Connect with us

Box Office

Mjolnir hancur pada video trailer terbaru Thor: Ragnarok

Published

on

GwiGwi.com – Marvel Studios membuat sebuah kejutan di awal minggu ini dengan merilis sebuah trailer (teaser) dari film ketiga pahlawan Asgard, Thor: Ragnarok. Teaser yang lebih mirip sebuah trailer ini memberikan gambaran dengan porsi yang cukup kepada penggemar mengenai apa yang akan dihadirkan dalam filmnya kelak.

Tema kehancuran dan ancaman terhadap alam semesta sepertinya masih menjadi pakem yang diambil oleh pihak Marvel dan sang sutradara Taika Waititi. Klip promo ini dibuka dengan pertemuan Thor dengan sang villain Hela yang tervisualisasikan dengan sangat keren oleh Cate Blancchett. akibat dari pertempuran dengan Hela, Mjolnir atau senjata palu sakti Thor hancur dan kemudian sang superhero ditangkap dan dibuang ke sebuah planet asing. Ia kemudian di paksa untuk bertarung sebagai seorang gladiator dengan “wajah” barunya. Lawan pertamanya adalah rekannya di Avengers, Hulk berpakaian lengkap a-la gladiator.

Dari apa yang ditampilkan dalam trailer atau teaser ini, film Thor: Ragnarok sepertinya lebih “berani” dan tampil lebih sangar melebihi dua film pertamanya. Sepertinya film ini akan lebih “besar”, lebih berwarna dan sudah tentu lebih lucu. Promo ini semakin menguatkan bahwa film ini menjadi salah satu film yang layak untuk ditunggu kehadirannya pada tanggal 3 November tahun ini.

Baca Juga:  Review Film The Nightshifter, Berbincang dengan Orang Mati di Kamar Mayat

Thor: Ragnarok akan dibintangi oleh Chris Hemsworth sebagai Thor, Tom Hiddleston sebagai Loki, Jamie Alexander sebagai Sif, serta Anthony Hopkins sebagai Odin dan Cate Blanchett (Blue Jasmine, Cinderella) akan memerankan karakter villain bernama Hela, bersama dengan Jeff Goldblum (Jurassic Park, Independence Day: Resurgence) yang akan berperan sebagai Grandmaster. Kemudian kehadiran Tessa Thompson (Creed, Selma) sebagai Valkyrie dan Karl Urban (Star Trek, The Lord of the Rings: Return of the King) yang akan berperan sebagai Skurge juga di konfirmasi oleh pihak Marvel Studios serta Mark Ruffalo sebagai Bruce Banner/The Hulk yang juga akan tampil. Dan satu aktor lagi yang sudah dipastikan terlibat yaitu, Benedict Cumberbatch sebagai Doctor Strange.

Chief dan editor, suka nonton anime mainstream yang ga ribet, mulai mendalami yang namanya cameco (cameramen cosplay)

Box Office

Review Film Hustlers, kisah para stripper yang ingin survive di tengah krisis ekonomi global

Published

on

GwiGwi.com – Dorothy (Constance Wu) yang punya nama panggung Destiny di club striptease Moves, bekerja sebagai stripper untuk menghidupi nenek nya. Namun karena ia masih terbilang baru di tempatnya dan potongan gaji yang cukup besar karena “jatah preman” nya banyak, Ia ingin melakukan kinerja yang lebih baik.

Kemudian ia bertemu dengan Ramona Vega (Jennifer Lopez) yang merupakan bintang di Moves dan ia mengajari Destiny untuk bagaimana menarik pelanggan dan mendapatkan uang tip yang banyak.

Destiny pun berhasil melakukan performa terbaiknya dan mendapatkan gaji yang cukup besar, beserta uang tip yang banyak berkat apa yang diajarkan oleh Ramona. Karena Moves merupakan tempat nya para pebisnis dan pemegang saham di Wall Street untuk melepas penat. Namun semua berubah ketika krisis ekonomi di Amerika Serikat melanda di tahun 2008.

Lantas bisnis di club striptease Moves pun juga kena imbasnya, pola bisnis nya pun berubah agar club striptease ini tidak bangkrut. Kemudian Ramona dan Destiny memiliki sebuah rencana agar tetap mendapatkan para pelanggan dan mereka masih bisa hidup senang di tengah krisis ekonomi yang melanda.

Film ini berdasarkan kejadian nyata dari artikel di New York’s Magazine “The Hustlers at Scores” yang ditulis oleh Jessica Pressler pada tahun 2015. Filmnya sendiri sukses mendapatkan review positif dari para kritikus ketika penayangan perdana di Toronto International Film Festival (TIFF) 2019.

Film yang dibintangi oleh Constance Wu, Jennifer Lopez, Julia Stiles, Cardi B, Lili Reinhart, Lizzo, dan Kiki Palmer ini bisa dibilang ini merupakan sebuah suguhan genre drama thriller yang menarik perhatian tahun ini. Karena mengangkat isu bisnis strip club untuk bisa survive ditengah krisis ekonomi yang melanda di tahun 2008 yang memberikan imbas di beberapa sektor.

Baca Juga:  Review Film Joker, Menyelami Pikiran Sang Badut

Constance Wu dan Jennifer Lopez mencuri perhatian lewat performa nya di film ini, namun sangat disayangkan beberapa cast lain hanya tampil sebagai pemanis saja di film ini.

Dari segi cerita, mereka tidak terlalu bertele-tele karena langsung to the point namun tetap berbobot dan berhasil menyampaikan pesan yang ingin disampaikan lewat film ini. Dengan alur maju mundur namun tidak membuat penonton bingung. Dengan menyajikan adegan si penulis artikel yang mewawancarai Destiny dan Ramona meyakinkan para penonton bahwa kejadian di film ini terlihat nyata.

Film ini dilarang tayang di negeri Jiran karena “excessive obscene content” menurut lembaga sensor di negara Malaysia Malaysian Film Censorship Board. Namun film ini tayang di Indonesia dengan sensor yang sangat hati-hati agar tidak merusak cerita di film ini. Total 6 menit adegan yang di cut. Sementara untuk naked scene nya sendiri hanya di blur saja dan memberikan rating film ini untuk 21 tahun keatas.

Menurut gue, Lembaga sensor film berhasil membuat sensor yang ideal buat film ini. Mereka tahu mana adegan yang semesti nya di potong dan mana yang tidak agar tidak merusak cerita lewat suatu film. Well, good job.

Secara keseluruhan, film Hustlers yang akhirnya tayang di Indonesia merupakan sajian menarik yang bisa menjadi pilihan untuk kalian yang ingin menonton film di bulan ini. Film dengan cerita menarik ditambah performa cast yang baik sangat sayang jika kalian lewatkan.

Continue Reading

Box Office

Review Film Gemini Man, Aksi Seru Melawan Diri Sendiri

Published

on

GwiGwi.comGemini Man merupakan film kolaborasi Jerry Bruckheimer dengan Ang Lee yang menceritakan agen top DIA (Defense Intelligence Agency), Henry (Will Smith) yang ingin pensiun karena sudah lelah dan mempertanyakan nuraninya atas banyaknya pembunuhan yang sudah ia lakukan demi kepentingan biro tempat ia bekerja. Atasannya, Janet (Linda Emond) dan bekas atasan Henry, Clay (Clive Owen) yang sekarang membentuk perusahaan pengamanan, Gemini ingin melenyapkan Henry yang dianggap terlalu tahu banyak tentang rahasia DIA. Beberapa kali DIA mengirimkan unit pembunuh namun semuanya berhasil dikalahkan oleh Henry yang dibantu Danny (Mary Elizabeth Winstead), agen DIA yang terjebak dalam usaha pembunuhan tersebut dan juga dibantu oleh Baron (Benedict Wong), mantan rekan Henry.

Clay akhirnya memutuskan mengirimkan pembunuh andalannya, Junior yang merupakan hasil klon Henry. Henry mencoba mengajak Junior kembali ke jalan yang benar karena ia tidak ingin Junior yang dianggap seperti keturunannya tidak terlibat dalam dunia pembunuhan. Dari sekilas sinopsis diatas seharusnya banyak orang sudah bisa menebak jalan ceritanya dan bagaimana akhirnya nanti. Selain plot yang mudah ditebak, film ini penuh dengan dialog yang kaku dan jokes yang garing. Selama menonton tidak bisa merasakan ikatan emosi antar karakternya bahkan antara Henry dengan Junior yang dua-duanya diperankan oleh Will Smith terasa awkward selama berinteraksi.

Baca Juga:  Review Film City Hunter : Shinjuku Private Eyes, Ryo Saeba is Back!

Action scene nya juga terasa nanggung walau koreografi fighting-nya top; masih terkait dengan itu, adegan tembak-tembakan terasa seperti menonton simulasi game aksi macam Call of Duty atau Counter Strike namun kurang terasa intens. Yang menonjol dari film ini adalah kualitas gambarnya menggunakan teknologi 3D+ dengan 60fps yang menampilkan resolusi 4K; untuk itu shooting film ini dilakukan di Cartagena, Kolombia yang penuh bangunan-bangunan berwarna-warni serta di Budapest yang penuh bangunan elegan dan bersejarah.

Opini saya pribadi, dengan mengumumkan bahwa Will Smith berperan sebagai dua karakter (Henry dan klonnya) di film ini adalah sebuah kesalahan besar karena sudah ada di film the 6th Day (Arnold Schwazenegger) yang memiliki tema serupa dimana karakter asli dan klonnya bekerja sama mengalahkan pembuatnya yang tamak sehingga seperti yang sudah disebutkan di atas yaitu plot filmnya tertebak.

Continue Reading

Box Office

Review Film Joker, Menyelami Pikiran Sang Badut

Published

on

GwiGwi.com – Joker (2019) merupakan karya yang mengagumkan, namun bukan berarti mahakarya yang tanpa cela. Ada beberapa kekurangan baik dari plottingnya yang rasanya terlalu nyaman dan kebetulan, juga membuat pernyataan soal pengaruh lingkungan sosial pada manusia yang ujungnya seolah dibantah sendiri. Kesan dingin nihilis yang kuat bisa membuat orang salah kaprah menelaah film ini, namun pada akhirnya, sepertinya  yang sutradara Todd Phillips mau capai adalah eksplorasi dari gelapnya pikiran sang tokoh utama.

Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) ingin membuat orang tersenyum. Apa daya masyarakat Gotham dan tekanan hidup lain gemar merundungnya. Tempat nyaman untuknya hanyalah sang ibu, Penny Fleck (Frances Conroy), tetangganya Sophie Dumond (Zazie Beets) dan impiannya untuk bertemu si idola, komedian Murray Franklin (Robert Deniro). Semua mulai berubah begitu apa yang dia percaya dan perjuangkan selama ini hancur. Arthur mencari pelipur lara dengan berserah pada dorongan tergelap pribadinya yang akan membawa kehancuran ke sekitarnya dan tawa untuk dirinya.

Alarm bahaya yang digaungkan oleh banyak orang dan menjadi kontroversi dari Joker (2019) adalah glorifikasi dari penderita sakit jiwa pelaku aksi kriminal yang takutnya bisa menginspirasi kejahatan di dunia nyata. Saya tidak akan bilang kalau ketakutan itu tanpa dasar, tapi yang pembuat film lakukan dengan menunjukkan apa yang membuat Arthur jatuh dan penderitaan orang lain akibat perbuatannya rasanya cukup efektif untuk menangkal tudingan itu. Apalagi endingnya menegaskan kalau pada akhirnya semua kembali pada esensi karakternya, seperti Joker-nya Heath Ledger di The Dark Knight, yaitu orang yang menyukai kekacauan. Tulen plek.

Untuk ukuran yang tidak terlalu mengikuti materialnya seperti yang diakui sutradara Todd Phillips, saya terkejut bagaimana loyalnya penggambaran Joker di sini. Mencampurkan daya tarik Joker yang sudah berkembang di berbagai media selama puluhan tahun; selera komedinya yang gelap nan sadis, abainya dia dengan orang yang takut dengan aksinya, pistol revolver khasnya, tariannya yang seolah menganggap aksinya adalah teatrikal dan uniknya, sisi menyedihkannya dari gaya dia lari yang mirip tokoh kartun jaman dulu. Menciptakan persona unik yang jahat tulen tapi payah yang seolah anda sendiri pun bisa menjatuhkan dia sekali pukul dan dia tertawa nikmati itu yang bisa bikin ngeri. Endingnya mempunyai sesuatu yang sangat mengejutkan dan merangkum dengan mantap siapa Joker itu; kejam, samar, tak stabil dan komikal.

Baca Juga:  Review Film Rambo : Last Blood, Aksi Jagoan Perang di Usia Senja

Buat yang berharap kalau film ini adalah aksi superhero dengan banyak atraksi, Joker adalah murni film crime thriller drama layaknya film-film Martin Scorsese dulu dan pastinya bukan buat anak-anak. Tulen. Alurnya di awal agak lambat, langkah demi langkahnya jadi Joker butuh waktu. Sulit terbiasa kalau anda langsung berharap dia menggila di awal. Sayang plottingnya soal dia di”hancurkan” oleh sekelilingnya secara bertahap kadang terasa repetitif. Seolah ingin sebanyak mungkin buat Arthur terjembab di awal namun caranya kurang istimewa. Endingnya (saya sering sebut endingnya ini karena benar multifungsi) mencoba menjustifikasi itu tapi kesannya terlalu liar.

Joaquin Phoenix mempunyai pekerjaan yang lebih berat dari Heath Ledger atau Jack Nicholson karena tak hanya menjadi kriminal sakit jiwa, dia juga harus memunculkan kemanusian Arthur. Dari kepolosannya dan penderitaannya sakit ketawa tak tertahankan. Seolah sisi Joker-nya ingin keluar sejak lama dari cangkang tubuhnya, di mana Arthur sekuat tenaga menahan itu. Di sebagian besar durasi dia berhasil bermain apik, di momen-momen tertentu Phoenix amat brilian, sangat menyeramkan, tapi ada juga saat-saat yang saya maklum kalau dianggap sedikit berlebihan.

Dari film Batman-nya Tim Burton, dimasukkan elemen Gothic art style yang sampai sekarang muncul di adaptasi Batman seperti game misalnya. Joker seperti menggunakan gaya brutalist dalam pendekatannya soal arsitektur settingnya. Rumah sakit, gedung, terowongan dibuat beton, tanpa hiasan, dan berukuran besar. Banyak di shot dengan low angle membuatnya terkesan raksasa secara dingin membuat Arthur yang berjalan di bawahnya terhimpit dan tak berarti. Saya menduga akan terjadi polarisasi pendapat soal Joker ini. Baik itu sisi kontroversialnya atau secara olahan fiksinya sendiri. Sangat sulit untuk tidak menyeleneh atau memuaskan semua kalangan mengingat karakternya sendiri rentan dipermasalahkan. Jika anda memang suka hal yang berbau superhero dan psikopat, sayang kalau tidak ikut membicarakannya dan melewatkan film ini di bioskop begitu saja.

Continue Reading
Advertisement SEACA 2019
Advertisement SGCC 2019
Advertisement DICARI REPORTER
Advertisement

GwiGwi Space

GWIDEV

Trending