Connect with us

Box Office

Review Film Konosuba : God’s Blessing On This Wonderful World-Legend of Crimson, Penuh Tawa Tanpa Henti

Published

on

GwiGwi.com – Film pertama dari serial Konosuba ini akhirnya ditayangkan oleh Odex-Indonesia mulai tanggal 8 Februari 2020 yang didahului oleh special fans screening tanggal 1 Februari 2020. Pada movie ini menceritakan quartet Kazuma-Aqua-Darkness dan Megumin yang mendapatkan kabar dari Yunyun bahwa desa Crimson Demon akan diserang oleh pasukan iblis yang dipimpin oleh Jendral Sylvia.

Atas bujukan Megumin yang juga ingin mengunjungi kampung halamannya, mereka akhirnya teleport ke sana. Ternyata para penduduk desa tidak dalam keadaan bahaya karena mereka memiliki sihir yang kuat, malah para pasukan iblis yang selalu mengalami kekalahan. Namun kenapa pasukan iblis mencoba menyerang desa Crimson Demon? Ternyata mereka mengincar sebuah senjata kuno yang dapat menganulir sihir sehingga bisa mengalahkan para penduduk desa. Sekarang nasib penduduk desa benar-benar tergantung pada Kazuma dan kawan kawan untuk mencegah senjata tersebut dipegang oleh Sylvia.

Baca Juga:  Review Film Brahms: The Boy II, Berpotensi Namun Teralu Ringan

Ciri khas Konosuba yang penuh banyolan lucu terus mewarnai film ini hingga akhir film, membuat perut sakit dan tenggorokan jadi serak karena hampir tidak ada jeda dari tingkah tingkah kocak dan adegan lucu dari para karakter. Sayangnya karena penampilan Sylvia yang sensual membuat banyak adegan yang menampilkan dirinya terkena sensor, namun tidak sampai memotong dialog/adegan tapi tetap mengganggu kenikmatan menonton. Bagaimanapun film ini wajib ditonton bagi mereka yang sudah lama menanti-nantikannya. so Gwiples dijamin kalian tidak akan menyesal.

Box Office

Review Film Brahms: The Boy II, Berpotensi Namun Teralu Ringan

Published

on

GwiGwi.com – Sewaktu Joseph (Ralph Ineson) memberi tahu Liza (Katie Holmes) dan Sean (Owain Yeoman) kalau anak lelaki keluarga Heelshire yang meninggal bernama Brahms, nama yang sama dengan boneka yang ditemukan anak mereka, Jude (Christopher Convery), sulit untuk merasa terkejut lantaran di judul filmnya jelas tertulis BRAHMS: THE BOY II. Sudah pasti sentral horrornya adalah boneka tersebut dan segala yang misterius dan buruk berpusat padanya.

Liza menderita trauma berkepanjangan setelah rumahnya disantroni perampok. Anaknya, Jude yang juga menjadi korban menjadi bisu karena shock oleh peristiwa tersebut. Sang kepala keluarga, Sean berusaha menghibur mereka dengan menetap di rumah yang jauh dari kota. Tempat yang mereka tinggali dulu dimiliki oleh keluarga Heelshire dan di sanalah teror Brahms dimulai.

Bagi yang mengetahui cerita film pertamanya yakni THE BOY (2016) tentu tahu tentang twist mengejutkan yang membuat Brahms menjadi sosok unik dibanding karakter horror lain. Tentu sekuel ini membuat penasaran bagaimana karakter ini akan dieksplor lebih jauh. Sayangnya para pembuat filmnya membuat perubahan yang begitu besar untuk Brahms dan menjadikannya tak jauh berbeda dengan Annabelle.

BRAHMS: THE BOY II tampaknya ingin mengikuti kesuksesan franchise CONJURING terutama ANNABELLE sampai ke akarnya. Ceritanya sangat formulaik tipikal cerita horror dari boneka sampai terasa mirip. Rasanya hanya tinggal menunggu saja para karakternya sadar bonekanya bermasalah. Mencoba sabar untuk melihat barangkali film ini punya sentuhan orisinil pun sulit karena hampir nihil adanya. Keseraman yang disajikan terlalu sering menggunakan jump scare yang membikin jenuh malah cukup menyebalkan. Diperburuk dengan aturan main Brahms yang tidak jelas seolah mempertegas kalau konsep horror filmnya sendiri kurang didalami hingga hasilnya tak maksimal.

Baca Juga:  Review Film Brahms: The Boy II, Berpotensi Namun Teralu Ringan

Cerita filmnya yang ingin mengeksplorasi soal trauma sebenarnya memiliki potensi yang besar. Liza yang tidak mau disentuh, Jude yang bisu berkomunikasi dengan tulisan dan Sean yang ramah. Sangat mampu sekali membuat dramanya lebih menarik. Namun sayang kurang bisa dinikahkan dengan horrornya hingga elemen ini hampir tenggelam dan berakhir seadanya saja.

BRAHMS: THE BOY II berasa hanya sebuah konsep yang masih kasar, tak banyak mempunyai identitas sendiri hingga mengikuti apa yang populer dan terlihat ingin sekali menjadi sebuah icon baru. but buat yang suka menonton film horror mungkin film ini bisa mengisi waktu luang kalian jadi silahkan disaksikan ya

 

Continue Reading

Box Office

Review Film Little Woman, Kisah Klasik tak Lekang Zaman

Published

on

GwiGwi.com – Sutradara Greta Gerwig membuka film dengan kutipan dari penulis Louisa May Alcott, penulis buku LITTLE WOMEN yang berbunyi; “I had lot of troubles; so i write jolly tales.” Translasinya adalah “Saya memiliki banyak masalah; karena itulah saya menulis cerita-cerita menyenangkan.” Sepanjang film penonton mungkin meragukan kebenaran kutipan itu saat melihat berbagai cobaan yang dialami keluarga March. Mempertanyakan apakah mereka benar bisa berakhir bahagia saat diterpa kemelaratan, kesedihan, dan perpisahan dalam kisah klasik yang diadaptasi sutradara LADY BIRD ini.

Berkisah tentang kehidupan 4 saudari keluarga March; Jo (Saoirse Ronan) yang berlaku sebagai pemimpin dan paling ambisius, Meg (Emma Watson) anak tertua yang ingin hidup berkelas tinggi, Amy (Florence Pugh) jago gambar yang pergi ke Paris untuk jadi seniman dan Beth (Eliza Scanlan) ahli bermain piano yang menderita sakit parah. LITTLE WOMEN menceritakan masa lalu mereka yang cerah dan ceria di Concord, Masachusettes juga di masa kini yang kelam dan diselimuti ujian.

Diawali dengan kisah Jo di New York yang ingin menjadi penulis. Determinasi Jo untuk cita-citanya terlihat dari tangannya yang penuh bercak tinta. Adegan susah payahnya dalam merangkai kata ini menurut saya tidak kalah hebat malah lebih keren daripada adegan aksi Rey dengan lightsaber di STAR WARS atau baku hantam Letty di seri film FAST & FURIOUS. Keinginannya memang kuat, namun Jo bisa cepat menyerah, panik dan sedih apabila usahanya dinyatakan kurang oleh orang lain. Dari luar dia terlihat kuat tapi sebenarnya cukup sensitif di dalam dan Saoirse Ronan mampu menunjukkannya dengan luar biasa.

Semua saudarinya memiliki sifat yang berbeda; seperti Amy yang lebih kuat menghadapi tantangan, Meg yang sangat memperhatikan penampilan dan Beth yang setia pada perintah ibunya, Mary (Laura Dern). Saat mereka bangun pagi dan berkumpul bersama di depan perapian itu mengingatkan saya dengan adegan keluarga Si Doell nongkrong dan ngobrol depan rumah. Ada kesan hangat yang muncul dari adegan tersebut yang dulu sepertinya sering bisa kita lihat di serial drama keluarga dan jarang sekali saya lihat di kebanyakan film sekarang ini.

Tentu tak hanya bahagia, perselisihan pun kerap terjadi yang berujung pada pesan soal pentingnya harga diri, menjaga keutuhan persaudaraan daripada ngotot keinginan pribadi, dan saling mengasihi. Sangat klasik memang dan berpotensi menjadi cringey tapi hebatnya tidak terasa seperti itu. Emosinya terasa nyata karena disokong akting yang natural dan dialog Greta Gerwig membuat yang tadinya bisa norak justru menjadi manis. Drama soal keluarga di pedesaan dengan pengemasan berkelas.

Baca Juga:  Review Film Brahms: The Boy II, Berpotensi Namun Teralu Ringan

Seiring para wanita cilik March ini bertambah dewasa, banyak dari keinginan polos mereka harus berhadapan dengan realita yang kejam. Untuk memperlihatkan kontras dari kedua linimasa ini Greta menggunakan struktur non linear di mana cerita maju mundur memperlihatkan masa lalu dan masa kini. Secara visual Greta menggunakan lighting yang cerah dan penggunaan warna yang beragam untuk dekorasi di masa lalu sedangkan di masa kini, lighting sedikit lebih suram dan dekorasi dominan memakai warna hitam.

Fungsi struktur ini membuat cerita lebih dramatik semisal; impian masa lalu yang langsung di cut ke masa kini memperlihatkan hal itu tak tercapai atau tidak seindah bayangan. Namun, juga berlaku sebaliknya; saat di masa kini sedang adegan menyedihkan langsung di cut ke masa lalu yang lebih menyenangkan. Secara cerdas memainkan emosi penonton sekaligus membuat cerita tidak monoton.

Laurie (Timothee Chalamet) tetangga keluarga March yang kaya rasanya kurang mendapat porsi yang pas. Pertemuannya yang mendadak di berbagai kesempatan dengan gadis-gadis March ini kadang terasa aneh. Seolah dia hanya hidup untuk berinteraksi dengan para gadis itu saja. Satu waktu dia membuat Amy kesal kemudian muncul lagi seolah tanpa rasa bersalah. Teman saya yang sudah membaca bukunya mengatakan begitu banyak hal soal Laurie, tapi saya rasa tak semuanya berhasil ditunjukkan di film nya secara efektif.

Saya menangkap sesuatu yang menarik saat melihat Beth duduk tenang sambil menjahit. Di adegan lain Beth membuat sepatu berwarna ungu untuk tetangganya Tuan Laurence (Chris Cooper). Kemudian 4 saudari ini gemar membuat drama untuk menghibur anak-anak. Di tengah serba kekurangan dan tentu teknologi tidak semaju sekarang, mereka begitu kreatif dan produktif untuk mengisi waktu luang. Mungkin terpengaruh ya, saya jadi ingin belajar menjahit. Jahit sembari nonton Youtube gitu kan. Tanpa sadar jadi satu syal.

LITTLE WOMEN adalah film keluarga klasik berisikan pesan-pesan positif yang di tangan sutradara yang salah bisa berakhir menjadi sinetron ketinggalan zaman, namun cara bercerita Greta Gerwig mampu mengantarnya menjadi kisah yang tak lekang zaman. So Gwiples, film satu ini tidak boleh sampai dilewatkan ya!

Continue Reading

Box Office

Review Film Birds of Prey, Upaya Harley Quinn Move On dari Mr.J

Published

on

GwiGwi.com – Pasca kejadian di film Suicide Squad (2016), Harley Quinn putus dengan Joker. Sekarang dalam Birds of Prey, ia mencoba move on dengan berbagai cara yang ia lakukan. Hingga suatu saat ia berulah…ya namanya orang gila, lagi galau pula jadi ya bebas aja mau ngapain juga.

Tapi karena ulahnya ini, ia diincar oleh beberapa penjahat kelas teri Gotham City dan juga Roman Sionis atau Black Mask, mafia kelas kakap yang ingin menguasai Gotham yang sedang melakukan ekspansi bisnis kotor nya. Belum lagi Harley Quinn yang sedang dalam pelarian nya bertemu dengan Cassandra Cain yang mencuri sesuatu yang Penting dari Black Mask.

Dengan visi girl empowerment dan menggunakan karakter dari DC Comics yang memiliki fans terbanyak serta dimainkan dengen apik oleh Margot Robbie. Film ini menjadi pengenalan karakter DC yang lain seperti Huntress, Black Canary, Cassandra Cain, Renee Montoya dan film ini juga merangkap sebagai spin-off untuk film solo Harley Quinn (?).

Performa para cast nya tidak mengecewakan terutama Margot Robbie, gue rasa ia emang terlahir buat memerankan Harley Quinn versi live action. Tapi cast lain seperti Mary Elizabeth Winstead, Rosie Perez, June Smollett-Bell, Ella Jay Basco, Ewan Mcgregor, dan Chris Messina juga gak kalah dan porsi nya menurut saya pas.

Baca Juga:  Review Film Miss Americana, Dokumenter Taylor Swift yang Apa Adanya

Banyak adegan yang fun dan menghibur serta aksi badass para perempuan-perempuan Dc Comics berhasil menghibur penonton…it’s okay for Dc Comics movie kali ini membuat cerita yang ringan name tetap fun. usut punya usut sang sutradara Cathy Yan terinspirasi dari franchise John Wick.

Dari segi penceritaan, banyak yang tiba-tiba kok begini ?? kok begitu ?? namun beberapa kejanggalan ini direvisi oleh Harley Quinn sendiri yang juga menjadi narator buat film ini. Lewat Jokes dan Action yang cukup wah disini menurut gue film ini berhasil membuat adaptasi film dari Dc Comics tetap bisa menghibur baik buat fans maupun penonton awam yang tidak mengikuti Dc Comics sama sekali.

Secara keseluruhan, film Birds of Prey berhasil menghibur lewat jokes dan action nya yang wahh dan visi girl empowerment di film ini juga tercapai, serta film ini terlihat gak main aman…saya rasa film ini bisa menjadi pilihan tontonan asyik di bulan ini. so Gwiples jangan lupa ditonton film satu ini ya!

Continue Reading
Advertisement DICARI REPORTER
Advertisement

Trending