Connect with us

Berita Anime & Manga

Lagu Baru Kayoko Yoshizawa, Tasokare, Jadi Opening Theme Anime Tasokare Hotel

Published

on

tasokare hotel

www.gwigwi.com – Kabar gembira buat kamu penggemar anime dan musik Jepang! Kayoko Yoshizawa, penyanyi berbakat yang dikenal lewat lagu-lagunya yang emosional, baru saja mengumumkan bahwa lagu terbarunya yang berjudul “Tasokare” akan menjadi opening theme untuk anime Tasokare Hotel. Anime ini dijadwalkan tayang di Jepang pada Januari 2025 dan tentunya, lagu Tasokare bakal bikin kamu makin nggak sabar menanti penayangannya.

Dalam rangka mempromosikan anime tersebut, video promosi pertama dari Tasokare Hotel sudah dirilis di YouTube resmi anime ini. Nggak cuma itu, Yoshizawa juga nggak ketinggalan merilis video promosi khusus yang menampilkan lagu Tasokare di kanal YouTube pribadinya. Jadi, kamu sudah bisa intip sedikit bocoran dari lagu yang bakal jadi pembuka di anime ini!

Tonton video promosi Tasokare Hotel di YouTube dan cek video promosi lagu Tasokare di sini.

Tasokare, Lagu yang Penuh Imajinasi dan Emosi

Lagu Tasokare ini memiliki progresi musik yang bikin pendengarnya terbawa dalam berbagai macam imajinasi. Dengan perpindahan melodi yang dinamis dan perubahan nuansa yang kental, lagu ini benar-benar menggambarkan dunia Tasokare Hotel teramat detail. Kayoko Yoshizawa sendiri adalah penggemar berat dari game orisinal Tasokare Hotel dan ini terlihat dari lirik lagunya yang penuh makna. Ia berhasil membawakan suasana misterius dan intrik dari game tersebut ke dalam lagu ini, sehingga cocok banget buat jadi pembuka anime-nya.

Dalam komentarnya, Yoshizawa mengungkapkan bahwa inspirasi untuk Tasokare datang dari alternate ending game Tasokare Hotel. Ia merasa hari-harinya terbenam dalam dunia game ini adalah momen yang sangat membahagiakan. Menurutnya, Tasokare mencerminkan kenangan samar yang membimbing jalan cerita, serta kehidupan yang tergantung di antara dua dunia. Ia juga mengajak penggemar untuk menantikan bagaimana drama manusia yang kompleks akan terungkap di anime Tasokare Hotel ini. Kira-kira, bagaimana ya akhir dari anime ini?

Siapa Sih Kayoko Yoshizawa?

Kayoko Yoshizawa adalah penyanyi yang lahir pada 4 Juni 1990 di kota Kawaguchi, Prefektur Saitama, Jepang. Debutnya di industri musik dimulai pada tahun 2014 dan sejak itu ia terus merilis lagu-lagu yang memikat banyak pendengar. Salah satu singlenya yang terkenal, Nokotteru menjadi hit yang bertahan lama di hati para penggemarnya. Tahun 2024 ini menandai 10 tahun perjalanan kariernya dan Yoshizawa merayakannya dengan konser Kayoko Yoshizawa 10th Anniversary Concert: Still in Witch Training di LINE CUBE SHIBUYA pada 14 Mei 2024 lalu.

Saat ini, Yoshizawa sedang menjalani tur nasional bertajuk Triangle Tour: The Traveling Witch yang dimulai pada 3 Oktober 2024. Tur ini menjadi momen spesial bagi para penggemarnya untuk melihat performa langsung dari penyanyi berbakat ini. Buat kamu yang ingin tahu lebih banyak tentang perjalanan karier dan jadwal tur Kayoko Yoshizawa, bisa langsung cek info lengkapnya di website resminya.

Anime Tasokare Hotel yang Dinantikan

Anime Tasokare Hotel sendiri diadaptasi dari game visual novel populer dengan judul yang sama. Game ini punya cerita yang penuh misteri dan teka-teki, di mana para karakter terjebak di sebuah hotel yang misterius. Para pemain ditantang untuk memecahkan misteri-misteri di dalamnya dan mencari jalan keluar dari hotel tersebut. Dengan tema cerita yang begitu mendalam dan penuh emosi, nggak heran kalau Tasokare Hotel jadi salah satu anime yang paling dinantikan pada awal tahun 2025.

Selain itu, dengan adanya lagu pembuka dari Kayoko Yoshizawa, anime ini pasti bakal makin menarik untuk diikuti. Nggak sabar kan menunggu bulan Januari tiba?

Tonton Video Promosi Sekarang!

Buat kamu yang penasaran dengan anime Tasokare Hotel dan lagu pembukanya, jangan lupa buat nonton video promosi pertamanya di YouTube resmi Tasokare Hotel. Kamu juga bisa menikmati sneak peek dari lagu Tasokare di kanal YouTube Kayoko Yoshizawa.

Buat kamu yang ingin tahu lebih banyak soal anime dan musik Jepang, jangan lupa kunjungi Gwigwi untuk update terbaru seputar dunia hiburan Jepang. Di sini kamu bisa menemukan berita, ulasan, dan rekomendasi anime serta musik terbaru yang sayang banget untuk dilewatkan!

Advertisement

Berita Anime & Manga

Review Tomb Raider King Eps.1-2

Sama-sama mengusung tema dungeon crawling seperti Solo Leveling, mampukah adaptasi anime Tomb Raider King meraih kesuksesan yang sama? Simak ulasan dua episode pertamanya di sini.

Published

on

Review Tomb Raider King Eps.1 2

www.gwigwi.com – Dikhianati kontraktornya, “Tomb Raider” Jooheon Suh hampir saja mati di sebuah makam/tomb berisikan relik ajaib saat tetiba dia kembali 15 tahun lalu saat God’s Tombs ajaib belum bermunculan. Bertekad untuk membalas, berbekal pengetahuan dan keahliannya, dia pergi mengoleksi berbagai elik dengan tangannya sendiri.

TOMB RAIDER KING dianimasikan! Manhwa karya Sanji Jiksong ini tampaknya ingin ikut mencicipi kesuksesan SOLO LEVELING. Sesama sub genre Lit-RPG (cerita dengan mekanisme gim) dan dungeon crawling, mampukah mereka meraup harta kesuksesan yang sama?

Menjanjikan petualangan, misteri, atraksi aksi yang dibumbui strategi cerdik tak terduga, TOMB RAIDER KING memiliki banyak key selling point buat penyuka sub genre ini.

Cerita dengan cerdas tidak dimulai dari awal mula karir Jooheon. Penonton langsung disuguhi misteri pengkhianatan, kenapa dia bisa kembali ke masa lalu dan protagonis yang sudah jago, cepat memahami situasi dan langsung bertindak.

Alur ringkas cepat ini membantu memaku perhatian saat animasi dan art style gambar terasa cukup saja. Sisa informasi world building dieksposisikan tokoh utama sambil jalan yang untungnya lore TOMB RAIDER KING ini cukup sederhana dan mudah dicerna.

Mungkin karena keliatan sederhana ini juga, rasanya dunianya kurang terasa spesial. Tomb yang didatangi Jooheon saat baru sadar terinspirasi dari kisah populer ‘Kapak Emas’ dari dongeng Aesop. Memang boleh saja terinspirasi demikian, tapi seperti kurang ada polesan unik ala TOMB RAIDER KING itu sendiri. Ya, ada twist berbeda, namun kurang terasa menghentak.

Entah karena Jooheon yang digambarkan dengan istilah “OP” atau over power kah? Pemuda ini sudah sakti, pede, cerdas, pokoknya wah. Dari dua episode ini, belum ada tantangan berarti mau itu dari menghajar orang atau melawan monster. Fokus memperlihatkan hebatnya dia memang boleh saja, tetapi cerita seperti lupa memberikan suspense atau pembeda dari sub genre yang sama saat sekarang dunia sudah mengenal SOLO LEVELING dan SHANGRI-LA FRONTIER (tentang petualangan seorang gamer di dunia gim, Shangri-La Frontier).

Rakurou Hizutome atau Sunraku, protagonis SHANGRI-LA FRONTIER memang jago tapi diperlihatkan juga dia tidak bisa memakai armor hingga terkena serangan sekali saja sudah fatal. Hal demikian belum ada di TOMB RAIDER KING. Karakter Jooheon terkesan power fantasy untuk para pembaca merasa strong dan kurang memiliki kedalaman lain supaya audiens bisa relate, malahan dia kadang terasa angkuh menyebalkan.

Bila ingin sekedar melihat protagonis doing cool, strong, smart stuff dibumbui misteri dan petualangan, dan diakhiri dengan mendapat harta yang bisa bikin lebih cool, strong, smart lagi, TOMB RAIDER KING mungkin bisa jadi pilihan.

Review Tomb Raider King Eps.1 2

Review Tomb Raider King Eps.1 2

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 2: Otak Di Atas Otot, Kemenangan Strategi Tanpa Cheat!

Published

on

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

www.gwigwi.com – Banyak anime fantasi memulai cerita dengan tokoh utama yang dibuang karena dianggap tidak berguna. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System mengambil pendekatan yang sedikit berbeda. Masalah Elymas bukan karena ia lemah, melainkan karena semua orang terlalu cepat menyimpulkan nilai seseorang hanya dari label kelas yang ia terima. Gelar Heavy Knight dianggap sebagai jalan buntu, sementara Swordmaster diperlakukan seperti satu-satunya masa depan yang layak. Keputusan ayahnya mengusir Elymas dan mengangkat adik tirinya dari cabang keluarga sebagai pewaris terasa lebih sebagai cerminan obsesi terhadap status daripada keputusan yang benar-benar rasional.

Yang menarik, Elymas tidak menghabiskan waktunya untuk meratapi nasib atau berteriak ingin balas dendam. Ia justru melihat pengasingan itu sebagai kesempatan memulai hidup tanpa ekspektasi keluarganya. Berbekal pengetahuan tentang mekanisme dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah membaca seluruh buku panduan, setiap keputusan yang diambil terasa penuh perhitungan. Kekuatan utama anime ini bukan aksi besar pada dua episode pertama, melainkan kepuasan melihat seseorang perlahan membalikkan stigma dengan logika, pengalaman, dan strategi.

Dari sisi produksi, GoHands kembali mempertahankan identitas visualnya. Desain karakter terlihat bersih dengan pencahayaan yang kaya, sementara latar memiliki detail yang membuat dunia fantasinya terasa hidup. Sayangnya, gaya penyutradaraan mereka masih sulit diabaikan. Kamera terus bergerak, melakukan panning, zoom in, dan zoom out bahkan ketika adegannya hanya percakapan sederhana. Ada momen ketika pergerakan kamera justru lebih aktif daripada karakter yang sedang berbicara. Bagi sebagian penonton ini menjadi ciri khas, tetapi bagi yang lain justru terasa mengalihkan perhatian dari cerita.

Dua episode pembuka ini belum menawarkan kejutan besar, tetapi berhasil menanam rasa penasaran. Anime ini tidak mencoba meyakinkan penonton bahwa Heavy Knight adalah kelas terkuat. Sebaliknya, ia mengajak penonton mempertanyakan apakah sebuah sistem benar-benar salah, atau manusianya saja yang terlalu cepat memberi cap pada sesuatu yang belum dipahami. Pendekatan tersebut membuat perjalanan Elymas terasa lebih menarik daripada sekadar kisah “tokoh yang diremehkan lalu menjadi overpowered.”

Nilai: 8,5/10. Premisnya memang familier, tetapi cara membangun karakter utama dan tema tentang prasangka terhadap potensi seseorang membuat serial ini memiliki identitas yang cukup kuat. Jika GoHands sedikit mengurangi “kamera yang hiperaktif”, pengalaman menontonnya akan terasa jauh lebih nyaman.

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas yang Ternyata Overpowered!

Published

on

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas Yang Ternyata Overpowered!

www.gwigwi.com – Anime fantasi dengan tema tokoh utama yang diusir keluarganya memang bukan hal baru. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System (Tsuihou sareta Tensei Juukishi wa Game Chishiki de Musou suru) menghadirkan konflik yang cukup menarik sejak episode pertamanya. Elymas, putra keluarga bangsawan Edvaughn, dianggap gagal memenuhi harapan karena memperoleh kelas Heavy Knight, kelas yang dipandang tidak memiliki masa depan dibandingkan Swordmaster. Pandangan sempit tersebut membuat ayahnya mengambil keputusan yang sangat drastis.

Situasi semakin rumit ketika Malice, adik tiri Elymas yang berasal dari cabang keluarga, memperoleh kelas Swordmaster. Berbekal status tersebut, Malice dengan cepat menggantikan posisi Elymas sebagai pewaris resmi keluarga Edvaughn. Kudeta terhadap hak waris itu berlangsung tanpa banyak perlawanan karena seluruh keluarga lebih memilih mengejar prestise daripada menilai kemampuan seseorang secara objektif. Adegan ini menjadi fondasi konflik utama serial, sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah label mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Menariknya, Elymas tidak tenggelam dalam amarah atau sibuk merencanakan balas dendam. Ia menerima pengasingannya sebagai awal kehidupan baru. Berkat pengetahuannya mengenai sistem dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah menguasai seluruh mekanisme permainan, Elymas menyadari bahwa Heavy Knight bukanlah kelas yang seburuk anggapan banyak orang. Cara berpikirnya yang tenang dan penuh perhitungan membuat tokoh utama terasa berbeda dibanding protagonis fantasi pada umumnya yang sering mengandalkan ledakan emosi.

Dari sisi visual, GoHands kembali mempertahankan ciri khasnya. Desain karakter terlihat tajam dengan efek pencahayaan yang kaya, sementara latar dunia fantasinya memiliki detail yang memanjakan mata. Sayangnya, gaya sinematografi mereka masih menjadi pedang bermata dua. Kamera terus bergerak dengan panning, zoom, dan perubahan sudut yang cukup agresif, bahkan saat adegan dialog berlangsung. Bagi sebagian penonton hal ini memberikan kesan dinamis, tetapi tidak sedikit yang justru merasa pergerakannya terlalu berlebihan sehingga mengalihkan fokus dari percakapan para karakter.

Sebagai episode pembuka, anime ini berhasil memperkenalkan dunia, sistem kelas, serta konflik keluarga yang menjadi pemicu perjalanan Elymas. Alih-alih hanya menyajikan kisah tokoh yang diremehkan lalu menjadi sangat kuat, episode pertama lebih menekankan bagaimana prasangka dan obsesi terhadap status dapat membuat seseorang kehilangan haknya. Itulah yang membuat perjalanan Elymas terasa layak untuk terus diikuti.

Nilai: 8,5/10. Episode pertama berhasil membangun konflik dengan baik dan memperkenalkan karakter utama yang cerdas serta tenang. Jika GoHands sedikit mengurangi pergerakan kameranya yang terlalu aktif, pengalaman menonton akan terasa lebih nyaman tanpa mengurangi kualitas visual yang memang menjadi kekuatan mereka.

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending