Connect with us

TV & Movies

Menuju Premiere, Film Live-Action THE PROMISED NEVERLAND Rilis Foto Still Hi-Res

Published

on

GwiGwi.com –  Toho Co., Ltd. dan Pony Canyon merilis foto resolusi tinggi dari The Promised Neverland (約束 の ネ バ ー ラ ン ド, Yakusoku no Nebārando). Film live-action yang mengisahkan tentang pembobolan penjara yang sangat menegangkan ini merupakan adaptasi live-action dari manga dengan judul yang sama oleh penulis Kaiu Shirai dan artis Posuka Demizu yang telah berseri di majalah Weekly Shonen Jump sejak Agustus 2016. Sebuah adaptasi serial televisi anime berlangsung dari Januari hingga Maret 2019, dengan musim kedua diatur untuk tayang perdana pada Januari 2021.

“Anak-anak yang dibesarkan dengan bahagia di panti asuhan sebenarnya dibesarkan sebagai makanan untuk dipersembahkan kepada setan.” Karya dengan premis yang mengejutkan ini telah menerima Top 1 Pembaca Pria di Kono Manga ga Sugoi! (Manga Ini Luar Biasa!) (Takarajimasha, Inc.), Penghargaan Manga Shogakukan ke-63 (kategori Anak Laki-laki), Penghargaan Manga Shimbun (Koran Manga) 2017 di antara penghargaan domestik lainnya, di atas berbagai penghargaan manga lainnya dari luar negeri termasuk dari Perancis dan Korea Selatan. The Promised Neverland (juga dikenal sebagai “Yaku-Neba” untuk singkatan) bertentangan dengan harapan konvensional Melompat komik, tetapi menarik hati pembaca dengan penggambarannya tentang anak laki-laki dan perempuan yang bekerja bersama untuk mengatasi situasi yang sangat merugikan, dan tumbuh menjadi hit yang luar biasa besar.

The Promised Neverland tayang di bioskop Jepang Jumat ini, 18 Desember.

Sinopsis

Grace Field House adalah panti asuhan paradisiak yang penuh dengan kebahagiaan. Anak-anak yatim piatu yang tinggal di sana dengan “Ibu” mereka, pengasuhnya, Isabella (Keiko Kitagawa), semua menantikan hari ketika mereka tumbuh cukup dewasa untuk diadopsi. Emma (Minami Hamabe), Ray (Kairi Jyo) dan Norman (Rihito Itagaki) juga percaya bahwa mereka bisa menjalani hidup yang lebih bahagia setelah mereka bisa hidup di dunia luar… hanya sampai “hari itu”.

Setelah Emma dan Norman melihat Conny pergi, yang dengan tersenyum meninggalkan panti asuhan untuk diadopsi, mereka menemukan boneka yang selalu disimpan Conny di pelukannya yang ditinggalkan di ruang makan rumah. Untuk membawa boneka itu kembali ke Conny, keduanya menuju ke “gerbang” yang Isabella dengan ketat telah mengajari anak-anak untuk menjauh, di mana mereka menemukan Conny tewas dan siap untuk dikirim keluar sebagai “makanan”. Panti asuhan yang menurut anak-anak sangat indah, sebenarnya adalah sebuah “pertanian” untuk menumbuhkan anak-anak yang dapat dimakan untuk dipersembahkan kepada setan. Lebih jauh lagi, “Ibu” yang mereka cintai semua seperti ibu mereka sebenarnya adalah seorang “penggarap” yang berperan membesarkan anak-anak menjadi pakan premium.

Mengetahui bahwa semuanya hanyalah fantasi, Emma, ​​Ray, dan Norman memulai upaya sembrono mereka untuk keluar dari Grace Filed House bersama dengan saudara mereka yang lain.

Sumber: (1)

Advertisement

TV & Movies

Review Film Siksa Kubur, Baiknya dipercepat siksaannya

Published

on

Review Film Siksa Kubur, Baiknya Dipercepat Siksaannya

www.gwigwi.com – Belum lama kontroversi marketing KIBLAT (2024) yang seakan merendahkan nilai-nilai ikon Islam, hadir karya terbaru Joko Anwar berjudul SIKSA KUBUR (2024). Apakah akan diterpa badai yang sama lantaran mengangkat tema yang bisa jadi sensitif?

Sita (Faradina Mufti) di masa kecilnya mengalami peristiwa naas yang membuatnya mempertanyakan ajaran agamanya mengenai siksa kubur. Dibantu kakaknya Adil (Reza Rahadian), dia kemudian mencoba melakukan segala cara untuk membuktikan; apakah benar manusia yang berdosa mendapat ganjarannya di alam kabur?

Bagaimana film memberikan motivasi kuat Sita melakukan hal seabsurd itu sebenarnya cukup baik dan patut diapresiasi mengingat tema film yang boleh jadi sensitif.

Penyutradaraan Joko Anwar pun boleh jadi beberapa tingkat di atas rata-rata film Indonesia. Sinematografinya mengingatkan pada teknik di film-film seperti MAD MAX: FURY ROAD (2015) dan OPPENHEIMER (2023), yang disebut sinematografer kondang Hoyte Van Hoytema sebagai center puncher.

Center Puncher memfokuskan perhatian penonton pada kurang lebih tengah frame di mana esensi adegan terjadi. Teknik ini membuat film tetap terasa personal tapi juga membuat cerita terkesan lebih megah dengan banyaknya space di kiri kanan frame.

Review Film Siksa Kubur, Baiknya Dipercepat Siksaannya

Review Film Siksa Kubur, Baiknya Dipercepat Siksaannya

Secara presentasi atau penyajian, sangat menarik nan kuat. Bagaimana isinya atau sajiannya sendiri?

Gol film barangkali adalah mencoba meyakinkan Sita tentang kebenaran siksa kubur baik secara visual yang gamblang dan menaklukkan egonya untuk percaya.

Adegan pamungkas yang menjadi judul memang disajikan dengan grafik yang cukup mencekam walau kekurangan visual efek CG nya cukup kentara. Konflik internal ini yang kemungkinan akan kontroversial.

Di film OPPENHEIMER (2023) yang ingin penonton lihat tentu meledaknya bom nuklir. Sepanjang film bagaimana alur bermuara di sana cukup asik; berawal dari teori, mengumpulkan saintis, membuat kota kecil Los Alamos di mana eksperimen dicoba. Konsekuensi akibat penemuan nuklir itu pun juga dibahas. Baik awal, proses dan setelah nuklir diledakkan, terdapat benang merah runut yang bisa ditelaah dan asik didiskusikan.

Review Film Siksa Kubur, Baiknya Dipercepat Siksaannya

Review Film Siksa Kubur, Baiknya Dipercepat Siksaannya

SIKSA KUBUR (2024) tidak terasa demikian. Film seakan melipir ke mana-mana; Menceritakan hal yang seakan tak ada hubungannya seperti pasangan suami istri di panti jompo; Terdapat Jump Scare dan gore yang seolah mengisi kuota syarat film horror Indo sekarang dan terdapat ketidakkonsistenan logika (bila sebagian film adalah visi yang didapat seorang karakter, kenapa bisa ada adegan yang si dia ini tidak pernah menyaksikannya langsung?).

Ya barangkali di pertengahan hingga klimaks inilah filmmaker menaruh banyak metafora, simbolisme dan hal hal bermakna secara subtle (halus) yang sesuai tema. Mengajak penonton untuk menelaah dan mendiskusikannya.

Hanya saja, bila tidak dibarengi alur yang jelas dan daya tarik cerita yang konkrit (ini niatnya drama religi yang atmospheric atau horror?), subtlety ini malah menjadi obscurity (ketidakjelasan) yang penulis pribadi tak tertarik mendiskusikan lebih lanjut.

SIKSA KUBUR (2024) adalah pengembangan dari film pendek berjudul sama buatan sutradara yang sama. Barangkali sebaiknya tetap jadi film pendek saja.

Continue Reading

TV & Movies

Review Film The First Omen, Lahirnya Antikristus

Published

on

By

Review Film The First Omen, Lahirnya Antikristus

www.gwigwi.com – THE OMEN (1976) adalah salah satu film horor legendaris hollywood tentang bocah lelaki yang ternyata adalah antikristus.

Nah, karena hollywood adalah hollywood, maka tak terelakkan akan dibuatnya film yang kasarnya menunggangi nama besar itu. Maka terjadilah THE FIRST OMEN (2024).

Apakah film ini hanya mengeksploitasi franchise atau bisakah dia berdiri sendiri?

Review Film The First Omen, Lahirnya Antikristus

Review Film The First Omen, Lahirnya Antikristus

Tahun 1971, Margaret (Nell Tiger Free) tiba di Roma untuk penasbihannya sebagai suster. Awalnya semua tampak baik di panti asuhan sampai pertemuannya dengan seorang gadis aneh bernama Carlita (Nicole Sorace).

Berbagai kejadian aneh setelahnya membuat Margaret mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi…

Sebagai film prekuel mencoba menjelaskan asal muasal lahirnya si bocah antikristus di film THE OMEN (1976), latar belakangnya pun dikembangkan baik soal siapa yang berperan di balik kelahiran itu dan sejarah panjangnya yang kelam. Di sisi ini usahanya cukup berhasil.

Bagaimana cara membuka misterinya secara perlahan pun menarik diperkuat oleh pengadeganan yang segar nan kuat dari sutradara Arkansha Stevenson.

Review Film The First Omen, Lahirnya Antikristus

Review Film The First Omen, Lahirnya Antikristus

Film di pertengahan terasa sedikit jelimet dan kelamaan. Entah apa peran suster Anjelica (Ishtar Currie-Wilson) pada cerita dan tema kecuali untuk seram seraman saja. Twistnya pun mudah ditebak sedari awal yang rasanya ingin cerita selesai lebih cepat saja walau penyutradaraannya berkesan.

Adalah Nell Tiger Free yang tampaknya akan menjadi bintang ke depannya. Dia bisa menunjukkan kemurnian Margaret sekaligus ketangguhan, derita dan kelembutannya. She is really something else. Salah satu pilar terkuat pemaku perhatian film.

THE FIRST OMEN (2024) mengejutkannya memiliki tema feminisme yang kental; otonomi tubuh perempuan; pengekangan wanita dalam nilai konservatif yang radikal dan wanita lain yang justru membantu semua proses itu. Tema itu membuat nilai justifikasi eksistensi prekuel ini lebih tinggi, meskipun tidak memiliki punchline yang kuat.

Continue Reading

Box Office

Kisah Kelahiran Damien, Sang Anak Titisan Iblis, Terungkap dalam Film Horor Psikologis Terbaru, “The First Omen”

Published

on

By

Review Film The First Omen, Lahirnya Antikristus

www.gwigwi.com – Film horor psikologis terbaru dari 20th Century Studios, “The First Omen”, tayang eksklusif di bioskop mulai hari ini, 3 April 2024. Sebagai prekuel dari salah satu kisah horor ikonik, “The Omen”, film yang berlatar di tahun 1971 ini akan menceritakan kisah di balik kelahiran Damien, anak titisan iblis yang menjadi tokoh utama dalam “The Omen” yang dirilis pada tahun 1976. Disutradarai oleh Arkasha Stevenson berdasarkan karakter yang diciptakan oleh David Seltzer, “The First Omen” dibintangi oleh Nell Tiger Free, Tawfeek Barhom, Sonia Braga, Ralph Ineson, dengan Charles Dance, dan Bill Nighy.

Kisah horor tentang konspirasi di balik kehadiran titisan iblis ke dunia ini dimulai lewat karya Richard Donner, “The Omen”, yang berhasil memperoleh kesuksesan besar pada masanya dengan pendapatan lebih dari 60 juta AS Dolar di Amerika Serikat. Kesuksesan film tersebut diikuti dengan versi cerita lainnya dalam berbagai format, termasuk film “The Omen” pada tahun 2006 yang disutradarai oleh John Moore, yang berhasil meraup lebih dari 120 juta AS Dolar. Pada tahun 2016, Glen Mazzara juga menghadirkan kembali kisah ini dalam format serial yang berjudul “Damien”.

Di tahun 2024 ini, franchise ikonik tersebut akan kembali lewat prekuel arahan Arkasha Stevenson, yang sebelumnya dikenal lewat “Legion” dan “Briarpatch”. Sebagai film panjang perdananya, Arkasha Stevenson menceritakan bagaimana ia mengemas kisah ikonik tersebut, “‘The First Omen’ ini merupakan prekuel dari versi tahun 1976,” ungkap Stevenson. “Namun, penting juga bagi kami untuk menciptakan sebuah cerita yang dapat berdiri sendiri. Jadi, kami ingin para penonton menyaksikan versi tahun 1976 tersebut, tetapi ada pesan tersendiri yang juga ingin kami sampaikan.”

Produser David S. Goyer (“Hellraiser”) menambahkan, “Saya selalu penasaran dari mana asal mula Damien – bagaimana bayi itu bisa berada dalam pelukan Robert dan Katherine Thorn. Keinginan kami adalah untuk menciptakan film horor yang bersifat abadi dan kontemporer. Sesuatu yang akan menunjukkan masa lalu, tetapi juga dengan unsur masa kini. Film genre ini bekerja paling baik ketika mereka berfungsi sebagai cermin gelap yang memperlihatkan kembali kecemasan kontemporer yang kita miliki.”

Cerita dimulai dengan Margaret (diperankan oleh Nell Tiger Free), seorang calon biarawati muda yang dikirim dari Amerika ke Roma untuk bekerja di sebuah panti asuhan sebelum ia resmi menjadi biarawati. Sebagai seorang yatim piatu, Margaret merasa dekat dengan gadis tertua di panti asuhan itu, Carlita, yang seperti Margaret, mengalami masalah sejak usia muda. Ada sesuatu yang aneh pada anak ini dan tidak ada yang tahu mengapa, tetapi Margaret merasakannya, dan merasa ada hubungan antara keduanya. Pertemuan itu secara tak terduga membawanya ke dalam kegelapan yang menyebabkannya meragukan imannya sendiri, hingga akhirnya ia mengungkap konspirasi mengerikan yang bertujuan untuk melahirkan titisan iblis ke dunia.

Ketika “The First Omen” hadir di bioskop, penggemar film “The Omen” tahun 1976 akan segera mengetahui bagaimana Damien terlahir ke dunia. “Sangat menyenangkan bagi kami untuk dapat membangkitkan rasa takut yang terdalam dari penonton. Akan ada banyak sekali adegan horor yang juga diiringi oleh unsur intrik untuk menciptakan pengalaman, dan membuat penonton penasaran untuk tahu lebih jauh lagi. ” ujar produser Keith Levine.

“The First Omen” disutradarai oleh Arkasha Stevenson dan dibintangi oleh Nell Tiger Free, Tawfeek Barhom, Sonia Braga, Ralph Ineson, dengan Charles Dance, dan Bill Nighy. “The First Omen” hadir di bioskop Indonesia pada 3 April 2024

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending