Connect with us
Maaf Anda Melihat Iklan

TV & Movies

Review Film The Woman King, Dora Milaje The Movie

Published

on

GwiGwi.com – Para penjual budak dari Kerajaan Oyo sedang bersantai di dekat api unggun saat mendengar suara dari rumput tinggi alang-alang. Dari sana, perlahan berdiri Jenderal pasukan khusus perempuan Agojie Kerajaan Dahomey, Nanisca (Viola Davis) dengan kesangaran dan wibawanya (mengingatkan pada Chadwick Boseman di BLACK PANTHER).

Maaf Anda Melihat Iklan

Melihat momen itu keraguan saya hilang soal apakah para tentara perempuan yang sangat etnik ini bisa tampak meyakinkan. Ya, sangat ya.

Di benua Afrika tahun 1832, Kerajaan Dahomey yang dipimpin Raja muda Ghezo (John Boyega) mendapat ancaman dari Kerajaan semena-mena Oyo yang sudah menguasai beberapa suku di bawahnya. Dibantu oleh anak buahnya Amenza (Sheila Atim) dan Izogie (Lashanna Lynch), Nanisca lalu melatih para rekrut baru ke dalam pasukannya. Di antaranya adalah Nawi (Thudo Mbedu) gadis yang menolak menikah dengan pria tua kaya dan diserahkan bapaknya ke Raja.

Bekas luka di punggung Nawi yang dikenali oleh Nanisca membuat dirinya terguncang. Sementara Kerajaan Oyo semakin beringas…

Cerita THE WOMAN KING sebenarnya bukan cerita yang segar, namun budaya, karakter dan akting lah yang memoles cerita itu dan memberinya pengalaman baru. Akting penuh komitmennya berhasil menghidupkan sub genre sword and sandal ini, yang maaf ngomong, bisa terasa jadul nan norak.

Momen seperti Izogie yang bercanda dengan bocah yang takut pada tentara mereka yang lewat. It gives layer to these seem stoic scary warriors that they are human and they fight for the Kingdom, for the boy as well. This little moment and more draws you to want to understand them and the culture more. They are more than just representation thingy that may make synical modern audience roll their eyes when they see the movie poster. Which maybe a success in both movie wise and cultural impact ish.

Baca Juga:  Review Film SADAKO DX, Having Fun with Sadako

Hubungan Nanisca dan Niwa juga menambah warna kemanusian kehidupan masa itu dan sosok di balik si jendral sangar. Ini mungkin salah satu yang paling saya apresiasi dari THE WOMAN KING, sadar penuh dengan kata WOMAN di judulnya. Tidak mencoba memaskulinkan mereka dengan hanya menunjukan keberingasan tapi juga mengeksplorasi kerapuhan dan kekuatan yang boleh jadi hanya unik dimiliki perempuan.

Di belakang kamera mungkin banyak yang disayangkan baik pilihan angle sinematografi yang kadang terasa datar kalau tidak dibantu aktingnya, editing yang terkadang terasa melompat-melompat (ada yang disensor kah?) dan beberapa fight scene yang kurang meyakinkan (keliatan banget gak kena pukulannya tapi musuhnya mental. Beberapa kali begini).

Kerajaan Dahomey memiliki sejarah kontroversial di mana kekayaannya berasal dari menjual budak. Komoditas yang sudah membudaya ini agaknya sulit dipercaya bila si jagoan Nanisca menentang dan meminta Raja berjualan minyak sawit saja. Saya cari tahu, apakah THE WOMAN KING berdasarkan kisah nyata? Nope. Sisi gelap yang nyata ini seolah coba diperhalus dan yaaah hasilnya berasa di Hollywood kan.

THE WOMAN KING ternyata dibalut dengan pop bukan menjadi rekaan yang siap menerima dan mengadaptasi total baik buruk materinya. But it certainly one of a kind.

Maaf Anda Melihat Iklan
Maaf Anda Melihat Iklan
Advertisement
Click to comment
0 0 votes
Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

TV & Movies

Review Film Midnight in the Switchgrass, Thriller Yang Menjemukan

Published

on

GwiGwi.com – Midnight in The Switchgrass dibintangi oleh Megan Fox (Rebecca Lombardo), Bruce Willis (Karl Helter) dan Emile Hirsch (Byron Crawford). Film yang didasari pada kisah nyata pembunuh berantai dengan julukan Truck Stop Killer ini menceritakan upaya dua agen FBI, Karl dan Rebecca dalam memecahkan rangkaian pembunuhan dengan korbannya para gadis pelacur di Florida.

Maaf Anda Melihat Iklan

Mereka dibantu oleh Byron yang merupakan polisi local yang amat berambisi memecahkan kasus pembunuhan berantai ini. Mereka harus berlomba dengan waktu menemukan korban terakhir yang disekap sang pembunuh sebelum ia juga menjadi mayat dan saat sudah menemukan petunjuk identitas sang pembunuh ternyata Rebecca juga diculik sehingga Byron harus sendirian mencari lokasi dimana Rebecca dan gadis lainnya disekap.

Kenapa Byron sendirian? Karena Karl alias Bruce Willis saat shooting film ini sudah mulai menurun kondisinya, Bruce Willis yang menderita penyaki Aphasia tidak dapat berakting dengan lancar karenanya pada pertengahan film dia pun sudah tidak muncul lagi. Bukan itu saja yang menjadi kendala film ini tapi juga pacing cerita yang buruk membuat elemen thriller tidak terasa, akting pemeran lainnya juga terlihat kaku. Bahkan saat Byron menemui salah satu ibu korban, tidak terasa emosi seorang ibu yang kehilangan putri satu-satunya malahan ia bertele-tele menceritakan masa kecilnya yang tidak penting.

Baca Juga:  Review Film Black Panther: Wakanda Forever, More emotionally charge and stronger sequel

Menonton film ini sampai selesai itu seperti suatu keterpaksaan hanya untuk tahu bagaimana akhir cerita selain itu bikin tidak tega melihat kondisi Bruce Willis yang susah payah untuk mengucapkan dialognya di film ini. Tidak terasa lagi energi saat ia masih bisa berakting di Die Hard.

Maaf Anda Melihat Iklan
Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

TV & Movies

THE WALT DISNEY COMPANY ASIA PASIFIK MENGUMUMKAN JAJARAN KONTEN TEATRIKAL DAN STREAMING TAHUN 2023

Published

on

GwiGwi.com – Dalam acara bertabur bintang yang diselenggarakan untuk rekan media dan mitra hari ini di Marina Bay Sands, Singapura, The Walt Disney Company Asia Pacific akan mengumumkan judul-judul film baru dari studio utamanya. Dipresentasikan oleh beberapa storyteller terbaik di dunia, Disney juga mengumumkan deretan judul APAC Originals yang terus bertambah, yang akan tayang di layanan streamingnya.

Maaf Anda Melihat Iklan

Lebih dari 50 judul dari daftar konten teatrikal dan streaming Disney untuk tahun 2023 akan dipresentasikan kepada lebih dari 400 perwakilan rekan media dan mitra internasional. Beberapa selebriti yang hadir di ajang ini adalah talenta dan kreator di balik konten APAC Originals Disney, seperti: sutradara Jepang Miike Takashi; aktor-aktor asal Korea Jung Haein, Ko Kyungpyo, dan Kim Hyejun dari serial thriller “Connect”; Lee Donghwi, Heo Sungtae dan sutradara terkenal Kang Yunsung dari “Big Bet”; Yuya Yagira, Riho Yoshioka, dan sutradara Shinzo Katayama dari serial drama Jepang “Gannibal”; dan Chelsea Islan dari serial superhero Indonesia “Tira” yang akan datang. Sutradara animator/storyboard artist/pengisi suara dari Pixar, Peter Sohn dari film original  “Elemental” juga hadir di acara ini.

“Bulan Oktober tahun lalu, di acara APAC Content Showcase yang pertama, kami mulai memproduksi konten lokal sebagai bagian dari rencana jangka panjang yang ambisius, yaitu mempersembahkan cerita-cerita terbaik di dunia dari kawasan Asia Pasifik, dan memperlihatkan keunggulan kreatif yang bisa dibanggakan di tingkat internasional. Tahun ini, penting bagi kami untuk menampilkan keberagaman konten global dari studio peraih penghargaan dan franchise ikonik yang dimiliki Disney, serta daftar konten Asia Pasifik untuk tahun 2023,”  jelas Luke Kang, Presiden dari The Walt Disney Company Asia Pacific dalam kata sambutannya.

Selama setahun terakhir, lebih dari 45 konten dari berbagai negara di Asia Pasifik telah tayang di layanan streaming Disney, di mana beberapa di antaranya meraih kesuksesan dari aspek komersial. “Big Mouth”, “Soundtrack #1”, dan “IN THE SOOP: Friendcation” merupakan tiga konten dari Asia Pasifik yang paling banyak ditonton di Asia Pasifik dalam minggu pertama setelah dirilis. Total jumlah jam streaming konten lokal produksi Asia di Disney+ meningkat delapan kali lebih banyak dibandingkan tahun lalu.

“Fokus pengembangan konten kami adalah pada apa yang kami sebut sebagai ‘ruang kosong’”, ucap Luke Kang. “Berinvestasi di ranah yang membutuhkan lebih banyak ketelitian lokal – baik karena popularitas yang tinggi di pasar tertentu, seperti anime Jepang atau drama korea atau tayangan rom-com dan horor di Indonesia, maupun kebutuhan untuk storytelling lokal dengan pemeran yang akrab dengan penonton lokal. Kami ingin menyajikan konten global seperti Disney, Marvel, Star Wars, dan Pixar untuk para penonton kami di setiap negara, serta konten yang diproduksi lokal yang sesuai dengan selera mereka, dan membawa konten lokal ini mendunia.”

Baca Juga:  Review Film SADAKO DX, Having Fun with Sadako

Hari ini The Walt Disney Company Asia Pasifik juga mengumumkan perluasan kerja sama  jangka panjang dengan kantor penerbit ternama Kodansha, dengan memasukkan anime Jepang ke dalam kerja sama ini. Disney dan Kodansha telah bekerja sama di sektor penerbitan selama 70 tahun, dan kerjasama ini akan diperluas mencakup anime. Perluasan kerjasama ini termasuk melisensikan judul-judul anime SVOD eksklusif yang diangkat dari manga hasil produksi Kodansha, dimulai dengan “Tokyo Revengers: Christmas Showdown Arc”, yang akan tayang eksklusif di Disney+ dan Disney+ Hotstar di Januari 2023. Layanan streaming Disney sekarang kini telah meraih 235 juta pelanggan di 154 pasar di seluruh dunia.

“Hubungan khusus antara Kodansha dan Disney telah berlangsung selama 70 tahun dan telah mengadaptasi banyak publikasi berlisensi Disney,” jelas Yoshinobu Noma, Representative Director dan Presiden Kodansha. “Dengan pengumuman hari ini, kami sangat senang karena dapat lebih mengembangkan dan meningkatkan hubungan antara dua perusahaan, serta menayangkan lebih banyak anime kepada dunia lewat Disney+ dan platform streaming miliknya.”

“Kami bersemangat untuk memperdalam kolaborasi kami dengan mitra kami Kodansha dengan genre yang begitu menarik,” ungkap Carol Choi, Executive Vice President Original Content Strategy, The Walt Disney Company APAC. “Anime Jepang mengisi ‘ruang kosong’ di rencana pengembangan konten kami dan kami percaya bahwa kolaborasi yang diperluas ini akan membawa perubahan besar bagi masa depan strategi animasi Disney di Jepang. Kami tidak sabar untuk mempersembahkan berbagai judul anime dan IP favorit dari Kodansha bagi penonton dunia.”

Sebagai bagian dari  International Content & Operations Disney, proyek terbaru APAC yang akan diumumkan hari ini akan mencakup produksi original dari kreator-kreator ternama. Termasuk dalam jajaran konten adalah serial live-action tent-pole seperti drama, komedi, fantasi, romance, science-fiction, crime, horor, hingga variety shows, dokumenter, dan anime dari beberapa negara termasuk Jepang, Korea Selatan, Indonesia, dan Australia. Berbagai proyek yang diumumkan hari ini adalah bagian dari ambisi Disney untuk menayangkan lebih dari 50 judul APAC Originals pada tahun 2023.

Maaf Anda Melihat Iklan
Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

TV & Movies

Review Film SADAKO DX, Having Fun with Sadako

Published

on

GwiGwi.com – Hal yang pertama mencolok dari film ini adalah kenapa judulnya seperti itu? Tulisan yang lebih familiar adalah “XD” yang menyimbolkan kebahagiaan (“X” seperti mata yang tertutup sementara “D”, mulut lebar yang tertawa lepas). Bila memakai logika tersebut maka “DX” bisa jadi berarti; berteriak takut (“D”) sampai menutup mata (“X”).

Maaf Anda Melihat Iklan

Permainan huruf ini seolah menyimpulkan bahwa SADAKO DX adalah film yang tujuan utamanya menghibur bukan buat anda ketakutan setengah mati. Terlihat sekali dari banyaknya komedi yang dimasukkan meskipun tak selalu sukses lucu. Puncaknya adalah ending yang sangat tidak disangka arahnya. Yang jelas wah gokilnya.

Ayako Ichijo (Fuka Koshiba) adalah seorang jenius yang memiliki IQ 200. Dia berhadapan dengan seorang ahli supernatural bernama Kenshin. Keduanya berdebat mengenai banyaknya kematian misterius yang berhubungan dengan video terkutuk. Ayako yang logis berusaha menentang ide itu sementara Kenshin mengatakan kutukannya nyata dan akan mencabut nyawa orang yang menonton video tersebut dalam waktu 24 jam.

Ayako kemudian mendapatkan tape VHS video kutukan tersebut dan membawanya ke rumah. Adiknya, Futaba (Yuki Yagi), yang penasaran menontonnya. Kutukan pun menghantui si adik dan Ayako berusaha untuk mencari jalan keluarnya.

Baca Juga:  Review Anime Yofukashi no Uta - Anime Romance Musim Panas

Komedi yang menonjol bukan berarti tidak ada momen horor menegangkan. Video gaibnya yang memperlihatkan Sadako jalan ke rumah korban, Air yang menetes dari langit-langit sebelum syaiton muncul dan adegan di mobil masih sukses menegangkan.

Walau ada beberapa jump scare yang mengganggu karena keliatan sekali tujuannya lebih ke membuat sebal.

Ayako yang perlahan sadar kejadian yang menimpanya tak masuk logika kurang memuaskan karena terlalu lama prosesnya dan fokus penonton sudah berpindah ke bagaimana dia akan bertahan, bukan ini nyata atau tidak. Tapi tetap kemampuannya untuk tetap mencari solusi dan sikapnya yang tegas pada perilaku tak sopan teman prianya layak diapresiasi. She's a good, smart, kind and brave female protagonist. Hollywood should take note.

Saya apresiasi filmnya “nyemplung” menjadi this bizzare horror comedy mesh. They go for it with Sadako, the most iconic Japan horror at that. Tapi bisa jadi itulah yang bisa dilakukan untuk menyegarkan si ikon; just take crazy swing and see how it goes.

Maaf Anda Melihat Iklan
Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Trakteer

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending

GwiGwi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x