TV & Movies
Review Film The Oddysey, reinkarnasi epos dalam sinema modern
www.gwigwi.com – Christopher Nolan kembali ke layar lebar dengan proyek terambisiusnya hingga saat ini: The Odyssey. Setelah sukses besar menggelegar lewat Oppenheimer (2023), Nolan kini memalingkan kameranya dari sejarah abad ke-20 menuju puisi epik tertua dalam peradaban Barat karangan Homer.
Hasilnya bukan sekadar film kolosal berlatar Yunani kuno biasa, melainkan sebuah eksplorasi psikologis yang mencekam tentang trauma perang, PTSD, serta tekad manusia melintasi kehampaan demi kembali ke rumah.

Review Film The Oddysey, Reinkarnasi Epos Dalam Sinema Modern
The Odyssey mengikuti narasi klasik Raja Ithaca, Odysseus (Matt Damon). Setelah sepuluh tahun bertarung dalam Perang Troya dan merancang strategi Kuda Troya yang legendaris, Odysseus bermaksud berlayar pulang pasca perang dan dianggap sebagai pahlawan.
Namun, kemurkaan para dewa dan badai eksistensial memaksanya menempuh perjalanan sepuluh tahun berikutnya. Ia harus melewati berbagai monster, penyihir, dan godaan mistis sebelum bisa kembali pada istrinya, Penelope (Anne Hathaway), serta putranya, Telemachus (Tom Holland).
Lewat tangan dingin Christopher Nolan, pertempuran melawan makhluk mitologi bukan disajikan sebagai tontonan aksi blockbuster semata, melainkan sebagai manifestasi alegoris dari rasa bersalah, rasa kehilangan, dan trauma pasca-perang.

Review Film The Oddysey, Reinkarnasi Epos Dalam Sinema Modern
Nolan secara cerdas tidak memperlakukan perjalanan Odysseus sebagai petualangan aksi heroic yang diromantisasi, melainkan petualangan jiwanya yang koyak. Perang Troya mungkin sudah selesai secara fisik, namun kehancuran di dalam diri para prajurit baru saja dimulai.
Kekuatan utama film ini terletak pada caranya membongkar sosok heroik Odysseus. Matt Damon membawakan sosok pahlawan yang lelah, dipenuhi keraguan moral atas kekejaman yang ia lakukan di Troya.
Nolan menyoroti aspek bahwa membawa seseorang pulang dari peperangan jauh lebih sulit daripada sekadar memindahkan fisiknya melintasi samudra.
Rumah yang dicari Odysseus bukan sekadar titik geografis di Ithaca, melainkan kedamaian pikiran yang perlahan hilang akibat dosa-dosa masa lalu.
Gaya penceritaan non-linear yang menjadi ciri khas Nolan dimanfaatkan untuk menggambarkan ingatan yang retak. Kilas balik kehancuran Troya berbaur dengan ilusi monster dan penyihir, menciptakan ambiguitas apakah bahaya tersebut nyata atau sekadar manifes kegilaan dari isolasi di tengah laut.

Review Film The Oddysey, Reinkarnasi Epos Dalam Sinema Modern
Jika kita bicara soal aspek teknis, Nolan dan cinematographer Hoyte van Hoytema memecahkan rekor baru. Film ini menjadi karya fiksi pertama yang seluruhnya (100%) direkam menggunakan kamera seluloid IMAX.
Produksi film ini menggunakan teknologi inovatif camera blimp khusus yang memungkinkan adegan dialog berbisik terekam secara sinkron dalam format IMAX tanpa terganggu suara bising mekanis kamera.
Pemandangan samudra lepas, pulau-pulau terisolasi, hingga reruntuhan Troya ditangkap dengan kedalaman warna dan ketajaman tekstur yang membuat penonton seolah berada di atas kapal yang berguncang di tengah badai.
Musik scoring oleh Ludwig Göransson kembali menghadirkan aransemen eksperimental. Bukannya mengandalkan orkestra Yunani klasik yang klise, ia memakai perpaduan instrumen primitive percussion dengan denyut frekuensi rendah yang menekankan detak jantung ketakutan para prajurit serta membangun atmosfer intimidatif sepanjang film.
Dari sisi performa cast, Matt Damon memberikan salah satu akting terbaik dalam kariernya. Ia berhasil mentransformasikan Odysseus dari taktikawan jenius menjadi pria yang letih, rentan pasca perang, namun tak pernah padam semangatnya.
Begitupun dengan Anne Hathaway sebagai Penelope, meskipun berjarak ruang dari panggung utama petualangan laut, Hathaway mampu menampilkan keteguhan dan duka Penelope secara emosional saat mempertahankan takhtanya dari ancaman para pelamar.
Lalu, Robert Pattinson sebagai Antinous. Tampil memikat sebagai antagonis utama di Ithaca. Karakternya dingin, manipulatif, dan menjadi representasi ancaman politik domestik.
Dengan durasi film hampir 3 jam, transisi antar-pulau atau alur cerita di Ithaca sesekali terasa meloncat dan memiliki tempo yang dinamis. Menurut gue film ini bisa dinikmati dan mudah dicerna bagi seluruh penonton yang menikmati alih wahana kisah epos Yunani ini.
Secara keseluruhan, The Odyssey adalah bukti kemahiran Christopher Nolan dalam mengolah mahakarya epos klasik menjadi karya sinema modern yang masif sekaligus intim.
Ini bukan sekadar tontonan hiburan petualangan, melainkan sebuah perenungan mendalam tentang penderitaan, moralitas, dan ketangguhan jiwa manusia.
Bagi pencinta film yang mendambakan pengalaman sinematik berskala monumental, The Odyssey merupakan karya yang WAJIB disaksikan di bioskop.
Skor Akhir: 9.0 / 10
TV & Movies
Review Film Hungry, Film Yang Kurang Gory
Tahukah Gwiple? Kuda nil secara statistik merupakan salah satu mamalia darat paling mematikan di dunia bagi manusia. Meskipun penampilannya tampak jinak dan menggemaskan, namun hewan teritorial nan agresif ini diperkirakan bertanggung jawab atas kematian sekitar 500 hingga 1.000 jiwa setiap tahunnya di benua Afrika—jauh melampaui jumlah korban gabungan dari serangan hiu dan singa.
Ancaman nyata inilah yang diangkat dalam film horor-survival Hungry (2026) yang disutradarai dan ditulis oleh James Nunn. Film ini menceritakan sekelompok wisatawan yang berniat menikmati tur rawa-rawa di wilayah Louisiana, Amerika Serikat. Sial bagi mereka, alih-alih menemukan aligator, kelompok ini justru terdampar di area terisolasi dan menjadi buruan seekor kuda nil raksasa yang sangat agresif akibat lepas di ekosistem rawa tersebut. Karakter utama film ini berfokus pada Sistine (diperankan Madison Davenport) bersama turis lain seperti Walker (Joaquim de Almeida), Dionne (Tracey Bonner), , Sally (Samantha Coughlan), dan Hannah (Olivia Bernstone). Saat perahu yang dikendarai oleh tur guide Rodrigo (Michel Curiel) tiba-tiba terbalik karena diserang oleh kuda nil, para penyintas awal ini dipaksa berjuang meloloskan diri dari terkaman raksasa berbobot tonan di tengah medan rawa yang kian menyempit.

Review Film Hungry, Film Yang Kurang Gory
Apakah Sistine dan rombongannya sanggup selamat dari cengkeraman raksasa teritorial tersebut dan menemukan jalan keluar dari rawa mematikan? Gwiple dapat mengetahui jawabannya di bioskop kesayangan. Oya, sutradara James Nunn merancang skenario film ini terinspirasi dari fakta sejarah nyata tentang American Hippo Bill tahun 1910, yaitu wacana legendaris pemerintah AS yang pernah berencana mengimpor kuda nil ke rawa Louisiana demi mengatasi krisis daging sapi nasional.
Pada paruh awal cerita, Hungry sebenarnya tampil sangat menjanjikan. Dinamika antar karakter dibangun dengan cukup solid, memperlihatkan kelompok manusia yang secara rasional berupaya bekerja sama, saling bahu-membahu, dan menyusun strategi matang di tengah krisis yang mengepung mereka. Sayangnya, masuk pertengahan film, potensi tersebut perlahan menguap akibat munculnya berbagai kekonyolan yang tidak penting, keputusan-keputusan karakter yang mendadak tidak logis, serta porsi drama bernuansa komikal yang merusak ketegangan. Ditambah lagi, eksekusi visual dan pergerakan kuda nil yang dihadirkan kurang memberikan ancaman kengerian yang meyakinkan—terkadang membuat sosok sang monster tampak canggung alih-alih menakutkan. Meskipun adegan serangan yang dihadirkan tetap dibuat agak mengerikan, atmosfer terornya sering kali buyar akibat ritme narasi yang inkonsisten.

Review Film Hungry, Film Yang Kurang Gory
Hungry memang merupakan film survival monster yang unik dari segi konsep, di mana penonton Gwiple diajak melihat eksperimen ide segar menjadikan kuda nil sebagai antagonis utama, meski harus memaklumi beberapa deretan kekonyolan yang hadir di tengah perjuangan berdarah para karakternya.
TV & Movies
Review Film Whalefall, Daddy Issue Yang Berujung Fatal
Whalefall merupakan film survival-thriller bernuansa emosional terbaru rilisan 2026 yang disutradarai Brian Duffield. Film ini diproduksi oleh 20th Century Studios dan mengadaptasi novel bestseller fiksi ilmiah populer karya Daniel Kraus. Mengusung klaustrofobia yang mencekam di kedalaman samudra, film ini menceritakan perjuangan seorang penyelam muda yang tidak sengaja tertelan utuh oleh seekor paus sperma raksasa.

Review Film Whalefall, Daddy Issue Yang Berujung Fatal
Cerita berfokus pada Jay Gardiner (diperankan oleh Austin Abrams), seorang pemuda yang nekat menyelam di lepas pantai California demi menemukan sisa-sisa tulang-belulang almarhum ayahnya, Mitt Gardiner (Josh Brolin), yang bunuh diri di laut pada tahun sebelumnya. Dihantui rasa bersalah dan kenangan pahit akibat hubungan mereka yang renggang serta penuh konflik, aksi nekat Jay justru berubah menjadi bencana ketika seekor paus sperma sepanjang 24 meter menelannya hidup-hidup. Terjebak di dalam perut paus yang gelap dengan cadangan oksigen yang terus menipis dalam hitungan jam, Jay tidak hanya harus bertarung melawan kengerian fisik dan tekanan biologis organ dalam paus, tetapi juga berjuang mengatasi trauma batinnya. Di dalam kegelapan tersebut, film ini mengeksplorasi secara mendalam daddy issue yang dialami Jay, memaksa dirinya memproses penyesalan, luka lama, serta makna hubungan keluarga yang belum sempat terselesaikan dengan sang ayah demi bisa bertahan hidup.

Review Film Whalefall, Daddy Issue Yang Berujung Fatal
Bagaimanakah upaya Jay meloloskan diri dari dalam perut raksasa samudra tersebut sebelum persediaan oksigen di tabungnya benar-benar habis? Apakah ia berhasil menemukan kedamaian atas trauma hubungannya dengan sang ayah? Gwiple dapat mengetahui jawabannya di bioskop-bioskop kesayangan. Oya, jajaran pemeran film ini juga diperkuat oleh aktris senior Sigourney Weaver yang memberikan performa akting sangat emosional sebagai ibu Jay.

Review Film Whalefall, Daddy Issue Yang Berujung Fatal
Sutradara Brian Duffield mengemas alur cerita film ini dengan tempo yang sangat pas, menyelipkan adegan kilas balik hubungan keluarga Jay secara intuitif tanpa mengganggu intensitas pertarungan hidup-matinya di dalam paus. Kontras antara kengerian fisik ruangan yang menyempit dan perjalanan emosional Jay saat menghadapi trauma masa lalunya berhasil membuat penonton ikut menahan napas sekaligus tersentuh di setiap adegannya. Akting Austin Butler amatlah apik dalam memperlihatkan pergeseran emosi Jay dari seorang pemuda yang rapuh dan dipenuhi amarah menjadi sosok yang gigih berjuang demi mempertahankan nyawanya.

Review Film Whalefall, Daddy Issue Yang Berujung Fatal
Whalefall memang merupakan film yang sangat solid dan unik, di mana penonton Gwiple diajak menyelami kengerian klaustrofobia di dalam tubuh raksasa laut serta ketegangan emosional tentang rekonsiliasi keluarga dan penerimaan diri yang amat berkesan.
TV & Movies
Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting unjuk Gigi
Sepertinya meski gak familiar dengan STREET FIGHTER, beberapa persen manusia di dunia pasti pernah mendengar atau melihat serangan melempar bola energi itu meski hanya sekilas.
Sekarang hadoken membara lagi dengan CG modern di adaptasi teranyar serial gim fighting legendaris ini yang disutradarai Kitao Sakurai. Apakah bisa melebihi 2 adaptasi STREET FIGHTER sebelumnya yang reputasinya kurang bagus itu?

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi
STREET FIGHTER baru ini bercerita tentang Ken (Noah Centinio) yang kacau setelah kematian gurunya, Goken (Don Lee). Di kaya tapi seakan kehilangan jiwa petarungnya. Hidup gemerlap, namun yang menemaninya di bawah lampu ajep-ajep hanya Dan Hibiki (Andrew Schulz) seorang.
Ken menyalahkan Ryu (Andrew Koji) padahal si jagoan ikonik itu juga menderita dengan bebannya sendiri, yakni sisi gelapnya yang bisa meraung bila ia kembali bertarung.
Chun Li (Calina Liang) kemudian datang dan merekrut keduanya untuk mengikuti turnamen buatan M. Bison (David Dastmalchian) yang mempunyai agendanya sendiri.

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi
Kedua aktor begitu klop memainkan Ken dan Ryu sampai hanya beberapa detik saja melihat mereka di layar langsung, yeah it's them. 100%.
Karena menghidupkan dan chemistry mereka sukes, drama keduanya pun menjadi daging di film yang paling menarik diikuti dan memang jadi fokus STREET FIGHTER, meskipun bisa menjadi agak rumit.
Sayangnya melawan Bison seakan cerita yang dipaksakan untuk dimasukkan, apalagi akting si villain terasa kurang. Penulis kurang paham apa arah akting David Dastmalchian; serius total kah? Atau ada bercandanya? Karena cast lain terasa 100% game, kekurangan ini jadi menonjol.

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi
Hasilnya, untuk serve perihal Ryu dan Ken juga Chun Li-Bison ini, pacing terasa dikebut dan penonton tak banyak diberi nafas untuk meresapi dramanya. Tarung lanjut ada yang marah, tarung lagi, kerja sama, etc. Kesemuanya bila perlahan oke saja, namun alur ngegas ini yang bikin semuanya terasa sekelebat saja kurang total mengena.
Jadi berharap ada cut lain yang penceritaanya lebih rapih.
Maka terasa sayang melihat visual 90’s yang kreatif pop tapi tak melupakan drama, cast yang cetar apalagi adegan bertarung di klub <siapa sangka Dhalsim (Vidyut Jammwal) bisa terlihat cool?>, adegan bertarung yang cukup setia gerakan di gim dan tetap engaging, semuanya terganggu oleh problem yang sama.

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi
MORTAL KOMBAT 2 dan kini STREET FIGHTER menunjukkan adaptasi gim sungguh sudah menuju level lebih tinggi dan keduanya fighting game! Bukan yang kuat dalam bercerita tetapi filmmaker sekarang seperti sudah menemukan formulanya. Semoga ronder berikutnya lebih dan lebih dan lebih menonjok lagi.
-
TV & Movies4 weeks agoREVIEW FILM VERITY, MENGUNGKAP SISI GELAP PENULIS TERSOHOR
-
Smartphone4 weeks agoPOCO F9 Series Siap Meluncur di Indonesia 5 Oktober, Tegaskan Posisi sebagai The True Flagship
-
Smartphone4 weeks agoOPPO A7 Pro Series 5G Segera Hadir: Bawa Durability A Series ke Level Berikutnya dengan Baterai 10000mAh yang Tetap Optimal hingga 6 Tahun
-
TV & Movies4 weeks agoReview Film Forgotten Island, Animasi DreamWorks Berlatar Mitologi Filipina
-
TV & Movies3 weeks agoBonus Stage Street Fighter di Indonesia Comic Con 2026: Smash The Car!
-
TV & Movies3 weeks agoReview Film Empat Musim Pertiwi, Puisi Visual tentang Trauma, Patriarki, dan Ketahanan Perempuan.
-
Teknologi4 weeks agoLenovo Perkuat Kolaborasi dengan DreamWorks Animation, Dukung Produksi Film Animasi Forgotten Island
-
TV & Movies3 weeks agoThe Conjuring: Unspoken Hadir di Netflix, Bawa Pengalaman Horor Interaktif




