Connect with us

TV & Movies

Review TV Series Halfworlds Episode 1-3, Sensasi Horror Urban Legend Indonesia ala Joko Anwar

Published

on

GwiGwi.com – Serial TV hasil kerjasama antara sineas Indonesia dengan HBO Asia, Halfworlds, berhasil hadir mewarnai industri film Indonesia. Serial TV yang disutradarai oleh Joko Anwar dibintangi oleh aktor dan aktris Indonesia ternama seperti Reza Rahadian, Tara Basro, Arifin Putra, Ario Bayu, Verdi Soelaiman, Alex Abbad, Adinia Wirasti, Hannah Al-Rashid, dan ditambah talent talent baru seperti Nathan Hartono, Salvita Decorte, dan Bront Palarae aktor dari negeri Jiran Malaysia.

Maaf Anda Melihat Iklan

Review TV Series Halfworlds Episode 1-3, Sensasi Horror Urban Legend Indonesia ala Joko Anwar gwigwi.com featured

Serial ini mulai premiere di HBO Asia pada tanggal 29 November 2015 dan sampai 13 Desember 2015 ini baru sampai 3 episode yang rencana nya serial ini berjumlah 8 episode nanti hingga tahun 2016.

Siapa sih penikmat film Indonesia, terutama genre mystery thriller yang tidak pernah mendengar nama Joko Anwar? Tentu bukan nama yang asing terdengar di telinga ada para penikmat film Indonesia.

halfworlds-poster-poster-reza-rahadian-tara-basro

Ya, mungkin saja bagi Anda yang belum pernah sekali pun mendengar namanya, mungkin Anda pernah menonton karya-karyanya, seperti Pintu Terlarang, Modus Anomali, Kala, Janji Joni, dan yang paling anyar adalah A Copy of My Mind, yang berhasil membawa Joko ke panggung Piala Citra. Sehingga, ketika HBO Asia pertama kali mengumumkan produksi serial televisi Halfworlds, yang melibatkan Joko sebagai sutradara dan ­co-writer, rasa penasaran mendominasi kepala saya.

Bagaimana Joko Anwar bisa mengolah cerita berdasarkan mitologi hantu-hantu di Indonesia, yang selama berpuluh-puluh tahun muncul dengan image makhluk yang menyeramkan dengan kondisi tubuh yang tidak elok dipandang mata penonton. Bahkan, menurut saya hampir semua film horor Indonesia hanya menjual judul dan label “Berdasarkan Kisah Nyata”, namun saat ditonton isinya tidak jauh-jauh dari masalah ranjang dan wanita.

halfworlds-poster-arifin-alex-halfworld

Muncul pula sekelumit skeptisisme dalam kepala saya, mengingat Joko belum pernah masuk ke ranah dark fantasy yang merupakan genre dari Halfworlds. Sepengetahuan saya, filmnya masih cenderung bercerita tentang kehidupan manusia yang jauh dari sentuhan hal-hal supranatural kecuali Kala, meskipun tidak terlalu mendominasi.

Genre ini juga rentan akan kritikan negatif dari kritikus, sehingga menurut saya hanya sedikit sutradara di luar negeri yang berhasil survive dengan genre ini, salah satunya adalah Guillermo del Toro dalam Pan’s Labyrinth, kedua film Hellboy, dan Crimson Peak yang dua bulan lalu tayang di bioskop.

halfworlds-scene2

Setelah menonton premiere di HBO Asia pada 29 November hingga episode ketiga pada 13 Desember, perlahan skeptisisme saya menguap. Joko sejauh ini berhasil membuat cerita hantu-hantu ini menjadi lebih menggigit.

Dalam serial ini, jangan harap Anda bisa melihat Reza Rahadian, yang berperan sebagai genderuwo bernama Tony, menjadi sesosok makhluk bertubuh besar dan berambut tebal layaknya penginterpretasian genderuwo selama ini. Atau Tara Basro, yang memerankan kuntilanak bernama Ros, bisa muncul dengan pakaian serba putih yang seakan-akan menjadi dress code hantu dalam film Indonesia dan menampakkan diri di bawah ranjang tidur dengan muka amburadul.

Baca Juga:  Spotify & Netflix Berkolaborasi, Hadirkan Playlist OST Official

halfworlds-scene

Semua hantu, yang disebut sebagai bangsa Demit, muncul seutuhnya seperti manusia normal. Saya pun juga dikenalkan pada dua jenis demit yang belum pernah saya ketahui sebelumnya, yakni Banaspati, makhluk dengan kepala api, dan Palasik, yang gemar memakan janin ibu hamil.

Seperti layaknya film horor atau dark fantasy lain, tokoh antagonis selalu mencuri perhatian penonton. Reza dan Tara, yang baru muncul di dua episode, menunjukkan diri sebagai demit yang brutal, tidak kenal ampun, namun terkadang sedikit komikal di beberapa adegan.

halfworlds-t

Begitu pula dengan Arifin Putra, yang memerankan seorang setengah demit bernama Barata. Meskipun aktingnya dalam Halfworlds belum bisa menyamai aktingnya saat memerankan Ucok dalam The Raid: Berandal, ia menunjukkan kemampuan bela diri yang tidak kalah gereget. Penampilan Ario Bayu, yang memerankan karakter Juragan, manusia yang ditugaskan menjaga keseimbangan kedua dunia yang tumpang tindih ini, juga layak diapresiasi. Bahkan, ia rela menaikkan berat badan sampai 10 kilogram untuk peran ini, sehingga saat pertama kali saya lihat fotonya dalam poster karakter Halfworlds, perawakannya mirip pegulat WWE dan pemeran Drax dalam Guardians of the Galaxy, Dave Bautista.

Dari segi visual, serial ini layak dipuji. Joko dan krunya seperti bermain-main dengan color palette dan tone yang ditampilkan sangat dark, seakan-akan menggambarkan alur ceritanya. Visual effect serial ini juga tak kalah apik.

Joko, seperti film-filmnya, berani menampilkan kesadisan dari sudut pandang miliknya. Bagi yang sudah menonton pertama, ditampilkan seseorang yang tiba-tiba saja tubuhnya terbelah dua secara vertikal dan jatuh menjadi dua bagian yang berdarah-darah. Perkelahian dalam toilet antara Barata dengan demit lain juga tidak kalah sadis dan berdarah. Soundtrack yang menjadi pengiring serial ini cukup pas menggambarkan dunia Halfworlds yang kelam.

halfworlds-2

Sebuah karya tidaklah sepenuhnya sempurna. Begitupun dengan Halfworlds, masih banyak lubang-lubang kekurangan yang harus ditutupi. Dialog antarkarakter manusia dalam film ini banyak yang terkesan basa-basi dan hanya agar tidak terlihat sebagai film bisu.

Banyak penampilan dari pemain ternama, seperti Adinia Wirasti, yang hanya sekedar numpang lewat, dan saya harap karakternya bisa diberi porsi lebih di episode selanjutnya. Background sound yang diputar kadang terlampau keras, sehingga terasa sedikit annoying bagi saya.

Masih ada lima episode yang akan diputar di HBO Asia. Saya, sebagai penonton, hanya bisa berharap bahwa Halfworlds bisa lebih baik lagi dari episode-episode yang sebelumnya tayang, sembari menunggu surprise dari Joko Anwar dalam serial ini.

Maaf Anda Melihat Iklan
Advertisement
Click to comment
0 0 votes
Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Dorama

Nana Asakawa Berperan Dalam Drama Live-Action ‘Harem Marriage’

Published

on

GwiGwi.com – Saluran televisi ABC Jepang mengumumkan bahwa adaptasi seri live-action dari manga Harem Marriage (Hare Kon) karya Non telah menampilkan Nana Asakawa sebagai Madoka Date. Madoka adalah istri kedua Ryūnosuke dan dia seorang diri mengelola keuangan keluarga.

Serial ini akan tayang ABC pada Januari 2022. Acara ini dibintangi Haruka Shimazaki sebagai Koharu Maezono, Yū Inaba sebagai Tanggal Ryūnosuke, dan Yurina Yanagi sebagai Tanggal Yuzu.

Maaf Anda Melihat Iklan

Takashi Ninomiya menyutradarai adaptasi ini. Kana Yamada menulis naskah dan juga menyutradarai serial ini.

Sinopsis cerita dari manganya:

Pria yang dicintai Koharu tidak selingkuh…dia selingkuh dengan istrinya! Dan bukan hanya itu…dia adalah orang ketiga berturut-turut yang melakukannya. Merasa sedih, dia meninggalkan Tokyo ke kampung halamannya, dan menolak masa depan cinta dan pernikahan untuk kehidupan yang lebih sederhana. Tetapi banyak hal telah berubah—orang tuanya berjuang, kafe yang mereka kelola tutup, dan seorang pria menyeramkan terus mengikutinya. Dia pikir ini mungkin untuknya, sampai dia mengetahui bahwa kampung halamannya telah mengizinkan pernikahan poligami, dan dia dalam pandangan pria itu sebagai istri ketiganya!

Baca Juga:  Review Film Red Notice, Aksi Komedi Seru dengan Jajaran Artis Papan Atas

 

Sumber: ANN

Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Box Office

10 Film Aksi Dimana Yang Jagoannya Babak Belur

Published

on

GwiGwi.com – Bintang film aksi menjadi favorit penggemar karena sejumlah sifat luar biasa yang dimiliki oleh beberapa orang termasuk ketabahan, tekad, dan keberanian. Meskipun begitu, kualitas lain yang dimiliki oleh sebagian besar pahlawan aksi adalah semacam keterampilan bertarung. Namun, itu hampir selalu datang dengan kemampuan untuk menerima pukulan dan juga memberikannya.

Ada sejumlah film aksi dan waralaba selama bertahun-tahun yang telah memperkenalkan pahlawan yang satu-satu kemampuannya tampaknya bisa dijatuhkan dengan keras dan bangkit kembali. Meskipun itu juga sering membuat mereka menang dengan lebih dari beberapa memar di tubuhnya. Superhero overpower sangat menarik dengan caranya sendiri. Tetapi, ada juga sesuatu yang bisa dikatakan untuk protagonis aksi jauh dari tak terkalahkan dan kalah sebanyak mereka menang (jika tidak lebih).

Maaf Anda Melihat Iklan

10. A Fistful Of Dollars, Film Dengan Protagonis yang Babak Belur Untuk Pria Tanpa Nama

Clint Eastwood membintangi sebagai Pria Tanpa Nama dalam trilogi barat spageti ikonik Sergio Leone. Di mulai pada tahun 1964-an A Fistful Of Dollars, yang diikuti oleh film tahun 1965 For A Few Dollars More dan tahun 1966 The Good, The Bad and The Ugly.

Sementara penjahat Eastwood dikenal oleh penggemar karena sikapnya yang kasar dan tembak-menembak yang cakap, dia telah menerima beberapa pukulan dari berbagai musuh yang dia temui di seluruh seri. Di mulai dengan pelecehan dan penyiksaan di tangan saudara-saudara Rojo dan geng mereka di Seri pertama dari trilogi klasik.

9. Snake Plissken Berjuang Untuk Hidupnya di Escape from New York

Film Tahun 1981, Escape from New York yang disutradarai John Carpenter dan dibintangi Kurt Russel sebagai Snake Plissken. Dia adalah seorang mantan tentara pasukan khusus yang secara paksa dikirim ke pulau penjara “futuristik” Manhattan untuk menyelamatkan Presiden setelah pendaratan darurat.

Snake dipaksa untuk bertanding gulat dengan Slag yang dimainkan oleh pegulat Ox Baker secara brutal. Saat Plissken menderita selama pertarungan, Kurt Russell harus membayar harga selama pembuatan film karena Baker tidak menarik pukulannya.

8. Harrison Ford Dalam Waralaba Indiana Jones

Steven Spielberg mengarahkan setiap entri jangka panjang Indiana Jones waralaba yang dibintangi Harrison Ford. Film ini pertama kali diputar di bioskop pada tahun 1981 dengan Raiders of the Lost Ark, dan the heroic archeologist and adventurer telah menjadi favorit penggemar karena sifat manusia biasa yang kadang-kadang termasuk mengambil pemukulan sesekali.

Setiap film menampilkan momen pelecehannya sendiri untuk Dr. Jones. Itu adalah pertempurannya dengan mekanik pesawat (diperankan oleh Pat Roach) di Raiders yang membuatnya hampir dikalahkan oleh pria yang jauh lebih besar. Meskipun saat itu baling-baling pesawat berputar tepat waktu mengakhiri pertarungan itu sebelum Indiana Jones tersingkir.

7. Martin Riggs Dipukuli & Disiksa Sepanjang Waralaba The Lethal Weapon

Film Tahun 1987-an, The Lethal Weapon memperkenalkan detektif Martin Riggs dan Roger Murtaugh, masing-masing diperankan oleh Mel Gibson dan Danny Glover. Kelompok baru tersebut sedang menyelidiki kematian yang mengungkap operasi penyelundupan narkoba internasional dan menempatkan mereka dan keluarga Murtaugh dalam bahaya.

Riggs adalah “senjata mematikan” karena bertahun-tahun pelatihan militer dan pasukan khusus. Meskipun begitu, ia mendapati dirinya pertama-tama disiksa secara brutal dan kemudian dipukuli hingga berdarah dalam pertempuran terakhir dengan penegak ganas Joshua yang akhirnya ia menangkan. Waralaba akan melanjutkan tren ini dan menampilkan beberapa pemukulan lain untuk Riggs.

6. Alex Murphy Anggota Badannya Dihancurkan Dalam The Ultra-Violent Robocop

Paul Verhoeven menyutradarai film aksi tahun 1987 berjudul RoboCop. Ceritanya terjadi di kota Detroit di masa depan karena jatuh di bawah kendali perusahaan korup yang mencari cara lebih baik untuk mengawasi jalan-jalan menggunakan teknologi robotika. Detektif Alex Murphy dimutilasi secara mengerikan oleh sekelompok penjahat yang menembak sebagian besar anggota tubuhnya sebelum dia dibangun kembali sebagai RoboCop.

Bahkan, setelah ia diubah menjadi polisi robot masa depan, RoboCop terus menerima hukuman di tangan geng dan kreasi robot lainnya. Contohnya seperti ED-209 yang meninggalkan tubuh barunya yang membutuhkan beberapa perbaikan signifikan.

Baca Juga:  Review Film Red Notice, Aksi Komedi Seru dengan Jajaran Artis Papan Atas

5. John McClane Menderita Beberapa Cedera Di Seluruh Waralaba Die Hard

Satu pahlawan aksi yang tampaknya selalu dapat memar dan benjolan adalah John McClane (Bruce Willis) dari waralaba Die Hard. Pertama kali mendapat luka saat menghadapi teroris pencuri yang menyerang Nakatomi Plaza selama pesta Natal di film ikonik tahun 1988.

McClane tidak hanya dimasukkan ke dalam pertempuran untuk hidupnya saat dia seorang diri mengalahkan pencuri satu per satu. Dia juga menempatkan tubuhnya dengan kekerasan saat dia dipaksa berjalan melalui pecahan kaca dengan kaki telanjang saat melawan anggota operator. Semua itu hanya ada di film pertama karena McClane terus menerima hukuman yang tidak manusiawi selama waralaba berlangsung.

4. The Bride Dipukuli & Dibiarkan Mati Di Pernikahannya Pada Kill Bill

Film Kill Bill Vol 1 & 2 dari Quentin Tarantino mengikuti jalan balas dendam seorang pembunuh yang sangat terlatih yang awalnya hanya dikenal sebagai The Bride. Dia mencari mantan anggota regu pembunuhnya untuk mengeluarkan mereka satu per satu setelah pulih dari pengalaman mendekati kematian.

The Bride mendapatkan namanya dari asalnya karena dia dipukuli secara brutal saat hamil oleh anggota lain dari Pasukan Pembunuh Viper Mematikan sebelum dia ditembak dan dibiarkan mati oleh mantan bos dan kekasih Bill. Fans masih berharap untuk melihat cerita ini berlanjut Kill Bill 3 untuk melanjutkan cerita yang dipicu oleh balas dendam.

3. Pencarian Julian untuk Balas Dendam Berakhir dengan Buruk Untuknya Dalam Only God Forgives

Ryan Gosling membintangi film ini sebagai penguasa kejahatan Amerika tingkat rendah di Bangkok. Dia dikirim dalam misi balas dendam oleh ibunya setelah pembunuhan saudaranya dalam film aksi gaya 2011 Nicolas Winding Refn Only God Forgives.

Keterampilan bertarung Muay Thai Julian membuatnya menjadi ancaman bagi sebagian besar penjahat lain yang dia temui dalam misinya. Mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan saingannya Lt. Chang (diperankan oleh Vithaya Pansringarm). Julian tidak bisa mendaratkan satu pukulan pun pada Chang. Dengan perlahan dan metodis, Chang memukuli Julian hingga memar dan berlumuran darah.

2. Hari Pertama Dave Lizewski Sebagai Pahlawan Super Tidak Berhasil di Kick-Ass

Film Kick-Ass (2010) dari sutradara Matthew Vaughn mengadaptasi serial komik Mark Millar dan John Romita Jr. dengan nama yang sama. Film ini memperkenalkan Dave Lizewski muda (diperankan oleh Aaron Taylor-Johnson) saat ia memulai karir rahasianya sebagai Vigilante di dunia nyata.

Sayangnya, dia tidak memiliki kekuatan, pelatihan, atau gadget mahal seperti kebanyakan pahlawan buku komik lainnya. Dia ditikam, dipukuli, dan ditabrak mobil dalam penampilan pertamanya sebagai Kick-Ass. Untungnya kecelakaan itu memberinya semacam kemampuan baru karena dia tidak lagi merasakan sakit sebanyak orang lain, membuatnya lebih mudah untuk menerima banyak pukulan di film ini dan sekuelnya di tahun 2013.

1. Pertarungan Terbesar John Wick Berakhir Seri Di Chapter 3: Parabellum

Keanu Reeves memukau penonton sebagai pensiunan pembunuh bayaran John Wick dalam film yang meluncurkan waralaba itu pada tahun 2014. Hal itu membuatnya kembali bekerja setelah kehilangan istrinya yang tragis dan pembunuhan anak anjing barunya. Wick menderita sejumlah luka parah karena dia harus berjuang melewati pasukan pengawal dan keamanan dalam misi balas dendam.

Ketika John Wick: Chapter 2 menampilkan beberapa pertempuran yang lebih berat, saat itulah para pembunuh menyalakan Wick Chapter 3: Parabellum bahwa dia benar-benar menderita kerusakan paling parah. Dia juga memiliki salah satu pertarungan terbaiknya dengan dua pembunuh terlatih yang berulang kali memberi Wick peluang untuk pulih. Pertarungan berakhir dengan hasil imbang yang terhormat meskipun tubuh Wick yang lelah berperang.

Sumber: (1)

Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Box Office

Review Film Ghostbusters: Afterlife, The Legacy Continue

Published

on

GwiGwi.com – Setelah Ghostbusters 2 (1989) bertahun-tahun setelahnya banyak sekali rumor, pembicaran, blabla soal film ke tiga tapi tak pernah terwujud. Tahun 2010 cast original kembali berkumpul tapi bukan untuk layar lebar melainkan game berjudul Ghostbusters (2009). Saya pernah memainkannya dan yeah, busting does feels good. Tetap, usaha untuk membuat film ketiga masih berlanjut dengan Dan Aykroyd memimpin. Tanpa Bill Murray yang ternyata dirinya tidak mau kembali karena dia tak suka sekuel.

Maaf Anda Melihat Iklan

Berdekade kemudian this and that happen. gonta-ganti rencana, Bill Murray masih menolak kembali, Harold Ramis meninggal, etc. Kemudian penulis skenario Max Landis memberi pitch Ghostbusters 3 versi dia yang memperbesar skala cerita dan terbuka untuk spin-off. Sayang ide besar itu kandas dan dengan Sutradara Paul Feig (Bridemaids, Spy), Sony mempersembahkan Ghostbusters Answer The Call (2016) yang hasilnya kurang berhasil baik dari Box Office mau pun resepsi dari penonton.

Setelah berdekade-dekade cinta pada film original yang seperti tak pernah mati dan versi 2016 yang kurang dari ekspektasi, apa yang bisa ditawarkan Ghostbusters: Afterlife? Apakah film ini akan mengedepankan nostalgia habis-habisan demi kembali menangkap hati fans lama jadi takut berinovasi? Atau justru memberi inovasi menarik tapi terbebani harus memberikan nostalgia? Hasil akhirnya jadi begitu bercampur.

Tema besar dari film ini adalah warisan. Tak hanya di depan layar, tapi juga di belakang layar. Disutradarai oleh Jason Reitman (Juno, Up in The Air) anak dari sutradara film originalnya, Ivan Reitman (Caddyshack, Ghostbusters), Ghostbusters: Afterlife, bercerita tentang Phoebe (Mckenna Grace) yang beserta keluarganya pindah ke rumah peternakan milik almarhum kakeknya. Rumahnya berantakan penuh buku, rongsokan mobil dan hutang. Ditambah reputasinya yang buruk di kota, seolah tak ada yang ditinggalkan si kakek selain beban.

Kota kecil itu ternyata menyimpan misteri. Gempa aneh, ukiran di tambang dan perilaku penambang yang pernah bekerja di sana. Semuanya mungkin berhubungan dengan tindak-tanduk aneh kakek Phoebe dan menjadi tugas gadis 12 tahun itu untuk menyelesaikan tugas pendahulunya.

Hal-hal yang mungkin paling disukai fans dari film originalnya adalah castnya, chemistry karakternya dan komedinya. Bagaimana mereka membagi tugas dari Ray (Dan Aykyord) yang antusiastik, Venkman (Bill Murray) yang…jadi Bill Murray terus memberikan joke bahkan di momen serius seolah menolak tergiring suasana, Egon (Harold Ramis) yang selaluuu serius 100% dan Winston (Ernie Hudson) yang hanya ingin cari kerja. Interaksi mereka satu sama lain dan dengan plot berhasil memancing tawa

Ghostbusters (1984) memiliki komedi yang tidak memaksa harus terus memberi tawa tapi agar cerita absurdnya yang membuat karakter bereaksi atau berkata aneh yang memberi tawa. Hal ini yang jelas dibawa ke Ghostbusters; Afterlife. Phoebe dan keluarganya seperti paham dan terima kehidupan mereka menyedihkan. Mereka cuek, mengetawai diri sendiri dan sesama anggota keluarga, dan berusaha mengarungi keseharian yang sulit saja sambil sesekali mengeluh. Sikap yang sangat mencerminkan film originalnya.

Baca Juga:  Review Film Red Notice, Aksi Komedi Seru dengan Jajaran Artis Papan Atas

Hanya satu karakter yang sedikit memaksa memberi komedi yaitu Podcast (Logan Kim) yang dengan antusiasmenya membuat Podcast. Mengetjutkannya, dia tidak berisik menjengkelkan dan bisa jadi menjadi favorit penonton.

Bila Podcast jadi yang antusias, Trevor (Finn Wolfhard), kakak Phoebe, jadi “bantalan” yang sering kena sial, dan Mr. Grooberson (Paul Rudd) jadi ilmuwan dengan tipikal gaya Paul Rudd macam di Ant-Man (2015), situasi lucu sering ada dan sering efektif, malah kayaknya jarang yang garing. Komedinya toplah. Bicara cast, Mckenna Grace paling menonjol.

Grace sebagai Phoebe menyalurkan sifat kutu buku yang kaku ala Egon. Dia jenius, rajin menyelesaikan masalah dan berani menghadapi hantu. Namun dia tidak kaku membosankan. Phoebe tetap memiliki perasaan walau berbeda cara mengungkapkannya dan memiliki pesona menggemaskan seperti anak kecil yang muncul ke permukaan beberapa kali seperti saat ngasih joke nerd yang jayus tapi manis. Phoebe adalah pemeran utama yang cocok mempimpin generasi baru Ghostbusters ini.

Seimbangnya aksi, komedi dan good character stuff sangat baik disampaikan di sini. Sayang sekali plotnya begitu mirip film originalnya. Momen saat Phoebe memperbaik Proton Pack dan Trevor memperbaiki mobil Ecto-1, seolah simbolisme dari keseluruhan film ini, hanya melanjutkan apa yang bekerja dulu, tanpa terobosan atau variasi. Padahal versi tahun 2016 saja menampilkan banyak peralatan baru.

Sebagai yang telah mengikuti Ghostbuster dari dulu, sering sekali saya hanyut dengan komedi dan aksinya lalu mood hilang karena plotnya begitu familiar dan mudah ditebak. Seolah saya hanya duduk menunggu momen-momen filmnya saja datang. Ya saya akan sesekali terhibur tapi saya berharap sekali mereka benar-benar memberikan plot yang baru. Untungnya pada bagian klimaks ada twist dan kejutan-kejutan menyenangkan

Sebelumnya saya bilang tema film ini adalah warisan. Oke saja, yang saya tidak sangka apa yang diwariskan banyak banget. Sangat memberikan rasa nostalgia sekali. Dari referensi dialog, properti, etc. Untuk fans hal ini bisa jadi pedang bermata dua; ada yang senang serta mengobati rasa rindu dan bisa jadi ada yang masih mencari sebuah inovasi / cerita baru dari franchise ini.

Jemunya plot dan nostalgia ini terasa lantaran hal-hal barunya begitu kuat. Semoga sekuelnya jika ada benar-benar meninggalkan nostalgia dan melajut ke arah baru. Pondasinya untuk melanjutkan franchise-nya sudah, sekali lagi, sudah sangat amat super kuat.

So Gwiples, buat kalian yang ingin bernostalgia ataupun yang baru pertama kali ingin menonton GhostBusters, Film satu ini wajib di tonton. Saksikan Ghostbusters: Afterlife di bioskop-bioskop kesayangan kalian dan jangan lupakan prokes ya Gwiples!

Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Trakteer

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x