TV & Movies
Daftar Karakter Menarik di ‘The Virgin Series’ Yang Mungkin Cocok Sama Kepribadianmu
GwiGwi.com – Mengawali tahun 2022, Disney+ Hotstar menghadirkan adaptasi franchise film legendaris “Virgin” (2004) dalam format serial dengan judul “Virgin The Series”. Diproduksi oleh Starvision, serial ini menceritakan tentang sekelompok remaja SMA yang berusaha memecahkan teka-teki kematian seorang gadis populer di sekolah mereka dengan membuat dokumenter investigasi. Disutradarai oleh Monty Tiwa, serial sebanyak 10 episode ini dapat disaksikan secara eksklusif di Disney+ Hotstar sejak 14 Januari 2022.
Berlatar kehidupan remaja SMA dengan konflik yang sangat erat dengan fenomena saat ini, “Virgin The Series” menghadirkan alur menegangkan dengan berbagai twist yang sulit ditebak. Meski membawa franchise ikonik yang telah dikenal masyarakat sebelumnya, “Virgin The Series” hadir dengan deretan karakter dan cerita baru yang tentunya lebih relevan untuk para penonton saat ini. Serial ini dibintangi oleh sederet aktris dan aktor favorit para penggemar seperti Adhisty Zara, Shalom Razade, Lutesha, Panji Zoni, Winky Wiryawan, Rangga Nattra, Kiki Narendra, hingga Asty Ananta. Tiap-tiap aktor dan aktris memerankan karakter yang kompleks, namun tetap relateable dengan kehidupan remaja saat ini. Simak beberapa fakta mengenai karakter-karakter dalam “Virgin The Series” dan cocokkan dengan kepribadian kamu!
Talita (Diperankan oleh Adhisty Zara)
Cerdas, Rasional, dan Ambisius
Talita merupakan salah satu karatker utama dalam serial “Virgin The Series”. Memiliki paras yang jelita, ia tak hanyut dalam pergaulan remaja dan berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa menuju kampus impiannya. Talita dipaksa dewasa sejak dini karena harus mengurus ayah dan adik laki-lakinya, Dio. Namun, tanpa ia sadari, ambisinya yang kuat kini menggiring Talita ke sebuah konsekuensi yang berbahaya.
Bee (diperankan oleh Shalom Razade)
Rendah Hati dan Suka Menolong
Bee juga menjadi karakter utama dalam serial “Virgin The Series”. Meski berasal dari keluarga kelas atas, Bee tetap menjadi sosok yang rendah hati. Ia memiliki hubungan yang dekat dengan ibunya, Linda. Namun, kedekatan mereka mulai berubah semenjak kehadiran Lukman yang menjadi pacar Linda. Selain itu, masalah asmara juga menjadi konflik yang perlu diselesaikan oleh Bee.
Raya (Diperankan oleh Lutesha)
Gadis Ceroboh, tetapi Baik Hati
Raya merupakan sahabat Talita dan Bee. Seperti sahabatnya yang lain, Raya juga diasuh oleh single parent. Ia memiliki sifat baik hati dan semangat yang tinggi. Namun, semangatnya yang menggebu-gebu tersebut membuat ia ceroboh dalam melakukan sesuatu dan kerap terlibat dalam berbagai masalah. Di balik sifat baik hati dan cerobohnya ini, Raya juga bergumul dengan masalah psikologisnya.
Faris (Diperankan oleh Panji Zoni)
Fotografer yang Tulus, tetapi Naif
Faris adalah fotografer di sekolah Talita dan teman-temannya. Berteman sejak lama dengan Talita, Faris pun menyimpan rasa suka terhadap gadis tersebut. Namun, karena merasa terjebak dalam hubungan friendzone dengan Talita, Faris mencoba membuka hati dengan gadis lain. Ia sebenarnya seseorang yang tulus, meski sifat tersebut rentan membuatnya menjadi naif.
Keke (Diperankan oleh Arla Ailani)
Kematiannya Menimbulkan Teka-teki dan Spekulasi
Keke merupakan gadis populer di sekolah. Ia menjadi selalu menjadi pusat perhatian dan ditakuti oleh siswa-siswi lain. Namun, di balik kesempurnaan yang melekat pada dirinya, ia ternyata menyimpan rahasia kelam yang tidak diketahui orang lain. Kematian Keke yang menggegerkan menjadi awal petualangan Talita, Bee, dan Raya.
Hiro (Diperankan oleh Alzi Markers)
Hiro merupakan saingan Keke di sekolah. Dengan kepribadian narsistiknya, ia juga berupaya untuk menjadi siswa yang populer di sekolah. Namun, seiring berjalannya cerita, sifat Hiro mulai berubah, terlebih dengan masalah yang menimpa kakaknya, Senja.
David Jamal (Diperankan oleh Rangga Nattra)
Selebgram Tampan yang Memiliki Banyak Penggemar
Popularitas dan ketampanannya membuat David menjadi idaman banyak remaja perempuan. Namun, di balik kehidupannya yang terlihat sempurna, David juga terjebak dalam masalah hutang dan kecanduan terhadap narkoba. David ternyata juga memiliki keterkaitan dengan Raya dan Keke, yang menambah twist alur “Virgin The Series”.
TV & Movies
Review Film The Masters of The Universe, Not Enough Power
www.gwigwi.com – Franchise legenda lagi akan tayang setelah MORTAL KOMBAT 2 dan THE MANDALORIAN AND GROGU. HE-MAN! Laama sekali penantian setelah begitu banyak rumor dan segala macamnya, MASTERS OF THE UNIVERSE akhirnya jadi film juga. Nah, apakah akan hanya menyenangkan fans lama saja?
Adam (Nicholas Galitzine) rindu dengan kampung halamannya, Eternia sampai mengganggu pekerjaannya di kantor.
Naas, saat kerajaannya diserang dulu, dia terpaksa kabur ke bumi. Sampai akhirnya dia menemukan lagi pedang yang akan menuntunnya pulang, Sword of Power.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power
Namun, baru saja dia panggul pedang itu lagi, Adam diserang monster dan dilindungi teman lamanya, Theela (Camila Mendes) yang membawanya pulang.
Sang pangeran tak menyangka Eternia kini rusak akibat lalimnya sang musuh utama, Skeletor (Jared Leto). Menggunakan Sword of Power dan sekutunya seperti Man At-Arms (Idris Elba), maka Adam harus berjuang menyelamatkan dunianya.
Sebagai adaptasi mainan HE-MAN, tentu visual dan baku hantamnya lah salah satu pesona utama. Kostumnya untungnya tidak direalistiskan tapi total mencoba setia pada mainannya. Begitu pun aksinya menghentak bahkan sedari awal. Berkat koreografi energik dan sinematografi dinamis yang cakap.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power
Nicholas Galatzine seakan menchannel man child ala Star Lord-nya Chris Pratt, tapi tetap punya keunikan sendiri. Meski berbadan besar hanya dengan tatapan saja dia bisa terkesan lembut dan membuat iba.
Sisi itulah yang membuat hero ini tak hanya sekedar mas berotot tangguh bawa pedang saja. Terdapat kualitas heroik lain yang menyokong tenaga itu, membuatnya cukup berbeda dibanding tipikal penampilannya. Dan Nicholas Galitzine berhasil menampilkannya.
Mungkin yang mengherankan adalah pilihan membuat badannya sudah bongsor walau belum berubah jadi HE-MAN. Meski visual henshinnya keren, tapi perubahan fisiknya terasa kurang sedrastis Chris Evans saat menjadi Captain America. Jadinya, efek wow transformasinya berasa kurang.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power
Di sisi lain, Jared Leto mengejutkan sebagai si antagonis. Tak sekalipun kita melihat wajahnya, tapi dia bisa melebur total dalam balutan kostum dan wajah tengkorak. Gesturnya begitu hidup dan dia bisa terlihat mengancam tapi kemudian lucu dengan seketika.
Secara cerita memang…klasik, maka film tampak mengandalkan atraksi, banter antar karakter yang memang oke saja dan komedi. Walau servicable, rasanya bila ingin menjadi franchise jaya kembali, THE MASTERS OF THE UNIVERSE tampaknya butuh lebih banyak kejutan dan selling point untuk memenangkan penonton sekarang yang sudah terhujani banyak konten, tak seperti tahun-tahun keemasannya dulu.
Bila tidak, yang senang sekali bisa jadi hanya para fans tua saja sementara penonton lain menggangguk saja kurang terkesan, seperti yang penulis rasakan.
TV & Movies
REVIEW FILM NORMAL, FILM ACTION YANG TIDAK NORMAL
www.gwigwi.com – Bob Odenkirk, sosok multitalenta yang dikenal sebagai penulis, produser, dan aktor populer lewat serial Breaking Bad serta Saturday Night Live (SNL), kembali menggebrak layar lebar. Kali ini, ia berpartner dengan Derek Kolstad—kreator bertangan dingin di balik kesuksesan waralaba John Wick dan Nobody. Sinergi keduanya membuahkan sebuah film komedi aksi berjudul Normal, yang digarap di bawah arahan sutradara Ben Wheatley, yang sebelumnya menukangi film Free Fire, Tomb Raider, dan Meg.
Film ini menyoroti kisah seorang sheriff pengganti bernama Ulysses (diperankan oleh Bob Odenkirk). Ia mendapatkan penugasan baru di sebuah kota kecil yang tenang di wilayah Minnesota bernama Normal. Ulysses hadir untuk menggantikan posisi sheriff sebelumnya, Gunderson, yang secara mengejutkan meninggal mendadak. Secara personal, Ulysses adalah pria yang fleksibel dan hanya ingin menjalani sisa kehidupannya dengan ketenangan. Namun, di balik pembawaannya tersebut, ia memendam masa lalu traumatis yang kelam saat masih menjadi seorang sheriff idealis di masa lalu.

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal
Ulysses awalnya beranggapan bahwa masa tugasnya selama delapan minggu ke depan—hingga sheriff definitif baru diangkat—akan berjalan datar dan biasa saja seperti nama kotanya. Namun, ekspektasi tersebut langsung hancur berantakan. Kehadiran sepasang pendatang baru, Moira (Lena Headey) dan Keith (Brendan Fletcher), yang nekat melakukan perampokan bank secara brutal, justru menjadi pemantik yang membuka kotak pandora dan menyingkap rahasia besar nan kelam yang selama ini disembunyikan oleh kota Normal.
Sebagai sebuah film aksi, Normal masih membawa napas dan formula yang serupa dengan John Wick dan Nobody. Sepanjang durasi, film ini dipenuhi oleh adegan-adegan sadis, berdarah, dan memilukan. Oleh karena itu, film ini sangat tidak ramah dan tidak cocok ditonton oleh Gwiple yang masih berusia di bawah 17 tahun.
Meski begitu, intensitas baku tembak dan pertarungan di film ini tidak disajikan secara bombastis atau se-elegan John Wick. Mengapa? Karena mayoritas karakter yang terlibat di dalamnya hanyalah warga sipil biasa, bukan petarung atau kombatan profesional. Namun, di situlah letak kekuatan dan keseruannya. Setiap aksi perkelahian terasa sangat mentah (raw), realistis, minim koreografi rumit, dan brutal. Unsur komedi gelap (dark comedy) di film ini juga dieksekusi dengan cerdas, di mana kelucuan sering kali lahir dari situasi gore yang dialami para korban, memicu banyak momen mencengangkan yang membuat Gwiple terbelalak.

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal
Selain itu, film ini memiliki jajaran karakter pendukung yang cukup ramai. Hebatnya, setiap tokoh diperkenalkan satu per satu dengan porsi yang pas dan penokohan yang kuat. Hal ini membuat Gwiple bisa dengan mudah mengingat mereka dalam waktu singkat, meskipun durasi kemunculan beberapa karakter tergolong singkat.
Secara keseluruhan, Normal adalah sajian film aksi yang lebih condong mendekati kembaran Nobody berkat taburan bumbu komedi yang kental, sehingga nuansanya tidak terasa sekelam dan seserius John Wick. Dengan plot cerita yang ringan, pergerakan alur yang tidak bertele-tele, serta suguhan beberapa plot twist yang menyegarkan di akhir cerita, Normal menjadi sebuah tontonan yang amat menghibur, seru, dan sangat layak untuk Gwiple saksikan langsung di layar bioskop!
Berita Anime & Manga
Review Film The Mandalorian and Grogu, Is this The Way?
www.gwigwi.com – www.gwigwi.com – Sukses dari serial Disney+ nya, Abang Din Djarin alias Mandalorian (Pedro Pascal) bersama Grogu kali ini nongol di layar besar bioskop. Apakah bisa menyuguhkan petualangan yang lebih wah?
Mandalorian diminta Kolonel Ward (Sigourney Weaver) untuk menyetujui permohonan kembar Hutt. Kedua dedengkot kriminal gang Hutt itu meminta si pemburu hadiah untuk mencari Rotta (Jeremy Allen White) yakni anak dari si cacing legendaris trilogi orisinil Star Wars, Jabba The Hutt.
Plot sebenarnya tidak se straight forward kedengarannya dan masih memberikan surprise yang boleh lah menegangkan. Walau terasa episode tambahan saja dari serialnya.
Barangkali yang disayangkan, transisi ke layar lebar ini kurang dibarengi presentasi yang lebih sinematik.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?
Konsep sinematografinya terasa tak jauh berbeda dengan di serialnya yang untuk layar kecil. Membuat petualangan ini sedikit terasa kurang epik.
Mungkin tujuannya memang menampilkan skala konflik yang lebih kecil tapi rasa low budget nya jadi berkesan sekali apalagi melihat dari layar lebar. Begitu pun spesial efek yang cukup sering terlihat kurang meyakinkan apalagi di paruh awal.
Penulis Dave Filoni (yang sekarang menjadi Presiden Lucasfilm) dan sutradara Jon Favreau, boleh jadi ahli dalam world building baik soal desain planet baru dan alien baru, tapi rasanya kurang menginjeksinya dengan karakterisasi yang unik.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?
Rotta memiliki kontras yang menarik dengan Hutt lain yang doyan jadi jahat. Kalau saja ditampilkannya tak melulu dengan dia mengeksposisi situasi dan perasaannya layaknya sinetron, dan dengan cara yang lebih subtil.
Rasanya jadi paham kenapa James Gunn begitu komitmen dengan komedinya dan serial The Boys kerap memperlihatkan nyelenehnya; gunanya untuk menghidupkan adegan dan memberi keunikan. Sesuatu yang dibutuhkan THE MANDALORIAN AND GROGU untuk lebih memoles desain produksinya yang cakap.
Apabila tujuan film ini adalah menampilkan petualangan pulp sederhana yang seru dibumbui komedi, duo Mando dan Grogu sudah plek sekali cocoknya.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?
Namun rasanya mereka membutuhkan para karakter pendukung yang punya kepribadian kuat, unik dan menghibur lebih banyak lagi, juga ketegangan dan komedi yang lebih kental lagi.
Bila sudah demikian, mau berapa kali pun petualangan THE MANDALORIAN AND GROGU dirilis, meskipun tak banyak benang merah di antaranya, penonton boleh jadi masih akan wow dengan aksi keren Mando dan terpesona lucunya Grogu.
Untuk sekarang THE MANDALORIAN AND GROGU mungkin not exactly the way.
-
News4 weeks agoGenshin Impact Versi “Candra VII”: Kebenaran di Balik Lembar-Lembar Purana
-
News4 weeks agoPara Pemain “Mortal Kombat II” Meriahkan Tur Global di Jakarta lewat kehadiran di Fan Event dan Red Carpet di Jakarta
-
TV & Movies4 weeks agoGrogu Hadir Di Perayaan Star Wars Day Di Jakarta
-
TV & Movies4 weeks agoREVIEW FILM FUZE, PERAMPOKAN DI TENGAH TEROR BOM YANG PENUH KEJUTAN
-
TV & Movies4 weeks agoResmi Meluncur, Xiaomi TV S Mini LED 2026 Standar Baru Hiburan Premium di Rumah
-
TV & Movies4 weeks agoReview Film Mortal Kombat II, Semakin Berani Bermain
-
Box Office3 weeks agoReview Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru
-
Gaming3 weeks agoSiap Tempa Takdirmu: Blades of Fire Versi 2.0 Kini Resmi Hadir di Steam!











