Connect with us

TV & Movies

Review Indonesia Biner, Web Series Indonesia Pertama Bertema Cyber War

Published

on

Gwigwi.com – Indonesia Biner merupakan serial original terbaru MAXstream yang akan segera tayang mulai 25 July tahun 2022.

Dikisahkan tentang Evan (Baskara Mahendra) adalah legenda dunia maya. Seorang hacker yang memiliki reputasi liar di dunia bawah tanah.

Mulai dari pemesanan sebuah helikopter perang sampai membobol situs inteligen negara tetangga. Namun akibat keisengannya menjebol data, Evan tak sengaja membuat sebuah perusahaan bangkrut

Ribuan orang menganggur. Evan pun tiarap rata tanah. Menghabiskan masa pensiunnya dari seorang hacker ternama menjadi kurir sederhana rumah makan Padang.

Jauh dari keramaian jagat maya. Evan memilih menjadi manusia analog, di dunia yang sedang mengalami perkembangan digital yang masif.

Hingga suatu saat terjadilah keramaian atas peretasan videotron yang memainkan potongan klip film porno di jalan-jalan besar Jakarta.

Kehebohan yang hanya dianggap kejahilan oknum iseng tak bertanggung jawab. Kecuali Evan. Dia tahu persis itu adalah peringatan dari serangan siber yang sudah direncanakan matang.

Aplikasi “plat merah”, GO-UMKM adalah targetnya. Evan gelisah. Nalurinya terusik. Mau tidak mau, Evan kembali terjun ke dunia maya.

Serial hasil kerjasama antara Wahana Kreator dan Telkomsel selaku pemilik dari layanan streaming berbayar MAXstream menginginkan keluar dari zona nyaman lewat serial Indonesia yang memiliki genre action-crime.

Diharapkan lewat serial ini, dapat memberikan sesuatu yang baru dan segar di kancah perfilman dan serial yang tayang di OTT nasional.

Serial Indonesia Biner turut diramaikan oleh Baskara Mahendra, Surya Sahetapy, Pradikta Wicaksono, Laura Theux, Haydar Salishz, Fergie Brittany, Givina Lukita Dewi, Emir Mahira, Chandra Pitok, Faiz Vishal, dan Dominez.

Di episode pertamanya yang tayang mulai 25 July 2022, tidak perlu banyak basa-basi kita akan berkenalan dengan tokoh utama dan langsung dihadapi dengan masalah serta apa yang akan terjadi di sepanjang serial ini berjalan.

Dari episode pilot nya saja, gue merasa Sudah sangat menjanjikan dan penasaran dengan serial ini yang memiliki jumlah 6 episode secara keseluruhan.

Serial Indonesia Biner sendiri akan rilis secara mingguan setiap hari senin di layanan streaming berbayar MAXstream.

Tunggu apalagi Gwiples?? Langsung aja saksikan aksi Evan dalam menghadapi perang siber terbesar di negeri ini di serial Indonesia Biner secara gratis di aplikasi MAXstream.

Advertisement

TV & Movies

Review Film Zach Cregger’s Resident Evil, ketika NPC menghadapi neraka di Racoon City

Published

on

Review Film Zach Cregger’s Resident Evil, Ketika Npc Menghadapi Neraka Di Racoon City

Bagi fans serial gim legendaris RESIDENT EVIL, dari trailernya saja RESIDENT EVIL arahan sutradara Zach Cregger lagi-lagi bukanlah adaptasi plek 1:1 dari gimnnya seperti seri film berjudul sama dari Paul WS Anderson dulu.

Tentu mendatangkan kritikan dan kekecewaan, namun siapa sangka dari set up yang demikian berbeda ini, film RESIDENT EVIL justru terasa memiliki jiwa gimnya di hampir tiap menitnya.

Bryan (Austrin Abrams) seorang kurir bidang medis, seharusnya pulang ke pacarnya setelah pesanan beres. Tergiur cuan lebih, dia menerima pesanan menuju rumah sakit di Raccoon CIty. Bagi fans mungkin langsung bereaksi begitu kota sumber neraka setting gim RESIDENT EVIL 2 dan 3 itu disebut.

Review Film Zach Cregger’s Resident Evil, Ketika Npc Menghadapi Neraka Di Racoon City

Review Film Zach Cregger’s Resident Evil, Ketika Npc Menghadapi Neraka Di Racoon City

Maka dimulailah perjuangan Bryan berjuang mengantar paket misterius itu dan penonton benar-benar mengikuti pria sial ini di hampir setiap langkahnya. Layaknya video gim.

Zach Cregger memang menekankan dia ingin memperlihatkan proses bertahan hidup si karakter pergi dari poin A ke B. Semisal, ketakutan melangkah, panik menembak zombie, mencari peluru, lelah melihat pintu digembok, dikejar dan lainnya.

Arahan demikian berpotensi membuat film menjadi monoton apalagi bila kurang bisa meramu ketegangan. Ternyata potensial problem itu bisa Zach Cregger masak dimulai dari karakter Bryan yang panik saat teror mencekam (di mana komedi dengan cerdasnya bisa masuk) dan ancaman bisa dia atasi bila saja dia menguasai rasa takutnya. Seperti bermain video gimnya.

Review Film Zach Cregger’s Resident Evil, Ketika Npc Menghadapi Neraka Di Racoon City

Review Film Zach Cregger’s Resident Evil, Ketika Npc Menghadapi Neraka Di Racoon City

Ditambah sangat ahlinya filmmaker menghidupkan suspense dengan jump scare tak terduga yang beneran efektif dan beragam scare lain yang tidak terasa mengulang-mengulang klise horor pada umumnya.

Walhasil, proses survival Bryan menjadi begitu menegangkan, kreatif, unpredictable dan menghibur. Apalagi di paruh awal yang memiliki beragam momen menarik yang tidak kalah dengan momen ikonik di gimnya.

Refrensinya gimnya pun banyak. Dari aksi Bryan yang seperti pemain gim RE, mesin tik di ruang kosong, gembok yang memiliki kunci spesifik dan properti-properti bertebaran di scene yang bisa membuat fans tersenyum walau hanya sesaat. Semua fan service ini tidak mengganggu mood atau membuat non-fans bingung dan tetap bisa menikmati walau sama sekali awam gimnnya.

Barangkali yang sedikit kurang, dan memang resiko film full aksi ini, adalah motivasi si Bryan yang rasanya kurang terlalu mengena di benak penonton. Juga endingnya yang bisa jadi tak sesuai harapan. Mungkin Zach Cregger ingin mengeritik Umbrella Corporation, korporasi besar sumber kekacauan ini, kalau saking inkompetennya mereka, bahkan menolong satu orang saja tidak mampu.

Sebagai penggemar gim RESIDENT EVIL sedari lama, penulis bisa cukup memahami ketidakpuasan fans. Namun, melihat sudah buanyaknya adaptasi film atau seri RE yang terus-menerus mengecewakan (gimnya sendiri seperti RESIDENT EVIL 6 juga toh) what’s so wrong with one more?

Continue Reading

TV & Movies

Review Film Runner, Si Serius dan Si Jenaka Melawan Kartel

Published

on

Review Film Runner, Si Serius Dan Si Jenaka Melawan Kartel

Runner menghadirkan nostalgia film aksi era 90-an yang kental dengan formula buddy-cop atau dinamika partner bertolak belakang. Film ini merupakan duet Alan Ritchson—aktor macho berotot yang semakin melambung lewat serial Reacher—dengan Owen Wilson yang terkenal dengan gaya humor santai dan banyak omong.

Hank Malone (Alan Ritchson), seorang mantan anggota Navy SEAL yang kini bekerja sebagai pengantar barang rahasia (runner), mendapatkan misi berisiko tinggi: mengantarkan organ hati yang sangat langka ke sebuah rumah sakit demi menyelamatkan nyawa seorang gadis kecil. Namun, tugas ini menjadi rumit ketika ia dipaksa membawa Ben Bishop (Owen Wilson), sang kurir medis ceroboh dan penuh bicara yang bertanggung jawab atas organ tersebut. Perjalanan mereka berubah menjadi kejaran hidup dan mati ketika sekelompok tentara bayaran dan kartel kejam berusaha merebut organ tersebut. Tanpa pilihan lain, Hank yang berotot dan disiplin harus bekerja sama dengan Ben yang serba santai demi menyelesaikan misi di tengah rentetan tembakan.

Review Film Runner, Si Serius Dan Si Jenaka Melawan Kartel

Review Film Runner, Si Serius Dan Si Jenaka Melawan Kartel

Dinamika antara Alan Ritchson dan Owen Wilson menjadi motor utama yang menghidupkan film ini:

Alan Ritchson tampil layaknya jagoan yang berintegritas tanpa kompromi dan mampu merobohkan musuh, sementara Owen Wilson hadir mencairkan suasana lewat celetukan santai khasnya yang terus mengoceh di tengah situasi kritis.

Sutradara Scott Waugh mengemas baku tembak, perkelahian fisik, dan kejar-kejaran mobil secara intens tanpa terlalu banyak mengandalkan efek visual yang berlebihan.

Review Film Runner, Si Serius Dan Si Jenaka Melawan Kartel

Review Film Runner, Si Serius Dan Si Jenaka Melawan Kartel

Dari segi cerita, Runner terbilang lumayan klise khas film action dengan plot hole dimana penjahatnya punya banyak kesempatan untuk mengeksekusi Hank tapi tidak dilakukan. Namun, fokusnya yang jelas pada keseruan dan komedi membuat film berdurasi singkat ini tetap seru untuk dinikmati.

Secara keseluruhan, Runner mungkin tidak menawarkan alur cerita yang mendalam, tetapi kombinasi aksi brutal ala Alan Ritchson dan karisma komedi Owen Wilson menjadikannya tontonan aksi komedi 90-an seperti Rush Hour atau Shanghai Noon yang sangat menghibur.

Continue Reading

TV & Movies

Magnifique Group Angkat Diskusi tentang Masa Depan Media dan Kepercayaan terhadap AI melalui Dua Kelas Khusus di IdeaFest 2026

Published

on

By

Magnifique Group Angkat Diskusi Tentang Masa Depan Media Dan Kepercayaan Terhadap Ai Melalui Dua Kelas Khusus Di Ideafest 2026

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) semakin mengubah cara manusia bekerja, mencari informasi, berkomunikasi, hingga menciptakan karya. Di tengah perubahan tersebut, Magnifique Group 360° creative and visual communication agency yang bergerak di bidang PR, creative, digital, dan brand activation – mendorong percakapan mengenai satu pertanyaan penting: ketika teknologi semakin mampu mengambil alih berbagai proses, apa yang membuat manusia tetap relevan?

Memasuki tahun keenamnya sebagai PR agency partner IdeaFest, Magnifique Group menghadirkan dua sesi IdeaTalks pada IdeaFest 2026 yang berlangsung pada 4-6 September 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan. Kedua sesi tersebut membahas perkembangan AI dari dua perspektif yang saling melengkapi, yaitu “ReHumanizing Journalism: What Makes Media Matter in the Age of AI?” dan “In AI We Trust? Rethinking Strategy, Connection, and Creativity in The Age of AI”.

Magnifique Group Angkat Diskusi Tentang Masa Depan Media Dan Kepercayaan Terhadap Ai Melalui Dua Kelas Khusus Di Ideafest 2026

Magnifique Group Angkat Diskusi Tentang Masa Depan Media Dan Kepercayaan Terhadap Ai Melalui Dua Kelas Khusus Di Ideafest 2026

 

Ketika AI Mengubah Cara Kita Memahami Informasi

Sesi “ReHumanizing Journalism: What Makes Media Matter in the Age of AI?” membahas perubahan ekosistem media ketika AI semakin mampu menghasilkan, merangkum, dan mendistribusikan informasi dengan cepat.

Saat masyarakat dapat mencari jawaban melalui AI tanpa harus mengunjungi situs media, media profesional menghadapi pertanyaan baru mengenai relevansi dan perannya. Melalui sesi ini, Jaka Darwis, Associate Director Magnifique Group, mengajak empat pemimpin media untuk membahas bagaimana media dapat tetap relevan di tengah perubahan tersebut. Mereka adalah Antonius Tomy Trinugroho, Deputy Managing Editor Kompas Daily/Kompas.id; Mahardi Eka Putra, Editor in Chief KapanLagi.com; Sena Achari, Direktur Product Detikcom; serta Uni Lubis, Editor in Chief IDN Times.

Diskusi ini mengeksplorasi bagaimana media dapat memanfaatkan AI tanpa kehilangan fondasi jurnalisme, mulai dari human judgement, empati, dan etika hingga storytelling dan kredibilitas. Salah satu pertanyaan utama yang dibawa dalam sesi ini adalah: “Kalau AI sudah bisa menulis breaking news dalam hitungan detik, merangkum laporan panjang, bahkan menjawab pertanyaan tanpa membuka website media, mengapa masyarakat masih membutuhkan media profesional?”

Bagi Magnifique Group, perkembangan ini menunjukkan bahwa peran media tidak lagi hanya tentang menjadi yang pertama menyampaikan informasi, tetapi juga membantu publik memahami konteks, menentukan apa yang relevan, dan membangun kepercayaan terhadap informasi yang mereka konsumsi. Perspektif ini juga menjadi semakin relevan bagi industri komunikasi secara lebih luas, ketika teknologi memungkinkan pesan diproduksi dengan semakin cepat dan mudah.

Magnifique Group Angkat Diskusi Tentang Masa Depan Media Dan Kepercayaan Terhadap Ai Melalui Dua Kelas Khusus Di Ideafest 2026

Magnifique Group Angkat Diskusi Tentang Masa Depan Media Dan Kepercayaan Terhadap Ai Melalui Dua Kelas Khusus Di Ideafest 2026

AI Sebagai Partner Dalam Berkarya

Saat ini, AI tidak lagi hanya digunakan sebagai tool. Teknologi ini mulai mengambil peran sebagai sumber informasi, pemberi rekomendasi, hingga thinking partner yang turut memengaruhi cara manusia bekerja, berkarya, dan mengambil keputusan.

Melalui kelas kedua yang dipandu oleh Ayu Kartika, PR Lead Magnifique Group, Magnifique mempertemukan Edward Halim, Content Creator; Shahnaz Soehartono, Writer and Creator of Onlights; serta Nia Dinata, Director and Screenwriter of Berbagi Suami 2.0 dalam kelas bertajuk “In AI We Trust? Rethinking Strategy, Connection, and Creativity in the Age of AI”.

Diskusi ini mengeksplorasi bagaimana kehadiran AI mulai mengubah proses manusia dalam menciptakan suatu karya, membangun kredibilitas, dan terhubung dengan audiens. Namun, di tengah teknologi yang semakin mampu menghasilkan berbagai bentuk output, kelas ini juga membuka satu pertanyaan besar: “Apakah AI sedang menjadi “otoritas baru’’ dalam kehidupan kita?”

Magnifique mengajak audiens untuk melihat bahwa manusia tetap memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana suatu karya dapat diterima dan menjadi lebih relevan dengan masyarakat luas. Menjadikan AI sebagai teman berpikir bukan berarti menyerahkan seluruh pertimbangan kepada teknologi tersebut, melainkan memahami kapan AI dapat dipercaya dan kapan manusia perlu tetap menggunakan perspektif serta penilaiannya sendiri.

 

Membawa Human Perspective ke Masa Depan Komunikasi

Melalui kedua sesi tersebut, Magnifique Group melihat bahwa AI akan terus berkembang dan menjadi bagian dari berbagai proses kerja, termasuk di industri media, komunikasi, dan kreatif. Namun, perkembangan tersebut justru membuat kemampuan manusia untuk berpikir kritis, memahami konteks, menentukan arah, membangun kredibilitas, serta menciptakan koneksi yang autentik menjadi semakin penting.

Kedua sesi ini juga mencerminkan pendekatan Magnifique dalam melihat perubahan industri: bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi mempertanyakan bagaimana teknologi dapat digunakan secara relevan dalam membangun komunikasi yang lebih bermakna bagi manusia.

Sebagai 360° creative and visual communication agency, Magnifique Group terus membuka ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif dari industri komunikasi dan kreatif. Melalui keterlibatannya di IdeaFest 2026, Magnifique membawa diskusi dari ruang media hingga proses kreatif untuk menjawab pertanyaan yang sama: di tengah dunia yang semakin didorong oleh teknologi, bagaimana kita memastikan manusia tetap menjadi pusat dari setiap ide, keputusan, dan koneksi?

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending