Connect with us

TV & Movies

Review Film Suzzanna: Santet Dosa Diatas Dosa, Estetika Dendam dan Metafora Kekuasaan

Published

on

Review Film Suzzanna: Santet Dosa Diatas Dosa, Estetika Dendam Dan Metafora Kekuasaan

www.gwigwi.com – Berlatar di Desa Karang Setan, cerita bermula ketika Bisman (Clift Sangra), seorang juragan kejam yang haus kekuasaan, berambisi menjadi lurah tunggal. Halangan terbesarnya adalah Pak Satriyo (El Manik), ayah Suzzanna, yang lebih dicintai warga.

Dengan menghalalkan segala cara bahkan menggunakan ilmu hitam, Bisman menghabisi Pak Satriyo. Suzzanna yang hancur mencoba melarikan diri namun terseret arus sungai hingga dianggap tewas.

Di sinilah plot menjadi menarik: Suzzanna diselamatkan oleh Pramuja (Reza Rahadian) dan dirawat oleh Bude Gayatri (Djenar Maesa Ayu), yang ternyata menyimpan rahasia kelam tentang dunia santet.

Review Film Suzzanna: Santet Dosa Diatas Dosa, Estetika Dendam Dan Metafora Kekuasaan

Review Film Suzzanna: Santet Dosa Diatas Dosa, Estetika Dendam Dan Metafora Kekuasaan

Didorong rasa amarah yang membara, Suzzanna memilih jalan kegelapan untuk membalas dendam “dosa di atas dosa” yang dilakukan Bisman.

Berbeda dengan film-film sebelumnya yang fokus pada teror instan, sutradara Azhar Kinoi Lubis memberikan ruang bagi penonton untuk berempati pada Suzzanna.

Kita melihat transformasinya dari gadis rapuh yang jatuh cinta pada Pramuja menjadi sosok mengerikan yang kehilangan kemanusiaannya akibat dendam struktural.

Jika film-film sebelumnya lebih fokus pada “bagaimana” Suzzanna menakuti korbannya?

Film Santet Dosa di Atas Dosa lebih fokus pada “mengapa”. Naskahnya mengeksplorasi lapisan psikologis seseorang yang dipaksa menjadi jahat oleh keadaan.

Konflik antara Suzzanna dan Bisman adalah metafora dari penindasan rakyat kecil oleh penguasa korup. Unsur santet di sini tidak hanya digambarkan sebagai ilmu hitam, tetapi sebagai “senjata terakhir” bagi mereka yang tidak mendapatkan keadilan di dunia nyata.

Kali ini, sang aktris Luna Maya membuktikan dedikasinya dengan menghabiskan 4 jam setiap hari untuk riasan prostetik.

Review Film Suzzanna: Santet Dosa Diatas Dosa, Estetika Dendam Dan Metafora Kekuasaan

Review Film Suzzanna: Santet Dosa Diatas Dosa, Estetika Dendam Dan Metafora Kekuasaan

Yang lebih mencengangkan, Luna melakukan adegan berbahaya terseret arus sungai deras tanpa stuntman, yang kabarnya nyawa-nya pun menjadi taruhan ketika syuting adegan tersebut.

Performa vokalnya pun kini lebih matang, meniru intonasi khas Suzzanna asli dan terdengar natural.

Begitu pula juga dengan Reza Rahadian, perannya sebagai Pramuja bukan sekadar pelengkap romantis; dia adalah jangkar kemanusiaan untuk Suzzanna.

Interaksi mereka di tengah hutan pinus yang berkabut memberikan nuansa puitis yang jarang ada di film horor Indonesia. Sebuah Chemistry yang tidak terduga.

Reza juga memberikan performa yang tenang namun kuat, menjadi kontras yang sempurna bagi kegilaan dan amarah yang terpancar dari mata prostetik Luna Maya.

Tidak lupa dengan komedi khas film Suzzanna, elemen komedi tetap hadir lewat akting Ence Bagus, Adi Bing Slamet, dan Azis Gagap. Kehadiran mereka memberikan jeda yang pas sebelum penonton kembali dihantam adegan santet yang brutal dan mencekam.

Dari sisi sinematografi, penggunaan teknik long shot saat adegan ritual santet menciptakan perasaan tidak nyaman yang merayap.

CGI digunakan dengan sangat halus, terutama pada adegan-adegan ikonik yang melibatkan ribuan ulat dan efek “kulit melepuh” yang terlihat gore tapi artistik.

Hal ini dikarenakan Soraya Intercine Films tidak main-main. Sajian visual dengan membangun atmosfer desa tahun 80-an dibangun dengan sangat detail.

Unsur horor kolosalnya terasa megah, didukung oleh barisan aktor dan aktris beken yang menyajikan skala produksi yang Grande untuk film Lebaran tahun 2026 ini.

Secara keseluruhan, film “Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa” adalah puncak dari transformasi Luna Maya sebagai reinkarnasi sang legenda.

Film ini tidak hanya menjual ketakutan, tetapi juga mengangkat isu sosial tentang penyalahgunaan kekuasaan. Sebuah tontonan wajib bagi pencinta horor yang menginginkan cerita yang kuat dengan visual yang memukau.

Film ini juga membuktikan, bahwa horor bisa memiliki substansi cerita yang berat tanpa kehilangan elemen hiburan dan ketakutannya.

 

Advertisement

TV & Movies

Review Film The Masters of The Universe, Not Enough Power

Published

on

By

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

www.gwigwi.com – Franchise legenda lagi akan tayang setelah MORTAL KOMBAT 2 dan THE MANDALORIAN AND GROGU. HE-MAN! Laama sekali penantian setelah begitu banyak rumor dan segala macamnya, MASTERS OF THE UNIVERSE akhirnya jadi film juga. Nah, apakah akan hanya menyenangkan fans lama saja?

Adam (Nicholas Galitzine) rindu dengan kampung halamannya, Eternia sampai mengganggu pekerjaannya di kantor.

Naas, saat kerajaannya diserang dulu, dia terpaksa kabur ke bumi. Sampai akhirnya dia menemukan lagi pedang yang akan menuntunnya pulang, Sword of Power.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

Namun, baru saja dia panggul pedang itu lagi, Adam diserang monster dan dilindungi teman lamanya, Theela (Camila Mendes) yang membawanya pulang.

Sang pangeran tak menyangka Eternia kini rusak akibat lalimnya sang musuh utama, Skeletor (Jared Leto). Menggunakan Sword of Power dan sekutunya seperti Man At-Arms (Idris Elba), maka Adam harus berjuang menyelamatkan dunianya.

Sebagai adaptasi mainan HE-MAN, tentu visual dan baku hantamnya lah salah satu pesona utama. Kostumnya untungnya tidak direalistiskan tapi total mencoba setia pada mainannya. Begitu pun aksinya menghentak bahkan sedari awal. Berkat koreografi energik dan sinematografi dinamis yang cakap.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

Nicholas Galatzine seakan menchannel man child ala Star Lord-nya Chris Pratt, tapi tetap punya keunikan sendiri. Meski berbadan besar hanya dengan tatapan saja dia bisa terkesan lembut dan membuat iba.

Sisi itulah yang membuat hero ini tak hanya sekedar mas berotot tangguh bawa pedang saja. Terdapat kualitas heroik lain yang menyokong tenaga itu, membuatnya cukup berbeda dibanding tipikal penampilannya. Dan Nicholas Galitzine berhasil menampilkannya.

Mungkin yang mengherankan adalah pilihan membuat badannya sudah bongsor walau belum berubah jadi HE-MAN. Meski visual henshinnya keren, tapi perubahan fisiknya terasa kurang sedrastis Chris Evans saat menjadi Captain America. Jadinya, efek wow transformasinya berasa kurang.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power

Di sisi lain, Jared Leto mengejutkan sebagai si antagonis. Tak sekalipun kita melihat wajahnya, tapi dia bisa melebur total dalam balutan kostum dan wajah tengkorak. Gesturnya begitu hidup dan dia bisa terlihat mengancam tapi kemudian lucu dengan seketika.

Secara cerita memang…klasik, maka film tampak mengandalkan atraksi, banter antar karakter yang memang oke saja dan komedi. Walau servicable, rasanya bila ingin menjadi franchise jaya kembali, THE MASTERS OF THE UNIVERSE tampaknya butuh lebih banyak kejutan dan selling point untuk memenangkan penonton sekarang yang sudah terhujani banyak konten, tak seperti tahun-tahun keemasannya dulu.

Bila tidak, yang senang sekali bisa jadi hanya para fans tua saja sementara penonton lain menggangguk saja kurang terkesan, seperti yang penulis rasakan.

Continue Reading

TV & Movies

REVIEW FILM NORMAL, FILM ACTION YANG TIDAK NORMAL

Published

on

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal

www.gwigwi.com – Bob Odenkirk, sosok multitalenta yang dikenal sebagai penulis, produser, dan aktor populer lewat serial Breaking Bad serta Saturday Night Live (SNL), kembali menggebrak layar lebar. Kali ini, ia berpartner dengan Derek Kolstad—kreator bertangan dingin di balik kesuksesan waralaba John Wick dan Nobody. Sinergi keduanya membuahkan sebuah film komedi aksi berjudul Normal, yang digarap di bawah arahan sutradara Ben Wheatley, yang sebelumnya menukangi film Free Fire, Tomb Raider, dan Meg.

Film ini menyoroti kisah seorang sheriff pengganti bernama Ulysses (diperankan oleh Bob Odenkirk). Ia mendapatkan penugasan baru di sebuah kota kecil yang tenang di wilayah Minnesota bernama Normal. Ulysses hadir untuk menggantikan posisi sheriff sebelumnya, Gunderson, yang secara mengejutkan meninggal mendadak. Secara personal, Ulysses adalah pria yang fleksibel dan hanya ingin menjalani sisa kehidupannya dengan ketenangan. Namun, di balik pembawaannya tersebut, ia memendam masa lalu traumatis yang kelam saat masih menjadi seorang sheriff idealis di masa lalu.

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal

Ulysses awalnya beranggapan bahwa masa tugasnya selama delapan minggu ke depan—hingga sheriff definitif baru diangkat—akan berjalan datar dan biasa saja seperti nama kotanya. Namun, ekspektasi tersebut langsung hancur berantakan. Kehadiran sepasang pendatang baru, Moira (Lena Headey) dan Keith (Brendan Fletcher), yang nekat melakukan perampokan bank secara brutal, justru menjadi pemantik yang membuka kotak pandora dan menyingkap rahasia besar nan kelam yang selama ini disembunyikan oleh kota Normal.

Sebagai sebuah film aksi, Normal masih membawa napas dan formula yang serupa dengan John Wick dan Nobody. Sepanjang durasi, film ini dipenuhi oleh adegan-adegan sadis, berdarah, dan memilukan. Oleh karena itu, film ini sangat tidak ramah dan tidak cocok ditonton oleh Gwiple yang masih berusia di bawah 17 tahun.

Meski begitu, intensitas baku tembak dan pertarungan di film ini tidak disajikan secara bombastis atau se-elegan John Wick. Mengapa? Karena mayoritas karakter yang terlibat di dalamnya hanyalah warga sipil biasa, bukan petarung atau kombatan profesional. Namun, di situlah letak kekuatan dan keseruannya. Setiap aksi perkelahian terasa sangat mentah (raw), realistis, minim koreografi rumit, dan brutal. Unsur komedi gelap (dark comedy) di film ini juga dieksekusi dengan cerdas, di mana kelucuan sering kali lahir dari situasi gore yang dialami para korban, memicu banyak momen mencengangkan yang membuat Gwiple terbelalak.

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal

Selain itu, film ini memiliki jajaran karakter pendukung yang cukup ramai. Hebatnya, setiap tokoh diperkenalkan satu per satu dengan porsi yang pas dan penokohan yang kuat. Hal ini membuat Gwiple bisa dengan mudah mengingat mereka dalam waktu singkat, meskipun durasi kemunculan beberapa karakter tergolong singkat.

Secara keseluruhan, Normal adalah sajian film aksi yang lebih condong mendekati kembaran Nobody berkat taburan bumbu komedi yang kental, sehingga nuansanya tidak terasa sekelam dan seserius John Wick. Dengan plot cerita yang ringan, pergerakan alur yang tidak bertele-tele, serta suguhan beberapa plot twist yang menyegarkan di akhir cerita, Normal menjadi sebuah tontonan yang amat menghibur, seru, dan sangat layak untuk Gwiple saksikan langsung di layar bioskop!

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Film The Mandalorian and Grogu, Is this The Way?

Published

on

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

www.gwigwi.com – www.gwigwi.com –   Sukses dari serial Disney+ nya, Abang Din Djarin alias Mandalorian (Pedro Pascal) bersama Grogu kali ini nongol di layar besar bioskop. Apakah bisa menyuguhkan petualangan yang lebih wah?

Mandalorian diminta Kolonel Ward (Sigourney Weaver) untuk menyetujui permohonan kembar Hutt. Kedua dedengkot kriminal gang Hutt itu meminta si pemburu hadiah untuk mencari Rotta (Jeremy Allen White) yakni anak dari si cacing legendaris trilogi orisinil Star Wars, Jabba The Hutt.

Plot sebenarnya tidak se straight forward kedengarannya dan masih memberikan surprise yang boleh lah menegangkan. Walau terasa episode tambahan saja dari serialnya.

Barangkali yang disayangkan, transisi ke layar lebar ini kurang dibarengi presentasi yang lebih sinematik.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

Konsep sinematografinya terasa tak jauh berbeda dengan di serialnya yang untuk layar kecil. Membuat petualangan ini sedikit terasa kurang epik.

Mungkin tujuannya memang menampilkan skala konflik yang lebih kecil tapi rasa low budget nya jadi berkesan sekali apalagi melihat dari layar lebar. Begitu pun spesial efek yang cukup sering terlihat kurang meyakinkan apalagi di paruh awal.

Penulis Dave Filoni (yang sekarang menjadi Presiden Lucasfilm) dan sutradara Jon Favreau, boleh jadi ahli dalam world building baik soal desain planet baru dan alien baru, tapi rasanya kurang menginjeksinya dengan karakterisasi yang unik.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

Rotta memiliki kontras yang menarik dengan Hutt lain yang doyan jadi jahat. Kalau saja ditampilkannya tak melulu dengan dia mengeksposisi situasi dan perasaannya layaknya sinetron, dan dengan cara yang lebih subtil.

Rasanya jadi paham kenapa James Gunn begitu komitmen dengan komedinya dan serial The Boys kerap memperlihatkan nyelenehnya; gunanya untuk menghidupkan adegan dan memberi keunikan. Sesuatu yang dibutuhkan THE MANDALORIAN AND GROGU untuk lebih memoles desain produksinya yang cakap.

Apabila tujuan film ini adalah menampilkan petualangan pulp sederhana yang seru dibumbui komedi, duo Mando dan Grogu sudah plek sekali cocoknya.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?

Namun rasanya mereka membutuhkan para karakter pendukung yang punya kepribadian kuat, unik dan menghibur lebih banyak lagi, juga ketegangan dan komedi yang lebih kental lagi.

Bila sudah demikian, mau berapa kali pun petualangan THE MANDALORIAN AND GROGU dirilis, meskipun tak banyak benang merah di antaranya, penonton boleh jadi masih akan wow dengan aksi keren Mando dan terpesona lucunya Grogu.

Untuk sekarang THE MANDALORIAN AND GROGU mungkin not exactly the way.

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending