Connect with us

Box Office

Daftar pemenang 76th Golden Globe Awards 2019

Published

on

GwiGwi.com – Ajang Golden Globe Awards ke-76 rampung dilaksanakan pada Senin (7/1) di Beverly Hilton, California.

Maaf Anda Melihat Iklan

Dalam ajang kali ini, Golden Globe terasa lebih berwarna karena ada representasi Asia, kulit hitam dan muslim. Green Book menjadi film yang meraih penghargaan terbanyak.

Mereka meraih penghargaan Best Actor in a Supporting Role in any Motion Picture oleh Mahershala Ali, Best Screenplay dan Best Motion Picture – Musical or Comedy.

Sementara The Kominsky Method, Roma, The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story dan Bohemian Rhapsody masing-masing mendapatkan dua penghargaan.

For the first time, aktor Rami Malek meraih penghargaan Best Actor in a Motion Picture Golden Globe 2019 berkat perannya sebagai Freddie Mercury. Tahun ini merupakan nominasi ketiga Rami dalam Golden Globe 2019.

Berikut daftar lengkap pemenang Golden Globe Awards 2019:

Best Motion Picture – Drama
‘Bohemian Rhapsody'

Best Actor in a Motion Picture – Drama
Rami Malek – ‘Bohemian Rhapsody'

Best Motion Picture – Musical or Comedy
‘Green Book'

Best Actress in a Motion Picture – Musical or Comedy
Olivia Colman – ‘The Favourite'

Best Actor in a Motion Picture – Musical or Comedy:
Christian Bale – ‘Vice'

Best Actress in a Motion Picture – Drama
Glenn Close – ‘The Wife'

Best Actress in a Role in any Motion Picture
Regina King – ‘If Beale Street Could Talk'

Best Actor in a Supporting Role in any Motion Picture
Mahershala Ali – ‘Green Book'

Baca Juga:  Review Film Ghostbusters: Afterlife, The Legacy Continue

Best Motion Picture – Animated
Spider-Man: Into the Spider-Verse

Best Motion Picture – Foreign Language
‘Roma' – Meksiko/Amerika Serikat

Best Director – Motion Picture
Alfonso Cuaron – ‘Roma'

Best Screenplay – Motion Picture
Peter Farrelly, Nick Vallelonga, Brian Currie – ‘Green Book'

Best Original Score – Motion Picture
Justin Hurwitz – ‘First Man'

Best Original Song – Motion Picture
“Shallow” – ‘A Star Is Born'

Best Television Series – Drama
‘The Americans'

Best Performance by an Actress in a Television Series – Drama
Sandra Oh – ‘Killing Eve'

Best Performance by an Actor in a Television Series – Drama
Richard Madden – ‘Bodyguard'

Best Television Series – Musical or Comedy
‘The Kominsky Method'

Best Performance by an Actress in a Television Series – Musical or Comedy
Rachel Brosnahan – ‘The Marvelous Mrs. Maisel'

Best Performance by an Actor in a Television Series – Musical or Comedy
Michael Douglas – ‘The Kominsky Method'

Best Television Limited Series or Motion Picture Made for Television
‘The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story'

Best Performance by an Actress in a Supporting Role in a Series, Limited Series or Motion Picture Made for Television
Patricia Clarkson – ‘Sharp Objects'

Best Performance by an Actor in a Supporting Role in a Series, Limited Series or Motion Picture Made for Television
Ben Whishaw – ‘A Very English Scandal'

Maaf Anda Melihat Iklan
Advertisement
Click to comment
0 0 votes
Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Box Office

Review Film Ghostbusters: Afterlife, The Legacy Continue

Published

on

GwiGwi.com – Setelah Ghostbusters 2 (1989) bertahun-tahun setelahnya banyak sekali rumor, pembicaran, blabla soal film ke tiga tapi tak pernah terwujud. Tahun 2010 cast original kembali berkumpul tapi bukan untuk layar lebar melainkan game berjudul Ghostbusters (2009). Saya pernah memainkannya dan yeah, busting does feels good. Tetap, usaha untuk membuat film ketiga masih berlanjut dengan Dan Aykroyd memimpin. Tanpa Bill Murray yang ternyata dirinya tidak mau kembali karena dia tak suka sekuel.

Maaf Anda Melihat Iklan

Berdekade kemudian this and that happen. gonta-ganti rencana, Bill Murray masih menolak kembali, Harold Ramis meninggal, etc. Kemudian penulis skenario Max Landis memberi pitch Ghostbusters 3 versi dia yang memperbesar skala cerita dan terbuka untuk spin-off. Sayang ide besar itu kandas dan dengan Sutradara Paul Feig (Bridemaids, Spy), Sony mempersembahkan Ghostbusters Answer The Call (2016) yang hasilnya kurang berhasil baik dari Box Office mau pun resepsi dari penonton.

Setelah berdekade-dekade cinta pada film original yang seperti tak pernah mati dan versi 2016 yang kurang dari ekspektasi, apa yang bisa ditawarkan Ghostbusters: Afterlife? Apakah film ini akan mengedepankan nostalgia habis-habisan demi kembali menangkap hati fans lama jadi takut berinovasi? Atau justru memberi inovasi menarik tapi terbebani harus memberikan nostalgia? Hasil akhirnya jadi begitu bercampur.

Tema besar dari film ini adalah warisan. Tak hanya di depan layar, tapi juga di belakang layar. Disutradarai oleh Jason Reitman (Juno, Up in The Air) anak dari sutradara film originalnya, Ivan Reitman (Caddyshack, Ghostbusters), Ghostbusters: Afterlife, bercerita tentang Phoebe (Mckenna Grace) yang beserta keluarganya pindah ke rumah peternakan milik almarhum kakeknya. Rumahnya berantakan penuh buku, rongsokan mobil dan hutang. Ditambah reputasinya yang buruk di kota, seolah tak ada yang ditinggalkan si kakek selain beban.

Kota kecil itu ternyata menyimpan misteri. Gempa aneh, ukiran di tambang dan perilaku penambang yang pernah bekerja di sana. Semuanya mungkin berhubungan dengan tindak-tanduk aneh kakek Phoebe dan menjadi tugas gadis 12 tahun itu untuk menyelesaikan tugas pendahulunya.

Hal-hal yang mungkin paling disukai fans dari film originalnya adalah castnya, chemistry karakternya dan komedinya. Bagaimana mereka membagi tugas dari Ray (Dan Aykyord) yang antusiastik, Venkman (Bill Murray) yang…jadi Bill Murray terus memberikan joke bahkan di momen serius seolah menolak tergiring suasana, Egon (Harold Ramis) yang selaluuu serius 100% dan Winston (Ernie Hudson) yang hanya ingin cari kerja. Interaksi mereka satu sama lain dan dengan plot berhasil memancing tawa

Ghostbusters (1984) memiliki komedi yang tidak memaksa harus terus memberi tawa tapi agar cerita absurdnya yang membuat karakter bereaksi atau berkata aneh yang memberi tawa. Hal ini yang jelas dibawa ke Ghostbusters; Afterlife. Phoebe dan keluarganya seperti paham dan terima kehidupan mereka menyedihkan. Mereka cuek, mengetawai diri sendiri dan sesama anggota keluarga, dan berusaha mengarungi keseharian yang sulit saja sambil sesekali mengeluh. Sikap yang sangat mencerminkan film originalnya.

Baca Juga:  Eternals dari Marvel Studios Tayang di Seluruh Bioskop Indonesia 10 November 2021

Hanya satu karakter yang sedikit memaksa memberi komedi yaitu Podcast (Logan Kim) yang dengan antusiasmenya membuat Podcast. Mengetjutkannya, dia tidak berisik menjengkelkan dan bisa jadi menjadi favorit penonton.

Bila Podcast jadi yang antusias, Trevor (Finn Wolfhard), kakak Phoebe, jadi “bantalan” yang sering kena sial, dan Mr. Grooberson (Paul Rudd) jadi ilmuwan dengan tipikal gaya Paul Rudd macam di Ant-Man (2015), situasi lucu sering ada dan sering efektif, malah kayaknya jarang yang garing. Komedinya toplah. Bicara cast, Mckenna Grace paling menonjol.

Grace sebagai Phoebe menyalurkan sifat kutu buku yang kaku ala Egon. Dia jenius, rajin menyelesaikan masalah dan berani menghadapi hantu. Namun dia tidak kaku membosankan. Phoebe tetap memiliki perasaan walau berbeda cara mengungkapkannya dan memiliki pesona menggemaskan seperti anak kecil yang muncul ke permukaan beberapa kali seperti saat ngasih joke nerd yang jayus tapi manis. Phoebe adalah pemeran utama yang cocok mempimpin generasi baru Ghostbusters ini.

Seimbangnya aksi, komedi dan good character stuff sangat baik disampaikan di sini. Sayang sekali plotnya begitu mirip film originalnya. Momen saat Phoebe memperbaik Proton Pack dan Trevor memperbaiki mobil Ecto-1, seolah simbolisme dari keseluruhan film ini, hanya melanjutkan apa yang bekerja dulu, tanpa terobosan atau variasi. Padahal versi tahun 2016 saja menampilkan banyak peralatan baru.

Sebagai yang telah mengikuti Ghostbuster dari dulu, sering sekali saya hanyut dengan komedi dan aksinya lalu mood hilang karena plotnya begitu familiar dan mudah ditebak. Seolah saya hanya duduk menunggu momen-momen filmnya saja datang. Ya saya akan sesekali terhibur tapi saya berharap sekali mereka benar-benar memberikan plot yang baru. Untungnya pada bagian klimaks ada twist dan kejutan-kejutan menyenangkan

Sebelumnya saya bilang tema film ini adalah warisan. Oke saja, yang saya tidak sangka apa yang diwariskan banyak banget. Sangat memberikan rasa nostalgia sekali. Dari referensi dialog, properti, etc. Untuk fans hal ini bisa jadi pedang bermata dua; ada yang senang serta mengobati rasa rindu dan bisa jadi ada yang masih mencari sebuah inovasi / cerita baru dari franchise ini.

Jemunya plot dan nostalgia ini terasa lantaran hal-hal barunya begitu kuat. Semoga sekuelnya jika ada benar-benar meninggalkan nostalgia dan melajut ke arah baru. Pondasinya untuk melanjutkan franchise-nya sudah, sekali lagi, sudah sangat amat super kuat.

So Gwiples, buat kalian yang ingin bernostalgia ataupun yang baru pertama kali ingin menonton GhostBusters, Film satu ini wajib di tonton. Saksikan Ghostbusters: Afterlife di bioskop-bioskop kesayangan kalian dan jangan lupakan prokes ya Gwiples!

Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Box Office

Review Film Raging Fire, Pertarungan Mentor VS Mantan Anak Didik

Published

on

GwiGwi.comCheung Sung Bong (Donnie Yen) adalah seorang polisi senior di Regional Crime Unit yang berdedikasi dan lurus. Namun dalam suatu operasi penggerebekan bandar narkotik, Bong harus kehilangan banyak rekan-rekan polisinya karena mereka diserang oleh sekelompok geng misterius. Bong pun bertekad menangkap para anggota kelompok gang tersebut yang tak disangka-sangka ternyata dipimpin oleh Yau Kong Ngo (Nicholas Tse).

Maaf Anda Melihat Iklan

Ngo adalah mantan agen RCU sekaligus anak didiknya Bong yang pernah terjerat kasus penganiayaan seorang tersangka penculikan seorang konglomerat dan harus dipenjara. Sekeluarnya dari penjara, Ngo ingin membalas dendam kepada para petinggi kepolisian yang tidak membelanya dalam kasus penculikan tersebut. Bong cukup kesulitan dalam membuktikan Ngo terlibat dalam kematian rekan-rekannya karena Ngo lihai dalam menutupi jejaknya. Ngo pun sedang mempersiapkan aksi besar selanjutnya, dan menjadi tugasnya Bong untuk mencegah aksi tersebut.

Baca Juga:  Review Film Raging Fire, Pertarungan Mentor VS Mantan Anak Didik

Adanya plot hole dan inkonsistensi dalam film ini, sebagai contoh: saat Ngo membajak sebuah motor yang ada di parkiran dan kabur. Pada adegan kejar-kejaran di jalan, Ngo bukan hanya memakai helm tapi juga memakai jaket balap, sempat-sempatnya dia memakai jaket balap saat sedang melarikan diri. Tapi kejanggalan-kejanggalan dalam film dapat diobati dengan banyaknya aksi tembak-tembakan serta pertarungan tangan kosong yang ciamik dan pastinya sangat seru terutama saat final battle Ngo vs Bong; menjadikan film ini cocok untuk Gwiples yang menyukai film action Hong Kong.

So Gwiples buat kalian yang menanti nantikan film laga serta tembak tembakan nan apik jangan lupa untuk menyaksikan Raging Fire di bioskop bioskop kesayangan kalian ya!

Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Box Office

Review Film Encanto, Film the Coming of Age yang Mengharu Biru

Published

on

GwiGwi.com – Keluarga Madrigal dikaruniai berkah kekuatan super secara turun temurun. Semua anggota keluarga menggunakan keajaiban itu untuk membantu warga di sekitarnya. Mirabel Madrigal (Stephanie Beatriz) hanya bisa melihat dan memuji dari pinggir karena dia satu-satunya anggota keluarga tanpa kekuatan. Perlakuan keras dari Abuela Alma Madrigal (Maria Cecillia Botero) sang nenek, karena kondisi cucunya ini memang berat tapi Mirabel terus berusaha untuk menjadi kuat dan supportif.

Maaf Anda Melihat Iklan

Sampai suatu hari Mirabel melihat rumah ajaib keluarga mereka meretak dan lilin yang menyala abadi pemberi kekuatan meredup. Pertanda berkah keluarganya akan habis. Mirabel pun berusaha mencari tahu apa penyebabnya dan menolong keluarganya.

Encanto memiliki plot yang unik dibanding film Pixar belakangan karena sang Protagonis tidak pergi dalam suatu petualangan besar tapi justru tetap tinggal menyelidiki di rumahnya. Seperti film detektif, Mirabel mencari petunjuk dengan menanyai saudari, sepupu, dan keluarga lainnya untuk menjawab misterinya. Hal ini mengarah pada adegan lucu seperti Mirabel yang seolah mengganggu acara makan keluarga padahal dia hanya ingin menanyai Luisa (Jessica Darrow) atau saat ia ke kamar kakaknya, Isabela (Diane Guerrero) untuk berbaikan.

Fokus berseteru, julit dan curhat antar anggota keluarga yang seperti serial telenovela ini yang membuat Encanto berbeda. Lebih lucu lagi jika penonton ingat telenovela itu identik dengan ras Hispanik, ras mayoritas di negara Kolombia setting film ini. Ditambah piawainya PIXAR dengan penempatan komedi, lagu dan adegan menyentuhnya, setiap Mirabel mendekati keluarganya selalu jadi menyenangkan.

Adegan curhat itu pun menguak tabir keluarga yang terlihat sempurna ini. Walau ada yang bisa mengangkat rumah dan menumbuhkan bunga mawar, mereka masih manusia yang punya masalah pribadi terpendam. Mereka tetap butuh bantuan orang lain, meski orang lain itu tak se spesial mereka. Seolah refleksi dari kehidupan bersosial sekarang. Those people on social media with cheerful highlights on their wall and dazzling filter on their story? They are still as human as you are flaw and all. Maybe be mindful and respectful to them?

Juga menarik keputusan filmmaker untuk membuat Mirabel bukan sebagai tipikal anak bungsu “apel busuk” keluarga tetapi justru sudah cukup dewasa. Melihat orang yang lebih tua atau saudari tak jauh umur yang spesial muuungkin biasa, tapi tahu ada keluarga dari umur yang jauh lebih muda dan juga spesial, mungkin berdampak lebih lagi.

Baca Juga:  Film 'Transformers: Rise of the Beasts' Ditunda dari 2022 ke 2023

Memperlihatkan kalau PIXAR cerdas sekali dalam merangkum situasi mengundang empati dalam Mirabel yang bisa jadi tak hanya membuat anak-anak teridentifkasi tapi juga kakak atau ortu yang menemani mereka nonton.

Paruh pertama dan kedua Encanto begitu kuat dalam banyak aspeknya sayang sekali paruh ketiga nya terasa kurang. Film-film seperti Coco (2017), Inside Out (2015), Onward (2020) dan Soul (2020) mungkin kualitasnya bervariasi, tetapi biasanya PIXAR mampu menampilkan klimaks yang menarik dan menutup ceritanya dengan baik. Sayangnya itu kurang terlihat di film teranyarnya ini.

Segala permalasalahan film ini terselesaikan dengan curhat dan lagu saja? Terasa aneh karena begitu kompleksnya misteri dan drama personal ditutup dengan cara yang nyaman sekali. Mungkin salah satu penyebabnya adalah sumber kekuatan keluarga itu yang kurang bisa dijelaskan dengan baik (Oke, jadi kekuatan dari si Abuela atau dari Lilin? Saya kurang dapet) maka itu cerita diselesaikan demikian dan pesannya diucapkan sebegitu gamblang? Maybe.

Sebelum Encanto dimulai, kami disuguhi film pendek kartun berjudul Far From Tree. Tetang Rakun dan Ibunya yang waspada di alam liar. Pendek, bercerita efektif dan mengena. Kelebihan itu ternyata tak hilang dalam suguhan utamanya meskipun dalam kanvas yang lebih besar. Menyampaikan naratif yang segar dan kompleks sekaligus diceritakan dengan ringan. Semua itu berasal dari set up cerita keluarga yang begitu sederhana. Saya lulusan sekolah film dan menurut saya pribadi, untuk membuat film bermakna seperti itu sulit dicapai wahai gwiples.

So Gwiples buat kalian yang penasaran dengan apasih yang akan dilakukan oleh Mirabel Madrigal, jangan lupa saksikan Encanto di bioskop bioskop kesayangan kalian ya Gwiples!

Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Trakteer

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x