Connect with us
Maaf Anda Melihat Iklan

TV & Movies

Review Film: Siti, film yang jujur namun tetap berpuisi

Published

on

GwiGwi.com – Film terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2015 ini bagi saya adalah film yang sederhana. Sesuai judulnya, “Siti” bercerita tentang sosok Siti yang galau gundah gulana dikelilingi kemiskinan, jeratan utang, dan sang suami yang lumpuh layu. Konfliknya pun jauh dari rumit dan mungkin sudah klise, yaitu dilema antara moral dan realitas. Antara pasrah menerima “takdir” atau berkehendak bebas.

Maaf Anda Melihat Iklan

Review Film Siti, film yang jujur namun tetap berpuisi - 5

Hal utama yang membuat “Siti” menjadi istimewa adalah usaha sang sutradara, Eddie Cahyono, untuk menjadikan film ini efektif dan praktis, namun tetap estetis. Pertama, skup film tidak pernah keluar dari sosok Siti (diperankan aktris pendatang baru Sekar Sari). Dia muncul di setiap adegan, mulai dari mengejar anak lanang semata wayangnya yang malas mandi, menjual rempeyek di pantai Parangtritis, hingga mabuk oplosan melayani tamu di karaoke kelas kampung.

Kedua, dari sisi sinematik. Film berbujet 150 juta ini mengambil gambar dengan teknik hitam putih. Teknik semacam ini sudah jamak di dunia sinema, namun jarang digunakan sineas lokal. Saya tidak tahu apa motivasi utama sang Sutradara menggunakan B/W.

Review Film Siti, film yang jujur namun tetap berpuisi - 1

Bagi saya pribadi, penggunaan warna yang minimalis-monokromatik akan mereduksi cukup banyak informasi dan impresi visual. Konsekuensinya, penonton akan lebih terfokus pada gerak dan mimik para pemeran. Untungnya seksi perwatakan tampil mumpuni. Akting setiap pemeran tidak terlihat terlalu dibuat-buat.

Baik dari gestur, aksen (Jawa-Jogja), maupun ekspresi terlihat dan terdengar renyah, bahkan seringkali menyelipkan unsur komedi yang memancing gelak tawa. Penonjolan unsur perwatakan tadi juga semakin ditekankan dengan teknik pengambilan gambar tanpa jeda (long shot) yang menguasai lebih dari 60% film.

Review Film Siti, film yang jujur namun tetap berpuisi - 4

Ketiga, “Siti” sepertinya tidak dibuat untuk menggurui. Tidak ada adegan meraung-raung dan histeris. Tidak ada adegan berdoa sambil berlinang air mata meminta perubahan nasib. “Pesan & moral” dari film yang 95% dialognya menggunakan bahasa Jawa ini tidak ditampilkan secara eksplisit.

Baca Juga:  Review Film See for Me, Sentuhan Thriller nan Menegangkan

Pergumulan Siti pada akhirnya adalah pergumulan yang personal dan sunyi, khususnya ketika dia mulai membandingkan suaminya yang disfungsi dengan sosok polisi gagah (dan berkumis) bernama Gatot.

Review Film Siti, film yang jujur namun tetap berpuisi - 3

Diluar hal-hal di atas, “Siti” tetap dibungkus dengan kemasan audio-visual yang layak tonton. Untuk tata suara, sudah cukup pas dan tidak bocor. Untuk sinematografi, teknik hitam-putih tidak menjadi penghalang untuk menciptakan komposisi gambar yang artistik. Saya senang pada adegan transisi yang mengambil lansekap laut, ombak, pantai, dan matahari terbenam di horizon.

Komposisi visual tadi semakin diperkuat dengan tata musik yang digubah oleh Krisna Purna. Pemilihan alat gesek tradisional rebab sebagai instrumen utama cukup efektif menciptakan kesan getir, mistis, dan menyayat. Selain rebab, piano juga digunakan pada bagian2 akhir film.

Review Film Siti, film yang jujur namun tetap berpuisi - 6

Akhir kata, “Siti” sekali lagi adalah sajian sinematik yang efektif dan minimalis berbalut unsur lokalitas yang bukan sekedar tempelan. Karya yang wajar namun tetap berpuitik. Kesederhana-wajaran inilah yang membuat pesan dan tujuan film ini tersampaikan. Eddie Cahyono (yang juga merangkap sebagai penulis naskah) tidak menggiring penonton ke sebuah ujung, melainkan menuju pantai yang luas bebas tanpa batas. “Siti” pada akhirnya adalah tentang Siti yang mempertahankan hidup.

Oh ya sekedar tambahan, bukan bermaksud untuk ber-jinggoisme. Film ini harus berkeliling di festival-festival terlebih dahulu sebelum menembus jaringan bioskop mainstream. Oleh karena itu, jangan sungkan-sungkan untuk men-support langsung. Bukan karena faktor kasihan, namun karena film ini memang berkualitas. Apalagi jika anda penikmat drama.

Maaf Anda Melihat Iklan
Maaf Anda Melihat Iklan
Advertisement
Click to comment
0 0 votes
Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

TV & Movies

Beres ‘Stranger Things,’ Duffer Brothers Akan Garap Adaptasi Original ‘Death Note’

Published

on

GwiGwi.com – Setelah musim keempat dari popularitas luar biasa Stranger Things, menurut outlet berita Hollywood Deadline, Duffer Brothers telah meninggalkan Netflix untuk memulai perusahaan produksi mereka sendiri untuk karya orisinal dan adaptasi.

Maaf Anda Melihat Iklan

Serangkaian produk baru, termasuk adaptasi seri DEATH NOTE baru yang tidak terkait dengan anime sebelumnya, seri live-action, dan film fitur Netflix, akan tersedia di bawah label produksi baru, bernama Upside Down Pictures.

Menurut laporan, acara baru ini menawarkan perspektif baru tentang genre manga dan anime. Kami tidak akan melihat seri yang baru-baru ini diumumkan untuk sementara waktu karena pekerjaan sudah dimulai pada musim terakhir Stranger Things, tetapi kesediaan Duffer Brothers untuk menangani properti dengan cara mereka sendiri menunjukkan bahwa masih ada kehidupan di dalamnya.

Baca Juga:  Review Film The Black Phone

SOURCE: Crunchyroll

Maaf Anda Melihat Iklan
Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Box Office

Review Film Thor: Love and Thunder, The Lightning Second Strike Miss The Mark

Published

on

GwiGwi.com – THOR: RAGNAROK adalah perubahan radikal dari arah kreatif dua film Thor sebelumnya; lebih ringan, lebih banyak komedi dan Thor yang lebih luwes tak kaku dengan dialog ala teater Shakespeare seperti debutnya. Meski beberapa fans tak menyukai arah tersebut, film ketiga itu adalah film Thor tersukses yang pernah ada baik secara box office atau penerimaan kritikus dan penontonnya.

Maaf Anda Melihat Iklan

Maka tentu saja Taika Waititi, sutradara THOR: RAGNAROK, diminta kembali melanjutkan kesuksesan gaya filmnya dengan THOR: LOVE AND THUNDER, tapi apakah film ke 4 ini lebih fun atau justru mulai kehilangan “thunder” nya?

Dibuka dengan origin sang villain baru, Gorr (Christian Bell) mengenai kenapa ia sangat dendam kepada para dewa.

Akting mantan Batman zaman Nolan itu di awal film begitu kuat dan mengundang simpati. He really bring his A game. Sampai rasanya ingin melihat penampilannya lebih lama lagi, di mana itu dibutuhkan untuk lebih menjual tragedi dan keseramannya.

Thor (Chris Hemsworth) sedang mencari orang yang balik mencintainya setelah begitu banyak kehilangan orang terdekat di film-film sebelumnya. Dia mengisi kekosongan hati ini dengan pergi menjadi hero bersama Guardians of The Galaxy. Sampai saat bahaya mencapai New Asgard, dia terkejut melihat senjata lamanya, Mjolnir, digunakan oleh kenalan lamanya, Jane Foster (Natalie Portman)

Dengan judul THOR: LOVE AND THUNDER, jelas apa yang difokuskan cerita ini; Romansa. Namun saya melihat sebenarnya ada tema yang bisa jadi lebih menarik bila dieksplor lebih utama yakni mengenai hipokrasi kepahlawanan dewa yang diomongkan Gorr.

Baca Juga:  Review Film See for Me, Sentuhan Thriller nan Menegangkan

Secara halus memang hubungan dewa dan orang biasa memang diceritakan. Seperti Zeus (Russel Crowe) yang sombong dan lalim, kontras dengan Thor yang selalu mencoba menolong orang. Coba saja ini fokusnya. Bisa ngasih film ini plot yang lebih dramatis dan berbeda. Memang filmnya akan jadi lebih serius, tapi ngeliat kurang nendangnya joke film ini, mungkin saatnya harus ganti tone lagi?

Natalie Portman diberi lebih banyak ruang daripada jadi pacar aja seperti film sebelumnya. Cukup meyakinkan sebagai The Mighty Thor dan lumayan saat komedi. Valkyrie (Tessa Thompson) rasanya jadi pembantu saja. Dia tidak ada story arc seperti di THOR: RAGNAROK. Begitu pula dengan Korg (Taika Waititi).

THOR: LOVE AND THUNDER berasa seperti versi inferior dari THOR: RAGNAROK. Seolah apa yang dicoba film ini, sudah ada versi superiornya dulu. Sekali lagi, apa sekarang saatnya mereka kembali mengganti arah kreatif si dewa petir ini?

Terakhir, baru-baru ini LIGHTYEAR tak jadi tayang karena konten LGBTnya yang frontal. THOR: LOVE AND THUNDER sebenarnya punya lebih banyak yang diselipkan sepanjang film. Saya penasaran bagaimana reaksi masyarakat nanti saat rilis.

Some swear word stuff in it and some intimacy stuff.

Maaf Anda Melihat Iklan
Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

TV & Movies

Review Hulu’s The Princess, Aksi Seru Sang Tuan Putri ala Film Laga ‘The Raid’

Published

on

Gwigwi.com – Film rilisan 20th Century Studios yang akan tayang di layanan streaming berbayar Disney+ Hotstar garapan sutradara Le-Van Kiet yaitu dengan genre action-fantasy The Princess.

Maaf Anda Melihat Iklan

Dikisahkan seorang putri (Joey King) yang menolak lamaran dari seorang bangsawan licik yang bernama Julius (Dominic Cooper) yang ingin menguasai tahta sang raja.

Merasa sakit hati, Julius menawan sang raja dan ratu di tahanan. Lalu sang putri dikurung di menara tertinggi yang ada di istana. Lantas sang putri harus melawan dengan segala cara dan menyelamatkan keluarga dan kerajaan nya.

Langsung ke filmnya, film ini gak banyak basa-basi menceritakan latar belakang cerita. Kita langsung disuguhkan dengan aksi brutal dan kecerdikan sang putri di awal film. Latar belakang cerita ini seiring berjalan nya Film Ini dijelaskan ditengah aksi seru.

Sang putri digambarkan bukan tipikal damsel in distress yang menunggu pangeran dengan kuda putih. She’s save his butt herself dengan segala kecerdikan dan skill yang diasah bersama sahabatnya seorang rakyat Biasa bernama Linh (Veronica Ngo).

Baca Juga:  Beres 'Stranger Things,' Duffer Brothers Akan Garap Adaptasi Original 'Death Note'

“Be patience and focus” merupakan quote sakti di film Ini dan menjadi pakem bagaimana si tuan putri bertindak dan beraksi.

Dari segi action nya, mengingatkan gue akan film indonesia yang berjudul The Raid, dengan set yang hanya di satu tempat. Serta aksi brutal yang penuh dengan ketangkasan dan dinamis ini membuat Film Ini menjadi seru untuk ditonton.

Dari segi akting, Joey King yang memerankan sang putri berhasil menjadi spotlight dikarenakan ia berhasil memerankan dengan baik peran nya dan juga berakting laga dengan apik.

Isu yang diangkat yaitu girl empowerment lewat film ini disampaikan dengan bagus dan on point tanpa melemahkan pihak laki-laki yang disampaikan dengan setara.

Secara keseluruhan, film The Princess merupakan sajian yang seru dan menghibur filmnya sendiri akan rilis di layanan streaming Hulu yang tayang di Amerika dan bisa di saksikan di Disney+ Hotstar di Indonesia mulai 1 July 2022.

Maaf Anda Melihat Iklan
Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Trakteer

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending

GwiGwi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x