Box Office
Review Film: Moulin Rouge! (2001), All You Need is Love
GwiGwi.com – Lima tahun setelah melakukan modernisasi terhadap Romeo & Juliet (1996), sutradara Baz Luhrmann kembali melakukan gebrakannya dengan membuat film musikal yang bisa dianggap sebagai tonggak kebangkitan film musikal di ranah perfilman Moulin Rouge Hollywood. Tercatat setelah Moulin Rouge! ini banyak lahir film-film musikal yang mendapat pengakuan secara kualitas dan kesuksesan komersial seperti Chicago dan Dreamgirls.
Baz Luhrmann dengan segala imajinasi liarnya berhasil membangkitkan kembali genre ini dan film-film musikal banyak yang menyusul untuk menjadi kontender di ajang Oscar. Bahkan setahun setelah Moulin Rouge mendapat nominasi “Best Picture”, Chicago berhasil memenangkan kategori tersebut. Bermodalkan kisah cinta yang sebenarnya sederhana, Baz Luhrmann benar-benar menyuguhkan semua imajinasi yang ia miliki untuk membuat sebuah film ini menjadi begitu artistik dan megah. Dasar kisahnya sendiri adalah mengenai seorang penulis muda bernama Christian (Ewan McGregor) yang baru saja pindah ke Paris dimana disana ia berhasil terlibat sebagai penulis drama yang diberi judul Spectacular Spectacular yang rencananya akan dipentaskan di sebuah klub malam bernama Moulin Rouge.
Moulin Rouge sendiri adalah sebuah tempat yang begitu mewah dan eksklusif dimana orang-orang kaya berpesta, menari dan menikmati hiburan-hiburan disana termasuk tentu saja wanita-wanita cantik yang ada. Bintang utama di Moulin Rouge adalah seorang courtesan yang amat cantik dan menggoda bernama Satine (Nicole Kidman).
Tanpa perlu penjelasan lebih jauh lagi sudah bisa ditebak bahwa nantinya Christian dan Satine akan saling jatuh cinta meskipun keduanya amat berbeda, dimana Christian hanyalah seorang penulis muda yang miskin sedangkan Satine adalah wanita yang mendambakan kehidupan yang glamour. Tapi biar bagaimanapun menggodanya berlian dan uang pada akhirnya “The greatest thing you'll ever learn is just to love and be loved in return” Tapi tentunya kisah cinta itu tidak akan berjalan mudah karena berbagai rintangan akan menghadang Christian dan Satine, khususnya dari The Duke of Monroth (Richard Roxburgh) yang begitu bernafsu mendapatkan Satine dengan cara apapun.
Pada akhirnya Moulin Rouge! akan mengajak kita menikmati sajian drama percintaan, komedi dan tragedi yang dibalut dengan aspek musikal yang megah. Moulin Rouge! akan mengajak kita untuk merasakan bagaimana indahnya cinta dan begitu besarnya kekuatan cinta. Moulin Rouge! dan segala isinya akan mencoba mengajak kita percaya bahwa semua yang kita butuhkan dalam hidup ini adalah cinta. “All you need is LOVE”.
Sebenarnya apa yang coba diperlihatkan dari kisah Moulin Rouge! akan membuat penontonnya terpecah menjadi dua kubu. Yang pertama adalah penonton yang akan menganggap kisah dalam film ini begitu naif dan melebih-lebihkan unsur cinta. Hal itu wajar saja melihat kisah yang ada memang menomor satukan cinta dan mencoba memperlihatkan bahwa tanpa harta manusia juga bisa hidup bahagia jika mereka mempunyai cinta dan cinta itu terbalaskan oleh yang dia cintai.
Tapi disisi lain akan ada golongan penonton yang begitu mencintai film ini karena merasa ada sebuah romantisme yang amat kuat yang begitu indah didalamnya. Apalagi bagi para penonton yang saat menonton film ini sedang merasakan indahnya jatuh cinta akan merasakan bahwa Moulin Rouge! adalah pengalaman menonton yang begitu indah dimana mereka akan dimanjakan dengan kata-kata puitis nan romantis mengenai indahnya jatuh cinta dan dicintai.
Memang begitulah film ini, sebuah love it or hate it experience. Kisah yang dimunculkan juga sebenarnya amat sangat sederhana, yaitu tentang cinta yang menyatukan perbedaan hingga sebuah kisah cinta segitiga lalu kemudian ada tragedi. Sebegitu sederhana kisah cinta dalam film ini. Saya tidak terganggu akan kesederhanaan tersebut dan malah justru menyukainya. Tapi memang bagi saya terkadang ada momen yang terasa berlebihan dalam pemaparan kisah cintanya. Tapi biarlah, toh cinta memang akan seindah itu dan seringkali kita sikapi dengan berlebihan disaat sedang meletup-letup di hati kita.
Disamping kisahnya yang sederhana, Baz Luhrmann tidak menampilkan filmnya ini dengan sederhana pula. Lihat aspek-aspek lainnya yang begitu artistik seperti setting lokasi yang dipakai, pengemasan adegan yang terasa begitu megah dan diisi dengan imajinasi liar sang sutradara, pemakaian make-up dan kostum yang tidak kalah hebatnya.
Lihatlah adegan-adegan sureal yang ditampilkan seolah memperlihatkan saat kita jatuh cinta maka seringkali hidup kita ini akan berjalan tidak senormal biasanya dan seolah kita hidup di negeri dongeng. Begitu juga film ini menampilkan adegan-adegannya dengan berbagai tempelan-tempelan dari imajinasi Baz Luhrmann.
Contohnya saja saat Kylie Minogue muncul tiba-tiba sebagai The Green Fairy dalam sebuah adegan awal yang sudah begitu indahnya. Lalu tengok juga bagaimana pengemasan adegan saat Satine dipaksa bertemu dengan The Duke dan dikombinasikan dengan adegan yang melibatkan Christian dan para Bohemian diatas panggung. Lihatlah bagaimana indahnya adegan tersebut ditata sedemikian rupa sehingga muncul kesan dramatis dan kemegahan yang luar biasa.
Aspek Art Direction dari film ini memang sulit ditandingi. Tentu saja aspek penting dalam film musikal adalah lagunya, dan pemakaian lagu dalam film ini begitu unik dimana lagu-lagu modern yang dipakai meskipun setting-nya sendiri di akhir tahun 1890an.
Lagu-lagu modern tersebut macam Smells Like Teen Spirit, Come What May dan The Show Must Go On diaransemen sedemikian rupa sehingga terasa seperti lagu-lagu yang memang ditujukan untuk drama panggung atau opera-opera megah seperti apa yang ditampilkan film ini. Entah bagaimana Baz Luhrmann sampai tidak mendapat nominasi Best Director padahal bagaimana dia menggabungkan tata artistik mewah, lalu koreografi adegan megah dan tentunya musik-musik luar biasa itu menjadi sebuah film musikal yang megah nan artistik adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah.
Bagaimana dengan para pemainnya? Mereka bermain dengan apik tapi yang paling jadi sorotan tentunya Ewan McGregor dan Nicole Kidman. Saya sendiri merasa akting Ewan McGregor biasa saja disini. Justru Nicole Kidman yang begitu mempesona. Bagaimana dia memperlihatkan seorang wanita rapuh yang menjual dirinya termasuk cintanya untuk kemewahan tapi kemudian dia menemukan cinta memang sangat menawan. Ditunjang penampilan fisiknya yang begitu cantik disini, sosok Satine selalu terlihat menawan, cantik, sensual dan begitu mudah dicintai oleh pria manapun.
Dalam Moulin Rouge Nicole Kidman tidak hanya memperlihatkan salah satu akting terbaiknya tapi disini jugalah dia terlihat paling cantik dan menawan sekaligus menggoda dalam sebuah film. Akhir kata Moulin Rouge adalah sebuah kisah tentang bagaimana cinta bisa menjadi begitu kuat yang dikemas dengan begitu artistik dan megah meski tidak semua orang akan dengan mudah mencintai film ini.
Box Office
Review The Death of Robin Hood, Akhir Tragis Sang Legenda
www.gwigwi.com – Berapa banyak versi Robin Hood yang sudah kita saksikan di layar lebar? Mulai dari aksi teatrikal Errol Flynn, pesona klasik Kevin Costner, hingga versi taktis Russell Crowe. Kita terbiasa melihat Robin Hood dalam masa kejayaannya: muda, tangkas, memegang busur dengan presisi mematikan, dan meneriakkan keadilan di tengah Sherwood Forest. Film The Death of Robin Hood melompati era kejayaan sang pencuri budiman. Kita mendapati Robin Hood (Hugh Jackman) dalam kondisi yang mengenaskan. Ia sudah menua dan dihantui oleh bayang-bayang masa lalunya yang penuh darah dan pertempuran.

Robin Hood bukan lagi simbol harapan, melainkan hanya orang tua yang lelah dan tersisih dari dunia yang terus bergerak maju. Dalam pertarungan nya yang terakhir, ia terluka parah dan diselamatkan oleh seorang biarawati (Jodie Comer). Pertemuan ini bukanlah awal dari petualangan baru, melainkan sebuah ruang refleksi dan sebuah kesempatan bagi Robin untuk berdamai dengan takdirnya sebelum ajal menjemput. Film garapan Michael Sarnoski membuktikan sekali lagi bahwa ia adalah master dalam memotret kerapuhan pria-pria tangguh.
The Death of Robin Hood menanggalkan romantisasi kehidupan seorang penyamun. Hutan Sherwood tidak lagi digambarkan sebagai tempat persembunyian yang magis, melainkan tempat yang dingin, basah, dan tak kenal ampun. Film ini menggali pertanyaan mendalam: Apa yang terjadi pada simbol perlawanan ketika ia tidak lagi mampu menarik tali busurnya? Hugh Jackman memberikan salah satu performa paling subtil dan emosional dalam kariernya.

Fisiknya yang menua dan tatapan matanya yang redup menyampaikan rasa sakit yang mendalam baik fisik maupun eksistensial. Ini adalah penampilan yang mengingatkan kita pada perannya di Logan (2017), namun dengan tempo yang jauh lebih tenang, meditatif, dan minim ledakan amarah. Ia berhasil menampilkan sosok singa tua yang menyadari bahwa masanya telah habis. Sementara Jodie Comer tampil sebagai kontras yang luar biasa. Karakter yang ia bawakan bukan sekadar plot device untuk merawat Robin, melainkan representasi dari dunia luar yang rasional dan skeptis terhadap mitos.
Interaksinya dengan Jackman membentuk inti emosional film; dinamika mereka tumbuh organik melalui dialog-dialog sunyi yang sarat akan subteks tentang penebusan dosa (redemption) dan penerimaan diri. Dari segi visual, film ini adalah sebuah puisi visual yang muram. Memanfaatkan pencahayaan alami (natural lighting), kabut tebal, dan palet warna bumi (earthy tones), sinematografer berhasil mempertegas atmosfer senjakala. Kamera seringkali terpaku pada gestur-gestur kecil tangan yang gemetar saat memegang anak panah, atau helaan napas berat di tengah keheningan.

Pacing sengaja dibuat lambat, memberikan ruang bagi penonton untuk merasakan beratnya setiap detik yang tersisa dalam hidup Robin Hood. Secara keseluruhan, The Death of Robin Hood bukanlah film tentang bagaimana seorang pahlawan hidup, melainkan tentang bagaimana manusia di balik pahlawan tersebut memilih untuk mati. Jika Gwiple datang ke bioskop mengharapkan film aksi petualangan dengan panah yang beterbangan setiap lima menit atau trik-trik cerdik mengelabui Sheriff Nottingham, film ini jelas akan mengecewakan Anda.

Namun, jika kita ingin mencari sebuah drama psikologis yang mendalam, puitis, dan menyentuh hati tentang akhir dari sebuah hidup yang penuh kekerasan, film ini adalah sebuah mahakarya yang sunyi. Michael Sarnoski berhasil memberikan upacara pemakaman yang indah, terhormat, dan sangat manusiawi bagi salah satu legenda terbesar dalam sejarah fiksi dunia.
Film ini mengingatkan kita bahwa pada akhirnya, yang paling berharga dari sebuah legenda bukanlah keabadian fisiknya, melainkan bagaimana ia menginspirasi kemanusiaan kita.
Skor Akhir: 8.8/10
Box Office
Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli dari Vietnam
www.gwigwi.com – Pada akhir Juni 2026 ini, setelah Gwiple sering disuguhi film-film horor Asia asal Korea, China, Jepang, dan Thailand; sebuah film horor asal Vietnam mencoba peruntungannya untuk tayang di Indonesia. Phi Phong yang diproduksi oleh Bluebells Studio dan disutradarai oleh Do Quoc Trung merupakan kisah legenda horor suku gunung di Vietnam dimana iblis berwujud wanita memburu hewan-hewan bahkan manusia untuk dihisap darahnya, bahkan phi phong dapat menyaru menjadi manusia. 2 saudara Con (Kieu Minh Tuan) dan Duong (Minh Anh) mencari ibunya yang berprofesi sebagai shaman yang dikabarkan terluka di sebuah desa di pegunungan.


Con tidak sehebat ibunya namun ia mengetahui beberapa jurus untuk mengusir iblis sedangkan adiknya Duong dapat melihat hantu dan roh penasaran. Dari cerita kepala desa, sang ibu membantu shaman lokal dalam menyegel ulang hantu phi phong namun ritualnya menjadi kacau dan shaman desa mati sedangkan ibunya Con dan Duong terluka parah. Saat Con dan Duong mencoba membawa ibu mereka kembali ke kota, sebuah kecelakaan aneh menimpa mereka dan terpaksalah mereka kembali ke desa terkutuk itu. Suasana di desa semakin bertambah seram ketika kepala desa mati dengan kondisi mengerikan dan anak kepala desa juga terluka parah. Con dan Duong harus cepat menemukan iblis tersebut sebelum mereka juga menjadi korban balas dendam dari phi phong.


Banyak plot twist dalam film ini yang dijaga dengan rapi dan membuat Gwiple dapat terus bertanya-tanya asal usul phi phong dan apa motifnya menarget kepala desa dan shamannya. Sayangnya akhir cerita kurang memuaskan karena phi phong-nya tidaklah seperti yang digadang-gadang dan dengan premise iblis itu senang menghisap darah, film ini tidaklah gory. Untuk film horor Vietnam yang pertama tayang di Indonesia, Phi Phong cukup menegangkan tanpa mengandalkan jump scare asal-asalan dan dapat menjadi pilihan film horor di bioskop selain film-film horo dari Indonesia yang suplainya seakan tidak habis.


Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli Dari Vietnam
Box Office
Review Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru
www.gwigwi.com – Gohan adalah film terbaru karya studio GDH559 yang disutradarai oleh Chayanop Boonprakob, Nattawut Poonpiriya, dan Atta Hemwadee yang masing masing menyutradarai setiap tahap kehidupannya Gohan (masa kecil, remaja, dan dewasa/tua). Menariknya, tiga sutradara dalam film ini berhasil memberikan nuansa berbeda di tiap fase kehidupan Gohan. Masa kecil terasa hangat dan lembut, fase remaja tampil lebih gelap dan menyakitkan, sementara masa tua menghadirkan atmosfer melankolis namun damai. Walaupun berbeda gaya, transisinya tetap terasa menyatu.
Gohan ini merupakan film drama kehidupan tentang perjalanan seekor anjing putih berhidung pink yang saat kecil dibuang di dekat 7eleven. Pada suatu malam ia masuk ke cooler box milik seorang expat Jepang bernama Hiro (Kitachima Yasushi ) yang sudah puluhan tahun bekerja di pabrik perakitan mobil dan dipaksa pensiun oleh manajemen. Walaupun sang kakek agak ragu-ragu untuk memeliharanya namun ia amat sayang pada Gohan dan berupaya mendapatkan pemilik baru untuk si anjing yang warnanya putih seperti nasi ini. Inilah tahap pertama dalam hidup Gohan, ia menjalani masa kecil yang bahagia dikelilingi manusia-manusia yang menyayanginya dan belajar apa itu kasih sayang.

Review Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru
Namun setelah beberapa tahun hidup bahagia bersama Hiro, nasib berkata lain dan Gohan masuk ke dalam Shelter yang menyiksa anjing-anjing liar demi mendapatkan donasi belas kasihan. Hidupnya penuh kesengsaraan karena sering disuntik obat penenang supaya terlihat sakit saat live stream. Namun Namcha (Poe Mamhe Thar ) seorang imigran ilegal yang dipekerjakan di Shelter tersebut menaruh belas kasihan kepada Gohan dan memutuskan untuk melepaskan semua anjing serta membawa Gohan keluar dari tempat terkutuk tersebut. Pada masa remaja ini Gohan yang kemudian dinamai Brownie mengenal apa itu penderitaan namun ia berhasil membuat seorang wanita muda menyadari kesalahannya dan mencoba menebus kesalahannya walau ia harus menanggung konsekuensinya.

Review Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru
Setelah terpisah dari Namcha dan terus menunggunya di sebuah stasiun kereta selama bertahun-tahun, Gohan/Brownie yang sudah makin tua berkenalan dengan Pele (Jinjett Wattanasin) dan Jaidee (Tontawan Tantivejakul) yang sudah bersahabat dan terlihat saling tertarik satu sama lain namun hubungan mereka tidak ada kemajuan. Gohan/Brownie pun namanya berubah lagi jadi Hima dan ternyata setelah diperiksa oleh dokter hewan, Hima divonis hanya punya waktu 3 bulan akibat masalah dengan ginjalnya. Pele dan Jaide berkomitmen untuk merawat Hima hingga maut menjemputnya. Pada tahap masa tua ini, Gohan/Brownie/Hima dapat kembali menjalani masa-masa yang tenang dan bagaimana Pele & Jaidee belajar untuk berkomitmen serta menjalani kehidupan masa kini.
Dari film Gohan, Gwiple diingatkan banyak anjing-anjing (dan hewan-hewan lainnya) yang kurang beruntung di luar sana yang perlu bantuan dari kita semua, dan kalau tidak bisa membantu setidaknya berbuatlah baik kepada mereka.

Review Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru
Untuk akting para pemainnya disini amatlah bagus dan dapat menggugah Gwiple yang menontonnya terlebih lagi 3 anjing yang memerankan Gohan mulai dari kecil, remaja, hingga dewasa/tua amatlah lucu dan pintar. Film berdurasi 140 menit ini dijamin dapat membuat Gwiple tersedu-sedu dengan ceritanya jadinya siapkan tissue atau handuk kecil saat menontonnya. Memang beberapa konflik terasa dibuat terlalu dramatis untuk memancing air mata Gwiple namun hal ini masih wajar dan tidak mengganggu plot atau dinamika cerita. Gwiple dapat segera menyaksikan film mengharukan ini di bioskop-bioskop seluruh Indonesia
-
Box Office4 weeks agoReview Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli dari Vietnam
-
Laptop3 weeks agoHP EliteBook 8 G1i 14 AI: Tangguh untuk Bisnis, Siap Gaming Ringan
-
Box Office2 weeks agoReview The Death of Robin Hood, Akhir Tragis Sang Legenda
-
Serial Anime2 weeks agoReview Clevatess Season 2 Episode 1: Misi Rahasia Klen dan Alicia Dimulai, Visual Makin Manjakan Mata!
-
News2 weeks agoAnime Festival Asia Rayakan Edisi ke-10 di Indonesia!
-
TV & Movies2 weeks agoREVIEW FILM MOANA (2026), Keindahan Visual Kepulauan Pasifik
-
TV & Movies2 weeks agoReview Film Love Barista, Megabintang yang Terdampar
-
Gaming2 weeks agoAkhirnya Rilis! Wuthering Waves Versi 3.5 Hadirkan Region Baru dan Resmi Tuju Xbox!







