Connect with us

Serial Anime

Review Anime Ecchi Ore Dake Haireru Kakushi Dungeon – Antara Pertarungan dan Fanservice

Published

on

GwiGwi.com – Untuk Anda yang menyukai anime genre ecchi mungkin pernah menonton Ore dake Haireru Kakushi Dungeon (The Hidden Dungeon Only I Can Enter). Anime yang sudah tayang di musim dingin 2021 ini menjadi pilihan untuk anime genre ecchi di musim itu. Ceritanya berpusat pada tokoh utama bernama Noir Starga. Dia sebenarnya memiliki gelar kebangsawanan di dunianya. Akan tetapi, dia sama sekali tidak pernah dianggap sebagai orang istimewa. Kenyataannya keluarga Noir dianggap sebagai kelas rendah sehingga Noir harus bisa membuktikan anggapan itu salah.

Alhasil, Noir bertualang untuk mencari kemampuan khusus. Dia sebenarnya berhasil mengembangkan mantra yang kuat, namun memiliki efek samping seperti sakit kepala setelah menggunakannya. Berkat mantra tersebut, dia berhasil menemukan ruang bawah tanah tersembunyi yang dipenuhi monster dan makhluk berkemampuan khusus. Setelah Noir berhasil masuk, dia bertemu dengan wanita yang dirantai. Wanita itu juga memberikan kemampuan khusus pada Noir dan siap membuktikan kemampuannya itu. Dengan premis cerita yang terdengar klise, apakah anime ini memenuhi ekspektasi? Yuk, kita simak ulasannya.

Harem Dungeon Dimulai

Ore dake Haireru Kakushi Dungeon memang anime petualangan harem-ecchi yang cukup mengeksplorasi oppai, butt scene, dan pantsu yang kapan saja di mana saja dapat melepaskannya. Hanya saja, anime ini tidak mengekspos fanservice secara berlebihan seperti anime ecchi lainnya.

Pada Hidden Dungeon ini cukup cerdas menyajikan ecchi sebagai plot utama. Tokoh utama yang bernama Noir ini harus melakukan sentuhan secara seksual untuk bisa mengembangkan kemampuan khususnya. Jika tidak, maka energinya bisa habis atau istilah di sini adalah LP. Bahkan, saat LP ini habis penggunanya bisa mati. Hal tersebut mengingatkan kita pada anime ecchi di era lama.

Fokus pada oppai namun sewajarnya

Jika beberapa anime ecchi seperti To Love Ru, Love Hina, dan Negima! begitu banyak menyajikan oppai dan pantsu, Hidden Dungeon justru mencoba menceritakan kisah petualangan yang lebih menyenangkan. Beberapa elemen ecchi maupun harem di sini penyajiannya lebih baik dan tidak berlebihan.

Kita pun senang melihat Noir berkembang menjadi seorang petualang yang tidak hanya peduli dirinya sendiri, tetapi juga orang lain. Noir pun perlahan berubah dari agak lemah menjadi pejuang yang kuat. Bahkan dia juga memiliki tokonya sendiri. Hal ini tentunya kami puji karena anime ecchi tidak melulu membahas soal pantsu atau oppai semata.

Pemeran wanita yang menyenangkan

Layaknya anime harem-ecchi, pastinya akan banyak sekali karakter wanita di dalamya. Untuk kasus The Hidden Dungeon Only I Can Enter, pemeran wanita si sini begitu menaik. Mulai dari teman masa kecil MC bernama Emma Brightness hingga gadis di penjara bawah tanah.

Jika Anda mencari seorang peri yang peduli namun agak oon, di sini ada Luna. Kalau saudara perempuan yang mungkin terlalu peduli, ada Alice. Tentunya tidak semua gadis memiliki screentime yang banyak. Namun, selama gadis yang kita sukan mendapatkan screentime lebih hal itu tidak menjadi masalah.

Plot dan Pertempuran yang cukup lemah

Memang The Hidden Dungeon Only I Can Enter sekilas begitu baik dari sisi pengemasan. Akan tetapi, anime ini tetap memiliki kelemahan dari sisi plot. Contohnya saja Noir yang dikalahkan karena kemampuannya sendiri. Hal itu bisa kita tebak seperti apa ceritanya.

Hal itu juga bisa terlihat dengan cara yang dilakukan Noir selalu sama. Saat Noir kewalahan, para gadis haremnya akan datang dan memberinya waktu untuk membuat rencana. Plot seperti ini cukup dangkal dan selalu berulang-ulang. Bagian scene pertarungannya pun juga tidak bisa berbuat banyak. Bahkan pada episode terakhir Noir tiba-tiba mendapatkan energi besar dan entah bagaimana bisa mengalahkan klon Olivia. Ya, kita pun tahu bahwa apa yang menjadi fokus utama dari anime ini.

Kesimpulan

Bisa dilatakan The Hidden Dungeon Only I Can Enter bukanlah sebuah revolusi dari anime genre ecchi-harem. Meskipun begitu, anime ini bukan berarti jelek. Jika Anda memang seorang penggemar berat anime tipe genre ini, maka sangat layak untuk ditonton.

Advertisement

Berita Anime & Manga

Review Tomb Raider King Eps.1-2

Sama-sama mengusung tema dungeon crawling seperti Solo Leveling, mampukah adaptasi anime Tomb Raider King meraih kesuksesan yang sama? Simak ulasan dua episode pertamanya di sini.

Published

on

Review Tomb Raider King Eps.1 2

www.gwigwi.com – Dikhianati kontraktornya, “Tomb Raider” Jooheon Suh hampir saja mati di sebuah makam/tomb berisikan relik ajaib saat tetiba dia kembali 15 tahun lalu saat God’s Tombs ajaib belum bermunculan. Bertekad untuk membalas, berbekal pengetahuan dan keahliannya, dia pergi mengoleksi berbagai elik dengan tangannya sendiri.

TOMB RAIDER KING dianimasikan! Manhwa karya Sanji Jiksong ini tampaknya ingin ikut mencicipi kesuksesan SOLO LEVELING. Sesama sub genre Lit-RPG (cerita dengan mekanisme gim) dan dungeon crawling, mampukah mereka meraup harta kesuksesan yang sama?

Menjanjikan petualangan, misteri, atraksi aksi yang dibumbui strategi cerdik tak terduga, TOMB RAIDER KING memiliki banyak key selling point buat penyuka sub genre ini.

Cerita dengan cerdas tidak dimulai dari awal mula karir Jooheon. Penonton langsung disuguhi misteri pengkhianatan, kenapa dia bisa kembali ke masa lalu dan protagonis yang sudah jago, cepat memahami situasi dan langsung bertindak.

Alur ringkas cepat ini membantu memaku perhatian saat animasi dan art style gambar terasa cukup saja. Sisa informasi world building dieksposisikan tokoh utama sambil jalan yang untungnya lore TOMB RAIDER KING ini cukup sederhana dan mudah dicerna.

Mungkin karena keliatan sederhana ini juga, rasanya dunianya kurang terasa spesial. Tomb yang didatangi Jooheon saat baru sadar terinspirasi dari kisah populer ‘Kapak Emas’ dari dongeng Aesop. Memang boleh saja terinspirasi demikian, tapi seperti kurang ada polesan unik ala TOMB RAIDER KING itu sendiri. Ya, ada twist berbeda, namun kurang terasa menghentak.

Entah karena Jooheon yang digambarkan dengan istilah “OP” atau over power kah? Pemuda ini sudah sakti, pede, cerdas, pokoknya wah. Dari dua episode ini, belum ada tantangan berarti mau itu dari menghajar orang atau melawan monster. Fokus memperlihatkan hebatnya dia memang boleh saja, tetapi cerita seperti lupa memberikan suspense atau pembeda dari sub genre yang sama saat sekarang dunia sudah mengenal SOLO LEVELING dan SHANGRI-LA FRONTIER (tentang petualangan seorang gamer di dunia gim, Shangri-La Frontier).

Rakurou Hizutome atau Sunraku, protagonis SHANGRI-LA FRONTIER memang jago tapi diperlihatkan juga dia tidak bisa memakai armor hingga terkena serangan sekali saja sudah fatal. Hal demikian belum ada di TOMB RAIDER KING. Karakter Jooheon terkesan power fantasy untuk para pembaca merasa strong dan kurang memiliki kedalaman lain supaya audiens bisa relate, malahan dia kadang terasa angkuh menyebalkan.

Bila ingin sekedar melihat protagonis doing cool, strong, smart stuff dibumbui misteri dan petualangan, dan diakhiri dengan mendapat harta yang bisa bikin lebih cool, strong, smart lagi, TOMB RAIDER KING mungkin bisa jadi pilihan.

Review Tomb Raider King Eps.1 2

Review Tomb Raider King Eps.1 2

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 2: Otak Di Atas Otot, Kemenangan Strategi Tanpa Cheat!

Published

on

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

www.gwigwi.com – Banyak anime fantasi memulai cerita dengan tokoh utama yang dibuang karena dianggap tidak berguna. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System mengambil pendekatan yang sedikit berbeda. Masalah Elymas bukan karena ia lemah, melainkan karena semua orang terlalu cepat menyimpulkan nilai seseorang hanya dari label kelas yang ia terima. Gelar Heavy Knight dianggap sebagai jalan buntu, sementara Swordmaster diperlakukan seperti satu-satunya masa depan yang layak. Keputusan ayahnya mengusir Elymas dan mengangkat adik tirinya dari cabang keluarga sebagai pewaris terasa lebih sebagai cerminan obsesi terhadap status daripada keputusan yang benar-benar rasional.

Yang menarik, Elymas tidak menghabiskan waktunya untuk meratapi nasib atau berteriak ingin balas dendam. Ia justru melihat pengasingan itu sebagai kesempatan memulai hidup tanpa ekspektasi keluarganya. Berbekal pengetahuan tentang mekanisme dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah membaca seluruh buku panduan, setiap keputusan yang diambil terasa penuh perhitungan. Kekuatan utama anime ini bukan aksi besar pada dua episode pertama, melainkan kepuasan melihat seseorang perlahan membalikkan stigma dengan logika, pengalaman, dan strategi.

Dari sisi produksi, GoHands kembali mempertahankan identitas visualnya. Desain karakter terlihat bersih dengan pencahayaan yang kaya, sementara latar memiliki detail yang membuat dunia fantasinya terasa hidup. Sayangnya, gaya penyutradaraan mereka masih sulit diabaikan. Kamera terus bergerak, melakukan panning, zoom in, dan zoom out bahkan ketika adegannya hanya percakapan sederhana. Ada momen ketika pergerakan kamera justru lebih aktif daripada karakter yang sedang berbicara. Bagi sebagian penonton ini menjadi ciri khas, tetapi bagi yang lain justru terasa mengalihkan perhatian dari cerita.

Dua episode pembuka ini belum menawarkan kejutan besar, tetapi berhasil menanam rasa penasaran. Anime ini tidak mencoba meyakinkan penonton bahwa Heavy Knight adalah kelas terkuat. Sebaliknya, ia mengajak penonton mempertanyakan apakah sebuah sistem benar-benar salah, atau manusianya saja yang terlalu cepat memberi cap pada sesuatu yang belum dipahami. Pendekatan tersebut membuat perjalanan Elymas terasa lebih menarik daripada sekadar kisah “tokoh yang diremehkan lalu menjadi overpowered.”

Nilai: 8,5/10. Premisnya memang familier, tetapi cara membangun karakter utama dan tema tentang prasangka terhadap potensi seseorang membuat serial ini memiliki identitas yang cukup kuat. Jika GoHands sedikit mengurangi “kamera yang hiperaktif”, pengalaman menontonnya akan terasa jauh lebih nyaman.

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

Continue Reading

Serial Anime

Review Clevatess Season 2 Episode 1: Misi Rahasia Klen dan Alicia Dimulai, Visual Makin Manjakan Mata!

Published

on

By

Review Anime Clevates S2 Episode 1

www.gwigwi.com – Setelah season sebelumnya Klen melawan Dorel, Clevatess Season 2 Episode 1 memilih memulai babak baru dengan pendekatan yang lebih tenang, tetapi tetap menarik. Alih-alih langsung menyajikan aksi tanpa henti, episode ini membangun fondasi cerita baru ketika Klen dan Alicia mendapat misi menyusup ke Akademi Sihir Solsein. Tujuan mereka bukan sekadar menyamar sebagai murid, melainkan mengungkap rahasia di balik bagaimana Dorel mampu memperoleh dan menguasai sihir terlarang yang hampir mengubah keseimbangan dunia. Premis ini membuat arah cerita terasa segar karena beralih dari perang terbuka menjadi penyelidikan penuh intrik.

Hal yang paling mencuri perhatian adalah peningkatan kualitas presentasi visualnya. Studio Lay-duce mempertahankan identitas fantasi gelap khas musim pertama, tetapi kini menghadirkan animasi yang terasa lebih halus. Latar Akademi Solsein dibuat sangat detail, mulai dari bangunan megah, ruang kelas sihir, hingga efek mantra yang memancarkan nuansa magis tanpa terlihat berlebihan. Permainan warna yang sedikit bernuansa retro justru memperkuat atmosfer dunia fantasi klasik yang menjadi ciri khas serial ini.

Episode ini juga memperkenalkan cukup banyak karakter baru. Para siswa, guru, hingga sosok misterius di akademi mulai bermunculan dengan kepribadian yang berbeda-beda. Meski sebagian masih tampil singkat, kehadiran mereka membuat Solsein terasa sebagai dunia yang benar-benar hidup, bukan sekadar latar sementara. Kehadiran karakter seperti Ray Forester juga memberikan tanda bahwa penyelidikan Klen dan Alicia akan berkembang menjadi konflik yang jauh lebih besar daripada sekadar mencari peninggalan Dorel.

Yang tetap menjadi kekuatan utama serial ini adalah interaksi antara Klen dan Alicia. Hubungan keduanya masih dipenuhi percakapan yang menghibur, dengan Alicia yang sering dibuat frustrasi oleh keputusan Klen yang sulit ditebak, sementara Klen tetap tenang karena selalu memiliki tujuan di balik setiap tindakannya. Chemistry mereka membuat episode yang sebagian besar berisi pengenalan dunia baru tetap terasa hidup dan tidak membosankan.

Sebagai pembuka musim kedua, episode ini memang lebih berfokus membangun misteri dibanding menyajikan pertarungan spektakuler. Namun justru itulah daya tariknya. Penonton diajak memasuki lingkungan baru yang penuh rahasia, konspirasi, dan eksperimen sihir yang belum sepenuhnya terungkap. Jika episode-episode berikutnya mampu memanfaatkan seluruh karakter baru dan misteri Solsein dengan baik, musim kedua berpotensi melampaui pendahulunya.

Nilai: 9/10. Episode pembuka yang kuat dengan kualitas animasi yang semakin matang, dunia yang semakin luas, dan misteri baru yang cukup efektif membangkitkan rasa penasaran untuk mengikuti petualangan Klen dan Alicia selanjutnya.

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending