Connect with us

Box Office

Review Film Girl On The Third Floor, Bedah Rumah Berujung Petaka

Published

on

GwiGwi.comDon Kosch (Phil “C.M PUNK” Brooks) ditemani anjingnya Cooper (Rooker), berusaha memperbaiki rumah tua yang baru dibelinya untuk menyambut kedatangan sang istri, Liz (Triste Kelly Dunn) dan anaknya yang akan lahir nanti. Semakin Don memalu dan menata rumahnya, semakin ia mengetahui rahasia kelam rumah tersebut beserta tantangan berat yang menguji kesetiaannya.

Opening credit film ini mempunyai kemiripan dengan film DRACULA (1958) produksi HAMMER FILM PRODUCTIONS dengan pemilihan font tulisan yang kuno dan huruf yang runcing tajam dibarengi deretan visual bercahaya redup dan barang-barang tua yang dishot dengan gaya still yang kaku. Memberikan impresi tidak nyaman, keganjilan dan untuk penyuka film horror klasik mungkin sudah bisa mencium akan adanya adegan-adegan yang sarat sadisnya. 3 impresi itu memang menjadi kekuatan utama GIRL ON THE THIRD FLOOR.

Scare dalam film ini lebih dominan mengutamakan membangun atmosfer sedari pada menyerang langsung secara abusive dengan jump scare. Tidak berarti filmnya lamban nan membosankan, ber-art sinema sekali, tetapi fakta yang secara pelan diberikan begitu menarik dan unik sekaligus mengejutkan nan membuat ngeri meski jawaban utamanya di akhir cukup sederhana. Semakin memancing penasaran dengan apa lagi yang akan menimpa Don dan apa yang akan dilakukannya.

Terdapat pula adegan scare yang over the top, menaikkan keganjilannya ke level yang lebih tinggi. Sedikit mengingatkan dengan serial film EVIL DEAD. Penonton rasanya hanya bisa pasif melihat keanehan itu dan mempertanyakan apa yang terjadi. Diakhiri dengan adegan yang cukup berdarah-darah entah korbannya memang layak menerima atau tidak.

Dari segi cerita GIRL ON THE THIRD FLOOR tidak bisa dibilang baru. Cerita tentang loyalitas seseorang dengan pasangannya yang dibalut horror mungkin sudah sering ada dan arah ceritanya mungkin sudah bisa anda tebak. Dialognya pun sering terasa terlalu gamblang menyampaikan pesannya. Hal yang membuatnya menarik adalah setting rumahnya dan bagaimana sutradara Travis Steven meramunya hingga menjadi tontonan segar.

Baca Juga:  Review Film Little Woman, Kisah Klasik tak Lekang Zaman

Bila saya memberi tahu identitas rumahnya, rasanya sedikit mengurangi kenikmatan menonton walau filmnya sendiri memberi jawabannya di pertengahan film. Bisa jadi rumah tua ini adalah setting rumah paling unik yang pernah ada di film horror belakangan ini dan bertanggung jawab besar memberikan identitas unik pada filmnya mau pun pengalaman menontonnya.

Seiring dengan proses Don memperbaiki rumahnya, pelan-pelan film mengungkap siapa Don sebenarnya. Lelaki yang cinta pada istri tapi rentan godaan wanita lain, hampir masuk penjara karena tindakan kriminal white collar, wataknya yang keras tetapi juga sayang binatang. Semakin cerita bergulir, semakin dipertanyakan patutkah penonton simpati pada dia.

Sutradara Travis Steven mempunyai cara menarik dalam menggambarkan karakternya secara visual. Terlihat jarang sekali Don berbagi frame dengan karakter lain. Don diperlihatkan selalu sendiri bahkan saat berbicara dengan karakter lain. Hanya bersama orang yang diterimanya saja baru Don berbagi frame dan menghadap ke arah yang sama seperti saat minum dengan temannya, Milo (Travis Delgado). Seolah Don yang mempunyai ego tinggi sulit berbagi tempat dan memilih berusaha sendiri. Berbeda dengan Liz yang langsung berbagi frame saat berbicara dengan Ellie (Karen Wooditsch) tetangganya.

Film horror ini mempunyai pesan yang cukup menarik soal feminisme dan soal sifat laki-laki. Objektifikasi perempuan, lelaki yang memanfaatkan perempuan, hasrat nafsu lelaki yang membutakan moral dan soal perempuan menghadapi perilaku menyimpang pasangannya.

GIRL ON THE THIRD FLOOR bisa jadi horror di luar zona nyaman bagi yang terbiasa dengan gaya CONJURING dan pengaruhnya yang kian menjalar di film-film horror lain. Bikin resah tidak nyaman, mungkin bisa berdampak cukup lama bagi yang tidak siap dan salah satu horror terbaik dekade ini. so Gwiples, bagi kalian yang suka film yang menegangkan, film ini patut untuk kamu coba

Box Office

Review Film Brahms: The Boy II, Berpotensi Namun Teralu Ringan

Published

on

GwiGwi.com – Sewaktu Joseph (Ralph Ineson) memberi tahu Liza (Katie Holmes) dan Sean (Owain Yeoman) kalau anak lelaki keluarga Heelshire yang meninggal bernama Brahms, nama yang sama dengan boneka yang ditemukan anak mereka, Jude (Christopher Convery), sulit untuk merasa terkejut lantaran di judul filmnya jelas tertulis BRAHMS: THE BOY II. Sudah pasti sentral horrornya adalah boneka tersebut dan segala yang misterius dan buruk berpusat padanya.

Liza menderita trauma berkepanjangan setelah rumahnya disantroni perampok. Anaknya, Jude yang juga menjadi korban menjadi bisu karena shock oleh peristiwa tersebut. Sang kepala keluarga, Sean berusaha menghibur mereka dengan menetap di rumah yang jauh dari kota. Tempat yang mereka tinggali dulu dimiliki oleh keluarga Heelshire dan di sanalah teror Brahms dimulai.

Bagi yang mengetahui cerita film pertamanya yakni THE BOY (2016) tentu tahu tentang twist mengejutkan yang membuat Brahms menjadi sosok unik dibanding karakter horror lain. Tentu sekuel ini membuat penasaran bagaimana karakter ini akan dieksplor lebih jauh. Sayangnya para pembuat filmnya membuat perubahan yang begitu besar untuk Brahms dan menjadikannya tak jauh berbeda dengan Annabelle.

BRAHMS: THE BOY II tampaknya ingin mengikuti kesuksesan franchise CONJURING terutama ANNABELLE sampai ke akarnya. Ceritanya sangat formulaik tipikal cerita horror dari boneka sampai terasa mirip. Rasanya hanya tinggal menunggu saja para karakternya sadar bonekanya bermasalah. Mencoba sabar untuk melihat barangkali film ini punya sentuhan orisinil pun sulit karena hampir nihil adanya. Keseraman yang disajikan terlalu sering menggunakan jump scare yang membikin jenuh malah cukup menyebalkan. Diperburuk dengan aturan main Brahms yang tidak jelas seolah mempertegas kalau konsep horror filmnya sendiri kurang didalami hingga hasilnya tak maksimal.

Baca Juga:  Review Film Birds of Prey, Upaya Harley Quinn Move On dari Mr.J

Cerita filmnya yang ingin mengeksplorasi soal trauma sebenarnya memiliki potensi yang besar. Liza yang tidak mau disentuh, Jude yang bisu berkomunikasi dengan tulisan dan Sean yang ramah. Sangat mampu sekali membuat dramanya lebih menarik. Namun sayang kurang bisa dinikahkan dengan horrornya hingga elemen ini hampir tenggelam dan berakhir seadanya saja.

BRAHMS: THE BOY II berasa hanya sebuah konsep yang masih kasar, tak banyak mempunyai identitas sendiri hingga mengikuti apa yang populer dan terlihat ingin sekali menjadi sebuah icon baru. but buat yang suka menonton film horror mungkin film ini bisa mengisi waktu luang kalian jadi silahkan disaksikan ya

 

Continue Reading

Box Office

Review Film Little Woman, Kisah Klasik tak Lekang Zaman

Published

on

GwiGwi.com – Sutradara Greta Gerwig membuka film dengan kutipan dari penulis Louisa May Alcott, penulis buku LITTLE WOMEN yang berbunyi; “I had lot of troubles; so i write jolly tales.” Translasinya adalah “Saya memiliki banyak masalah; karena itulah saya menulis cerita-cerita menyenangkan.” Sepanjang film penonton mungkin meragukan kebenaran kutipan itu saat melihat berbagai cobaan yang dialami keluarga March. Mempertanyakan apakah mereka benar bisa berakhir bahagia saat diterpa kemelaratan, kesedihan, dan perpisahan dalam kisah klasik yang diadaptasi sutradara LADY BIRD ini.

Berkisah tentang kehidupan 4 saudari keluarga March; Jo (Saoirse Ronan) yang berlaku sebagai pemimpin dan paling ambisius, Meg (Emma Watson) anak tertua yang ingin hidup berkelas tinggi, Amy (Florence Pugh) jago gambar yang pergi ke Paris untuk jadi seniman dan Beth (Eliza Scanlan) ahli bermain piano yang menderita sakit parah. LITTLE WOMEN menceritakan masa lalu mereka yang cerah dan ceria di Concord, Masachusettes juga di masa kini yang kelam dan diselimuti ujian.

Diawali dengan kisah Jo di New York yang ingin menjadi penulis. Determinasi Jo untuk cita-citanya terlihat dari tangannya yang penuh bercak tinta. Adegan susah payahnya dalam merangkai kata ini menurut saya tidak kalah hebat malah lebih keren daripada adegan aksi Rey dengan lightsaber di STAR WARS atau baku hantam Letty di seri film FAST & FURIOUS. Keinginannya memang kuat, namun Jo bisa cepat menyerah, panik dan sedih apabila usahanya dinyatakan kurang oleh orang lain. Dari luar dia terlihat kuat tapi sebenarnya cukup sensitif di dalam dan Saoirse Ronan mampu menunjukkannya dengan luar biasa.

Semua saudarinya memiliki sifat yang berbeda; seperti Amy yang lebih kuat menghadapi tantangan, Meg yang sangat memperhatikan penampilan dan Beth yang setia pada perintah ibunya, Mary (Laura Dern). Saat mereka bangun pagi dan berkumpul bersama di depan perapian itu mengingatkan saya dengan adegan keluarga Si Doell nongkrong dan ngobrol depan rumah. Ada kesan hangat yang muncul dari adegan tersebut yang dulu sepertinya sering bisa kita lihat di serial drama keluarga dan jarang sekali saya lihat di kebanyakan film sekarang ini.

Tentu tak hanya bahagia, perselisihan pun kerap terjadi yang berujung pada pesan soal pentingnya harga diri, menjaga keutuhan persaudaraan daripada ngotot keinginan pribadi, dan saling mengasihi. Sangat klasik memang dan berpotensi menjadi cringey tapi hebatnya tidak terasa seperti itu. Emosinya terasa nyata karena disokong akting yang natural dan dialog Greta Gerwig membuat yang tadinya bisa norak justru menjadi manis. Drama soal keluarga di pedesaan dengan pengemasan berkelas.

Baca Juga:  Kolaborasi Triumph Motorcycles dan Warner Bros untuk film Birds of Prey

Seiring para wanita cilik March ini bertambah dewasa, banyak dari keinginan polos mereka harus berhadapan dengan realita yang kejam. Untuk memperlihatkan kontras dari kedua linimasa ini Greta menggunakan struktur non linear di mana cerita maju mundur memperlihatkan masa lalu dan masa kini. Secara visual Greta menggunakan lighting yang cerah dan penggunaan warna yang beragam untuk dekorasi di masa lalu sedangkan di masa kini, lighting sedikit lebih suram dan dekorasi dominan memakai warna hitam.

Fungsi struktur ini membuat cerita lebih dramatik semisal; impian masa lalu yang langsung di cut ke masa kini memperlihatkan hal itu tak tercapai atau tidak seindah bayangan. Namun, juga berlaku sebaliknya; saat di masa kini sedang adegan menyedihkan langsung di cut ke masa lalu yang lebih menyenangkan. Secara cerdas memainkan emosi penonton sekaligus membuat cerita tidak monoton.

Laurie (Timothee Chalamet) tetangga keluarga March yang kaya rasanya kurang mendapat porsi yang pas. Pertemuannya yang mendadak di berbagai kesempatan dengan gadis-gadis March ini kadang terasa aneh. Seolah dia hanya hidup untuk berinteraksi dengan para gadis itu saja. Satu waktu dia membuat Amy kesal kemudian muncul lagi seolah tanpa rasa bersalah. Teman saya yang sudah membaca bukunya mengatakan begitu banyak hal soal Laurie, tapi saya rasa tak semuanya berhasil ditunjukkan di film nya secara efektif.

Saya menangkap sesuatu yang menarik saat melihat Beth duduk tenang sambil menjahit. Di adegan lain Beth membuat sepatu berwarna ungu untuk tetangganya Tuan Laurence (Chris Cooper). Kemudian 4 saudari ini gemar membuat drama untuk menghibur anak-anak. Di tengah serba kekurangan dan tentu teknologi tidak semaju sekarang, mereka begitu kreatif dan produktif untuk mengisi waktu luang. Mungkin terpengaruh ya, saya jadi ingin belajar menjahit. Jahit sembari nonton Youtube gitu kan. Tanpa sadar jadi satu syal.

LITTLE WOMEN adalah film keluarga klasik berisikan pesan-pesan positif yang di tangan sutradara yang salah bisa berakhir menjadi sinetron ketinggalan zaman, namun cara bercerita Greta Gerwig mampu mengantarnya menjadi kisah yang tak lekang zaman. So Gwiples, film satu ini tidak boleh sampai dilewatkan ya!

Continue Reading

Box Office

Review Film Birds of Prey, Upaya Harley Quinn Move On dari Mr.J

Published

on

GwiGwi.com – Pasca kejadian di film Suicide Squad (2016), Harley Quinn putus dengan Joker. Sekarang dalam Birds of Prey, ia mencoba move on dengan berbagai cara yang ia lakukan. Hingga suatu saat ia berulah…ya namanya orang gila, lagi galau pula jadi ya bebas aja mau ngapain juga.

Tapi karena ulahnya ini, ia diincar oleh beberapa penjahat kelas teri Gotham City dan juga Roman Sionis atau Black Mask, mafia kelas kakap yang ingin menguasai Gotham yang sedang melakukan ekspansi bisnis kotor nya. Belum lagi Harley Quinn yang sedang dalam pelarian nya bertemu dengan Cassandra Cain yang mencuri sesuatu yang Penting dari Black Mask.

Dengan visi girl empowerment dan menggunakan karakter dari DC Comics yang memiliki fans terbanyak serta dimainkan dengen apik oleh Margot Robbie. Film ini menjadi pengenalan karakter DC yang lain seperti Huntress, Black Canary, Cassandra Cain, Renee Montoya dan film ini juga merangkap sebagai spin-off untuk film solo Harley Quinn (?).

Performa para cast nya tidak mengecewakan terutama Margot Robbie, gue rasa ia emang terlahir buat memerankan Harley Quinn versi live action. Tapi cast lain seperti Mary Elizabeth Winstead, Rosie Perez, June Smollett-Bell, Ella Jay Basco, Ewan Mcgregor, dan Chris Messina juga gak kalah dan porsi nya menurut saya pas.

Baca Juga:  Review Film Secret Zoo, Aksi Kocak untuk Selamatkan Kebun Binatang

Banyak adegan yang fun dan menghibur serta aksi badass para perempuan-perempuan Dc Comics berhasil menghibur penonton…it’s okay for Dc Comics movie kali ini membuat cerita yang ringan name tetap fun. usut punya usut sang sutradara Cathy Yan terinspirasi dari franchise John Wick.

Dari segi penceritaan, banyak yang tiba-tiba kok begini ?? kok begitu ?? namun beberapa kejanggalan ini direvisi oleh Harley Quinn sendiri yang juga menjadi narator buat film ini. Lewat Jokes dan Action yang cukup wah disini menurut gue film ini berhasil membuat adaptasi film dari Dc Comics tetap bisa menghibur baik buat fans maupun penonton awam yang tidak mengikuti Dc Comics sama sekali.

Secara keseluruhan, film Birds of Prey berhasil menghibur lewat jokes dan action nya yang wahh dan visi girl empowerment di film ini juga tercapai, serta film ini terlihat gak main aman…saya rasa film ini bisa menjadi pilihan tontonan asyik di bulan ini. so Gwiples jangan lupa ditonton film satu ini ya!

Continue Reading
Advertisement DICARI REPORTER
Advertisement

Trending