TV & Movies
Review Film Black Panther: Wakanda Forever, More emotionally charge and stronger sequel
GwiGwi.com – Shuri (Letitia Wright) berdoa pada Bast, dewa kuno, meskipun dia sebenarnya tak mempercayai. Namun apa daya saat batin sudah demikian tertekan dan usaha menyelamatkan penyakit si kakak, Raja Wakanda T'challa (Chadwick Bossman) tak kunjung berhasil, kecuali menyandar pada kekuatan yang lebih tinggi.
Saat sang ibu, Ramonda (Angela Basset) keluar dari ruang perawatan menemui anak perempuannya berlinang air mata, Shuri terdiam. Semua teknologi canggih Wakanda dan doanya tak kuasa melawan takdir. Raja Wakanda wafat.
Keputusan sutradara Ryan Coogler memasukkan kematian aktor Chadwick Boseman ke film agaknya beresiko, namun yang terjadi di WAKANDA FOREVER, dia menyajikannya dengan penuh rasa hormat.
Para aktornya mungkin sudah berduka dan mengucap selamat tinggal, maka kini giliran para karakter mereka di sekuel BLACK PANTHER (2018) ini merasakan detik kehilangan tersebut dan menyelami kesedihannya.
T'challa sudah pergi, tetapi keputusannya membuka fakta majunya Wakanda ke dunia membuat mereka menjadi target. Vibranium, metal termutakhir di dunia yang konon hanya ada di Wakanda, menjadi incaran negara-negara lain. Ancaman ini sudah diprediksi dan berhasil ditahan oleh Jenderal Okoye (Danai Gurira).
Hal yang tak disangka adalah adanya bangsa lain yang lebih tertutup dari Wakanda, Kerajaan bawah air Talocan yang merasakan akibat perbuatan T'challa. Pemimpinnya, si mutan Namor (Tenoch Huerta) yang menurut Ryan Coogler sekuat Thor, meminta Wakanda untuk memilih; membantu mereka melawan negara-negara lain atau ikut menjadi musuh.
Berbeda dari teasernya yang penuh duka, menariknya WAKANDA FOREVER tak melulu suram. Setelah adegan pemakaman, film cepat kembali pada tone MCU yang ringan. Hal ini baik karena hakikatnya film ini masih bertugas menghibur sekaligus memberi pesan pada para karakter dan penonton untuk melangkah maju dari kesedihan walaupun dukanya masih menyelimuti.
Tak adanya figur sentral membuat karakter lainnya lebih menonjol. Angela Basset give it her all. Saat ada adegan Ramonda menumpahkan semua emosinya, rasanya membuat satu bioskop tertegun. Shuri pun diperlihatkan sisi lainnya di luar sebagai ilmuwan dan memegang peran penting bagaimana Wakanda harus bersikap melawan Namor yang ganas; Apakah dengan bijak seperti T'challa atau ada cara lain?
Implikasi politik dari keputusan para pemegang kekuasaan Wakanda, Talocan dan dunia bermain peran lebih di sini. Memberi bobot lebih pada misal adegan interaksi Namor dengan Shuri. It is as much about them as it is about the people. Bagaimana dua negara ini tak menahan diri dalam berkonflik sampai korban berjatuhan (banyak yang mati! Wow). Sampai sukit ditebak bagaimana masalahnya berakhir kalau efeknya begini fatal. Suspense lebih dari film pertamanya.
Namor nya Tenoch Huerta penuh amarah yang bisa meletus kapan saja tetapi tersembunyi di balik senyum dan ramahnya. Pandainya Tenoch memainkan sisi panas dan tenangnya ini beneran keren.
Waktu adegan menegangkan dengan Ramonda dan Shuri, senyum yang terkesan tulus dari Namor beneran mencekam karena sudah diperlihatkan sebelumnya kuatnya dirinya dan Talocan. Tapi dia tetap berkesan diplomatis. Seolah tinggal menjetikkan jari, Wakanda tiada. He succeed in posing a powerful image of a leader of a country even more powerful than Wakanda.
Kemudian ada Riri Williams (Dominique Thorne) si Iron Heart. Satu lagi jenius teknologi di MCU. Yang ini lebih muda, panikan dan jauh lebih nekat dari Tony Stark. Yang anehnya, meski dia diperlihatkan bisa membuat armor ala Iron Man, tak sedikit pun disebutkan si jagoan pertama MCU itu dar mulutnya sebagai inspirasi. Membingungkan aja.
Dengan naratif dan aksi di klimaks yang logika tempurnya masuk nan memuaskan secara drama, bahkan rasanya lebih baik dari film pertama, kualitas spesial efeknya mengherankan. Beberapa scene terlihat begitu murah efek background nya. Rasanya tak percaya yang demikian lolos masuk final cut.
Di kala acara streaming seperti RINGS OF POWER menyajikan efek indah, film besar tayang di bioskop seperti ini harus menunjukkan kelasnyaShuri (Letitia Wright) berdoa pada Bast, dewa kuno, meskipun dia sebenarnya tak mempercayai. Namun apa daya saat batin sudah demikian tertekan dan usaha menyelamatkan penyakit si kakak, Raja Wakanda T'challa (Chadwick Bossman) tak kunjung berhasil, kecuali menyandar pada kekuatan yang lebih tinggi.
Saat sang ibu, Ramonda (Angela Basset) keluar dari ruang perawatan menemui anak perempuannya berlinang air mata, Shuri terdiam. Semua teknologi canggih Wakanda dan doanya tak kuasa melawan takdir. Raja Wakanda wafat.
Keputusan sutradara Ryan Coogler memasukkan kematian aktor Chadwick Boseman ke film agaknya beresiko, namun yang terjadi di WAKANDA FOREVER, dia menyajikannya dengan penuh rasa hormat.
Para aktornya mungkin sudah berduka dan mengucap selamat tinggal, maka kini giliran para karakter mereka di sekuel BLACK PANTHER (2018) ini merasakan detik kehilangan tersebut dan menyelami kesedihannya.
T'challa sudah pergi, tetapi keputusannya membuka fakta majunya Wakanda ke dunia membuat mereka menjadi target. Vibranium, metal termutakhir di dunia yang konon hanya ada di Wakanda, menjadi incaran negara-negara lain. Ancaman ini sudah diprediksi dan berhasil ditahan oleh Jenderal Okoye (Danai Gurira).
Hal yang tak disangka adalah adanya bangsa lain yang lebih tertutup dari Wakanda, Kerajaan bawah air Talocan yang merasakan akibat perbuatan T'challa. Pemimpinnya, si mutan Namor (Tenoch Huerta) yang menurut Ryan Coogler sekuat Thor, meminta Wakanda untuk memilih; membantu mereka melawan negara-negara lain atau ikut menjadi musuh.
Berbeda dari teasernya yang penuh duka, menariknya WAKANDA FOREVER tak melulu suram. Setelah adegan pemakaman, film cepat kembali pada tone MCU yang ringan. Hal ini baik karena hakikatnya film ini masih bertugas menghibur sekaligus memberi pesan pada para karakter dan penonton untuk melangkah maju dari kesedihan walaupun dukanya masih menyelimuti.
Tak adanya figur sentral membuat karakter lainnya lebih menonjol. Angela Basset give it her all. Saat ada adegan Ramonda menumpahkan semua emosinya, rasanya membuat satu bioskop tertegun. Shuri pun diperlihatkan sisi lainnya di luar sebagai ilmuwan dan memegang peran penting bagaimana Wakanda harus bersikap melawan Namor yang ganas; Apakah dengan bijak seperti T'challa atau ada cara lain?
Implikasi politik dari keputusan para pemegang kekuasaan Wakanda, Talocan dan dunia bermain peran lebih di sini. Memberi bobot lebih pada misal adegan interaksi Namor dengan Shuri. It is as much about them as it is about the people. Bagaimana dua negara ini tak menahan diri dalam berkonflik sampai korban berjatuhan (banyak yang mati! Wow). Sampai sukit ditebak bagaimana masalahnya berakhir kalau efeknya begini fatal. Suspense lebih dari film pertamanya.
Namor nya Tenoch Huerta penuh amarah yang bisa meletus kapan saja tetapi tersembunyi di balik senyum dan ramahnya. Pandainya Tenoch memainkan sisi panas dan tenangnya ini beneran keren.
Waktu adegan menegangkan dengan Ramonda dan Shuri, senyum yang terkesan tulus dari Namor beneran mencekam karena sudah diperlihatkan sebelumnya kuatnya dirinya dan Talocan. Tapi dia tetap berkesan diplomatis. Seolah tinggal menjetikkan jari, Wakanda tiada. He succeed in posing a powerful image of a leader of a country even more powerful than Wakanda.
Kemudian ada Riri Williams (Dominique Thorne) si Iron Heart. Satu lagi jenius teknologi di MCU. Yang ini lebih muda, panikan dan jauh lebih nekat dari Tony Stark. Yang anehnya, meski dia diperlihatkan bisa membuat armor ala Iron Man, tak sedikit pun disebutkan si jagoan pertama MCU itu dar mulutnya sebagai inspirasi. Membingungkan aja.
Dengan naratif dan aksi di klimaks yang logika tempurnya masuk nan memuaskan secara drama, bahkan rasanya lebih baik dari film pertama, kualitas spesial efeknya mengherankan. Beberapa scene terlihat begitu murah efek background nya. Rasanya tak percaya yang demikian lolos masuk final cut.
Di kala acara streaming seperti RINGS OF POWER menyajikan efek indah, film besar tayang di bioskop seperti ini harus menunjukkan kelasnya supaya tidak memalukan dan membuat harga tiket masuk layak. Apalagi di saat mendatangkan penonton ke bioskop sedang sulit.
Rating SEMUA UMUR dari LSF gak cocok. Banyak profanity dan adegan penusukan yang vulgar. Serius, apa standar mereka sebenarnya? Marvel Studios juga mengherankan. Killmonger (Michael B Jordan) di film pertama yang lebih emosional justru kalah kotor mulutnya sama para karakter di sini. Padahal Killmonger berasa lebih berhak berkata-kata demikian. Gak paham standar PG-13 di amrik sekarang.
BLACK PANTHER: WAKANDA FOREVER adalah tantangan yang hampir mustahil. Sekuel tanpa bintangnya, harus eksplorasi akibatnya, tetap menghibur, berbobot dan tentunya ekspektasi bawah sadar penonton kalau sekuel harus lebih baik. The challange is accepted and it was aptly delivered.Shuri (Letitia Wright) berdoa pada Bast, dewa kuno, meskipun dia sebenarnya tak mempercayai. Namun apa daya saat batin sudah demikian tertekan dan usaha menyelamatkan penyakit si kakak, Raja Wakanda T'challa (Chadwick Bossman) tak kunjung berhasil, kecuali menyandar pada kekuatan yang lebih tinggi.
Saat sang ibu, Ramonda (Angela Basset) keluar dari ruang perawatan menemui anak perempuannya berlinang air mata, Shuri terdiam. Semua teknologi canggih Wakanda dan doanya tak kuasa melawan takdir. Raja Wakanda wafat.
Keputusan sutradara Ryan Coogler memasukkan kematian aktor Chadwick Boseman ke film agaknya beresiko, namun yang terjadi di WAKANDA FOREVER, dia menyajikannya dengan penuh rasa hormat.
Para aktornya mungkin sudah berduka dan mengucap selamat tinggal, maka kini giliran para karakter mereka di sekuel BLACK PANTHER (2018) ini merasakan detik kehilangan tersebut dan menyelami kesedihannya.
T'challa sudah pergi, tetapi keputusannya membuka fakta majunya Wakanda ke dunia membuat mereka menjadi target. Vibranium, metal termutakhir di dunia yang konon hanya ada di Wakanda, menjadi incaran negara-negara lain. Ancaman ini sudah diprediksi dan berhasil ditahan oleh Jenderal Okoye (Danai Gurira).
Hal yang tak disangka adalah adanya bangsa lain yang lebih tertutup dari Wakanda, Kerajaan bawah air Talocan yang merasakan akibat perbuatan T'challa. Pemimpinnya, si mutan Namor (Tenoch Huerta) yang menurut Ryan Coogler sekuat Thor, meminta Wakanda untuk memilih; membantu mereka melawan negara-negara lain atau ikut menjadi musuh.
Berbeda dari teasernya yang penuh duka, menariknya WAKANDA FOREVER tak melulu suram. Setelah adegan pemakaman, film cepat kembali pada tone MCU yang ringan. Hal ini baik karena hakikatnya film ini masih bertugas menghibur sekaligus memberi pesan pada para karakter dan penonton untuk melangkah maju dari kesedihan walaupun dukanya masih menyelimuti.
Tak adanya figur sentral membuat karakter lainnya lebih menonjol. Angela Basset give it her all. Saat ada adegan Ramonda menumpahkan semua emosinya, rasanya membuat satu bioskop tertegun. Shuri pun diperlihatkan sisi lainnya di luar sebagai ilmuwan dan memegang peran penting bagaimana Wakanda harus bersikap melawan Namor yang ganas; Apakah dengan bijak seperti T'challa atau ada cara lain?
Implikasi politik dari keputusan para pemegang kekuasaan Wakanda, Talocan dan dunia bermain peran lebih di sini. Memberi bobot lebih pada misal adegan interaksi Namor dengan Shuri. It is as much about them as it is about the people. Bagaimana dua negara ini tak menahan diri dalam berkonflik sampai korban berjatuhan (banyak yang mati! Wow). Sampai sukit ditebak bagaimana masalahnya berakhir kalau efeknya begini fatal. Suspense nya lebih dari film pertamanya.
Namor nya Tenoch Huerta penuh amarah yang bisa meletus kapan saja tetapi tersembunyi di balik senyum dan ramahnya. Pandainya Tenoch memainkan sisi panas dan tenangnya ini beneran keren.
Waktu adegan menegangkan dengan Ramonda dan Shuri, senyum yang terkesan tulus dari Namor beneran mencekam karena sudah diperlihatkan sebelumnya kuatnya dirinya dan Talocan. Tapi dia tetap berkesan diplomatis. Seolah tinggal menjetikkan jari, Wakanda tiada. He succeed in posing a powerful image of a leader of a country even more powerful than Wakanda.
Kemudian ada Riri Williams (Dominique Thorne) si Iron Heart. Satu lagi jenius teknologi di MCU. Yang ini lebih muda, panikan dan jauh lebih nekat dari Tony Stark. Yang anehnya, meski dia diperlihatkan bisa membuat armor ala Iron Man, tak sedikit pun disebutkan si jagoan pertama MCU itu dari mulutnya sebagai inspirasi. Membingungkan aja.
Dengan naratif dan aksi di klimaks yang logika tempurnya masuk nan memuaskan secara drama, bahkan rasanya lebih baik dari film pertama, kualitas spesial efeknya mengherankan. Beberapa scene terlihat begitu murah efek background nya. Rasanya tak percaya yang demikian lolos masuk final cut.
Di kala acara streaming seperti RINGS OF POWER menyajikan efek indah, film besar tayang di bioskop seperti ini harus menunjukkan kelasnya supaya tidak memalukan dan membuat harga tiket masuk layak. Apalagi di saat mendatangkan penonton ke bioskop sedang sulit.
Rating SEMUA UMUR dari LSF gak cocok. Banyak profanity dan adegan penusukan yang vulgar. Serius, apa standar mereka sebenarnya? Marvel Studios juga mengherankan. Killmonger (Michael B Jordan) di film pertama yang lebih emosional justru kalah kotor mulutnya sama para karakter di sini. Padahal Killmonger berasa lebih berhak berkata-kata demikian. Gak paham standar PG-13 di amrik sekarang.
BLACK PANTHER: WAKANDA FOREVER adalah tantangan yang hampir mustahil. Sekuel tanpa bintangnya, harus eksplorasi akibatnya, tetap menghibur, berbobot dan tentunya ekspektasi bawah sadar penonton kalau sekuel harus lebih baik. The challange is accepted and it was aptly delivered.supaya tidak memalukan dan membuat harga tiket masuk layak. Apalagi di saat mendatangkan penonton ke bioskop sedang sulit.
Rating SEMUA UMUR dari LSF gak cocok. Banyak profanity dan adegan penusukan yang vulgar. Serius, apa standar mereka sebenarnya? Marvel Studios juga mengherankan. Killmonger (Michael B Jordan) di film pertama yang lebih emosional justru kalah kotor mulutnya sama para karakter di sini. Padahal Killmonger berasa lebih berhak berkata-kata demikian. Gak paham standar PG-13 di amrik sekarang.
BLACK PANTHER: WAKANDA FOREVER adalah tantangan yang hampir mustahil. Sekuel tanpa bintangnya, harus eksplorasi akibatnya, tetap menghibur, berbobot dan tentunya ekspektasi bawah sadar penonton kalau sekuel harus lebih baik. The challange is accepted and it was aptly delivered.
TV & Movies
Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting unjuk Gigi
Sepertinya meski gak familiar dengan STREET FIGHTER, beberapa persen manusia di dunia pasti pernah mendengar atau melihat serangan melempar bola energi itu meski hanya sekilas.
Sekarang hadoken membara lagi dengan CG modern di adaptasi teranyar serial gim fighting legendaris ini yang disutradarai Kitao Sakurai. Apakah bisa melebihi 2 adaptasi STREET FIGHTER sebelumnya yang reputasinya kurang bagus itu?

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi
STREET FIGHTER baru ini bercerita tentang Ken (Noah Centinio) yang kacau setelah kematian gurunya, Goken (Don Lee). Di kaya tapi seakan kehilangan jiwa petarungnya. Hidup gemerlap, namun yang menemaninya di bawah lampu ajep-ajep hanya Dan Hibiki (Andrew Schulz) seorang.
Ken menyalahkan Ryu (Andrew Koji) padahal si jagoan ikonik itu juga menderita dengan bebannya sendiri, yakni sisi gelapnya yang bisa meraung bila ia kembali bertarung.
Chun Li (Calina Liang) kemudian datang dan merekrut keduanya untuk mengikuti turnamen buatan M. Bison (David Dastmalchian) yang mempunyai agendanya sendiri.

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi
Kedua aktor begitu klop memainkan Ken dan Ryu sampai hanya beberapa detik saja melihat mereka di layar langsung, yeah it's them. 100%.
Karena menghidupkan dan chemistry mereka sukes, drama keduanya pun menjadi daging di film yang paling menarik diikuti dan memang jadi fokus STREET FIGHTER, meskipun bisa menjadi agak rumit.
Sayangnya melawan Bison seakan cerita yang dipaksakan untuk dimasukkan, apalagi akting si villain terasa kurang. Penulis kurang paham apa arah akting David Dastmalchian; serius total kah? Atau ada bercandanya? Karena cast lain terasa 100% game, kekurangan ini jadi menonjol.

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi
Hasilnya, untuk serve perihal Ryu dan Ken juga Chun Li-Bison ini, pacing terasa dikebut dan penonton tak banyak diberi nafas untuk meresapi dramanya. Tarung lanjut ada yang marah, tarung lagi, kerja sama, etc. Kesemuanya bila perlahan oke saja, namun alur ngegas ini yang bikin semuanya terasa sekelebat saja kurang total mengena.
Jadi berharap ada cut lain yang penceritaanya lebih rapih.
Maka terasa sayang melihat visual 90’s yang kreatif pop tapi tak melupakan drama, cast yang cetar apalagi adegan bertarung di klub <siapa sangka Dhalsim (Vidyut Jammwal) bisa terlihat cool?>, adegan bertarung yang cukup setia gerakan di gim dan tetap engaging, semuanya terganggu oleh problem yang sama.

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi
MORTAL KOMBAT 2 dan kini STREET FIGHTER menunjukkan adaptasi gim sungguh sudah menuju level lebih tinggi dan keduanya fighting game! Bukan yang kuat dalam bercerita tetapi filmmaker sekarang seperti sudah menemukan formulanya. Semoga ronder berikutnya lebih dan lebih dan lebih menonjok lagi.
TV & Movies
Bonus Stage Street Fighter di Indonesia Comic Con 2026: Smash The Car!
Menjelang perilisan film Street Fighter, Paramount Pictures Indonesia mengajak para penggemar merasakan langsung keseruan pertarungan dari franchise ikonik tersebut melalui Smash the Car, sebuah pengalaman interaktif yang hadir di Indonesia Comic Con 2026, pada 3–4 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Bonus Stage Street Fighter Di Indonesia Comic Con 2026: Smash The Car!
Terinspirasi dari salah satu bonus stage paling ikonik dalam Street Fighter II, Smash the Car menantang pemain untuk menghancurkan sebuah mobil dalam waktu terbatas demi meraih poin bonus. Tantangan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman bermain Street Fighter ini kini dibawa ke dunia nyata untuk memberikan kesempatan kepada para penggemar untuk merasakan kembali semangat kompetitif khas para World Fighters.

Bonus Stage Street Fighter Di Indonesia Comic Con 2026: Smash The Car!
Disutradarai oleh Kitao Sakurai dan diproduksi oleh Legendary Pictures bersama Capcom, film Street Fighter menghadirkan kembali karakter-karakter ikonik serta elemen khas dari franchise tersebut ke layar lebar, sekaligus memperkenalkan dunia Street Fighter kepada generasi baru.
“Street Fighter memiliki karakter, personality, dan signature moves yang membuat setiap fighter memiliki identitas dan daya tariknya sendiri. Melalui Smash the Car, kami ingin membawa salah satu pengalaman yang sangat identik dengan game ini ke dunia nyata. Dengan begitu, penggemar tidak hanya dapat bernostalgia dengan keseruan saat bermain, tetapi juga merasakan langsung excitement dari salah satu bonus stage paling ikonik dalam Street Fighter,” ujar Julius Daniel Suhakri, Head of Marketing Paramount Pictures Indonesia.

Bonus Stage Street Fighter Di Indonesia Comic Con 2026: Smash The Car!
Menggabungkan nostalgia arcade, karakter-karakter ikonik, dan pengalaman interaktif, Smash the Car menjadi salah satu cara bagi para penggemar untuk kembali merasakan energi pertarungan Street Fighter secara langsung di Indonesia Comic Con 2026.
Film Street Fighter akan hadir di bioskop Indonesia mulai 14 Oktober 2026.
TV & Movies
REVIEW FILM CRAWLERS, JANGAN BUKA MULUT SAAT TIDUR
Crawlers merupakan film horor-thriller terbaru rilisan 2026 yang disutradarai Ángel Gómez Hernández dengan naskah garapan Jayson Rothwell. Film ini diproduksi di bawah naungan label Badlands—sebuah bendera produksi genre horor baru yang didirikan oleh Basil Iwanyk dan Erica Lee, tim produser kawakan dari Thunder Road Films yang sukses besar memproduseri waralaba aksi John Wick dan Sicario. Mengusung atmosfer bertahan hidup yang intens, film ini menceritakan bencana wabah laba-laba beracun yang meluas secara mengerikan di dalam kompleks apartemen Paradiso Palms.

Review Film Crawlers, Jangan Buka Mulut Saat Tidur
Cerita berfokus pada Serena (Matilda Lutz), seorang pengelola apartemen yang mendadak harus menghadapi situasi darurat setelah ditemukannya kematian misterius penghuni apartemen akibat gigitan laba-laba jenis baru. Ketika otoritas menetapkan karantina ketat yang mengunci seluruh penghuni di dalam gedung tanpa jalan keluar, Serena harus menggunakan pengetahuan mendalamnya tentang seluk-beluk bangunan untuk memimpin para penghuni—termasuk karakter yang diperankan Gregg Sulkin, William Miller, dan Melina Matthews—bertahan hidup dari gempuran serangga mematikan tersebut. Namun, tugas ini tidak mudah karena laba-laba ini dapat bersembunyi di sudut-sudut yang tidak kelihatan dan mudah menyelinap.
Bagaimanakah upaya Serena dan para penghuni gedung dalam meloloskan diri dari kepungan ribuan laba-laba beracun yang terus berkembang biak? Apakah Serena berhasil mengatasi trauma fobianya demi menyelamatkan nyawa mereka semua? Gwiple dapat mengetahui jawabannya di bioskop-bioskop kesayangan. Oya, jajaran sinematografer film ini ditangani oleh Pablo Rosso, sosok di balik kamera untuk film horor fenomenal [REC] yang sudah teruji lihai membangun atmosfer claustrophobic di dalam gedung terisolasi.

Review Film Crawlers, Jangan Buka Mulut Saat Tidur
Sutradara Ángel Gómez Hernández bersama tim produser John Wick berhasil menyajikan ritme film yang penuh ketegangan tanpa henti, memacu adrenalin penonton dari awal hingga akhir. Sensasi desakan ribuan kaki laba-laba yang menjalar di celah dinding dan lorong-lorong gelap sangat efektif dalam memicu rasa cemas serta menyengat fobia arachnophobia bagi siapa saja yang menontonnya. Tak hanya mengandalkan aspek psikologis, Crawlers juga menyajikan adegan yang sangat berdarah-darah (gory), memperlihatkan dampak gigitan beracun yang mengerikan serta perjuangan brutal manusia melawan invasi monster berkaki delapan.
Crawlers memang merupakan tayangan horor yang sangat solid dan unik, di mana penonton Gwiple diajak merasakan teror claustrophobic yang intens di tengah ancaman makhluk berkaki 8 yang haus darah. Bagi Gwiple yang menyukai horor laba-laba sejenis, film ini menyajikan nuansa yang mengingatkan kita pada film horor laba-laba asal Prancis berjudul Infested (Vermines, 2023) yang juga menceritakan karantina gedung apartemen akibat teror serangga, serta film klasik legendaris Arachnophobia (1990).
-
News4 weeks agoSophieChat: AI Resmi Diumumkan, Aplikasi Percakapan dengan xdari Atelier
-
News4 weeks agoGabe Newell Disebut Pernah Berlatih Nyanyian Tenggorokan Mongolia Selama 5 Bulan di Valve
-
News4 weeks agoKreator Haganai Yomi Hirasaka Resmi Pensiun dari Dunia Menulis
-
Smartphone4 weeks agoBebas Drama Pas Mabar! Ini Rahasia Gaming Seru Bebas Suntuk Bareng POCO C81 Pro
-
TV & Movies3 weeks agoREVIEW FILM VERITY, MENGUNGKAP SISI GELAP PENULIS TERSOHOR
-
TV & Movies4 weeks agoJangan Tertipu Image Couple Goals! iQIYI Original ‘Dalam Suka dan Dusta’ Ungkap Sisi Gelap di Balik Pernikahan Selebriti
-
TV & Movies3 weeks agoReview Film Forgotten Island, Animasi DreamWorks Berlatar Mitologi Filipina
-
Smartphone3 weeks agoPOCO F9 Series Siap Meluncur di Indonesia 5 Oktober, Tegaskan Posisi sebagai The True Flagship







