kucing Jellicle itu memiliki sebuah pertunjukan bakat bernama Jellicle Ball, yang diawasi oleh kucing Old Deuteronomy (Judi Dench).

Nantinya, yang terbaik dalam pertunjukan itu akan melakukan perjalanan kebahagiaan menuju Heaviside Layer yang nampak misterius.

Film besutan Tom Harper ini adalah sebuah film drama musikal yang diadaptasi dari buku kumpulan puisi karya T.S. Elliot yang berjudul Old Possum’s Book of Parctical Cats tahun 1939. Namanya film musikal ini memang hampir semuanya menggunakan nyanyian sebagai dialog mereka. Jika tidak memperhatikan nyanyian yang dilantunkan dalam film ini, maka bisa jadi tidak akan paham dengan jalan cerita yang sedang dibangun.

Baca Juga:  Review Film Spies in Disguise, Aksi Spionase Kocak yang Sangat Menghibur

Yang menjadi hal menarik dalam film Cats ini tentu saja adalah pemerannya yang terdiri papan atas seperti James Corden, Jennifer Hudson, Judi Dench, Ian McKellen, Jason Derulo, Taylor Swift, Idris Elba, Francesca Hayward dan Rebel Wilson. Mereka berhasil melakukan effort terbaik untuk film Ini. Namun ya sayang sekali belum beruntung film Ini di persaingan film bulan Desember 2019.

Dari segi visual, film Cats ini memang menampilkan banyak orang yang memiliki karakter fisik seperti manusia, namun memiliki bulu dan ekor layaknya kucing sehingga bagi sebagian orang mungkin tampak menyeramkan atau aneh, sehingga sempat menimbulkan banyak pro dan kontra. Trailer film yang diunggah di YouTube juga diketahui lebih banyak mendapat dislike daripada like.

Ada satu adegan yang mencuri perhatian saat kucing-kucing yang seperti manusia itu memakan kecoa. Sutradara seakan ingin menjelaskan bahwa yang sedang makan kecoa itu adalah kucing. Namun, tampaknya hal tersebut membuat jijik karena masih tampak jelas yang memakan kecoak hidup-hidup itu adalah manusia.

Secara keseluruhan, Film Cats memiliki kekuatan di lagu-lagunya namun sayang dari segi visual malah terlihat menyeramkan atau terkadang terlihat aneh.

Continue Reading

Box Office

Review Film Spies in Disguise, Aksi Spionase Kocak yang Sangat Menghibur

Published

on

GwiGwi.com Lance Sterling, seorang agen mata-mata terbaik di sebuah agensi intelijen yang selalu berhasil dalam menjalankan tugasnya. Layaknya seorang mata-mata ia mempunyai gadget super canggih, namun kali ini ia mendapatkan gadget yang aneh dalam mengemban tugasnya.

Lance yang saat itu kesal karena hasil penelitian Walter seorang yang bekerja di divisi sains agensi tersebut dianggap tak berguna bagi perjalanan misinya memutuskan untuk memecat Walter. Hal Ini tentu membuat Walter sangat terpukul. Pada saat itu juga Lance difitnah oleh orang jahat yang menyebabkan dirinya diincar oleh agensi tempat ia bernaung. Ia melarikan diri dan menemui Walter di rumahnya.

Pada saat itu tanpa sengaja Lance meminum ramuan buatan Walter yang menyebabkan dirinya berubah menjadi seekor burung merpati. Lantas kepanikan pun terjadi, mau tidak mau Lance dan Walter harus bekerjasama untuk menyelamatkan dunia dari ancaman penjahat yang telah memfitnah Lance.

Sosok Tom Holland yang begitu polos dan lugu tampak begitu pas mengisi suara Walter dengan kepribadian Walter, oleh karena itu ketika menyaksikan kisah Walter seperti melihat Tom Holland dalam versi animasi. Begitu pula dengan Will Smith, suaranya berhasil menghidupkan tokoh Lance sebagai agen mata-mata rahasia yang mempunyai misi penting.

Baca Juga:  Review Film Spies in Disguise, Aksi Spionase Kocak yang Sangat Menghibur

Perjalanan Walter dan Lance (dalam bentuk merpati tentunya) tidak semudah yang dibayangkan. Mereka dikejar-kejar oleh pihak kepolisian yang masih merasa bahwa Lance bersalah. Kehadiran tokoh Eyes dan Ears juga tidak kalah keren yang masing-masing diisi suaranya oleh Karen Gillan dan DJ Khaled pun menjadi tim yang terus berusaha untuk mencari keberadaan Lance dan Walter.

Film Spies in Disguise benar-benar memberikan aksi yang begitu keren layaknya film live action. Unsur komedinya pun tidak perlu diragukan lagi. Banyak adegan yang akan membuat penonton tertawa, terutama melihat tingkah Lance versi merpati yang selalu panik dan sok jagoan menghadapi penjahat. Karakter merpati lain yang jadi ‘teman’ Lance pun menjadi pelengkap dalam menghadirkan cerita yang lebih berwarna.

Dengan mengedepankan tema kerjasama antar tim, film ini tentu sangat cocok ditonton untuk semua umur mulai dari anak-anak hingga dewasa. Maka itu untuk gwiples yang bingung akan menghabiskan waktu libur natal dan tahun baru di mana, pilihan ke bioskop untuk menonton Spies in Disguise tentu sangat menjadi rekomendasi apalagi jika ditonton bersama keluarga.

Continue Reading
Advertisement DICARI REPORTER
Advertisement

Trending