Connect with us

TV & Movies

Review TV Series Halfworlds Episode 1-3, Sensasi Horror Urban Legend Indonesia ala Joko Anwar

Published

on

GwiGwi.com – Serial TV hasil kerjasama antara sineas Indonesia dengan HBO Asia, Halfworlds, berhasil hadir mewarnai industri film Indonesia. Serial TV yang disutradarai oleh Joko Anwar dibintangi oleh aktor dan aktris Indonesia ternama seperti Reza Rahadian, Tara Basro, Arifin Putra, Ario Bayu, Verdi Soelaiman, Alex Abbad, Adinia Wirasti, Hannah Al-Rashid, dan ditambah talent talent baru seperti Nathan Hartono, Salvita Decorte, dan Bront Palarae aktor dari negeri Jiran Malaysia.

Review TV Series Halfworlds Episode 1-3, Sensasi Horror Urban Legend Indonesia ala Joko Anwar gwigwi.com featured

Serial ini mulai premiere di HBO Asia pada tanggal 29 November 2015 dan sampai 13 Desember 2015 ini baru sampai 3 episode yang rencana nya serial ini berjumlah 8 episode nanti hingga tahun 2016.

Siapa sih penikmat film Indonesia, terutama genre mystery thriller yang tidak pernah mendengar nama Joko Anwar? Tentu bukan nama yang asing terdengar di telinga ada para penikmat film Indonesia.

halfworlds-poster-poster-reza-rahadian-tara-basro

Ya, mungkin saja bagi Anda yang belum pernah sekali pun mendengar namanya, mungkin Anda pernah menonton karya-karyanya, seperti Pintu Terlarang, Modus Anomali, Kala, Janji Joni, dan yang paling anyar adalah A Copy of My Mind, yang berhasil membawa Joko ke panggung Piala Citra. Sehingga, ketika HBO Asia pertama kali mengumumkan produksi serial televisi Halfworlds, yang melibatkan Joko sebagai sutradara dan ­co-writer, rasa penasaran mendominasi kepala saya.

Bagaimana Joko Anwar bisa mengolah cerita berdasarkan mitologi hantu-hantu di Indonesia, yang selama berpuluh-puluh tahun muncul dengan image makhluk yang menyeramkan dengan kondisi tubuh yang tidak elok dipandang mata penonton. Bahkan, menurut saya hampir semua film horor Indonesia hanya menjual judul dan label “Berdasarkan Kisah Nyata”, namun saat ditonton isinya tidak jauh-jauh dari masalah ranjang dan wanita.

halfworlds-poster-arifin-alex-halfworld

Muncul pula sekelumit skeptisisme dalam kepala saya, mengingat Joko belum pernah masuk ke ranah dark fantasy yang merupakan genre dari Halfworlds. Sepengetahuan saya, filmnya masih cenderung bercerita tentang kehidupan manusia yang jauh dari sentuhan hal-hal supranatural kecuali Kala, meskipun tidak terlalu mendominasi.

Genre ini juga rentan akan kritikan negatif dari kritikus, sehingga menurut saya hanya sedikit sutradara di luar negeri yang berhasil survive dengan genre ini, salah satunya adalah Guillermo del Toro dalam Pan’s Labyrinth, kedua film Hellboy, dan Crimson Peak yang dua bulan lalu tayang di bioskop.

halfworlds-scene2

Setelah menonton premiere di HBO Asia pada 29 November hingga episode ketiga pada 13 Desember, perlahan skeptisisme saya menguap. Joko sejauh ini berhasil membuat cerita hantu-hantu ini menjadi lebih menggigit.

Dalam serial ini, jangan harap Anda bisa melihat Reza Rahadian, yang berperan sebagai genderuwo bernama Tony, menjadi sesosok makhluk bertubuh besar dan berambut tebal layaknya penginterpretasian genderuwo selama ini. Atau Tara Basro, yang memerankan kuntilanak bernama Ros, bisa muncul dengan pakaian serba putih yang seakan-akan menjadi dress code hantu dalam film Indonesia dan menampakkan diri di bawah ranjang tidur dengan muka amburadul.

halfworlds-scene

Semua hantu, yang disebut sebagai bangsa Demit, muncul seutuhnya seperti manusia normal. Saya pun juga dikenalkan pada dua jenis demit yang belum pernah saya ketahui sebelumnya, yakni Banaspati, makhluk dengan kepala api, dan Palasik, yang gemar memakan janin ibu hamil.

Seperti layaknya film horor atau dark fantasy lain, tokoh antagonis selalu mencuri perhatian penonton. Reza dan Tara, yang baru muncul di dua episode, menunjukkan diri sebagai demit yang brutal, tidak kenal ampun, namun terkadang sedikit komikal di beberapa adegan.

halfworlds-t

Begitu pula dengan Arifin Putra, yang memerankan seorang setengah demit bernama Barata. Meskipun aktingnya dalam Halfworlds belum bisa menyamai aktingnya saat memerankan Ucok dalam The Raid: Berandal, ia menunjukkan kemampuan bela diri yang tidak kalah gereget. Penampilan Ario Bayu, yang memerankan karakter Juragan, manusia yang ditugaskan menjaga keseimbangan kedua dunia yang tumpang tindih ini, juga layak diapresiasi. Bahkan, ia rela menaikkan berat badan sampai 10 kilogram untuk peran ini, sehingga saat pertama kali saya lihat fotonya dalam poster karakter Halfworlds, perawakannya mirip pegulat WWE dan pemeran Drax dalam Guardians of the Galaxy, Dave Bautista.

Dari segi visual, serial ini layak dipuji. Joko dan krunya seperti bermain-main dengan color palette dan tone yang ditampilkan sangat dark, seakan-akan menggambarkan alur ceritanya. Visual effect serial ini juga tak kalah apik.

Joko, seperti film-filmnya, berani menampilkan kesadisan dari sudut pandang miliknya. Bagi yang sudah menonton pertama, ditampilkan seseorang yang tiba-tiba saja tubuhnya terbelah dua secara vertikal dan jatuh menjadi dua bagian yang berdarah-darah. Perkelahian dalam toilet antara Barata dengan demit lain juga tidak kalah sadis dan berdarah. Soundtrack yang menjadi pengiring serial ini cukup pas menggambarkan dunia Halfworlds yang kelam.

halfworlds-2

Sebuah karya tidaklah sepenuhnya sempurna. Begitupun dengan Halfworlds, masih banyak lubang-lubang kekurangan yang harus ditutupi. Dialog antarkarakter manusia dalam film ini banyak yang terkesan basa-basi dan hanya agar tidak terlihat sebagai film bisu.

Banyak penampilan dari pemain ternama, seperti Adinia Wirasti, yang hanya sekedar numpang lewat, dan saya harap karakternya bisa diberi porsi lebih di episode selanjutnya. Background sound yang diputar kadang terlampau keras, sehingga terasa sedikit annoying bagi saya.

Masih ada lima episode yang akan diputar di HBO Asia. Saya, sebagai penonton, hanya bisa berharap bahwa Halfworlds bisa lebih baik lagi dari episode-episode yang sebelumnya tayang, sembari menunggu surprise dari Joko Anwar dalam serial ini.

Advertisement

TV & Movies

Review Film HOPE, Big Trouble in Little Village

Published

on

By

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Bencana besar di desa kecil. Mungkin deskripsi yang pas untuk HOPE.

Teror monster yang biasa menimpa kota besar, melibatkan tentara dan ilmuwan, kini harus dihadapi Beom Se-Ok (Hwang Jung-Min) kepala polisi lokal, sepupunya Sung Ki (Zo In-sung), para pemburu, peternak babi, tukang jugal daging dan warga desa lain.

Dari eksekusi sinematografinya, kamera mengisolasi POV penonton pada perjalanan tiap karakternya secara eye level napak tanah untuk mengungkap misteri layaknya progress video game. Bahkan sampai protagonis dapat upgrade senjata, berganti senapan yang lebih kuat. Mengkuti jejak si monsters dari jalanan, toko-toko sampai ke gang-gang kecil.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Cara demikian melokalisir teror pada skala kecil yang justru membuat lebih ngeri dibanding film monster umumnya yang seakan ingin main skala besar secepatnya.

Audiens tak melihat sosok si monster tapi dari kehancuran, gelimpangan mayat dan bangkai berceceran yang diakibatka, gambaran mengerikannya sudah begitu kuat.

Begitu saat akhirnya si sumber horror diperlihatkan…hem. Mengingatkan pada CG game zaman PS3? Barangkali terkendala budget tapi mengingat monster ini ternyata mempunyai peran yang lebih penting lagi, agak membingungkan kenapa tampilannya tidak dicoba lebih meyakinkan lagi.

Beruntung aksi cepat dan brutalnya menghujam efektif sampai rasanya kekurangan itu cukup termaafkan.

Kelemahan umum film monster, manusianya, justru menyala di sini.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Sembari tensi terus terjaga, HOPE mampu mengenalkan para karakternya secara singkat baik dengan cerita konyol atau pun sekedar dari bagaimana mereka memburu si monster. Sampai rasanya audiens sudah klop bersama mereka padahal baru sebentar. Polisi wanita Hoyeon (Sung-Ae) tak diperkenalkan bertele-tele, dari cara dia bernafsu mengejar si monster langsung membuat dia memorable.

Aksi tegang dan kadang bisa-bisanya dibumbui komedi memang mewarnai klimaks, tapi juga berasa terlalu diperpanjang. Tambah lagi ternyata film diakhiri dengan cliffhanger yang membuka sisi lain dari para monster. Untung saja paruh awal dan tengahnya cukup kuat sehingga rasa nanggung tak sampai mengganggu.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

HOPE seakan apabila Godzilla plus ALIEN dialami desa kecil di provinsi anda dan cerdas sekali memanfaatkan keunikan itu baik secara sosiologi manusianya dan kulturnya. Mungkin penonton hanya banyak melihat Hope Harbor dalam keadaan hancur tapi bisa jadi warga dan daerahnya lebih membekas di benak penonton dibanding film monster lain. Dan demikian rasanya sungguh key selling point dari film yang barangkali kurang memenuhi ekspektasi fans sutradara Na Hong-Jin paska THE WAILING.

Apakah terus bisa dia kawinkan aspek itu dengan aliennya nanti untuk sekuel yang sudah ditease? We may hope so….

Continue Reading

TV & Movies

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Published

on

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

www.gwigwi.com – John Miller (Alan Ritchson), seorang veteran Perang Vietnam yang bekerja di pabrik perakitan mobil, dijebak atas kejahatan yang tidak ia lakukan oleh Reynolds (Ben Foster), seorang penguasa mafia lokal yang terobsesi pada kekasih John, Sophia (Shailene Woodley).

Divonis 25 tahun di penjara berkeamanan maksimum, John bertahan hidup hanya dengan satu tujuan: keluar dan menuntaskan dendam.

Ketika kesempatan itu tiba, John melancarkan perburuan berdarah menyusuri jalanan Detroit yang dingin dan korup, melintasi jajaran anak buah Reynolds yang dijaga oleh seorang polisi korup bertangan besi (Pablo Schreiber).

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Sutradara Potsy Ponciroli (Old Henry) kembali memamerkan keahliannya dalam mengolah cerita klasik menjadi sajian visual yang segar melalui Motor City.

Setting kota Detroit tahun 1970-an yang kelam, film action-thriller ini mengusung eksperimen berani. Menyajikan kisah balas dendam yang intens dengan dialog yang dipangkas hampir sepenuhnya, menyerahkan seluruh penyampaian emosi pada gestur, aksi, dan desain suara.

Estetika gritty era 70-an dengan warna-warna pudar dan pencahayaan bernuansa neo-noir. Tanpa kata-kata, deru mesin mobil muscle, dentuman senapan, dan koreografi pertarungan menjadi “dialog” utama.

Penggunaan mobil antik, outfit era 70-an, serta lagu-lagu rock klasik memperkuat suasana kota industri yang sedang runtuh.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Menurut gue ini adalah hal yang sangat berani. Serta membuang dialog eksposisi yang membuat penonton harus fokus pada aksi instinktif dan emosi karakter.

Dari jajaran cast, Alan Ritchson memanfaatkan postur fisiknya yang intimidatif secara maksimal. Tanpa bantuan dialog, ia mengandalkan tatapan mata, nafas yang berat, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan kepedihan, rasa kehilangan, serta kemarahan murni.

Begitu juga dengan Ben Foster yang tampil mengintimidasi lewat aura psikologis yang dingin, sementara Pablo Schreiber memberikan ancaman fisik yang seimbang dengan karakter Ritchson.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Buat gue film ini emang cocok-cocokan dengan penonton masa kini. Bagi yang terbiasa dengan dialog cepat atau pacing modern, beberapa transisi babak tengah mungkin terasa berjalan lambat.

Secara keseluruhan, Motor City merupakan penghormatan yang solid terhadap genre action-thriller klasik.

Film ini membuktikan bahwa Alan Ritchson as an actor tidak hanya mengandalkan fisik semata, melainkan juga kemampuan akting non-verbal yang kuat di bawah arahan sutradara yang tepat.

Continue Reading

TV & Movies

Review Film INSIDIOUS OUT OF THE FURTHER, Wahana Rumah Hantu ala The Further

Published

on

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

www.gwigwi.com – Gemma (Amelie Eve) memiliki masa kecil buruk dengan Ibunya (Laura Gordon) dan berniat menjadi Ibu lebih baik untuk anaknya, Maya (ISLAND Austin).

Sampai dia dihantui mimpi mengerikan yang bisa jadi lebih dari sekedar khayalannya dan berhubungan dengan masa lalunya.

Kembali lagi franchisee horror yang film pertamanya sukses meski low budget dan ternyata penonton masih mau kembali mengeksplorasi alam barzah khas INSIDIOUS yakni the further.

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Dengan film ke 6 filmmaker seolah bermain dengan konsep untuk mengeksploitasi the further. Setelah dapat, seakan barulah dibuat cerita seputar itu dan rasanya memang demikian.

Motivasi yang trigger emosi penonton seputar hubungan ibu anak dan mencoba memutus trauma generasional. Diselingi permainan ketegangan yang lumayan oke memakai syaitonirojim dan eksplorasi the further, di mana paruh ketiganya memang cukup seru dan tak terduga.

Semuanya fine saja dan mungkin itulah fault dari INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER ini; wahana seram-seraman yang terasa eksploitasi (dalam artian yang masih terbilang baik) franchise saja. Bila penonton senang, sampai INSIDIOUS 11 pun seakan dijabanin BLUMHOUSE PRODUCTION.

INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER seolah hasil dari pikiran; karena penonton masih mau, maka filmmaker akan coba segala hal untuk isi gas franchisenya. Apakah mereka akan menemukan alasan kuat lagi untuk penonton mau kembali menjelajah The Further? We'll see…

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending