Connect with us

TV & Movies

Review Film Sunyi, misteri kelam korban bullying

Published

on

GwiGwi.com – Alex (Angga Aldi Yunanda) diterima di SMA unggulan “Abdi Bangsa”. Alih-alih menjadi sebuah karunia untuk Alex Karena diterima di sekolah unggulan namun malah menjadi musibah. Budaya senioritas dan masalah bullying secara fisik maupun mental menjadi makanan sehari-hari bagi dirinya.

Namun semenjak kenal Maggie (Amanda Rawles) yang sesama Murid kelas satu dan menjadi sahabat Alex membuat dirinya bisa survive untuk menghadapi perlakuan yang tidak enak dari senior-seniornya.

Hingga suatu saat Alex dipaksa untuk melakukan ritual untuk memanggil arwah oleh gang bully Andre (Arya Vasco), Erika (Naomi Paulinda), dan Fahri (Teuku Rizki).

Awalnya masih aman-aman saja namun seiring waktu berjalan satu persatu nyawa para siswa gang bully melayang secara mengerikan. Suasana sekolah Inipun menjadi mencekam.

Bagaimana teror Ini berakhir? Apa Yang sebenarnya tersembunyi di sekolah ini?

Film Ini disutradarai oleh Awi Suryadi yang sukses dengan film Danur dipercaya untuk menggarap film ini yang merupakan remake dari film asal Korea Selatan yang berjudul Whispers Corridors rilisan tahun 1998.

Film ini diramaikan oleh bintang-bintang muda seperti Angga Aldi, Amanda Rawles, Arya Vasco, Naomi Paulinda, dan Teuku Rizky serta oleh aktor pendukung yang sudah tidak asing seperti Verdi Soelaiman, dan masih banyak lagi.

Filmnya sendiri juga mengangkat kisah kelam tentang isu bullying yang menjadi permasalahan di lingkungan akademis. Amanda Rawles sendiri sempat merasakan di bully teman-temannya saat dirinya duduk di bangku sekolah. Sehingga saat bermain film Sunyi, ia tak kesulitan dalam berakting.

Baca Juga:  Review Film Asterix: Secret of Magic Potions, petualangan Asterix dalam mencari penerus Getafix

Kasus bullying Ini memang memiliki dampak Yang berbahaya dampaknya Bisa jauh banget bahkan ada yg bisa bunuh diri, sampe patah semangat. Kita harus concern about it gak boleh nyepelein karena efeknya sangat besar.

Balik lagi ke filmnya, film Ini punya jumpscare yang gak terlalu ganggu banget, ya.. biasanya kan untuk adegan jumpscare juga didukung dengan sound yang memekakkan telinga.

Tapi untuk film sunyi Ini punya jumpscare yang begitu namun tetap terlihat pasti dan menakutkan. Ditambah dengan tone yang selalu kelam ala film horror Asia.

Namun jumpscare di film ini gak terlihat mengganggu cerita semua di eksekusi dengan baik oleh sutradara dan semua yang terlibat di film Ini

Alur ceritanya pun dibuat ringan namun tetap bermakna dengan sentuhan hal-hal yang cukup mengagetkan.

Part yang gue suka adalah ketika adegan geng bully yang diteror oleh para “penghuni sekolah” bahkan sampai ada yang tewas di eksekusi dengan apik.

Secara keseluruhan, Sunyi memiliki pesan moral yang patut dijadikan pelajaran. Memang tak dapat dipungkiri perundungan kerap terjadi dimana saja dan oleh siapa saja.

Film ini pun mengajarkan hal tersebut. Menariknya, pesan moral ini pun diangkat apik dengan mengusung film bergenre horor.

Box Office

Review Angel has fallen, aksi gila-gilaan dengan cerita yang standard

Published

on

By

GwigwiMike Banning (Gerard Butler) tengah menghadapi dilema di jelang masa pensiun nya untuk menerima tawaran kenaikan pangkat sebagai direktur Secret Service dan bekerja di balik meja atau menerima tawaran rekannya Wade Jennings (Danny Huston) untuk tetap bekerja di lapangan di sebuah perusahaan keamanan swasta.

Situasi Ini juga diperparah dengan sindrom PTSD (Post Traumatic Syndrome Disorder) yang ia sembunyikan dari rekan kerja dan Leah (Piper Perabo) istrinya, Banning merasakan tekanan besar dalam dirinya.

Belum lagi bad luck pada tugas lapangan terakhir baginya untuk menjaga Presiden Trumbull (Morgan Freeman) berbuah masalah ketika sebuah serangan drone mengincar nyawa Presiden.

Seluruh tim pengamanan presiden tewas, kecuali Banning yang di saat genting berhasil menyelamatkan Presiden.

Usahanya menjadi bumerang saat Banning menjadi kambing hitam dan dituduh merencanakan serangan tersebut, ditambah lagi bukti-bukti mengarah kepada Banning.

Di tengah kekalutan, Banning pun mencoba segala daya upaya untuk menyelamatkan diri dan mencari siapa yang menjebaknya dengan bantuan ayahnya Clay (Nick Nolte).

Mampukah Mike Banning mencuci nama nya di tugas terakhirnya ??

Film aksi model trilogi “Fallen” ini memiliki ciri khas formula yang lazim dipakai di banyak film di genrenya.

Tidak terkecuali dengan Film Angel Has Fallen. Formula One Man Hero sebagai karakter utama yang saking jagonya tidak mudah mati dan selalu berhasil meraih tujuannya terpampang nyata dalam film ini.

Namun bagai pisau bermata dua tentunya bagi resepsinya di mata penonton. Penonton yang terbiasa dengan film action brainless atau tanpa mikir akan bersorak kegirangan dibandingkan dengan penonton kritis yang gampang bosan dan mengharapkan cerita yang rumit.

Sutradara Ric Roman Waugh (Felon, Snitch) memang tidak menghadirkan sesuatu yang baru di film ketiga trilogi Fallen ini, namun kemasannya cukup baik.

Suguhan ledakan demi ledakan yang luar biasa ekstrim. Sepertinya Michael Bay nampaknya memiliki saingan baru dalam menggarap adegan ledakan yang menggelegar.

Dari sisi naskah yang ditulis Robert Mark Kamen (Taken, The Transporter), Matt Cook (Patriots Day, Triple 9) dan Ric Roman Waugh (Felon, Snitch) sendiri memang tidak memiliki kedalaman cerita dan alur yang rumit.

Baca Juga:  Review Film Fast and Furious: Hobbs and Shaw, aksi seru antar dua agen yang memiliki latar belakang berbeda

Film serasa gampang ditebak sejak awal sampai akhir. Meskipun begitu kualitas produksi yang apik dibarengi kualitas akting ciamik mampu memberikan keunggulan sendiri bagi film Angel Has Fallen.

Dari segi kualitas akting dalam film ini tidak perlu diragukan lagi. Gerard Butler (Law Abiding Citizen, Machine Gun Preacher) masih tetap badass dan brutal. Morgan Freeman (Shawshank Redemption, Se7en) sebagai presiden masih mampu memberikan performa yang menawan walaupun dengan screentime yang minim.

Tim Blake Nelson (The Incredible Hulk), Piper Perabo (Coyote Ugly), Jada Pinkett-Smith (The Matrix Reloaded) dan Danny Huston (X-Men Origins: Wolverine, Wonder Woman) juga memberikan penampilan apik, walau tidak seepik Nick Nolte (48 Hrs., Warrior) tampil eksentrik dan nyaris alam batas gila.

Dari sisi efek spesial CGI juga menjadi kelemahan paling terlihat dalam film. Beberapa adegan yang memakai CGI terlihat “bohongan” dan kurang detail dalam penggarapannya.

Bagian ini mungkin akan sangat mengganggu bagi penonton yang memperhatikan detail, namun sepertinya tidak bagi penonton casual.

Selain kekurangan teknis dalam film dan naskah yang gampang ditebak, film ini juga memiliki kekurangan dari sisi musik yang kurang dapat menampilkan nada-nada patriotik dalam film ini. Rata-rata komposisi musik yang digarap oleh David Buckley(The Town, The Nice Guys) tidak mampu memberikan nilai lebih pada adegan yang ada di film.

Secara keseluruhan, Angel Has Fallen memberikan sebuah suguhan aksi yang menghibur bagi penikmat film bergenre aksi yang penuh momen ledakan, tembak-menembak dan pertunjukan drone menarik dari film yang menjadi film ketiga dalam trilogi Fallen ini.

Film Angel Has Fallen memang bukan film dengan misi menjadi film terbaik sepanjang masa, namun gue merekomendasikan jika lo semua pengen nikmatin durasi sepanjang 2 jam di dalam bioskop yang penuh momen aksi yang gokil.

Continue Reading

Film Jepang

SADAKO siap hantui layar bioskop Indonesia 28 Agustus 2019

Published

on

By

GwiGwi.com – Film horor Jepang “Sadako” akan mulai tayang di Indonesia pada 28 Agustus 2019.  20 tahun telah berlalu sejak perilisan film Ringu di Jepang tahun 1998 yang disutradarai Hideo Nakata.

Ringu mengisahkan tentang rangkaian kematian yang terjadi bagi siapapun yang menonton sebuah kutukan pada sebuah kaset video. Duniapun diperkenalkan kepada SADAKO. Film ini tidak hanya mengejutkan penonton Jepang, tapi seluruh dunia. Ada apa dibalik sosok SADAKO ini?

Sadako bercerita tentang Mayu (Elaize Ikeda), seorang konselor psikologi yang bekerja di sebuah rumah sakit. Ia memiliki pasien perempuan (Himeka Himejima) yang tidak dapat mengingat apa pun bahkan namanya sendiri. Sementara itu, adik lelaki Mayu, Kazuma (Hiroya Shimizu), terseret dalam sebuah insiden mengerikan. Ia merupakan seorang YouTuber yang mencoba menelisik kasus kematian lima orang di sebuah kamar apartemen yang terbakar. Mayu kemudian menyadari ada keganjilan dari video YouTube yang diunggah oleh Kazuma. Ia melihat sosok Sadako di video tersebut. Mengapa Sadako kembali muncul dan menebarkan teror?

Baca Juga:  ULANZI 1.33X Anamorphic Lens Adapter Indonesia | Lensa keren bikin video kayak film bioskop

Pada produksi kali ini, Sutradara Ring, Hideo Nakata, dan penulis asli Ring Sekuel, Koji Suzuki, bertemu kembali setelah 20 tahun dan mereka merilis film SADAKO. Walaupun ini versi modern dari cerita aslinya, Sadako mengungkap aspek heroik yang tidak diketahui dalam kehidupan SADAKO, dimana hal ini berhubungan dengan penderitaan asal usulnya dan hal yang menyebabkan dia menjadi hantu pendendam.

Continue Reading

Box Office

Jagat Sinema Bumilangit perkenalkan para pemerannya

Published

on

GwiGwi.com – Screenplay Bumilangit secara resmi mengumumkan Jagat Sinema Bumilangit Jilid 1. Dalam beberapa tahun kedepan telah disiapkan tujuh Film yang saling berkesinambungan satu sama lain. Jagat Sinema Bumilangit akan diawali dengan Film Gundala yang akan dirilis pada 29 Agustus 2019.

Beberapa aktor dan aktris Indonesia sudah dipastikan akan meramaikan Jagat Sinema Bumilangit. Diantaranya ; Abimana Aryasatya sebagai Gundala, Chicco Jerikho sebagai Godam, Pevita Pearce sebagai Sri Asih, Chelsea Islan sebagai Tira, Tara Basro sebagai Merpati, Asmara Abigail sebagai Desti Nikita, Hannah Al Rashid sebagai Camar, Kelly Tandiono sebagai Bidadari Mata Elang, Joe Taslim sebagai Mandala, Vanessa Prescilla sebagai Cempaka, Della Darthan sebagai Nila Umaya, Ario Bayu sebagai Ghani Zulham, Bront Palarae sebagai Pengkor, Lukman Sardi sebagai Ridwan Bahri, Daniel Adnan sebagai Tanto Ginanjar, Tatjana Saphira sebagai Mustika sang kolektor, Adhisty Zara sebagai Virgo, Dian Sastrowardoyo sebagai Dewi Api, dan Nicholas Saputra sebagai Aquanus.

Joko Anwar sebagai Creative Producer dari Jagat Sinema Bumilangit menyampaikan “Akan Ada tujuh Film setelah Gundala yang akan disiapkan, yaitu dari era Jawara dan era Patriot. Ada Sri Asih, Godam dan Tira, si buta dari gua hantu, Patriot taruna, Mandala, Gundala Putra Petir(sekuel Gundala), dan Patriot. Film-Film Ini juga akan muncul karakter lain juga, dan kami juga telah mengembangkan benang merah cerita dari perkembangan tiap karakter dengan rapi dari film pertama sampai akhir. Nantinya akan dikembangkan lagi oleh tiap sutradara dan penulis naskah tiap filmnya dan jadinya semua akan terbangun dan terjaga dengan solid.”

Baca Juga:  Review Film The Angry Birds Movie 2, sekuel yang menarik sayang ada yang kurang

Menurut Wicky V. Olindo selalu produser dari Screenplay Bumilangit, “Jagat Sinema Bumilangit adalah sebuah upaya untuk memberikan something fresh Buat seluruh penonton Indonesia. Dengan cerita Yang tersambung satu sama lain, penonton dapat merasakan sajian cerita Yang seru. Mungkin kedepan nya, Film-Film Ini bukan hanya menjadi hiburan semata, namun juga menjadi inspirasi bagi masyarakat.”

Selain itu, menurut produser Screenplay Bumilangit Bismarka Kurniawan mengatakan, “Bahwa dengan adanya Jagat Sinema Bumilangit dapat menjadi semangat baru bagi industri kreatif Indonesia dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan Bisa dipasarkan secara internasional.”

Continue Reading
Advertisement SGCC 2019
Advertisement DICARI REPORTER
Advertisement

GwiGwi Space

GWIDEV

Trending