TV & Movies
Film Kupeluk Kamu Selamanya Merilis Official Trailer & Poster
www.gwigwi.com – Kuy Studios dan Aktina Film mempersembahkan film drama keluarga terbaru berjudul Kupeluk Kamu Selamanya yang dibintangi Hana Malasan, Ibnu Jamil, dan Fanny Ghassani. Dalam official trailer yang dirilis, Hana Malasan memerankan Naya, seorang Ibu tunggal yang berjuang sepenuh tenaga untuk anaknya, Aksa (Jared Ali). Di tengah itu, Bagaskara (Ibnu Jamil), Ayah Aksa, berupaya untuk memperebutkan hak asuhnya.

Film Kupeluk Kamu Selamanya Merilis Official Trailer & Poster
Di antara dinamika ‘perebutan’ hak asuh anak antara Naya dan Bagaskara, keduanya juga tetap berusaha selalu hadir untuk Aksa yang harus berjuang dengan kondisi penyakitnya. Bagaimana Naya dan Bagaskara menyingkirkan ego mereka dan tetap menjadi orangtua yang baik untuk Aksa, seperti sebuah cinta yang tanpa syarat? Sementara itu, official poster Kupeluk Kamu Selamanya merefleksikan judul film ini, yang memperlihatkan sebuah pelukan hangat yang berarti. Sebuah pesan bahwa seorang Ibu juga boleh memperlihatkan kerapuhannya, dan membutuhkan dukungan sesama Ibu.
Kupeluk Kamu Selamanya menjadi film layar lebar perdana Kuy Studios, diproduseri oleh Dara Dwitanti dan aktris Dinda Hauw, sekaligus menjadi debut Dinda sebagai produser. Film ini disutradarai oleh Pritagita Arianegara. Film ini juga menjadi kolaborasi perdana Sean Gelael dan Angga Dwimas Sasongko sebagai produser eksekutif.
Selain Hana, Ibnu Jamil, dan Jared Ali, film ini dibintangi oleh Fanny Ghassani, Nissy Meinard, Iyas Lawrence, Vonny Anggraini, Mario Irwinsyah, Yurike Prastika, dan Leroy Osmani. “Film Kupeluk Kamu Selamanya sangat relevan dengan situasi yang juga banyak dihadapi oleh para Ibu tunggal dalam mengorbankan segalanya demi anaknya. Film ini juga ingin berbicara bagaimana anak juga terkadang bisa menjadi korban dari ego orang dewasa, dan ingin menjadi refleksi bagaimana peran orangtua memberikan cinta yang besar untuk anak,” ujar produser Dinda Hauw.
Bagi sutradara Pritagita Arianegara, Kupeluk Kamu Selamanya juga berbicara tentang kehilangan dan kenangan. Prita sendiri merupakan sutradara yang kerap melahirkan karya-karya dengan benang merah tema relasi ibu dan anak.“Ketika menyutradarai film ini, saya sangat takjub dengan aktor cilik Jared Ali, bagaimana dia bisa membuat lawan mainnya, para aktor dewasa bisa menyampaikan situasi yang dihadapi. Bagi saya, itu berat, namun dia berhasil, dan film ini akan sangat emosional untuk penonton,” kata sutradara Pritagita Arianegara.

Film Kupeluk Kamu Selamanya Merilis Official Trailer & Poster
Hana Malasan, yang untuk pertama kalinya memerankan karakter Ibu tunggal dalam sebuah genre drama, memiliki tantangan baru. Sebelumnya, Hana lebih banyak dikenal dalam film-film genre seperti aksi hingga horor.
Hana menilai, untuk pertama kalinya ia menghadapi situasi ketika tantangan mental dalam berakting, dan merasa lebih berat bila dibanding ia harus beradegan aksi pada film-filmnya yang lain. “Aku sendiri memang belum menjadi Ibu. Tapi aku besar di lingkungan para Ibu, dan aku juga dibesarkan oleh seorang Ibu. Jadi untuk referensi peran Naya di film ini, bisa kutemui di mana-mana, salah satunya Ibuku sendiri.
Sebenarnya rasanya, kuatnya perjuangan seorang Ibu, dan bagaimana terkadang Ibu itu selalu dituntut untuk sempurna, bahkan mungkin oleh diriku sendiri ketika aku kecil,” ujar Hana Malasan.
“Sepertinya Ibu akan selalu mau menjadi yang sempurna di mata anak. Mau seberapa susah pun situasinya, pasti akan berusaha sebegitunya, terutama untuk anaknya. Dan itu juga memang yang aku rasakan saat memerankan Naya di film Kupeluk Kamu Selamanya,” lanjut Hana.
Ibnu Jamil, yang menjadi Bagaskara di film ini, seorang Ayah yang harus berpisah dengan anaknya, menuturkan film Kupeluk Kamu Selamanya berupaya memotret realita kehidupan. Ia pun mengungkapkan, setelah menonton film ini penonton bisa semakin tumbuh empati terhadaap apa yang dilalui oleh orang lain.
“Film ini tidak berusaha untuk menghakimi siapa pun. Di sini tidak ada karakter antagonis. Ini adalah potret kehidupan di mana situasinya tidak berpihak kepada karakter tersebut, bukan orangnya yang jahat. Saya berharap setelah menonton film ini penonton bisa lebih berempati dengan orang terdekat, jangan egois namun bisa lebih berempati,” tutur Ibnu Jamil.
#CintaTanpaSyarat Kupeluk Kamu Selamanya 30 April 2026 di bioskop Indonesia.
TV & Movies
Reveiw Film Evil Dead Burn, Burn or Burned
www.gwigwi.com – Evil Dead kali ini membara! Film ke 6 di franchise horor ini kini mengusung judul EVIL DEAD BURN! Apakah apinya bisa membawa teror yang berbeda, unik dan lebih berbobot? Alice (Souheila Yacoub) kehilangan suaminya Will (George Pullar) akibat kecelakaan. Memaksanya untuk bertemu ibu dan bapak mertuanya; Susan (Tandi Wright) dan Edgar (Erroll Shand) Juga si nenek yang sudah pikun, Polly (Maude Davey). Keluarga ipar yang tidak menyukainya.

Reveiw Film Evil Dead Burn, Burn Or Burned
Keadaan intens itu meledak begitu Edgar menggila dan membuat Alice menyadari, kekuatan jahat lain yang memanfaatkan keluarga itu dan berniat menghabisi mereka semua.
Sedari awal editing smash cut yang agresif begitu membantu menaikkan tensi dan membangun suspense dari sekedar memperlihatkan kipas mesin kapal berputar saja (“apakah akan digunakan untuk memotong orang? Hah!”).
Mampu memanaskan ketegangan hingga mendidih juga seperti adegan makan keluarga yang canggung sampai meletup.
Efek-efek praktikal gore pun terasa berkelas; Gorokan perlahan di leher, penyandar kepala kursi mobil ditusukkan ke leher dan kepala bahkan wajah yang dihancurkan sampai tak bersisa.

Reveiw Film Evil Dead Burn, Burn Or Burned
Semua dilakukan tanpa membuat eksploitatif menjijikkan dan cukup membuat ngeri. Didukung seram mumpuni oleh para aktor
Usaha bertahan hidup para korban dan muatan emosi yang melatarbelakangi nasib tragisnya memang digarap serius, namun EVIL DEAD BURNS seperti kurang memaku identitas uniknya sendiri yang menonjolkannya dari film-film EVIL DEAD lain.
Kontras dramatis antara Alice yang ingin mengontrol hidupnya sendiri dan Susan yang mengorbankan segalanya demi keluarga, meskipun satu persatu mulai kesurupan memang menarik.
Namun, rasanya been there done that nan by the book tanpa punya treatment dan resolusi yang menonjol beda dibanding horor lain.

Reveiw Film Evil Dead Burn, Burn Or Burned
Walhasil, EVIL DEAD BURN mengandalkan body horor yang bahkan untuk ranah film horor Indonesia juga sudah banyak bermain menggila buat gore stuff.
Maka agak sulit melihat tempat untuk EVIL DEAD BURN di mana franchise inilah yang barangkali mempopulerkan body horror dulu tetapi sekarang tampaknya butuh appeal lain untuk membara terbakar, bukan malah gosong sendiri.
Mungkin ke depannya kembali dengan balutan komedi konyol dan penampilan kharistmatik ala Bruce Campbell? They do need some sugar….
TV & Movies
Claresta Taufan, Stefan William, Aliando Syarief hingga Anjasmara Bintangi Original Series Terbaru iQIYI Indonesia Bunga di Tepi Jurang
www.gwigwi.com –
Setelah sebelumnya hadir dengan genre misteri lewat Bercinta Dengan Maut, kali ini iQIYI Indonesia memperkenalkan original series drama terbarunya, Bunga di Tepi Jurang. Series ini menandai babak baru perjalanan iQIYI Indonesia dalam menghadirkan tontonan original yang menggugah emosi.
Melalui teaser perdana yang dirilis hari ini, iQIYI Indonesia memperkenalkan kisah Andini sebagai karakter utama. Cerita ini hadir dengan lapisan konflik yang lebih kompleks, didukung jajaran bintang papan atas di industri hiburan Indonesia serta kejutan penampilan cameo yang sontak memicu spekulasi dan antusiasme di media sosial.
Produksi ini merupakan hasil kolaborasi iQIYI Indonesia dengan Leo Pictures, di bawah arahan sutradara Angling Sagaran. Bunga di Tepi Jurang didukung oleh jajaran aktris dan aktor terkemuka Indonesia, termasuk Claresta Taufan, Stefan William, Aliando Syarief, dan Derby Romero. Selain deretan pemeran utama, series ini juga menampilkan aktor legendaris Anjasmara, aktor muda yang sedang naik daun Raden Rakha, serta artis asal Thailand, Moshlong.
“Bunga di Tepi Jurang adalah kelanjutan komitmen kami untuk terus memperkaya cerita yang telah kami bangun sejak Bercinta Dengan Maut. Dengan membawa cerita ini, kami ingin memberikan pengalaman yang lebih dalam dan lebih personal bagi penonton, sekaligus menegaskan komitmen iQIYI Indonesia dalam menghadirkan drama original berkualitas tinggi,” ujar Dinesh Ratnam, Senior Managing Director for SEA di iQIYI.
Bunga di Tepi Jurang dirancang untuk mempertahankan esensi drama penuh ketegangan dan emosi yang menjadi ciri khas produksi original iQIYI Indonesia, sekaligus memperluas jangkauan cerita dengan konflik-konflik baru yang lebih intens.
Perjalanan Andini Dalam Menentukan Takdirnya
Bunga di Tepi Jurang membawa penonton menyusuri sebuah masa dalam hidup Andini ketika ia harus menghadapi konsekuensi dari pilihan-pilihan masa lalu sekaligus mempertaruhkan segalanya demi mempertahankan apa yang paling berharga baginya.
Judul Bunga di Tepi Jurang sendiri menjadi metafora perjalanan Andini sebagai sosok yang tetap berusaha tumbuh dan mempertahankan jati dirinya, meski berdiri di titik paling rentan dalam hidupnya. Sepanjang cerita, penonton akan diajak mengikuti bagaimana Andini menghadapi tekanan dari berbagai arah, mulai dari keluarga, karier, hingga percintaan, sambil perlahan menemukan kekuatan untuk menentukan arah hidupnya sendiri.
Setiap karakter yang hadir membawa dinamika baru dalam kehidupan Andini, memperumit setiap keputusan yang diambil sekaligus menguji sejauh mana Andini mampu mempertahankan prinsip dan keyakinannya.
Komitmen iQIYI Indonesia Menghadirkan Cerita dari Sudut Pandang Perempuan
Melalui Bunga di Tepi Jurang, iQIYI Indonesia kembali mengangkat kisah dari sudut pandang perempuan. Berbeda dari narasi konvensional yang kerap menempatkan tokoh perempuan sebagai korban keadaan, karakter Andini dihadirkan sebagai sosok yang aktif mengambil keputusan, berjuang menghadapi tekanan, dan menemukan kekuatannya sendiri di tengah berbagai tekanan yang dihadapinya.
Pendekatan ini sejalan dengan visi iQIYI Indonesia untuk terus memproduksi cerita lokal yang tidak hanya menghibur, tetapi juga relevan dengan realitas tantangan perempuan Indonesia masa kini, mulai dari relasi, tekanan sosial, hingga proses menemukan jati diri di tengah keterbatasan pilihan.
“Memerankan Andini jadi tantangan tersendiri karena karakternya bertransformasi sepanjang 12 episode. Aku banyak belajar dari sosok Andini yang optimis, sayang keluarga, dan nggak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita. Menurut aku, Bunga di Tepi Jurang wajib banget ditonton karena menceritakan perjalanan seorang perempuan yang berjuang mewujudkan cita-citanya” ucap Claresta Taufan, pemeran Andini dalam Bunga di Tepi Jurang.
Dengan modal kesuksesan Bercinta Dengan Maut sebagai pondasi, Bunga di Tepi Jurang diharapkan mampu melanjutkan tren positif konten original iQIYI Indonesia sekaligus memperkuat posisi platform sebagai rumah bagi cerita-cerita lokal yang berani mengeksplorasi tema-tema kompleks dan penuh kejutan.
“Kami percaya cerita lokal yang kuat lahir dari realitas yang dekat dengan kehidupan penonton. Bunga di Tepi Jurangmenjadi bagian dari upaya kami untuk terus menghadirkan produksi original yang relevan, berani, dan mampu memperkuat posisi iQIYI sebagai rumah bagi cerita-cerita Indonesia yang bermakna,” ungkap Ikhsan Sasmita, Head of Original Content iQIYI Indonesia.
TV & Movies
Review Film Love Barista, Megabintang yang Terdampar
www.gwigwi.com – Kang Jun-woo (Lee Kwang-soo), seorang megabintang asal Korea Selatan yang kariernya mulai terasa jenuh dan penuh tekanan.
Di tengah kekacauan jadwal dan perselisihan dengan manajernya saat syuting iklan di Vietnam, sebuah insiden impulsif membuatnya terpisah dan terdampar sendirian.
Sialnya, Jun-woo kehilangan segalanya: paspor, uang, bahkan reputasinya sebagai bintang besar tidak banyak menolong di sudut kota Vietnam.
Dalam kondisi luntang-lantung tersebut, takdir mempertemukannya dengan Thao (Hoàng Hà), seorang gadis lokal yang bercita-cita menjadi barista profesional.
Lewat berbagai kesalahpahaman kocak termasuk momen di mana Thao tidak sengaja merusak ponsel Jun-woo.

Review Film Love Barista, Megabintang Yang Terdampar
Thao akhirnya setuju memberikan tumpangan tempat tinggal sementara bagi sang aktor. Dari sinilah hubungan benci-jadi-cinta yang mengocok perut sekaligus menyentuh hati dimulai.
Sutradara Kim Sung-hoon memanfaatkan persona asli Kwang-soo yang kita kenal di Variety Show Running Man.
Karakter Jun-woo adalah perpaduan antara megabintang yang narsis, gengsian, namun sebenarnya berhati rapuh dan super apes.
Kwang-soo berhasil mengeksekusi komedi situasi fisik dengan sangat natural tanpa terasa berlebihan.
Meskipun terhalang batasan bahasa (Korea Selatan dan Vietnam), chemistry antara Lee Kwang-soo dan Hoàng Hà terasa sangat hidup.
Hoàng Hà tampil memikat sebagai Thao yang mandiri dan membumi, mengimbangi kelakuan ajaib karakter Kwang-soo.
Film ini tidak hanya menjual cerita romantis, tetapi juga menjadi “surat cinta” bagi keindahan lokal Vietnam. Kehangatan kedai kopi lokal, hiruk-pikuk jalanan, hingga sinematografi yang cerah membuat atmosfer rom-com di film ini terasa begitu hangat dan nyaman untuk dinikmati.

Review Film Love Barista, Megabintang Yang Terdampar
Bagi penonton yang mengharapkan plot twist berat atau dinamika cerita yang kompleks, Love Barista mungkin terasa sedikit klise.
Formula “bintang terkenal yang jatuh miskin lalu jatuh cinta dengan orang biasa” adalah kiasan (trope) yang sudah sangat sering digunakan dalam drama maupun film romantis.
Paruh akhir film yang melibatkan konflik skandal dan drama manajemen juga diselesaikan dengan cara yang cukup tertebak.
Secara keseluruhan, Love Barista adalah jenis film yang tidak menuntut Anda untuk berpikir keras.
Film ini sepenuhnya berhasil menyampaikan tujuannya: menghibur lewat tawa dan memberikan rasa hangat lewat romansa yang manis.
Kehadiran komedian Vietnam seperti Duy Khánh juga menambah warna komedi lokal yang segar.
Jika Anda merindukan akting kocak Lee Kwang-soo dalam balutan cerita yang menyentuh, film ini wajib masuk ke daftar tontonan akhir pekan kalian!
-
Box Office4 weeks agoReview Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli dari Vietnam
-
Laptop3 weeks agoHP EliteBook 8 G1i 14 AI: Tangguh untuk Bisnis, Siap Gaming Ringan
-
Box Office2 weeks agoReview The Death of Robin Hood, Akhir Tragis Sang Legenda
-
Serial Anime2 weeks agoReview Clevatess Season 2 Episode 1: Misi Rahasia Klen dan Alicia Dimulai, Visual Makin Manjakan Mata!
-
News2 weeks agoAnime Festival Asia Rayakan Edisi ke-10 di Indonesia!
-
TV & Movies2 weeks agoREVIEW FILM MOANA (2026), Keindahan Visual Kepulauan Pasifik
-
TV & Movies2 weeks agoReview Film Love Barista, Megabintang yang Terdampar
-
Gaming2 weeks agoAkhirnya Rilis! Wuthering Waves Versi 3.5 Hadirkan Region Baru dan Resmi Tuju Xbox!




