TV & Movies
SAMBUT HADIRNYA DISNEY’S “THE LITTLE MERMAID”, DISNEY INDONESIA PERSEMBAHKAN KOLABORASI SPESIAL BERSAMA TALENTA LOKAL INDONESIA
www.gwigwi.com – Bulan Mei ini, Disney Studios mempersembahkan film live-action reimagining dari animasi klasik Disney’s “The Little Mermaid”, yang menceritakan tentang seorang putri duyung cantik dan bersemangat yang haus akan petualangan. Ariel adalah putri bungsu Raja Triton yang penuh dengan keberanian dan memiliki rasa ingin tahu lebih akan dunia di atas laut. Ariel kemudian mengunjungi permukaan laut dan jatuh cinta pada Pangeran Eric yang memesona. Putri duyung sebenarnya dilarang berinteraksi dengan manusia. Namun, Ariel harus mengikuti keinginan hatinya. Ariel kemudian membuat perjanjian dengan penyihir laut yang jahat bernama Ursula untuk mendapatkan kesempatan hidup di daratan. Sebuah perjanjian yang menempatkan hidupnya dan kerajaan ayahnya dalam bahaya.
“The Little Mermaid” dibintangi oleh penyanyi dan aktris Halle Bailey (“grown-ish”) sebagai Ariel; Jonah Hauer-King (“A Dog’s Way Home”) sebagai Pangeran Eric; Pemenang Tony Award® Daveed Diggs (“Hamilton”) sebagai pengisi suara Sebastian; Awkwafina (“Raya and The Last Dragon”) sebagai pengisi suara Scuttle; Jacob Tremblay (“Luca”) sebagai pengisi suara Flounder; Noma Dumezweni (“Mary Poppins Returns”) sebagai Ratu Selina; Art Malik (“Homeland”) sebagai Sir Grimsby; dengan pemenang Oscar® Javier Bardem (“No Country for Old Men”) sebagai Raja Triton; dan peraih dua kali nominasi Academy Award® Melissa McCarthy (“Can You Forgive Me” “Bridesmaids”) sebagai Ursula.
Untuk merayakan perilisan Disney’s “The Little Mermaid”, Disney Indonesia berkolaborasi dengan talenta-talenta lokal untuk membawa cerita dan karakter-karakter film tersebut semakin dekat dengan penggemar di Indonesia. Salah satu kolaborasi yang dilakukan adalah kolaborasi bersama Fashion Stylist Wanda Haraa dan Underwater Photographer Martha Suherman, untuk melakukan sesi underwater photoshoot bersama selebritis -selebritis Indonesia. Dalam sesi photoshoot yang terinspirasi dari Disney’s “The Little Mermaid” ini, Wanda Hara membawakan 14 gaya busana yang dikenakan oleh selebriti berbakat Indonesia seperti Titi DJ, Naura Ayu, Shenina Cinnamon, Angga Yunanda, Rizky Nazar, Syifa Hadju, Caitlin Halderman, Rangga Azof, Sandrinna Michelle, Junior Roberts, dan Frederika Alexis Cull.

Sambut Hadirnya Disney’s “the Little Mermaid”, Disney Indonesia Persembahkan Kolaborasi Spesial Bersama Talenta Lokal Indonesia

Sambut Hadirnya Disney’s “the Little Mermaid”, Disney Indonesia Persembahkan Kolaborasi Spesial Bersama Talenta Lokal Indonesia

Sambut Hadirnya Disney’s “the Little Mermaid”, Disney Indonesia Persembahkan Kolaborasi Spesial Bersama Talenta Lokal Indonesia

Sambut Hadirnya Disney’s “the Little Mermaid”, Disney Indonesia Persembahkan Kolaborasi Spesial Bersama Talenta Lokal Indonesia

Sambut Hadirnya Disney’s “the Little Mermaid”, Disney Indonesia Persembahkan Kolaborasi Spesial Bersama Talenta Lokal Indonesia

Sambut Hadirnya Disney’s “the Little Mermaid”, Disney Indonesia Persembahkan Kolaborasi Spesial Bersama Talenta Lokal Indonesia

Sambut Hadirnya Disney’s “the Little Mermaid”, Disney Indonesia Persembahkan Kolaborasi Spesial Bersama Talenta Lokal Indonesia

Sambut Hadirnya Disney’s “the Little Mermaid”, Disney Indonesia Persembahkan Kolaborasi Spesial Bersama Talenta Lokal Indonesia
Sesi pemotretan ini merupakan pengalaman pertama bagi para selebritis yang berpartisipasi dan juga Wanda Haraa karena teknik foto yang dilakukan di bawah air. Sebelum pemotretan dimulai, para selebritis diberi pengarahan teknik menyelam dari diver instructor agar kegiatan berjalan dengan lancar. “Ini pengalaman pertama untuk aku sebagai fashion stylist untuk melakukan underwater photoshoot ini. Awalnya aku sempat khawatir kalau para kolaborator di dalam photoshoot ini tidak mampu menyelam. Tapi ternyata semuanya senang dan malah cukup betah berlama-lama diving,” jelas Wanda Haraa.
“Senang sekali bisa berkolaborasi dengan Disney Indonesia dan Wanda Haraa untuk menghasilkan karya foto yang sangat menantang tapi juga sangat seru. Tidak terasa kami menghabiskan waktu sekitar 14 jam di dalam air untuk menghasilkan foto yang maksimal,” tambah Martha Suherman. Underwater photoshoot karya Wanda Haraa dan Martha Suherman ini dapat dinikmati para penggemar dalam Disney’s “The Little Mermaid” Inspired Photo Exhibition di Plaza Senayan Atrium mulai dari tanggal 20 Mei 2023.

Sambut Hadirnya Disney’s “the Little Mermaid”, Disney Indonesia Persembahkan Kolaborasi Spesial Bersama Talenta Lokal Indonesia

Sambut Hadirnya Disney’s “the Little Mermaid”, Disney Indonesia Persembahkan Kolaborasi Spesial Bersama Talenta Lokal Indonesia

Sambut Hadirnya Disney’s “the Little Mermaid”, Disney Indonesia Persembahkan Kolaborasi Spesial Bersama Talenta Lokal Indonesia

Sambut Hadirnya Disney’s “the Little Mermaid”, Disney Indonesia Persembahkan Kolaborasi Spesial Bersama Talenta Lokal Indonesia
“The Little Mermaid” disutradarai oleh peraih nominasi Oscar® Rob Marshall (“Chicago,” “Mary Poppins Returns”), dan cerita ditulis oleh peraih dua nominasi Oscar David Magee (“Life of Pi,” “Finding Neverland”). Musik dibuat oleh pemenang Academy Award® Alan Menken (“Beauty and the Beast,” “Aladdin”), lirik oleh Howard Ashman dan lirik baru oleh pemenang tiga Tony Award® Lin-Manuel Miranda. Film ini diproduksi oleh pemenang dua Emmy® Marc Platt (“Jesus Christ Superstar Live in Concert,” “Grease Live!”), Miranda, pemenang dua Emmy John DeLuca (“Tony Bennett: An American Classic”), dan Rob Marshall, dengan Jeffrey Silver (“The Lion King”) sebagai produser eksekutif. “The Little Mermaid” tayang di bioskop Indonesia 24 Mei 2023.
TV & Movies
Review Film HOPE, Big Trouble in Little Village
Bencana besar di desa kecil. Mungkin deskripsi yang pas untuk HOPE.
Teror monster yang biasa menimpa kota besar, melibatkan tentara dan ilmuwan, kini harus dihadapi Beom Se-Ok (Hwang Jung-Min) kepala polisi lokal, sepupunya Sung Ki (Zo In-sung), para pemburu, peternak babi, tukang jugal daging dan warga desa lain.
Dari eksekusi sinematografinya, kamera mengisolasi POV penonton pada perjalanan tiap karakternya secara eye level napak tanah untuk mengungkap misteri layaknya progress video game. Bahkan sampai protagonis dapat upgrade senjata, berganti senapan yang lebih kuat. Mengkuti jejak si monsters dari jalanan, toko-toko sampai ke gang-gang kecil.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village
Cara demikian melokalisir teror pada skala kecil yang justru membuat lebih ngeri dibanding film monster umumnya yang seakan ingin main skala besar secepatnya.
Audiens tak melihat sosok si monster tapi dari kehancuran, gelimpangan mayat dan bangkai berceceran yang diakibatka, gambaran mengerikannya sudah begitu kuat.
Begitu saat akhirnya si sumber horror diperlihatkan…hem. Mengingatkan pada CG game zaman PS3? Barangkali terkendala budget tapi mengingat monster ini ternyata mempunyai peran yang lebih penting lagi, agak membingungkan kenapa tampilannya tidak dicoba lebih meyakinkan lagi.
Beruntung aksi cepat dan brutalnya menghujam efektif sampai rasanya kekurangan itu cukup termaafkan.
Kelemahan umum film monster, manusianya, justru menyala di sini.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village
Sembari tensi terus terjaga, HOPE mampu mengenalkan para karakternya secara singkat baik dengan cerita konyol atau pun sekedar dari bagaimana mereka memburu si monster. Sampai rasanya audiens sudah klop bersama mereka padahal baru sebentar. Polisi wanita Hoyeon (Sung-Ae) tak diperkenalkan bertele-tele, dari cara dia bernafsu mengejar si monster langsung membuat dia memorable.
Aksi tegang dan kadang bisa-bisanya dibumbui komedi memang mewarnai klimaks, tapi juga berasa terlalu diperpanjang. Tambah lagi ternyata film diakhiri dengan cliffhanger yang membuka sisi lain dari para monster. Untung saja paruh awal dan tengahnya cukup kuat sehingga rasa nanggung tak sampai mengganggu.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village
HOPE seakan apabila Godzilla plus ALIEN dialami desa kecil di provinsi anda dan cerdas sekali memanfaatkan keunikan itu baik secara sosiologi manusianya dan kulturnya. Mungkin penonton hanya banyak melihat Hope Harbor dalam keadaan hancur tapi bisa jadi warga dan daerahnya lebih membekas di benak penonton dibanding film monster lain. Dan demikian rasanya sungguh key selling point dari film yang barangkali kurang memenuhi ekspektasi fans sutradara Na Hong-Jin paska THE WAILING.
Apakah terus bisa dia kawinkan aspek itu dengan aliennya nanti untuk sekuel yang sudah ditease? We may hope so….
TV & Movies
Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata
www.gwigwi.com – John Miller (Alan Ritchson), seorang veteran Perang Vietnam yang bekerja di pabrik perakitan mobil, dijebak atas kejahatan yang tidak ia lakukan oleh Reynolds (Ben Foster), seorang penguasa mafia lokal yang terobsesi pada kekasih John, Sophia (Shailene Woodley).
Divonis 25 tahun di penjara berkeamanan maksimum, John bertahan hidup hanya dengan satu tujuan: keluar dan menuntaskan dendam.
Ketika kesempatan itu tiba, John melancarkan perburuan berdarah menyusuri jalanan Detroit yang dingin dan korup, melintasi jajaran anak buah Reynolds yang dijaga oleh seorang polisi korup bertangan besi (Pablo Schreiber).

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata
Sutradara Potsy Ponciroli (Old Henry) kembali memamerkan keahliannya dalam mengolah cerita klasik menjadi sajian visual yang segar melalui Motor City.
Setting kota Detroit tahun 1970-an yang kelam, film action-thriller ini mengusung eksperimen berani. Menyajikan kisah balas dendam yang intens dengan dialog yang dipangkas hampir sepenuhnya, menyerahkan seluruh penyampaian emosi pada gestur, aksi, dan desain suara.
Estetika gritty era 70-an dengan warna-warna pudar dan pencahayaan bernuansa neo-noir. Tanpa kata-kata, deru mesin mobil muscle, dentuman senapan, dan koreografi pertarungan menjadi “dialog” utama.
Penggunaan mobil antik, outfit era 70-an, serta lagu-lagu rock klasik memperkuat suasana kota industri yang sedang runtuh.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata
Menurut gue ini adalah hal yang sangat berani. Serta membuang dialog eksposisi yang membuat penonton harus fokus pada aksi instinktif dan emosi karakter.
Dari jajaran cast, Alan Ritchson memanfaatkan postur fisiknya yang intimidatif secara maksimal. Tanpa bantuan dialog, ia mengandalkan tatapan mata, nafas yang berat, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan kepedihan, rasa kehilangan, serta kemarahan murni.
Begitu juga dengan Ben Foster yang tampil mengintimidasi lewat aura psikologis yang dingin, sementara Pablo Schreiber memberikan ancaman fisik yang seimbang dengan karakter Ritchson.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata
Buat gue film ini emang cocok-cocokan dengan penonton masa kini. Bagi yang terbiasa dengan dialog cepat atau pacing modern, beberapa transisi babak tengah mungkin terasa berjalan lambat.
Secara keseluruhan, Motor City merupakan penghormatan yang solid terhadap genre action-thriller klasik.
Film ini membuktikan bahwa Alan Ritchson as an actor tidak hanya mengandalkan fisik semata, melainkan juga kemampuan akting non-verbal yang kuat di bawah arahan sutradara yang tepat.
TV & Movies
Review Film INSIDIOUS OUT OF THE FURTHER, Wahana Rumah Hantu ala The Further
www.gwigwi.com – Gemma (Amelie Eve) memiliki masa kecil buruk dengan Ibunya (Laura Gordon) dan berniat menjadi Ibu lebih baik untuk anaknya, Maya (ISLAND Austin).
Sampai dia dihantui mimpi mengerikan yang bisa jadi lebih dari sekedar khayalannya dan berhubungan dengan masa lalunya.
Kembali lagi franchisee horror yang film pertamanya sukses meski low budget dan ternyata penonton masih mau kembali mengeksplorasi alam barzah khas INSIDIOUS yakni the further.

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further
Dengan film ke 6 filmmaker seolah bermain dengan konsep untuk mengeksploitasi the further. Setelah dapat, seakan barulah dibuat cerita seputar itu dan rasanya memang demikian.
Motivasi yang trigger emosi penonton seputar hubungan ibu anak dan mencoba memutus trauma generasional. Diselingi permainan ketegangan yang lumayan oke memakai syaitonirojim dan eksplorasi the further, di mana paruh ketiganya memang cukup seru dan tak terduga.
Semuanya fine saja dan mungkin itulah fault dari INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER ini; wahana seram-seraman yang terasa eksploitasi (dalam artian yang masih terbilang baik) franchise saja. Bila penonton senang, sampai INSIDIOUS 11 pun seakan dijabanin BLUMHOUSE PRODUCTION.
INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER seolah hasil dari pikiran; karena penonton masih mau, maka filmmaker akan coba segala hal untuk isi gas franchisenya. Apakah mereka akan menemukan alasan kuat lagi untuk penonton mau kembali menjelajah The Further? We'll see…
-
TV & Movies2 weeks agoReview Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk
-
Gaming3 weeks agoArknights Resmi Rilis Versi PC, Berikut Spesifikasi yang Dibutuhkan
-
TV & Movies4 weeks agoReview Film Dear You, Surat yang Terlupakan
-
Gaming3 weeks agoArknights: Endfield Segera Hadir di Steam, Akses Pemain PC Bakal Lebih Mudah
-
TV & Movies3 weeks agoReview Film Seni Merayu Tuhan, Drama Religi 2.0?
-
News2 weeks agoFate/Grand Order Rilis Video Pembuka Pameran, Dianimasikan oleh CloverWorks
-
Berita Anime & Manga2 weeks agoOvergeared Ungkap Trailer Kedua, Visual Baru, dan 6 Karakter Tambahan
-
TV & Movies2 weeks agoReview Film Kung Fu Soccer, Evolusi Komedi Absurd Stephen Chow di Era Modern




