Connect with us

TV & Movies

Berikut Daftar Film yang siap dihadirkan oleh Moxienotion

Published

on

GwiGwi.com – Setelah sukses membawa film ‘Attack on Titan Part 1’ yang mendapatkan review positif dari rekan media maupun para pencinta film di Indonesia, Moxienotion kembali bersiap untuk menghadirkan beberapa film yang akan dirilis hingga akhir tahun 2015.

attack-on-titan-live action part 2 gwigwi

Attack on Titan Part 2 dan Monster Hunt merupakan 2 film yang rencananya akan dirilis pada bulan September. Attack on Titan Part 2 merupakan sequel kedua dari film Attack on Titan ini akan melanjutkan perjuangan Eren dan teman-teman untuk mempertahankan tanah airnya yang mulai dikuasai oleh para titan. Kehilangan orang-orang yang mereka cintai menjadi alasan lain yang membuat mereka berjuang untuk mengalahkan para Titan. Disutradarai oleh Shinji Higuchi, peraih penghargaan ‘Special Technology’ di Japan Academy Prize pada tahun 2006, film Attack on Titan berhasil mengangkat sejumlah nama bintang muda Jepang, seperti Haruma Miura, Kiko Mizuhara, Hiroki Hasegawa, Kanata Hongo dan beberapa nama lainnya. Higuchi juga menggandeng Special Effect Director asal Jepang, Onoue Katsuro, yang sebelumnya dinominasikan untuk ‘Best Visual Effects’ di Asian Film Award tahun 2007. Diadaptasi dari salah satu manga terbaik di Jepang film ini akan dirilis di negara asalnya pada tanggal 19 Agustus 2015.

monster hunt poster gwigwi

Monster Hunt – Selalu berkomitmen untuk terus memanjakan pecinta film di Indonesia, untuk pertama kalinya Moxienotion membawa film mandarin, berjudul Monster Hunt. Monster Hunt berhasil menyabet film lokal terlaris sepanjang masa di negara asalnya Tiongkok dan menjadi film terlaris kedua setelah Furious 7. Film ini berhasil mencuri perhatian kritikus film, tidak hanya di Asia tetapi juga di dunia. Hollywood Reporter dan LA Times bahkan menulis review tentang film ini yang sarat akan makna dan pesan moral di dalamnya.

Tidak hanya kedua film diatas, menjawab permintaan para penikmat film, tahun ini Moxienotion juga akan membawa film lainnya, seperti Assassination Classroom, Corpse Party dan The Wave.  Film live action Assassination Classroom sudah rilis sebelumnya dibioskop Jepang pada tanggal 21 Maret 2015 lalu. Mantan member grup idol Kpop KARA, Kang Ji-young memulai karir aktingnya difilm ini sebagai Irina Jelavić. Sementara itu Ryosuke Yamada dari Hey! Say! JUMP akan berperan sebagai Nagisa Shiota. Koro-sensei yang dihadirkan dalam CGI difilm ini akan disuarai oleh member idol grup Arashi, Ninomiya Kazunari.

corpse party live action poster gwigwi

Corpse Party merupakan game bergenre horror dan gore, Corpse Party: Blood Drive merupakan judul terbaru seri game ini yang baru saja dirilis bulan Juni lalu di Jepang. Corpse Party menceritakan sekelompok murid SMA yang terperangkap di sekolah SD Heavenly yang dihantui anak-anak yang hilang. Kini game terkenal tersebu telah diadaptasi menjadi film Live Action. Spesialnya, beberapa artis ternama seperti member Nogizaka46 dan AKB48, Ikoma Rina. Ikoma akan berperan sebagai Murid kelas tiga, Naomi Nakashima.

moxienotion logo

Moxienotion adalah distributor film yang saat ini fokus membawa film-film dari Asia ke Indonesia. Beberapa film, seperti Black Butler, Ju-On, Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno, Rurouni Kenshin: The Legend Ends, Lupin The Third, Fatal Frame, Parasyte, Iron Ladies Roar, Ju-On 4: the Final Curse, The Canal dan beberapa film lainnya. Selain itu, Moxienotion juga memegang license untuk memutarkan special screenings berupa film dokumenter atau konser perjalanan band maupun musisi, seperti Fool Cool Rock (One OK Rock) dan Over The L’A rc-en-Ciel.

Advertisement

TV & Movies

Review Film HOPE, Big Trouble in Little Village

Published

on

By

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Bencana besar di desa kecil. Mungkin deskripsi yang pas untuk HOPE.

Teror monster yang biasa menimpa kota besar, melibatkan tentara dan ilmuwan, kini harus dihadapi Beom Se-Ok (Hwang Jung-Min) kepala polisi lokal, sepupunya Sung Ki (Zo In-sung), para pemburu, peternak babi, tukang jugal daging dan warga desa lain.

Dari eksekusi sinematografinya, kamera mengisolasi POV penonton pada perjalanan tiap karakternya secara eye level napak tanah untuk mengungkap misteri layaknya progress video game. Bahkan sampai protagonis dapat upgrade senjata, berganti senapan yang lebih kuat. Mengkuti jejak si monsters dari jalanan, toko-toko sampai ke gang-gang kecil.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Cara demikian melokalisir teror pada skala kecil yang justru membuat lebih ngeri dibanding film monster umumnya yang seakan ingin main skala besar secepatnya.

Audiens tak melihat sosok si monster tapi dari kehancuran, gelimpangan mayat dan bangkai berceceran yang diakibatka, gambaran mengerikannya sudah begitu kuat.

Begitu saat akhirnya si sumber horror diperlihatkan…hem. Mengingatkan pada CG game zaman PS3? Barangkali terkendala budget tapi mengingat monster ini ternyata mempunyai peran yang lebih penting lagi, agak membingungkan kenapa tampilannya tidak dicoba lebih meyakinkan lagi.

Beruntung aksi cepat dan brutalnya menghujam efektif sampai rasanya kekurangan itu cukup termaafkan.

Kelemahan umum film monster, manusianya, justru menyala di sini.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Sembari tensi terus terjaga, HOPE mampu mengenalkan para karakternya secara singkat baik dengan cerita konyol atau pun sekedar dari bagaimana mereka memburu si monster. Sampai rasanya audiens sudah klop bersama mereka padahal baru sebentar. Polisi wanita Hoyeon (Sung-Ae) tak diperkenalkan bertele-tele, dari cara dia bernafsu mengejar si monster langsung membuat dia memorable.

Aksi tegang dan kadang bisa-bisanya dibumbui komedi memang mewarnai klimaks, tapi juga berasa terlalu diperpanjang. Tambah lagi ternyata film diakhiri dengan cliffhanger yang membuka sisi lain dari para monster. Untung saja paruh awal dan tengahnya cukup kuat sehingga rasa nanggung tak sampai mengganggu.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

HOPE seakan apabila Godzilla plus ALIEN dialami desa kecil di provinsi anda dan cerdas sekali memanfaatkan keunikan itu baik secara sosiologi manusianya dan kulturnya. Mungkin penonton hanya banyak melihat Hope Harbor dalam keadaan hancur tapi bisa jadi warga dan daerahnya lebih membekas di benak penonton dibanding film monster lain. Dan demikian rasanya sungguh key selling point dari film yang barangkali kurang memenuhi ekspektasi fans sutradara Na Hong-Jin paska THE WAILING.

Apakah terus bisa dia kawinkan aspek itu dengan aliennya nanti untuk sekuel yang sudah ditease? We may hope so….

Continue Reading

TV & Movies

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Published

on

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

www.gwigwi.com – John Miller (Alan Ritchson), seorang veteran Perang Vietnam yang bekerja di pabrik perakitan mobil, dijebak atas kejahatan yang tidak ia lakukan oleh Reynolds (Ben Foster), seorang penguasa mafia lokal yang terobsesi pada kekasih John, Sophia (Shailene Woodley).

Divonis 25 tahun di penjara berkeamanan maksimum, John bertahan hidup hanya dengan satu tujuan: keluar dan menuntaskan dendam.

Ketika kesempatan itu tiba, John melancarkan perburuan berdarah menyusuri jalanan Detroit yang dingin dan korup, melintasi jajaran anak buah Reynolds yang dijaga oleh seorang polisi korup bertangan besi (Pablo Schreiber).

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Sutradara Potsy Ponciroli (Old Henry) kembali memamerkan keahliannya dalam mengolah cerita klasik menjadi sajian visual yang segar melalui Motor City.

Setting kota Detroit tahun 1970-an yang kelam, film action-thriller ini mengusung eksperimen berani. Menyajikan kisah balas dendam yang intens dengan dialog yang dipangkas hampir sepenuhnya, menyerahkan seluruh penyampaian emosi pada gestur, aksi, dan desain suara.

Estetika gritty era 70-an dengan warna-warna pudar dan pencahayaan bernuansa neo-noir. Tanpa kata-kata, deru mesin mobil muscle, dentuman senapan, dan koreografi pertarungan menjadi “dialog” utama.

Penggunaan mobil antik, outfit era 70-an, serta lagu-lagu rock klasik memperkuat suasana kota industri yang sedang runtuh.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Menurut gue ini adalah hal yang sangat berani. Serta membuang dialog eksposisi yang membuat penonton harus fokus pada aksi instinktif dan emosi karakter.

Dari jajaran cast, Alan Ritchson memanfaatkan postur fisiknya yang intimidatif secara maksimal. Tanpa bantuan dialog, ia mengandalkan tatapan mata, nafas yang berat, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan kepedihan, rasa kehilangan, serta kemarahan murni.

Begitu juga dengan Ben Foster yang tampil mengintimidasi lewat aura psikologis yang dingin, sementara Pablo Schreiber memberikan ancaman fisik yang seimbang dengan karakter Ritchson.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Buat gue film ini emang cocok-cocokan dengan penonton masa kini. Bagi yang terbiasa dengan dialog cepat atau pacing modern, beberapa transisi babak tengah mungkin terasa berjalan lambat.

Secara keseluruhan, Motor City merupakan penghormatan yang solid terhadap genre action-thriller klasik.

Film ini membuktikan bahwa Alan Ritchson as an actor tidak hanya mengandalkan fisik semata, melainkan juga kemampuan akting non-verbal yang kuat di bawah arahan sutradara yang tepat.

Continue Reading

TV & Movies

Review Film INSIDIOUS OUT OF THE FURTHER, Wahana Rumah Hantu ala The Further

Published

on

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

www.gwigwi.com – Gemma (Amelie Eve) memiliki masa kecil buruk dengan Ibunya (Laura Gordon) dan berniat menjadi Ibu lebih baik untuk anaknya, Maya (ISLAND Austin).

Sampai dia dihantui mimpi mengerikan yang bisa jadi lebih dari sekedar khayalannya dan berhubungan dengan masa lalunya.

Kembali lagi franchisee horror yang film pertamanya sukses meski low budget dan ternyata penonton masih mau kembali mengeksplorasi alam barzah khas INSIDIOUS yakni the further.

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Dengan film ke 6 filmmaker seolah bermain dengan konsep untuk mengeksploitasi the further. Setelah dapat, seakan barulah dibuat cerita seputar itu dan rasanya memang demikian.

Motivasi yang trigger emosi penonton seputar hubungan ibu anak dan mencoba memutus trauma generasional. Diselingi permainan ketegangan yang lumayan oke memakai syaitonirojim dan eksplorasi the further, di mana paruh ketiganya memang cukup seru dan tak terduga.

Semuanya fine saja dan mungkin itulah fault dari INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER ini; wahana seram-seraman yang terasa eksploitasi (dalam artian yang masih terbilang baik) franchise saja. Bila penonton senang, sampai INSIDIOUS 11 pun seakan dijabanin BLUMHOUSE PRODUCTION.

INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER seolah hasil dari pikiran; karena penonton masih mau, maka filmmaker akan coba segala hal untuk isi gas franchisenya. Apakah mereka akan menemukan alasan kuat lagi untuk penonton mau kembali menjelajah The Further? We'll see…

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending