Connect with us

TV & Movies

Cassandra Massardi Somasi Ian Salim Soal Tuduhan Plagiarisme Film “Sebelah”

Published

on

Cassandra Massardi Somasi Ian Salim Soal Tuduhan Plagiarisme Film “sebelah”

www.gwigwi.com – Sebuah konflik di dunia kreatif memanas setelah Cassandra Massardi, penulis cerita asli dan skenario film pendek “Sebelah”, secara resmi mengeluarkan surat somasi kepada Ian Salim, pemilik akun X (sebelumnya Twitter) @IanSalim.

Somasi ini ditanggalkan pada 23 November 2025, menanggapi pernyataan Ian yang menuduh karya Cassandra sebagai hasil plagiarisme dari film pendek “Yours Truly”.

Dalam somasinya, Cassandra merinci bahwa pada 23 November 2025, Ian Salim mempublikasikan sejumlah pernyataan melalui akun X-nya yang menyinggung integritas film “Sebelah”.

Di antara unggahan tersebut, Ian membuka sebuah utas dengan pertanyaan provokatif: “Apakah film pendek yang disutradarai Reza Rahadian belasan tahun lalu adalah plagiat dari film pendek karya saya? (SEBUAH UTAS)”.

Meski dalam balasan lain Ian menyatakan tidak menuduh Reza Rahadian sebagai pelaku plagiarisme dan hanya ingin menyoroti kemungkinan indikasi plagiasi pada materi yang disutradarainya, Cassandra menilai pernyataan-pernyataan ini telah menyasar langsung dirinya sebagai penulis dan merusak reputasinya.

Cassandra menegaskan bahwa unggahan tersebut, meski telah ditarik, masih meninggalkan jejak digital yang dapat diakses publik.

Cassandra dengan tegas membantah semua tuduhan tersebut. Dalam somasinya, ia memaparkan kronologi penulisan “Sebelah” yang dimulai sejak Juni 2011. Kala itu, panitia LA Lights Indie Movie memintanya menulis skenario dengan kebebasan penuh.

Pada 27 Juni 2011, ia mengirimkan enam sinopsis, dan “Sebelah” terpilih untuk diproduksi. Naskah final cerita asli dan skenario “Sebelah” dikirimkannya pada 16 Agustus 2011 tanpa revisi.

Yang paling penting, Cassandra menegaskan bahwa sepanjang proses penulisan “Sebelah”, ia sama sekali tidak pernah menonton, mengakses, atau mengetahui isi film “Yours Truly”.

Ia menilai tuduhan Ian hanya berdasarkan pada kesan subjektif setelah menonton kedua film, tanpa didasari pada perbandingan naskah atau skenario asli. Untuk transparansi, Cassandra telah mempublikasikan cerita asli “Sebelah” sehingga masyarakat dapat menilainya secara langsung.

Cassandra menuduh tindakan Ian Salim telah memenuhi unsur Perbuatan Melawan Hukum sesuai Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata).

Pasal ini mewajibkan pihak yang karena kesalahannya menimbulkan kerugian orang lain untuk mengganti kerugian tersebut.
Selain itu, ia juga menyoroti potensi pelanggaran Pasal 27A jo. Pasal 45 Ayat (4) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) tentang pencemaran nama baik melalui sarana elektronik.

Ancaman maksimal pidana atas pasal ini adalah penjara paling lama 2 tahun dan/atau denda paling banyak Rp400.000.000.

Sebagai bentuk upaya penyelesaian, Cassandra Massardi memberikan tenggat waktu 1×24 jam kepada Ian Salim sejak somasi ini dipublikasikan untuk:

1. Membuktikan secara jelas dan terperinci bagian mana dari “Sebelah” yang dianggap plagiat, disertai dengan naskah/skrip “Yours Truly” sebagai pembanding.
2. Menarik seluruh pernyataannya dari ruang publik.
3. Menyampaikan permintaan maaf dalam bentuk video dan tertulis melalui akun X @IanSalim.

Jika tuntutan ini tidak dipenuhi dalam jangka waktu yang ditentukan, Cassandra Massardi menyatakan akan menempuh langkah hukum baik secara perdata maupun pidana tanpa pemberitahuan lebih lanjut.

Somasi ini mengangkat kembali isu sensitif di komunitas kreatif mengenai plagiarisme, etika berkomunikasi di ruang digital, dan perlindungan hak cipta.

Kasus ini juga menyoroti betapa cepatnya tuduhan dapat menyebar dan dampak signifikan yang dapat ditimbulkannya terhadap reputasi dan nama baik seorang kreator.

Well, semoga urusan nya cepet selesai ya…

Advertisement

TV & Movies

Review Film HOPE, Big Trouble in Little Village

Published

on

By

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Bencana besar di desa kecil. Mungkin deskripsi yang pas untuk HOPE.

Teror monster yang biasa menimpa kota besar, melibatkan tentara dan ilmuwan, kini harus dihadapi Beom Se-Ok (Hwang Jung-Min) kepala polisi lokal, sepupunya Sung Ki (Zo In-sung), para pemburu, peternak babi, tukang jugal daging dan warga desa lain.

Dari eksekusi sinematografinya, kamera mengisolasi POV penonton pada perjalanan tiap karakternya secara eye level napak tanah untuk mengungkap misteri layaknya progress video game. Bahkan sampai protagonis dapat upgrade senjata, berganti senapan yang lebih kuat. Mengkuti jejak si monsters dari jalanan, toko-toko sampai ke gang-gang kecil.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Cara demikian melokalisir teror pada skala kecil yang justru membuat lebih ngeri dibanding film monster umumnya yang seakan ingin main skala besar secepatnya.

Audiens tak melihat sosok si monster tapi dari kehancuran, gelimpangan mayat dan bangkai berceceran yang diakibatka, gambaran mengerikannya sudah begitu kuat.

Begitu saat akhirnya si sumber horror diperlihatkan…hem. Mengingatkan pada CG game zaman PS3? Barangkali terkendala budget tapi mengingat monster ini ternyata mempunyai peran yang lebih penting lagi, agak membingungkan kenapa tampilannya tidak dicoba lebih meyakinkan lagi.

Beruntung aksi cepat dan brutalnya menghujam efektif sampai rasanya kekurangan itu cukup termaafkan.

Kelemahan umum film monster, manusianya, justru menyala di sini.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Sembari tensi terus terjaga, HOPE mampu mengenalkan para karakternya secara singkat baik dengan cerita konyol atau pun sekedar dari bagaimana mereka memburu si monster. Sampai rasanya audiens sudah klop bersama mereka padahal baru sebentar. Polisi wanita Hoyeon (Sung-Ae) tak diperkenalkan bertele-tele, dari cara dia bernafsu mengejar si monster langsung membuat dia memorable.

Aksi tegang dan kadang bisa-bisanya dibumbui komedi memang mewarnai klimaks, tapi juga berasa terlalu diperpanjang. Tambah lagi ternyata film diakhiri dengan cliffhanger yang membuka sisi lain dari para monster. Untung saja paruh awal dan tengahnya cukup kuat sehingga rasa nanggung tak sampai mengganggu.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

HOPE seakan apabila Godzilla plus ALIEN dialami desa kecil di provinsi anda dan cerdas sekali memanfaatkan keunikan itu baik secara sosiologi manusianya dan kulturnya. Mungkin penonton hanya banyak melihat Hope Harbor dalam keadaan hancur tapi bisa jadi warga dan daerahnya lebih membekas di benak penonton dibanding film monster lain. Dan demikian rasanya sungguh key selling point dari film yang barangkali kurang memenuhi ekspektasi fans sutradara Na Hong-Jin paska THE WAILING.

Apakah terus bisa dia kawinkan aspek itu dengan aliennya nanti untuk sekuel yang sudah ditease? We may hope so….

Continue Reading

TV & Movies

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Published

on

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

www.gwigwi.com – John Miller (Alan Ritchson), seorang veteran Perang Vietnam yang bekerja di pabrik perakitan mobil, dijebak atas kejahatan yang tidak ia lakukan oleh Reynolds (Ben Foster), seorang penguasa mafia lokal yang terobsesi pada kekasih John, Sophia (Shailene Woodley).

Divonis 25 tahun di penjara berkeamanan maksimum, John bertahan hidup hanya dengan satu tujuan: keluar dan menuntaskan dendam.

Ketika kesempatan itu tiba, John melancarkan perburuan berdarah menyusuri jalanan Detroit yang dingin dan korup, melintasi jajaran anak buah Reynolds yang dijaga oleh seorang polisi korup bertangan besi (Pablo Schreiber).

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Sutradara Potsy Ponciroli (Old Henry) kembali memamerkan keahliannya dalam mengolah cerita klasik menjadi sajian visual yang segar melalui Motor City.

Setting kota Detroit tahun 1970-an yang kelam, film action-thriller ini mengusung eksperimen berani. Menyajikan kisah balas dendam yang intens dengan dialog yang dipangkas hampir sepenuhnya, menyerahkan seluruh penyampaian emosi pada gestur, aksi, dan desain suara.

Estetika gritty era 70-an dengan warna-warna pudar dan pencahayaan bernuansa neo-noir. Tanpa kata-kata, deru mesin mobil muscle, dentuman senapan, dan koreografi pertarungan menjadi “dialog” utama.

Penggunaan mobil antik, outfit era 70-an, serta lagu-lagu rock klasik memperkuat suasana kota industri yang sedang runtuh.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Menurut gue ini adalah hal yang sangat berani. Serta membuang dialog eksposisi yang membuat penonton harus fokus pada aksi instinktif dan emosi karakter.

Dari jajaran cast, Alan Ritchson memanfaatkan postur fisiknya yang intimidatif secara maksimal. Tanpa bantuan dialog, ia mengandalkan tatapan mata, nafas yang berat, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan kepedihan, rasa kehilangan, serta kemarahan murni.

Begitu juga dengan Ben Foster yang tampil mengintimidasi lewat aura psikologis yang dingin, sementara Pablo Schreiber memberikan ancaman fisik yang seimbang dengan karakter Ritchson.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Buat gue film ini emang cocok-cocokan dengan penonton masa kini. Bagi yang terbiasa dengan dialog cepat atau pacing modern, beberapa transisi babak tengah mungkin terasa berjalan lambat.

Secara keseluruhan, Motor City merupakan penghormatan yang solid terhadap genre action-thriller klasik.

Film ini membuktikan bahwa Alan Ritchson as an actor tidak hanya mengandalkan fisik semata, melainkan juga kemampuan akting non-verbal yang kuat di bawah arahan sutradara yang tepat.

Continue Reading

TV & Movies

Review Film INSIDIOUS OUT OF THE FURTHER, Wahana Rumah Hantu ala The Further

Published

on

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

www.gwigwi.com – Gemma (Amelie Eve) memiliki masa kecil buruk dengan Ibunya (Laura Gordon) dan berniat menjadi Ibu lebih baik untuk anaknya, Maya (ISLAND Austin).

Sampai dia dihantui mimpi mengerikan yang bisa jadi lebih dari sekedar khayalannya dan berhubungan dengan masa lalunya.

Kembali lagi franchisee horror yang film pertamanya sukses meski low budget dan ternyata penonton masih mau kembali mengeksplorasi alam barzah khas INSIDIOUS yakni the further.

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Dengan film ke 6 filmmaker seolah bermain dengan konsep untuk mengeksploitasi the further. Setelah dapat, seakan barulah dibuat cerita seputar itu dan rasanya memang demikian.

Motivasi yang trigger emosi penonton seputar hubungan ibu anak dan mencoba memutus trauma generasional. Diselingi permainan ketegangan yang lumayan oke memakai syaitonirojim dan eksplorasi the further, di mana paruh ketiganya memang cukup seru dan tak terduga.

Semuanya fine saja dan mungkin itulah fault dari INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER ini; wahana seram-seraman yang terasa eksploitasi (dalam artian yang masih terbilang baik) franchise saja. Bila penonton senang, sampai INSIDIOUS 11 pun seakan dijabanin BLUMHOUSE PRODUCTION.

INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER seolah hasil dari pikiran; karena penonton masih mau, maka filmmaker akan coba segala hal untuk isi gas franchisenya. Apakah mereka akan menemukan alasan kuat lagi untuk penonton mau kembali menjelajah The Further? We'll see…

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending