Connect with us

Box Office

Final Trailer Fantastic Beasts: The Crimes Of Grindelwald Telah Dirilis

Published

on

GwiGwi.com – Warner Bros. sudah merilis suatu final trailer sarat magis dari film Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald. Promo ini kelihatannya benar-benar memanjakan mata dan kemauan para peminat franchise ini dengan menghadirkan sekian banyak elemen sihir dan makhluk mistis yang menakjubkan.

Dimulai dengan bertemunya Newt Scamander (Eddie Redmayne) dengan Albus Dumbledore (Jude Law) untuk membicarakan tentang sosok Gellert Grindelwald (Johnny Depp) yang hendak menguasai dunia muggle dan dunia sihir. Dan satu sosok yang barangkali sangat unik perhatian semua penggemar Harry Potter ialah munculnya Nagini yang adalahular kepunyaan Voldemort di masa depan.

Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald diperankan oleh Jude Law sebagai Albus Dumbledore di masa muda; Ezra MillerI pulang sebagai Credence; Claudia Kim berperan sebagai Maledictus; Zoe Kravitz sebagai Leta Lestrange; Callum Turner sebagai kakak Newt yang mempunyai nama Theseus Scamander; Katherine Waterston pulang lagi sebagai Tina Goldstein; Eddie Redmayne berperan lagi sebagi Magizoologist Newt Scamander, yang sudah terkenal sebagai pengarang kitab “Fantastic Beasts and Where to Find Them”; Dan Fogler pulang sebagai satu-satunya No-Maj di grup ini, Jacob Kowalski; Alison Sudol sebagai Queenie Goldstein dan Johnny Depp sebagai Gellert Grindelwald.

Baca Juga:  Review Film IT: Chapter Two, IT’s Back To Terrorize Derry

Adapun sinopsis dari film ini merupakan “Grindelwald setelah diciduk oleh MACUSA sukses kabur dan bersumpah untuk mengoleksi para penyihir pure-blood untuk menguasai dunia. Dumbledore dengan pertolongan Newt Scamander berjuang untuk menghentikan niat jahat ini. Dan dunia sihir juga seakan terbelah belah siapa yang dapat diandalkan atau tidak.“

Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald bakal tayang pada tanggal 16 November 2018.

Box Office

Review Film Midsommar, Kekejian dalam Kegembiraan Ritual Musim Panas

Published

on

GwiGwi.ComDani (Florence Pugh) mengalami trauma akibat bencana yang menimpa keluarganya. Pacarnya, Christian (Jack Raynor) kesulitan untuk membantunya. Membuat hubungan mereka yang sudah rentan semakin runyam. Dani kemudian ikut pergi dengan pacarnya beserta Mark (Will Poulter) dan Josh (William Jackson Harper), dua teman Christian, yang diajak ke Swedia oleh teman mereka Pelle (Vilhelm Blomgren) untuk mengikuti festival yang hanya diadakan 90 tahun sekali oleh komunitas Hårga di tengah musim panas atau Midsommar.

Sejak menit awal film ini, sutradara Ari Aster langsung menunjukkan tema keahliannya yang sudah dia buktikan lewat film horror perdananya Hereditary, yakni mengeksplorasi trauma psikologis pasca kejadian mengerikan di mana horror nya menguji kejiwaan karakternya. Bila dalam Hereditary rasa horror dialami oleh satu keluarga, kali ini pusat konfliknya adalah hubungan Dani dengan Christian.

Di menit awal film diceritakan Christian sebenarnya sudah jenuh berhubungan dengan Dani karena pacarnya sering melibatkannya pada urusan pribadi. Berbeda jauh dengan hubungan penuh kesenangan yang Christian inginkan. Sementara Dani semakin merasa Christian tidak cocok dengannya dan waktunya dengan komunitas Hårga semakin membuatnya mempertanyakan hubungan mereka.

Menarik melihat bagaimana pelan-pelan diperlihatkan apa sebenarnya komunitas ini dan reaksi berikut efeknya pada hubungan mereka. Sayangnya drama pasangan ini agak memudar di akhir untuk menaruh budaya Hårga lebih ke depan. Saya sendiri berharap mereka punya lebih banyak screen time untuk konfliknya agar bisa serenyah konflik internal keluarga di Hereditary tanpa banyak intervensi horrornya. Komunitas Hårga mungkin adalah kultus paling menyeramkan yang pernah saya lihat dalam film. Kehangatan, keterbukaan dan keramahan mereka pada orang asing begitu luar biasa hingga dapat membuat orang segan menolak sesuatu yang dirinya sendiri tidak pahami. Ibadah ganjil yang biasanya pada film lain akan dilakukan dengan menggelegar, pada film ini dilakukan dengan sangat tenang, menggambarkan bahwa hal tersebut sudah keseharian mereka yang membuatnya semakin seram.

Baca Juga:  Review Film Ready or Not, malam pengantin yang penuh darah

Tidak banyak yang bisa diceritakan mengenai sinopsis film ini karena dapat mengurangi intensitas saat menonton, untuk lebih mengerti mengenai film ini disarankan agar menontonnya langsung dan menikmati proses agar lebih mengerti tradisi serta ritual yang dilakukan komunitas Hårga. Ini bukan film yang bisa dinikmati semua orang karena tema yang berat, alur yang lambat namun mencekam, background music yang menusuk-nusuk dan saat selesai menonton mungkin saja kamu akan merasakan perasaan yang tidak enak dan gelisah.

Mencoba menerka berbagai pesan tersirat dari adegannya adalah salah satu hal yang paling memuaskan dari film ini. Alurnya yang lambat memberi waktu pada penonton menyerap maksud adegan yang ada dan juga membuat terornya, yang bersembunyi di balik alam yang indah, merayap pelan sampai klimaksnya yang wah akan semakin terasa.

Terdapat banyak sentilan terhadap sifat pendatang pada budaya lokal di sini seperti; menganggap enteng budaya asing Dani yang asal ikut tarian untuk memilih Ratu Mei tanpa banyak bertanya, merasa lebih beradab lewat sifat sombong Mark selama di sana, dan ketidak hati-hatian Dani dan kawan-kawan tak pernah bertanya apa sebenarnya peran mereka di festival itu yang bahkan warga lokal tak pernah menjelaskan.

Disinilah kepiawaian sutradara Ari Aster dalam menyajikan thriller yang unik dan tidak hanya mengandalkan adegan jumpscare. Hal lain yang perlu diapresiasi adalah usahanya dalam membuat film yang detail terutama apa yang terjadi di tiap setting film nya, banyak hal-hal kecil yang membuat film ini semakin hidup dan membuat penonton terus berpikir.

Secara keseluruhan, Midsommar adalah sajian unik nan spesial sebagai alternatif dari genre thriller pada umumnya. Setelah menonton film ini, mungkin bisa bikin kalian tidak nyaman melihat padang rumput dan bunga.

Continue Reading

Box Office

Petualangan Luar Angkasa Brad Pitt dalam Ad Astra Tuai Pujian di Venice Film Festival

Published

on

GwiGwi.Com – Dibintangi dan diproduseri oleh salah satu aktor terpopuler Brad Pitt, ‘Ad Astra’ ditayangkan secara perdana di Venice Film Festival ke-76 pada hari Kamis, 29 Agustus 2019. Brad Pitt yang hadir bersama sang sutradara James Gray, serta deretan pemain ‘Ad Astra’ lainnya seperti Liv Tyler dan Ruth Negga, menerima sambutan positif untuk film terbaru mereka dari para kritikus yang hadir dalam acara tersebut. ‘Ad Astra’ disebut sebagai salah satu mahakarya dari James Gray yang sebelumnya telah populer melalui deretan filmnya seperti ‘The Lost City of Z’, ‘We Own the Night’ dan ‘The Immigrant’.

Berlatar waktu di masa depan, ‘Ad Astra’ berkisah tentang Roy McBride, seorang astronot yang dikirim dalam sebuah misi rahasia berbahaya untuk menemukan ayahnya yang telah hilang selama bertahun-tahun. Roy yang selama ini mengira ayahnya telah hilang dalam sebuah misi luar angkasa harus dihadapkan pada kemungkinan bahwa ayahnya masih hidup dan sedang mengancam keberadaan umat manusia. Ia harus melalui perjalanan yang panjang dan menantang untuk mengungkap misteri tersebut.

Baca Juga:  Review Film Midsommar, Kekejian dalam Kegembiraan Ritual Musim Panas

Brad Pitt mampu memerankan karakter Roy McBride dengan mengagumkan. Dalam film ini, karakter yang ia perankan tidak hanya melalui perjalanan yang berbahaya dan penuh ancaman, melainkan harus melawan emosi dan dirinya sendiri. The Wrap menyebut penampilan Brad Pitt dalam ‘Ad Astra’ sebagai salah satu performanya yang paling menakjubkan.

Kolaborasi James Gray dan Brad Pitt dalam ‘Ad Astra’ juga dianggap sebagai film dengan perpaduan tepat dan kisah yang kuat oleh The Guardian (UK) dan The Telegraph (UK) yang memberikan skor sempurna untuk film ini. The Independent juga menyatakan bahwa film ini mampu menghadirkan kisah yang menyentuh berkat penampilan Brad Pitt dengan arahan tepat dari James Gray. ‘Ad Astra’ menghadirkan petualangan luar angkasa yang menegangkan dengan visual yang menawan, namun dilengkapi dengan sentuhan emosional yang mendalam.

Disutradarai oleh James Gray berdasarkan naskah karya Gray dan rekannya, Ethan Gross, ‘Ad Astra’ juga turut dibintangi oleh aktor pemenang Academy Award® Tommy Lee Jones dan Donald Sutherland. Film terbaru Brad Pitt ini akan tayang di bioskop-bioskop Indonesia mulai tanggal 20 September 2019 mendatang.

Continue Reading

Box Office

Review Film IT: Chapter Two, IT’s Back To Terrorize Derry

Published

on

GwiGwi.com, IT Chapter Two disutradarai Andy Muschietti dan diproduseri Barbara Muschietti. Film sekuel IT ini terjadi 27 tahun setelah film yang pertama. Mike, Bill, Beverly, Eddie, Ben, Richie, dan Stanley yang sudah dewasa dan sudah jarang bertemu lagi terpaksa harus kembali ke Derry untuk menghadapi Pennywise yang meneror penduduk kota kecil itu serta mencegah lebih banyak korban.

IT CHAPTER TWO
Copyright: © 2019 WARNER BROS. ENTERTAINMENT INC.
Photo Credit: Brooke Palmer
Caption: (L-r) ISAIAH MUSTAFA as Mike Hanlon, BILL HADER as Richie Tozier, JAMES McAVOY as Bill Denbrough, JESSICA CHASTAIN as Beverly Marsh and JAY RYAN as Ben Hascomb in New Line Cinema’s horror thriller “IT CHAPTER TWO,” a Warner Bros. Pictures release.

Pada awal-awal film mungkin sebagian penonton tidak ingat siapa mereka karena sudah dalam fisik dewasa (kecuali Beverly dan Mike yang pasti gampang diingat), namun jangan khawatir karena pelan-pelan penonton akan dibawa mengingat kembali siapa saja mereka saat masih kecil.

Walaupun pada awalnya mereka agak ragu-ragu untuk kedua kalinya menghadapi Pennywise dan ingin melupakan kenangan-kenangan buruk di Derry namun pada akhirnya mereka memutuskan harus mengakhiri semuanya. Masing-masing dari mereka harus menghadapi memori terkelam saat masih tinggal di Derry karena itulah yang dapat menjadi kunci dalam mengalahkan sang badut. Hal ini tidaklah mudah dilakukan karena Pennywise muncul dalam setiap memori untuk mengacaukan mereka.

Baca Juga:  Bank BRI berkolaborasi dengan Bumilangit meluncurkan kartu Brizzi edisi Gundala

Film sekuel yang berdurasi sekitar 170 menit (2 jam 50 menit) ini tidak banyak adegan sadisnya, lebih banyak menampilkan visual mahluk-mahluk yang menjijikan dan mengerikan. Sedangkan untuk urusan jump scare, kentara sekali momen-momen dimana Pennywise akan muncul terutama saat para karakter sedang mengingat kembali masa lampaunya.

Bukan berarti itu hal yang buruk, karena pelan-pelan membangun ketegangan di dalam batin penonton yang menanti-nanti kapan si badut horror ini menampilkan wujud iblisnya dan saat ia muncul, ada perasaan kaget yang memuaskan. Walaupun ada penjelasan mengenai apa itu IT dan asal usulnya namun sangat sedikit sekali pembahasannya sehingga tidak terlalu jelas mengenai latar belakangnya.

Mungkin memang bukan itulah fokus dari cerita ke dua ini, yang sebetulnya ingin lebih menekankan bagaimana manusia yang mengalami kejadian yang traumatis dan kelam, apakah kau ingin menguburnya seolah-olah tidak pernah terjadi atau kau akan menghadapinya untuk menjadi pribadi yang sekiranya bisa lebih baik dan tidak terkekang masa lalu.

Continue Reading
Advertisement SGCC 2019
Advertisement DICARI REPORTER
Advertisement

GwiGwi Space

GWIDEV

Trending