Connect with us

Box Office

Review Film Little Woman, Kisah Klasik tak Lekang Zaman

Published

on

GwiGwi.com – Sutradara Greta Gerwig membuka film dengan kutipan dari penulis Louisa May Alcott, penulis buku LITTLE WOMEN yang berbunyi; “I had lot of troubles; so i write jolly tales.” Translasinya adalah “Saya memiliki banyak masalah; karena itulah saya menulis cerita-cerita menyenangkan.” Sepanjang film penonton mungkin meragukan kebenaran kutipan itu saat melihat berbagai cobaan yang dialami keluarga March. Mempertanyakan apakah mereka benar bisa berakhir bahagia saat diterpa kemelaratan, kesedihan, dan perpisahan dalam kisah klasik yang diadaptasi sutradara LADY BIRD ini.

Berkisah tentang kehidupan 4 saudari keluarga March; Jo (Saoirse Ronan) yang berlaku sebagai pemimpin dan paling ambisius, Meg (Emma Watson) anak tertua yang ingin hidup berkelas tinggi, Amy (Florence Pugh) jago gambar yang pergi ke Paris untuk jadi seniman dan Beth (Eliza Scanlan) ahli bermain piano yang menderita sakit parah. LITTLE WOMEN menceritakan masa lalu mereka yang cerah dan ceria di Concord, Masachusettes juga di masa kini yang kelam dan diselimuti ujian.

Diawali dengan kisah Jo di New York yang ingin menjadi penulis. Determinasi Jo untuk cita-citanya terlihat dari tangannya yang penuh bercak tinta. Adegan susah payahnya dalam merangkai kata ini menurut saya tidak kalah hebat malah lebih keren daripada adegan aksi Rey dengan lightsaber di STAR WARS atau baku hantam Letty di seri film FAST & FURIOUS. Keinginannya memang kuat, namun Jo bisa cepat menyerah, panik dan sedih apabila usahanya dinyatakan kurang oleh orang lain. Dari luar dia terlihat kuat tapi sebenarnya cukup sensitif di dalam dan Saoirse Ronan mampu menunjukkannya dengan luar biasa.

Semua saudarinya memiliki sifat yang berbeda; seperti Amy yang lebih kuat menghadapi tantangan, Meg yang sangat memperhatikan penampilan dan Beth yang setia pada perintah ibunya, Mary (Laura Dern). Saat mereka bangun pagi dan berkumpul bersama di depan perapian itu mengingatkan saya dengan adegan keluarga Si Doell nongkrong dan ngobrol depan rumah. Ada kesan hangat yang muncul dari adegan tersebut yang dulu sepertinya sering bisa kita lihat di serial drama keluarga dan jarang sekali saya lihat di kebanyakan film sekarang ini.

Tentu tak hanya bahagia, perselisihan pun kerap terjadi yang berujung pada pesan soal pentingnya harga diri, menjaga keutuhan persaudaraan daripada ngotot keinginan pribadi, dan saling mengasihi. Sangat klasik memang dan berpotensi menjadi cringey tapi hebatnya tidak terasa seperti itu. Emosinya terasa nyata karena disokong akting yang natural dan dialog Greta Gerwig membuat yang tadinya bisa norak justru menjadi manis. Drama soal keluarga di pedesaan dengan pengemasan berkelas.

Baca Juga:  Review Film Her Blue Sky, Drama Kehidupan Yang Generik

Seiring para wanita cilik March ini bertambah dewasa, banyak dari keinginan polos mereka harus berhadapan dengan realita yang kejam. Untuk memperlihatkan kontras dari kedua linimasa ini Greta menggunakan struktur non linear di mana cerita maju mundur memperlihatkan masa lalu dan masa kini. Secara visual Greta menggunakan lighting yang cerah dan penggunaan warna yang beragam untuk dekorasi di masa lalu sedangkan di masa kini, lighting sedikit lebih suram dan dekorasi dominan memakai warna hitam.

Fungsi struktur ini membuat cerita lebih dramatik semisal; impian masa lalu yang langsung di cut ke masa kini memperlihatkan hal itu tak tercapai atau tidak seindah bayangan. Namun, juga berlaku sebaliknya; saat di masa kini sedang adegan menyedihkan langsung di cut ke masa lalu yang lebih menyenangkan. Secara cerdas memainkan emosi penonton sekaligus membuat cerita tidak monoton.

Laurie (Timothee Chalamet) tetangga keluarga March yang kaya rasanya kurang mendapat porsi yang pas. Pertemuannya yang mendadak di berbagai kesempatan dengan gadis-gadis March ini kadang terasa aneh. Seolah dia hanya hidup untuk berinteraksi dengan para gadis itu saja. Satu waktu dia membuat Amy kesal kemudian muncul lagi seolah tanpa rasa bersalah. Teman saya yang sudah membaca bukunya mengatakan begitu banyak hal soal Laurie, tapi saya rasa tak semuanya berhasil ditunjukkan di film nya secara efektif.

Saya menangkap sesuatu yang menarik saat melihat Beth duduk tenang sambil menjahit. Di adegan lain Beth membuat sepatu berwarna ungu untuk tetangganya Tuan Laurence (Chris Cooper). Kemudian 4 saudari ini gemar membuat drama untuk menghibur anak-anak. Di tengah serba kekurangan dan tentu teknologi tidak semaju sekarang, mereka begitu kreatif dan produktif untuk mengisi waktu luang. Mungkin terpengaruh ya, saya jadi ingin belajar menjahit. Jahit sembari nonton Youtube gitu kan. Tanpa sadar jadi satu syal.

LITTLE WOMEN adalah film keluarga klasik berisikan pesan-pesan positif yang di tangan sutradara yang salah bisa berakhir menjadi sinetron ketinggalan zaman, namun cara bercerita Greta Gerwig mampu mengantarnya menjadi kisah yang tak lekang zaman. So Gwiples, film satu ini tidak boleh sampai dilewatkan ya!

Box Office

Review Film Bloodshot, Jadi Pembuka Universe tapi Maju Mundur

Published

on

GwiGwi.comSony Pictures bekerjasama dengan Valiant Entertainment sebuah perusahaan buku komik dengan beberapa karakter menarik seperti Bloodshot, Harbringer, dan XO Manowar yang konon akan membuat sebuah cinematic universe dimana karakter adaptasi dari komiknya menjadi satu semesta dan saling berhubungan satu sama lain yang dimulai dari Bloodshot yang komiknya diciptakan oleh Kevin VanHook, Don Perlin, dan Bob Layton yang dibintangi oleh Vin Diesel.

Bloodshot bercerita tentang seorang tentara yang bernama Ray Garrison yang menjadi percobaan sebuah eksperimen yang diprakarsai oleh sebuah perusahaan bernama Rising Spirit tech bernama project Bloodshot.

Well, menurut saya ini merupakan langkah yang memiliki potensi luar biasa untuk Sony Pictures yang mencoba berupaya mendapatkan keuntungan dari adaptasi komik selain mengurusi manusia laba-laba a.k.a Spider-Man. Menciptakan sebuah semesta sinematik dari salah satu penerbit komik medioker. Sebuah simbiosis mutualisme untuk si rumah produksi dan juga penerbit komiknya, well it Looks promising.

Dengan kemasan cerita yang tidak biasa disertai twist yang lumayan sulit untuk ditebak berhasil memberikan impresi yang baik, namun ada beberapa bagian yang di eksekusi dengan nanggung dan cenderung main aman untuk sebuah film yang katanya adaptasi dari komik dan akan Jadi pembuka untuk sesuatu yang lebih besar yaitu cinematic universe. Mungkin memang ini merupakan proyek gambling yang dilakukan oleh Sony dan Valiant comics. Seharusnya Sony bersama Valiant mampu membawakannya dengan lebih percaya diri unutk memperkenalkan proyek film anyar nya ini. Namun sayangnya mereka terlihat kurang PD.

Dari sisi cast nya, pertama kali saat lihat trailer nya. Saya agak berat hati melihat Vin Diesel yang berperan sebagai Ray Garrison, mungkin dengan memasang aktor dengan nama yang menjual bisa menjadi magnet agar orang mau menonton filmnya, tapi hasilnya ia masih sama terlihat dengan imej di film yang sebelumnya ia perankan. Harusnya disini Vin harus terlihat untuk melampaui batas diri nya dan menanggalkan sedikit imej yang di film-film yang sebelumnya ia perankan. Pada beberapa adegan terlihat meyakinkan, tapi di sisi lain terlihat seperti biasa Vin Diesel memerankan jagoan di film-film bergenre action yang ia perankan.

Baca Juga:  Disney Indonesia Umumkan Kolaborasi Spesial Bersama Empat Penyanyi Indonesia Untuk Disney’s ‘Mulan’

Untuk kalian yang membaca komiknya Bloodshot ini mungkin terlihat kurang pas vin diesel memerankan tokoh Ini, Menurut saya andai saja Scott Adkins atau Kellan Lutz mungkin lebih terlihat pas untuk memerankan Bloodshot.

Selain Vin Diesel, aktris Elza Gonzalez juga steal the screen di film ini. Ia berhasil memerankan Femme Fatale yang mencuri perhatian di film Ini, tidak lupa ada Guy Pearce sebagai Dr. Emil Harting CEO dari Rising Spirit tech sebuah potensi besar untuk para co-starring di film ini untuk keberlanjutan dari Valiant cinematic universe namun sangat disayangkan potensi dari karakter mereka gak digali lebih dalam lagi. Malah Jadi terkesan ya nasib mereka cuman sampai di film Ini saja.

Secara keseluruhan Bloodshot tetap menjadi film yang mengasyikan jika kalian mengharapkan film bergenre action yang menghibur. Namun untuk sebuah pembuka universe yang lebih besar lagi saya rasa film ini masih bisa di push lebih jauh lagi. Semoga saja di proyek film selanjutnya dari Valiant Comics bisa lebih dari Film Ini dikarenakan memang karakter yang ada memiliki cerita dan karakteristik yang berbeda dari yang disajikan oleh publisher comic yang sudah Ada.

So Gwiples, bagi kalian yang mencari “Universe” baru, This is it Gwiples, jangan sampai dilewatkan!

Continue Reading

Box Office

Review Film Her Blue Sky, Drama Kehidupan Yang Generik

Published

on

GwiGwi.comHer Blue Sky atau lebih dikenal sebagai Sora no Aosa o Shiru Hito yo merupakan anime movie buatan studio Clover Works yang disutradarai Tatsuyuki Nagai, ditulis oleh Mari Okada, dan desain karakter oleh Masayoshi Tanaka. Movie ini merupakan kelanjutan kolaborasi mereka setelah Ano Hana dan Anthem of The Heart.

Aioi Aoi senang bermain bass dan ingin meninggalkan kota tempat ia tinggal untuk menjadi anggota band di Tokyo setelah lulus SMU. Keinginan itu tercetus karena ia tidak lagi ingin terus membebani kakaknya, Akane yang sudah merawatnya selama 13 tahun lebih sejak kedua orang tua mereka meninggal. Untuk itu ia tekun berlatih di dalam kuil kosong dekat rumahnya. Kuil tersebut dulunya menjadi base camp tempat gebetan Akane, Shinnosuke beserta bandnya berlatih saat mereka SMU dulu. Shinnosuke sudah belasan tahun meninggalkan kota untuk menjadi musisi di Tokyo dan tidak terdengar lagi kabarnya.

Tak disangka-sangka saat berlatih Aoi dikagetkan dengan kemunculan Shinnosuke yang fisiknya persis saat masih SMU. Aoi pun menyangka bahwa Shinnosuke sudah meninggal dan arwahnya gentayangan di kuil tersebut. Aoi tidak langsung memberitahu Akane karena masih tidak yakin dengan apa yang dialaminya. Dan apakah yang menyebabkan “arwah” Shinnosuke muncul di kuil tersebut? Itulah yang perlu dicari tahu oleh Aoi

Baca Juga:  Disney Indonesia Umumkan Kolaborasi Spesial Bersama Empat Penyanyi Indonesia Untuk Disney’s ‘Mulan’

Her Blue Sky terasa agak generik untuk sebuah drama tentang rasa cinta antara kakak dan adik serta bagaimana seseorang punya rasa penyesalan ketika memilih karirnya namun harus tetap maju terus. Premis film ini sudah bagus tapi kurang terasa impactnya pada emosi penonton. Jika dibandingkan dengan lika liku kehidupan kakak adik Taylor dan Amy di Violet Evergarden: Eternity and The Auto Memory Doll yang sukses bikin mewek, film ini belum bsia mengalahkannya. Film ini lebih cocok untuk mereka yang sudah berkarir dan berumur pertengahan 20 hingga awal 30-an tahun karena mengupas bagaimana impian saat kita SMU ternyata bisa berbeda realitasnya dengan yang dijalani nantinya. So gwiples buat kalian yang penasaran, jangan lupa disaksikan film satu ini ya

Continue Reading

Box Office

Disney Indonesia Umumkan Kolaborasi Spesial Bersama Empat Penyanyi Indonesia Untuk Disney’s ‘Mulan’

Published

on

By

GwiGwi.com – Disney Indonesia berkolaborasi dengan Yura Yunita, SIVIA, Agatha Pricilla, dan Nadin Amizah hadirkan sentuhan spesial dalam lagu ‘Reflection’ untuk menyambut film live-action terbaru Disney’s ‘Mulan’. Berbeda dengan versi orisinil lagu tersebut yang dipopulerkan oleh Christina Aguilera, lagu ‘Reflection’ versi terbaru ini dinyanyikan oleh empat penyanyi perempuan berbakat dari Indonesia dengan karakter suara yang unik dan berbeda-beda.

Lagu ‘Reflection’ merupakan soundtrack dari film animasi Disney’s ‘Mulan’ yang dirilis pada tahun 1998. Dalam film animasi Disney’s ‘Mulan’, lagu ‘Reflection’ dinyanyikan oleh pengisi suara dari karakter utama film tersebut, Lea Salonga, sedangkan versi pop dari ‘Reflection’ dinyanyikan oleh penyanyi Christina Aguilera. Diciptakan oleh Matthew Wilder and David Zippel, ‘Reflection’ merupakan salah satu lagu Disney terpopuler hingga saat ini.

Baca Juga:  Review Film Bloodshot, Jadi Pembuka Universe tapi Maju Mundur

Para penggemar di Indonesia dapat mendengarkan lagu “Reflection” versi Yura Yunita, Agatha Pricilla, SIVIA, dan Nadin Amizah di seluruh digital streaming platform mulai 20 Maret 2020 sebelum menyaksikan film Disney’s “Mulan”

Continue Reading
Advertisement DICARI REPORTER
Advertisement

Trending