Berita Anime & Manga
Review : Denki-gai No Hon’ya-san Episode 3
[alert-announce]]!!SPOILER!! HANYA UNTUK YANG SUDAH MENONTON !!SPOILER!![/alert-announce]
Pada episode 3 Denki-gai No Hon'ya-san kali ini menceritakan disaat persiapan acara natal dan tahun baru dimana Umanohone mengadakan sale spesial dan dengan cara menarik perhatiaan para pembeli Hiotan, Fu Girl, dan Sommelier bertugas untuk mempromosikan di depan toko dengan menggunakan kostum ala santa claus dan rudolph rusa tetapi karena Hiotan memakai kostum yang tipis ia malah kedinginan karena ia kira diluar tidak sedingin yang ia kira.
Ketika Hiotan mempromosikan sebuah game di luar toko, sang director datang dan menjelaskan mengapa game yang pernah di jual sebelumnya dijual kembali pada saat natal. Sang director menjelaskan kepada Hiotan dengan penuh makna dan banyaknya orang diluar sana yang sangat menanti seri game ini. Hiotan merasa tersentuh dengan cerita dari sang director dan mulai semangat kembali tetapi itu semua hanya akal-akalan sang director untuk memanfaatkan kepolosan Hiotan.
Setelah tugasnya Hiotan selesai ia mengistirahatkan diri di sofa dan ketika director datang dan menawarkan minuman ke Hiotan dan saat itu dimualilah kembali keahlian director, ia mulai menanyakan kepada Hiotan apakah ia sudah memiliki pacar, dengan kagetnya Hiotan menjawab tidak dengan rasa malu di wajahnya, aksi sang director belum selesai begitu saja ia lalu meminta Hiotan untuk pergi bersama dan Hiotan pun mulai berfikir aneh-aneh tetapi director meneruskan kata-katanya bahwa ia mengajak Hiotan untuk berbelanja sesuatu.

Director menyuruh Hiotan untuk memotong sebuah gambar yang berbentuk salju tetapi karena Hiotan kurang berhati-hati tangannya pun tergores dan luka, director mengobati jari Hiotan dengan meberikannya adhesive bandage (plester). Setelah jari Hitan di sembuhkan lalu Hiotan membantu director kembali dengan membuat hiasan-hiasan kreasinya sendiri.
Director mengundang Fu Girl, Sensei, Umio, Sommelier, dan Kameko untuk merayakan pesta natal di tempatnya. Fu girl dan lainnya sudah merencanakan untuk cosplay pada pestanya tetapi Senesi tidak tahu kan hal itu dan ia jelas menolaknya, dengan terpaksa Sensi memakai kostum layaknya Kuroneko pada anime Oreimo.
Sensei semakin malu karena disanjung juga oleh Umio, tetapi yang membuat ia lebih tidak tahan adalah ketika semuanya mennyebutnya “kawaii” sehingga ia lepas kendali dengan rasa malunya. Setelah itu mereka berforto bersama seperti biasanya Kameko selalu ingin yang menjadi photografernya tetapi Director ingin ia juga ada di dalam fotonya walaupun ia tidak mau.
Ketika saat makan-makan director mengatakan bahwa mereka semua termasuk dia tidak memilki kekasih satupun tetapi tiba-tiba Umio menjawab tidak dan dia mengatakan bahwa dia memiliki seorang kekasih. Spontan mereka semua terkejut akan pernyataan Umio tetapi tidak disangka pacar Umio adalah sebuah karakter dalam seri game.
Umio pun menceritakan seri game tersebut secara mendetali hingga pagi hari tetapi yang lain tidak ada yang mendengar satupun dan memilih untuk tidur. Yang lain pun pulang tak terkecuali Hiotan yang memilih untuk tetap tinggal dan ia malah asik membaca manga. Hiotan mengatkan untuk tidak menganggap dia ada disitu, karena Hiotan maka Director pun ketika selesai mandi berkeliaran tanpa memakai baju tetapi karena disitu masih ada Hiotan sehingga membuat Hiotan melihat Driector sedang telanjang. Saat director memikirkan untuk memasak ternyata Hiotan bisa membaca pikiran Director dan juga ingin makan bersama. Setelah makan Director menanyakan kapan Hiotan akan pulang dia akan pulang setelah menyelesaikan sebuah game. Setelah game tersebut selelsai Director pun berencana untuk keluar dan Hiotan pun ikut dengannya dan seteleha Director kembali ternyata Hiotan pun masih mengikutinya sampai ke apartement.
Saat hari perayaan tahun baru Umanohone membuka toko dengan banyaknya pembeli yang sudah menunggu. Banyaknya pengunjung membuat seluruh pegawai Umanohone harus bekerja ekstra. Karena terlalu banyakanya pengunjung membuat Fu Girl terjatuh dan seketika segerombolan pengunjung menuju Fu Girl dan akan menabraknya tetapi Sommelier langsung melindungi Fu Girl dengan tubuhnya dan Sommelier pun mengorbankan dirinya hanya untuk melindungi Fu Girl.
Pengunjung terus berdatangan dan para pegawai Umanohone harus terus bekerja tanpa henti. Ketika Director memberikan tumpukan stock buku volume terbaru pengunjung pun langsung melihatnya dan langsung saja menarik bukunya beserta Umio.
Ketika Kameko sedang melayani pengunjung dikasir kekuatannya pun sudah pada batasnya dan ia pun sampai muntah darah karena terlalu memaksa.
Tidak Hanya Kameko tetapi Sensei pun juga bekerja sampai dengan melewati batas kemampuannya. Hiotan pun juga hampir menjadi korban ketika tumpukan buku yang hampir jatuh ke arahnya tetapi Director menahannya dan menyuruh Hiotan membantu diluar.
Diluar terdapat antrian pengunjung yang sangat panjang dan juga Fu Girl dan Sommelier yang telah kalah perang. Hiotan pun menyuruh antrian selanjutnya untuk masuk tetapi tak disangka para pengunjung masuk layaknya sebuah barisan tentara. Ketika toko sudah tutup mereka semua terlihat lelah setelah menghadapi para pengunjung. Seketika Director meminta maaf kepada yang lain karena telah membuat mereka selalu bekerja lembur tetapi yang lain senang karena bisa bekerja bersama karena mereka telah mengatakan hal tersebut sehingga Director akan memperkerjakan mereka besok dengan lembur.
Ketika Di kereta Umio dan Sensei yang searah sedang memikirkan bagaimana caranaya untuk memulai pembicaraan tetapi Sensei lebih dulu menanyakan ke Umio untuk mengajaknya ke sebuah kuil untuk datang ke acara ritul tahun baru dan Umio pun mengiyakannya. Setelah mereka berdua berdoa di kuil Sensei pun ingin menunjukan sebuah tempat special kepada Umio, tempat special itu ialah diatas bukit dimana mereka bisa melihat indahnya kota pada malam hari. Disitu Umio menanyakan kepada Sensei apa yang ia doakan tadi, Sensei berdoa agar ia menjadi pembuat manga terkenal. Sebenarnya Sensei tidak hanya membuat satu permintaan saja tetapi ada permintaan lain yang ia sembunyikan, tetapi ketika Sensei menanya Umio apa yang ia doakan Umio malah merahasiakannya.
Berita Anime & Manga
Review Tomb Raider King Eps.1-2
Sama-sama mengusung tema dungeon crawling seperti Solo Leveling, mampukah adaptasi anime Tomb Raider King meraih kesuksesan yang sama? Simak ulasan dua episode pertamanya di sini.
www.gwigwi.com – Dikhianati kontraktornya, “Tomb Raider” Jooheon Suh hampir saja mati di sebuah makam/tomb berisikan relik ajaib saat tetiba dia kembali 15 tahun lalu saat God’s Tombs ajaib belum bermunculan. Bertekad untuk membalas, berbekal pengetahuan dan keahliannya, dia pergi mengoleksi berbagai elik dengan tangannya sendiri.
TOMB RAIDER KING dianimasikan! Manhwa karya Sanji Jiksong ini tampaknya ingin ikut mencicipi kesuksesan SOLO LEVELING. Sesama sub genre Lit-RPG (cerita dengan mekanisme gim) dan dungeon crawling, mampukah mereka meraup harta kesuksesan yang sama?
Menjanjikan petualangan, misteri, atraksi aksi yang dibumbui strategi cerdik tak terduga, TOMB RAIDER KING memiliki banyak key selling point buat penyuka sub genre ini.
Cerita dengan cerdas tidak dimulai dari awal mula karir Jooheon. Penonton langsung disuguhi misteri pengkhianatan, kenapa dia bisa kembali ke masa lalu dan protagonis yang sudah jago, cepat memahami situasi dan langsung bertindak.
Alur ringkas cepat ini membantu memaku perhatian saat animasi dan art style gambar terasa cukup saja. Sisa informasi world building dieksposisikan tokoh utama sambil jalan yang untungnya lore TOMB RAIDER KING ini cukup sederhana dan mudah dicerna.
Mungkin karena keliatan sederhana ini juga, rasanya dunianya kurang terasa spesial. Tomb yang didatangi Jooheon saat baru sadar terinspirasi dari kisah populer ‘Kapak Emas’ dari dongeng Aesop. Memang boleh saja terinspirasi demikian, tapi seperti kurang ada polesan unik ala TOMB RAIDER KING itu sendiri. Ya, ada twist berbeda, namun kurang terasa menghentak.
Entah karena Jooheon yang digambarkan dengan istilah “OP” atau over power kah? Pemuda ini sudah sakti, pede, cerdas, pokoknya wah. Dari dua episode ini, belum ada tantangan berarti mau itu dari menghajar orang atau melawan monster. Fokus memperlihatkan hebatnya dia memang boleh saja, tetapi cerita seperti lupa memberikan suspense atau pembeda dari sub genre yang sama saat sekarang dunia sudah mengenal SOLO LEVELING dan SHANGRI-LA FRONTIER (tentang petualangan seorang gamer di dunia gim, Shangri-La Frontier).
Rakurou Hizutome atau Sunraku, protagonis SHANGRI-LA FRONTIER memang jago tapi diperlihatkan juga dia tidak bisa memakai armor hingga terkena serangan sekali saja sudah fatal. Hal demikian belum ada di TOMB RAIDER KING. Karakter Jooheon terkesan power fantasy untuk para pembaca merasa strong dan kurang memiliki kedalaman lain supaya audiens bisa relate, malahan dia kadang terasa angkuh menyebalkan.
Bila ingin sekedar melihat protagonis doing cool, strong, smart stuff dibumbui misteri dan petualangan, dan diakhiri dengan mendapat harta yang bisa bikin lebih cool, strong, smart lagi, TOMB RAIDER KING mungkin bisa jadi pilihan.

Review Tomb Raider King Eps.1 2
Berita Anime & Manga
Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 2: Otak Di Atas Otot, Kemenangan Strategi Tanpa Cheat!
www.gwigwi.com – Banyak anime fantasi memulai cerita dengan tokoh utama yang dibuang karena dianggap tidak berguna. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System mengambil pendekatan yang sedikit berbeda. Masalah Elymas bukan karena ia lemah, melainkan karena semua orang terlalu cepat menyimpulkan nilai seseorang hanya dari label kelas yang ia terima. Gelar Heavy Knight dianggap sebagai jalan buntu, sementara Swordmaster diperlakukan seperti satu-satunya masa depan yang layak. Keputusan ayahnya mengusir Elymas dan mengangkat adik tirinya dari cabang keluarga sebagai pewaris terasa lebih sebagai cerminan obsesi terhadap status daripada keputusan yang benar-benar rasional.
Yang menarik, Elymas tidak menghabiskan waktunya untuk meratapi nasib atau berteriak ingin balas dendam. Ia justru melihat pengasingan itu sebagai kesempatan memulai hidup tanpa ekspektasi keluarganya. Berbekal pengetahuan tentang mekanisme dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah membaca seluruh buku panduan, setiap keputusan yang diambil terasa penuh perhitungan. Kekuatan utama anime ini bukan aksi besar pada dua episode pertama, melainkan kepuasan melihat seseorang perlahan membalikkan stigma dengan logika, pengalaman, dan strategi.
Dari sisi produksi, GoHands kembali mempertahankan identitas visualnya. Desain karakter terlihat bersih dengan pencahayaan yang kaya, sementara latar memiliki detail yang membuat dunia fantasinya terasa hidup. Sayangnya, gaya penyutradaraan mereka masih sulit diabaikan. Kamera terus bergerak, melakukan panning, zoom in, dan zoom out bahkan ketika adegannya hanya percakapan sederhana. Ada momen ketika pergerakan kamera justru lebih aktif daripada karakter yang sedang berbicara. Bagi sebagian penonton ini menjadi ciri khas, tetapi bagi yang lain justru terasa mengalihkan perhatian dari cerita.
Dua episode pembuka ini belum menawarkan kejutan besar, tetapi berhasil menanam rasa penasaran. Anime ini tidak mencoba meyakinkan penonton bahwa Heavy Knight adalah kelas terkuat. Sebaliknya, ia mengajak penonton mempertanyakan apakah sebuah sistem benar-benar salah, atau manusianya saja yang terlalu cepat memberi cap pada sesuatu yang belum dipahami. Pendekatan tersebut membuat perjalanan Elymas terasa lebih menarik daripada sekadar kisah “tokoh yang diremehkan lalu menjadi overpowered.”
Nilai: 8,5/10. Premisnya memang familier, tetapi cara membangun karakter utama dan tema tentang prasangka terhadap potensi seseorang membuat serial ini memiliki identitas yang cukup kuat. Jika GoHands sedikit mengurangi “kamera yang hiperaktif”, pengalaman menontonnya akan terasa jauh lebih nyaman.

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2
Berita Anime & Manga
Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas yang Ternyata Overpowered!
www.gwigwi.com – Anime fantasi dengan tema tokoh utama yang diusir keluarganya memang bukan hal baru. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System (Tsuihou sareta Tensei Juukishi wa Game Chishiki de Musou suru) menghadirkan konflik yang cukup menarik sejak episode pertamanya. Elymas, putra keluarga bangsawan Edvaughn, dianggap gagal memenuhi harapan karena memperoleh kelas Heavy Knight, kelas yang dipandang tidak memiliki masa depan dibandingkan Swordmaster. Pandangan sempit tersebut membuat ayahnya mengambil keputusan yang sangat drastis.
Situasi semakin rumit ketika Malice, adik tiri Elymas yang berasal dari cabang keluarga, memperoleh kelas Swordmaster. Berbekal status tersebut, Malice dengan cepat menggantikan posisi Elymas sebagai pewaris resmi keluarga Edvaughn. Kudeta terhadap hak waris itu berlangsung tanpa banyak perlawanan karena seluruh keluarga lebih memilih mengejar prestise daripada menilai kemampuan seseorang secara objektif. Adegan ini menjadi fondasi konflik utama serial, sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah label mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.
Menariknya, Elymas tidak tenggelam dalam amarah atau sibuk merencanakan balas dendam. Ia menerima pengasingannya sebagai awal kehidupan baru. Berkat pengetahuannya mengenai sistem dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah menguasai seluruh mekanisme permainan, Elymas menyadari bahwa Heavy Knight bukanlah kelas yang seburuk anggapan banyak orang. Cara berpikirnya yang tenang dan penuh perhitungan membuat tokoh utama terasa berbeda dibanding protagonis fantasi pada umumnya yang sering mengandalkan ledakan emosi.
Dari sisi visual, GoHands kembali mempertahankan ciri khasnya. Desain karakter terlihat tajam dengan efek pencahayaan yang kaya, sementara latar dunia fantasinya memiliki detail yang memanjakan mata. Sayangnya, gaya sinematografi mereka masih menjadi pedang bermata dua. Kamera terus bergerak dengan panning, zoom, dan perubahan sudut yang cukup agresif, bahkan saat adegan dialog berlangsung. Bagi sebagian penonton hal ini memberikan kesan dinamis, tetapi tidak sedikit yang justru merasa pergerakannya terlalu berlebihan sehingga mengalihkan fokus dari percakapan para karakter.
Sebagai episode pembuka, anime ini berhasil memperkenalkan dunia, sistem kelas, serta konflik keluarga yang menjadi pemicu perjalanan Elymas. Alih-alih hanya menyajikan kisah tokoh yang diremehkan lalu menjadi sangat kuat, episode pertama lebih menekankan bagaimana prasangka dan obsesi terhadap status dapat membuat seseorang kehilangan haknya. Itulah yang membuat perjalanan Elymas terasa layak untuk terus diikuti.
Nilai: 8,5/10. Episode pertama berhasil membangun konflik dengan baik dan memperkenalkan karakter utama yang cerdas serta tenang. Jika GoHands sedikit mengurangi pergerakan kameranya yang terlalu aktif, pengalaman menonton akan terasa lebih nyaman tanpa mengurangi kualitas visual yang memang menjadi kekuatan mereka.
-
Box Office4 weeks agoReview Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli dari Vietnam
-
Laptop3 weeks agoHP EliteBook 8 G1i 14 AI: Tangguh untuk Bisnis, Siap Gaming Ringan
-
Box Office2 weeks agoReview The Death of Robin Hood, Akhir Tragis Sang Legenda
-
Serial Anime2 weeks agoReview Clevatess Season 2 Episode 1: Misi Rahasia Klen dan Alicia Dimulai, Visual Makin Manjakan Mata!
-
TV & Movies2 weeks agoREVIEW FILM MOANA (2026), Keindahan Visual Kepulauan Pasifik
-
TV & Movies2 weeks agoReview Film Love Barista, Megabintang yang Terdampar
-
News2 weeks agoAnime Festival Asia Rayakan Edisi ke-10 di Indonesia!
-
Gaming2 weeks agoAkhirnya Rilis! Wuthering Waves Versi 3.5 Hadirkan Region Baru dan Resmi Tuju Xbox!












