Connect with us

Box Office

Review Netflix ‘The Adam Project,’ drama fiksi ilmiah yang menyentuh

Published

on

Gwigwi – Orang bilang “Apa yang terjadi di masa lalu, mempengaruhi kehidupan kita sekarang dan di masa depan kelak”. Gue rasa itu yang bisa gue deskripsikan di film rilisan Netflix, The Adam Project yang dibintangi oleh Ryan Reynolds dan digarap oleh Shawn Levy.

Film dibuka dengan sosok Adam Reed, bocah 12 tahun yang masih berkabung semenjak ayahnya meninggal. Selalu mengalami perundungan oleh teman sekolahnya dan tidak memiliki hubungan baik dengan ibunya, Adam kerap berlagak kuat meski sedang  menyimpan kesedihan mendalam.

Hingga suatu ketika seorang pria misterius yang datang ke rumahnya dan berpotensi mengubah masa depannya dan seluruh umat manusia.

Film ini dibungkus dalam kisah berlatar fiksi ilmiah, dengan plot perjalanan waktu, penemuan mesin waktu, dan bagaimana sebuah penemuan tersebut justru berpotensi menjadi ancaman bagi umat manusia.

Kita akan disuguhkan dengan keseruan petualangan duo Adam melintasi waktu demi dengan misi menyelamatkan masa depan.

Dengan begini, naskah telah memiliki plot utama sebagai ‘kendaraan’ protagonis menyajikan kisah kronologis dengan tujuan jelas yang mudah untuk dipahami. Baik untuk penonton dewasa hingga anak-anak.

Tak hanya mengandalkan keseruan film melalui plot fiksi ilmiah, “The Adam Project” diisi dengan materi drama keluarga yang memberikan makna lebih dalam setiap adegan dan dialog.

Isu utama yang hendak disajikan dalam naskah film ini adalah bagaimana seorang anak berusaha mengatasi rasa berkabung pasca ditinggal orang tua. Bagaimana peristiwa tersebut mempengaruhi tumbuh kembangnya, hingga berpotensi merusak hubungan dengan orang disekitarnya.

Dari segi soundtrack di keseluruhan film, it remind me dengan jajaran soundtrack yang ada di film Guardians of The Galaxy.

Lagu-lagu lawas mulai dari The Spencer Davis Group, Led Zeppelin, hingga instrumental klasik, muncul sebagai pengiring yang dapat membangun suasana film menjadi asik.

Ryan Reynolds memang memiliki pesona alami sebagai aktor yang bersinar sebagai protagonis. Kali ini Ia berperan sebagai pemuda yang telah melalui banyak luka di masa lalu, namun belum kehilangan selera humor dan sarkasme.

Bukan karakter yang membabi buta untuk balas dendam atau berusaha memperbaiki masa lalu, penokohan Adam dewasa memiliki kekompleksan yang pas antara sisi emosional dan rasional untuk membuat cerita tidak terlalu berat. Ia berhasil dalam menyampaikan pesan yang ingin disampaikan.

Ryan Reynolds dan Walker Scobell berhasil sebagai duo yang memikat penonton untuk mengikuti petualangan seru mereka.

Keduanya mampu bersinergi dalam mengeksekusi jokes sepanjang film, hingga perkembangan karakter secara keseluruhan.

Keduanya selalu berhasil mengeksekusi dialog komedi segar yang akan membuat kita tertawa. Selain membuat kita tertawa, Reynolds juga berhasil membawakan dialog dan interaksi mengharukan dengan karakter-karakter lainnya.

Film ini juga diramaikan oleh Zoe Saldana, Jennifer Garner, dan Mark Ruffalo.

Dari segi visual efek, sudah jelas dalam sebuah film sci-fi jelas menyajikan banyak adegan aksi yang dinamis dan menimbulkan hype. Mulai dari adegan pertarungan dengan ‘lightsaber spesial’, hingga adegan baku tembak yang explosif. Tak ketinggalan penampakan pesawat tempur futuristik dengan CGI yang tampak maksimal.

Dalam tiap adegan pertarungan atau duel berhasil disajikan dengan koreografi yang apik. Begitu juga adegan dogfight pesawat yang tak kalah seru dan memacu adrenalin, setidaknya untuk sebagai sebuah tontonan semua umur.

Ketika mulai masuk babak akhir, kualitas CGI yang ditampilkan mulai mengalami penurunan. Cukup terlihat jelas untuk kita menyadari akan kejanggalannya.

Hal ini merupakan sedikit celah secara teknis. Meskipun begitu, celah ini tidak terlalu mempengaruhi keseruan dari plot petualangan yang sudah tercipta.

Overall, “The Adam Project” merupakan film petualangan dengan latar fiksi ilmiah. Namun diisi dengan kisah keluarga yang mengharu biru dan memberikan pelajaran dalam menghadapi rasa berkabung setelah ditinggal oleh orang tercinta.

Advertisement

Box Office

Review Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru

Published

on

Review Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru

www.gwigwi.com – Gohan adalah film terbaru karya studio GDH559 yang disutradarai oleh Chayanop Boonprakob, Nattawut Poonpiriya, dan Atta Hemwadee yang masing masing menyutradarai setiap tahap kehidupannya Gohan (masa kecil, remaja, dan dewasa/tua). Menariknya, tiga sutradara dalam film ini berhasil memberikan nuansa berbeda di tiap fase kehidupan Gohan. Masa kecil terasa hangat dan lembut, fase remaja tampil lebih gelap dan menyakitkan, sementara masa tua menghadirkan atmosfer melankolis namun damai. Walaupun berbeda gaya, transisinya tetap terasa menyatu.

Gohan ini  merupakan film drama kehidupan tentang perjalanan seekor anjing putih berhidung pink yang saat kecil dibuang di dekat 7eleven. Pada suatu malam ia masuk ke cooler box milik seorang expat Jepang bernama Hiro (Kitachima Yasushi ) yang sudah puluhan tahun bekerja di pabrik perakitan mobil dan dipaksa pensiun oleh manajemen. Walaupun sang kakek agak ragu-ragu untuk memeliharanya namun ia amat sayang pada Gohan dan berupaya mendapatkan pemilik baru untuk si anjing yang warnanya putih seperti nasi ini.  Inilah tahap pertama dalam hidup Gohan, ia menjalani masa kecil yang bahagia dikelilingi manusia-manusia yang menyayanginya dan belajar apa itu kasih sayang.

Review Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru

Review Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru

Namun setelah beberapa tahun hidup bahagia bersama Hiro, nasib berkata lain dan Gohan masuk ke dalam Shelter yang menyiksa anjing-anjing liar demi mendapatkan donasi belas kasihan. Hidupnya penuh kesengsaraan karena sering disuntik obat penenang supaya terlihat sakit saat live stream. Namun Namcha (Poe Mamhe Thar ) seorang imigran ilegal yang dipekerjakan di Shelter tersebut menaruh belas kasihan kepada Gohan dan memutuskan untuk melepaskan semua anjing serta membawa Gohan keluar dari tempat terkutuk tersebut. Pada masa remaja ini Gohan yang kemudian dinamai Brownie mengenal apa itu penderitaan namun ia berhasil membuat seorang wanita muda menyadari kesalahannya dan mencoba menebus kesalahannya walau ia harus menanggung konsekuensinya.

Review Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru

Review Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru

Setelah terpisah dari Namcha dan terus menunggunya di sebuah stasiun kereta selama bertahun-tahun, Gohan/Brownie yang sudah makin tua berkenalan dengan Pele (Jinjett Wattanasin) dan Jaidee (Tontawan Tantivejakul) yang sudah bersahabat dan terlihat saling tertarik satu sama lain namun hubungan mereka tidak ada kemajuan. Gohan/Brownie pun namanya berubah lagi jadi Hima dan ternyata setelah diperiksa oleh dokter hewan, Hima divonis hanya punya waktu 3 bulan akibat masalah dengan ginjalnya. Pele dan Jaide berkomitmen untuk merawat Hima hingga maut menjemputnya. Pada tahap masa tua ini, Gohan/Brownie/Hima dapat kembali menjalani masa-masa yang tenang dan bagaimana Pele & Jaidee belajar untuk berkomitmen serta menjalani kehidupan masa kini.

Dari film Gohan, Gwiple diingatkan banyak anjing-anjing (dan hewan-hewan lainnya) yang kurang beruntung di luar sana yang perlu bantuan dari kita semua, dan kalau tidak bisa membantu setidaknya berbuatlah baik kepada mereka.

Review Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru

Review Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru

Untuk akting para pemainnya disini amatlah bagus dan dapat menggugah Gwiple yang menontonnya terlebih lagi 3 anjing yang memerankan Gohan mulai dari kecil, remaja, hingga dewasa/tua amatlah lucu dan pintar. Film berdurasi 140 menit ini dijamin dapat membuat Gwiple tersedu-sedu dengan ceritanya jadinya siapkan tissue atau handuk kecil saat menontonnya. Memang beberapa konflik terasa dibuat terlalu dramatis untuk memancing air mata Gwiple namun hal ini masih wajar dan tidak mengganggu plot atau dinamika cerita. Gwiple dapat segera menyaksikan film mengharukan ini di bioskop-bioskop seluruh Indonesia

Continue Reading

Box Office

Review Film The Sheep Detectives, Ketika Domba Menjadi Detektif.

Published

on

Review Film The Sheep Detectives, Ketika Domba Menjadi Detektif.

www.gwigwi.com – Cerita berpusat pada George Hardy (Hugh Jackman), seorang penggembala domba di desa Denbrook, Inggris.

George punya kebiasaan unik, ia membacakan novel misteri pembunuhan setiap malam kepada kawanan dombanya.

Ia menganggap mereka tidak mengerti, namun kenyataannya, domba-domba ini menyerap setiap kata dan teori detektif dari buku-buku tersebut.

Review Film The Sheep Detectives, Ketika Domba Menjadi Detektif.

Review Film The Sheep Detectives, Ketika Domba Menjadi Detektif.

Cerita berjalan ketika George ditemukan tewas secara misterius di ladangnya, dan polisi manusia tampak lamban dan kikuk.

Jelas para domba yang dipimpin oleh Lily (Julia Louis-Dreyfus) memutuskan untuk menyelidiki kasus ini sendiri.

Mereka menggunakan logika “buku detektif” untuk mengungkap siapa pembunuh majikan mereka di antara para penduduk desa yang mencurigakan.

Awalnya, gue dan audiens lain mungkin mengira film ini akan komedi lucu-lucuan ala Shaun the Sheep. Namun, naskah yang ditulis Craig Mazin memberikan bobot yang berbeda.

Tentang bagaimana hewan-hewan ini memproses kematian figur ayah mereka?

Review Film The Sheep Detectives, Ketika Domba Menjadi Detektif.

Review Film The Sheep Detectives, Ketika Domba Menjadi Detektif.

Lalu pergeseran pandangan para domba terhadap dunia manusia yang ternyata jauh lebih rumit dari rumput di ladang.

Serta Sub-plot tentang “anak domba musim dingin” yang dikucilkan memberikan pesan moral yang kuat tentang penerimaan.

Hal ini, diracik dengan smooth sehingga menjadi film yang menyenangkan dan seru untuk ditonton.

Perpaduan antara aksi langsung (live-action) dan pengisi suara di film ini sangat solid.

Hugh Jackman sebagai George Hardy, meski perannya singkat, ia memberikan nyawa emosional pada film ini.

Begitu juga para pengisi suara seperti Julia-Louis Dreyfus dan Bryan Cranston berhasil memberikan “nyawa” para domba yang berupaya memecahkan kasus tuan-nya.

Review Film The Sheep Detectives, Ketika Domba Menjadi Detektif.

Review Film The Sheep Detectives, Ketika Domba Menjadi Detektif.

Visual efek dari Framestore layak diacungi jempol. Tekstur bulu, berat tubuh domba saat bergerak, hingga ekspresi mikro di wajah mereka terasa sangat nyata tanpa terjatuh ke lembah uncanny valley.

Desa Denbrook pun juga digambarkan dengan estetika storybook yang kontras dengan tema suspense di dalamnya.

Secara keseluruhan, The Sheep Detectives adalah surat cinta untuk genre misteri klasik gaya Agatha Christie, namun dilihat dari sudut pandang dari hewan yang memiliki nama lain Ovis aries.

Film ini mungkin sedikit terlalu panjang untuk anak-anak di bawah 7 tahun karena narasinya yang lambat di tengah, tetapi bagi penonton dewasa dan keluarga, ini adalah tontonan yang sangat memuaskan.

Skor akhir: 7/10

Continue Reading

Box Office

Review Film Bridget Jones: Mad About The Boy, ada aja gebrakannya mbak Bridget

Published

on

Review Film Bridget Jones: Mad About The Boy, Ada Aja Gebrakannya Mbak Bridget

www.gwigwi.com – Bridget Jones (Renee Zellweger) akhirnya hidup sebagai single parent yang memiliki 2 anak yaitu Billy dan Mable setelah sang suami Mark Darcy (Colin Firth) meninggal ketika menjalani misi kemanusiaan di Sudan.

Kita akan melihat lika-liku dari Bridget sebagai orang tua tunggal yang ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Mulai dari nyinyiran rekan-rekan sekitar, sanak saudara dari mendiang suaminya, dan lain sebagainya.

Hingga suatu ketika, ia kembali merasa ingin menemukan “spark” hidupnya kembali. Ia pun kembali bekerja sebagai produser dari acara TV hingga menginstall Tinder.

Review Film Bridget Jones: Mad About The Boy, Ada Aja Gebrakannya Mbak Bridget

Review Film Bridget Jones: Mad About The Boy, Ada Aja Gebrakannya Mbak Bridget

Hingga suatu saat, ia bertemu dengan lelaki yang usianya jauh lebih muda yaitu Roxster (Leo Woodall) disitulah ia menemukan kembali cinta dan rasanya seperti hidup kembali.

Namun ternyata hidup tidak semulus itu….

Kalau Sylvester Stallone punya Rambo, Bruce Willis punya Die Hard, Renee Zellweger punya Bridget Jones. Bisa dibilang ini adalah peran ikoniknya dan filmnya bisa sampai memiliki beberapa sekuel dan kualitasnya tetap dijaga dan berhasil dibikin relate sesuai dengan jaman.

Filmnya pun masih diramaikan oleh Hugh Grant, Emma Thompson, Gemma Jones, James Callis dan Chiwetel Ejiofor yang menambah lineup cast dari keseluruhan kisah Bridget Jones ini.

Genre rom-com ini dimulai sejak film Bridget Jones Diary yang rilis di tahun 2001 yang merupakan adaptasi novel rilisan 1996 karangan Helen Fielfing ini cukup membekas bagi para penggemar genre tersebut.

Review Film Bridget Jones: Mad About The Boy, Ada Aja Gebrakannya Mbak Bridget

Review Film Bridget Jones: Mad About The Boy, Ada Aja Gebrakannya Mbak Bridget

Dari segi acting para cast udah jangan ditanya lagi, mereka melakukan performa yang cukup baik sehingga film ini tetap menyenangkan untuk dinikmati.

Dari segi cerita, menurut gue jangan tertipu dengan judul dan langsung menyimpulkan bahwa mbak Bridget jatuh cinta ama brondong, karena gue pun beranggapan begitu.

Namun ternyata anggapan gue salah film ini menceritakan lebih dalam tentang bagaimana Bridget Jones berdamai dengan duka yang dialami serta move on karena hidup harus terus berjalan.

Secara keseluruhan, film ini surprisingly good dan menurut gue Bridget Jones adalah franchise rom-com yang cukup awet dan tak lekang oleh jaman. Sebuah sajian di bulan penuh cinta yang asik untuk ditonton.

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending