Fukushika Taro: Tidak perlu pintar berbahasa Jepang untuk belajar Shodo

GwiGwi.com – Shodo (書道) adalah seni kaligrafi tradisional Jepang yang sudah ada lama sekali di Jepang, biasanya Shodo menggunakan kuas dan tinta khusus. Pada Ennichisai 2017 kali ini seorang Shodo-ka (seorang seniman Shodo) terkenal, Fukushika Taro datang untuk mempertunjukan Shodo kepada pengunjung acara tahunan ini.

Fukushika Taro (FT) dibesarkan di Taiwan, kemudian pindah ke Kobe sebagai pekerja sosial. Selama bertugas, ia bertemu dengan seorang pasien kanker stadium akhir. Ia berpikir ‘apa’ yang bisa ia lakukan untuk membuat pasien tersebut senang, dan kemudian mengenal seni ‘kuas dan tinta.’

Meskipun beliau tidak pernah melakukan kaligrafi Jepang sebelumnya, beliau tidak menyerah dan pasien tersebut sangat senang hingga meneteskan air mata. Disaat bersamaan, ia pun tergerak untuk mencintai seni Shodo.  Setelah itu, ia melakukan performance jalanan dimana beliau “menuliskan kata-kata yang terinspirasi dari anda”. Ia juga melakukan performance di acara penerbitan buku, pembukaan kafe, bahkan muncul di film.

Bermula dari performance jalanan tersebut, ia mulai dikenal di seluruh penjuru jepang. Sekarang ia melebarkan sayapnya di kancah internasional. Saat ini beliau menjadi representatif dari perusahaan shodo yang ia dirikan sendiri. Aktivitasnya berfokus pada event nasional maupun internasional berupa pameran tunggal, workshop shodo, mural paintings, serta kelas seminar shodo.

GwiGwi diberi kesempatan lebih dekat dengan Fukushika Taro dan Shodo itu sendiri, melalui konferensi pers singkat, simak hasil perbincangan kami.

 Kenapa memilih Shodo yang merupakan seni traditional di jaman modern ini?  Tujuan awal Fukushika Taro adalah untuk menyenangkan seseorang pasien kanker apakah tujuannya masih sama sampai sekarang? Apakah ada tujuan lain dari pengembangan seni Shodo?

Dalam sejarah pada awalnya shodo adalah alat untuk menyampaikan informasi, lalu pada perkembangannya Shodo menjadi sebuah seni. Dengan perkembangan komputer yang semakin maju jumlah orang yang melakukan Shodo semakin berkurang. Walaupun sebenarnya Shodo ini adalah tradisi seni Jepang namun jumlah orang yang melakukannya semakin sedikit. Walaupun yang melakukan Shodo sedikit tapi semua orang Jepang suka dengan Shodo.

Di Jepang ada ungkapan “tulisan menggambarkan seseorang”, jadi dengan melihat tulisan si penulis kita bisa melihat sifat dari si penulis. Misalnya apakah si penulis pemarah atau orang yang lemah-lembut sifat-sifat itu terlihat dari tulisan si penulis.

 Apa satu huruf kanji yang mewakili keberadaan FT?

Au (Bertemu, pertemuan – 逢う, 出逢う), Karir saya dimulai dengan melakukan pertunjukan Shodo di pinggir jalan dekat stasiun kereta, lalu di situ saya bertemu dengan banyak orang-orang. Ada yang meminta saya untuk menulis papan nama toko, meminta saya untuk berbicara di radio, muncul di TV show, jadi karir saya selama ini penuh dengan pertemuan dengan banyak orang.

 Akhir-akhir ini saya sering melihat banyak seniman Jepang yang menggabungkan seni Tradisional dan Modern, mengapa FT tetap berpegang teguh pada seni Tradisional?

Awalnya saya suka menggambar, menggambar manga. Sebenarnya saya memulai Shodo karena disuruh oleh orang tua saya. Saat kecil saya tidak terlalu suka latihan Shodo karena guru Shodo saya sangat galak, kalau saya salah biasanya saya dipukul dengan bambu, karena hal itu saya sempat berhenti menulis Shodo.

Saat saya dewasa dan bekerja saya bertemu dengan seseorang yang menderita kanker parah, untuk menghibur si pasien tersebut saya memilih menulis Shodo. Sebenarnya saya memilih Shodo Karena di rumah sakit saat itu hanya ada Kuas, Tinta dan Kertas.

 Huruf Kanji apa yang ditulis hari ini? Dan bagaimana kesan FT melihat penggunjung Ennichisai hari ini?

Huruf yang saya tulis hari ini saya putuskan hari ini saat melihat penggunjung hari ini. Saya melihat para pengunjung saya merasa bahwa apa yang saya lakukan selama ini adalah “Isshou Kenmei” (Berusaha Sekuat Tenaga一生懸命) dan saya melihat ada tulisan 一書懸命 di tempat acara, maka huruf kanji yang saya tulis hari ini adalah 一書懸命 (Issho kenmei) yang memiliki arti menulis (dalam hal ini Shodo) setiap hurup dengan sungguh-sungguh.

 Bagaimana FT mempromosikan Shodo kepada orang Indonesia?

Saya melihat orang Indonesia menyukai Kanji, saya pernah melihat ada pekerja yang sedang membuat Rumah menggunakan T-shirt dengan gambar kanji rumah. Kanji itu menarik ada banyak cara baca untuk satu kanji. Jadi saya ingin mempromosikan ke masyarakat Indoensia bahwa Kanji itu cool, keren !.

 Apa makna Shodo bagi FT dalam kehidupan sehari-hari?

Saya seorang ayah, mempunyai istri dan anak, setiap pagi saya selalu mengucapkan “Selamat pagi, tetap semangat yah hari ini”. Bagi saya Shodo adalah salah satu alat komunikasi untuk menyampaikan pesan kepada seseorang yang penting bagi saya. Menngutarakan isi hati dengan ucapan dan surat adalah hal yang berbeda, atau kalau sekarang misalnya dengan mengirimkan pesan melalui Line. Terkadang kalau saya teringat akan seseorang yang penting bagi saya, saya akan menulis Shodo di atas kertas, memfotonya dengan HP lalu mengirimkan foto Shodo itu kepada orang tersebut. Jadi bagi saya Shodo adalah alat untuk menyampaikan pesan kepada orang yang penting bagi saya,

 Untuk orang Indonesia yang belum bisa bahasa Jepang, apakah bisa belajar Shodo? Ataukah bisa menulis Shodo dengan huruf Alphabet?

Untuk belajar Shodo tidak perlu belajar bahasa jepang terlebih dahulu, Shodo bisa digabungkan dengan huruf khas dari tiap Negara, misalnya di Bali ada kesenian menulis di daun kelapa mungkin itu bisa digabungkan dengan Shodo. Mungkin ada Shodo-ka di Jepang yang masih kolot yang berpikiran kalau bukan Bahasa Jepang berarti bukan Shodo, tapi bagi saya menulis Shodo dengan menggunakan Alphabet, Hangul, bahasa Indonesia itu juga Shodo, saya sendiri beberapa hari yang lalu saat memberikan kuliah di sebuah universitas menulis “Terima Kasih”.

 Bagaimana kesannya datang ke Ennichisai dan apa harapannya?

Tolong panggil saya lagi yah~ Ennichisai ini sangat menyenangkan, di Jepang sendiri acara matsuri seperti Ennichisai ini sudah menjadi jarang. Ingatan saya mengenai matsuri adalah saat masih kecil saya diajak orang tua untuk datang matsuri, bermain tembak-tembakan dan permainan lainya di Matsuri, Jadi menurut saya Matsuri itu penting sebagai ajang untuk keluarga berkumpul bersama antara anak dan orang tua.