Box Office
Review Film Godzilla vs. Kong, ketika dua monster bertemu
GwiGwi.com – Dari semua film yang mencoba mengikuti formula shared universe ala Marvel Cinematic Universe siapa yang menyangka kalau seri film monster dari Legendary Pictures yang disebut Monsterverse termasuk contoh yang paling sukses. Meski GODZILLA: KING OF THE MONSTERS (2019) kurang mendapat resepsi yang baik, para filmmaker terus maju menjalankan rencana besar mereka mempertemukan si monster kadal raksasa legenda perfilman dengan legenda lain, si monyet/gorilla raksasa legenda perfilman juga, Godzilla vs. Kong (2021).
Film Monsterverse favorit saya adalah KONG: SKULL Island (2017). Bersettingkan era perang Vietnam dengan tema kesombongan manusia dengan senjata mereka yang hancur begitu meremehkan alam. GODZILLA: KING OF THE MONSTERS (2019) walau tak memiliki tema yang kuat, visualnya memukau. Apalagi saat satu persatu monster-monsternya muncul dengan megahnya dan pamer kekuatan. Mereka digambarkan tak hanya sebagai monster tetapi juga force of nature/kekuatan alam. GODZILLA VS KONG (2021) tak memilki satu pun kelebihan-kelebihan itu.
Gelut dua titan ini semestinya menjadi sesuatu yang epik dan menjadi puncak dari apa yang coba dibangun monsterverse sejak dimulai oleh GODZILLA (2014) lalu. Mungkin seambisius film AVENGERS (2012)….semestinya….
Walter Simmons (Demian Bichir), CEO perusahaan APEX mendeteksi ada energi besar di Hollow Earth (bumi di dalam bumi seperti yang diceritakan GODZILLA: KING OF THE MONSTERS) dan meminta Dr. Nathan Lind (Alexander Skarsgard) untuk mengantar timnya ke sana. Dibantu Dr. Ilene Andrews (Rebecca Hall), ilmuwan yang mencoba memahami Kong, beserta anak asuhnya, Jia (Kaylee Hottle), yang dekat dengan Kong, mereka berusaha pergi ke Hollow Earth dengan sengaja melepas Kong untuk mengantar mereka ke sana. Sementara itu, Godzilla yang biasanya tenang tetiba mengamuk di beberapa kota. Madison (Millie Bobby Brown) merasa ada yang aneh dengan perilaku Godzilla mencoba mencari tahu. Dia ditemani oleh temannya, Josh (Jullian Dennison) dan pemilik podcast khusus bahas monster, Bernie Heyes (Bryan Tyree Henry).
Ceritanya memang dimulai menarik, tetapi seiring alur bergulir sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang disajikan GODZILLA (2014). Godzilla yang disalah pahami ternyata memilki tujuan lain dan kali ini berhadapan dengan Kong. Ceritanya cepat menjadi simple nan datar dan hanya menjadi panggung untuk monster-monster ini bergelut. Walau sedikit mengangkat tentang ego manusia yang lebih besar dari monster, cara bertuturnya tak memiliki keunikan. Tidak seperti KONG: SKULL Island (2017) yang membahas tema serupa namun dibalut komentar politis sesuai eranya. GODZILLA VS KONG (2021) benar-benar mengambil jalur yang sangat generik dan tidak mencoba hal baru.
Seperti umumnya film bergenre sejenis, karakter manusianya hanya berperan sebagai pemberi penjelasan dan berkepribadian 2 dimensi. Menyampaikan eksposisi, hal-hal saintifik sembari sesekali melucu. Terdapat beberapa momen di mana adegan bergulir dan para karakter hanya terdengar suaranya saja menjelaskan situasi. Adegan demikian seolah penegas apa fungsi mereka. Jujur saja peran mereka di sini jauh lebih buruk dari semua film Monsterverse sejauh ini.
Tapi penonton tidak nunggu film ini buat melihat studi karakter bla bla. Orang mau melihat hancur-hancuran, dua titan ini baku hantam dengan suara menggelegar dsb (Saya nonton di IMAX dan memang suaranya mantap) Apakah memuaskan? Hem…
Ingat PACIFIC RIM (2013)? Di film itu kita bisa merasakan besar skala robot, monster dan pertarungannya. Merasakan betapa masif bahkan berat dari robot dan monster itu. Di GODZILLA vs KONG tak banyak shot atau pengadeganan yang menunjukkan itu. Saat monster bertarung adegannya seperti 2 makhluk CG yg seolah tanpa berat bergerak begitu cepat. Ditambah dishot dengan standar film aksi biasa. Saat Kong melompat dari gedung ke gedung menuju Godzilla, tidak berasa masif nya hal itu. Justru saya jadi ingat Hulk di AVENGERS (2012) dan film TRANSFORMERS. Seharusnya terasa lebih besar dan spesial lagi.
Adegan aksi paling bisa saya nikmati adalah saat Kong beraksi di Hollow Earth. Ada kesan petualangan dan bertarung melawan monster lain dengan koreografi cukup menarik. Tetapi, Hollow Earth sebagai tempat yang digembar gemborkan dari film-filmnya ternyata kalah variasi monsternya dibanding Skull Island. Padahal katanya Skull Island adalah bagian dari Hollow Earth. Tempat yang lebih besar ini seharusnya menawarkan yang lebih variatif lagi.
Saya mungkin banyak pakai kata “seharusnya” di sini karena GODZILLA VS KONG (2021) semestinya menetapkan standar lebih tinggi. Pertemuan 2 ikon ini tak memiliki tema sebagus KONG: SKULL Island. Skalanya tidak sebesar GODZILLA: KING OF THE MONSTERS yang menampilkan banyak monster ikonik dan banyak memberi visual yang indah. Film ini berakhir menjadi tipikal film monster. Seolah 2 apex film monster legendaris ini bukannya bertarung di Madison Square Garden seperti ‘The fight of the Century' Ali vs Frazier tapi di gym deket komplek rumah saya. Gak bilang gym nya jelek sih, tapi come on lah.
Untuk film yang ngasih liat adegan Godzilla songong sama Kong, mereka layak mendapat ring yang lebih baik. Mungkin di ronde berikutnya?
Box Office
Review Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru
www.gwigwi.com – Gohan adalah film terbaru karya studio GDH559 yang disutradarai oleh Chayanop Boonprakob, Nattawut Poonpiriya, dan Atta Hemwadee yang masing masing menyutradarai setiap tahap kehidupannya Gohan (masa kecil, remaja, dan dewasa/tua). Menariknya, tiga sutradara dalam film ini berhasil memberikan nuansa berbeda di tiap fase kehidupan Gohan. Masa kecil terasa hangat dan lembut, fase remaja tampil lebih gelap dan menyakitkan, sementara masa tua menghadirkan atmosfer melankolis namun damai. Walaupun berbeda gaya, transisinya tetap terasa menyatu.
Gohan ini merupakan film drama kehidupan tentang perjalanan seekor anjing putih berhidung pink yang saat kecil dibuang di dekat 7eleven. Pada suatu malam ia masuk ke cooler box milik seorang expat Jepang bernama Hiro (Kitachima Yasushi ) yang sudah puluhan tahun bekerja di pabrik perakitan mobil dan dipaksa pensiun oleh manajemen. Walaupun sang kakek agak ragu-ragu untuk memeliharanya namun ia amat sayang pada Gohan dan berupaya mendapatkan pemilik baru untuk si anjing yang warnanya putih seperti nasi ini. Inilah tahap pertama dalam hidup Gohan, ia menjalani masa kecil yang bahagia dikelilingi manusia-manusia yang menyayanginya dan belajar apa itu kasih sayang.

Review Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru
Namun setelah beberapa tahun hidup bahagia bersama Hiro, nasib berkata lain dan Gohan masuk ke dalam Shelter yang menyiksa anjing-anjing liar demi mendapatkan donasi belas kasihan. Hidupnya penuh kesengsaraan karena sering disuntik obat penenang supaya terlihat sakit saat live stream. Namun Namcha (Poe Mamhe Thar ) seorang imigran ilegal yang dipekerjakan di Shelter tersebut menaruh belas kasihan kepada Gohan dan memutuskan untuk melepaskan semua anjing serta membawa Gohan keluar dari tempat terkutuk tersebut. Pada masa remaja ini Gohan yang kemudian dinamai Brownie mengenal apa itu penderitaan namun ia berhasil membuat seorang wanita muda menyadari kesalahannya dan mencoba menebus kesalahannya walau ia harus menanggung konsekuensinya.

Review Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru
Setelah terpisah dari Namcha dan terus menunggunya di sebuah stasiun kereta selama bertahun-tahun, Gohan/Brownie yang sudah makin tua berkenalan dengan Pele (Jinjett Wattanasin) dan Jaidee (Tontawan Tantivejakul) yang sudah bersahabat dan terlihat saling tertarik satu sama lain namun hubungan mereka tidak ada kemajuan. Gohan/Brownie pun namanya berubah lagi jadi Hima dan ternyata setelah diperiksa oleh dokter hewan, Hima divonis hanya punya waktu 3 bulan akibat masalah dengan ginjalnya. Pele dan Jaide berkomitmen untuk merawat Hima hingga maut menjemputnya. Pada tahap masa tua ini, Gohan/Brownie/Hima dapat kembali menjalani masa-masa yang tenang dan bagaimana Pele & Jaidee belajar untuk berkomitmen serta menjalani kehidupan masa kini.
Dari film Gohan, Gwiple diingatkan banyak anjing-anjing (dan hewan-hewan lainnya) yang kurang beruntung di luar sana yang perlu bantuan dari kita semua, dan kalau tidak bisa membantu setidaknya berbuatlah baik kepada mereka.

Review Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru
Untuk akting para pemainnya disini amatlah bagus dan dapat menggugah Gwiple yang menontonnya terlebih lagi 3 anjing yang memerankan Gohan mulai dari kecil, remaja, hingga dewasa/tua amatlah lucu dan pintar. Film berdurasi 140 menit ini dijamin dapat membuat Gwiple tersedu-sedu dengan ceritanya jadinya siapkan tissue atau handuk kecil saat menontonnya. Memang beberapa konflik terasa dibuat terlalu dramatis untuk memancing air mata Gwiple namun hal ini masih wajar dan tidak mengganggu plot atau dinamika cerita. Gwiple dapat segera menyaksikan film mengharukan ini di bioskop-bioskop seluruh Indonesia
Box Office
Review Film The Sheep Detectives, Ketika Domba Menjadi Detektif.
www.gwigwi.com – Cerita berpusat pada George Hardy (Hugh Jackman), seorang penggembala domba di desa Denbrook, Inggris.
George punya kebiasaan unik, ia membacakan novel misteri pembunuhan setiap malam kepada kawanan dombanya.
Ia menganggap mereka tidak mengerti, namun kenyataannya, domba-domba ini menyerap setiap kata dan teori detektif dari buku-buku tersebut.

Review Film The Sheep Detectives, Ketika Domba Menjadi Detektif.
Cerita berjalan ketika George ditemukan tewas secara misterius di ladangnya, dan polisi manusia tampak lamban dan kikuk.
Jelas para domba yang dipimpin oleh Lily (Julia Louis-Dreyfus) memutuskan untuk menyelidiki kasus ini sendiri.
Mereka menggunakan logika “buku detektif” untuk mengungkap siapa pembunuh majikan mereka di antara para penduduk desa yang mencurigakan.
Awalnya, gue dan audiens lain mungkin mengira film ini akan komedi lucu-lucuan ala Shaun the Sheep. Namun, naskah yang ditulis Craig Mazin memberikan bobot yang berbeda.
Tentang bagaimana hewan-hewan ini memproses kematian figur ayah mereka?

Review Film The Sheep Detectives, Ketika Domba Menjadi Detektif.
Lalu pergeseran pandangan para domba terhadap dunia manusia yang ternyata jauh lebih rumit dari rumput di ladang.
Serta Sub-plot tentang “anak domba musim dingin” yang dikucilkan memberikan pesan moral yang kuat tentang penerimaan.
Hal ini, diracik dengan smooth sehingga menjadi film yang menyenangkan dan seru untuk ditonton.
Perpaduan antara aksi langsung (live-action) dan pengisi suara di film ini sangat solid.
Hugh Jackman sebagai George Hardy, meski perannya singkat, ia memberikan nyawa emosional pada film ini.
Begitu juga para pengisi suara seperti Julia-Louis Dreyfus dan Bryan Cranston berhasil memberikan “nyawa” para domba yang berupaya memecahkan kasus tuan-nya.

Review Film The Sheep Detectives, Ketika Domba Menjadi Detektif.
Visual efek dari Framestore layak diacungi jempol. Tekstur bulu, berat tubuh domba saat bergerak, hingga ekspresi mikro di wajah mereka terasa sangat nyata tanpa terjatuh ke lembah uncanny valley.
Desa Denbrook pun juga digambarkan dengan estetika storybook yang kontras dengan tema suspense di dalamnya.
Secara keseluruhan, The Sheep Detectives adalah surat cinta untuk genre misteri klasik gaya Agatha Christie, namun dilihat dari sudut pandang dari hewan yang memiliki nama lain Ovis aries.
Film ini mungkin sedikit terlalu panjang untuk anak-anak di bawah 7 tahun karena narasinya yang lambat di tengah, tetapi bagi penonton dewasa dan keluarga, ini adalah tontonan yang sangat memuaskan.
Skor akhir: 7/10
Box Office
Review Film Bridget Jones: Mad About The Boy, ada aja gebrakannya mbak Bridget
www.gwigwi.com – Bridget Jones (Renee Zellweger) akhirnya hidup sebagai single parent yang memiliki 2 anak yaitu Billy dan Mable setelah sang suami Mark Darcy (Colin Firth) meninggal ketika menjalani misi kemanusiaan di Sudan.
Kita akan melihat lika-liku dari Bridget sebagai orang tua tunggal yang ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Mulai dari nyinyiran rekan-rekan sekitar, sanak saudara dari mendiang suaminya, dan lain sebagainya.
Hingga suatu ketika, ia kembali merasa ingin menemukan “spark” hidupnya kembali. Ia pun kembali bekerja sebagai produser dari acara TV hingga menginstall Tinder.

Review Film Bridget Jones: Mad About The Boy, Ada Aja Gebrakannya Mbak Bridget
Hingga suatu saat, ia bertemu dengan lelaki yang usianya jauh lebih muda yaitu Roxster (Leo Woodall) disitulah ia menemukan kembali cinta dan rasanya seperti hidup kembali.
Namun ternyata hidup tidak semulus itu….
Kalau Sylvester Stallone punya Rambo, Bruce Willis punya Die Hard, Renee Zellweger punya Bridget Jones. Bisa dibilang ini adalah peran ikoniknya dan filmnya bisa sampai memiliki beberapa sekuel dan kualitasnya tetap dijaga dan berhasil dibikin relate sesuai dengan jaman.
Filmnya pun masih diramaikan oleh Hugh Grant, Emma Thompson, Gemma Jones, James Callis dan Chiwetel Ejiofor yang menambah lineup cast dari keseluruhan kisah Bridget Jones ini.
Genre rom-com ini dimulai sejak film Bridget Jones Diary yang rilis di tahun 2001 yang merupakan adaptasi novel rilisan 1996 karangan Helen Fielfing ini cukup membekas bagi para penggemar genre tersebut.

Review Film Bridget Jones: Mad About The Boy, Ada Aja Gebrakannya Mbak Bridget
Dari segi acting para cast udah jangan ditanya lagi, mereka melakukan performa yang cukup baik sehingga film ini tetap menyenangkan untuk dinikmati.
Dari segi cerita, menurut gue jangan tertipu dengan judul dan langsung menyimpulkan bahwa mbak Bridget jatuh cinta ama brondong, karena gue pun beranggapan begitu.
Namun ternyata anggapan gue salah film ini menceritakan lebih dalam tentang bagaimana Bridget Jones berdamai dengan duka yang dialami serta move on karena hidup harus terus berjalan.
Secara keseluruhan, film ini surprisingly good dan menurut gue Bridget Jones adalah franchise rom-com yang cukup awet dan tak lekang oleh jaman. Sebuah sajian di bulan penuh cinta yang asik untuk ditonton.
-
News4 weeks agoGenshin Impact Versi “Candra VII”: Kebenaran di Balik Lembar-Lembar Purana
-
News4 weeks agoPara Pemain “Mortal Kombat II” Meriahkan Tur Global di Jakarta lewat kehadiran di Fan Event dan Red Carpet di Jakarta
-
TV & Movies4 weeks agoResmi Meluncur, Xiaomi TV S Mini LED 2026 Standar Baru Hiburan Premium di Rumah
-
TV & Movies4 weeks agoREVIEW FILM FUZE, PERAMPOKAN DI TENGAH TEROR BOM YANG PENUH KEJUTAN
-
TV & Movies4 weeks agoGrogu Hadir Di Perayaan Star Wars Day Di Jakarta
-
TV & Movies4 weeks agoReview Film Mortal Kombat II, Semakin Berani Bermain
-
Box Office3 weeks agoReview Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru
-
Gaming3 weeks agoSiap Tempa Takdirmu: Blades of Fire Versi 2.0 Kini Resmi Hadir di Steam!




