Connect with us

Box Office

Review Film Last Christmas, Film Natal yang Bikin Ambyar

Published

on

GwiGwi.com – “Last Christmas, I gave you my heart
But the very next day you gave it away
This year, to save me from tears
I’ll give it to someone special”.

Penggalan lirik lagu Last Christmas yang dipopulerkan oleh George Michael dan Wham! Tahun ini dijadikan sebuah film Romcom yang berjudul sama sebagai tribute untuk George Michael dan menjadi film natal di tahun 2019.

Katarina atau akrab dipanggil Kate (Emilia Clarke) seorang imigran Yugoslavia yang tinggal di Inggris hidupnya berantakan karena ulah nya sendiri. Ia bekerja di toko pernak-pernik Natal milik Santa (Michelle Yeoh). Hingga suatu ketika, Kate bertemu dengan Tom (Henry Golding) cowok random yang awalnya annoying menurut Kate.

Kalau kata orang Jawa “witing tresno jalaran soko kulino” sepertinya Kate dan Tom Ini saling mencintai.

Langsung aja ke filmnya, dari segi ceritanya pada awal terlihat standart, tapi pembagian peran baik peran utama maupun sampingan terlihat pembagian yang pas dari tokoh si Kate, Tom, Santa, ibu nya Kate, bahkan sampai rekan-rekan Kate yang sering diinapi rumahnya semua kebagian.

Baca Juga:  Review Film Dolittle, Sang Dokter datang Membawa Tawa

Tapi sedikit ada yang janggal soal kehadiran Tom yang muncul secara tiba-tiba. Siapa dia ? Kok Bisa begini ? Kok Bisa begitu ? Semua kejanggalan Ini dipaparkan seiring cerita berjalan dengan twist yang bikin hati meringis.

Yang saya senang di film Ini, yaitu view kota London yang memanjakan mata mulai dari landscape kota yang wow hingga sampai sudut-sudut gang kecil yang berhasil dikemas Dengan apik. Tidak lupa dengan lagu-lagu dari George Michael dan Wham! Seperti Last Christmas, Wake me up before you go, Praying for Time, Heal the Pain dan beberapa lagu-lagu hits dari mereka.

Secara keseluruhan, film Last Christmas bisa dibilang tampil dengan cukup baik untuk sebuah film romcom Yang penuh dengan lovey dovey thingy. dan yang terpenting bikin penonton ambyar dengan performa para cast nya ditambah dengan vibe natal membuat film Ini tetap heartwarming. so gwiples jangan sampai kelewatan film satu ini ya.

Box Office

Review Film Girl On The Third Floor, Bedah Rumah Berujung Petaka

Published

on

GwiGwi.comDon Kosch (Phil “C.M PUNK” Brooks) ditemani anjingnya Cooper (Rooker), berusaha memperbaiki rumah tua yang baru dibelinya untuk menyambut kedatangan sang istri, Liz (Triste Kelly Dunn) dan anaknya yang akan lahir nanti. Semakin Don memalu dan menata rumahnya, semakin ia mengetahui rahasia kelam rumah tersebut beserta tantangan berat yang menguji kesetiaannya.

Opening credit film ini mempunyai kemiripan dengan film DRACULA (1958) produksi HAMMER FILM PRODUCTIONS dengan pemilihan font tulisan yang kuno dan huruf yang runcing tajam dibarengi deretan visual bercahaya redup dan barang-barang tua yang dishot dengan gaya still yang kaku. Memberikan impresi tidak nyaman, keganjilan dan untuk penyuka film horror klasik mungkin sudah bisa mencium akan adanya adegan-adegan yang sarat sadisnya. 3 impresi itu memang menjadi kekuatan utama GIRL ON THE THIRD FLOOR.

Scare dalam film ini lebih dominan mengutamakan membangun atmosfer sedari pada menyerang langsung secara abusive dengan jump scare. Tidak berarti filmnya lamban nan membosankan, ber-art sinema sekali, tetapi fakta yang secara pelan diberikan begitu menarik dan unik sekaligus mengejutkan nan membuat ngeri meski jawaban utamanya di akhir cukup sederhana. Semakin memancing penasaran dengan apa lagi yang akan menimpa Don dan apa yang akan dilakukannya.

Terdapat pula adegan scare yang over the top, menaikkan keganjilannya ke level yang lebih tinggi. Sedikit mengingatkan dengan serial film EVIL DEAD. Penonton rasanya hanya bisa pasif melihat keanehan itu dan mempertanyakan apa yang terjadi. Diakhiri dengan adegan yang cukup berdarah-darah entah korbannya memang layak menerima atau tidak.

Dari segi cerita GIRL ON THE THIRD FLOOR tidak bisa dibilang baru. Cerita tentang loyalitas seseorang dengan pasangannya yang dibalut horror mungkin sudah sering ada dan arah ceritanya mungkin sudah bisa anda tebak. Dialognya pun sering terasa terlalu gamblang menyampaikan pesannya. Hal yang membuatnya menarik adalah setting rumahnya dan bagaimana sutradara Travis Steven meramunya hingga menjadi tontonan segar.

Baca Juga:  Review Film Girl On The Third Floor, Bedah Rumah Berujung Petaka

Bila saya memberi tahu identitas rumahnya, rasanya sedikit mengurangi kenikmatan menonton walau filmnya sendiri memberi jawabannya di pertengahan film. Bisa jadi rumah tua ini adalah setting rumah paling unik yang pernah ada di film horror belakangan ini dan bertanggung jawab besar memberikan identitas unik pada filmnya mau pun pengalaman menontonnya.

Seiring dengan proses Don memperbaiki rumahnya, pelan-pelan film mengungkap siapa Don sebenarnya. Lelaki yang cinta pada istri tapi rentan godaan wanita lain, hampir masuk penjara karena tindakan kriminal white collar, wataknya yang keras tetapi juga sayang binatang. Semakin cerita bergulir, semakin dipertanyakan patutkah penonton simpati pada dia.

Sutradara Travis Steven mempunyai cara menarik dalam menggambarkan karakternya secara visual. Terlihat jarang sekali Don berbagi frame dengan karakter lain. Don diperlihatkan selalu sendiri bahkan saat berbicara dengan karakter lain. Hanya bersama orang yang diterimanya saja baru Don berbagi frame dan menghadap ke arah yang sama seperti saat minum dengan temannya, Milo (Travis Delgado). Seolah Don yang mempunyai ego tinggi sulit berbagi tempat dan memilih berusaha sendiri. Berbeda dengan Liz yang langsung berbagi frame saat berbicara dengan Ellie (Karen Wooditsch) tetangganya.

Film horror ini mempunyai pesan yang cukup menarik soal feminisme dan soal sifat laki-laki. Objektifikasi perempuan, lelaki yang memanfaatkan perempuan, hasrat nafsu lelaki yang membutakan moral dan soal perempuan menghadapi perilaku menyimpang pasangannya.

GIRL ON THE THIRD FLOOR bisa jadi horror di luar zona nyaman bagi yang terbiasa dengan gaya CONJURING dan pengaruhnya yang kian menjalar di film-film horror lain. Bikin resah tidak nyaman, mungkin bisa berdampak cukup lama bagi yang tidak siap dan salah satu horror terbaik dekade ini. so Gwiples, bagi kalian yang suka film yang menegangkan, film ini patut untuk kamu coba

Continue Reading

Box Office

Review Film Bad Boys For Life, Kembalinya Aksi Buddy Cop Apik nan Seru.

Published

on

GwiGwi.com – Will Smith dan Martin Lawrence kembali sebagai duo polisi Miami PD Mike Lowrey dan Marcus Burnett di film Bad Boys For Life.

“Bad boys, bad boys Whatcha gonna do, whatcha gonna do. When they come for you”

Kali Ini dikisahkan tentang aksi detektif Mike Lowrey yang sedang memiliki masalah baru.

Saat diterpa masalah, sahabatnya Marcuss Burnett yang biasa menemaninya dalam menumpas kejahatan, pensiun dari kepolisian karena faktor usia. Mike pun seolah tidak menerima kenyataan dan mencoba berbagai cara agar sahabatnya itu terus menemaninya lagi memburu penjahat. Apalagi, kali Ini mereka menghadapi penjahat yang mencoba membunuh Mike karena ada dendam lama yang harus di balas.

Mau tidak mau Marcus harus kembali membantu Mike Lowrey untuk menghabisi penjahat yang tengah memburunya untuk terakhir kali nya bagi Marcuss sebelum ia pensiun. Selain Will Smith dan Martin Lawrence, Film Ini juga diramaikan beberapa bintang yang ikut terlibat dalam film tersebut. Di antaranya Vanessa Hudgens, Alexander Ludwig, Charles Melton, Paola Nunez, Kate Del Castillo, Nicky Jam, dan Joe Pantoliano.

Absennya Michael Bay setelah membawa film aksi yang bombastis dari film pertama dan kedua Bad Boys memang terasa dari segi skala aksinya. Duet Bilall Fallah dan Adil El Arbi yang kali Ini duduk di kursi sutradara bisa dibilang tak mengecewakan. Sutradara Bilall dan Adil membawa karakter Lowrey dan Burnett lebih dalam. Usia yang tak lagi muda membuat keduanya harus mempertimbangkan banyak hal dalam mengambil keputusan, hingga menyangkut keluarga.

Baca Juga:  Review Film Spies in Disguise, Aksi Spionase Kocak yang Sangat Menghibur

Dinamika plotnya menarik, bahkan hingga plot twist yang tak disangka-sangka.

Jokes yang disajikan cukup menyenangkan untuk dinikmati dan adegan kejar-kejaran serta perkelahian membawa kembali keseruan film aksi yang tak terlalu berat. Smith dan Lawrence menghubungkan aksi dan komedi yang pas, seperti lelucon di tengah-tengah aksi kejar-kejaran dan sedikit mengembangkan cerita Lowrey dan Burnett lebih jauh. Tapi jika dikembangkan, mungkin film ini akan menjadi lebih mengesankan.

Film Bad Boys for Life bisa disebut sebagai tontonan yang menarik di awal tahun, tapi film ini bukanlah film yang sempurna. Misal karakter tim AMMO ini seperti hanya menjadi figuran karena tertutup oleh duo Mike Lowrey dan Marcuss Burnett, padahal karakter tim tactical Ini menarik dan bisa di gali lebih dalam serta mendapat porsi yang seimbang dengan duo polisi tersebut tapi sayang hal Ini tidak terjadi.

Well, Secara keseluruhan, Smith dan Lawrence mengembalikan genre buddy cop era 90an dengan apik, walaupun ada beberapa bagian kurang mendapatkan perhatian. Film Bad Boys for Life bisa menjadi penghibur dari rutinitas dengan komedi dan aksi yang disajikan. Setelah melihat mid credits di sepanjang credits film bergulir mungkin bisa saja ada sekuelnya setelah Ini, tapi menurut saya cukup sampai disini atau mungkin lebih baik dibuat spin off dari Tim AMMO karena mereka memiliki karakteristik yang unik. so Gwiples, jangan sampai kelewatan film satu ini ya!

Continue Reading

Box Office

Review Film Dolittle, Sang Dokter datang Membawa Tawa

Published

on

GwiGwi.com – Terakhir kali penonton seantero dunia melihat Robert Downey Jr. adalah saat dia mengucapkan selamat tinggal untuk perannya sebagai Tony Stark atau Iron Man yang mungkin adalah penampilan terbaiknya setelah 10 tahun lebih menjadi tokoh orang kaya jenius dermawan tersebut. Disela film-film Marvel dia juga memulai franchise baru dengan SHERLOCK HOLMES (2009) yang juga cukup sukses hingga menelurkan sekuelnya, SHERLOCK HOLMES: A GAME OF SHADOWS (2011) dan film ketiganya nanti dengan tanggal rilis tahun 2021.

Mungkin menjadi wajah franchise baru adalah kesukaan pribadi Robert Downey Jr. atau studio-studio besar memang gemar memakai jasa beliau untuk memanfaatkan nama tenarnya, berharap DOLITTLE akan menjadi kesuksesan kesekian kalinya. Meskipun seringkali sulit untuk sebuah film berdiri sendiri bila elemen lain demikian lemahnya hingga nama besar sulit untuk membantu.

Berkisah tentang John Dolittle (Robert Downey Jr.) seorang dokter yang bisa berbicara pada binatang yang mau bergaul dengan segala spesies hewan yang ada rumahnya tapi menolak untuk menemui makhluk berkaki dua sepertinya disebabkan trauma masa lalu. Semua berubah ketika Stubbins (Harry Scollet) dan utusan Ratu Victoria (Jessie Buckley), Lady Rose (Carmel Laniado) memasuki hidupnya.

DOLITTLE memiliki premis cerita yang sederhana dan memiliki unsur petualangan yang secara naratif, memberi banyak ruang untuk Dolittle bekerja sama dengan para binatang atau para binatangnya berinisiatif beraksi sendiri. Ketegangan dan komedi berbunga dari situ. Robert Downey Jr. memerankan Dolittle kurang lebih mirip dengan karakter Jack Sparrow. Meski Jack Sparrow sering berpenampilan dan bertingkah eksentrik, namun percikan pikiran briliannya membuatnya menarik dan kompleks. DOLITTLE mencoba melakukan hal yang sama dengan hasil kurang baik. Sisi cerdas Dolittle terasa kurang dieksplor lebih jauh dan mendetail lagi. Spotlight lambat laun justru lebih banyak diberikan pada para binatang membuat Dolittle justru terkesan pelengkap saja. Belum lagi pilihan aksen bicaranya yang sulit didengar. Untung saja penonton Indonesia disuguhi subtitle.

Baca Juga:  Review Film Girl On The Third Floor, Bedah Rumah Berujung Petaka

Unsur hiburan yang paling menonjol adalah tingkah para binatang. Gorilla yang penakut, Beruang kutub yang takut dingin, Rubah yang berbicara bahasa perancis, Burung Unta yang malas, dll. Semua kepribadian berbeda ini membaur, beraksi, bekerja sama, dan berhasil mengundang tawa walau tidak selalu mendarat mulus. Para binatang ini mungkin satu-satunya yang secara konsisten membuat DOLITTLE mengambang saat momen emosional, cerita dan karakternya sering kali kesulitan.

Untuk film yang mengedepankan CG hasil akhirnya secara begitu kasat mata sering kurang meyakinkan. Para binatang terkadang begitu terlihat artifisialnya. Spesial efek untuk latar belakangnya pun begitu kasar nan kentara apalagi saat Stubbins pertama kali melihat gajah di pekarangan Dolittle. Sesuatu yang harusnya bisa dijual sebagai momen magis baik itu untuk karakter Stubbins dan penonton disajikan begitu cepat dan kurang rapih sehingga terkesan hanya adegan sekelebat tak terlalu penting saja.

Pada akhirnya DOLITTLE adalah film yang dikemas dengan sebisa mungkin untuk anak-anak (sepertinya diakui oleh LSF Indonesia yang kini mempunyai pemberitahuan rating yang manis sebelum film dimulai); plot sederhana minimal ancaman berarti, antagonis bercerita tentang rencana jahatnya secara gamblang terang benderang, dan para binatang lucu berwarna warni. DOLITTLE mungkin tak mempunyai resep yang manjur untuk yang menginginkan lebih, tapi bagi yang ingin memberi sang dokter kesempatan, ini adalah film yang bisa mengundang tawa bagi anak anak dan juga kalian gwiples.

Continue Reading
Advertisement DICARI REPORTER
Advertisement

Trending