Connect with us

TV & Movies

Review Film No Time To Die, Sebuah Salam Perpisahan dari Daniel Craig

Published

on

cover: @remizame

GwiGwi.com – Daniel Craig terpilih untuk memerankan James Bond bermain di film Casino Royale di tahun 2006. Bisa dibilang ia adalah aktor terlama untuk memerankan agen MI6 yang memiliki codename 007 terlama yaitu selama 15 tahun.

Well, setelah didapuk memerankan Bond dalam waktu yang cukup lama. Sudah saatnya ia berpisah dengan peran yang sudah membesarkan namanya di kancah perfilman.

Film No Time To Die, merupakan Salam perpisahan untuk si aktor kepada para fans James Bond.

Dikisahkan James Bond tengah menikmati masa pensiunnya bersama sang kekasih Madeleine Swann (Lea Seydoux) di Italia. Mereka “move on” dari masa Lalu yang telah terjadi satu sama lain.

Namun, antek-antek dari organisasi SPECTRE masih mengincar Bond dikarenakan telah menjebloskan boss mereka Ernesto Stavro Blofeld (Christopher Waltz) ke penjara yang merupakan saudara tiri Bond dan ayah dari Madeleine.

5 tahun berlalu, laboratorium milik MI6 dibobol oleh sebuah organisasi kriminal yang mengincar sebuah senjata pemusnah massal bernama “Heracles” yang jika ditangan yang salah akan mengancam keselamatan dunia.

Disinilah M yang baru (Ralph Fiennes) bertugas untuk mengatasi masalah ini dengan menugaskan Bond dengan agen 007 baru. Hal Ini yang menjadi permasalahan dikarenakan pimpinan organisasi kriminal tersebut Lyutsifer Safin (Rami Malek) memiliki dendam pribadi dengan Blofeld pimpinan organisasi SPECTRE yang harus dibayar lunas.

Disinilah Bond kembali dari masa pensiunnya, dan harus menuntaskan masalah Ini agar ia Bisa pensiun dengan tenang.

Langsung aja ke filmnya, film ini harusnya dirilis pada tahun 2020, namun dikarenakan pandemi COVID-19 membuat film Ini mengalami penundaan.

Film yang berdurasi 2 jam 43 menit Ini yang konon merupakan durasi film James Bond terpanjang. Film Ini menjadi sebuah closure bagi James Bond era Daniel Craig sang aktor yang terlihat sudah mulai menua dan dirasa cukup untuk melepas peran ini ke aktor selanjutnya di masa depan.

Ia pun melakukan performa akting yang gak tanggung-tanggung dikarenakan ia akan memerankan karakter Ini untuk terakhir kalinya.

Yang gue seneng dari Bond era Craig ini adalah tiap Cerita Dalam filmnya dibangun untuk saling berkesinambungan dan hasilnya cukup memuaskan. Perlu diingat James Bond versi Daniel Craig adalah sebuah reboot dari franchise James Bond, hal ini dirasa wajar untuk membuat sesuatu yang baru untuk penyegaran sebuah franchise.

Performa cast lain seperti Ana de Armas, Lasana Lynch, Billy Magnussen, dan David Dencik juga berhasil meramaikan film Ini.

Untuk Bond Villain nya, kali Ini Rami Malek pasca film Bohemian Rhapsody yang memerankan Lyutsifer Safin terlihat sangat mengancam dan cukup gila. Bisa dibilang ia berhasil memerankan peran yang cukup iconic Karena peran Bond Villain adalah peran yang sangat penting disamping pemeran James Bond. Rami Malek berhasil tampil dengan baik.

Untuk Bond girl nya, Ana De Armas berhasil tampil dengan baik, namun sayang porsinya sangat kurang padahal Bisa digali lebih lagi.

Peran Lashana Lynch sebagai agen 007 terbaru juga berhasil tampil sebagai peran yang “ngeselin”. Namanya agen baru dengan codename yang sama dengan Bond bisa Jadi menjadi agenda “girl empowerment”. Memang kita mungkin agak sulit menerimanya, namun ia berhasil menjadi partner yang setara untuk Bond yang kembali dari masa pensiun nya.

Untuk durasi yang cukup panjang, film garapan Cary Joji Fukunaga sekaligus ia menjadi penulis naskahnya memberikan beberapa elemen yang terlihat mengulur waktu daripada fokus ke inti cerita. Hal Ini bertujuan untuk membangun emosi dari filmnya. Bagi beberapa penonton mungkin agak terlihat Sedikit membosankan, tapi hal Ini gak berlangsung lama dan terasa pas menurut gue.

Secara keseluruhan, No Time To Die merupakan hadiah perpisahan dari Daniel Craig yang sangat manis untuk para penonton awam dan fans agen 007.

Film James Bond No Time To Die tayang di Bioskop mulai 30 Oktober 2021 di Bioskop kesayangan anda. Jangan lupa untuk melakukan vaksinasi terlebih Dahulu dan tetap melakukan protokol kesehatan ketika menyaksikan film Ini di Bioskop.

Advertisement

TV & Movies

Review Film HOPE, Big Trouble in Little Village

Published

on

By

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Bencana besar di desa kecil. Mungkin deskripsi yang pas untuk HOPE.

Teror monster yang biasa menimpa kota besar, melibatkan tentara dan ilmuwan, kini harus dihadapi Beom Se-Ok (Hwang Jung-Min) kepala polisi lokal, sepupunya Sung Ki (Zo In-sung), para pemburu, peternak babi, tukang jugal daging dan warga desa lain.

Dari eksekusi sinematografinya, kamera mengisolasi POV penonton pada perjalanan tiap karakternya secara eye level napak tanah untuk mengungkap misteri layaknya progress video game. Bahkan sampai protagonis dapat upgrade senjata, berganti senapan yang lebih kuat. Mengkuti jejak si monsters dari jalanan, toko-toko sampai ke gang-gang kecil.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Cara demikian melokalisir teror pada skala kecil yang justru membuat lebih ngeri dibanding film monster umumnya yang seakan ingin main skala besar secepatnya.

Audiens tak melihat sosok si monster tapi dari kehancuran, gelimpangan mayat dan bangkai berceceran yang diakibatka, gambaran mengerikannya sudah begitu kuat.

Begitu saat akhirnya si sumber horror diperlihatkan…hem. Mengingatkan pada CG game zaman PS3? Barangkali terkendala budget tapi mengingat monster ini ternyata mempunyai peran yang lebih penting lagi, agak membingungkan kenapa tampilannya tidak dicoba lebih meyakinkan lagi.

Beruntung aksi cepat dan brutalnya menghujam efektif sampai rasanya kekurangan itu cukup termaafkan.

Kelemahan umum film monster, manusianya, justru menyala di sini.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Sembari tensi terus terjaga, HOPE mampu mengenalkan para karakternya secara singkat baik dengan cerita konyol atau pun sekedar dari bagaimana mereka memburu si monster. Sampai rasanya audiens sudah klop bersama mereka padahal baru sebentar. Polisi wanita Hoyeon (Sung-Ae) tak diperkenalkan bertele-tele, dari cara dia bernafsu mengejar si monster langsung membuat dia memorable.

Aksi tegang dan kadang bisa-bisanya dibumbui komedi memang mewarnai klimaks, tapi juga berasa terlalu diperpanjang. Tambah lagi ternyata film diakhiri dengan cliffhanger yang membuka sisi lain dari para monster. Untung saja paruh awal dan tengahnya cukup kuat sehingga rasa nanggung tak sampai mengganggu.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

HOPE seakan apabila Godzilla plus ALIEN dialami desa kecil di provinsi anda dan cerdas sekali memanfaatkan keunikan itu baik secara sosiologi manusianya dan kulturnya. Mungkin penonton hanya banyak melihat Hope Harbor dalam keadaan hancur tapi bisa jadi warga dan daerahnya lebih membekas di benak penonton dibanding film monster lain. Dan demikian rasanya sungguh key selling point dari film yang barangkali kurang memenuhi ekspektasi fans sutradara Na Hong-Jin paska THE WAILING.

Apakah terus bisa dia kawinkan aspek itu dengan aliennya nanti untuk sekuel yang sudah ditease? We may hope so….

Continue Reading

TV & Movies

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Published

on

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

www.gwigwi.com – John Miller (Alan Ritchson), seorang veteran Perang Vietnam yang bekerja di pabrik perakitan mobil, dijebak atas kejahatan yang tidak ia lakukan oleh Reynolds (Ben Foster), seorang penguasa mafia lokal yang terobsesi pada kekasih John, Sophia (Shailene Woodley).

Divonis 25 tahun di penjara berkeamanan maksimum, John bertahan hidup hanya dengan satu tujuan: keluar dan menuntaskan dendam.

Ketika kesempatan itu tiba, John melancarkan perburuan berdarah menyusuri jalanan Detroit yang dingin dan korup, melintasi jajaran anak buah Reynolds yang dijaga oleh seorang polisi korup bertangan besi (Pablo Schreiber).

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Sutradara Potsy Ponciroli (Old Henry) kembali memamerkan keahliannya dalam mengolah cerita klasik menjadi sajian visual yang segar melalui Motor City.

Setting kota Detroit tahun 1970-an yang kelam, film action-thriller ini mengusung eksperimen berani. Menyajikan kisah balas dendam yang intens dengan dialog yang dipangkas hampir sepenuhnya, menyerahkan seluruh penyampaian emosi pada gestur, aksi, dan desain suara.

Estetika gritty era 70-an dengan warna-warna pudar dan pencahayaan bernuansa neo-noir. Tanpa kata-kata, deru mesin mobil muscle, dentuman senapan, dan koreografi pertarungan menjadi “dialog” utama.

Penggunaan mobil antik, outfit era 70-an, serta lagu-lagu rock klasik memperkuat suasana kota industri yang sedang runtuh.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Menurut gue ini adalah hal yang sangat berani. Serta membuang dialog eksposisi yang membuat penonton harus fokus pada aksi instinktif dan emosi karakter.

Dari jajaran cast, Alan Ritchson memanfaatkan postur fisiknya yang intimidatif secara maksimal. Tanpa bantuan dialog, ia mengandalkan tatapan mata, nafas yang berat, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan kepedihan, rasa kehilangan, serta kemarahan murni.

Begitu juga dengan Ben Foster yang tampil mengintimidasi lewat aura psikologis yang dingin, sementara Pablo Schreiber memberikan ancaman fisik yang seimbang dengan karakter Ritchson.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Buat gue film ini emang cocok-cocokan dengan penonton masa kini. Bagi yang terbiasa dengan dialog cepat atau pacing modern, beberapa transisi babak tengah mungkin terasa berjalan lambat.

Secara keseluruhan, Motor City merupakan penghormatan yang solid terhadap genre action-thriller klasik.

Film ini membuktikan bahwa Alan Ritchson as an actor tidak hanya mengandalkan fisik semata, melainkan juga kemampuan akting non-verbal yang kuat di bawah arahan sutradara yang tepat.

Continue Reading

TV & Movies

Review Film INSIDIOUS OUT OF THE FURTHER, Wahana Rumah Hantu ala The Further

Published

on

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

www.gwigwi.com – Gemma (Amelie Eve) memiliki masa kecil buruk dengan Ibunya (Laura Gordon) dan berniat menjadi Ibu lebih baik untuk anaknya, Maya (ISLAND Austin).

Sampai dia dihantui mimpi mengerikan yang bisa jadi lebih dari sekedar khayalannya dan berhubungan dengan masa lalunya.

Kembali lagi franchisee horror yang film pertamanya sukses meski low budget dan ternyata penonton masih mau kembali mengeksplorasi alam barzah khas INSIDIOUS yakni the further.

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Dengan film ke 6 filmmaker seolah bermain dengan konsep untuk mengeksploitasi the further. Setelah dapat, seakan barulah dibuat cerita seputar itu dan rasanya memang demikian.

Motivasi yang trigger emosi penonton seputar hubungan ibu anak dan mencoba memutus trauma generasional. Diselingi permainan ketegangan yang lumayan oke memakai syaitonirojim dan eksplorasi the further, di mana paruh ketiganya memang cukup seru dan tak terduga.

Semuanya fine saja dan mungkin itulah fault dari INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER ini; wahana seram-seraman yang terasa eksploitasi (dalam artian yang masih terbilang baik) franchise saja. Bila penonton senang, sampai INSIDIOUS 11 pun seakan dijabanin BLUMHOUSE PRODUCTION.

INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER seolah hasil dari pikiran; karena penonton masih mau, maka filmmaker akan coba segala hal untuk isi gas franchisenya. Apakah mereka akan menemukan alasan kuat lagi untuk penonton mau kembali menjelajah The Further? We'll see…

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending