TV & Movies
KOLABORASI SENIMAN TANAH AIR MENYAMBUT MARVEL STUDIOS’ “ANT-MAN AND THE WASP: QUANTUMANIA” DI INDONESIA
GwiGwi.com – Di bulan Februari ini, Marvel Studios mempersembahkan film terbaru yang juga menjadi pembuka Phase 5 Marvel Cinematic Universe (MCU), yaitu film Marvel Studios’ “Ant-Man and The Wasp: Quantumania”. Bercerita tentang Pasangan super hero Scott Lang (Paul Rudd) dan Hope Van Dyne (Evangeline Lilly) yang kembali melanjutkan petualangan mereka sebagai Ant-Man and The Wasp. Bersama dengan orang tua Hope, Hank Pym (Michael Douglas) dan Janet Van Dyne (Michelle Pfeiffer), mereka menjelajahi Quantum Realm, berinteraksi dengan makhluk-makhluk aneh dan memulai petualangan yang akan mendorong mereka melampaui batas pikiran mereka. Jonathan Majors juga bergabung dengan petualangan ini sebagai Kang.
Untuk merayakan hadirnya Marvel Studios’ “Ant-Man and The Wasp: Quantumania” di Indonesia, The Walt Disney Company Indonesia mempersembahkan rangkaian kolaborasi bersama talenta-talenta terbaik untuk menghadirkan persembahan spesial yang akan membawa kisah film terbaru Marvel ini lebih dekat dengan para penggemarnya.
Denny Darko dan Cynthia Keirayuki Pecahkan Rekor MURI Lewat Karya Seni 1,700 Kubus Rubik
Salah satu kolaborasi spesial yang dilakukan untuk menyambut Marvel Studios’ “Ant-Man and The Wasp: Quantumania” adalah kolaborasi dengan seniman berbakat yang juga penggemar Marvel, Denny Darko dan Cynthia Keirayuki. Seniman Indonesia yang berkutat di banyak bidang ini menampilkan karakter-karakter dalam film tersebut, melalui sebuah karya seni yang terbuat dari Kubus Rubik, menggambarkan tiga karakter yaitu Ant-Man, Kang The Conqueror, dan The Wasp. Karya seni yang ditampilkan di Marvel Studios’ “Ant-Man and The Wasp: Quantumania” Special Exhibition, Main Atrium Gandaria City ini dibuat menggunakan 1,700 kubus rubik, dan memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai karya seni yang terbuat dari kubus rubik terbanyak di Indonesia. Selain itu, karya Denny Darko ini juga merupakan sebuah kolaborasi Denny bersama rekan kreatifnya, Chintya Keirayuki yang turut andil dalam merakit karya seni dari kubus rubik ini. Penyerahan sertifikat MURI kepada Denny Darko dan Chintya Keirayuki yang dilakukan pada hari Jumat, 17 Februari 2023 menjadikannya sebuah kolaborasi yang yang tak terlupakan bagi Denny Darko dan Cynthia Keirayuki. “Sebagai seorang fans Marvel, merupakan suatu kebanggaan tersendiri bisa menciptakan karya seni yang terinspirasi oleh Marvel Studios’ “Ant-Man and The Wasp: Quantumania”, terlebih lagi karya ini memecahkan rekor MURI yang tentu merupakan pencapaian sendiri untuk kami berdua,” kata Denny dan Cynthia.
Denny Darko dan Chintya Keirayuki pada saat prosesi Penyerahan MURI bersama Awan Rahargo, Direktur Marketing MURI Indonesia
Marvel Studios’ “Ant-Man and The Wasp: Quantumania” Special Exhibition Tampilhan Karya IMAGISPACE Interaktif yang Terinspirasi oleh Quantum Realm
Selain karya seni dari kubus rubik, The Walt Disney Company Indonesia juga berkolaborasi dengan IMAGISPACE, sebuah ruang seni inovatif di Indonesia yang menggabungkan elemen-elemen seni, pencahayaan, musik, alam, dan sains, yang berfokus pada memberikan pengalaman teknologi interaktif yang menghasilkan pengalaman unik bagi pengunjungnya. IMAGISPACE menciptakan sebuah instalasi interaktif dan imersif yang terinspirasi oleh Marvel Studios’ “Ant-Man and The Wasp: Quantumania” untuk penggemar Marvel agar lebih dekat dengan karakter dan cerita dalam film ini.
IMAGISPACE mengusung tema teknologi dan “Quantum Realm” yang merupakan elemen penting dari Marvel Studios’ “Ant-Man and The Wasp: Quantumania”. Dalam petualangan terbaru Ant-Man dan The Wasp, mereka menjelajahi Quantum Realm yang ternyata menyimpan banyak sekali rahasia dan ancaman yang luar biasa berbahaya. Kedua elemen ini menginspirasi IMAGISPACE untuk menciptakan beberapa instalasi kreatif di dalam “Ant-Man and The Wasp: Quantumania” Special Exhibition.
Karya dari IMAGISPACE ini dapat dinikmati di Main Atrium Gandaria City Mall, Jakarta yang sudah hadir dari tanggal 17 Februari – 17 Maret 2023.
“Ant-Man and The Wasp: Quantumania” Special Exhibition karya IMAGISPACE
Kolaborasi dengan Athea Visuals, Tampilkan Quantum Realm Secara Unik Bersama Selebritis Indonesia
Untuk mengangkat elemen unik Quantum Realm dalam Marvel Studios’ “Ant-Man and The Wasp: Quantumania” yang belum pernah dijelajahi sebelumnya, The Walt Disney Company Indonesia juga turut berkolaborasi dengan Athea Visuals, sebuah studio kreatif yang berfokus dalam menciptakan karya animasi digital. Mengambil inspirasi dari tampilan para karakter Marvel Studios’ “Ant-Man and The Wasp: Quantumania” dan juga Quantum Realm yang berbeda dari dunia-dunia lainnya dalam MCU, Athea Visuals menciptakan animasi di mana beberapa selebritis terlihat seperti masuk kedalam Quantum Realm. Para selebritis yang turut merayakan hadirnya Marvel Studios’ “Ant-Man and The Wasp: Quantumania” melalui karya animasi ini adalah Andrew White, Megan Domani, Ranty Maria, Arbani Yasiz dan Surya Insomnia.
Karya Athea Visuals yang terinspirasi dari Marvel Studios’ “Ant-Man and The Wasp: Quantumania” dapat dilihat melalui platform sosial media Instagram Athea Visuals dan Instagram para selebritis yang turut serta.
Karya Athea Visuals dengan Selebritis Tanah Air
Marvel Studios’ “Ant-Man and The Wasp: Quantumania” dibintangi oleh Paul Rudd sebagai Scott Lang/Ant-Man, Evangeline Lilly sebagai Hope Van Dyne/The Wasp, Jonathan Majors sebagai Kang the Conqueror dan Kathryn Newton sebagai Cassie Lang, dengan Michelle Pfeiffer sebagai Janet Van Dyne dan Michael Douglas sebagai Hank Pym. Sutradara Peyton Reed kembali menjadi sutradara serta Kevin Feige dan Stephen Broussard sebagai produser. Marvel Studios’ “Ant-Man and The Wasp: Quantumania” telah hadir di bioskop-bioskop Indonesia.
TV & Movies
Review Film The Masters of The Universe, Not Enough Power
www.gwigwi.com – Franchise legenda lagi akan tayang setelah MORTAL KOMBAT 2 dan THE MANDALORIAN AND GROGU. HE-MAN! Laama sekali penantian setelah begitu banyak rumor dan segala macamnya, MASTERS OF THE UNIVERSE akhirnya jadi film juga. Nah, apakah akan hanya menyenangkan fans lama saja?
Adam (Nicholas Galitzine) rindu dengan kampung halamannya, Eternia sampai mengganggu pekerjaannya di kantor.
Naas, saat kerajaannya diserang dulu, dia terpaksa kabur ke bumi. Sampai akhirnya dia menemukan lagi pedang yang akan menuntunnya pulang, Sword of Power.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power
Namun, baru saja dia panggul pedang itu lagi, Adam diserang monster dan dilindungi teman lamanya, Theela (Camila Mendes) yang membawanya pulang.
Sang pangeran tak menyangka Eternia kini rusak akibat lalimnya sang musuh utama, Skeletor (Jared Leto). Menggunakan Sword of Power dan sekutunya seperti Man At-Arms (Idris Elba), maka Adam harus berjuang menyelamatkan dunianya.
Sebagai adaptasi mainan HE-MAN, tentu visual dan baku hantamnya lah salah satu pesona utama. Kostumnya untungnya tidak direalistiskan tapi total mencoba setia pada mainannya. Begitu pun aksinya menghentak bahkan sedari awal. Berkat koreografi energik dan sinematografi dinamis yang cakap.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power
Nicholas Galatzine seakan menchannel man child ala Star Lord-nya Chris Pratt, tapi tetap punya keunikan sendiri. Meski berbadan besar hanya dengan tatapan saja dia bisa terkesan lembut dan membuat iba.
Sisi itulah yang membuat hero ini tak hanya sekedar mas berotot tangguh bawa pedang saja. Terdapat kualitas heroik lain yang menyokong tenaga itu, membuatnya cukup berbeda dibanding tipikal penampilannya. Dan Nicholas Galitzine berhasil menampilkannya.
Mungkin yang mengherankan adalah pilihan membuat badannya sudah bongsor walau belum berubah jadi HE-MAN. Meski visual henshinnya keren, tapi perubahan fisiknya terasa kurang sedrastis Chris Evans saat menjadi Captain America. Jadinya, efek wow transformasinya berasa kurang.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power
Di sisi lain, Jared Leto mengejutkan sebagai si antagonis. Tak sekalipun kita melihat wajahnya, tapi dia bisa melebur total dalam balutan kostum dan wajah tengkorak. Gesturnya begitu hidup dan dia bisa terlihat mengancam tapi kemudian lucu dengan seketika.
Secara cerita memang…klasik, maka film tampak mengandalkan atraksi, banter antar karakter yang memang oke saja dan komedi. Walau servicable, rasanya bila ingin menjadi franchise jaya kembali, THE MASTERS OF THE UNIVERSE tampaknya butuh lebih banyak kejutan dan selling point untuk memenangkan penonton sekarang yang sudah terhujani banyak konten, tak seperti tahun-tahun keemasannya dulu.
Bila tidak, yang senang sekali bisa jadi hanya para fans tua saja sementara penonton lain menggangguk saja kurang terkesan, seperti yang penulis rasakan.
TV & Movies
REVIEW FILM NORMAL, FILM ACTION YANG TIDAK NORMAL
www.gwigwi.com – Bob Odenkirk, sosok multitalenta yang dikenal sebagai penulis, produser, dan aktor populer lewat serial Breaking Bad serta Saturday Night Live (SNL), kembali menggebrak layar lebar. Kali ini, ia berpartner dengan Derek Kolstad—kreator bertangan dingin di balik kesuksesan waralaba John Wick dan Nobody. Sinergi keduanya membuahkan sebuah film komedi aksi berjudul Normal, yang digarap di bawah arahan sutradara Ben Wheatley, yang sebelumnya menukangi film Free Fire, Tomb Raider, dan Meg.
Film ini menyoroti kisah seorang sheriff pengganti bernama Ulysses (diperankan oleh Bob Odenkirk). Ia mendapatkan penugasan baru di sebuah kota kecil yang tenang di wilayah Minnesota bernama Normal. Ulysses hadir untuk menggantikan posisi sheriff sebelumnya, Gunderson, yang secara mengejutkan meninggal mendadak. Secara personal, Ulysses adalah pria yang fleksibel dan hanya ingin menjalani sisa kehidupannya dengan ketenangan. Namun, di balik pembawaannya tersebut, ia memendam masa lalu traumatis yang kelam saat masih menjadi seorang sheriff idealis di masa lalu.

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal
Ulysses awalnya beranggapan bahwa masa tugasnya selama delapan minggu ke depan—hingga sheriff definitif baru diangkat—akan berjalan datar dan biasa saja seperti nama kotanya. Namun, ekspektasi tersebut langsung hancur berantakan. Kehadiran sepasang pendatang baru, Moira (Lena Headey) dan Keith (Brendan Fletcher), yang nekat melakukan perampokan bank secara brutal, justru menjadi pemantik yang membuka kotak pandora dan menyingkap rahasia besar nan kelam yang selama ini disembunyikan oleh kota Normal.
Sebagai sebuah film aksi, Normal masih membawa napas dan formula yang serupa dengan John Wick dan Nobody. Sepanjang durasi, film ini dipenuhi oleh adegan-adegan sadis, berdarah, dan memilukan. Oleh karena itu, film ini sangat tidak ramah dan tidak cocok ditonton oleh Gwiple yang masih berusia di bawah 17 tahun.
Meski begitu, intensitas baku tembak dan pertarungan di film ini tidak disajikan secara bombastis atau se-elegan John Wick. Mengapa? Karena mayoritas karakter yang terlibat di dalamnya hanyalah warga sipil biasa, bukan petarung atau kombatan profesional. Namun, di situlah letak kekuatan dan keseruannya. Setiap aksi perkelahian terasa sangat mentah (raw), realistis, minim koreografi rumit, dan brutal. Unsur komedi gelap (dark comedy) di film ini juga dieksekusi dengan cerdas, di mana kelucuan sering kali lahir dari situasi gore yang dialami para korban, memicu banyak momen mencengangkan yang membuat Gwiple terbelalak.

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal
Selain itu, film ini memiliki jajaran karakter pendukung yang cukup ramai. Hebatnya, setiap tokoh diperkenalkan satu per satu dengan porsi yang pas dan penokohan yang kuat. Hal ini membuat Gwiple bisa dengan mudah mengingat mereka dalam waktu singkat, meskipun durasi kemunculan beberapa karakter tergolong singkat.
Secara keseluruhan, Normal adalah sajian film aksi yang lebih condong mendekati kembaran Nobody berkat taburan bumbu komedi yang kental, sehingga nuansanya tidak terasa sekelam dan seserius John Wick. Dengan plot cerita yang ringan, pergerakan alur yang tidak bertele-tele, serta suguhan beberapa plot twist yang menyegarkan di akhir cerita, Normal menjadi sebuah tontonan yang amat menghibur, seru, dan sangat layak untuk Gwiple saksikan langsung di layar bioskop!
Berita Anime & Manga
Review Film The Mandalorian and Grogu, Is this The Way?
www.gwigwi.com – www.gwigwi.com – Sukses dari serial Disney+ nya, Abang Din Djarin alias Mandalorian (Pedro Pascal) bersama Grogu kali ini nongol di layar besar bioskop. Apakah bisa menyuguhkan petualangan yang lebih wah?
Mandalorian diminta Kolonel Ward (Sigourney Weaver) untuk menyetujui permohonan kembar Hutt. Kedua dedengkot kriminal gang Hutt itu meminta si pemburu hadiah untuk mencari Rotta (Jeremy Allen White) yakni anak dari si cacing legendaris trilogi orisinil Star Wars, Jabba The Hutt.
Plot sebenarnya tidak se straight forward kedengarannya dan masih memberikan surprise yang boleh lah menegangkan. Walau terasa episode tambahan saja dari serialnya.
Barangkali yang disayangkan, transisi ke layar lebar ini kurang dibarengi presentasi yang lebih sinematik.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?
Konsep sinematografinya terasa tak jauh berbeda dengan di serialnya yang untuk layar kecil. Membuat petualangan ini sedikit terasa kurang epik.
Mungkin tujuannya memang menampilkan skala konflik yang lebih kecil tapi rasa low budget nya jadi berkesan sekali apalagi melihat dari layar lebar. Begitu pun spesial efek yang cukup sering terlihat kurang meyakinkan apalagi di paruh awal.
Penulis Dave Filoni (yang sekarang menjadi Presiden Lucasfilm) dan sutradara Jon Favreau, boleh jadi ahli dalam world building baik soal desain planet baru dan alien baru, tapi rasanya kurang menginjeksinya dengan karakterisasi yang unik.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?
Rotta memiliki kontras yang menarik dengan Hutt lain yang doyan jadi jahat. Kalau saja ditampilkannya tak melulu dengan dia mengeksposisi situasi dan perasaannya layaknya sinetron, dan dengan cara yang lebih subtil.
Rasanya jadi paham kenapa James Gunn begitu komitmen dengan komedinya dan serial The Boys kerap memperlihatkan nyelenehnya; gunanya untuk menghidupkan adegan dan memberi keunikan. Sesuatu yang dibutuhkan THE MANDALORIAN AND GROGU untuk lebih memoles desain produksinya yang cakap.
Apabila tujuan film ini adalah menampilkan petualangan pulp sederhana yang seru dibumbui komedi, duo Mando dan Grogu sudah plek sekali cocoknya.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?
Namun rasanya mereka membutuhkan para karakter pendukung yang punya kepribadian kuat, unik dan menghibur lebih banyak lagi, juga ketegangan dan komedi yang lebih kental lagi.
Bila sudah demikian, mau berapa kali pun petualangan THE MANDALORIAN AND GROGU dirilis, meskipun tak banyak benang merah di antaranya, penonton boleh jadi masih akan wow dengan aksi keren Mando dan terpesona lucunya Grogu.
Untuk sekarang THE MANDALORIAN AND GROGU mungkin not exactly the way.
-
News4 weeks agoGenshin Impact Versi “Candra VII”: Kebenaran di Balik Lembar-Lembar Purana
-
News4 weeks agoPara Pemain “Mortal Kombat II” Meriahkan Tur Global di Jakarta lewat kehadiran di Fan Event dan Red Carpet di Jakarta
-
TV & Movies4 weeks agoResmi Meluncur, Xiaomi TV S Mini LED 2026 Standar Baru Hiburan Premium di Rumah
-
TV & Movies4 weeks agoREVIEW FILM FUZE, PERAMPOKAN DI TENGAH TEROR BOM YANG PENUH KEJUTAN
-
TV & Movies4 weeks agoGrogu Hadir Di Perayaan Star Wars Day Di Jakarta
-
TV & Movies4 weeks agoReview Film Mortal Kombat II, Semakin Berani Bermain
-
Box Office3 weeks agoReview Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru
-
Gaming3 weeks agoSiap Tempa Takdirmu: Blades of Fire Versi 2.0 Kini Resmi Hadir di Steam!





