News
Review : Xiaomi Mi A1, Android One, Dual Camera, 3jt-an. Kurang Apa Lagi?
GwiGwi.com – Setelah Samsung mengeluarkan penerus dan penghilang rasa sakit hati fans yaitu Galaxy Note 8 dengan fitur kamera dua lensa yang waw, dan juga Motorola dengan G5S Plus yang resmi masuk di Indonesia dengan fitur kamera dua lensa color+monochrome juga yang dijanjikan bisa menghasilkan kualitas yang oke, Xiaomi memboyong smartphone budget-nya yang juga mengsung Dual-Lens Camera yaitu Xiaomi Mi A1.
Xiaomi terkenal dengan budget smartphones-nya yang bisa dibilang gahar dibandingkan pesaingnya di kelas yang sama seperti Lenovo K-series, dan juga Samsung J Series. Tahun 2017 awal pun Xiaomi cukup handal dalam hal penjualan melalui Redmi Note 4 yang memang resmi masuk ke Indonesia melalui Erajaya dan juga Lazada Indonesia. Pada 5 September lalu, Xiaomi resmi meluncurkan Mi A1 sebagai petarung di kelas budget dengan fitur dua buah kamera, sebuah fitur yang mulai menjadi trending setelah iPhone memperkenalkan portrait mode yang membuat kamera smartphone bagaikan kamera DSLR dan akhirnya juga ditekankan oleh manufaktur lainnya yang juga memboyong 2 buah mata untuk smartphone mereka seperti LG G6, One Plus 5, dan juga Samsung Galaxy Note 8. Xiaomi kemudian mengumumkan kehadiran Mi A1 di beberapa negara lain, seperti Malaysia, Singapura, dan tentunya Indonesia dimana launchingnya sendiri di tanah air adalah pada 22 September 2017, dan penjualan perdana pada 2 Oktober 2017 melalui Mi Store di Summarecon Serpong, dan juga Summarecon Bekasi.
Namun, tentunya dengan konsep budget tidak akan bisa membawa Mi A1 ke panggung yang sangat besar. Akan tetapi ada satu langkah menarik yang diambil oleh Xiaomi untuk Mi A1 ini. Mi A1 terlahir dari kerjasama Google, sebagai perusahaan pemilik Android OS dan juga Xiaomi. Ini membuat Mi A1 masuk dalam projek Android One yang sudah lama terpendam dan bisa dibilang “gagal” pada masanya. Inilah sepertinya yang dapat menjadi taring terkuat Mi A1 dibandingkan para kompetitor.
Silahkan simak artikel dibawah untuk Review lebih dalam mengenai Mi A1 dan juga kenapa Mi A1 bisa menjadi pilihan tepat untuk yang sedang ingin upgrade ke Budget Smartphone, atau ingin mencicipi teknologi yang tergolong cukup baru tapi tidak ingin merogoh kocek hingga belasan juta rupiah.
Spesifikasi Xiaomi Mi A1
| Operating System | Android 7.1.2 Nougat |
| Layar Display | 5.5-inch IPS LCD 1920 x 1080 (403ppi) Gorilla Glass, 2.5D curved glass |
| Prosesor | Qualcomm Snapdragon 625 2.0GHz octa-core Cortex A53 14nm FinFET |
| GPU | Adreno 506 |
| RAM | 4GB |
| Penyimpanan | 64GB |
| Penyimpanan Eksternal | Ya, sampai dengan 128GB |
| Baterai | 3080mAh |
| Charger | USB-Type C |
| Kamera Belakang | Wide : 12MP wide-angle (OmniVision OV12A10) f/2.2, 1.25-micron pixels Dual tone flash, PDAF 4K@30FPSTele : 12MP telephoto (OmniVision OV13880) f/2.6, 1.1-micron pixels |
| Kamera Depan | 5MP 1080p video |
| Koneksi | Wi-Fi 802.11 ac, Bluetooth 4.2 IR blaster, 3.5mm jack GPS/AGPS, GLONASS, BeiDou |
| Audio | 3.5mm colokan Headphone Amplifier tersendiri |
| Fitur Keamanan | Sensor sidik jari pada bagian belakang. |
| SIM | Dual SIM slot (hybrid slot) |
| Dimensi | 155.4 x 75.8 x 7.3mm 165g |
| Opsi Warna | Black, Gold, Rose Gold |
Xiaomi Mi A1 – Design | 8/10
Design dari Mi A1 tidak terlalu mencengangkan. Tidak ada fullview display ataupun infinity display yang sekarang mulai menjajal menjadi trend seperti yang dapat ditemukan pada smartphone kelas atas seperti Galaxy S8/S8+/Note 8, iPhone X, dan juga LG G6. Namun demikian, design yang diusung Mi A1 tidaklah murahan. Badannya terbalut oleh desain yang premium dan juga full metal chasis yang berarti di keseluruhan tubuhnya kecuali layar depan, terbuat dari aluminium kualitas premium, mirip dengan yang dimiliki oleh iPhone.
Selain itu, antena yang dimiliki Mi A1 tertutup rapih, melengkung dibagian atas dan dibawah atau gampangnya disebut u-shaped jadi tidak kentara terlihat seperti yang ditemukan pada lini Redmi Note dari Xiaomi. Lengkungan yang dimiliki oleh Xiaomi juga nyaman dipegang, walaupun memang hingga saat ini, saya masih sangat merasa nyaman dengan bentuk dari Galaxy S8 yang melekung. Namun demikian, Mi A1 tetap terlihat tipis dan oke banget mengingat, kembali lagi, Mi A1 jatuh di segmentasi budget.
Ketipisan yang dimiliki Mi A1 tadi memang memiliki kekurangan. Walau nyaman dipegang dan beratnya yang cukup pas di 165 gram saja, kamera yang menjadi pionir dari Mi A1 ini terlihat timbul dan memberi rasa was-was apabila bagian belakang bersentuhan langsung dengan permukaan, tanpa adanya case yang memberikan perlindungan. Namun demikian, selain rasa was-was, tonjolan kameranya tidak membuat design Mi A1 menjadi jelek.
Perlu diketahui, bahwa sebenernya Mi A1 sudah dirilis sebelumnya di China dengan nama Mi 5X dan tetap mengusung OS Android hasil racikan Xiaomi, MIUI.
Xiaomi Mi A1 – Display | 7/10
Layar yang selalu menjadi jendela antara pengguna dan juga smartphone menjadi concern utama beberapa manufaktor smartphone. Layar Mi A1 cukup baik, tapi cukup sampai disitu saja. Hasil reproduksi layar Mi A1 dalam balutan Kaca 2.5D dan juga Corning Gorilla Glass 3 sebagai perlindungannya, dalam resolusi Full HD sebesar 5.5 inci mampu menghasilkan display yang cukup baik, namun tidak memukau seperti yang dimiliki oleh AMOLED Display.
Dibawah cahaya matahari, layarnya cukup terang untungnya, dan area penglihatan dari Mi A1 pun cukup oke jadi bisa dimaklumi kenapa layar yang dipakai tidak menggunakan panel yang memang top-end seperti AMOLED.
Xiaomi Mi A1 – Hardware | 7/10
Prosesor yang diusung oleh Mi A1 adalah Qualcomm Snapdragon 625. Xiaomi sepertinya sudah sangat nyaman dengan prosesor ini karena sejak Redmi Note 4, Xiaomi selalu mengusung prosesor ini untuk kelas bawah, sedangkan untuk Mi 6 memakai SD 835, sama seperti yang digunakan oleh flagship kebanyakan. Secara spesifikasi di kertas, 625 memang cukup fleksibel dikarenakan oleh teknologi yang diusungnya yaitu 14nm FinFET yang digadang oleh Qualcomm dan juga Xiaomi sebagai proses yang kuat, namun hemat energi, seperti mana yang merupakan impian Xiaomi untuk merilis smartphone seharga 3jt-an namun mampu melewati sehari-dua hari saat lupa di charge.
RAM yang diusungnya sebesar 4GB, dan juga ROM 64GB, tanpa ada konfigurasi lain seperti 6+128, ataupun 3/32. Ini membuat Mi A1 kurang lebih setara atau sedikit lebih baik dibandingkan Redmi Note 4 dengan konfigurasi 4+64. Apakah bisa dibilang cukup? Menurut saya cukup banget. Benchmark untuk smartphone beberapa tahun terakhir terpaku pada konfiguras 4GB untuk RAM dan 64GB atau 32GB untuk ROM, dan ini sudah cukup bertahan selama 2 tahun terakhir bahkan untuk smartphone kelas atas yang memiliki konfigurasi serupa seperti Galaxy Note 5, S8, dan juga G6. Apabila kapasitas penyimpanannya kurang, slot SIM Card yang kedua dapat digunakan juga sebagai slot microSD, namun dengan mengorbankan ketersediaan SIM ke-2.
Sensor-sensor yang dimilikinya bisa dibilang cukup standard. Wi-Fi 802.11 ac, Bluetooth 4.2, IR blaster, 3.5mm jack, GPS/AGPS, GLONASS, BeiDou telah disematkan dalam bodi ramping dari Mi A1. Namun sangat disayangkan, sesuatu NFC atau Near Field Communication tidak diikutsertakan kedalam Mi A1. Padahal, Indonesia sedang memasuki era cashless dan NFC sepertinya sangat bisa dipercaya untuk meng-handle perubahan yang sedang dialami di Indonesia.
Xiaomi juga menyematkan capacitive buttons untuk urusan navigasi Home, Recent Apps, dan juga Back. Ini merupakan ciri khas Xiaomi sejak dulu, dan sepertinya akan menetap. Menurut saya, inilah kekurangan dari Xiaomi. Capacitive Buttons dengan backlit seperti ini adalah tombol navigasi yang umum ditemukan di smartphone china, dan kebanyakan kurang menunjukan kesan premium. Seandainya Xiaomi menyematkan Home Button sebagai physical button ataupun menggunakan model navigasi yang dimiliki oleh iPhone 7 Plus yaitu Force Touch, ataupun embedded seperti yang dimiliki oleh S8 dan juga Note 8, atau opsi lainnya, On-Screen Navigation yang memang a la Google banget. Namun demikian, yang pasti navigation button ini berfungsi dengan cukup baik.
Untuk hal security, Xiaomi bergantung dengan One-Touch Fingerprint Sensor yang diletakan dibelakang ditengah atas yang menurut banyak orang “Inilah lokasi Fingerprint yang pas” *ehem Samsung*. Waktu membuka kunci menggunakan Fingerprint ini pun cukup cepat dan dari 15 kali mencoba dengan cepat, hanya 2 atau 3 kali sensor ini meleset dan tidak pernah gagal apabila menggunakan jari yang salah.
Baterai yang diusung Mi A1 adalah sebesar 3080mAh. Baterai ini 1020mAh lebih kecil dibandingkan saudaranya, Redmi Note 4 yang memiliki baterai 4100mAh. Namun demikian, karena menggunakan SD 625, saat digunakan sehari-hari untuk browsing, messaging ringan, dan juga menggunakan kameranya beserta koneksi hanya melalui WiFi, Mi A1 berhasil melewati hari hingga jam 10 malam, sejak menyala dari jam 8 pagi. Ini bukanlah hal yang buruk mengingat bahkan sekelas flagship Galaxy Note 5 pun hanya bertahan dari jam 7 pagi hingga 3 sore saat butuh mengisi baterai kembali. Namun sayang, fast charging tidak diikutsertakan, padahal mengingat penggunaan SD 625 sebagai SoC berarti Quick Charge dari Qualcomm sebenarnya bisa ikut menaikan daya guna Mi A1 dan mampu mengisi baterai dengan cepat bila dibutuhkan. Mungkin saja, saat ini masih dinonaktifkan oleh Xiaomi untuk suatu alasan. Selain itu, interface koneksi yang dipakainya menggunakan USB-C sehingga kedepannya akan lebih mudah untuk hal aksesoris mengingat sekarang banyak sekali elektronik yang sudah mengupdate menjadi USB-C.
Untuk soal body-nya, bisa dibilang cukup mirip dengan iPhone 7 atau 7 Plus, dan itu bukanlah hal yang buruk. Mi A1 nyaman digenggam, dan cukup ringan untuk dibawa-bawa. Namun, pastikan untuk menggunakan case agar tidak ada rasa takut-takut karena Aluminium milik Xiaomi terkenal cukup rentan.
Xiaomi Mi A1 – Software | 9/10
Created by Xiaomi, Powered by Google
Inilah yang menurut saya menjadi nilai jual terbesar dari Mi A1. Google Pixel 2 baru saja di announce belum lama ini, dan menyuguhkan pengalaman terbaik dari Google melalui stock android. Namun, Pixel 2 bisa diprediksi memiliki harga yang cukup tinggi. Disinilah Mi A1 bisa menunjukan taringnya. Mi A1 merupakan smartphone pertama dari Xiaomi yang tidak disematkan MIUI. Xiaomi bekerjasama dengan Google untuk menaruh Mi A1 kedalam projek Android One, yang dulu pernah diciptakan oleh Google dengan tujuan untuk memperkenalkan jutaan orang dengan Android sebagai smartphone mereka. Dengan demikian, Mi A1 memiliki pengalaman Vanilla Android yang hampir serupa dengan yang kita rasakan denga lini Nexus, ataupun Pixel. Simple-nya, kalian tidak akan menemukan bloatware, re-skin Android bagaikan iPhone KW, dan yang paling saya sukai adalah, janji Google dan Xiaomi untuk memberikan update lebih cepat dibandingkan vendor lain karena memang masih Pure Android tanpa ada campur tangan terlalu banyak dari manufaktor.
Xiaomi dan Google menjanjikan update Android 8.0 – Oreo sebelum tahun 2017 berakhir, dan juga Google sendiri menyatakan pada waktu launch di India September lalu, bahwa Mi A1 bakal jadi salah satu smartphone pertama yang akan mendapatkan update Android P bersamaan dengan Google Pixel.
Xiaomi Mi A1 – Camera | 7.5/10
Inilah juga yang diunggulkan oleh Xiami dan diagadang sebagai Flagship dual kamera. Kamera yang dimiliki Xiaomi memiliki setup Wide(Color) + Tele(Color) dan memiliki sensor 12MP untuk kedua kamera dan sensornya dibuat oleh OmniVision. Kameranya juga ditemani oleh dual-tone flash yang berfungsi untuk menghasilkan warna natural karena bukan hanya memiliki flash berwarna putih saja, tapi ada juga berwarna orange-kuning untuk menaturalisasikan warna yang dikeluarkan.
Setup inilah yang nantinya mampu membawa Mi A1 untuk memiliki kemampuan Portrait Mode dan menghasilkan foto ber-bokeh dan membuat kualitas fotonya seolah berasal dari kamera DSLR. Kedua kamera akan menangkap foto secara bersamaan, dan memprosesnya menjadi satu dimana subyek dari foto akan terlihat tajam, dan latar belakangnya menjadi blur. Ini memang bukan fitur baru di ranah smartphone. Beberapa smartphone sebelumnya sudah menjual fitur ini bersamaan dengan dual kameranya, namun kocek yang perlu dikeluarkan bisa dibilang cukup dalam dan Mi A1 mengatasinya dengan mengeluarkan smartphone dengan fitur yang sama di sekitar 1/3 atau 1/4 harga dari smartphone kelas atas itu.
Tapi, apakah hasilnya muantap? Fotonya … okedeh lumayan bagus. Dalam kondisi cahaya yang cukup baik, foto yang dihasilkan bisa sangat jerning, dan kadang mata saya sendiri tidak begitu percaya bahwa smartphone ini hanya 1/4 dari harga Galaxy Note 8 dan 1/5 dari iPhone 7 Plus. Gambar yang dihasilkan apabila dilihat dari layar Mi A1 cukup oke, dan saat dipindahkan atau diupload masih cukup joss. Memang bokeh yang dihasilkan tidak se-refine hasil dari iPhone 7 Plus, but it's okay.
Namun, kamera ini akan mulai kesulitan jika kita memasukin keadaan lowlight. Salah satu kekurangan yang saya selalu temui dari smartphone Xiaomi adalah kameranya akan cukup bergumul saat kekurangan cahaya. Flash yang dimilikinya memang sangat membantu, namun, portrait mode yang dijual oleh Xiaomi ternyata tidak bisa digunakan bersamaan dengan flash tersebut. Hasil foto akan terlihat sangat noisy dalam lowlight walaupun detail yang ditangkap masih cukup oke. Mungkin beberapa orang akan menyukai noise yang muncul sebagai filter artistik, namun, untuk fotografer, ini akan cukup mengganggu. Selain itu, kamera Mi A1 juga tidak memiliki OIS atau Optical Image Stabilization ataupun EIS atau Electronic Image Stabilization sehingga tidak jarang kita melihat foto yang sedikit blur karena pergerakan smartphone.
Selain dual kamera dan flashnya, Xiaomi juga menyematkan kamera depan yang … harusnya bisa lebih baik. Hasil foto kamera depan sangat biasa menuju kurang, dan fiturnya pun tidak begitu banyak. Namun demikian, memang Xiaomi tidak pernah mengusung AMAZING SELFIES tapi yang ditonjolkan adalah kamera belakang, dan juga smartphone yang cukup powerful dengan harga yang bersahabat untuk dompet.
Hal lain yang bisa ditemukan di Mi A1 adalah HDR. Hasil foto HDR-nya pun cukup oke, bisa memperlihatkan kontras yang cukup baik untuk foto lanskap, dan juga detail yang dikeluarkan cukup oke. Sayangnya HDR ini tidak langsung menyala pada saat membuka aplikasi kamera, jadi kalau kalian ingin menggunakannya, jangan lupa untuk menekan opsi HDR terlebih dahulu. Oh ya, selain itu HDR juga tidak bisa digunakan untuk portrait mode.
Overall, kameranya cukup oke, namun masih ada beberapa tweaks yang harus diimplementasikan oleh Xiaomi untuk membuat kamera ini menjadi lebih baik lagi. Mungkin ini bisa dilakukan melalui software update karena sepertinya bukan batasan dari hardware Mi A1.
Xiaomi Mi A1 – Kesimpulan
Mi A1 memiliki desain yang cukup baik, namun tidak waw seperti S8/S8+/Note 8 ataupun iPhone X. Penggunaannya sehari-hari cukup oke, dan dibawa sedikit berat, tenaganya bersama dengan Qualcomm Snapdragon 625 cukup mumpuni dibantu dengan RAM sebesar 4GB DDR3. Baterainya juga lumayan mampu untuk bertahan seharian walau hanya sebesar 3080mAh. Selain itu, USB-C membuat Mi A1 memiliki masa depan yang cukup baik mengingat sekarang banyak elektronik yang merubah interfacenya yang dari beragam menjadi USB3.0-Type C yang multifungsi. Displaynya yang cukup oke mampu memperlihatkan multimedia dengan baik dalam resolui Full HD dan dibawah terik matahari, masih cukup terang dan dapat digunakan dengan baik. Fingerprintnya cukup akurat, dan sensor lain yang disematkanpun sudah cukup lengkap dan mumpuni. Kamera yang dijualnya pun bisa dibilang diatas rata-rata. Dengan kemampuannya untuk menghasilkan foto bokeh hasil produksi dari software dengan 2 kamera 12MP Wide(Color)+Tele(Color) membuat fitur portrait mode dari Mi A1 cukup joss.
Kelebihan lain dari Mi A1 adalah adanya campur tangan Google secara langsung dengan device ini. Mi 5X yang di rebrand menjadi Mi A1 memiliki kesempatan untuk bersaing dengan budget smartphone lainnya melalui kerjasama ini dimana hampir bisa dipastikan bahwa smartphone ini bakal dapat update paling tidak untuk 2 update kedepan yaitu Oreo dan Android P. Selain itu, karena softwarenya yang bersifat Pure Android membuat Mi A1 cukup responsif karena tidak adanya bloatware yang membuat smartphone ini terlalu sesak. Simple-nya, Mi A1 cocok untuk yang ingin merasakan smartphone dengan cita-cita Google, namun tidak perlu merogoh kocek yang terlalu dalam. Terlebih lagi, Google Photos memberikan unlimited storage sebagai penyimpanan cloud untuk foto-foto #bokehlicious dari Mi A1.
Namun demikian, Mi A1 bukan 100% Perfect. Tidak adanya NFC di jaman sekarang dimana Indonesia sedang berubah menjadi negara yang “butuh NFC” membuat future-proofing dari Mi A1 sedikit kurang. Selain itu, saingan dari Mi A1, Moto G5S Plus, memiliki NFC dan juga Water-Resistance yang membuat Mi A1 terkesan “kok masih gitu-gitu aja” karena 2 fitur tadi sudah menjadi kewajiban. Fast charging juga tidak diikutsertakan yang membuat effort untuk mengisi daya menjadi lebih besar dan menunggu cukup lama.
Selain itu, masih banyak adjustment yang harus dibuat untuk menyempurnakan hasil fotonya. Di kondisi lowlight, Xiaomi Mi A1 masih sangat struggling sehingga karya fotonya dimalam hari tidak begitu berkesan.
Xiaomi Mi A1 – Jadi, Apakah Layak Dibeli? | IYA PAKE BANGET!
Kalau Gwiples ingin upgrade smartphone kalian yang sudah jadul, mungkin sudah berusia lebih dari 3 tahun, tapi belum ada budget terlalu tinggi atau memang tidak ingin merogoh kocek sampe harus membuat bolong dompet dan juga tabungan di Bank, mungkin Mi A1 bisa menjadi pilihan yang sangat cocok. Desainnya yang cukup premium, nyaman dipegang, dan bisa bikin gaya kalian sedikit upgrade mungkin adalah salah satu pilihan yang tepat. Kameranya juga cukup oke, dan kalian bisa merasakan update instagram dengan foto-foto kece bokeh bagaikan menggunakan smartphone di harga 8jt-keatas. Dengan harga segini-pun kalian dapat merasakan Android sebagai mana mestinya, dan tidak perlu takut untuk tidak bisa update dan merasakan fitur Android terbaru, karena Mi A1 adalah device Android One.
Smartphone ini tentunya akan sedikit tidak cocok bagi kalian yang memang sudah pernah menggunakan kelas atas flagship seperti iPhone 7 Plus ataupun Galaxy S8. Tapi tentunya itu tidak membandingkan apple-to-apple sehingga sepertinya Mi A1 memang bukan ditargetkan untuk pengguna kelas atas seperti itu.
Sebagai alternatif, masih ada smartphone yang memiliki fitur serupa seperti Motorola G5S Plus, Lenovo K8, Galaxy J7+, dan lainnya. Namun demikian, tiap alternatif memiliki plus-minus tersendiri dan tidak ada yang perfect, tetapi Mi A1 adalah salah satu smartphone budget dengan fitur melimpah dan juga pengalaman Android yang lebih bersih.
Gimana kalau menurut kalian Gwiples? Apakah Mi A1 will be the one? Atau kalian masih mau menunggu apabila ada Android One lainnya yang akan meluncur?
Sekian review dari Mi A1 kali ini, sampai jumpa di review berikutnya!
fsp out!
News
PS5 Bakal Punya Hub Anime Khusus dari Sony dan Crunchyroll
Pengguna PlayStation 5 nantinya akan memiliki tempat khusus untuk menemukan berbagai konten yang berkaitan dengan anime. Sony Interactive Entertainment dan Crunchyroll mengumumkan kolaborasi untuk menghadirkan sebuah anime hub di PS5.
Fitur baru tersebut dirancang sebagai ruang bagi pemain untuk menemukan anime sekaligus game yang terinspirasi dari anime. Meski nama resmi hub ini belum diumumkan, Sony dan Crunchyroll menargetkan peluncurannya pada musim semi 2027.
Informasi lebih lengkap mengenai fitur serta layanan yang ditawarkan dijanjikan akan diumumkan menjelang peluncurannya.
Jadi Tempat Menemukan Anime dan Game
Anime hub ini akan menjadi bagian dari ekosistem PS5 yang mempertemukan dua komunitas besar, yaitu penggemar anime dan gamer.
Melalui fitur tersebut, pemain nantinya dapat menemukan game yang menggunakan karakter atau dunia dari anime favorit mereka. Di sisi lain, hub ini juga diharapkan menjadi sarana untuk menemukan franchise baru yang sebelumnya belum dikenal oleh pengguna.
Selain menjadi pusat penemuan konten, hub tersebut juga akan memberikan akses yang lebih mudah menuju Crunchyroll.
Kehadirannya akan melengkapi aplikasi Crunchyroll yang saat ini sudah tersedia di PS5. Melalui aplikasi tersebut, pengguna dapat menikmati berbagai tayangan anime, mulai dari episode terbaru, film, seri klasik, hingga konten populer lainnya.
Bagian dari Kolaborasi Sony dan Crunchyroll
Presiden Crunchyroll Rahul Purini menyebut kehadiran hub baru ini sebagai langkah berikutnya dalam kerja sama antara Crunchyroll dan Sony Interactive Entertainment.
Menurutnya, pengembangan fitur tersebut sejalan dengan upaya Crunchyroll untuk menghadirkan pengalaman anime di tempat yang memang sudah sering dikunjungi oleh para penggemarnya.
Kolaborasi antara kedua perusahaan sendiri bukanlah sesuatu yang baru. Crunchyroll telah memiliki integrasi dengan ekosistem PlayStation melalui layanan streaming dan berbagai inisiatif terkait keanggotaan.
Dengan anime hub mendatang, hubungan antara konten anime dan gaming di platform PlayStation akan semakin diperluas.
Sony Terus Perluas Konten Anime di PlayStation
Pengumuman ini juga menunjukkan bagaimana Sony terus memperkuat kehadiran anime dalam ekosistem hiburannya.
Pada 2025, Sony turut mengumumkan proyek anime Ghost of Tsushima: Legends yang dijadwalkan hadir melalui Crunchyroll pada 2027.
Sementara itu, anime hub untuk PS5 masih belum memiliki nama resmi. Sony Interactive Entertainment dan Crunchyroll dijadwalkan mengungkap lebih banyak informasi sebelum fitur tersebut meluncur pada musim semi 2027.
Bagi penggemar anime sekaligus pengguna PS5, fitur ini berpotensi menjadi salah satu tempat baru untuk menemukan rekomendasi anime dan game dalam satu ekosistem.
News
PlatinumGames Beri Sinyal Bayonetta Masih Punya Masa Depan
Masa depan Bayonetta tampaknya masih terbuka lebar. PlatinumGames memberikan sinyal bahwa mereka masih memiliki rencana untuk terus mengembangkan karakter ikonik tersebut sekaligus memperluas dunia yang menjadi latar seri Bayonetta.
Dalam wawancara bersama Famitsu, Presiden PlatinumGames Atsushi Inaba belum mengungkap proyek baru secara spesifik. Namun, ketika ditanya mengenai masa depan franchise tersebut, Inaba menyampaikan bahwa studio masih memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan Bayonetta dan dunianya.
Pernyataan tersebut tentu menarik perhatian mengingat seri ini belum mendapatkan game utama baru dalam beberapa waktu terakhir. Judul terbaru yang dirilis adalah spin-off Bayonetta Origins: Cereza and the Lost Demon pada 2023.
Banyak Developer Penting Telah Meninggalkan PlatinumGames
Kondisi internal PlatinumGames memang mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah developer senior yang sebelumnya terlibat dalam pengembangan seri Bayonetta telah meninggalkan studio.
Salah satu nama terbesar adalah Hideki Kamiya, kreator Bayonetta sekaligus salah satu pendiri PlatinumGames. Kamiya meninggalkan perusahaan pada 2023 dan kemudian mendirikan studio baru bernama Clovers, yang kini mengembangkan Okami 2.
Selain Kamiya, sejumlah developer lain seperti Abebe Tinari, Yusuke Miyata, Takahisa Taura, Kenji Saito, Masaki Yamanaka, serta Yusuke Hashimoto juga telah meninggalkan PlatinumGames. Hashimoto sendiri kemudian kembali bergabung dengan Capcom dan terlibat dalam proyek Onimusha.
Menariknya, Clovers juga memiliki sejumlah mantan developer yang sebelumnya bekerja dalam pengembangan Bayonetta 3. Kondisi tersebut membuat masa depan seri ini semakin menarik untuk diperhatikan.
Bayonetta Punya Hubungan dengan SEGA dan Nintendo
Selain perubahan internal, Bayonetta juga memiliki situasi kepemilikan IP yang cukup unik. Franchise tersebut berkaitan dengan SEGA dan Nintendo, sementara Nintendo menjadi pihak yang menerbitkan Bayonetta 2 dan Bayonetta 3 secara eksklusif di platformnya.
Komentar Inaba mengenai masa depan Bayonetta disampaikan dalam wawancara bersama Hyung-tae Kim, CEO Shift Up, dalam rangka mempromosikan kolaborasi Bayonetta dengan Stellar Blade untuk Nintendo Switch 2.
Inaba juga menyebut Switch 2 sebagai platform yang memiliki potensi besar. Meskipun PlatinumGames belum memiliki game original sendiri untuk konsol tersebut, pernyataan ini kembali membuka kemungkinan menarik mengenai proyek mereka di masa depan.
Dalam beberapa tahun terakhir, PlatinumGames juga semakin banyak mengerjakan proyek bersama perusahaan lain, termasuk keterlibatan dalam Ninja Gaiden 4, Final Fantasy XVI, eFootball, dan Metal Gear Solid Delta: Snake Eater. Studio tersebut kini juga mengembangkan game Teenage Mutant Ninja Turtles bersama Paramount.
Sementara itu, Inaba sebelumnya menyatakan keinginan PlatinumGames untuk berkembang dari sekadar studio pengembang menjadi perusahaan yang mampu membuat, memasarkan, berkomunikasi, hingga menerbitkan game sendiri.
Untuk saat ini memang belum ada pengumuman mengenai Bayonetta 4 atau proyek Bayonetta baru lainnya. Namun, pernyataan terbaru Inaba menunjukkan bahwa PlatinumGames masih melihat potensi untuk melanjutkan perjalanan sang Umbra Witch di masa mendatang.
News
RyzaChat AI Bakal Batasi Input Pemain Mulai Oktober, Spiral AI Perketat Moderasi
Spiral AI mengumumkan bahwa RyzaChat AI, game chatbot RPG yang menghadirkan karakter Ryza dari seri Atelier Ryza, akan mendapatkan pembatasan input pemain melalui pembaruan model AI pada Oktober 2026.
Keputusan tersebut diambil setelah pengembang menemukan adanya kekhawatiran terkait penyalahgunaan sistem AI oleh sebagian pengguna. Spiral AI menilai beberapa bentuk interaksi berpotensi merusak citra karakter Ryza maupun franchise Atelier secara keseluruhan.
Pengembang menegaskan bahwa RyzaChat AI tidak seharusnya digunakan untuk membuat karakter dari sumber aslinya mengeluarkan pernyataan yang tidak sesuai dengan kepribadiannya. Hal ini mencakup upaya membuat Ryza membahas konten yang melanggar norma atau ketertiban umum, hingga membuat screenshot palsu yang seolah-olah memperlihatkan karakter mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi di dalam game.
Sistem Moderasi RyzaChat AI Masih Bisa Ditembus

Sebelumnya, RyzaChat AI telah menggunakan sistem moderasi hingga tiga lapis. Input pemain terlebih dahulu diperiksa oleh Game Master AI, yang bertugas menyaring kata atau instruksi bermasalah sebelum diteruskan kepada Character AI.
Ryza juga dirancang untuk menghindari pembicaraan yang terlalu jauh dari karakter maupun dunia Atelier Ryza. Apabila respons yang dihasilkan masih mengandung ekspresi yang dianggap tidak pantas, sistem akan menghapus respons tersebut. Konten yang telah ditolak juga tidak disimpan ke dalam memory AI.
Namun, sistem tersebut ternyata belum sepenuhnya mampu mencegah berbagai upaya manipulasi. Sejumlah pengguna disebut berhasil melewati filter menggunakan prompt injection dan teknik serupa.
Karena itu, Spiral AI kini memilih pendekatan yang lebih ketat dengan membatasi jenis input yang dapat dikirim pemain kepada Ryza. Pengembang juga tengah mempertimbangkan aturan tambahan, termasuk kemungkinan menerapkan batas jumlah karakter dalam input, sambil terus memantau pola penggunaan sistem.
Spiral AI Mulai Tindak Screenshot Palsu
Tidak hanya membatasi percakapan, Spiral AI juga mulai mengambil tindakan terhadap screenshot palsu atau hasil editan yang membuat RyzaChat AI terlihat menghasilkan respons yang sebenarnya tidak pernah muncul dalam game.
Developer menyebut mereka telah mulai mengirimkan permintaan takedown serta laporan kepada sejumlah platform online yang menjadi tempat beredarnya konten tersebut.
Langkah ini juga berpotensi diterapkan pada SophieChat: AI, proyek chatbot lain dari Spiral AI yang menghadirkan karakter Sophie Neuenmuller dari Atelier Sophie.
Saat ini, RyzaChat AI tersedia di iOS dan Android serta sudah mendukung Bahasa Indonesia. Dengan demikian, pengguna Indonesia tetap dapat berinteraksi dengan Ryza menggunakan bahasa lokal. Namun setelah pembaruan Oktober diterapkan, ruang bagi pemain untuk mencoba mengeksploitasi respons AI diperkirakan akan menjadi jauh lebih terbatas.
-
Smartphone4 weeks agoReview Infinix HOT 70: Baterai 6000mAh yang Gahar, Bagaimana Performanya?
-
News4 weeks agoSophieChat: AI Resmi Diumumkan, Aplikasi Percakapan dengan xdari Atelier
-
News3 weeks agoGabe Newell Disebut Pernah Berlatih Nyanyian Tenggorokan Mongolia Selama 5 Bulan di Valve
-
News3 weeks agoKreator Haganai Yomi Hirasaka Resmi Pensiun dari Dunia Menulis
-
Smartphone4 weeks agoBebas Drama Pas Mabar! Ini Rahasia Gaming Seru Bebas Suntuk Bareng POCO C81 Pro
-
TV & Movies4 weeks agoKolaborasi Spesial SEGA dan Netflix: Film Adaptasi Game Legendaris “Crazy Taxi” Resmi Digarap!
-
TV & Movies3 weeks agoREVIEW FILM VERITY, MENGUNGKAP SISI GELAP PENULIS TERSOHOR
-
TV & Movies3 weeks agoJangan Tertipu Image Couple Goals! iQIYI Original ‘Dalam Suka dan Dusta’ Ungkap Sisi Gelap di Balik Pernikahan Selebriti


















