TV & Movies
61% Pengguna Internet Terpapar Promosi Pembajakan, Industri Desak Platform Bertindak
Badan Perfilman Indonesia (BPI), Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI), dan Asosiasi Video Streaming Indonesia (AVISI) bersama Universitas Pelita Harapan (UPH) meluncurkan laporan “Pembajakan Digital Indonesia 2026: Jalur Penemuan, Risiko yang Dilaporkan Konsumen, dan Verifikasi Fasilitasi Akses” di Bioskop XXI Plaza Indonesia, Jakarta, dengan pesan “Lindungi karya dan konsumen sejak pintu masuk pembajakan”.
Laporan Oktober 2026 ini mencatat empat temuan dalam sampel 1.001 responden melalui survei daring non probabilistik dari 32 provinsi.:
- Konsumsi konten bajakan: 69,63% responden melaporkan akses konten bajakan dalam tiga bulan terakhir.
- Promosi pembajakan: 61,14% menjumpai promosi pembajakan setidaknya dua hingga tiga kali seminggu dalam tiga bulan terakhir.
- Klik iklan menuju pembajakan: 54,65% pernah mengklik iklan menuju konten, situs, aplikasi, atau penawaran perangkat bajakan.
- Kerugian terkait pembajakan: 1 dari 5 responden melaporkan kerugian finansial yang mereka kaitkan dengan akses pembajakan.
Terkait kanal promosi, TikTok paling banyak disebut responden dalam tabel hasil survei (38,26%), disusul Facebook (32,97%) dan Instagram (32,67%), sebagai tempat menjumpai promosi akses pembajakan.
Mewakili BPI, APROFI, dan AVISI, Fauzan Zidni, Ketua Umum BPI, menyatakan: “Sebanyak 61,14% responden menjumpai promosi pembajakan setidaknya dua hingga tiga kali seminggu. kami menghimbau platform mencegah promosi tersebut untuk menjaga penghidupan pekerja kreatif, investasi produser, dan keberlanjutan streaming legal. Kami siap mendukung dengan bukti pemegang hak dan koordinasi pelaporan.”
Riset mengusulkan fasilitasi pemerintah sesuai kewenangan. Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) dapat memberi arahan atas dasar hak cipta dan bukti hak atau kuasa. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dapat memfasilitasi dialog dengan platform serta jalur pelaporan. Kementerian Ekonomi Kreatif (EKRAF) diusulkan memfasilitasi partisipasi industri dan edukasi konsumsi legal. Kontribusi serta tindak lanjut perlu disepakati bersama.
Agung Damarsasongko, Direktur Hak Cipta dan Desain Industri, DJKI, menyampaikan: “Temuan ini menjadi pengingat untuk memperkuat edukasi hak cipta agar masyarakat lebih mampu mengenali promosi pembajakan dan memilih tontonan legal. Kami mengimbau pelaku industri dan platform digital bersama-sama mengedukasi masyarakat bahwa menonton melalui layanan legal merupakan bentuk penghargaan terhadap pencipta dan dukungan bagi keberlanjutan karya Indonesia.”
Cecep Rukendi, Deputi Bidang Kreativitas Media, EKRAF, menegaskan: “Akses pembajakan yang dilaporkan 69,63% responden dalam tiga bulan terakhir mengingatkan pentingnya melindungi karya Indonesia. Perlindungan karya mendukung pembiayaan produksi berikutnya dan keberlanjutan pekerjaan kreatif, disertai edukasi yang membantu penonton menemukan layanan legal.”
Rekomendasi utama riset adalah agar platform “menolak iklan yang mempromosikan akses pembajakan. Untuk iklan berbayar, pemeriksaan mencakup materi dan tujuan tautan sebelum penayangan. Untuk promosi organik, platform diharapkan menghentikan materi yang terverifikasi melanggar hak cipta dan mencegah kemunculan ulang. Kanal pelaporan dan komunikasi status, disertai mekanisme keberatan serta koreksi, mendukung ketepatan penanganan.
BPI dapat menyiapkan narahubung bersama serta menghimpun bukti pemegang hak: identitas karya, hak atau kuasa, URL, materi dugaan pelanggaran, waktu temuan, tangkapan layar, dan rantai akses bila relevan.
Gracia Ugut, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPH, menutup: “Sebanyak 91,31% responden dalam sampel setuju atau sangat setuju agar platform menghapus atau membatasi iklan promosi akses pembajakan. Dukungan ini menjadi dasar dialog bersama. UPH mengajak pemerintah, industri, dan platform memperkuat pencegahan untuk melindungi karya dan konsumen sejak pintu masuk pembajakan.”
Live Action
Film Live-Action Naruto Resmi Mendapat Lampu Hijau, Syuting Dimulai 2027
Setelah 11 tahun sejak pertama kali diumumkan, proyek film live-action Naruto akhirnya menunjukkan perkembangan besar. Lionsgate resmi memberikan lampu hijau untuk adaptasi manga karya Masashi Kishimoto tersebut, dengan Sony Pictures bergabung sebagai mitra pendanaan bersama sekaligus distributor internasional.
Lionsgate akan tetap menangani pengembangan dan produksi film, serta mengelola distribusinya di wilayah domestik. Proses syuting dijadwalkan dimulai pada musim semi 2027.
Destin Daniel Cretton Jadi Sutradara dan Penulis
Film ini akan disutradarai oleh Destin Daniel Cretton, yang dikenal melalui Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings serta film Spider-Man: Brand New Day. Cretton juga akan menulis dan memproduseri adaptasi ini bersama Jeyun Munford melalui perusahaan produksi mereka, Hisako.
Sebelumnya, Cretton telah mengungkapkan antusiasmenya untuk membawa manga populer karya Kishimoto ke layar lebar. Dalam pernyataan yang dilaporkan The Hollywood Reporter, ia juga menyebut dirinya sebagai penggemar lama Naruto.
Kisah Naruto Uzumaki Akan Diadaptasi ke Film
Manga Naruto mengikuti perjalanan Naruto Uzumaki, seorang ninja muda yang dijauhi penduduk desanya karena memiliki siluman Rubah Ekor Sembilan yang disegel di dalam tubuhnya.
Meski menghadapi penolakan, Naruto tetap bertekad menjadi Hokage, ninja terkuat sekaligus pemimpin desa. Manga ini pertama kali diterbitkan melalui Weekly Shonen Jump pada 1999 dan telah terjual lebih dari 250 juta kopi di lebih dari 60 negara dan wilayah.
Popularitasnya juga melahirkan adaptasi anime yang menjangkau penonton di lebih dari 145 negara.
Jadwal Rilis dan Pemeran Masih Dirahasiakan
Meski telah mendapat lampu hijau dan jadwal syuting, film live-action Naruto masih belum memiliki tanggal rilis resmi. Detail mengenai jajaran pemeran maupun jalan cerita adaptasinya juga belum diumumkan.
Perkembangan terbaru ini menjadi kabar menggembirakan bagi penggemar, mengingat proyek tersebut telah dikembangkan sejak 2015 dan sempat mengalami pergantian sutradara maupun penulis skenario. Kini, film tersebut akhirnya semakin dekat menuju tahap produksi.
TV & Movies
Netflix Garap Serial Live-Action PUBG, Donald Glover Jadi Sutradara dan Pemeran Utama
Netflix tengah mengembangkan serial live-action berdasarkan PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG), game battle royale populer besutan KRAFTON. Menurut laporan Variety, proyek ini akan melibatkan Donald Glover sebagai sutradara, penulis, produser eksekutif, sekaligus pemeran utama.
Donald Glover dikenal melalui serial Atlanta dan Community. Ia juga merupakan pemenang dua penghargaan Emmy dan Golden Globe. Sang adik sekaligus kolaboratornya, Stephen Glover, turut bergabung sebagai penulis dan produser eksekutif.
Tim Produksi Libatkan KRAFTON
Selain kedua Glover bersaudara, serial ini akan diproduseri oleh Michael Schaefer dari NEON TV, Fam Udeorji dari Gilga, serta Taeseok Jang dan Sujin Lee dari LV3H. LV3H merupakan anak perusahaan KRAFTON yang berfokus pada industri hiburan.
Donald dan Stephen sebelumnya bekerja sama dalam serial Atlanta, yang dibuat dan dibintangi Donald. Stephen turut menulis serta menjadi produser eksekutif selama empat musim serial tersebut.
PUBG Diadaptasi Menjadi Serial Live-Action
KRAFTON pertama kali merilis PUBG pada 2017. Berbeda dari game dengan cerita utama yang terstruktur, PUBG berfokus pada pertarungan bertahan hidup. Sejumlah pemain diterjunkan ke salah satu peta yang dipenuhi senjata, kendaraan, dan berbagai perlengkapan untuk saling mengalahkan hingga tersisa satu pemenang.
Hampir sepuluh tahun sejak peluncurannya, PUBG masih menjadi salah satu game paling populer di dunia. Game tersebut mencatat sejumlah rekor Guinness World Records saat dirilis dan hingga kini masih menarik ratusan ribu pemain aktif setiap harinya.
Meski proyek serialnya telah memasuki tahap pengembangan, detail cerita dan jadwal tayangnya masih dirahasiakan. Belum diketahui bagaimana Netflix dan tim produksi akan mengadaptasi konsep battle royale PUBG menjadi narasi serial live-action.
TV & Movies
Review Film Hungry, Film Yang Kurang Gory
Tahukah Gwiple? Kuda nil secara statistik merupakan salah satu mamalia darat paling mematikan di dunia bagi manusia. Meskipun penampilannya tampak jinak dan menggemaskan, namun hewan teritorial nan agresif ini diperkirakan bertanggung jawab atas kematian sekitar 500 hingga 1.000 jiwa setiap tahunnya di benua Afrika—jauh melampaui jumlah korban gabungan dari serangan hiu dan singa.
Ancaman nyata inilah yang diangkat dalam film horor-survival Hungry (2026) yang disutradarai dan ditulis oleh James Nunn. Film ini menceritakan sekelompok wisatawan yang berniat menikmati tur rawa-rawa di wilayah Louisiana, Amerika Serikat. Sial bagi mereka, alih-alih menemukan aligator, kelompok ini justru terdampar di area terisolasi dan menjadi buruan seekor kuda nil raksasa yang sangat agresif akibat lepas di ekosistem rawa tersebut. Karakter utama film ini berfokus pada Sistine (diperankan Madison Davenport) bersama turis lain seperti Walker (Joaquim de Almeida), Dionne (Tracey Bonner), , Sally (Samantha Coughlan), dan Hannah (Olivia Bernstone). Saat perahu yang dikendarai oleh tur guide Rodrigo (Michel Curiel) tiba-tiba terbalik karena diserang oleh kuda nil, para penyintas awal ini dipaksa berjuang meloloskan diri dari terkaman raksasa berbobot tonan di tengah medan rawa yang kian menyempit.

Review Film Hungry, Film Yang Kurang Gory
Apakah Sistine dan rombongannya sanggup selamat dari cengkeraman raksasa teritorial tersebut dan menemukan jalan keluar dari rawa mematikan? Gwiple dapat mengetahui jawabannya di bioskop kesayangan. Oya, sutradara James Nunn merancang skenario film ini terinspirasi dari fakta sejarah nyata tentang American Hippo Bill tahun 1910, yaitu wacana legendaris pemerintah AS yang pernah berencana mengimpor kuda nil ke rawa Louisiana demi mengatasi krisis daging sapi nasional.
Pada paruh awal cerita, Hungry sebenarnya tampil sangat menjanjikan. Dinamika antar karakter dibangun dengan cukup solid, memperlihatkan kelompok manusia yang secara rasional berupaya bekerja sama, saling bahu-membahu, dan menyusun strategi matang di tengah krisis yang mengepung mereka. Sayangnya, masuk pertengahan film, potensi tersebut perlahan menguap akibat munculnya berbagai kekonyolan yang tidak penting, keputusan-keputusan karakter yang mendadak tidak logis, serta porsi drama bernuansa komikal yang merusak ketegangan. Ditambah lagi, eksekusi visual dan pergerakan kuda nil yang dihadirkan kurang memberikan ancaman kengerian yang meyakinkan—terkadang membuat sosok sang monster tampak canggung alih-alih menakutkan. Meskipun adegan serangan yang dihadirkan tetap dibuat agak mengerikan, atmosfer terornya sering kali buyar akibat ritme narasi yang inkonsisten.

Review Film Hungry, Film Yang Kurang Gory
Hungry memang merupakan film survival monster yang unik dari segi konsep, di mana penonton Gwiple diajak melihat eksperimen ide segar menjadikan kuda nil sebagai antagonis utama, meski harus memaklumi beberapa deretan kekonyolan yang hadir di tengah perjuangan berdarah para karakternya.
-
TV & Movies4 weeks agoBonus Stage Street Fighter di Indonesia Comic Con 2026: Smash The Car!
-
TV & Movies4 weeks agoREVIEW FILM CRAWLERS, JANGAN BUKA MULUT SAAT TIDUR
-
TV & Movies4 weeks agoReview Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting unjuk Gigi
-
Smartphone4 weeks agoOPPO Resmi Perkenalkan ColorOS 17 Secara Global: Silky Smooth. Flow with AI
-
Berita Anime & Manga2 weeks agoMushoku Tensei Season 3 Cour 2 Diumumkan, Tayang pada 2027
-
TV & Movies3 weeks agoReview Film Whalefall, Daddy Issue Yang Berujung Fatal
-
Berita Anime & Manga2 weeks agoFrom Old Country Bumpkin to Master Swordsman Season 3 Resmi Diumumkan
-
Berita Anime & Manga2 weeks agoThe Apothecary Diaries Movie Ungkap Trailer Baru, Lagu Tema dari Kenshi Yonezu




