TV & Movies
Magnifique Group Angkat Diskusi tentang Masa Depan Media dan Kepercayaan terhadap AI melalui Dua Kelas Khusus di IdeaFest 2026
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) semakin mengubah cara manusia bekerja, mencari informasi, berkomunikasi, hingga menciptakan karya. Di tengah perubahan tersebut, Magnifique Group – 360° creative and visual communication agency yang bergerak di bidang PR, creative, digital, dan brand activation – mendorong percakapan mengenai satu pertanyaan penting: ketika teknologi semakin mampu mengambil alih berbagai proses, apa yang membuat manusia tetap relevan?
Memasuki tahun keenamnya sebagai PR agency partner IdeaFest, Magnifique Group menghadirkan dua sesi IdeaTalks pada IdeaFest 2026 yang berlangsung pada 4-6 September 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan. Kedua sesi tersebut membahas perkembangan AI dari dua perspektif yang saling melengkapi, yaitu “ReHumanizing Journalism: What Makes Media Matter in the Age of AI?” dan “In AI We Trust? Rethinking Strategy, Connection, and Creativity in The Age of AI”.

Magnifique Group Angkat Diskusi Tentang Masa Depan Media Dan Kepercayaan Terhadap Ai Melalui Dua Kelas Khusus Di Ideafest 2026
Ketika AI Mengubah Cara Kita Memahami Informasi
Sesi “ReHumanizing Journalism: What Makes Media Matter in the Age of AI?” membahas perubahan ekosistem media ketika AI semakin mampu menghasilkan, merangkum, dan mendistribusikan informasi dengan cepat.
Saat masyarakat dapat mencari jawaban melalui AI tanpa harus mengunjungi situs media, media profesional menghadapi pertanyaan baru mengenai relevansi dan perannya. Melalui sesi ini, Jaka Darwis, Associate Director Magnifique Group, mengajak empat pemimpin media untuk membahas bagaimana media dapat tetap relevan di tengah perubahan tersebut. Mereka adalah Antonius Tomy Trinugroho, Deputy Managing Editor Kompas Daily/Kompas.id; Mahardi Eka Putra, Editor in Chief KapanLagi.com; Sena Achari, Direktur Product Detikcom; serta Uni Lubis, Editor in Chief IDN Times.
Diskusi ini mengeksplorasi bagaimana media dapat memanfaatkan AI tanpa kehilangan fondasi jurnalisme, mulai dari human judgement, empati, dan etika hingga storytelling dan kredibilitas. Salah satu pertanyaan utama yang dibawa dalam sesi ini adalah: “Kalau AI sudah bisa menulis breaking news dalam hitungan detik, merangkum laporan panjang, bahkan menjawab pertanyaan tanpa membuka website media, mengapa masyarakat masih membutuhkan media profesional?”
Bagi Magnifique Group, perkembangan ini menunjukkan bahwa peran media tidak lagi hanya tentang menjadi yang pertama menyampaikan informasi, tetapi juga membantu publik memahami konteks, menentukan apa yang relevan, dan membangun kepercayaan terhadap informasi yang mereka konsumsi. Perspektif ini juga menjadi semakin relevan bagi industri komunikasi secara lebih luas, ketika teknologi memungkinkan pesan diproduksi dengan semakin cepat dan mudah.

Magnifique Group Angkat Diskusi Tentang Masa Depan Media Dan Kepercayaan Terhadap Ai Melalui Dua Kelas Khusus Di Ideafest 2026
AI Sebagai Partner Dalam Berkarya
Saat ini, AI tidak lagi hanya digunakan sebagai tool. Teknologi ini mulai mengambil peran sebagai sumber informasi, pemberi rekomendasi, hingga thinking partner yang turut memengaruhi cara manusia bekerja, berkarya, dan mengambil keputusan.
Melalui kelas kedua yang dipandu oleh Ayu Kartika, PR Lead Magnifique Group, Magnifique mempertemukan Edward Halim, Content Creator; Shahnaz Soehartono, Writer and Creator of Onlights; serta Nia Dinata, Director and Screenwriter of Berbagi Suami 2.0 dalam kelas bertajuk “In AI We Trust? Rethinking Strategy, Connection, and Creativity in the Age of AI”.
Diskusi ini mengeksplorasi bagaimana kehadiran AI mulai mengubah proses manusia dalam menciptakan suatu karya, membangun kredibilitas, dan terhubung dengan audiens. Namun, di tengah teknologi yang semakin mampu menghasilkan berbagai bentuk output, kelas ini juga membuka satu pertanyaan besar: “Apakah AI sedang menjadi “otoritas baru’’ dalam kehidupan kita?”
Magnifique mengajak audiens untuk melihat bahwa manusia tetap memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana suatu karya dapat diterima dan menjadi lebih relevan dengan masyarakat luas. Menjadikan AI sebagai teman berpikir bukan berarti menyerahkan seluruh pertimbangan kepada teknologi tersebut, melainkan memahami kapan AI dapat dipercaya dan kapan manusia perlu tetap menggunakan perspektif serta penilaiannya sendiri.
Membawa Human Perspective ke Masa Depan Komunikasi
Melalui kedua sesi tersebut, Magnifique Group melihat bahwa AI akan terus berkembang dan menjadi bagian dari berbagai proses kerja, termasuk di industri media, komunikasi, dan kreatif. Namun, perkembangan tersebut justru membuat kemampuan manusia untuk berpikir kritis, memahami konteks, menentukan arah, membangun kredibilitas, serta menciptakan koneksi yang autentik menjadi semakin penting.
Kedua sesi ini juga mencerminkan pendekatan Magnifique dalam melihat perubahan industri: bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi mempertanyakan bagaimana teknologi dapat digunakan secara relevan dalam membangun komunikasi yang lebih bermakna bagi manusia.
Sebagai 360° creative and visual communication agency, Magnifique Group terus membuka ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif dari industri komunikasi dan kreatif. Melalui keterlibatannya di IdeaFest 2026, Magnifique membawa diskusi dari ruang media hingga proses kreatif untuk menjawab pertanyaan yang sama: di tengah dunia yang semakin didorong oleh teknologi, bagaimana kita memastikan manusia tetap menjadi pusat dari setiap ide, keputusan, dan koneksi?
TV & Movies
Buka Proyek Solo Perdana, Tomohiro Kamiyama (WEST.) Rilis Album “INPUT⇄OUTPUT” Secara Global!
Kabar gembira untuk para Gwiple dan pencinta musik J-Pop! Tomohiro Kamiyama, salah satu personel dari grup idola populer WEST., resmi merilis album solo pertamanya yang bertajuk “INPUT⇄OUTPUT”. Album ini meluncur secara global dan kini sudah bisa dinikmati di berbagai platform musik digital seperti YouTube Music, Spotify, Apple Music, dan layanan streaming pilihan lainnya melalui tautan resmi Tomohiro Kamiyama Linktree.
Bersamaan dengan peluncuran album, Kamiyama juga menyuguhkan video lirik (Lyric Video) untuk lagu teranyarnya berjudul “No Filter” yang dapat disaksikan di kanal YouTube resminya melalui Tautan Lyric Video “No Filter”.
Eksplorasi Genre Tanpa Batas Garapan Sendiri
Sejak pertama kali mengumumkan proyek solo orisinalnya pada bulan Juli lalu, album “INPUT⇄OUTPUT” menjadi wadah penyaluran ide serta talenta musik Kamiyama. Menariknya, seluruh lagu dalam album ini ditulis dan diproduseri langsung oleh Kamiyama sendiri!
Album ini menyajikan ragam genre musik yang bervariasi, mulai dari lagu perayaan ulang tahunnya yang sempat dirilis secara mengejutkan berjudul “G.O.D.”, hingga lagu rap bertempo kencang “No Filter”.
Bertabur Kolaborasi Musisi Papan Atas Jepang
Tak hanya memamerkan kemampuan menulis lagu dan produksi musik secara mandiri, album “INPUT⇄OUTPUT” semakin berwarna lewat kolaborasi spesial bersama deretan musisi dan komposer kenamaan di kancah musik modern Jepang, antara lain:
-
Sota Hanamura (Da-iCE)
-
KNOCK OUT MONKEY
-
Daisuke Ozasa (Official HIGE DANdism)
-
Shota Yasuda (SUPER EIGHT) — yang merupakan seniornya di STARTO ENTERTAINMENT kawasan Kansai.
Lewat kombinasi bakat alami dan chemistry bersama jajaran artis papan atas tersebut, Kamiyama berhasil mengubah seluruh inspirasi yang ia dapatkan (INPUT) menjadi sebuah mahakarya musik yang memukau (OUTPUT).
Bagi kamu yang ingin mendengarkan warna baru dari musikalitas Tomohiro Kamiyama, album “INPUT⇄OUTPUT” serta video lirik “No Filter” sudah bisa diakses sekarang juga!
TV & Movies
Review Film HOPE, Big Trouble in Little Village
Bencana besar di desa kecil. Mungkin deskripsi yang pas untuk HOPE.
Teror monster yang biasa menimpa kota besar, melibatkan tentara dan ilmuwan, kini harus dihadapi Beom Se-Ok (Hwang Jung-Min) kepala polisi lokal, sepupunya Sung Ki (Zo In-sung), para pemburu, peternak babi, tukang jugal daging dan warga desa lain.
Dari eksekusi sinematografinya, kamera mengisolasi POV penonton pada perjalanan tiap karakternya secara eye level napak tanah untuk mengungkap misteri layaknya progress video game. Bahkan sampai protagonis dapat upgrade senjata, berganti senapan yang lebih kuat. Mengkuti jejak si monsters dari jalanan, toko-toko sampai ke gang-gang kecil.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village
Cara demikian melokalisir teror pada skala kecil yang justru membuat lebih ngeri dibanding film monster umumnya yang seakan ingin main skala besar secepatnya.
Audiens tak melihat sosok si monster tapi dari kehancuran, gelimpangan mayat dan bangkai berceceran yang diakibatka, gambaran mengerikannya sudah begitu kuat.
Begitu saat akhirnya si sumber horror diperlihatkan…hem. Mengingatkan pada CG game zaman PS3? Barangkali terkendala budget tapi mengingat monster ini ternyata mempunyai peran yang lebih penting lagi, agak membingungkan kenapa tampilannya tidak dicoba lebih meyakinkan lagi.
Beruntung aksi cepat dan brutalnya menghujam efektif sampai rasanya kekurangan itu cukup termaafkan.
Kelemahan umum film monster, manusianya, justru menyala di sini.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village
Sembari tensi terus terjaga, HOPE mampu mengenalkan para karakternya secara singkat baik dengan cerita konyol atau pun sekedar dari bagaimana mereka memburu si monster. Sampai rasanya audiens sudah klop bersama mereka padahal baru sebentar. Polisi wanita Hoyeon (Sung-Ae) tak diperkenalkan bertele-tele, dari cara dia bernafsu mengejar si monster langsung membuat dia memorable.
Aksi tegang dan kadang bisa-bisanya dibumbui komedi memang mewarnai klimaks, tapi juga berasa terlalu diperpanjang. Tambah lagi ternyata film diakhiri dengan cliffhanger yang membuka sisi lain dari para monster. Untung saja paruh awal dan tengahnya cukup kuat sehingga rasa nanggung tak sampai mengganggu.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village
HOPE seakan apabila Godzilla plus ALIEN dialami desa kecil di provinsi anda dan cerdas sekali memanfaatkan keunikan itu baik secara sosiologi manusianya dan kulturnya. Mungkin penonton hanya banyak melihat Hope Harbor dalam keadaan hancur tapi bisa jadi warga dan daerahnya lebih membekas di benak penonton dibanding film monster lain. Dan demikian rasanya sungguh key selling point dari film yang barangkali kurang memenuhi ekspektasi fans sutradara Na Hong-Jin paska THE WAILING.
Apakah terus bisa dia kawinkan aspek itu dengan aliennya nanti untuk sekuel yang sudah ditease? We may hope so….
TV & Movies
Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata
www.gwigwi.com – John Miller (Alan Ritchson), seorang veteran Perang Vietnam yang bekerja di pabrik perakitan mobil, dijebak atas kejahatan yang tidak ia lakukan oleh Reynolds (Ben Foster), seorang penguasa mafia lokal yang terobsesi pada kekasih John, Sophia (Shailene Woodley).
Divonis 25 tahun di penjara berkeamanan maksimum, John bertahan hidup hanya dengan satu tujuan: keluar dan menuntaskan dendam.
Ketika kesempatan itu tiba, John melancarkan perburuan berdarah menyusuri jalanan Detroit yang dingin dan korup, melintasi jajaran anak buah Reynolds yang dijaga oleh seorang polisi korup bertangan besi (Pablo Schreiber).

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata
Sutradara Potsy Ponciroli (Old Henry) kembali memamerkan keahliannya dalam mengolah cerita klasik menjadi sajian visual yang segar melalui Motor City.
Setting kota Detroit tahun 1970-an yang kelam, film action-thriller ini mengusung eksperimen berani. Menyajikan kisah balas dendam yang intens dengan dialog yang dipangkas hampir sepenuhnya, menyerahkan seluruh penyampaian emosi pada gestur, aksi, dan desain suara.
Estetika gritty era 70-an dengan warna-warna pudar dan pencahayaan bernuansa neo-noir. Tanpa kata-kata, deru mesin mobil muscle, dentuman senapan, dan koreografi pertarungan menjadi “dialog” utama.
Penggunaan mobil antik, outfit era 70-an, serta lagu-lagu rock klasik memperkuat suasana kota industri yang sedang runtuh.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata
Menurut gue ini adalah hal yang sangat berani. Serta membuang dialog eksposisi yang membuat penonton harus fokus pada aksi instinktif dan emosi karakter.
Dari jajaran cast, Alan Ritchson memanfaatkan postur fisiknya yang intimidatif secara maksimal. Tanpa bantuan dialog, ia mengandalkan tatapan mata, nafas yang berat, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan kepedihan, rasa kehilangan, serta kemarahan murni.
Begitu juga dengan Ben Foster yang tampil mengintimidasi lewat aura psikologis yang dingin, sementara Pablo Schreiber memberikan ancaman fisik yang seimbang dengan karakter Ritchson.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata
Buat gue film ini emang cocok-cocokan dengan penonton masa kini. Bagi yang terbiasa dengan dialog cepat atau pacing modern, beberapa transisi babak tengah mungkin terasa berjalan lambat.
Secara keseluruhan, Motor City merupakan penghormatan yang solid terhadap genre action-thriller klasik.
Film ini membuktikan bahwa Alan Ritchson as an actor tidak hanya mengandalkan fisik semata, melainkan juga kemampuan akting non-verbal yang kuat di bawah arahan sutradara yang tepat.
-
TV & Movies3 weeks agoReview Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk
-
Gaming3 weeks agoArknights Resmi Rilis Versi PC, Berikut Spesifikasi yang Dibutuhkan
-
Gaming3 weeks agoArknights: Endfield Segera Hadir di Steam, Akses Pemain PC Bakal Lebih Mudah
-
TV & Movies4 weeks agoReview Film Seni Merayu Tuhan, Drama Religi 2.0?
-
News3 weeks agoFate/Grand Order Rilis Video Pembuka Pameran, Dianimasikan oleh CloverWorks
-
Berita Anime & Manga3 weeks agoOvergeared Ungkap Trailer Kedua, Visual Baru, dan 6 Karakter Tambahan
-
News3 weeks agoMikeneko Mulai Jual Foto Pribadi lewat Membership, Tuai Dukungan Penggemar
-
TV & Movies3 weeks agoReview Film Kung Fu Soccer, Evolusi Komedi Absurd Stephen Chow di Era Modern




