Connect with us

TV & Movies

Review Film Spider-Man Brand New Day, Best Spidey adaptation so far

Published

on

Review Film Spider Man Brand New Day, Best Spidey Adaptation So Far

www.gwigwi.com – Beberapa tahun telah berlalu sejak mantra Doctor Strange menghapus ingatan seluruh dunia tentang siapa Peter Parker?

Kini, Peter (Tom Holland) hidup dalam isolasi total di New York. MJ (Zendaya) dan Ned (Jacob Batalon) telah melanjutkan hidup mereka masing-masing tanpa mengingat sedikit pun tentang Peter.

Di tengah rasa kesepian dan perjuangan fisik akibat evolusi biologis DNA laba-laba dalam tubuhnya, Peter / Spider-Man mendapati kota New York terancam oleh serangkaian manipulasi pikiran dan kejahatan jalanan yang kian merajalela.

Review Film Spider Man Brand New Day, Best Spidey Adaptation So Far

Review Film Spider Man Brand New Day, Best Spidey Adaptation So Far

Situasi memaksa Spider-Man menjalin aliansi tak terduga serta berhadapan dengan birokrasi ketat Department of Damage Control yang dipimpin Bill Metzger (Tramell Tillman).

Langsung aja ke filmnya, film garapan sutradara Destin Daniel Cretton (Shang-Chi, Wonder Man) kali ini melakukan tindakan yang cukup berani. Ia menolak godaan multiverse dan memilih untuk menyelami jiwa Peter Parker.

Evolusi kekuatan Spider-Man berfungsi sebagai sebuah metafora mendalam tentang pendewasaan.

Peter belajar bahwa menjadi dewasa bukan sekadar memikul rasa sakit sendirian, melainkan tentang keberanian untuk membuka diri kembali meskipun ada risiko kehancuran emosional.

Secara sinematografi film keempat versi Tom Holland initerasa jauh lebih solid, bervolume, dan mengutamakan pemakaian practical effect dibanding penggunaan green screen yang berlebihan.

Filmnya sendiri membawa kita kembali pada estetika era Sam Raimi dan mengombinasikan keseriusan trauma dengan keindahan lanskap Manhattan.

Review Film Spider Man Brand New Day, Best Spidey Adaptation So Far

Review Film Spider Man Brand New Day, Best Spidey Adaptation So Far

Tidak lupa koreografi pertarungan close combat ala film Shang-Chi. Formula ini disajikan lagi di Spider-Man ketika melawan kelompok The Hand dan sekuens aksi bersama Bruce Banner / Hulk (Mark Ruffalo) terasa sangat hidup, mengalir, dan dinamis.

Kehadiran Frank Castle bukan sekedar cameo MCU. Pertemuan keduanya mempertemukan dua filosofi keadilan yang berbeda. Menurut The Punisher: Keadilan yang didorong oleh keputusasaan dan pembalasan dendam tanpa batas.

Sementara menurut Spider-Man: Keadilan yang bertumpu pada empati, kesabaran, dan pertanggungjawaban moral.

Interaksi diantara mereka menegaskan kembali prinsip dasar Spider-Man: memiliki kekuatan super adalah alat untuk melindungi kemanusiaan, bukan menghancurkannya.

Review Film Spider Man Brand New Day, Best Spidey Adaptation So Far

Review Film Spider Man Brand New Day, Best Spidey Adaptation So Far

Spider-Man Brand New Day secara cerdas bertindak sebagai soft reboot tanpa menghapus fondasi Trilogi Home.

Film ini membuktikan bahwa cerita skala kecil memiliki dampak emosional yang jauh lebih kuat bagi penonton dibandingkan ancaman skala kiamat antargalaksi.

Secara keseluruhan, Spider-Man Brand New Day adalah sebuah surat cinta untuk karakter Spider-Man dan para penggemarnya. Dengan memadukan aksi jalanan yang memukau, akting berkelas dari para cast-nya, serta eksplorasi psikologis yang menyentuh, film ini berhasil mereset arah MCU ke jalur yang tepat.

Advertisement

TV & Movies

Review Film Runner, Si Serius dan Si Jenaka Melawan Kartel

Published

on

Review Film Runner, Si Serius Dan Si Jenaka Melawan Kartel

Runner menghadirkan nostalgia film aksi era 90-an yang kental dengan formula buddy-cop atau dinamika partner bertolak belakang. Film ini merupakan duet Alan Ritchson—aktor macho berotot yang semakin melambung lewat serial Reacher—dengan Owen Wilson yang terkenal dengan gaya humor santai dan banyak omong.

Hank Malone (Alan Ritchson), seorang mantan anggota Navy SEAL yang kini bekerja sebagai pengantar barang rahasia (runner), mendapatkan misi berisiko tinggi: mengantarkan organ hati yang sangat langka ke sebuah rumah sakit demi menyelamatkan nyawa seorang gadis kecil. Namun, tugas ini menjadi rumit ketika ia dipaksa membawa Ben Bishop (Owen Wilson), sang kurir medis ceroboh dan penuh bicara yang bertanggung jawab atas organ tersebut. Perjalanan mereka berubah menjadi kejaran hidup dan mati ketika sekelompok tentara bayaran dan kartel kejam berusaha merebut organ tersebut. Tanpa pilihan lain, Hank yang berotot dan disiplin harus bekerja sama dengan Ben yang serba santai demi menyelesaikan misi di tengah rentetan tembakan.

Review Film Runner, Si Serius Dan Si Jenaka Melawan Kartel

Review Film Runner, Si Serius Dan Si Jenaka Melawan Kartel

Dinamika antara Alan Ritchson dan Owen Wilson menjadi motor utama yang menghidupkan film ini:

Alan Ritchson tampil layaknya jagoan yang berintegritas tanpa kompromi dan mampu merobohkan musuh, sementara Owen Wilson hadir mencairkan suasana lewat celetukan santai khasnya yang terus mengoceh di tengah situasi kritis.

Sutradara Scott Waugh mengemas baku tembak, perkelahian fisik, dan kejar-kejaran mobil secara intens tanpa terlalu banyak mengandalkan efek visual yang berlebihan.

Review Film Runner, Si Serius Dan Si Jenaka Melawan Kartel

Review Film Runner, Si Serius Dan Si Jenaka Melawan Kartel

Dari segi cerita, Runner terbilang lumayan klise khas film action dengan plot hole dimana penjahatnya punya banyak kesempatan untuk mengeksekusi Hank tapi tidak dilakukan. Namun, fokusnya yang jelas pada keseruan dan komedi membuat film berdurasi singkat ini tetap seru untuk dinikmati.

Secara keseluruhan, Runner mungkin tidak menawarkan alur cerita yang mendalam, tetapi kombinasi aksi brutal ala Alan Ritchson dan karisma komedi Owen Wilson menjadikannya tontonan aksi komedi 90-an seperti Rush Hour atau Shanghai Noon yang sangat menghibur.

Continue Reading

TV & Movies

Magnifique Group Angkat Diskusi tentang Masa Depan Media dan Kepercayaan terhadap AI melalui Dua Kelas Khusus di IdeaFest 2026

Published

on

By

Magnifique Group Angkat Diskusi Tentang Masa Depan Media Dan Kepercayaan Terhadap Ai Melalui Dua Kelas Khusus Di Ideafest 2026

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) semakin mengubah cara manusia bekerja, mencari informasi, berkomunikasi, hingga menciptakan karya. Di tengah perubahan tersebut, Magnifique Group 360° creative and visual communication agency yang bergerak di bidang PR, creative, digital, dan brand activation – mendorong percakapan mengenai satu pertanyaan penting: ketika teknologi semakin mampu mengambil alih berbagai proses, apa yang membuat manusia tetap relevan?

Memasuki tahun keenamnya sebagai PR agency partner IdeaFest, Magnifique Group menghadirkan dua sesi IdeaTalks pada IdeaFest 2026 yang berlangsung pada 4-6 September 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan. Kedua sesi tersebut membahas perkembangan AI dari dua perspektif yang saling melengkapi, yaitu “ReHumanizing Journalism: What Makes Media Matter in the Age of AI?” dan “In AI We Trust? Rethinking Strategy, Connection, and Creativity in The Age of AI”.

Magnifique Group Angkat Diskusi Tentang Masa Depan Media Dan Kepercayaan Terhadap Ai Melalui Dua Kelas Khusus Di Ideafest 2026

Magnifique Group Angkat Diskusi Tentang Masa Depan Media Dan Kepercayaan Terhadap Ai Melalui Dua Kelas Khusus Di Ideafest 2026

 

Ketika AI Mengubah Cara Kita Memahami Informasi

Sesi “ReHumanizing Journalism: What Makes Media Matter in the Age of AI?” membahas perubahan ekosistem media ketika AI semakin mampu menghasilkan, merangkum, dan mendistribusikan informasi dengan cepat.

Saat masyarakat dapat mencari jawaban melalui AI tanpa harus mengunjungi situs media, media profesional menghadapi pertanyaan baru mengenai relevansi dan perannya. Melalui sesi ini, Jaka Darwis, Associate Director Magnifique Group, mengajak empat pemimpin media untuk membahas bagaimana media dapat tetap relevan di tengah perubahan tersebut. Mereka adalah Antonius Tomy Trinugroho, Deputy Managing Editor Kompas Daily/Kompas.id; Mahardi Eka Putra, Editor in Chief KapanLagi.com; Sena Achari, Direktur Product Detikcom; serta Uni Lubis, Editor in Chief IDN Times.

Diskusi ini mengeksplorasi bagaimana media dapat memanfaatkan AI tanpa kehilangan fondasi jurnalisme, mulai dari human judgement, empati, dan etika hingga storytelling dan kredibilitas. Salah satu pertanyaan utama yang dibawa dalam sesi ini adalah: “Kalau AI sudah bisa menulis breaking news dalam hitungan detik, merangkum laporan panjang, bahkan menjawab pertanyaan tanpa membuka website media, mengapa masyarakat masih membutuhkan media profesional?”

Bagi Magnifique Group, perkembangan ini menunjukkan bahwa peran media tidak lagi hanya tentang menjadi yang pertama menyampaikan informasi, tetapi juga membantu publik memahami konteks, menentukan apa yang relevan, dan membangun kepercayaan terhadap informasi yang mereka konsumsi. Perspektif ini juga menjadi semakin relevan bagi industri komunikasi secara lebih luas, ketika teknologi memungkinkan pesan diproduksi dengan semakin cepat dan mudah.

Magnifique Group Angkat Diskusi Tentang Masa Depan Media Dan Kepercayaan Terhadap Ai Melalui Dua Kelas Khusus Di Ideafest 2026

Magnifique Group Angkat Diskusi Tentang Masa Depan Media Dan Kepercayaan Terhadap Ai Melalui Dua Kelas Khusus Di Ideafest 2026

AI Sebagai Partner Dalam Berkarya

Saat ini, AI tidak lagi hanya digunakan sebagai tool. Teknologi ini mulai mengambil peran sebagai sumber informasi, pemberi rekomendasi, hingga thinking partner yang turut memengaruhi cara manusia bekerja, berkarya, dan mengambil keputusan.

Melalui kelas kedua yang dipandu oleh Ayu Kartika, PR Lead Magnifique Group, Magnifique mempertemukan Edward Halim, Content Creator; Shahnaz Soehartono, Writer and Creator of Onlights; serta Nia Dinata, Director and Screenwriter of Berbagi Suami 2.0 dalam kelas bertajuk “In AI We Trust? Rethinking Strategy, Connection, and Creativity in the Age of AI”.

Diskusi ini mengeksplorasi bagaimana kehadiran AI mulai mengubah proses manusia dalam menciptakan suatu karya, membangun kredibilitas, dan terhubung dengan audiens. Namun, di tengah teknologi yang semakin mampu menghasilkan berbagai bentuk output, kelas ini juga membuka satu pertanyaan besar: “Apakah AI sedang menjadi “otoritas baru’’ dalam kehidupan kita?”

Magnifique mengajak audiens untuk melihat bahwa manusia tetap memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana suatu karya dapat diterima dan menjadi lebih relevan dengan masyarakat luas. Menjadikan AI sebagai teman berpikir bukan berarti menyerahkan seluruh pertimbangan kepada teknologi tersebut, melainkan memahami kapan AI dapat dipercaya dan kapan manusia perlu tetap menggunakan perspektif serta penilaiannya sendiri.

 

Membawa Human Perspective ke Masa Depan Komunikasi

Melalui kedua sesi tersebut, Magnifique Group melihat bahwa AI akan terus berkembang dan menjadi bagian dari berbagai proses kerja, termasuk di industri media, komunikasi, dan kreatif. Namun, perkembangan tersebut justru membuat kemampuan manusia untuk berpikir kritis, memahami konteks, menentukan arah, membangun kredibilitas, serta menciptakan koneksi yang autentik menjadi semakin penting.

Kedua sesi ini juga mencerminkan pendekatan Magnifique dalam melihat perubahan industri: bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi mempertanyakan bagaimana teknologi dapat digunakan secara relevan dalam membangun komunikasi yang lebih bermakna bagi manusia.

Sebagai 360° creative and visual communication agency, Magnifique Group terus membuka ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif dari industri komunikasi dan kreatif. Melalui keterlibatannya di IdeaFest 2026, Magnifique membawa diskusi dari ruang media hingga proses kreatif untuk menjawab pertanyaan yang sama: di tengah dunia yang semakin didorong oleh teknologi, bagaimana kita memastikan manusia tetap menjadi pusat dari setiap ide, keputusan, dan koneksi?

Continue Reading

TV & Movies

Buka Proyek Solo Perdana, Tomohiro Kamiyama (WEST.) Rilis Album “INPUT⇄OUTPUT” Secara Global!

Published

on

By

Buka Proyek Solo Perdana, Tomohiro Kamiyama (west.) Rilis Album “input⇄output” Secara Global!

Kabar gembira untuk para Gwiple dan pencinta musik J-Pop! Tomohiro Kamiyama, salah satu personel dari grup idola populer WEST., resmi merilis album solo pertamanya yang bertajuk “INPUT⇄OUTPUT”. Album ini meluncur secara global dan kini sudah bisa dinikmati di berbagai platform musik digital seperti YouTube Music, Spotify, Apple Music, dan layanan streaming pilihan lainnya melalui tautan resmi Tomohiro Kamiyama Linktree.

Bersamaan dengan peluncuran album, Kamiyama juga menyuguhkan video lirik (Lyric Video) untuk lagu teranyarnya berjudul “No Filter” yang dapat disaksikan di kanal YouTube resminya melalui Tautan Lyric Video “No Filter”.

Eksplorasi Genre Tanpa Batas Garapan Sendiri

Sejak pertama kali mengumumkan proyek solo orisinalnya pada bulan Juli lalu, album “INPUT⇄OUTPUT” menjadi wadah penyaluran ide serta talenta musik Kamiyama. Menariknya, seluruh lagu dalam album ini ditulis dan diproduseri langsung oleh Kamiyama sendiri!

Album ini menyajikan ragam genre musik yang bervariasi, mulai dari lagu perayaan ulang tahunnya yang sempat dirilis secara mengejutkan berjudul “G.O.D.”, hingga lagu rap bertempo kencang “No Filter”.

Bertabur Kolaborasi Musisi Papan Atas Jepang

Tak hanya memamerkan kemampuan menulis lagu dan produksi musik secara mandiri, album “INPUT⇄OUTPUT” semakin berwarna lewat kolaborasi spesial bersama deretan musisi dan komposer kenamaan di kancah musik modern Jepang, antara lain:

  • Sota Hanamura (Da-iCE)

  • KNOCK OUT MONKEY

  • Daisuke Ozasa (Official HIGE DANdism)

  • Shota Yasuda (SUPER EIGHT) — yang merupakan seniornya di STARTO ENTERTAINMENT kawasan Kansai.

Lewat kombinasi bakat alami dan chemistry bersama jajaran artis papan atas tersebut, Kamiyama berhasil mengubah seluruh inspirasi yang ia dapatkan (INPUT) menjadi sebuah mahakarya musik yang memukau (OUTPUT).

Bagi kamu yang ingin mendengarkan warna baru dari musikalitas Tomohiro Kamiyama, album “INPUT⇄OUTPUT” serta video lirik “No Filter” sudah bisa diakses sekarang juga!

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending