TV & Movies
Lima Fakta Menarik Film Animasi “Soul” Produksi Disney dan Pixar
GwiGwi.com – Film terbaru dari Disney dan Pixar, yaitu ‘Soul’ ditayangkan secara eksklusif di Disney+ Hotstar pada tanggal 25 Desember 2020, menggambarkan kisah emosional hubungan antarmanusia dan menemukan kegembiraan yang tak terduga dalam hidup.
Joe Gardner (disuarakan oleh Jamie Foxx) – seorang guru band sekolah menengah yang mendapatkan kesempatan sekali dalam seumur hidupnya untuk bermain di sebuah klub jazz terbaik yang ada di kota New York. Namun, satu kesalahan kecil membawanya dari jalanan kota New York ke The Great Before – sebuah tempat ajaib di mana jiwa-jiwa baru mendapatkan kepribadian, kebiasaan, dan minat sebelum mereka pergi ke Bumi. Bertekad untuk kembali ke kehidupannya, Joe bekerja sama dengan sebuah jiwa yang unik, 22 (pengisi suara Tina Fey). Tidak seperti jiwa pada umumnya, 22 yang tidak pernah tertarik untuk turun ke Bumi dan menjadi manusia. Ketika Joe berusaha untuk menunjukkan kepada 22 betapa hebatnya hidup sebagai manusia, Joe justru menemukan jawaban atas beberapa pertanyaan terpenting dalam kehidupan.
‘Soul’ disutradarai oleh chief creative officer dari Pixar Animation Studios, Pete Doctor, pemenang Academy Award, dengan karyanya yang tak asing lagi seperti Monsters, Inc., Up, dan Inside Out.
Berikut lima fakta menarik tentang ‘Soul’, termasuk yang berkaitan dengan Indonesia:
1. Terinspirasi oleh Raspberry
Menyadari pertanyaan yang terus menerus muncul mengenai apa itu hidup yang bermakna, sutradara Pete Docter, menyadari bahwa “hidup lebih dari sekedar satu hasrat – yang ekspresif dan memuaskan. Terkadang ada hal-hal kecil yang tidak kita sadari dan itulah yang sebenarnya berpengaruh. Saya ingat suatu hari saya sedang bersepeda dan saya berhenti dan memetik sebuah raspberry, raspberry yang sudah terjemur oleh matahari dan ternyata menjadi raspberry yang paling menakjubkan yang pernah saya rasakan.”
Dia melanjutkan, “Saya tidak pernah ingat setiap momen dengan jelas. Hampir setiap momen dalam hidup kita bisa menjadi momen transendental yang menentukan mengapa kita ada di sini. Film ini memperluas gagasan untuk fokus dan berpikir lebih luas tentang apa yang ditawarkan kehidupan dan apa yang kita tawarkan ke kehidupan.”
2. Seorang Animator Indonesia Terlibat Pembuatan ‘Soul’
‘Soul’ melibatkan talenta para kreator dan seniman dari seluruh dunia dan salah satunya animator Indonesia, yaitu Paulie Alam. Pertama kali menginjakkan kaki di Pixar pada tahun 2017 dan sejak itu, Paulie telah menyalurkan bakatnya ke film Disney dan Pixar lainnya sperti Coco, Onward, dan Toy Story.
3. Menangkap Dua Dunia Berbeda
‘Soul’ menggambarkan kontras kehidupan kota besar dan alam kosmik yang memukau mata penonton melalui berbagai visual animasi yang tak tertandingi.
Pada saat para pembuat film dapat menggambarkan kehidupan nyata kota besar dalam adegan Kota New York, The Great Before justru harus dibuat benar-benar dari awal. Pendekatan yang digunakan oleh pembuat film terhadap film dan penampilan para karakter sebagian terinspirasi oleh dua pengaruh yang berbeda: karya seni dari seniman Inggris dan kartunis satir Ronald Searle, dan dari animasi klasik Disney tahun 1961, 101 Dalmatians. Pengawas animasi Jude Brownhill mengatakan, “Searle dan 101 Dalmations memengaruhi tampilan dan nuansa ‘Soul’ di hampir semua bagian – mulai dari bentuk bangunan, furnitur, dan properti yang tidak sempurna, hingga jumlah lipatan pada pakaian karakter.”
4. Musik oleh Musisi Global Ternama
Musik adalah bagian penting dari alur cerita film ‘Soul’, dan dua dunia yang diciptakan membutuhkan dua gaya musik berbeda yang membantu membentuk dan mendefinisikan setiap dunia. Musisi global ternama dan nominasi GRAMMY® Jon Batiste menghadirkan komposisi dan aransemen musik jazz asli untuk film tersebut. Lalu pemenang Oscar® Trent Reznor dan Atticus Ross (The Social Network), dari Nine Inch Nails, menciptakan musik orisinal yang melayang antara dunia nyata dan dunia soul.
Selain itu, Ketika Anda melihat tangan Joe bermain dalam adegan film, itu adalah permainan Jon sesungguhnya. Para animator mempelajari cuplikan referensi Jon di piano untuk menangkap detail bagaimana dia bermain – dari bagaimana jari-jarinya bergerak hingga napas yang dia ambil.
5. Menciptakan The Counselors Menggunakan Teknologi Baru
Para Konselor di The Great Before – ada beberapa dari mereka – semuanya dikenal sebagai Jerry dan mereka menggambarkan diri mereka sebagai alam semesta yang membodohi dirinya sendiri agar dapat dipahami oleh manusia. Setiap Jerry memiliki ekspresi unik dari alam semesta itu sendiri — merepresentasikan kesabaran, keceriaan yang baik, dan kecenderungan agresif-pasif dalam konteks yang berbeda.
Visualisasi unik dari The Counselors, mengharuskan pembuat film untuk menggambar dari berbagai sumber seperti patung Swedia, alam, dan lampu acara hingga diperoleh bentuk yang dirasa paling dikenal. Karakter itu terdiri dari garis hidup, dan pengawas karakter Michael Comet dan timnya mengembangkan teknologi baru yang menciptakan jenis kurva baru dan memungkinkan animator untuk menghidupkan dan mematikan setiap titik kontrol individu — seperti animasi 2-D yang dilakukan dalam 3-D.
Film ‘Soul' persembahan Disney dan Pixar saat ini dapat dinikmati secara eksklusif hanya di Disney+ Hotstar untuk menghibur musim liburan kali ini. Para penggemar dapat berlangganan Disney+ Hotstar langsung dari situs web (www.DisneyPlusHotstar.id) atau aplikasi Disney+ Hotstar (Android dan iOS). Dengan biaya Rp39.000/bulan atau Rp199.000/tahun, konsumen akan memiliki akses ke lebih dari 500 film dan 7.000 episode termasuk yang film internasional terbaik, tayangan Disney+ Originals dari Marvel, Disney, Star Wars dan lainnya, serta pemutaran perdana film-film Indonesia yang telah dinanti secara eksklusif, dan lebih dari 300 film bioskop Indonesia. Pelanggan memiliki beberapa pilihan pembayaran, salah satunya adalah menggunakan GoPay. Paket langganan khusus juga tersedia dengan harga menarik melalui Telkomsel.
TV & Movies
Review Film HOPE, Big Trouble in Little Village
Bencana besar di desa kecil. Mungkin deskripsi yang pas untuk HOPE.
Teror monster yang biasa menimpa kota besar, melibatkan tentara dan ilmuwan, kini harus dihadapi Beom Se-Ok (Hwang Jung-Min) kepala polisi lokal, sepupunya Sung Ki (Zo In-sung), para pemburu, peternak babi, tukang jugal daging dan warga desa lain.
Dari eksekusi sinematografinya, kamera mengisolasi POV penonton pada perjalanan tiap karakternya secara eye level napak tanah untuk mengungkap misteri layaknya progress video game. Bahkan sampai protagonis dapat upgrade senjata, berganti senapan yang lebih kuat. Mengkuti jejak si monsters dari jalanan, toko-toko sampai ke gang-gang kecil.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village
Cara demikian melokalisir teror pada skala kecil yang justru membuat lebih ngeri dibanding film monster umumnya yang seakan ingin main skala besar secepatnya.
Audiens tak melihat sosok si monster tapi dari kehancuran, gelimpangan mayat dan bangkai berceceran yang diakibatka, gambaran mengerikannya sudah begitu kuat.
Begitu saat akhirnya si sumber horror diperlihatkan…hem. Mengingatkan pada CG game zaman PS3? Barangkali terkendala budget tapi mengingat monster ini ternyata mempunyai peran yang lebih penting lagi, agak membingungkan kenapa tampilannya tidak dicoba lebih meyakinkan lagi.
Beruntung aksi cepat dan brutalnya menghujam efektif sampai rasanya kekurangan itu cukup termaafkan.
Kelemahan umum film monster, manusianya, justru menyala di sini.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village
Sembari tensi terus terjaga, HOPE mampu mengenalkan para karakternya secara singkat baik dengan cerita konyol atau pun sekedar dari bagaimana mereka memburu si monster. Sampai rasanya audiens sudah klop bersama mereka padahal baru sebentar. Polisi wanita Hoyeon (Sung-Ae) tak diperkenalkan bertele-tele, dari cara dia bernafsu mengejar si monster langsung membuat dia memorable.
Aksi tegang dan kadang bisa-bisanya dibumbui komedi memang mewarnai klimaks, tapi juga berasa terlalu diperpanjang. Tambah lagi ternyata film diakhiri dengan cliffhanger yang membuka sisi lain dari para monster. Untung saja paruh awal dan tengahnya cukup kuat sehingga rasa nanggung tak sampai mengganggu.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village
HOPE seakan apabila Godzilla plus ALIEN dialami desa kecil di provinsi anda dan cerdas sekali memanfaatkan keunikan itu baik secara sosiologi manusianya dan kulturnya. Mungkin penonton hanya banyak melihat Hope Harbor dalam keadaan hancur tapi bisa jadi warga dan daerahnya lebih membekas di benak penonton dibanding film monster lain. Dan demikian rasanya sungguh key selling point dari film yang barangkali kurang memenuhi ekspektasi fans sutradara Na Hong-Jin paska THE WAILING.
Apakah terus bisa dia kawinkan aspek itu dengan aliennya nanti untuk sekuel yang sudah ditease? We may hope so….
TV & Movies
Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata
www.gwigwi.com – John Miller (Alan Ritchson), seorang veteran Perang Vietnam yang bekerja di pabrik perakitan mobil, dijebak atas kejahatan yang tidak ia lakukan oleh Reynolds (Ben Foster), seorang penguasa mafia lokal yang terobsesi pada kekasih John, Sophia (Shailene Woodley).
Divonis 25 tahun di penjara berkeamanan maksimum, John bertahan hidup hanya dengan satu tujuan: keluar dan menuntaskan dendam.
Ketika kesempatan itu tiba, John melancarkan perburuan berdarah menyusuri jalanan Detroit yang dingin dan korup, melintasi jajaran anak buah Reynolds yang dijaga oleh seorang polisi korup bertangan besi (Pablo Schreiber).

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata
Sutradara Potsy Ponciroli (Old Henry) kembali memamerkan keahliannya dalam mengolah cerita klasik menjadi sajian visual yang segar melalui Motor City.
Setting kota Detroit tahun 1970-an yang kelam, film action-thriller ini mengusung eksperimen berani. Menyajikan kisah balas dendam yang intens dengan dialog yang dipangkas hampir sepenuhnya, menyerahkan seluruh penyampaian emosi pada gestur, aksi, dan desain suara.
Estetika gritty era 70-an dengan warna-warna pudar dan pencahayaan bernuansa neo-noir. Tanpa kata-kata, deru mesin mobil muscle, dentuman senapan, dan koreografi pertarungan menjadi “dialog” utama.
Penggunaan mobil antik, outfit era 70-an, serta lagu-lagu rock klasik memperkuat suasana kota industri yang sedang runtuh.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata
Menurut gue ini adalah hal yang sangat berani. Serta membuang dialog eksposisi yang membuat penonton harus fokus pada aksi instinktif dan emosi karakter.
Dari jajaran cast, Alan Ritchson memanfaatkan postur fisiknya yang intimidatif secara maksimal. Tanpa bantuan dialog, ia mengandalkan tatapan mata, nafas yang berat, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan kepedihan, rasa kehilangan, serta kemarahan murni.
Begitu juga dengan Ben Foster yang tampil mengintimidasi lewat aura psikologis yang dingin, sementara Pablo Schreiber memberikan ancaman fisik yang seimbang dengan karakter Ritchson.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata
Buat gue film ini emang cocok-cocokan dengan penonton masa kini. Bagi yang terbiasa dengan dialog cepat atau pacing modern, beberapa transisi babak tengah mungkin terasa berjalan lambat.
Secara keseluruhan, Motor City merupakan penghormatan yang solid terhadap genre action-thriller klasik.
Film ini membuktikan bahwa Alan Ritchson as an actor tidak hanya mengandalkan fisik semata, melainkan juga kemampuan akting non-verbal yang kuat di bawah arahan sutradara yang tepat.
TV & Movies
Review Film INSIDIOUS OUT OF THE FURTHER, Wahana Rumah Hantu ala The Further
www.gwigwi.com – Gemma (Amelie Eve) memiliki masa kecil buruk dengan Ibunya (Laura Gordon) dan berniat menjadi Ibu lebih baik untuk anaknya, Maya (ISLAND Austin).
Sampai dia dihantui mimpi mengerikan yang bisa jadi lebih dari sekedar khayalannya dan berhubungan dengan masa lalunya.
Kembali lagi franchisee horror yang film pertamanya sukses meski low budget dan ternyata penonton masih mau kembali mengeksplorasi alam barzah khas INSIDIOUS yakni the further.

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further
Dengan film ke 6 filmmaker seolah bermain dengan konsep untuk mengeksploitasi the further. Setelah dapat, seakan barulah dibuat cerita seputar itu dan rasanya memang demikian.
Motivasi yang trigger emosi penonton seputar hubungan ibu anak dan mencoba memutus trauma generasional. Diselingi permainan ketegangan yang lumayan oke memakai syaitonirojim dan eksplorasi the further, di mana paruh ketiganya memang cukup seru dan tak terduga.
Semuanya fine saja dan mungkin itulah fault dari INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER ini; wahana seram-seraman yang terasa eksploitasi (dalam artian yang masih terbilang baik) franchise saja. Bila penonton senang, sampai INSIDIOUS 11 pun seakan dijabanin BLUMHOUSE PRODUCTION.
INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER seolah hasil dari pikiran; karena penonton masih mau, maka filmmaker akan coba segala hal untuk isi gas franchisenya. Apakah mereka akan menemukan alasan kuat lagi untuk penonton mau kembali menjelajah The Further? We'll see…
-
TV & Movies2 weeks agoReview Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk
-
Gaming3 weeks agoArknights Resmi Rilis Versi PC, Berikut Spesifikasi yang Dibutuhkan
-
TV & Movies4 weeks agoReview Film Dear You, Surat yang Terlupakan
-
Gaming3 weeks agoArknights: Endfield Segera Hadir di Steam, Akses Pemain PC Bakal Lebih Mudah
-
TV & Movies3 weeks agoReview Film Seni Merayu Tuhan, Drama Religi 2.0?
-
TV & Movies2 weeks agoReview Film Kung Fu Soccer, Evolusi Komedi Absurd Stephen Chow di Era Modern
-
Berita Anime & Manga2 weeks agoOvergeared Ungkap Trailer Kedua, Visual Baru, dan 6 Karakter Tambahan
-
News2 weeks agoFate/Grand Order Rilis Video Pembuka Pameran, Dianimasikan oleh CloverWorks




