Gaming
Review Nintendo Switch – Console Tidak Biasa Dari Nintendo
GwiGwi.com – Nintendo dikenal dengan pendekatan uniknya terhadap setiap generasi konsol mereka namun, Nintendo Wii U terlalu membingungkan untuk dinikmati banyak orang. Keberadaan Gamepad pada Wii U tidak memberikan kejelasan karena ternyata perangkat ini bukan perangkat portable yang bisa digunakan dimana saja, melainkan harus dipasangkan dengan “otak” utama Wii U. Namun ini semua berubah dan telah di-Switch (ganti) dengan diluncurkannya Nintendo Switch. Nintendo mengakui bahwa Switch ini terinspirasi dari console mereka yang sudah pernah dirilis sebelumnya seperti NES (Nintendo Entertainment System), Nintendo 3DS, dan juga salah satu hits console yang memperkenalkan motion control untuk pertama kalinya, Nintendo Wii. Keungulan masing-masing konsol kemudian diimplementasikan kedalam Nintendo Switch, membuat Switch ini menjadi console yang tidak biasa. Konsol ini dirilis pada 3 Maret 2017 lalu sehingga review ini sangatlah terlambat karena Editor yang berurusan dengan console ini sedang diluar negri (*ehem* saya sendiri). Seperti apa lengkapnya Nintendo Switch ini? Yuk kita simak reviewnya~
Nintendo Switch merupakan konsol Nintendo yang menonjolkan kemampuannya untuk berada dimana saja, sehingga dinamakan Switch atau dalam bahasa Indonesia kita bisa translasi menjadi mengubah, atau mengganti. Keunggulan Switch adalah kemampuannya untuk menjadi full-fledge home console saat disandingkan dengan dock yang diikutsertakan dalam paket penjualannya, dan kemudian bisa di un-dock dan kini berubah menjadi portable console yang terdiri juga dari 2 mode yaitu Handheld-Mode, dan juga Table-Top Mode. Untuk review ini, kita lebih memfokuskan untuk portabilitasnya (padahal sebenarnya sih dock sama joy-con grip-nya ketinggalan *teehee*).
Apa saja yang didapatkan dalam Box Nintendo Switch?
- Nintendo Switch Main-Console
- 2 Joy-Con controllers (kiri dan kanan)
- 2 Joy-Con straps (bisa ditukar kiri kanan)
- Joy-Con Grip
- Nintendo Switch Dock
- HDMI Cable
- USB-C Wall Charger (AC Adaptor)
Hardware specs dan design yang Unik
Diatas kertas, spesifikasi Nintendo Switch mungkin tidak sememukau Playstation 4 dan Xbox One (terutama Xbox One X) yang sama-sama merupakan home console. Dibekali dengan SoC (System on Chip) Nvidia Tegra X1 yang juga digunakan oleh Nvidia Shield TV dan Google Pixel C, memang membuat Nintendo Switch terlihat underpowered apalagi dengan saingannya yang sangat berfokus pada jumlah Teraflops yang tinggi. Akan tetapi, ini bukan masalah karena Nintendo sudah pernah menyatakan bahwa mereka tidak mengincar performa yang WOW seperti 4K dan HDR yang digadang-gadang menjadi “next feature of gaming consoles” terlihat dari bagaimana PS4 Pro dan Xbox One X sangat gencar mempromosikan ini.
RAM yang digunakan oleh Switch adalah RAM besutan Samsung, LPDDR4 dengan bandwith 25.6GB/s. Jadi intinya apa dari specs ini? Well, intinya Nintendo Switch memiliki tenaga yang cukup ampuh dari segi RAM yang hampir setara dengan PS4 biasa (Slim/Phat) yang sama-sama 4GB juga. Namun, hingga saat ini performa yang paling terlihat hanyalah bagaimana Nintendo Switch tidak lag saat digunakan terutama dalam transisi multitasking.
Seperti yang sudah disebutkan diatas, model Nintendo Switch ini cukup unik. Dengan form-factor menyerupai Tablet yang banyak ditemukan dipasaran. Bentuk yang diperkenalkan-pun sangatlah familiar karena menyerupai WiiU Gamepad. Dengan layar ukuran 6.2 inci, dimana slate atau bagian tabletnya berukuran 6.7×3.9×0.6 inci, dan saat Joy-Con dipasangkan ukurannya menjadi 9.4×4.1×1 inci membuat ukuran Switch sebenarnya cukup compact. Terlebih lagi, layar Switch terlihat lebih terang dan lebih baik dibandingkan dengan WiiU Gamepad. Display yang ditampilkan saat mode portable (Handheld ataupun Table-Top) beresolusi 720P dengan dimensi 1280x720p dengan kerapatan pixel 236PPI. Walau jauh diabandingkan standar display sekarang yang mulai dari 300PPI hingga 400+PPI, hal ini bukanlah sesuatu yang buruk bagi Switch. Saat dipasangkan ke Dock-nya, display yang dapat dikeluarkan menjadi 1080p dan sisahnya tergantung layar TV atau monitor yang digunakan.
Pada bagian atas, kita dapat menemukan Power Button, Volume Rocker, 3.5mm Headphone Jack, Exhaust Fan, dan Game Card Slot. Cukup simple dan rapih untuk konsol portable ini, dan ya, konsol ini membutuhkan exhaust fan untuk mengeluarkan panas yang dihasilkan saat bermain yang nantinya akan dibahas lebih lanjut. Di bagian bawah, kita dapat menemukan power port yang menggunakan model USB Type-C, yang tentunya membuat banyak orang bahagia karena menggunakan colokan yang bisa dibilang cukup umum walau Type-C masih tergolong baru. Pada bagian kiri kanan, kita dapat menemukan railing yang digunakan untuk menahan Joy-Con Controller. Pada bagian belakang, kita disambut dengan Logo Nintendo Switch berwarna putih dan cukup besar, kickstand yang sedikit “aneh”, dan lokasi slot MicroSD yang lebih “aneh” lagi. Slot MicroSD ini dapat terjaga saat kickstand ditutup, namun akan terekspose saat kickstand dibuka. Namun ini bukan masalah karena slot MicroSD ini sejauh ini cukup aman. Bagian depannya, cukup simpel, kita disuguhkan panel Capacitive Touchscreen berukuran 6.2 inci, 2 audio speaker dan juga sepertinya sebuah IR Receiver.
Secara ketebalan, sebenarnya Nintendo Switch memiliki ketebalan yang tidak terlalu tipis, namun juga tidak terlalu tebal. Jika dibandingkan dengan ketebalan dari hp saya Xiamo Redmi Note 4, sebenanrnya cukup sleek. Berikut adalah komparasi keduanya.
Joy-Con, pusat kendali Nintendo Switch
Joy-Con mungkin adalah salah satu kontroller yang “penuh banget” tapi berukuran sangat kecil. Di dalam Joy-Con ini terdapat HD Rumble yang di-claim oleh Nintendo sebagai inovasi dalam model Rumble yang ada di kontroller sekarang. Maksud dari HD Rumble ini dapat dijelaskan lebih mudah melalui contoh seperti kita dapat mengetahui jumlah es batu dalam sebuah gelas karena getarannya memberikan “perkiraan” tentang isinya. Selain itu, Joy-Con sebelah kanan memiliki NFC yang digunakan sebagai “penghubung” dengan Amiibo yang dikeluarkan oleh Nintendo. Secara spesifikasi, controller sebelah kanan 2.8 gram lebih berat karena adanya IR Camera. IR Camera ini digunakan agar kontroler bisa membaca bentuk contohnya seperti bentuk tangan saat bermain jan-ken-pon. Kedua Joy-Con yang didapat oleh 1 konsol, dapat digunakan bersamaan, atau terpisah memungkinkan gameplay single-player maupun dual-player dari 1 device secara default.
Aksesori tambahan untuk Joy-Con yang telah disediakan dari Nintendo adalah Joy-Con Strap dan Joy-Con Grip. Joy-Con Strap berfungsi sebagai penjaga agar Joy-Con tidak “terbang” saat kita sedang asik bermain game yang intensif seperti ARMS contohnya. Selain itu, strap ini memberikan Grip tambahan dan mempermudah menekan tombol ZL dan ZR. Joy-Con Grip biasanya digunakan saat hendak bermain dalam mode Dock. Grip ini meningkatkan ergonomi dari Joy-Con sehingga lebih terasa seperti kontroler pada umumnya.
Joy-Con pertama yang dikeluarkan Nintendo memiliki 2 pasang kombinasi, dengan total 3 warna yaitu 1 pasang Grey Controller, atau 1 pasang Neon Controller yang terdiri dari sebuah controller warna merah, dan 1-nya lagi berwarna biru. Kedepannya, Nintendo berencana mengeluarkan beragam warna lainnya untuk Joy-Con ini sendiri dimana salah satu warna yang sudah dirilis berwarna kuning neon.
3 Mode – Docked, Handheld, dan Table-Top Mode
Dalam mode Docked, Switch akan menjadi layaknya home console seperti PS4 dan Xbox One. Melalui dock bawaannya, Switch mampu menampilkan hal yang sama dengan saat menjadi mode portable. Selain itu melalui docknya, banyak hal yang sesungguhnya potensialnya dimiliki Nintendo Switch seperti menghubungkan keyboard untuk membantu mengetik, dan juga USB to Ethernet untuk memudahkan koneksi internet yang lebih stabil. Beberapa aksesoris pun kemungkinan akan diperkenalkan nantinya selama usia Nintendo Switch.
Handheld Mode kemungkinan adalah mode yang akan paling sering digunakan dari Nintendo Switch ini. Mode ini membuat Nintendo Switch berbentuk portable seperti konsol portable dari salah satu perusahaan elektronik Sony melalui Playstation Vita. Akan tetapi, ukuran Switch ini jauh lebih besar dengan layarnya yang berukuran 6.2 inci, dibandingkan Vita yang hanya 5 inci. Dalam genggaman, akan sangat terasa betapa besarnya Nintendo Switch ini, namun hal ini tidak mengganggu kenyamanan dalam menggunakan konsol ini karena ketika dicoba langsung, tetap saja terasa nyaman walau ukurannya yang besar.
Table-Top Mode adalah mode yang paling memungkinkan untuk sering digunakan saat ingin bermain dengan teman waktu pesta ataupun lagi kumpul-kumpul. Setiap switch dapat menampung 2 pasang Joy-Con atau secara total, dapat dimainkan oleh 4 orang. Saat terhubung dengan 1 Switch lagi, maka secara jumlah total, dapat memainkan game yang sama sebanyak 8-Player.
Software yang simple dan REGION Free!
UI dari Switch bisa dibilang adalah salah satu interface paling simpel yang ada baik di portable ataupun home console. Walau sedikit mirip dengan interface yang dimiliki oleh PS4 dimana list game atau aplikasi yang ter-install akan dijajar memanjang kesebelah kanan dan kita bisa browsing semuanya dengan men-scroll ke kanan. Selain itu pada icon yang ada dibawah, secara sederhana menunjukan aplikasi sistem yang bisa kita akses. Pada bagian atas, kita akan disuguhkan user icon yang menunjukan account aktif kita pada Switch ini, dan di kanan ada penunjuk jam, koneksi internet, dan juga indikator baterai.
Nintendo eShop kembali hadir sebagai platform penjualan game atau aplikasi secara digital oleh Nintendo. Namun, perlu diketahui bahwa hingga saat ini belum ada eShop untuk area Asia Tenggara sehingga kita akan bergantung pada region lain. Eits, tapi tenang saja, kali ini masalah region tidak akan serumit 3DS dimana tiap konsol memiliki ID Region masing-masing. Nintendo Switch menghilangkan Region-Lock yang menjadi suatu keterbatasan fans Nintendo 3DS selama beberapa tahun. Melalui region free ini, pemilik Nintendo Switch dapat berpindah region dari account yang sama, dan membeli game yang berasal dari Region berbeda (contohnya game-game exclusive yang hanya ada di Jepang). Selain secara digital, Switch sendiri tidak ada kunci region sama sekali sehingga pemilik Switch bebas menggunakan catridge region manapun sehingga mengimpor game fisik dari negara berbeda pun terasa lebih worth it.
Kelemahan Nintendo Switch
Tentunya Nintendo Switch tidak perfect terutama ini merupakan model pertama dari Generasi ke-7 dari Nintendo. Beberapa masalah yang sudah banyak beredar di Internet adalah banyaknya hardware failure, ataupun body dari Switch yang sangat rentan tergores, bahkan layar yang tergores oleh dock-nya sendiri. Selain itu beberapa yang banyak dibahas juga adalah Joy-Con sebelah kiri yang de-sync atau koneksi internet yang sulit tersambung saat digunakan.
Akan tetapi, pada device Switch yang dipakai untuk review ini, belum ditemukan masalah sefatal yang sudah beredar luas di Internet. Salah satu dugaan yang saya bisa tebak adalah bedanya sumber Switch yang didapatkan. Banyaknya Switch yang bermasalah, jika ditelusuri adalah Switch yang berasal dari region US ataupun AU. US banyak mengalami hardware failure terutama saat dipakai untuk memainkan Zelda : Breath of the Wild yang merupakan launch title Switch yang mendapatkan banyak pujian. Switch akan freeze dan crash. Pada beberapa kejadian-pun Nintendo Switch yang bersangkutan tidak dapat digunakan kembali. Hal ini tidak ditemukan pada device yang saya review yang merupakan device yang berasal dari region JP atau Jepang. Mungkin ini hanya intuisi, atau saya memang lucky untuk tidak menemukan masalah ini.
Kesimpulan
Nintendo Switch memperkenalkan dunia baru dalam bermain game. Form factor yang unik, dan juga gameplay yang variatif yang dapat dibangun dari model Switch adalah sebuah janji yang sangat menggiurkan yang dapat ditawarkan oleh Nintendo. Selain itu, dengan adanya bumbu-bumbu dari konsol Nintendo yang meraih sukses membuat Nintendo Switch memiliki kesan nostalgia didalam cangkang yang baru. Walau kekuatannya tidak bisa dibandingkan dengan powerhouse home console seperti PS4 dan juga Xbox One, Switch memiliki nilai lebih tersendiri yang bisa menutupi itu.
Jadi apakah Nintendo Switch layak dimiliki? Jawabannya ya dan tidak. Bagi para penggemar Nintendo, pastinya Switch menjadi konsol wajib dimiliki dan layak dinikmati secara sepenuhnya terutama dalam mode portable. Lalu mengapa tidak? Tidak karena Switch sendiri sebenarnya masih belum sempurna dan walau sudah “delay” beberapa kali selama dikenal sebagai NX, Switch belum bisa memaksilkan potensinya secara kesuluruhan. Selain itu, price point yang cukup tinggi serta keterbatasan stock membuat Switch menjadi tidak begitu ramah untuk dimiliki oleh semua gamer.
Namun demikian, Nintendo Switch menunjukan kesempatan yang sangat besar untuk Nintendo kembali menguasai dunia portable mengingat sulitnya untuk membangkitkan kembali PS Vita di area barat seperti US dan EU. Hal ini membuat Switch menjadi salah satu best selling console 2017 dan juga inovasi yang unik yang dibawa oleh dunia teknologi pada tahun 2017 dimana inovasi hardware sudah mulai berkurang.
Sekian review dari konsol terbaru Nintendo, yaitu Nintendo Switch. Bagaimana menurut kalian Gwiples? Silahkan diskusikan di komen dibawah yah~ dan sampai jumpa di review berikutnya!
FSP signing out~
Gaming
Cygames Ungkap Pendekatan Lokalisasi Umamusume untuk Versi Inggris
www.gwigwi.com – Cygames membagikan pendekatan yang digunakan tim lokalisasi saat mengadaptasi Umamusume: Pretty Derby ke dalam bahasa Inggris. Proses tersebut ternyata tidak sekadar menerjemahkan setiap dialog dari bahasa Jepang, tetapi juga mempertahankan karakter, gaya bicara, serta nuansa budaya yang melekat pada masing-masing tokoh.
Salah satu tantangan terbesar dalam lokalisasi Umamusume adalah menghadirkan berbagai pola bicara dan dialek Jepang ke dalam bahasa Inggris. Beberapa karakter memiliki cara berbicara yang mencerminkan latar belakang, kepribadian, hingga posisi sosial mereka. Jika diterjemahkan secara harfiah, nuansa tersebut belum tentu terasa sama bagi pemain Barat.
Karena itu, tim lokalisasi memilih mencari padanan bahasa Inggris yang dapat memberikan kesan serupa. Mereka tidak selalu mengikuti struktur kalimat asli, selama pesan utama dan karakterisasi tokohnya tetap terjaga. Pendekatan ini memungkinkan dialog terasa lebih natural bagi pemain berbahasa Inggris tanpa menghilangkan identitas karakter.
Penyesuaian juga dilakukan terhadap sejumlah dialog yang memiliki nuansa romantis. Dalam beberapa bagian, ekspresi tersebut dibuat sedikit lebih ringan untuk menyesuaikan ekspektasi audiens Barat. Meski demikian, tujuan utamanya tetap mempertahankan hubungan antarkarakter serta suasana yang ingin disampaikan dalam cerita.
Salah satu contoh menarik terdapat pada Mihono Bourbon. Dalam versi Jepang, ia menggunakan panggilan “Master” untuk menyebut Trainer. Namun, tim lokalisasi memilih menggunakan kata “Trainer” dalam versi Inggris agar penyebutan tersebut terasa lebih natural dan sesuai dengan konteks permainan.
Contoh lainnya dapat ditemukan pada penggunaan ucapan “Merry Christmas”. Dalam bagian tertentu, ungkapan tersebut diadaptasi menjadi “Happy Holidays” untuk versi Inggris. Perubahan semacam ini menunjukkan bahwa lokalisasi juga mempertimbangkan konteks budaya dari target pasar.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa menerjemahkan game dengan banyak karakter bukan hanya persoalan mengubah satu bahasa ke bahasa lain. Setiap pilihan kata dapat memengaruhi bagaimana pemain memahami kepribadian dan latar belakang seorang karakter.
Bagi Umamusume: Pretty Derby, tantangan tersebut menjadi semakin kompleks karena game memiliki banyak karakter dengan gaya komunikasi yang berbeda. Tim lokalisasi harus memastikan masing-masing tokoh tetap memiliki identitas yang mudah dikenali meskipun dialognya telah beradaptasi ke bahasa Inggris.
Dengan pendekatan tersebut, Cygames berusaha membuat versi global Umamusume terasa lebih alami bagi pemain Barat tanpa sepenuhnya melepaskan karakteristik yang menjadi bagian dari versi Jepang. Hasil akhirnya diharapkan dapat memberikan pengalaman yang tetap familiar bagi penggemar lama, sekaligus mudah dipahami oleh pemain baru di pasar internasional.
Gaming
Persona 5 Resmi Kolaborasi dengan Fortnite, Joker Dipastikan Hadir di Season 4
www.gwigwi.com – Persona 5 akhirnya dipastikan akan hadir di Fortnite. Kabar tersebut diumumkan melalui teaser terbaru yang dirilis Atlus pada Rabu malam, 19 Agustus 2026. Cuplikan singkat tersebut memperlihatkan kemunculan Joker, protagonis utama Persona 5, sekaligus memperlihatkan model karakter yang akan digunakan dalam game.
Meski sudah memberikan gambaran mengenai Joker, Atlus belum mengungkap seluruh detail mengenai kolaborasi tersebut. Belum diketahui secara pasti konten apa saja yang akan dibawa, termasuk apakah Joker hanya hadir sebagai karakter yang dapat digunakan atau akan mendapatkan berbagai item kosmetik tambahan.
Kemunculan Joker diperkirakan akan menjadi bagian dari Fortnite Chapter 7 Season 4, yang memiliki tema “Override”. Musim terbaru Fortnite tersebut dijadwalkan mulai berlangsung pada 20 Agustus 2026, sehingga informasi lebih lengkap mengenai kolaborasi Persona 5 kemungkinan akan segera diperlihatkan setelah season baru resmi dimulai.
Kehadiran Persona 5 di Fortnite sebenarnya bukan sesuatu yang terlalu mengejutkan. Franchise tersebut sebelumnya sudah beberapa kali melakukan crossover dengan berbagai game lain. Persona 5, khususnya, memiliki sejumlah karakter populer yang cukup sering muncul dalam proyek kolaborasi di luar seri utamanya.
Di sisi lain, Fortnite juga semakin dikenal sebagai game yang aktif menghadirkan karakter dari berbagai franchise populer. Mulai dari film, anime, musik, hingga video game, Epic Games terus memperluas daftar kolaborasi yang tersedia di dalam game.
Joker sendiri menjadi pilihan yang cukup masuk akal untuk mewakili Persona 5. Karakter tersebut merupakan salah satu tokoh paling dikenal dari franchise Persona dan memiliki desain yang mudah dikenali. Kehadirannya di Fortnite juga berpotensi menarik perhatian penggemar Persona maupun pemain yang sebelumnya tidak terlalu mengikuti franchise tersebut.
Namun, masih menjadi tanda tanya apakah Atlus dan Epic Games akan menghadirkan karakter Persona lainnya. Untuk sementara, teaser yang dirilis hanya memberikan fokus kepada Joker sehingga belum ada konfirmasi mengenai kemunculan anggota Phantom Thieves lainnya.
Selain Persona 5, Fortnite Chapter 7 Season 4 “Override” juga akan menghadirkan sejumlah kolaborasi dengan franchise game lain. Hal ini membuat musim terbaru tersebut menjadi salah satu update yang cukup dinantikan oleh komunitas.
Dengan season baru yang akan dimulai pada 20 Agustus 2026, detail mengenai Joker kemungkinan akan terungkap dalam waktu dekat. Pemain masih perlu menunggu pengumuman resmi untuk mengetahui harga, item kosmetik, quest, serta konten khusus Persona 5 yang akan tersedia di Fortnite.
Untuk saat ini, satu hal sudah dipastikan: Joker akan memasuki dunia Fortnite. Detail lengkap mengenai bentuk kolaborasi dan kemungkinan hadirnya karakter Persona lainnya masih menjadi misteri.
Gaming
Neverness to Everness Ketahuan Pakai AI Doubao Gratis, Watermark Malah Lolos ke Game
www.gwigwi.com – Neverness to Everness (NTE) baru saja mendapatkan update versi 1.3 yang membawa sejumlah konten baru. Pembaruan tersebut memperluas area permainan sekaligus memperkenalkan aktivitas memancing, lengkap dengan lokasi baru dan berbagai jenis ikan yang bisa dikoleksi pemain.
Namun, salah satu aset yang hadir dalam update terbaru justru menjadi bahan perbincangan di komunitas game China. Pemain menemukan bahwa salah satu aset memancing di NTE ternyata masih memiliki watermark Doubao, layanan AI buatan ByteDance yang juga menyediakan fitur pembuatan gambar dan video.
Temuan tersebut langsung memicu berbagai candaan di kalangan pemain. Menariknya, sebagian besar perbincangan bukan semata-mata mengenai penggunaan AI dalam pengembangan game. Pemain justru menyoroti fakta bahwa watermark Doubao masih terlihat pada aset yang sudah masuk ke dalam versi resmi NTE.
Beberapa pemain bahkan bercanda bahwa Hotta Studio terlalu berhemat hingga menggunakan layanan AI versi gratis. Ada pula yang mempertanyakan bagaimana proses pengecekan aset dapat melewatkan watermark tersebut sebelum update dirilis kepada publik.
Komentar seperti “Pakai AI sih nggak masalah, tapi pakai Doubao itu lucu. Versi gratis pula” ikut menggambarkan reaksi komunitas terhadap temuan tersebut. Sejumlah pemain juga membandingkan pendekatan Hotta Studio dengan perusahaan game China lain yang telah mengembangkan teknologi AI mereka sendiri.

HoYoverse dan NetEase, misalnya, diketahui aktif mengembangkan berbagai teknologi internal untuk mendukung proses produksi. Sementara itu, kasus NTE membuat pemain bercanda seolah-olah developer meminta layanan AI publik untuk membuat aset game.
Candaan tersebut bahkan berkembang menjadi permintaan fiktif kepada Doubao untuk membuat berbagai aset aneh. Salah satu contoh yang muncul adalah permintaan membuat kuda laut berwarna ungu lengkap dengan mahkota.
Penggunaan AI sendiri sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru bagi NTE. Komunitas China sebelumnya sudah mengetahui bahwa Hotta Studio menggunakan teknologi AI-assisted dalam proses pengembangan beberapa bagian game.
Hotta Studio pernah menjelaskan bahwa elemen utama seperti karakter, cerita, dan dunia NTE tetap dikerjakan oleh seniman, penulis, serta desainer manusia. Namun, developer mengakui bahwa sejumlah kecil aset latar belakang dan lingkungan dibuat dengan bantuan teknologi AI.
Setelah watermark Doubao tersebut ramai ditemukan, aset terkait kemudian diperbaiki dan watermark-nya telah dihapus. Sementara itu, aset dasarnya sendiri masih dipertahankan di dalam game.
Di luar kontroversi tersebut, performa komersial NTE justru terbilang kuat. Sejak dirilis pada 29 April 2026, game ini dilaporkan menghasilkan lebih dari 100 juta yuan atau sekitar US$14,8 juta hanya dalam satu hari.
Performa tersebut kemudian terus berkembang. Berdasarkan proyeksi keuangan semester pertama 2026 yang diumumkan pada 14 Juli, Perfect World Games menyebut pendapatan Neverness to Everness telah mencapai sekitar 1,4 miliar yuan, atau sekitar US$207 juta.
Dengan angka tersebut, NTE tetap menunjukkan performa bisnis yang kuat meskipun kini harus menghadapi sorotan komunitas terkait penggunaan AI pada sejumlah asetnya. Kasus watermark Doubao juga menjadi pengingat bahwa penggunaan teknologi generatif dalam produksi game tetap membutuhkan proses pemeriksaan aset yang ketat sebelum sebuah konten dirilis kepada pemain.
-
News4 weeks agoAston Martin Dreadnought: Monster Taktis Mewah yang Siap Mendominasi Call of Duty: Modern Warfare 4
-
TV & Movies4 weeks agoReview Film The Oddysey, reinkarnasi epos dalam sinema modern
-
News4 weeks agoSTARGLOW Siap Kuasai Musim Panas Lewat Single Terbaru dan Deretan Kejutan Menarik
-
Music3 weeks agoYou Yokoyama (SUPER EIGHT) Memasuki Fase Baru Lewat Album Solo Kedua “ROCK FOR YOU”, Simak Detail dan MV Utamanya!
-
TV & Movies3 weeks agoReview Film Deep Water: Terdampar Bersama Hiu
-
Music3 weeks agofor Revenge Rilis ‘I Miss You Every Brand New Day’, Original Song untuk film Spider-Man: Brand New Day
-
Gaming4 weeks agoInstant Sports 2 Resmi Meluncur di PlayStation 5 dan Nintendo Switch
-
TV & Movies3 weeks agoReview Film Spider-Man Brand New Day, Best Spidey adaptation so far









