Berita Anime & Manga
Interview Yurika Endo, Hanamori Yumiri, MICHI, dan Shiori Mikami, Seiyuu dan Anisong Singer Pony Canyon
GwiGwi.com – Pada acara Anime Festival Asia Singapore 2015 yang berlangsung akhir bulan November lalu, Pony Canyon, Inc. membawa empat orang seiyuu dan penyanyi anisong mereka. Tiga diantaranya sudah sempat mengunjungi Indonesia pada Anime Festival Asia Indonesia 2015, yakni Yurika Endo, MICHI, dan Yumiri Hanamori, tiga orang yang tergolong relatif baru di industri anime. Selain ketiganya, datang juga Shiori Mikami, pengisi suara Akaza Akari di series anime Yuru Yuri. Pada acara yang berlangsung di Suntec Singapore Convention & Exhibition Centre ini, tim GwiGwi mendapat kesempatan untuk duduk dan mewawancarai keempat talent dari Pony Canyon ini. Suasana ruangan interview sangat santai dan terasa cukup informal. Bagaimana hasil interview kami? Yuk simak di bawah.
Sudah berapa kali kalian ke luar negeri? Bagaimana perasaan kalian bertemu dengan fans di luar negeri?
Endo: Setahun setelah debut, saya mendapatkan kesempatan untuk pergi ke Hong Kong untuk mengikuti sebuah event. Tahun, saya juga pergi ke Tiongkok, Jakarta, dan Singapura. Saya ke luar negeri hanya untuk kerja, dalam kehidupan pribadi saya, saya belum pernah ke luar negeri. Saat ke luar negeri dan bertemu dengan fans di luar negeri, saya bisa merasakan bagaimana anime diterima di luar Jepang, dan itu membuat saya senang. Hal itu membuat saya ingin bekerja lebih keras lagi.
Hanamori: Pertama kalinya saya keluar negeri itu untuk sebuah acara di sekolah. Memasuki tahun 2015, saya telah pergi ke Los Angeles, kemudian untuk AFAID di Indonesia, dan yang ketiga adalah saat ini, di Singapura. Saya pertama kali menyanyi di atas panggung di luar negeri itu adalah saat event AFAID. Setelah bertemu dengan fans luar negeri, dan mendengarkan mereka mengatakan hal-hal seperti “Saya menonton anime ini, saya suka karakter yang kamu perankan” sangat menyentuh saya. Karena saya mendapatkan dukungan dari berbagai orang dari berbagai negara, saya ingin bekerja lebih keras lagi.
MICHI: Dalam kehidupan pribadi saya, saya pernah ke Filipina sekali. Untuk kerja, saya pertama kalinya ke luar negeri saat AFAID, lalu setelah itu di sini, untuk AFASG. Saya merasakan beberapa perbedaan di Jepang dan di luar negeri. Di Jepang, hal-hal seperti fotografi dan lainnya diatur cukup ketat, jadi saya tidak punya banyak kesempatan untuk berkomunikasi dengan fans. Di event luar negeri, fans bisa mengambil gambar, bahkan bisa mengobrol dengan masing-masing fans. Bagi saya, aspek komunikasi di event luar negeri adalah hal yang cukup fresh. Untuk AFAID, saya juga melakukan promosi untuk Rokka no Yuusha, saya merasa senang saat fans mengatakan “Saya menonton anime yang ada kamu lho!” Hal itu membuat saya ingin bekerja lebih keras lagi.
Mikami: Saya pertama kali ke luar negeri pada tahun 2012 di Hong Kong untuk menghadiri sebuah event. Kali kedua saya ke luar negeri adalah saat ini, di Singapura. Saya dapat pergi ke luar negeri dua kali karena anime Yuru Yuri. Saya sangat berterima kasih kepada fans karena dukungan mereka, saya mendapat kesempatan untuk pergi ke kedua negara tersebut. Setelah dua kali ke luar negeri, saya merasa pengalaman ini memperluas perspektif dan dunia saya, membuat saya mendapatkan pengalaman yang berbeda, yang tidak mungkin saya dapatkan di Jepang.
Bagaimana kesan kalian tentang Singapura?
Endo: Ini pertama kalinya saya ke Singapura. Meskipun saya akan merasakan hal yang sama di negara lainnya, saya melihat gedung-gedung, dan suasana jalannya sangat berbeda dengan Jepang. Hal itu membuat saya merasa bahwa saya benar-benar di luar negeri. Meski saya tidak punya waktu yang cukup saat ini karena scheduling, saya berharap saya bisa berkeliling Singapura setelah event selesai. Mimpi saya ke depannya adalah untuk punya rumah sendiri yang bentuknya seperti sebuah istana kecil. Saya melihat bahwa tidak sedikit rumah yang seperti keinginan saya, hal ini membuat saya sangat senang.
Hanamori: Seperti kata Endo-san, saya tidak punya banyak waktu untuk keliling Singapura, saya berharap sebelum pulang saya bisa melihat Merlion, Merlion yang baru diperbaiki karena disambar petir. Saya juga berharap bisa membeli banyak oleh-oleh untuk dibawa pulang.
MICHI: Jadi, pengalaman saya di Indonesia…
Hanamori: *berbisik ke MICHI* Singapura..
MICHI: *tertawa* M-maaf! Singapura! Singapura! Tolong abaikan yang tadi, itu Japanese joke. Saat ini di Jepang sedang musim dingin, suhunya sangat dingin. Saat tiba di sini, saya merasa suhunya hangat. Saya memperhatikan bahwa di Singapura, ada beragam orang dari berbagai negara berbaur di Singapura. Jika saya punya kesempatan untuk tinggal di sini, saya bisa bertemu dengan beragam orang, dan saya mungkin bisa belajar bahasa di sini. Saya juga ingin ke night safari dan ke Merlion.
Mikami: Saya tidur, bangun, tiba-tiba saya sudah di Singapura, jadi saya kadang masih merasa saya masih di Jepang, bukan di luar negeri. Karena scheduling, saya belum bisa berkeliling Singapura. Saya ingin melihat-lihat meski hanya sedikit saja, jadi saya berkeliling area exhibition AFASG, dan saya merasa perbedaan tensi antara fans Jepang dan fans di sini tidak terlalu jauh, dan mereka menerima saya dengan baik. Di bus, dari hotel ke AFASG, saya melihat Singapore Flyer, dan saya mendengar bahwa orang-orang bisa menikmati makan malam di atas sana. Jadi, saat waktu privat saya nanti, saya ingin untuk makan malam di Singapore Flyer.
Bagaimana kalian menghabiskan waktu luang?
Endo: Saya akan tinggal dalam kamar dan main game seharian. Selain itu, saya minum alkohol sambil bermain. Ah, saya belum menyentuh game Monster Hunter saya, jadi saat saya punya waktu, saya akan melanjutkan untuk main.
Hanamori: Seperti Endo-san, saya juga ingin lanjut bermain Monster Hunter, tapi saya masih sekolah, jadi saya harus ke sekolah, mengerjakan laporan dan PR. Saat ini, waktu saya cukup banyak dihabiskan di sekolah. Karena saya ke Singapura, saya harus menyelesaikan semua PR dan laporan saya sebelum pergi ke sini, dan untungnya selesai.
MICHI: Di Jepang, saya suka meminjam manga dan membacanya. Selain itu, saya juga keluar untuk jalan dan jogging, karena rumah saya dekat dengan sebuah sungai. Oktober kemarin, manga yang saya baca sudah sampai 60 volume, kadang saya mengurangi tidur dan membaca manga, agar tidur saya damai.
Mikami: Hari istirahat saya rata-rata diisi dengan tidur. Rasanya sangat menyenangkan bisa tidur tanpa dikejar alarm untuk bangun. Saya mencoba menjalani waktu luang saya tanpa dikejar waktu. Biasanya meskipun saya mencoba tidur panjang, tapi hampir selalu bangun enam jam kemudian. Saat saya bangun, saya membersihkan rumah. Setelah itu, saya bertemu dengan teman-teman untuk makan. Di Singapura, saya akan mencoba untuk mencoba makanan-makanan yang enak sebelum pulang.
Apakah anime favorit kalian?
Endo: Saya tentunya suka anime yang saya kerjakan. Saya sangat suka Steins;Gate. Saya juga menyukai anime bergenre shounen, lebih yang tayang di jam prime time, bukan tengah malam. Contohnya, Naruto.
Hanamori: Saya suka anime yang saya kerjakan. Kalau saya disuruh memilih, saya memilih One Punch Man, saya rasa Saitama sangat keren. Saya juga karakter Sonic, keren dan dark. Saya sering membahas dengan adik saya, apa Tatsumaki memakai celana dalam atau tidak. Saya baru saja membeli semua volume manganya beberapa waktu lalu.
MICHI: Saya suka anime dan manga shounen, seperti produksi dari Jump. Saya juga seorang fujoshi *tertawa*, dan anime BL yang saya sangat sukai itu Free! Setiap saya masuk ke kantor Pony Canyon, poster Free! yang saat ini, yang High Speed! berjejer di dalam kantor. Setiap saya ke sana, saya merasa sangat bersemangat! Untuk anime yang baru, saya suka Noragami, Owari no Seraph, dan SAO. GUILTY CROWN juga. Itu anime yang membuat saya terinspirasi menjadi seorang penyanyi Anisong. EGOIST itu keren.
Mikami: Anime yang paling saya senangi adalah anime yang membuat saya tertarik menjadi seiyuu, salah satu animenya agak kurang terkenal, namanya PopoloCrois. Selain itu, Saber Marionette karya Satoru Akahori-sensei. Setelah menonton keduanya, saya menemukan suatu hal yang membuat saya ingin menjadi seiyuu. Untuk musim ini, satu-satunya yang saya ikuti adalah Osomatsu-san.
Sekian interview bersama ke-4 Artiste dari Pony Canyon kali ini Gwiple~! Sampai jumpa di Interview berikutnya 😀
Berita Anime & Manga
Review Tomb Raider King Eps.1-2
Sama-sama mengusung tema dungeon crawling seperti Solo Leveling, mampukah adaptasi anime Tomb Raider King meraih kesuksesan yang sama? Simak ulasan dua episode pertamanya di sini.
www.gwigwi.com – Dikhianati kontraktornya, “Tomb Raider” Jooheon Suh hampir saja mati di sebuah makam/tomb berisikan relik ajaib saat tetiba dia kembali 15 tahun lalu saat God’s Tombs ajaib belum bermunculan. Bertekad untuk membalas, berbekal pengetahuan dan keahliannya, dia pergi mengoleksi berbagai elik dengan tangannya sendiri.
TOMB RAIDER KING dianimasikan! Manhwa karya Sanji Jiksong ini tampaknya ingin ikut mencicipi kesuksesan SOLO LEVELING. Sesama sub genre Lit-RPG (cerita dengan mekanisme gim) dan dungeon crawling, mampukah mereka meraup harta kesuksesan yang sama?
Menjanjikan petualangan, misteri, atraksi aksi yang dibumbui strategi cerdik tak terduga, TOMB RAIDER KING memiliki banyak key selling point buat penyuka sub genre ini.
Cerita dengan cerdas tidak dimulai dari awal mula karir Jooheon. Penonton langsung disuguhi misteri pengkhianatan, kenapa dia bisa kembali ke masa lalu dan protagonis yang sudah jago, cepat memahami situasi dan langsung bertindak.
Alur ringkas cepat ini membantu memaku perhatian saat animasi dan art style gambar terasa cukup saja. Sisa informasi world building dieksposisikan tokoh utama sambil jalan yang untungnya lore TOMB RAIDER KING ini cukup sederhana dan mudah dicerna.
Mungkin karena keliatan sederhana ini juga, rasanya dunianya kurang terasa spesial. Tomb yang didatangi Jooheon saat baru sadar terinspirasi dari kisah populer ‘Kapak Emas’ dari dongeng Aesop. Memang boleh saja terinspirasi demikian, tapi seperti kurang ada polesan unik ala TOMB RAIDER KING itu sendiri. Ya, ada twist berbeda, namun kurang terasa menghentak.
Entah karena Jooheon yang digambarkan dengan istilah “OP” atau over power kah? Pemuda ini sudah sakti, pede, cerdas, pokoknya wah. Dari dua episode ini, belum ada tantangan berarti mau itu dari menghajar orang atau melawan monster. Fokus memperlihatkan hebatnya dia memang boleh saja, tetapi cerita seperti lupa memberikan suspense atau pembeda dari sub genre yang sama saat sekarang dunia sudah mengenal SOLO LEVELING dan SHANGRI-LA FRONTIER (tentang petualangan seorang gamer di dunia gim, Shangri-La Frontier).
Rakurou Hizutome atau Sunraku, protagonis SHANGRI-LA FRONTIER memang jago tapi diperlihatkan juga dia tidak bisa memakai armor hingga terkena serangan sekali saja sudah fatal. Hal demikian belum ada di TOMB RAIDER KING. Karakter Jooheon terkesan power fantasy untuk para pembaca merasa strong dan kurang memiliki kedalaman lain supaya audiens bisa relate, malahan dia kadang terasa angkuh menyebalkan.
Bila ingin sekedar melihat protagonis doing cool, strong, smart stuff dibumbui misteri dan petualangan, dan diakhiri dengan mendapat harta yang bisa bikin lebih cool, strong, smart lagi, TOMB RAIDER KING mungkin bisa jadi pilihan.

Review Tomb Raider King Eps.1 2
Berita Anime & Manga
Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 2: Otak Di Atas Otot, Kemenangan Strategi Tanpa Cheat!
www.gwigwi.com – Banyak anime fantasi memulai cerita dengan tokoh utama yang dibuang karena dianggap tidak berguna. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System mengambil pendekatan yang sedikit berbeda. Masalah Elymas bukan karena ia lemah, melainkan karena semua orang terlalu cepat menyimpulkan nilai seseorang hanya dari label kelas yang ia terima. Gelar Heavy Knight dianggap sebagai jalan buntu, sementara Swordmaster diperlakukan seperti satu-satunya masa depan yang layak. Keputusan ayahnya mengusir Elymas dan mengangkat adik tirinya dari cabang keluarga sebagai pewaris terasa lebih sebagai cerminan obsesi terhadap status daripada keputusan yang benar-benar rasional.
Yang menarik, Elymas tidak menghabiskan waktunya untuk meratapi nasib atau berteriak ingin balas dendam. Ia justru melihat pengasingan itu sebagai kesempatan memulai hidup tanpa ekspektasi keluarganya. Berbekal pengetahuan tentang mekanisme dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah membaca seluruh buku panduan, setiap keputusan yang diambil terasa penuh perhitungan. Kekuatan utama anime ini bukan aksi besar pada dua episode pertama, melainkan kepuasan melihat seseorang perlahan membalikkan stigma dengan logika, pengalaman, dan strategi.
Dari sisi produksi, GoHands kembali mempertahankan identitas visualnya. Desain karakter terlihat bersih dengan pencahayaan yang kaya, sementara latar memiliki detail yang membuat dunia fantasinya terasa hidup. Sayangnya, gaya penyutradaraan mereka masih sulit diabaikan. Kamera terus bergerak, melakukan panning, zoom in, dan zoom out bahkan ketika adegannya hanya percakapan sederhana. Ada momen ketika pergerakan kamera justru lebih aktif daripada karakter yang sedang berbicara. Bagi sebagian penonton ini menjadi ciri khas, tetapi bagi yang lain justru terasa mengalihkan perhatian dari cerita.
Dua episode pembuka ini belum menawarkan kejutan besar, tetapi berhasil menanam rasa penasaran. Anime ini tidak mencoba meyakinkan penonton bahwa Heavy Knight adalah kelas terkuat. Sebaliknya, ia mengajak penonton mempertanyakan apakah sebuah sistem benar-benar salah, atau manusianya saja yang terlalu cepat memberi cap pada sesuatu yang belum dipahami. Pendekatan tersebut membuat perjalanan Elymas terasa lebih menarik daripada sekadar kisah “tokoh yang diremehkan lalu menjadi overpowered.”
Nilai: 8,5/10. Premisnya memang familier, tetapi cara membangun karakter utama dan tema tentang prasangka terhadap potensi seseorang membuat serial ini memiliki identitas yang cukup kuat. Jika GoHands sedikit mengurangi “kamera yang hiperaktif”, pengalaman menontonnya akan terasa jauh lebih nyaman.

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2
Berita Anime & Manga
Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas yang Ternyata Overpowered!
www.gwigwi.com – Anime fantasi dengan tema tokoh utama yang diusir keluarganya memang bukan hal baru. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System (Tsuihou sareta Tensei Juukishi wa Game Chishiki de Musou suru) menghadirkan konflik yang cukup menarik sejak episode pertamanya. Elymas, putra keluarga bangsawan Edvaughn, dianggap gagal memenuhi harapan karena memperoleh kelas Heavy Knight, kelas yang dipandang tidak memiliki masa depan dibandingkan Swordmaster. Pandangan sempit tersebut membuat ayahnya mengambil keputusan yang sangat drastis.
Situasi semakin rumit ketika Malice, adik tiri Elymas yang berasal dari cabang keluarga, memperoleh kelas Swordmaster. Berbekal status tersebut, Malice dengan cepat menggantikan posisi Elymas sebagai pewaris resmi keluarga Edvaughn. Kudeta terhadap hak waris itu berlangsung tanpa banyak perlawanan karena seluruh keluarga lebih memilih mengejar prestise daripada menilai kemampuan seseorang secara objektif. Adegan ini menjadi fondasi konflik utama serial, sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah label mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.
Menariknya, Elymas tidak tenggelam dalam amarah atau sibuk merencanakan balas dendam. Ia menerima pengasingannya sebagai awal kehidupan baru. Berkat pengetahuannya mengenai sistem dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah menguasai seluruh mekanisme permainan, Elymas menyadari bahwa Heavy Knight bukanlah kelas yang seburuk anggapan banyak orang. Cara berpikirnya yang tenang dan penuh perhitungan membuat tokoh utama terasa berbeda dibanding protagonis fantasi pada umumnya yang sering mengandalkan ledakan emosi.
Dari sisi visual, GoHands kembali mempertahankan ciri khasnya. Desain karakter terlihat tajam dengan efek pencahayaan yang kaya, sementara latar dunia fantasinya memiliki detail yang memanjakan mata. Sayangnya, gaya sinematografi mereka masih menjadi pedang bermata dua. Kamera terus bergerak dengan panning, zoom, dan perubahan sudut yang cukup agresif, bahkan saat adegan dialog berlangsung. Bagi sebagian penonton hal ini memberikan kesan dinamis, tetapi tidak sedikit yang justru merasa pergerakannya terlalu berlebihan sehingga mengalihkan fokus dari percakapan para karakter.
Sebagai episode pembuka, anime ini berhasil memperkenalkan dunia, sistem kelas, serta konflik keluarga yang menjadi pemicu perjalanan Elymas. Alih-alih hanya menyajikan kisah tokoh yang diremehkan lalu menjadi sangat kuat, episode pertama lebih menekankan bagaimana prasangka dan obsesi terhadap status dapat membuat seseorang kehilangan haknya. Itulah yang membuat perjalanan Elymas terasa layak untuk terus diikuti.
Nilai: 8,5/10. Episode pertama berhasil membangun konflik dengan baik dan memperkenalkan karakter utama yang cerdas serta tenang. Jika GoHands sedikit mengurangi pergerakan kameranya yang terlalu aktif, pengalaman menonton akan terasa lebih nyaman tanpa mengurangi kualitas visual yang memang menjadi kekuatan mereka.
-
Box Office4 weeks agoReview Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli dari Vietnam
-
Laptop3 weeks agoHP EliteBook 8 G1i 14 AI: Tangguh untuk Bisnis, Siap Gaming Ringan
-
Box Office2 weeks agoReview The Death of Robin Hood, Akhir Tragis Sang Legenda
-
Serial Anime1 week agoReview Clevatess Season 2 Episode 1: Misi Rahasia Klen dan Alicia Dimulai, Visual Makin Manjakan Mata!
-
TV & Movies1 week agoREVIEW FILM MOANA (2026), Keindahan Visual Kepulauan Pasifik
-
TV & Movies1 week agoReview Film Love Barista, Megabintang yang Terdampar
-
News1 week agoAnime Festival Asia Rayakan Edisi ke-10 di Indonesia!
-
Gaming1 week agoAkhirnya Rilis! Wuthering Waves Versi 3.5 Hadirkan Region Baru dan Resmi Tuju Xbox!







