Connect with us

TV & Movies

Review Film Black Panther: Wakanda Forever, More emotionally charge and stronger sequel

Published

on

GwiGwi.com – Shuri (Letitia Wright) berdoa pada Bast, dewa kuno, meskipun dia sebenarnya tak mempercayai. Namun apa daya saat batin sudah demikian tertekan dan usaha menyelamatkan penyakit si kakak, Raja Wakanda T'challa (Chadwick Bossman) tak kunjung berhasil, kecuali menyandar pada kekuatan yang lebih tinggi.

Saat sang ibu, Ramonda (Angela Basset) keluar dari ruang perawatan menemui anak perempuannya berlinang air mata, Shuri terdiam. Semua teknologi canggih Wakanda dan doanya tak kuasa melawan takdir. Raja Wakanda wafat.

Keputusan sutradara Ryan Coogler memasukkan kematian aktor Chadwick Boseman ke film agaknya beresiko, namun yang terjadi di WAKANDA FOREVER, dia menyajikannya dengan penuh rasa hormat.

Para aktornya mungkin sudah berduka dan mengucap selamat tinggal, maka kini giliran para karakter mereka di sekuel BLACK PANTHER (2018) ini merasakan detik kehilangan tersebut dan menyelami kesedihannya.

T'challa sudah pergi, tetapi keputusannya membuka fakta majunya Wakanda ke dunia membuat mereka menjadi target. Vibranium, metal termutakhir di dunia yang konon hanya ada di Wakanda, menjadi incaran negara-negara lain. Ancaman ini sudah diprediksi dan berhasil ditahan oleh Jenderal Okoye (Danai Gurira).

Hal yang tak disangka adalah adanya bangsa lain yang lebih tertutup dari Wakanda, Kerajaan bawah air Talocan yang merasakan akibat perbuatan T'challa. Pemimpinnya, si mutan Namor (Tenoch Huerta) yang menurut Ryan Coogler sekuat Thor, meminta Wakanda untuk memilih; membantu mereka melawan negara-negara lain atau ikut menjadi musuh.

Berbeda dari teasernya yang penuh duka, menariknya WAKANDA FOREVER tak melulu suram. Setelah adegan pemakaman, film cepat kembali pada tone MCU yang ringan. Hal ini baik karena hakikatnya film ini masih bertugas menghibur sekaligus memberi pesan pada para karakter dan penonton untuk melangkah maju dari kesedihan walaupun dukanya masih menyelimuti.

Tak adanya figur sentral membuat karakter lainnya lebih menonjol. Angela Basset give it her all. Saat ada adegan Ramonda menumpahkan semua emosinya, rasanya membuat satu bioskop tertegun. Shuri pun diperlihatkan sisi lainnya di luar sebagai ilmuwan dan memegang peran penting bagaimana Wakanda harus bersikap melawan Namor yang ganas; Apakah dengan bijak seperti T'challa atau ada cara lain?

Implikasi politik dari keputusan para pemegang kekuasaan Wakanda, Talocan dan dunia bermain peran lebih di sini. Memberi bobot lebih pada misal adegan interaksi Namor dengan Shuri. It is as much about them as it is about the people. Bagaimana dua negara ini tak menahan diri dalam berkonflik sampai korban berjatuhan (banyak yang mati! Wow). Sampai sukit ditebak bagaimana masalahnya berakhir kalau efeknya begini fatal. Suspense lebih dari film pertamanya.

Namor nya Tenoch Huerta penuh amarah yang bisa meletus kapan saja tetapi tersembunyi di balik senyum dan ramahnya. Pandainya Tenoch memainkan sisi panas dan tenangnya ini beneran keren.

Waktu adegan menegangkan dengan Ramonda dan Shuri, senyum yang terkesan tulus dari Namor beneran mencekam karena sudah diperlihatkan sebelumnya kuatnya dirinya dan Talocan. Tapi dia tetap berkesan diplomatis. Seolah tinggal menjetikkan jari, Wakanda tiada. He succeed in posing a powerful image of a leader of a country even more powerful than Wakanda.

Kemudian ada Riri Williams (Dominique Thorne) si Iron Heart. Satu lagi jenius teknologi di MCU. Yang ini lebih muda, panikan dan jauh lebih nekat dari Tony Stark. Yang anehnya, meski dia diperlihatkan bisa membuat armor ala Iron Man, tak sedikit pun disebutkan si jagoan pertama MCU itu dar mulutnya sebagai inspirasi. Membingungkan aja.

Dengan naratif dan aksi di klimaks yang logika tempurnya masuk nan memuaskan secara drama, bahkan rasanya lebih baik dari film pertama, kualitas spesial efeknya mengherankan. Beberapa scene terlihat begitu murah efek background nya. Rasanya tak percaya yang demikian lolos masuk final cut.

Di kala acara streaming seperti RINGS OF POWER menyajikan efek indah, film besar tayang di bioskop seperti ini harus menunjukkan kelasnyaShuri (Letitia Wright) berdoa pada Bast, dewa kuno, meskipun dia sebenarnya tak mempercayai. Namun apa daya saat batin sudah demikian tertekan dan usaha menyelamatkan penyakit si kakak, Raja Wakanda T'challa (Chadwick Bossman) tak kunjung berhasil, kecuali menyandar pada kekuatan yang lebih tinggi.

Saat sang ibu, Ramonda (Angela Basset) keluar dari ruang perawatan menemui anak perempuannya berlinang air mata, Shuri terdiam. Semua teknologi canggih Wakanda dan doanya tak kuasa melawan takdir. Raja Wakanda wafat.

Keputusan sutradara Ryan Coogler memasukkan kematian aktor Chadwick Boseman ke film agaknya beresiko, namun yang terjadi di WAKANDA FOREVER, dia menyajikannya dengan penuh rasa hormat.

Para aktornya mungkin sudah berduka dan mengucap selamat tinggal, maka kini giliran para karakter mereka di sekuel BLACK PANTHER (2018) ini merasakan detik kehilangan tersebut dan menyelami kesedihannya.

T'challa sudah pergi, tetapi keputusannya membuka fakta majunya Wakanda ke dunia membuat mereka menjadi target. Vibranium, metal termutakhir di dunia yang konon hanya ada di Wakanda, menjadi incaran negara-negara lain. Ancaman ini sudah diprediksi dan berhasil ditahan oleh Jenderal Okoye (Danai Gurira).

Hal yang tak disangka adalah adanya bangsa lain yang lebih tertutup dari Wakanda, Kerajaan bawah air Talocan yang merasakan akibat perbuatan T'challa. Pemimpinnya, si mutan Namor (Tenoch Huerta) yang menurut Ryan Coogler sekuat Thor, meminta Wakanda untuk memilih; membantu mereka melawan negara-negara lain atau ikut menjadi musuh.

Berbeda dari teasernya yang penuh duka, menariknya WAKANDA FOREVER tak melulu suram. Setelah adegan pemakaman, film cepat kembali pada tone MCU yang ringan. Hal ini baik karena hakikatnya film ini masih bertugas menghibur sekaligus memberi pesan pada para karakter dan penonton untuk melangkah maju dari kesedihan walaupun dukanya masih menyelimuti.

Tak adanya figur sentral membuat karakter lainnya lebih menonjol. Angela Basset give it her all. Saat ada adegan Ramonda menumpahkan semua emosinya, rasanya membuat satu bioskop tertegun. Shuri pun diperlihatkan sisi lainnya di luar sebagai ilmuwan dan memegang peran penting bagaimana Wakanda harus bersikap melawan Namor yang ganas; Apakah dengan bijak seperti T'challa atau ada cara lain?

Implikasi politik dari keputusan para pemegang kekuasaan Wakanda, Talocan dan dunia bermain peran lebih di sini. Memberi bobot lebih pada misal adegan interaksi Namor dengan Shuri. It is as much about them as it is about the people. Bagaimana dua negara ini tak menahan diri dalam berkonflik sampai korban berjatuhan (banyak yang mati! Wow). Sampai sukit ditebak bagaimana masalahnya berakhir kalau efeknya begini fatal. Suspense lebih dari film pertamanya.

Namor nya Tenoch Huerta penuh amarah yang bisa meletus kapan saja tetapi tersembunyi di balik senyum dan ramahnya. Pandainya Tenoch memainkan sisi panas dan tenangnya ini beneran keren.

Waktu adegan menegangkan dengan Ramonda dan Shuri, senyum yang terkesan tulus dari Namor beneran mencekam karena sudah diperlihatkan sebelumnya kuatnya dirinya dan Talocan. Tapi dia tetap berkesan diplomatis. Seolah tinggal menjetikkan jari, Wakanda tiada. He succeed in posing a powerful image of a leader of a country even more powerful than Wakanda.

Kemudian ada Riri Williams (Dominique Thorne) si Iron Heart. Satu lagi jenius teknologi di MCU. Yang ini lebih muda, panikan dan jauh lebih nekat dari Tony Stark. Yang anehnya, meski dia diperlihatkan bisa membuat armor ala Iron Man, tak sedikit pun disebutkan si jagoan pertama MCU itu dar mulutnya sebagai inspirasi. Membingungkan aja.

Dengan naratif dan aksi di klimaks yang logika tempurnya masuk nan memuaskan secara drama, bahkan rasanya lebih baik dari film pertama, kualitas spesial efeknya mengherankan. Beberapa scene terlihat begitu murah efek background nya. Rasanya tak percaya yang demikian lolos masuk final cut.

Di kala acara streaming seperti RINGS OF POWER menyajikan efek indah, film besar tayang di bioskop seperti ini harus menunjukkan kelasnya supaya tidak memalukan dan membuat harga tiket masuk layak. Apalagi di saat mendatangkan penonton ke bioskop sedang sulit.

Rating SEMUA UMUR dari LSF gak cocok. Banyak profanity dan adegan penusukan yang vulgar. Serius, apa standar mereka sebenarnya? Marvel Studios juga mengherankan. Killmonger (Michael B Jordan) di film pertama yang lebih emosional justru kalah kotor mulutnya sama para karakter di sini. Padahal Killmonger berasa lebih berhak berkata-kata demikian. Gak paham standar PG-13 di amrik sekarang.

BLACK PANTHER: WAKANDA FOREVER adalah tantangan yang hampir mustahil. Sekuel tanpa bintangnya, harus eksplorasi akibatnya, tetap menghibur, berbobot dan tentunya ekspektasi bawah sadar penonton kalau sekuel harus lebih baik. The challange is accepted and it was aptly delivered.Shuri (Letitia Wright) berdoa pada Bast, dewa kuno, meskipun dia sebenarnya tak mempercayai. Namun apa daya saat batin sudah demikian tertekan dan usaha menyelamatkan penyakit si kakak, Raja Wakanda T'challa (Chadwick Bossman) tak kunjung berhasil, kecuali menyandar pada kekuatan yang lebih tinggi.

Saat sang ibu, Ramonda (Angela Basset) keluar dari ruang perawatan menemui anak perempuannya berlinang air mata, Shuri terdiam. Semua teknologi canggih Wakanda dan doanya tak kuasa melawan takdir. Raja Wakanda wafat.

Keputusan sutradara Ryan Coogler memasukkan kematian aktor Chadwick Boseman ke film agaknya beresiko, namun yang terjadi di WAKANDA FOREVER, dia menyajikannya dengan penuh rasa hormat.

Para aktornya mungkin sudah berduka dan mengucap selamat tinggal, maka kini giliran para karakter mereka di sekuel BLACK PANTHER (2018) ini merasakan detik kehilangan tersebut dan menyelami kesedihannya.

T'challa sudah pergi, tetapi keputusannya membuka fakta majunya Wakanda ke dunia membuat mereka menjadi target. Vibranium, metal termutakhir di dunia yang konon hanya ada di Wakanda, menjadi incaran negara-negara lain. Ancaman ini sudah diprediksi dan berhasil ditahan oleh Jenderal Okoye (Danai Gurira).

Hal yang tak disangka adalah adanya bangsa lain yang lebih tertutup dari Wakanda, Kerajaan bawah air Talocan yang merasakan akibat perbuatan T'challa. Pemimpinnya, si mutan Namor (Tenoch Huerta) yang menurut Ryan Coogler sekuat Thor, meminta Wakanda untuk memilih; membantu mereka melawan negara-negara lain atau ikut menjadi musuh.

Berbeda dari teasernya yang penuh duka, menariknya WAKANDA FOREVER tak melulu suram. Setelah adegan pemakaman, film cepat kembali pada tone MCU yang ringan. Hal ini baik karena hakikatnya film ini masih bertugas menghibur sekaligus memberi pesan pada para karakter dan penonton untuk melangkah maju dari kesedihan walaupun dukanya masih menyelimuti.

Tak adanya figur sentral membuat karakter lainnya lebih menonjol. Angela Basset give it her all. Saat ada adegan Ramonda menumpahkan semua emosinya, rasanya membuat satu bioskop tertegun. Shuri pun diperlihatkan sisi lainnya di luar sebagai ilmuwan dan memegang peran penting bagaimana Wakanda harus bersikap melawan Namor yang ganas; Apakah dengan bijak seperti T'challa atau ada cara lain?

Implikasi politik dari keputusan para pemegang kekuasaan Wakanda, Talocan dan dunia bermain peran lebih di sini. Memberi bobot lebih pada misal adegan interaksi Namor dengan Shuri. It is as much about them as it is about the people. Bagaimana dua negara ini tak menahan diri dalam berkonflik sampai korban berjatuhan (banyak yang mati! Wow). Sampai sukit ditebak bagaimana masalahnya berakhir kalau efeknya begini fatal. Suspense nya lebih dari film pertamanya.

Namor nya Tenoch Huerta penuh amarah yang bisa meletus kapan saja tetapi tersembunyi di balik senyum dan ramahnya. Pandainya Tenoch memainkan sisi panas dan tenangnya ini beneran keren.

Waktu adegan menegangkan dengan Ramonda dan Shuri, senyum yang terkesan tulus dari Namor beneran mencekam karena sudah diperlihatkan sebelumnya kuatnya dirinya dan Talocan. Tapi dia tetap berkesan diplomatis. Seolah tinggal menjetikkan jari, Wakanda tiada. He succeed in posing a powerful image of a leader of a country even more powerful than Wakanda.

Kemudian ada Riri Williams (Dominique Thorne) si Iron Heart. Satu lagi jenius teknologi di MCU. Yang ini lebih muda, panikan dan jauh lebih nekat dari Tony Stark. Yang anehnya, meski dia diperlihatkan bisa membuat armor ala Iron Man, tak sedikit pun disebutkan si jagoan pertama MCU itu dari mulutnya sebagai inspirasi. Membingungkan aja.

Dengan naratif dan aksi di klimaks yang logika tempurnya masuk nan memuaskan secara drama, bahkan rasanya lebih baik dari film pertama, kualitas spesial efeknya mengherankan. Beberapa scene terlihat begitu murah efek background nya. Rasanya tak percaya yang demikian lolos masuk final cut.

Di kala acara streaming seperti RINGS OF POWER menyajikan efek indah, film besar tayang di bioskop seperti ini harus menunjukkan kelasnya supaya tidak memalukan dan membuat harga tiket masuk layak. Apalagi di saat mendatangkan penonton ke bioskop sedang sulit.

Rating SEMUA UMUR dari LSF gak cocok. Banyak profanity dan adegan penusukan yang vulgar. Serius, apa standar mereka sebenarnya? Marvel Studios juga mengherankan. Killmonger (Michael B Jordan) di film pertama yang lebih emosional justru kalah kotor mulutnya sama para karakter di sini. Padahal Killmonger berasa lebih berhak berkata-kata demikian. Gak paham standar PG-13 di amrik sekarang.

BLACK PANTHER: WAKANDA FOREVER adalah tantangan yang hampir mustahil. Sekuel tanpa bintangnya, harus eksplorasi akibatnya, tetap menghibur, berbobot dan tentunya ekspektasi bawah sadar penonton kalau sekuel harus lebih baik. The challange is accepted and it was aptly delivered.supaya tidak memalukan dan membuat harga tiket masuk layak. Apalagi di saat mendatangkan penonton ke bioskop sedang sulit.

Rating SEMUA UMUR dari LSF gak cocok. Banyak profanity dan adegan penusukan yang vulgar. Serius, apa standar mereka sebenarnya? Marvel Studios juga mengherankan. Killmonger (Michael B Jordan) di film pertama yang lebih emosional justru kalah kotor mulutnya sama para karakter di sini. Padahal Killmonger berasa lebih berhak berkata-kata demikian. Gak paham standar PG-13 di amrik sekarang.

BLACK PANTHER: WAKANDA FOREVER adalah tantangan yang hampir mustahil. Sekuel tanpa bintangnya, harus eksplorasi akibatnya, tetap menghibur, berbobot dan tentunya ekspektasi bawah sadar penonton kalau sekuel harus lebih baik. The challange is accepted and it was aptly delivered.

Advertisement

TV & Movies

Review Film The Masters of The Universe, Not Enough Power

Published

on

By

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

www.gwigwi.com – Franchise legenda lagi akan tayang setelah MORTAL KOMBAT 2 dan THE MANDALORIAN AND GROGU. HE-MAN! Laama sekali penantian setelah begitu banyak rumor dan segala macamnya, MASTERS OF THE UNIVERSE akhirnya jadi film juga. Nah, apakah akan hanya menyenangkan fans lama saja?

Adam (Nicholas Galitzine) rindu dengan kampung halamannya, Eternia sampai mengganggu pekerjaannya di kantor.

Naas, saat kerajaannya diserang dulu, dia terpaksa kabur ke bumi. Sampai akhirnya dia menemukan lagi pedang yang akan menuntunnya pulang, Sword of Power.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

Namun, baru saja dia panggul pedang itu lagi, Adam diserang monster dan dilindungi teman lamanya, Theela (Camila Mendes) yang membawanya pulang.

Sang pangeran tak menyangka Eternia kini rusak akibat lalimnya sang musuh utama, Skeletor (Jared Leto). Menggunakan Sword of Power dan sekutunya seperti Man At-Arms (Idris Elba), maka Adam harus berjuang menyelamatkan dunianya.

Sebagai adaptasi mainan HE-MAN, tentu visual dan baku hantamnya lah salah satu pesona utama. Kostumnya untungnya tidak direalistiskan tapi total mencoba setia pada mainannya. Begitu pun aksinya menghentak bahkan sedari awal. Berkat koreografi energik dan sinematografi dinamis yang cakap.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

Nicholas Galatzine seakan menchannel man child ala Star Lord-nya Chris Pratt, tapi tetap punya keunikan sendiri. Meski berbadan besar hanya dengan tatapan saja dia bisa terkesan lembut dan membuat iba.

Sisi itulah yang membuat hero ini tak hanya sekedar mas berotot tangguh bawa pedang saja. Terdapat kualitas heroik lain yang menyokong tenaga itu, membuatnya cukup berbeda dibanding tipikal penampilannya. Dan Nicholas Galitzine berhasil menampilkannya.

Mungkin yang mengherankan adalah pilihan membuat badannya sudah bongsor walau belum berubah jadi HE-MAN. Meski visual henshinnya keren, tapi perubahan fisiknya terasa kurang sedrastis Chris Evans saat menjadi Captain America. Jadinya, efek wow transformasinya berasa kurang.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

Di sisi lain, Jared Leto mengejutkan sebagai si antagonis. Tak sekalipun kita melihat wajahnya, tapi dia bisa melebur total dalam balutan kostum dan wajah tengkorak. Gesturnya begitu hidup dan dia bisa terlihat mengancam tapi kemudian lucu dengan seketika.

Secara cerita memang…klasik, maka film tampak mengandalkan atraksi, banter antar karakter yang memang oke saja dan komedi. Walau servicable, rasanya bila ingin menjadi franchise jaya kembali, THE MASTERS OF THE UNIVERSE tampaknya butuh lebih banyak kejutan dan selling point untuk memenangkan penonton sekarang yang sudah terhujani banyak konten, tak seperti tahun-tahun keemasannya dulu.

Bila tidak, yang senang sekali bisa jadi hanya para fans tua saja sementara penonton lain menggangguk saja kurang terkesan, seperti yang penulis rasakan.

Continue Reading

TV & Movies

REVIEW FILM NORMAL, FILM ACTION YANG TIDAK NORMAL

Published

on

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal

www.gwigwi.com – Bob Odenkirk, sosok multitalenta yang dikenal sebagai penulis, produser, dan aktor populer lewat serial Breaking Bad serta Saturday Night Live (SNL), kembali menggebrak layar lebar. Kali ini, ia berpartner dengan Derek Kolstad—kreator bertangan dingin di balik kesuksesan waralaba John Wick dan Nobody. Sinergi keduanya membuahkan sebuah film komedi aksi berjudul Normal, yang digarap di bawah arahan sutradara Ben Wheatley, yang sebelumnya menukangi film Free Fire, Tomb Raider, dan Meg.

Film ini menyoroti kisah seorang sheriff pengganti bernama Ulysses (diperankan oleh Bob Odenkirk). Ia mendapatkan penugasan baru di sebuah kota kecil yang tenang di wilayah Minnesota bernama Normal. Ulysses hadir untuk menggantikan posisi sheriff sebelumnya, Gunderson, yang secara mengejutkan meninggal mendadak. Secara personal, Ulysses adalah pria yang fleksibel dan hanya ingin menjalani sisa kehidupannya dengan ketenangan. Namun, di balik pembawaannya tersebut, ia memendam masa lalu traumatis yang kelam saat masih menjadi seorang sheriff idealis di masa lalu.

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal

Ulysses awalnya beranggapan bahwa masa tugasnya selama delapan minggu ke depan—hingga sheriff definitif baru diangkat—akan berjalan datar dan biasa saja seperti nama kotanya. Namun, ekspektasi tersebut langsung hancur berantakan. Kehadiran sepasang pendatang baru, Moira (Lena Headey) dan Keith (Brendan Fletcher), yang nekat melakukan perampokan bank secara brutal, justru menjadi pemantik yang membuka kotak pandora dan menyingkap rahasia besar nan kelam yang selama ini disembunyikan oleh kota Normal.

Sebagai sebuah film aksi, Normal masih membawa napas dan formula yang serupa dengan John Wick dan Nobody. Sepanjang durasi, film ini dipenuhi oleh adegan-adegan sadis, berdarah, dan memilukan. Oleh karena itu, film ini sangat tidak ramah dan tidak cocok ditonton oleh Gwiple yang masih berusia di bawah 17 tahun.

Meski begitu, intensitas baku tembak dan pertarungan di film ini tidak disajikan secara bombastis atau se-elegan John Wick. Mengapa? Karena mayoritas karakter yang terlibat di dalamnya hanyalah warga sipil biasa, bukan petarung atau kombatan profesional. Namun, di situlah letak kekuatan dan keseruannya. Setiap aksi perkelahian terasa sangat mentah (raw), realistis, minim koreografi rumit, dan brutal. Unsur komedi gelap (dark comedy) di film ini juga dieksekusi dengan cerdas, di mana kelucuan sering kali lahir dari situasi gore yang dialami para korban, memicu banyak momen mencengangkan yang membuat Gwiple terbelalak.

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal

Selain itu, film ini memiliki jajaran karakter pendukung yang cukup ramai. Hebatnya, setiap tokoh diperkenalkan satu per satu dengan porsi yang pas dan penokohan yang kuat. Hal ini membuat Gwiple bisa dengan mudah mengingat mereka dalam waktu singkat, meskipun durasi kemunculan beberapa karakter tergolong singkat.

Secara keseluruhan, Normal adalah sajian film aksi yang lebih condong mendekati kembaran Nobody berkat taburan bumbu komedi yang kental, sehingga nuansanya tidak terasa sekelam dan seserius John Wick. Dengan plot cerita yang ringan, pergerakan alur yang tidak bertele-tele, serta suguhan beberapa plot twist yang menyegarkan di akhir cerita, Normal menjadi sebuah tontonan yang amat menghibur, seru, dan sangat layak untuk Gwiple saksikan langsung di layar bioskop!

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Film The Mandalorian and Grogu, Is this The Way?

Published

on

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

www.gwigwi.com – www.gwigwi.com –   Sukses dari serial Disney+ nya, Abang Din Djarin alias Mandalorian (Pedro Pascal) bersama Grogu kali ini nongol di layar besar bioskop. Apakah bisa menyuguhkan petualangan yang lebih wah?

Mandalorian diminta Kolonel Ward (Sigourney Weaver) untuk menyetujui permohonan kembar Hutt. Kedua dedengkot kriminal gang Hutt itu meminta si pemburu hadiah untuk mencari Rotta (Jeremy Allen White) yakni anak dari si cacing legendaris trilogi orisinil Star Wars, Jabba The Hutt.

Plot sebenarnya tidak se straight forward kedengarannya dan masih memberikan surprise yang boleh lah menegangkan. Walau terasa episode tambahan saja dari serialnya.

Barangkali yang disayangkan, transisi ke layar lebar ini kurang dibarengi presentasi yang lebih sinematik.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

Konsep sinematografinya terasa tak jauh berbeda dengan di serialnya yang untuk layar kecil. Membuat petualangan ini sedikit terasa kurang epik.

Mungkin tujuannya memang menampilkan skala konflik yang lebih kecil tapi rasa low budget nya jadi berkesan sekali apalagi melihat dari layar lebar. Begitu pun spesial efek yang cukup sering terlihat kurang meyakinkan apalagi di paruh awal.

Penulis Dave Filoni (yang sekarang menjadi Presiden Lucasfilm) dan sutradara Jon Favreau, boleh jadi ahli dalam world building baik soal desain planet baru dan alien baru, tapi rasanya kurang menginjeksinya dengan karakterisasi yang unik.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

Rotta memiliki kontras yang menarik dengan Hutt lain yang doyan jadi jahat. Kalau saja ditampilkannya tak melulu dengan dia mengeksposisi situasi dan perasaannya layaknya sinetron, dan dengan cara yang lebih subtil.

Rasanya jadi paham kenapa James Gunn begitu komitmen dengan komedinya dan serial The Boys kerap memperlihatkan nyelenehnya; gunanya untuk menghidupkan adegan dan memberi keunikan. Sesuatu yang dibutuhkan THE MANDALORIAN AND GROGU untuk lebih memoles desain produksinya yang cakap.

Apabila tujuan film ini adalah menampilkan petualangan pulp sederhana yang seru dibumbui komedi, duo Mando dan Grogu sudah plek sekali cocoknya.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

Namun rasanya mereka membutuhkan para karakter pendukung yang punya kepribadian kuat, unik dan menghibur lebih banyak lagi, juga ketegangan dan komedi yang lebih kental lagi.

Bila sudah demikian, mau berapa kali pun petualangan THE MANDALORIAN AND GROGU dirilis, meskipun tak banyak benang merah di antaranya, penonton boleh jadi masih akan wow dengan aksi keren Mando dan terpesona lucunya Grogu.

Untuk sekarang THE MANDALORIAN AND GROGU mungkin not exactly the way.

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending