TV & Movies
Review Film Yakuza Apocalypse (2015) Ketika Silat melawan Para Yakuza Jepang
GwiGwi.com – Bioskop tanah air kembali dikunjungi film yang berasal dari Jepang, Yakuza Apocalypse (極道大戦争 Gokudō Daisensō). Namun berbeda, karena film ini dibintangi salah satu aktor tanah air yang sudah dikenal dunia, Yayan Ruhian aka Mad Dod The Raid. Mad Dog difilm ini memerankan Kyoken salah satu pembunuh berdarah dingin dengan gaya otaku. Kang Yayan disandingkan bersama Hayato Ichihara yang menjadi AKIRA Kageyama salah satu anak buah kesayangan bos Yakuza, Genyo Kamiura oleh Lily Franky. Film ini juga disutradarai oleh Takashi Miike, seorang tokoh terkenal diindustri film Jepang. Premiere hari Senin (29/6), Kang Yayan turut hadir untuk mempromosikan filmnya didepan media dan penggemarnya. Malam itu hadir pula aktor dan aktris Indonesia serta ada Hanung Bramantyo yang merupakan sutradara yang sukses dengan film-filmnya ditanah air.
Kageyama disini merupakan seorang Yakuza yang bisa dibilang cukup aneh, karena memiliki kulit sensitif sehingga mempunyai tato ala Yakuza hanya menjadi mimpi buatnya. Namun dia beruntung karena menjadi anak buah favorit Kamiura, seorang bos Yakuza yang sangat memperhatikan wilayah kekuasaannya, dimana dia tak mau menyakiti warga sipil. Sifatnya yang murah hati dan tangguh ini menjadi inspirasi Kageyama.
Tiga puluh menit pertama Gwiple akan disajikan setiap profile para pemeran, background dan pengembangan setiap karakter. Disini Kageyama juga dipertemukan dengan Kyoko yang diperankan Riko Narumi, wanita yang diselamatkan bos Kamiura dari musuh Yakuza lainnya. Diawali dengan adegan perkelahian satu orang lawan banyak musuh menjadikan kesan aksi yang kental membuat film ini berasa tegang. Namun semakin ketengah, penonton mulai disajikan plot yang aneh dengan unsur horor yang bercampur komedi.
Ditengah suasana aman dan tenteram di wilayah bos Kamiura, tiba-tiba muncul sesosok pria dengan bahas inggris yang mengenakan pakaian ala hitam seperit seorang koboi yang membawa alat penakluk vampir yang ditaruh disebuah tas berbentuk peti mayat kecil. Selain itu muncul juga Kyoken dengan gaya otaku yang mengelabui bos Kamiura. Disini lah dimulai inti cerita dari film ini, dimana para vampir bermunculan akibat ulah Kageyama yang tak bisa mengontrol nafsunya. Darimana asal usul vampir, ditonton saja filmnya ya Gwiple.
Film berlanjut semakin aneh, muncul sesosok Kappa, sebuah tokoh dari mitos Jepang. Kappa ini bisa dibilang seorang makelar penjahat yang mendatangkan para penjahat untuk menyingkirkan pemerintahan Kamiura, karena ada oknum yang tidak suka dengan sifat Kamiura yang terlalu baik. Kappa ini mendatangkan musuh tambahan selain Kyoken dan Si Koboi, yaitu Kodok, bentuknya kodok dengan model seperti kostum yang biasa digunakan pengamen di lampu merah. Bahkan ada scene dimana sang kodok memasuki wilayah tersebut dan dikatakan “Apakah ada toko yang baru buka?”
Kejadian aneh yang terus mengundang tawa dan senyum bermunculan. Mulai dari otak yang meleleh keluar dari telinga. Penduduk kota yang menjadi vampir dengan yang mengaku-ngaku kalau mereka lah Yakuza sebenarnya. Hingga pada satu titik, semua penduduk kota berubah menjadi vampir dan tersisa kelompok Yakuza, yang konon katanya darah Yakuza tidak bernutrisi sehingga para vampir lebih memilih menghabisi mereka daripada menyantapnya.
Banyak adegan yang bisa dibilang menggantung dengan banyak kematian dari para hero. Awalnya keliatan tangguh, namun begitu akhir, matinya begitu mudah. Akting Yayan disini bisa dibilang baik, dipertengahan terdapat scene perkelahian Kyoken dengan Kageyama dimana Kang Yayan sebagai Kyoken tak dapat memberikan tontonan perkelahian ala silat yang menjadi keahliannya. Menurut Kang Yayan, setiap pukulan maupun tendangan yang akan dikeluarkan perlu didiskusikan dengan sutradara sehingga kekentalan silat tidak terlalu menonjol, namun tetap memperlihatkan keahlian beladiri yang luar biasa.
Dialog-dialog yang diberikan Kang Yayan mayoritas dalam bahasa Inggris. Uniknya diawal, beliau sempat berkata “Sumimasen, sumimasen, Koko wa Akihabara?” kepada Kamiura. Dengan logat Indonesia yang khas dan kostum gaya otaku yang menbawa poster ditas punggung daypack dan tas jinjing bergambarkan kartun anime Jepang, sungguh siapapun yang melihatnya akan tersenyum.
Absurd mungkin bisa menjadi kata untuk kesimpulan untuk film Miike ini. Alih-alih ingin membuat film yang lebih serius namun justru gaya absurd lebih menonjol. Buat yang tak biasa dengan film ini mungkin akan berpikiran film ini aneh, tetapi jika kamu bisa menikmatinya, sebenarnya dalam film ini Miike ingin menunjukkan pemahamannya tentang Yakuza itu sendiri.
Film ini sudah tayang dibioskop lokal yang dibawakan oleh PT Pratama Film sebagai distributor resmi. Mari dukung Kang Yayan dengan menonton film ini dibioskop dan bagikan pendapat kamu mengenai film ini dikolom komentar.
[youtube id=”myU_uvjB2lU” width=”600″ height=”340″ position=”left”]
TV & Movies
Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting unjuk Gigi
Sepertinya meski gak familiar dengan STREET FIGHTER, beberapa persen manusia di dunia pasti pernah mendengar atau melihat serangan melempar bola energi itu meski hanya sekilas.
Sekarang hadoken membara lagi dengan CG modern di adaptasi teranyar serial gim fighting legendaris ini yang disutradarai Kitao Sakurai. Apakah bisa melebihi 2 adaptasi STREET FIGHTER sebelumnya yang reputasinya kurang bagus itu?

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi
STREET FIGHTER baru ini bercerita tentang Ken (Noah Centinio) yang kacau setelah kematian gurunya, Goken (Don Lee). Di kaya tapi seakan kehilangan jiwa petarungnya. Hidup gemerlap, namun yang menemaninya di bawah lampu ajep-ajep hanya Dan Hibiki (Andrew Schulz) seorang.
Ken menyalahkan Ryu (Andrew Koji) padahal si jagoan ikonik itu juga menderita dengan bebannya sendiri, yakni sisi gelapnya yang bisa meraung bila ia kembali bertarung.
Chun Li (Calina Liang) kemudian datang dan merekrut keduanya untuk mengikuti turnamen buatan M. Bison (David Dastmalchian) yang mempunyai agendanya sendiri.

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi
Kedua aktor begitu klop memainkan Ken dan Ryu sampai hanya beberapa detik saja melihat mereka di layar langsung, yeah it's them. 100%.
Karena menghidupkan dan chemistry mereka sukes, drama keduanya pun menjadi daging di film yang paling menarik diikuti dan memang jadi fokus STREET FIGHTER, meskipun bisa menjadi agak rumit.
Sayangnya melawan Bison seakan cerita yang dipaksakan untuk dimasukkan, apalagi akting si villain terasa kurang. Penulis kurang paham apa arah akting David Dastmalchian; serius total kah? Atau ada bercandanya? Karena cast lain terasa 100% game, kekurangan ini jadi menonjol.

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi
Hasilnya, untuk serve perihal Ryu dan Ken juga Chun Li-Bison ini, pacing terasa dikebut dan penonton tak banyak diberi nafas untuk meresapi dramanya. Tarung lanjut ada yang marah, tarung lagi, kerja sama, etc. Kesemuanya bila perlahan oke saja, namun alur ngegas ini yang bikin semuanya terasa sekelebat saja kurang total mengena.
Jadi berharap ada cut lain yang penceritaanya lebih rapih.
Maka terasa sayang melihat visual 90’s yang kreatif pop tapi tak melupakan drama, cast yang cetar apalagi adegan bertarung di klub <siapa sangka Dhalsim (Vidyut Jammwal) bisa terlihat cool?>, adegan bertarung yang cukup setia gerakan di gim dan tetap engaging, semuanya terganggu oleh problem yang sama.

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi
MORTAL KOMBAT 2 dan kini STREET FIGHTER menunjukkan adaptasi gim sungguh sudah menuju level lebih tinggi dan keduanya fighting game! Bukan yang kuat dalam bercerita tetapi filmmaker sekarang seperti sudah menemukan formulanya. Semoga ronder berikutnya lebih dan lebih dan lebih menonjok lagi.
TV & Movies
Bonus Stage Street Fighter di Indonesia Comic Con 2026: Smash The Car!
Menjelang perilisan film Street Fighter, Paramount Pictures Indonesia mengajak para penggemar merasakan langsung keseruan pertarungan dari franchise ikonik tersebut melalui Smash the Car, sebuah pengalaman interaktif yang hadir di Indonesia Comic Con 2026, pada 3–4 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Bonus Stage Street Fighter Di Indonesia Comic Con 2026: Smash The Car!
Terinspirasi dari salah satu bonus stage paling ikonik dalam Street Fighter II, Smash the Car menantang pemain untuk menghancurkan sebuah mobil dalam waktu terbatas demi meraih poin bonus. Tantangan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman bermain Street Fighter ini kini dibawa ke dunia nyata untuk memberikan kesempatan kepada para penggemar untuk merasakan kembali semangat kompetitif khas para World Fighters.

Bonus Stage Street Fighter Di Indonesia Comic Con 2026: Smash The Car!
Disutradarai oleh Kitao Sakurai dan diproduksi oleh Legendary Pictures bersama Capcom, film Street Fighter menghadirkan kembali karakter-karakter ikonik serta elemen khas dari franchise tersebut ke layar lebar, sekaligus memperkenalkan dunia Street Fighter kepada generasi baru.
“Street Fighter memiliki karakter, personality, dan signature moves yang membuat setiap fighter memiliki identitas dan daya tariknya sendiri. Melalui Smash the Car, kami ingin membawa salah satu pengalaman yang sangat identik dengan game ini ke dunia nyata. Dengan begitu, penggemar tidak hanya dapat bernostalgia dengan keseruan saat bermain, tetapi juga merasakan langsung excitement dari salah satu bonus stage paling ikonik dalam Street Fighter,” ujar Julius Daniel Suhakri, Head of Marketing Paramount Pictures Indonesia.

Bonus Stage Street Fighter Di Indonesia Comic Con 2026: Smash The Car!
Menggabungkan nostalgia arcade, karakter-karakter ikonik, dan pengalaman interaktif, Smash the Car menjadi salah satu cara bagi para penggemar untuk kembali merasakan energi pertarungan Street Fighter secara langsung di Indonesia Comic Con 2026.
Film Street Fighter akan hadir di bioskop Indonesia mulai 14 Oktober 2026.
TV & Movies
REVIEW FILM CRAWLERS, JANGAN BUKA MULUT SAAT TIDUR
Crawlers merupakan film horor-thriller terbaru rilisan 2026 yang disutradarai Ángel Gómez Hernández dengan naskah garapan Jayson Rothwell. Film ini diproduksi di bawah naungan label Badlands—sebuah bendera produksi genre horor baru yang didirikan oleh Basil Iwanyk dan Erica Lee, tim produser kawakan dari Thunder Road Films yang sukses besar memproduseri waralaba aksi John Wick dan Sicario. Mengusung atmosfer bertahan hidup yang intens, film ini menceritakan bencana wabah laba-laba beracun yang meluas secara mengerikan di dalam kompleks apartemen Paradiso Palms.

Review Film Crawlers, Jangan Buka Mulut Saat Tidur
Cerita berfokus pada Serena (Matilda Lutz), seorang pengelola apartemen yang mendadak harus menghadapi situasi darurat setelah ditemukannya kematian misterius penghuni apartemen akibat gigitan laba-laba jenis baru. Ketika otoritas menetapkan karantina ketat yang mengunci seluruh penghuni di dalam gedung tanpa jalan keluar, Serena harus menggunakan pengetahuan mendalamnya tentang seluk-beluk bangunan untuk memimpin para penghuni—termasuk karakter yang diperankan Gregg Sulkin, William Miller, dan Melina Matthews—bertahan hidup dari gempuran serangga mematikan tersebut. Namun, tugas ini tidak mudah karena laba-laba ini dapat bersembunyi di sudut-sudut yang tidak kelihatan dan mudah menyelinap.
Bagaimanakah upaya Serena dan para penghuni gedung dalam meloloskan diri dari kepungan ribuan laba-laba beracun yang terus berkembang biak? Apakah Serena berhasil mengatasi trauma fobianya demi menyelamatkan nyawa mereka semua? Gwiple dapat mengetahui jawabannya di bioskop-bioskop kesayangan. Oya, jajaran sinematografer film ini ditangani oleh Pablo Rosso, sosok di balik kamera untuk film horor fenomenal [REC] yang sudah teruji lihai membangun atmosfer claustrophobic di dalam gedung terisolasi.

Review Film Crawlers, Jangan Buka Mulut Saat Tidur
Sutradara Ángel Gómez Hernández bersama tim produser John Wick berhasil menyajikan ritme film yang penuh ketegangan tanpa henti, memacu adrenalin penonton dari awal hingga akhir. Sensasi desakan ribuan kaki laba-laba yang menjalar di celah dinding dan lorong-lorong gelap sangat efektif dalam memicu rasa cemas serta menyengat fobia arachnophobia bagi siapa saja yang menontonnya. Tak hanya mengandalkan aspek psikologis, Crawlers juga menyajikan adegan yang sangat berdarah-darah (gory), memperlihatkan dampak gigitan beracun yang mengerikan serta perjuangan brutal manusia melawan invasi monster berkaki delapan.
Crawlers memang merupakan tayangan horor yang sangat solid dan unik, di mana penonton Gwiple diajak merasakan teror claustrophobic yang intens di tengah ancaman makhluk berkaki 8 yang haus darah. Bagi Gwiple yang menyukai horor laba-laba sejenis, film ini menyajikan nuansa yang mengingatkan kita pada film horor laba-laba asal Prancis berjudul Infested (Vermines, 2023) yang juga menceritakan karantina gedung apartemen akibat teror serangga, serta film klasik legendaris Arachnophobia (1990).
-
News4 weeks agoSophieChat: AI Resmi Diumumkan, Aplikasi Percakapan dengan xdari Atelier
-
News3 weeks agoGabe Newell Disebut Pernah Berlatih Nyanyian Tenggorokan Mongolia Selama 5 Bulan di Valve
-
News3 weeks agoKreator Haganai Yomi Hirasaka Resmi Pensiun dari Dunia Menulis
-
Smartphone4 weeks agoBebas Drama Pas Mabar! Ini Rahasia Gaming Seru Bebas Suntuk Bareng POCO C81 Pro
-
TV & Movies3 weeks agoREVIEW FILM VERITY, MENGUNGKAP SISI GELAP PENULIS TERSOHOR
-
TV & Movies4 weeks agoJangan Tertipu Image Couple Goals! iQIYI Original ‘Dalam Suka dan Dusta’ Ungkap Sisi Gelap di Balik Pernikahan Selebriti
-
TV & Movies3 weeks agoReview Film Forgotten Island, Animasi DreamWorks Berlatar Mitologi Filipina
-
Smartphone3 weeks agoPOCO F9 Series Siap Meluncur di Indonesia 5 Oktober, Tegaskan Posisi sebagai The True Flagship






