Connect with us

Cosplay

Eksklusif Interview: Tadaaki Jacky Dosai, yang Penting Lakukan Saja, Just Do It

Published

on

GwiGwi.com – Pada gelaran STGCC kemarin, tim GwiGwi mendapatkan kesempatan untuk duduk bersama Tadaaki Jacky Dosai, seorang cosplayer veteran dari Jepang. Jacky, yang sudah bergelut di dunia cosplay selama 21 tahun ini pun menjawab beberapa pertanyaan dari GwiGwi dan membagikan cerita mengenai berbagai pengalamannya selama ini

image024

 

Q: Selama 21 tahun menggeluti dunia cosplay, apa hal yang berubah waktu anda pertama kali cosplay dan saat ini?

A: Perasaan saat cosplay tetap sama, tapi ada dua hal besar yang telah berubah, dan semuanya karena Internet. Internet membuat berkomunikasi menjadi jauh lebih mudah, jadi ketika saya memulai cosplay, saya cosplay setiap minggu, dimana saya bertemu teman baru dan berinteraksi dengan mereka. Sekarang, karena internet, saya bisa berkomunikasi di mana saja, membuat kompetisi, dan lain-lain. Yang kedua, dulu sebagai cosplayer, saya pergi untuk cosplay di event-event tiap minggu. Sekarang, cosplayer bisa punya akun media sosial, profile, dan lainnya. Karena itu, orang bisa cosplay selama 24 jam 7 hari, dan itu identitasmu.

Q: Berapa kali anda berpikir untuk meninggalkan dunia cosplay, dan bagaimana cara untuk melewatinya?

A: Banyak, banyak sekali. Salah satunya, waktu itu saya pergi ke Anime Expo. Waktu itu adalah pertama kalinya tamu dari Jepang berpartisipasi di acara tersebut. Saya diperlakukan sangat baik, dan saya merasa kultur konvensi di Amerika sangat baik, saya sangat suka. Saya merasakan banyak perbedaan bagaimana cara orang Amerika dan Jepang dalam menikmati dan berpartisipasi di konvensi, dan saya ingin mengajari orang Jepang bagaimana cara Amerika menikmati dan turut serta di konvensi dan mendorong kultur itu ke Jepang. Oleh karena itu, saya mencoba banyak hal. Menulis ke majalah-majalah, melakukan interview, tapi tidak ada yang berhasil. Saya jadi berpikir ‘ah, usaha saya sia-sia,' dan pada saat itu, saya sudah berusia 28 tahun, dan itu masa di mana saya mulai memikirkan pernikahan dan hal-hal lainnya, jadi saya keluar dari bisnis cosplay dan bekerja di bidang web design. Sampai suatu hari, sewaktu saya menjadi produser, CEO di perusahaan saya memanggil saya ke kantornya, dan memperkenalkan saya ke temannya. Temannya itu adalah Head Editor dari majalah COSMODE, dan saya ditugaskan untuk membuat website untuk COSMODE. Pada akhirnya, saya kembali ke dunia cosplay lagi.

Q: Apa Jacky punya tips bagi mereka yang akan mencoba cosplay pertama kalinya?

A: Tidak ada. Bagi orang yang akan melakukan cosplay, butuh keberanian, Lakukan saja dan jangan peduli terhadap apapun yang terjadi. Tidak perlu bagus untuk pertama kalinya, yang penting lakukan saja. Just do it. Setelah melakukannya untuk pertama kali, duniamu akan berubah.

Q: Dulu, Jacky pernah menjadi perwakilan untuk Prayers from Cosplayers. Menurut Jacky, apa ada tujuan yang lebih tinggi (‘higher purpose'), atau dampak yang bisa diberikan oleh para cosplayer bagi dunia?

A: Saya sudah merepresentikan banyak event dan campaign selama ini, tapi saya hanya melakukan apa yang saya suka lakukan. image yang saya buat, dan dunia yang ingin saya buat adalah apa yang saya ingin lihat. Apa yang saya lakukan adalah usaha saya sendiri, saya mendukung dan didukung orang yang mempunyai visi yang sama, tapi yang penting semua yang saya lakukan berasal dari motivasi saya. Mungkin dunia berkata “Kamu seharusnya melakukan ini,” tapi itu bukan pekerjaan saya, jadi saya hanya melakukan apa yang saya suka.

Dari usia dan personality saya, saya melihat diri saya sendiri sebagai senior dan kakak bagi cosplayer lain di komunitas. Saya melihat mereka sama, dan saya ingin menciptakan dunia di mana mereka bisa berani bermimpi dan cosplay bebas. Saya bergelut di bisnis cosplay tidak untuk uangnya, tapi untuk menciptakan dunia bagi mereka. Terutama di negara Asia seperti Filipina dan Vietnam, saya ingin agar mereka bisa menikmati cosplay tanpa biaya yang besar.

Q: Bagaimana cara Jacky untuk menjaga bentuk tubuh? Beberapa karakter memiliki bodi yang kurang realistis, bagaimana anda membentuk tubuh untuk menyesuaikan diri dengan karakter tersebut?

A: Saya membutuhkan banyak waktu. Saya pernah cosplay sebagai satu karakter dengan kostum yang cukup ramping, sehingga saya diet selama satu tahun untuk menurunkan berat badan 17 kilogram.
*memperlihatkan gambar before-after*
Sebelum foto ini, saya lebih kurus, tapi karena saya harus cosplay dengan karakter yang banyak mengenakan kimono. Kalau bentuk tubuh tidak terlihat, tidak akan tampak menarik, jadi saya menggendutkan diri.
Shoot setelah itu adalah salah satu karakter dari Vagabond, di mana shootnya dilakukan di area sawah, dan untuk cosplay itu saya harus menurunkan berat badan kembali.

Q: Apa satu cosplay yang paling anda ingat, dan kenapa?

Saya sudah membuat banyak kostum, dan semuanya memberi memori tersendiri, tapi ada beberapa kostum yang memberi saya banyak pengalaman, membuat saya bertemu banyak orang, dan lainnya. Salah satunya adalah kostum dari Tiger & Bunny, karena kostum itu saya bisa bertemu dengan seiyuunya. Satu lagi dari Metal Gear Solid. Karena cosplay tersebut (Kazuhira Miller, red.) saya berteman dengan Tomokazu Sugita (seiyuu Kaz Miller, red.)
Saya tidak bisa menunjuk satu cosplay yang paling saya ingat. Intinya, kostum-kostum yang saya buat telah membuat saya bertemu banyak orang, dan itulah yang melekat di memori saya.

Baca Juga:  Ngintip Gudang Kostum Cosplayer Jepang Enako

Sejujurnya, kostum saya tergolong ‘polos’. Saya tidak menggunakan bahan yang menonjol, tidak banyak armor, dan salah satu alasannya adalah saya ingin memberi inspirasi bagi orang-orang yang tidak memiliki banyak uang untuk cosplay, menjadi contoh berjalan bahwa tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk mendapatkan hasil yang bagus. Saya ingin memberi tahu bahwa esensinya tidak datang dari bagaimana anda terlihat, tapi datang dari dalam diri anda.

Q: Saat memilih karakter untuk cosplay, apa yang menjadi pertimbangan anda untuk memilih?

A: Saya akan menonton, memainkan, atau membaca seriesnya, saya harus menyukainya terlebih dahulu. Lalu, saya akan berpikir apa yang bisa saya lakukan untuk series tersebut. Ketika ada cosplayer yang memerankan satu karakter, maka itu akan memberi seriesnya lifespan yang lebih panjang.di dalam komunitas. Salah satu contohnya adalah Macross Frontier, saya sangat suka Ranka, tapi sudah jelas saya tidak bisa cosplay sebagai Ranka. Jadi, yang bisa saya lakukan sebagai cosplayer adalah cosplay sebagai Ozma, dan mendukung semua orang yang cosplay sebagai Ranka. Selama cosplay, saya jarang sekali cosplay sebagai karakter utama, tetapi lebih sering sebagai karakter pendukung.

Q: Apa Jacky punya komentar terhadap TPP (Trans Pacific Partnership)?

A: Bagi saya, TPP dalam konteks Metal Gear Solid jauh lebih bermakna. *tertawa*
Sejujurnya, saya tidak punya pendapat apa-apa tentang isu itu, karena meskipun TPP akhirnya berlaku, dunia cosplay tidak akan berubah. Bahkan jika ada pengaruh yang dirasakan, dunia cosplay cukup menyesuaikan diri. Selama interaksi antara cosplayer dan penggemar tidak terganggu, saya tidak masalah.

Kalau harus berpendapat serius, saya senang bahwa akhirnya para kreator di Jepang bisa mendapatkan profit dari series mereka. Saya khawatir dengan mereka di negara yang memiliki banyak barang-barang ‘bootleg’, mereka akan semakin jauh dari rasa konten sebenarnya. Bagi mereka yang bergelut di bidang lisensi, sulit bagi mereka untuk menjual lisensi dengan harga murah ke negara-negara tersebut untuk menjual produk resmi, mereka juga kesulitan karena jarak dari negara tersebut ke Jepang sangat jauh. Hal itu tidak akan berubah.

Q: Anda sempat mengatakan bahwa anda sangat menyukai kultur Anime Expo dan ingin menyebarkannya ke Jepang. Apa perbedaan antara konvensi di Jepang dan Amerika?

A: Perbedaannya ada di cara fans menikmati konvensinya. Di Jepang, fans datang ke konvensi terus langsung pulang. Di Amerika, sangat sering bagi mereka untuk pergi ke konvensi selama dua sampai tiga hari, tinggal bersama di hotel, dan berinteraksi selama hari-hari konvensi. Saya suka aspek interaksinya. Sayangnya, event seperti Anime Expo sudah tumbuh terlalu besar, jadi eventnya terasa biasa saja dari tahun ke tahun. Saya suka event seperti SakuraCon di Seattle, dan meskipun saya belum pernah ke sana, saya mendengar banyak hal baik tentang Comic-Con (SDCC, red.) dan Dragoncon.

Di Jepang, setiap minggu ada kira-kira 10 event, semuanya diadakan dengan cara yang berbeda-beda. Semuanya sangat berbeda dan terpisah dalam caranya sendiri. Artinya, fans tidak terpusat pada satu tempat. Event di Jepang yang paling mendekati apa yang saya lihat di Amerika adalah World Cosplay Summit di Nagoya, karena terletak di tengah-tengah Jepang. Orang-orang dari berbagai daerah dapat mendatanginya dengan mudah. Di situ juga ada performance dari para cosplayer, sesuatu yang jarang di Jepang. Event tersebut adalah yang paling dekat dengan event ideal yang saya inginkan untuk ada di Jepang, tapi masih agak berbeda. Bagi para cosplayer di Jepang, yang mereka kejar adalah photoshoot yang baik, bukan penampilan di panggung, jadi masih ada perbedaan di situ.

Q: Apa bayangan anda tentang cosplay kedepannya, kira-kira 10 tahun mendatang? Apa perubahan yang akan terjadi dan apa yang anda inginkan untuk terjadi?

A: Dalam sepuluh tahun, feeling dari cosplay, interaksi antar cosplayer dan fans, dan saya berharap itu tidak akan berubah, tapi saya berharap di sisi pencipta konten untuk lebih mengapresiasi cosplay. Saya ingin agar lebih mudah bagi cosplayer untuk melakukan apa yang mereka cintai. Sekarang, sebagai cosplayer, bahkan para profesional tidak mendapatkan uang karena permasalahan lisensi, itu ilegal. Saya harap kedepannya ada sistem dimana, sebagai contoh, sebagian dari pemasukan tiket dibagikan ke perusahaan yang mengurus urusan lisensi dan cosplayer. Itu hal terbaik yang bisa saya pikirkan, tapi itu bukan pekerjaan saya.

Saya hanya ingin menunjukkan bagi para generasi cosplayer berikutnya bahwa mereka bisa mencapai hal-hal hebat di dunia ini, semuanya terserah mereka, saya ingin membukakan jalan untuk mereka. Saya juga akan berhenti cosplay karena faktor perubahan penampilan dan usia.

Selain dengan Jacky, akan ada artikel interview bersama TAMUSIC dan Yuyoyuppe, stay tuned!

Maaf Anda Melihat Iklan
Advertisement
Click to comment
0 0 votes
Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Cosplay

Ngintip Gudang Kostum Cosplayer Jepang Enako

Published

on

GwiGwi.com – Enako adalah cosplayer paling terkenal di Jepang saat ini — dan juga paling sukses.

Pada tahun 2019, dirinya menghasilkan $90.000 per bulan, meningkat sepuluh kali lipat dari tahun 2016. Dia adalah juru bicara untuk perusahaan anima dan game, dan juga menghasilkan yen dari streaming. Dia membuat penampilan yang sangat rutin di sampul majalah mingguan, meskipun tidak membebankan biaya pemodelan untuk ini, keputusan cerdas yang mendorong majalah untuk terus mempekerjakannya.

Sukses dan ketenaran berarti uang. Ini juga berarti banyak kostum.

Dalam kasus Enako, seluruh gudangnya penuh dengan kostum. Dia memiliki ratusan dan tidak seperti ide cosplay konvensional, cosplaynya kebanyakan adalah karakter original, jadi dia akan terkena masalah hak cipta untuk penampilan profesional/berbayarnya di acara atau di TV.

Baca Juga:  Ngintip Gudang Kostum Cosplayer Jepang Enako

Dalam penampilan TV baru-baru ini, seperti dilansir Kotaku, Enako memberikan tur ke gudang kostumnya, yang sangat tertata dengan baik dengan kotak-kotak berbeda yang ditunjuk oleh foto-foto isinya. Ratusan kostum juga termasuk wig dan alat peraga. Beberapa yang terakhir agak di sisi besar.

Klip berikut mencakup video dan beberapa cuplikan di balik layar dari pemotretan. Tur di dalam gudang dimulai sekitar pertengahan video.

Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Cosplay

Kreator Love Hina Keberatan Soal Peraturan Cosplay

Published

on

GwiGwi.com – Ken Akamatsu, pencipta Love Hina dan UQ Holder! keberatan pada topik peraturan cosplay baru yang dilaporkan sebelumnya pada akhir Januari. Peraturan sedang diperiksa oleh pemerintah Jepang untuk melindungi cosplayer dan pemegang hak cipta sebagaimana adanya tidak ada undang-undang yang saat ini diberlakukan untuk kedua belah pihak di era media sosial. Menteri Negara Jepang Shinji Inoue, telah menyatakan bahwa undang-undang baru ini untuk keuntungan semua orang dan sedang mendiskusikan rencana dengan pemegang IP dan cosplayer, termasuk Enako.

Akamatsu muncul di Abema News untuk berbicara tentang peraturan baru, melihat dari kedua sisi situasi. Sebagai seorang pencipta manga, yang juga merupakan direktur pelaksana Asosiasi Kartunis Jepang, dia dapat melihat masalah ini dari sudut pandang pencipta, tetapi juga dapat melihatnya dari sudut pandang cosplayer melalui istrinya. Kanon Akamatsu, yang merupakan cosplayer dan mantan idola profesional.

Pencipta Negima! mengatakan bahwa liputan media seputar masalah tersebut telah menyebabkan “kebingungan” dan bahwa “tidak seperti barang dagangan, cosplay tidak terlalu mengganggu keuntungan seniman manga, dan saya belum melihat pemegang hak yang menentangnya.” Solusi Akamatsu untuk masalah ini adalah untuk perusahaan untuk memposting pedoman mereka sendiri untuk cosplayer secara online, seperti yang dilakukan perusahaan game untuk video game streaming langsung, mengatakan “kami penulis, penerbit, dan studio animasi harus proaktif dalam menetapkan pedoman dan menciptakan ‘akal sehat' sehingga cosplay dapat dilindungi dan berkembang.”

Baca Juga:  Genshin Impact Meluncurkan Event di Pegunungan Alpen untuk Merayakan Ulang Tahun Pertama Perluasan Peta Dragonspine

Akamatsu percaya bahwa pemerintah Jepang, yang mengirim Perdana Menteri Shinzo Abe dengan cosplay Mario di Olimpiade Rio 2016, tidak ingin menetapkan batasan keras pada cosplay dan melihat industri ini menghilang, tetapi ingin maju ke depan hukum jika masalah tersebut muncul di pengadilan antara cosplayer dan pemegang hak cipta. Ini menggemakan apa yang Enako telah dikatakan dalam diskusinya dengan Inuoe.

 

Sumber: Crunchyroll

Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Cosplay

Anggota Parlemen Menjelaskan Implikasi Usulan Pedoman Hak Cipta atas Pendapatan Cosplay

Published

on

GwiGwi.com – Setelah diberitakan bahwa pemerintah Jepang sedang mempertimbangkan aturan yang akan memungkinkan pemegang hak cipta untuk mengaturnya cosplayer untuk penghasilan yang diperoleh dari cosplay Dalam kegiatan tersebut, anggota Dewan Penasihat, Tarō Yamada muncul di Abema News untuk menjelaskan implikasi dari potensial undang-undang terkait aktivitas cosplay.

(video tidak tersedia di Indonesia)

Yamada berkata, “Ada banyak orang yang mendengar berita ini yang mungkin merasa khawatir bahwa ini akan berimplikasi buruk bagi cosplay dan karya turunan. Paling tidak, saya, sebagai salah satu orang yang bertanggung jawab di Partai Demokrat Liberal, akan melakukan apa yang saya bisa untuk melindungi budaya penggemar, jadi saya berharap Anda bisa tenang.” Dia juga menekankan bahwa tidak ada aturan yang akan diputuskan tanpa konsultasi dengan anggota partai, termasuk dirinya sendiri.

Yamada melanjutkan untuk mengklarifikasi undang-undang hak cipta yang saat ini ada di Jepang. “Pertama-tama, orang umum salah paham tentang hal ini, tetapi apakah itu komersial atau non-komersial tidak ada kaitannya dengan hak cipta. Hak cipta hanyalah pernyataan dari apa yang kami sebut hak kepribadian. Di sisi lain, apa yang berkaitan dengan masalah karya turunan Begitulah cara kreator mengumpulkan uang di era reproduksi massal melalui internet. Ada aspek sistem hukum saat ini yang tidak sejalan dengan era digital.

“Jika Anda membuat topeng di Kamen Rider saat mereka muncul dalam serial dan menjualnya, ada preseden hukum untuk menganggapnya ilegal, tetapi bersifat pribadi cosplay dengan sendirinya tidak akan dituduh melanggar hak cipta. Kalau memang seperti itu, pola pakaian yang dikenakan Tanjiro Demon Slayer, yang memiliki nilai kegunaan umum, maka tidak akan ada hak cipta yang melekat padanya. Namun, jika Anda mengambil benda-benda seperti pedang dan ikat pinggang dan membuatnya terlihat persis seperti foto karya pengarang, maka ada kemungkinan dapat dituduh melanggar hak cipta. Kombinasi hal-hal inilah yang membuat masalah menjadi sangat sulit dibedakan. ”

Yamada membahas skandal Maricar dalam konteks ini. “Mereka mengambil kostum resmi Mario dan meminjamkannya secara gratis, yang merupakan pelanggaran hak peminjaman. Selanjutnya, mereka mengunggah foto dan video online untuk tujuan promosi, yang juga merupakan pelanggaran hak transmisi publik. Namun, Pengadilan Tinggi Kekayaan Intelektual tidak membuat keputusan apakah itu pelanggaran hak cipta. Sebaliknya, mereka memutuskan bahwa hal itu melanggar hukum berdasarkan Undang-Undang Pencegahan Persaingan Tidak Sehat – dengan kata lain, bahwa tindakan tersebut mengganggu bisnis Nintendo. Saya curiga bahwa Pengadilan Tinggi Kekayaan Intelektual sekalipun tidak dapat mengambil keputusan karena masalah hak cipta adalah masalah politik yang sangat sulit. Bahkan pengadilan merasa sulit untuk membuat keputusan seperti itu. ”

Saat populer cosplayer Haru Tachibana bertanya tentang perbedaan antara menjual photobook vs memposting di media sosial, dia sekali lagi menunjukkan bahwa itu bukan masalah yang jelas dari perspektif hukum. “Jika Anda cosplay termasuk hal-hal yang diakui hak cipta dan Anda memposting foto-fotonya di Twitter tanpa mendapat izin dari pemilik kekayaan intelektual, maka ada kemungkinan hal tersebut dapat dianggap sebagai pelanggaran hak transmisi publik. Selain itu, meskipun Anda mendapat izin untuk memposting gambar di Twitter, tindakan me-retweet atau menyebarkannya juga berpotensi dianggap sebagai pelanggaran hak transmisi publik. Pada saat yang sama, jika wajah Anda atau bagian lain yang mudah dibedakan dari diri Anda disebarkan secara sembarangan, maka ada kemungkinan hal tersebut merupakan pelanggaran terhadap hak penggunaan gambar Anda.

Baca Juga:  Ngintip Gudang Kostum Cosplayer Jepang Enako

“Ini adalah topik yang sangat tidak bisa dipahami, tapi ini bukan hanya masalah cosplayer sendiri melanggar hak cipta, tetapi juga masalah tentang apa yang terjadi dalam kasus distribusi yang tidak tepat. Selain itu, jika pemilik hak mengatakan tidak apa-apa untuk menggunakan karyanya, tetapi kemudian memutuskan ingin mengenakan biaya untuk itu, kapan itu terjadi? Di dalam partai, ada diskusi tentang perlunya membuat aturan untuk aspek-aspek itu juga. ”

Pemerintah Jepang mempersepsikan cosplay sebagai aspek berharga dari budaya Jepang. Tahun lalu, profesional cosplayer Enako diangkat sebagai duta Cool Japan. Pemerintah saat ini sedang mencari pendapat dari pemegang hak cipta dan cosplayer seperti Enako, tetapi belum ada undang-undang yang diusulkan.

“Dalam sistem hukum Jepang saat ini, pelanggaran hak cipta adalah jenis kejahatan yang membutuhkan pengaduan resmi dari korban untuk dituntut, jadi bisa dibilang Jepang cukup permisif menurut standar global. Bisa dikatakan, karena kita tidak punya undang-undang untuk aspek-aspek seperti streaming online, ada celah dan zona abu-abu. Itulah yang saya yakin Menteri Inoue bicarakan. Sistem hukum kita saat ini didasarkan pada fakta bahwa hak kepemilikan kreatif ada sebagai hak di bawah hukum kodrat bahkan tanpa menempatkan masing-masing dan setiap aspek menjadi tulisan yang jelas.Namun, Jepang adalah bagian dari Konvensi Berne, yang didirikan pada tahun 1800-an, jadi faktanya adalah bahwa kecuali negara-negara lain yang menjadi bagian dari perjanjian memberikan persetujuan mereka, maka negara ini tidak bisa menjadi satu-satunya yang berubah.

“Dengan keadaan seperti itu, maka bagi negara kita menjadi masalah memastikan bahwa karya kreatif diedarkan dengan cara yang tepat, dan termasuk karya turunan juga. Secara umum, pencipta lebih senang melihat karya itu diedarkan daripada tidak, dan kami juga ingin melihat mereka mendapatkan keuntungan darinya. Namun, jika kami meminta setiap orang untuk mendapatkan persetujuan individu, itu akan menimbulkan pertanyaan tentang siapa yang akan menjadi orang yang tepat untuk diajak bicara, dan jika kami berkelompok semua izin di bawah satu sistem, itu akan memulai perdebatan tentang bagaimana membagi perbedaan, seperti dalam kasus Masyarakat Jepang untuk Hak Pengarang, Penggubah dan Penerbit (JASRAC). Itu juga merupakan masalah yang agak sulit. ”

Saat ini, cosplayer dapat memperoleh penghasilan dari cosplaying melalui metode seperti langganan atau layanan keanggotaan, kompensasi untuk penampilan di acara seperti konvensi, atau menjual kostum mereka. Pertanyaan apakah cosplay melanggar undang-undang hak cipta dengan melanggar hak reproduksi atau adaptasi telah menjadi pembahasan oleh banyak orang di dalam dan di luar cosplay komunitas selama bertahun-tahun.

Seorang anggota Kantor Kabinet yang menangani strategi kekayaan intelektual mengatakan kepada outlet berita J-Cast bahwa pemerintah membidik aturan yang akan menciptakan “lingkungan di mana orang dapat berpartisipasi di dalamnya. cosplay dengan ketenangan pikiran.” Mereka mengklaim tidak ingin membatasi aktivitas penggemar, dan berusaha untuk membuat aturan yang “dapat diterima semua orang.”

Menteri Inoue berkata di konferensi pers strategi Cool Japan pada hari Jumat bahwa dia sedang memikirkan untuk menetapkan rencana dalam tahun fiskal, yang berakhir pada 31 Maret. Dia juga menekankan pentingnya “lingkungan di mana cosplay bisa dinikmati dengan ketenangan pikiran. ”

Sumber: ANN

Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Trakteer

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x