Berita Anime & Manga
Akankah Film Anime Jepang kembali Bersinar di Oscars 2016: Academy Award
GwiGwi.com – Saat Academy Award tayang pada 28 Februari nanti setidaknya ada 1 film animasi dari Jepang yang akan mendapat perhatian dari para penonton. When Marnie was There, sebuah karya terakhir yang dibuat oleh Studio Ghibli dinominasikan pada kategori Film Animasi Terbaik. Meski kesempatan menangnya sangat kecil, bisa bersaing dengan animasi blockbuster Inside Out dan favorit para kritikus Anomalisa tentunya bisa membuat Marnie mendapat perhatian para penonton (meski mereka belum tentu akan mencari informasi tentang Marnie dan menontonnya) dan para penonton bisa tahu seperti apa film animasi terbaik ala Jepang. Marnie adalah film dari Jepang ke 5 yang menjadi nominasi di sejarah singkat kategori Film Animasi Terbaik. Tidak ada anime yang menjadi nominasi untuk kategori film animasi pendek tahun ini, tapi 3 film dari Jepang pernah dinominasikan dalam sejarah kategori itu (termasuk salah satunya menjadi pemenang).
Film animasi umumnya sulit untuk mendapat perhatian di Oscar sebelum adanya kategori film animasi yang dibuat pada tahun 2001. Hanya satu film, Beauty and The Beast yang dinominasikan di kategori film terbaik sebelum adanya kategori itu (hanya ada 2 film kartun, Toy Story dan UP, yang bisa masuk ke kategori film terbaik setelah adanya kategori film animasi terbaik). Snow White dan Toy Story mendapat penghargaan khusus karena bisa menjadi pioneer tapi secara resmi tetap tidak memenangkan kategori film terbaik. Jepang sendiri 2 kali mengajukan film animasiu untuk kategori film berbahasa asing terbaik (Pom Poko pada tahun 1994 dan Princess Mononoke pada 1997) tapi tidak digubris dan sejak itu tidak pernah mencoba lagi.
Spirited Away memenangkan kategori film animasi terbaik pada tahun 2003. Dengan adanya kategori film animasi terbaik, film animasi secara umum dan anime Jepang menjadi lebih mudah mendapatkan perhatian di Oscar. Spirited Away adalah anime yang pertama kali dinominasikan di kategori Film Animasi Terbaik juga menjadi pemenang ke 2 dalam sejarah kategori ini. Beberapa faktor mempengaruhi kesuksesan film ini dalam memenangkan Oscar. Salah satunya, Hayao Miyazaki sangat disukai oleh para pembuat film animasi di Amerika yang pada akhirnya membuat karya Miyazaki lebih mudah mendapatkan nominasi. Film yang juga sebuah maha karya ini mampu memenangkan perhatian dari kebanyakan anggota akademi, memberikan kesempatan yang lebih besar untuk menang. Selain itu, Spirited Away tidak mempunyai lawan yang berarti dengan tidak adanya film buatan Pixar yang rilis pada tahun itu, sementara disney dengan Lilo & Stitch yang juga bagus tapi kalah mencengangkan dan Treasure Planet tidak memberikan perlawanan yang berarti. Selain itu juga, Spirited Away punya “pengkhotbah” yang penuh dedikasi, John Lasseter, pemimpin Pixar yang sangat menyukai karya-karya Miyazaki dan bertanggung jawab untuk perilisan Spirited Away versi bahasa Inggris pada tahun 2002. Kemenangan Spirited Away adalah sebuah kemenangan besar saat anime akhirnya mendapat perhatian besar di Amerika.
Studio Ghibli lah yang bertanggung jawab atas diakuinya animasi Jepang di ajang Oscar. Howl Moving Castle dinominasikan sebagai Film animasi terbaik pada 2005. Studio Ghibli yang bertanggung jawab atas semua nominasi pada sejarah kategori Film Animasi Terbaik. Pada tahun 2005, Howl Moving Castle beradu dengan The Corpse Bride buatan Tim Burton dan Wallace and Gromit buatan Nick Park. Wallace and Bromit lah yang akhirnya menang. Film Miyazaki selanjutnya Ponyo kalah bersaing dan sama sekali tidak masuk nominasi tapi karya terakhirnya, The Wind Rises menjadi nominasi pada 2013 lalu. Sebenarnya Wind Rises bisa menjadi pemenang tapi pada akhirnya kalah oleh Frozen (yang menariknya menjadi film animasi Amerika yang berpenghasilan paling besar di Jepang). Karya Isao Takahata, Tale of Princess Kaguya menjadi nominasi pada 2014 lalu, meski menjadi nominasi yang paling diakui secara kritis tahun itu (sebuah pilihan yang menyindir The Lego movie yang secara mengejutkan sukses di Amerika) kalah oleh film Disney yang terinspirasi dari anime Big Hero 6. Tidak seperti film-film Ghibli yang dinominasikan sebelumnya yang dirilis oleh Disney ataupun anak perusahaannya Touchstone, Kaguya dan Marnie didistribusikan di Amerika oleh Gkids, sebuah perusahaan independen yang belom pernah sekalipun memenangkan penghargaan tapi sukses membuat film animasi asing dalam mendapatkan nominasi, Tak hanya anime, kartun dari Irlandia, Spanyol, Prancis dan Brazil juga.
Langkah besar dari animasi Jepang adalah film animasi pendek terbaik!
La Maison memenangkan penghargaan film animasi pendek terbaik pada tahun 2008.
Setelah animasi mendapatkan perhatian yang cukup besar di Amerika, beberapa film animasi pendek juga mulai mendapatkan perhatian di Oscar. Penampilan Rakugo Koji Yamamura yang dibuat dalam versi animasi, MT. Head pernah menjadi nominasi pada 2002 lalu. Karya Kato Kunio yang menggugah perasaan, La Maison memenangkan penghargaan di kategori ini pada tahun 2008. Yang terbaru adalah dongeng yang menggunakan CGI karya Shuhei Morita, Possesion, yang menjadi bagian dari antologi film Short Peace juga dinominasikan pada 2013 lalu.
Jadi bagaimana status film animasi Jepang di Oscar?
Film animasi yang bukan diproduksi oleh Ghibli masih belum beruntung sejauh ini. Setelah melihat daftar film yang bisa masuk kategori film animasi terbaik di Oscar dan menjadi nominasi, ada hal yang sangat menjengkelkan. Bagaimana mungkin Tokyo Godfather dan Millenium Actress pada 2003 bahkan tidak masuk daftar sementara film buatan Disney yang paling di kritik dan gagal secara fiansial, Brother Bear, bisa masuk daftar? Bagaimana mungkin film yang sangat dibenci seperti Shark Tale dinominasikan saat Ghost in the Shell 2 bahkan sama sekali tidak dilirik. Hal menjengkelkan lainnya meskipun mengecewakan, masih bisa diterima. Summer Wars yang mendapat kampanye Oscar besar-besaran dari Gkids dan mungkin bisa menjadi salah satu nominasi pada 2010 seandainya ada yang 5 slot nominasi, sayangnya hanya ada 3 slot. Tapi setidaknya mereka memilih film-film yang bagus seperti Toy Story 3, How to Train Your Dragon dan Illusionist. Semoga saja dengan berakhirnya Ghibli bukan berarti perhatian pada anime juga berakhir dan nantinya Mamoru Hosoda dan sutradara animasi lainnya juga mendapat kesempatan untuk bersinar di Oscar.
Berita Anime & Manga
Review Tomb Raider King Eps.1-2
Sama-sama mengusung tema dungeon crawling seperti Solo Leveling, mampukah adaptasi anime Tomb Raider King meraih kesuksesan yang sama? Simak ulasan dua episode pertamanya di sini.
www.gwigwi.com – Dikhianati kontraktornya, “Tomb Raider” Jooheon Suh hampir saja mati di sebuah makam/tomb berisikan relik ajaib saat tetiba dia kembali 15 tahun lalu saat God’s Tombs ajaib belum bermunculan. Bertekad untuk membalas, berbekal pengetahuan dan keahliannya, dia pergi mengoleksi berbagai elik dengan tangannya sendiri.
TOMB RAIDER KING dianimasikan! Manhwa karya Sanji Jiksong ini tampaknya ingin ikut mencicipi kesuksesan SOLO LEVELING. Sesama sub genre Lit-RPG (cerita dengan mekanisme gim) dan dungeon crawling, mampukah mereka meraup harta kesuksesan yang sama?
Menjanjikan petualangan, misteri, atraksi aksi yang dibumbui strategi cerdik tak terduga, TOMB RAIDER KING memiliki banyak key selling point buat penyuka sub genre ini.
Cerita dengan cerdas tidak dimulai dari awal mula karir Jooheon. Penonton langsung disuguhi misteri pengkhianatan, kenapa dia bisa kembali ke masa lalu dan protagonis yang sudah jago, cepat memahami situasi dan langsung bertindak.
Alur ringkas cepat ini membantu memaku perhatian saat animasi dan art style gambar terasa cukup saja. Sisa informasi world building dieksposisikan tokoh utama sambil jalan yang untungnya lore TOMB RAIDER KING ini cukup sederhana dan mudah dicerna.
Mungkin karena keliatan sederhana ini juga, rasanya dunianya kurang terasa spesial. Tomb yang didatangi Jooheon saat baru sadar terinspirasi dari kisah populer ‘Kapak Emas’ dari dongeng Aesop. Memang boleh saja terinspirasi demikian, tapi seperti kurang ada polesan unik ala TOMB RAIDER KING itu sendiri. Ya, ada twist berbeda, namun kurang terasa menghentak.
Entah karena Jooheon yang digambarkan dengan istilah “OP” atau over power kah? Pemuda ini sudah sakti, pede, cerdas, pokoknya wah. Dari dua episode ini, belum ada tantangan berarti mau itu dari menghajar orang atau melawan monster. Fokus memperlihatkan hebatnya dia memang boleh saja, tetapi cerita seperti lupa memberikan suspense atau pembeda dari sub genre yang sama saat sekarang dunia sudah mengenal SOLO LEVELING dan SHANGRI-LA FRONTIER (tentang petualangan seorang gamer di dunia gim, Shangri-La Frontier).
Rakurou Hizutome atau Sunraku, protagonis SHANGRI-LA FRONTIER memang jago tapi diperlihatkan juga dia tidak bisa memakai armor hingga terkena serangan sekali saja sudah fatal. Hal demikian belum ada di TOMB RAIDER KING. Karakter Jooheon terkesan power fantasy untuk para pembaca merasa strong dan kurang memiliki kedalaman lain supaya audiens bisa relate, malahan dia kadang terasa angkuh menyebalkan.
Bila ingin sekedar melihat protagonis doing cool, strong, smart stuff dibumbui misteri dan petualangan, dan diakhiri dengan mendapat harta yang bisa bikin lebih cool, strong, smart lagi, TOMB RAIDER KING mungkin bisa jadi pilihan.

Review Tomb Raider King Eps.1 2
Berita Anime & Manga
Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 2: Otak Di Atas Otot, Kemenangan Strategi Tanpa Cheat!
www.gwigwi.com – Banyak anime fantasi memulai cerita dengan tokoh utama yang dibuang karena dianggap tidak berguna. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System mengambil pendekatan yang sedikit berbeda. Masalah Elymas bukan karena ia lemah, melainkan karena semua orang terlalu cepat menyimpulkan nilai seseorang hanya dari label kelas yang ia terima. Gelar Heavy Knight dianggap sebagai jalan buntu, sementara Swordmaster diperlakukan seperti satu-satunya masa depan yang layak. Keputusan ayahnya mengusir Elymas dan mengangkat adik tirinya dari cabang keluarga sebagai pewaris terasa lebih sebagai cerminan obsesi terhadap status daripada keputusan yang benar-benar rasional.
Yang menarik, Elymas tidak menghabiskan waktunya untuk meratapi nasib atau berteriak ingin balas dendam. Ia justru melihat pengasingan itu sebagai kesempatan memulai hidup tanpa ekspektasi keluarganya. Berbekal pengetahuan tentang mekanisme dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah membaca seluruh buku panduan, setiap keputusan yang diambil terasa penuh perhitungan. Kekuatan utama anime ini bukan aksi besar pada dua episode pertama, melainkan kepuasan melihat seseorang perlahan membalikkan stigma dengan logika, pengalaman, dan strategi.
Dari sisi produksi, GoHands kembali mempertahankan identitas visualnya. Desain karakter terlihat bersih dengan pencahayaan yang kaya, sementara latar memiliki detail yang membuat dunia fantasinya terasa hidup. Sayangnya, gaya penyutradaraan mereka masih sulit diabaikan. Kamera terus bergerak, melakukan panning, zoom in, dan zoom out bahkan ketika adegannya hanya percakapan sederhana. Ada momen ketika pergerakan kamera justru lebih aktif daripada karakter yang sedang berbicara. Bagi sebagian penonton ini menjadi ciri khas, tetapi bagi yang lain justru terasa mengalihkan perhatian dari cerita.
Dua episode pembuka ini belum menawarkan kejutan besar, tetapi berhasil menanam rasa penasaran. Anime ini tidak mencoba meyakinkan penonton bahwa Heavy Knight adalah kelas terkuat. Sebaliknya, ia mengajak penonton mempertanyakan apakah sebuah sistem benar-benar salah, atau manusianya saja yang terlalu cepat memberi cap pada sesuatu yang belum dipahami. Pendekatan tersebut membuat perjalanan Elymas terasa lebih menarik daripada sekadar kisah “tokoh yang diremehkan lalu menjadi overpowered.”
Nilai: 8,5/10. Premisnya memang familier, tetapi cara membangun karakter utama dan tema tentang prasangka terhadap potensi seseorang membuat serial ini memiliki identitas yang cukup kuat. Jika GoHands sedikit mengurangi “kamera yang hiperaktif”, pengalaman menontonnya akan terasa jauh lebih nyaman.

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2
Berita Anime & Manga
Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas yang Ternyata Overpowered!
www.gwigwi.com – Anime fantasi dengan tema tokoh utama yang diusir keluarganya memang bukan hal baru. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System (Tsuihou sareta Tensei Juukishi wa Game Chishiki de Musou suru) menghadirkan konflik yang cukup menarik sejak episode pertamanya. Elymas, putra keluarga bangsawan Edvaughn, dianggap gagal memenuhi harapan karena memperoleh kelas Heavy Knight, kelas yang dipandang tidak memiliki masa depan dibandingkan Swordmaster. Pandangan sempit tersebut membuat ayahnya mengambil keputusan yang sangat drastis.
Situasi semakin rumit ketika Malice, adik tiri Elymas yang berasal dari cabang keluarga, memperoleh kelas Swordmaster. Berbekal status tersebut, Malice dengan cepat menggantikan posisi Elymas sebagai pewaris resmi keluarga Edvaughn. Kudeta terhadap hak waris itu berlangsung tanpa banyak perlawanan karena seluruh keluarga lebih memilih mengejar prestise daripada menilai kemampuan seseorang secara objektif. Adegan ini menjadi fondasi konflik utama serial, sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah label mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.
Menariknya, Elymas tidak tenggelam dalam amarah atau sibuk merencanakan balas dendam. Ia menerima pengasingannya sebagai awal kehidupan baru. Berkat pengetahuannya mengenai sistem dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah menguasai seluruh mekanisme permainan, Elymas menyadari bahwa Heavy Knight bukanlah kelas yang seburuk anggapan banyak orang. Cara berpikirnya yang tenang dan penuh perhitungan membuat tokoh utama terasa berbeda dibanding protagonis fantasi pada umumnya yang sering mengandalkan ledakan emosi.
Dari sisi visual, GoHands kembali mempertahankan ciri khasnya. Desain karakter terlihat tajam dengan efek pencahayaan yang kaya, sementara latar dunia fantasinya memiliki detail yang memanjakan mata. Sayangnya, gaya sinematografi mereka masih menjadi pedang bermata dua. Kamera terus bergerak dengan panning, zoom, dan perubahan sudut yang cukup agresif, bahkan saat adegan dialog berlangsung. Bagi sebagian penonton hal ini memberikan kesan dinamis, tetapi tidak sedikit yang justru merasa pergerakannya terlalu berlebihan sehingga mengalihkan fokus dari percakapan para karakter.
Sebagai episode pembuka, anime ini berhasil memperkenalkan dunia, sistem kelas, serta konflik keluarga yang menjadi pemicu perjalanan Elymas. Alih-alih hanya menyajikan kisah tokoh yang diremehkan lalu menjadi sangat kuat, episode pertama lebih menekankan bagaimana prasangka dan obsesi terhadap status dapat membuat seseorang kehilangan haknya. Itulah yang membuat perjalanan Elymas terasa layak untuk terus diikuti.
Nilai: 8,5/10. Episode pertama berhasil membangun konflik dengan baik dan memperkenalkan karakter utama yang cerdas serta tenang. Jika GoHands sedikit mengurangi pergerakan kameranya yang terlalu aktif, pengalaman menonton akan terasa lebih nyaman tanpa mengurangi kualitas visual yang memang menjadi kekuatan mereka.
-
Box Office4 weeks agoReview Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli dari Vietnam
-
Laptop3 weeks agoHP EliteBook 8 G1i 14 AI: Tangguh untuk Bisnis, Siap Gaming Ringan
-
Box Office2 weeks agoReview The Death of Robin Hood, Akhir Tragis Sang Legenda
-
Serial Anime1 week agoReview Clevatess Season 2 Episode 1: Misi Rahasia Klen dan Alicia Dimulai, Visual Makin Manjakan Mata!
-
TV & Movies1 week agoREVIEW FILM MOANA (2026), Keindahan Visual Kepulauan Pasifik
-
TV & Movies1 week agoReview Film Love Barista, Megabintang yang Terdampar
-
News1 week agoAnime Festival Asia Rayakan Edisi ke-10 di Indonesia!
-
Gaming1 week agoAkhirnya Rilis! Wuthering Waves Versi 3.5 Hadirkan Region Baru dan Resmi Tuju Xbox!









