Connect with us

Serial Anime

Review Gate: Jieitai Kanochi nite, Kaku Tatakaeri Episode 12

Published

on

GwiGwi.com – Gate season 2 sudah live, namun penulis sadar bahwa review episode terakhir dari season sebelumnya belum ada. Dan selagi penulis belum menonton Gate season 2 (belum ada waktu, hehehe…), tidak ada salahnya review episode 12 ini dibuat. Oh ya, gak perlu peringatan spoiler kan? 🙂

Dimulai dengan flashback dari momen saat desa Yao Ha Ducy dihancurkan oleh naga api dan lalu dia diutus oleh petinggi klannya untuk mencari orang-orang yang dikatakan pernah mengalahkan naga api yaitu Green People. Dikatakan juga bahwa klan dark elf mengalami 220 korban jiwa, dan di antaranya adalah teman-teman dan tunangan Yao. Menurut para petinggi tersebut, Yao adalah yang paling bijak dan memiliki semangat yang keras walau telah kehilangan mereka yang berharga baginya. Karena itulah mereka memilih Yao untuk mencari Green People dan meminta pertolongan mereka.

mpc-hc64_nvo 2015-09-23 20-29-10-647.avi_snapshot_01.19_[2016.01.09_07.36.28]

Kembali ke timeline utama, Yao yang menemukan markas JSDF, atau Green People, berlari ke sana dan segera menemui dua penjaga gerbang markas lalu segera memperkenalkan dirinya, menceritakan apa yang terjadi pada klannya, dan meminta bantuan Green People. Sayangnya kedua penjaga tersebut tidak mengerti banyak bahasanya. Begitu pula dengan beberapa Green People lain yang dia temui di dalam. Dia teringat Itami yang dia temui malam sebelumnya, dan bagaimana dia mengerti dengan bahasanya. Dia berpikir apakah orang tersebut adalah salah satu Green People juga.

mpc-hc64_nvo 2015-09-23 20-29-10-647.avi_snapshot_02.45_[2016.01.09_07.42.22]

Yao akhirnya bertanya ke penghuni setempat, hanya untuk berakhir membuat kapok beberapa penipu. Berkali-kali.

mpc-hc64_nvo 2015-09-23 20-29-10-647.avi_snapshot_03.38_[2016.01.09_07.59.18]

Di tengah kebingungannya, dia melihat pulpen yang terjatuh di tengah jalan. Yao jelas tidak tahu benda apa itu, tapi dia mencari benda serupa ke sekitar dan pencariannya membawanya ke sebuah toko yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari dari Jepang. Di situ dia melihat penjaga tokonya adalah salah satu penghuni dunianya, namun dia bisa berkomunikasi dengan Green People yang kebetulan sedang ada di sana. Setelah Green People yang berbicara dengan penjaga tersebut pergi, Yao segera menemui penjaga toko tersebut dan menanyakan bagaimana penjaga tersebut berbicara dengan Green People dengan lancar. dengan bahasa Green People itu pula. Penjaga toko tersebut menunjukkan buku merah yang adalah panduan bahasa Jepang yang diberikan ke semua pekerja dari penghuni dunia tersebut yang bekerja di markas JSDF. Yao memohon untuk membeli buku tersebut namun penjaga toko tidak bisa memenuhi permintaan tersebut karena dia bisa dipecat kalau memberikan buku tersebut seenaknya ke orang lain yang tidak bersangkutan.

mpc-hc64_nvo 2015-09-23 20-29-10-647.avi_snapshot_05.08_[2016.01.09_08.02.25]

Tiba-tiba ada dua Green People lain yang datang (oh, dan mereka memanggil penjaga toko tersebut Meia) ke toko. Saat mereka melihat Yao, mereka saling berbisik (dalam bahasa Jepang) bagaimana Yao sesuai dengan deskripsi perampok yang dilaporkan beberapa orang (kemungkinan para penipu sebelumnya) ke mereka. Mereka lalu mengajak Yao untik ikut mereka agar berbicara, dengan bahasa elf. Yao, yang tidak sadar alasan kedua Green People mengajaknya bicara, menyetujui dengan senang hati.

mpc-hc64_nvo 2015-09-23 20-29-10-647.avi_snapshot_06.27_[2016.01.09_08.22.24]

Beralih sejenak ke Lelei dan gurunya Cato di mana Lelei tampak sedang mencoba sihir baru yang terlihat seperti peluru sihir yang melesat kencang karena dibantu oleh ledakan. Rupanya Lelei mengembangkannya setelah mempelajari ilmu kimia dari Bumi, dan mengaplikasikannya dalam sihirnya. Hasilnya mengagumkan menurut Cato, namun menurut Lelei kekuatannya masih kalah dibanding kekuatan tempur JSDF. Setelah itu ada satu orang JSDF datang ke mereka untuk meminta jasa penerjemahan Lelei dalam menginvestigasi Yao. Yao dibawa atas dasar praduga perampokan, namun cerita yang mereka dengan dari Yao berbeda dengan yang diceritakan korban pelapor (jelas, yang melapor ‘kan penipu yang mencoba menipu Yao…) dan Yao terus berbicara tentang dirinya diserang dan butuh pertolongan Green People.

mpc-hc64_nvo 2015-09-23 20-29-10-647.avi_snapshot_07.21_[2016.01.09_08.36.15]

Lelei bersedia untuk mengajak bicara Yao. Di tengah pembicaraan mereka, orang yang melaporkan Yao rupanya telah diperiksa oleh Myutie (harpy yang dibawa dari selepas pertempuran di Italica) dan Rory dan telah mengakui kejadian sebenarnya dan segera dikirim ke Italica (entah untuk dihukum atau diapakan). Dengan kata lain, Yao telah terbukti tidak bersalah. Yao, setelah mendengar hal tersebut dari Lelei segera menceritakan yang terjadi ke klannya dan tujuannya mendatangi Green People. Bagi Yao, Lelei tampak punya pengaruh terhadap Green People sehingga jika memungkinkan dia ingin Lelei meminta Green People kesempatan untuk mendengar Yao menceritakan tujuannya datang ke markas Green People.

mpc-hc64_nvo 2015-09-23 20-29-10-647.avi_snapshot_09.44_[2016.01.09_08.46.31]

Yao akhirnya dipertemukan dengan Letnan Jenderal Hazama (dengan Lelei sebagai penerjemah). Namun setelah mendengar cerita dan permohonan Yao, Hazama dengan berat hati menolak. Alasannya adalah karena Hutan Scwartz tempat pemukiman klan Yao yang masih didatangi naga api tersebut berada di dalam perbatasan Empire. Dengan mengirim pasukan besar ke sana tanpa ijin, tindakan tersebut bisa disalahartikan oleh Empire sebagai deklarasi perang. Yao menyanggah bahwa mereka tidak perlu mengirim pasukan yang besar, karena dia mendengar bahwa Green People dulu mengalahkan naga api hanya dengan selusin orang. Hazama menyangkal dengan berkata bahwa pada peristiwa saat itu mereka justru hampir tidak mengusir naga api tersebut. Memberikan perintah serupa lagi sama saja mengirim orang-orangnya untuk mati, dan dia tidak bisa menurunkan perintah semacam itu. Hazama hanya bisa meminta maaf kepada Yao setelah perjalanan jauhnya sampai ke markas JSDF.

mpc-hc64_nvo 2015-09-23 20-29-10-647.avi_snapshot_10.36_[2016.01.09_09.00.36]

Yao akhirnya diantar pulang naik jeep oleh Yanagida. Yanagida berkomentar kepada Yao (dengan bantuan terjemahan Lelei), bahwa Itami mungkin akan memenuhi permohonannya. Menurutnya jika itu demi menolong orang-orang yang dia peduli, Itami pasti melakukannya.

mpc-hc64_nvo 2015-09-23 20-29-10-647.avi_snapshot_11.27_[2016.01.09_14.05.17]

Apakah itu suatu pertanda? Yah, beralih ke Itami yang mendarat di sebuah gunung menaiki heli yang bersama bawahannya membawa barang-barang dari Jepang dan mengawal diplomat baru dari Kementerian Luar Negeri Jepang. Setelah mendarat mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan kereta kuda ke tempat pertemuan mereka dengan beberapa anggota Rose-Order Knights, salah satunya Pina. Itami rupanya tidak menyangka akan menemui Pina di sana. Rupanya Pina ikut bertemu karena ingin segera berkenalan dengan diplomat baru yang dikirimkan pihak Jepang…dan mengambil titipannya.

mpc-hc64_nvo 2015-09-23 20-29-10-647.avi_snapshot_13.09_[2016.01.09_14.21.59]

Yah, mungkin kalau cuma Pina saja yang tertarik dengan “seni” tersebut kita masih bisa lapang dada. Namun rupanya ada beberapa anggota Rose-Order Knights, mungkin atas perintah Pina, telah menerjemahkan beberapa “seni” tersebut di kota kecil di dekat markas JSDF yang dibangun oleh para mantan pengungsi untuk kemudian dikirimkan ke pusat. Seksi intelijen 2 yang berpura-pura menjadi butler untuk melayani mereka selama menetap pun tak bisa berkomentar banyak.

mpc-hc64_nvo 2015-09-23 20-29-10-647.avi_snapshot_13.35_[2016.01.09_14.27.28]

Yao dan Lelei rupanya dibawa juga ke tempat Rose-Order Knight menetap malam itu, dan dia masih tampak depresi oleh karena penolakan Hazama. Dia masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Green People menolak untuk menolong klannya.

mpc-hc64_nvo 2015-09-23 20-29-10-647.avi_snapshot_15.57_[2016.01.09_14.31.02]

Oh, salah satu pelayan bernama Delilah ini rupanya memiliki suatu rahasia. Yah sayangnya kita belum bisa mengetahuinya di episode ini (walau mungkin kita sudah bisa mengira-ngiranya dari percakapan mereka dan bagaimana Delilah berkata dia harus mengerti bahasa Jepang lebih lagi mumpung para komandan JSDF berkumpul di satu tempat).

mpc-hc64_nvo 2015-09-23 20-29-10-647.avi_snapshot_16.40_[2016.01.09_14.32.47]

Para komandan yang berkumpul di sana sebenarnya ingin menolong Yao. Namun sayangnya mereka tidak bisa mengambil resiko menerobos perbatasan Empire dengan jumlah tentara yang besar, dan jika mereka mengirim tentara dengan jumlah kecil kemungkinan mereka berhasil membunuh naga api tersebut cukup kecil. Bukan hanya dengan mengirim tentara berjumlah besar mereka beresiko terlibat perang dengan Empire, mereka juga tidak ingin opini masyarakat Jepang terhadap keberadaan JSDF di special region kembali terguncang seperti insiden naga api terdahulu yang sampai menyebabkan diadakannya sidang istimewa yang memanggil Itami, Pina, Tuka, dan Rory. Mereka yakin Itami mungkin akan melakukan sesuatu, walau tidak yakin apa yang mungkin akan dia lakukan.

mpc-hc64_nvo 2015-09-23 20-29-10-647.avi_snapshot_17.44_[2016.01.09_14.36.26]

Dan dengan demikian cerita Gate: Jieitai Kanochi nite, Kaku Tatakaeri season 1 kurang lebih selesai. Perlu diketahui penulis selama ini hanya mengambil garis besarnya saja agar tidak terlalu panjang dan tidak perlu memasukkan bagian-bagian yang bisa diabaikan. Jika ingin mengerti lebih lengkapnya tentunya kalian bisa menonton sendiri animenya jika belum menonton dari season 1. Bagi yang sudah menonton season 1 ini dan baru akan menonton kelanjutannya di season 2 setelah ini, diharap review ini bisa jadi penyegar bagi kalian untuk kembali mengingat sudah sampai mana cerita anime ini agar bisa lebih mengerti lagi kelanjutannya di season 2.

 

BONUS:

[youtube id=”V73OUSbtJp8″ width=”600″ height=”340″ position=”center”]

Advertisement

Berita Anime & Manga

Review Tomb Raider King Eps.1-2

Sama-sama mengusung tema dungeon crawling seperti Solo Leveling, mampukah adaptasi anime Tomb Raider King meraih kesuksesan yang sama? Simak ulasan dua episode pertamanya di sini.

Published

on

Review Tomb Raider King Eps.1 2

www.gwigwi.com – Dikhianati kontraktornya, “Tomb Raider” Jooheon Suh hampir saja mati di sebuah makam/tomb berisikan relik ajaib saat tetiba dia kembali 15 tahun lalu saat God’s Tombs ajaib belum bermunculan. Bertekad untuk membalas, berbekal pengetahuan dan keahliannya, dia pergi mengoleksi berbagai elik dengan tangannya sendiri.

TOMB RAIDER KING dianimasikan! Manhwa karya Sanji Jiksong ini tampaknya ingin ikut mencicipi kesuksesan SOLO LEVELING. Sesama sub genre Lit-RPG (cerita dengan mekanisme gim) dan dungeon crawling, mampukah mereka meraup harta kesuksesan yang sama?

Menjanjikan petualangan, misteri, atraksi aksi yang dibumbui strategi cerdik tak terduga, TOMB RAIDER KING memiliki banyak key selling point buat penyuka sub genre ini.

Cerita dengan cerdas tidak dimulai dari awal mula karir Jooheon. Penonton langsung disuguhi misteri pengkhianatan, kenapa dia bisa kembali ke masa lalu dan protagonis yang sudah jago, cepat memahami situasi dan langsung bertindak.

Alur ringkas cepat ini membantu memaku perhatian saat animasi dan art style gambar terasa cukup saja. Sisa informasi world building dieksposisikan tokoh utama sambil jalan yang untungnya lore TOMB RAIDER KING ini cukup sederhana dan mudah dicerna.

Mungkin karena keliatan sederhana ini juga, rasanya dunianya kurang terasa spesial. Tomb yang didatangi Jooheon saat baru sadar terinspirasi dari kisah populer ‘Kapak Emas’ dari dongeng Aesop. Memang boleh saja terinspirasi demikian, tapi seperti kurang ada polesan unik ala TOMB RAIDER KING itu sendiri. Ya, ada twist berbeda, namun kurang terasa menghentak.

Entah karena Jooheon yang digambarkan dengan istilah “OP” atau over power kah? Pemuda ini sudah sakti, pede, cerdas, pokoknya wah. Dari dua episode ini, belum ada tantangan berarti mau itu dari menghajar orang atau melawan monster. Fokus memperlihatkan hebatnya dia memang boleh saja, tetapi cerita seperti lupa memberikan suspense atau pembeda dari sub genre yang sama saat sekarang dunia sudah mengenal SOLO LEVELING dan SHANGRI-LA FRONTIER (tentang petualangan seorang gamer di dunia gim, Shangri-La Frontier).

Rakurou Hizutome atau Sunraku, protagonis SHANGRI-LA FRONTIER memang jago tapi diperlihatkan juga dia tidak bisa memakai armor hingga terkena serangan sekali saja sudah fatal. Hal demikian belum ada di TOMB RAIDER KING. Karakter Jooheon terkesan power fantasy untuk para pembaca merasa strong dan kurang memiliki kedalaman lain supaya audiens bisa relate, malahan dia kadang terasa angkuh menyebalkan.

Bila ingin sekedar melihat protagonis doing cool, strong, smart stuff dibumbui misteri dan petualangan, dan diakhiri dengan mendapat harta yang bisa bikin lebih cool, strong, smart lagi, TOMB RAIDER KING mungkin bisa jadi pilihan.

Review Tomb Raider King Eps.1 2

Review Tomb Raider King Eps.1 2

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 2: Otak Di Atas Otot, Kemenangan Strategi Tanpa Cheat!

Published

on

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

www.gwigwi.com – Banyak anime fantasi memulai cerita dengan tokoh utama yang dibuang karena dianggap tidak berguna. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System mengambil pendekatan yang sedikit berbeda. Masalah Elymas bukan karena ia lemah, melainkan karena semua orang terlalu cepat menyimpulkan nilai seseorang hanya dari label kelas yang ia terima. Gelar Heavy Knight dianggap sebagai jalan buntu, sementara Swordmaster diperlakukan seperti satu-satunya masa depan yang layak. Keputusan ayahnya mengusir Elymas dan mengangkat adik tirinya dari cabang keluarga sebagai pewaris terasa lebih sebagai cerminan obsesi terhadap status daripada keputusan yang benar-benar rasional.

Yang menarik, Elymas tidak menghabiskan waktunya untuk meratapi nasib atau berteriak ingin balas dendam. Ia justru melihat pengasingan itu sebagai kesempatan memulai hidup tanpa ekspektasi keluarganya. Berbekal pengetahuan tentang mekanisme dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah membaca seluruh buku panduan, setiap keputusan yang diambil terasa penuh perhitungan. Kekuatan utama anime ini bukan aksi besar pada dua episode pertama, melainkan kepuasan melihat seseorang perlahan membalikkan stigma dengan logika, pengalaman, dan strategi.

Dari sisi produksi, GoHands kembali mempertahankan identitas visualnya. Desain karakter terlihat bersih dengan pencahayaan yang kaya, sementara latar memiliki detail yang membuat dunia fantasinya terasa hidup. Sayangnya, gaya penyutradaraan mereka masih sulit diabaikan. Kamera terus bergerak, melakukan panning, zoom in, dan zoom out bahkan ketika adegannya hanya percakapan sederhana. Ada momen ketika pergerakan kamera justru lebih aktif daripada karakter yang sedang berbicara. Bagi sebagian penonton ini menjadi ciri khas, tetapi bagi yang lain justru terasa mengalihkan perhatian dari cerita.

Dua episode pembuka ini belum menawarkan kejutan besar, tetapi berhasil menanam rasa penasaran. Anime ini tidak mencoba meyakinkan penonton bahwa Heavy Knight adalah kelas terkuat. Sebaliknya, ia mengajak penonton mempertanyakan apakah sebuah sistem benar-benar salah, atau manusianya saja yang terlalu cepat memberi cap pada sesuatu yang belum dipahami. Pendekatan tersebut membuat perjalanan Elymas terasa lebih menarik daripada sekadar kisah “tokoh yang diremehkan lalu menjadi overpowered.”

Nilai: 8,5/10. Premisnya memang familier, tetapi cara membangun karakter utama dan tema tentang prasangka terhadap potensi seseorang membuat serial ini memiliki identitas yang cukup kuat. Jika GoHands sedikit mengurangi “kamera yang hiperaktif”, pengalaman menontonnya akan terasa jauh lebih nyaman.

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

Continue Reading

Serial Anime

Review Clevatess Season 2 Episode 1: Misi Rahasia Klen dan Alicia Dimulai, Visual Makin Manjakan Mata!

Published

on

By

Review Anime Clevates S2 Episode 1

www.gwigwi.com – Setelah season sebelumnya Klen melawan Dorel, Clevatess Season 2 Episode 1 memilih memulai babak baru dengan pendekatan yang lebih tenang, tetapi tetap menarik. Alih-alih langsung menyajikan aksi tanpa henti, episode ini membangun fondasi cerita baru ketika Klen dan Alicia mendapat misi menyusup ke Akademi Sihir Solsein. Tujuan mereka bukan sekadar menyamar sebagai murid, melainkan mengungkap rahasia di balik bagaimana Dorel mampu memperoleh dan menguasai sihir terlarang yang hampir mengubah keseimbangan dunia. Premis ini membuat arah cerita terasa segar karena beralih dari perang terbuka menjadi penyelidikan penuh intrik.

Hal yang paling mencuri perhatian adalah peningkatan kualitas presentasi visualnya. Studio Lay-duce mempertahankan identitas fantasi gelap khas musim pertama, tetapi kini menghadirkan animasi yang terasa lebih halus. Latar Akademi Solsein dibuat sangat detail, mulai dari bangunan megah, ruang kelas sihir, hingga efek mantra yang memancarkan nuansa magis tanpa terlihat berlebihan. Permainan warna yang sedikit bernuansa retro justru memperkuat atmosfer dunia fantasi klasik yang menjadi ciri khas serial ini.

Episode ini juga memperkenalkan cukup banyak karakter baru. Para siswa, guru, hingga sosok misterius di akademi mulai bermunculan dengan kepribadian yang berbeda-beda. Meski sebagian masih tampil singkat, kehadiran mereka membuat Solsein terasa sebagai dunia yang benar-benar hidup, bukan sekadar latar sementara. Kehadiran karakter seperti Ray Forester juga memberikan tanda bahwa penyelidikan Klen dan Alicia akan berkembang menjadi konflik yang jauh lebih besar daripada sekadar mencari peninggalan Dorel.

Yang tetap menjadi kekuatan utama serial ini adalah interaksi antara Klen dan Alicia. Hubungan keduanya masih dipenuhi percakapan yang menghibur, dengan Alicia yang sering dibuat frustrasi oleh keputusan Klen yang sulit ditebak, sementara Klen tetap tenang karena selalu memiliki tujuan di balik setiap tindakannya. Chemistry mereka membuat episode yang sebagian besar berisi pengenalan dunia baru tetap terasa hidup dan tidak membosankan.

Sebagai pembuka musim kedua, episode ini memang lebih berfokus membangun misteri dibanding menyajikan pertarungan spektakuler. Namun justru itulah daya tariknya. Penonton diajak memasuki lingkungan baru yang penuh rahasia, konspirasi, dan eksperimen sihir yang belum sepenuhnya terungkap. Jika episode-episode berikutnya mampu memanfaatkan seluruh karakter baru dan misteri Solsein dengan baik, musim kedua berpotensi melampaui pendahulunya.

Nilai: 9/10. Episode pembuka yang kuat dengan kualitas animasi yang semakin matang, dunia yang semakin luas, dan misteri baru yang cukup efektif membangkitkan rasa penasaran untuk mengikuti petualangan Klen dan Alicia selanjutnya.

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending