Connect with us

TV & Movies

Review Film Disney’s The Little Mermaid, respect the past, embrace the future

Published

on

Review Film Disney’s The Little Mermaid, Respect The Past, Embrace The Future

www.gwigwi.com – Dikisahkan tentang seorang putri duyung bernama Ariel (Halle Bailey). Sebagai Mermaid, Ariel sangat penasaran dengan dunia manusia.

Ia bahkan mengumpulkan banyak barang-barang dari dunia manusia yang tenggelam di lautan. Akan tetapi, ayah Ariel yakni King Triton (Javier Bardem) tak menyukai apa yang dilakukan oleh anaknya.

Hingga suatu ketika, Ariel menyaksikan secara langsung sebuah kapal yang tenggelam akibat badai hebat. Saat itulah, Ariel menyelamatkan Pangeran Eric (Jonah Hauer King) yang nyaris tenggelam.

Film yang dinahkodai oleh Rob Marshall ini turut membuat kita dimanjakan dengan lagu-lagu khas dari The Little Mermaid versi animasi serta beberapa lagu baru. Tidak heran untuk urusan music Lin-Manuel Miranda yang punya track record mumpuni menangani music yang membuat kita SING-a-long di sepanjang film.

Review Film Disney’s The Little Mermaid, Respect The Past, Embrace The Future

Review Film Disney’s The Little Mermaid, Respect The Past, Embrace The Future

Dari sisi cerita, di versi live action ini terjadi beberapa penyesuaian untuk versi live action, namun hal tersebut tidak merusak sisi magis dari film ini yang versi animasinya yang rilis di tahun 1989 dan menjadi era Renaissance bagi studio animasi Disney.

Semua dibuat beralasan, gak yang sekonyong-konyong jadi. Seperti kenapa King Triton sangat sinis dengan dunia manusia? Serta di film ini tujuan Ariel ke darat bukan hanya sekedar mengejar pangeran Eric semata.

Lalu dari sisi cast, film ini diramaikan oleh Halle Bailey, Javier Bardem, Jonah Hauer King, Melissa McCarthy, Awkwafina, Daveed Digs, dan Jacob Tremblay.

Untuk pemeran Ariel yaitu Halle Bailey, ia memiliki suara yang bagus ketika menyanyikan lagu “Part of Your World”. Meskipun sejak pengumuman cast dari proyek live action ini masyarakat awam menganggap kurang pas, namun sepertinya mereka harus menonton dulu filmnya.

Karena disini Halle Bailey berhasil memerankan Ariel menurut gue, apalagi ketika momen suaranya hilang. Ia memainkan mimik dengan baik dan menunjukkan bahwa ia pantas untuk memerankan sosok duyung dari dongeng karangan H.C Andersen ini.

Gak kalah, Melissa McCarthy merupakan jajaran cast favorit gue setelah Halle Bailey. Ia memang pantas untuk memerankan antagonis Ursula serta diselipkan joke-joke khas doi yang membuat karakternya hidup.

Untuk visual effect, kita akan disajikan dengan view dasar laut yang magis dan penuh misteri. Namun sepertinya Disney kurang belajar dari Lion King dimana untuk karakter makhluk laut teman-teman ariel seperti Flounder, Sebastian, Scuttle.

Padahal cast nya sudah melakukan effort dengan maksimal agar membuat dialog nya hidup namun tidak didukung dengan ekspresi yang harusnya dibuat lebih hidup.

Dengan adanya penyesuaian dari versi animasinya, ketika kita menyaksikan filmnya hingga sampai konklusi kitapun bisa menyimpulkan bahwa ada pesan tersirat yang ingin disampaikan yaitu “bahwa yang berbeda tidak selamanya memiliki stigma buruk”.

Hal tersebut disampaikan dengan baik, tanpa merusak flow cerita yang dibangun dengan sedemikian rupa dan menghormati versi animasinya.

Secara keseluruhan, versi live action Disney’s The Little Mermaid berhasil membuat sesuatu yang baru dari versi animasinya sesuai dengan visi sang sutradara dan menjadi sajian yang pas untuk dinikmati oleh lintas generasi.

Advertisement

TV & Movies

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Published

on

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

www.gwigwi.com – Kalau kamu nonton film Mutiny, jangan berharap bakal disuguhi cerita drama yang bertele-tele atau plot twist yang bikin pusing tujuh keliling. Film ini tipikal tontonan aksi Statham banget yang ceritanya langsung tancap gas tanpa basa-basi.

Cerita bermula ketika Cole Reed (Jason Statham), seorang pria tangguh dengan latar belakang keluarga polisi, bekerja pada seorang bos miliarder India di Thailand Sialnya, hidup Cole mendadak jungkir balik ketika atasannya itu tewas ditembak tepat di depan matanya sendiri.

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Belum sempat merespons situasi, Cole langsung dijebak sebagai pelaku pembunuhan tersebut. Ia otomatis menjadi buronan utama kepolisian. Demi membersihkan nama baiknya sekaligus membalaskan dendam sang bos, Cole melacak jejak para pelaku hingga ke sebuah kapal kargo besar yang tengah berlayar.

Di dalam lambung kapal yang sempit dan penuh kontainer itulah, perguruan dimulai. Di tengah usahanya bertahan hidup, Cole justru menemukan fakta yang lebih besar: kapal tersebut ternyata dipakai sebagai sarang konspirasi internasional dan perdagangan manusia berkedok jaringan kriminal yang dipimpin Marko Madsen yang tidak lain adalah nahkoda kapal tersebut. Dari sinilah misi balas dendam pribadi Cole berubah menjadi aksi penyelamatan skala besar.

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Secara garis besar, alur Mutiny sangat linear dan mudah diikuti. Sutradara Jean-François Richet (yang sebelumnya sukses menggarap Plane) tahu betul cara memanfaatkan ruang terbatas. Latar tempat di atas kapal kargo memberikan atmosfer klaustrofobik—membuat penonton ikut merasa terkurung karena tidak banyak ruang untuk lari.

Dari segi akting, Jason Statham tampil konsisten memerankan karakter andalannya: jagoan dingin, minim ekspresi tapi mematikan, yang kerjanya cuma menghajar penjahat tanpa perlu banyak dialog. Tidak ada yang baru dari penampilan Statham di sini, tapi toh memang itu yang dicari oleh para penggemar setianya.

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Namun, ada sedikit catatan bagi pencinta film laga murni. Buat kamu yang mengharapkan pertarungan tangan kosong (hand-to-hand combat) yang intens dan panjang ala film-film pertarungan tangan kosong tradisional, Mutiny rasanya agak “kurang banyak” porsinya. Film ini lebih banyak mengandalkan tembak-tembakan, todongan senjata, dan aksi taktis jarak menengah ketimbang baku hantam brutal satu lawan satu yang melelahkan fisik secara kasat mata.

Mutiny tetap menjadi tontonan pelepas penat yang seru dan efektif untuk akhir pekan, asalkan kamu menaruh ekspektasi sebagai film action tembak-tembakan kapal kargo yang simpel, cepat, dan tidak ribet.

Continue Reading

TV & Movies

Review Film Kung Fu Soccer, Evolusi Komedi Absurd Stephen Chow di Era Modern

Published

on

Review Film Kung Fu Soccer, Evolusi Komedi Absurd Stephen Chow Di Era Modern

www.gwigwi.com – Tim sepak bola wanita Emei yang kerap diremehkan ini berjuang untuk membuktikan diri dalam turnamen bergengsi bernama Supreme Invincible Cup. Dipimpin oleh kapten Shuangshuang (Zhang Xiaofei), penyerang jenius Yu Long (Dilraba Dilmurat), serta mentor mereka Xu Feng (Lay Zhang), tim yang memadukan jurus-jurus bela diri tradisional dengan taktik sepak bola untuk menghadapi lawan-lawan tangguh di lapangan hijau.

Review Film Kung Fu Soccer, Evolusi Komedi Absurd Stephen Chow Di Era Modern

Review Film Kung Fu Soccer, Evolusi Komedi Absurd Stephen Chow Di Era Modern

Kung Fu Soccer bukanlah sekuel langsung dari Shaolin Soccer (2001), melainkan sebuah legacy sequel dengan karakter dan semesta yang baru. Kali ini, sorotan utama diberikan kepada tim sepak bola wanita bernama Emei.

Jika Shaolin Soccer dulu kental dengan nuansa perjuangan kelas bawah melawan kemiskinan dan kapitalisme, Kung Fu Soccer terasa jauh lebih personal dan modern.

Film yang disutradarai dan naskahnya ditulis oleh Stephen Chow dengan cerdas menggeser fokus konfliknya ke isu-isu masa kini, seperti perlawanan terhadap stereotip gender, solidaritas perempuan, diskriminasi usia, hingga tekanan mental di lingkungan kerja.

Tim Emei dipimpin oleh deretan karakter eksentrik yang harus berjuang merangkak dari bawah demi menembus turnamen bergengsi bernama Supreme Invincible Cup.

Pergeseran dari konflik ekonomi ke arah yang lebih santai membuat nuansa film ini terasa berbeda. Kung Fu Soccer tidak membebani dirinya dengan melodrama kemiskinan yang terlalu kelam, melainkan lebih fokus pada semangat underdog, kerja sama tim, dan pembuktian diri.

Menariknya, film ini tidak memiliki satu sosok antagonis tradisional yang mutlak; konfliknya justru dibangun dari tekanan kehidupan modern yang dialami para karakternya.

Review Film Kung Fu Soccer, Evolusi Komedi Absurd Stephen Chow Di Era Modern

Review Film Kung Fu Soccer, Evolusi Komedi Absurd Stephen Chow Di Era Modern

Jajaran cast nya pun tidak main-main. Kehadiran aktris papan atas Dilraba Dilmurat dan aktor/musisi Lay Zhang memberikan daya tarik visual dan energi yang segar.

Penampilan Zhang Xiaofei sebagai kapten yang tangguh juga menjadi nyawa tersendiri bagi dinamika tim Emei.

Tidak ketinggalan, ada penampilan spesial dari bintang-bintang top seperti aktor Jepang Takeru Satoh dan aktris veteran Carina Lau yang semakin melengkapi jajaran pemain.

Layaknya film-film Stephen Chow yang sudah-sudah, jangan mengharap taktik sepak bola yang realistis. Kita akan disuguhi pertandingan sepak bola dengan gaya anime live-action: tendangan bola yang melanggar hukum fisika, efek visual yang spektakuler, hingga humor-humor slapstick tak terduga yang selalu sukses memancing tawa penonton di saat yang tepat.

Stephen Chow tidak main-main dalam urusan visual. Kung Fu Soccer mengintegrasikan lebih dari 1.200 shot vfx canggih, memanfaatkan motion-capture hingga AI-rendering demi menciptakan adegan pertandingan sepak bola yang melampaui batas nalar manusia.

Setiap tendangan, lompatan, dan benturan divisualisasikan dengan megah. Kita akan kembali melihat bola yang melesat layaknya komet atau pemain yang melayang di udara sambil mempraktikkan jurus kung fu.

Namun bagai pisau bermata dua mungkin bagi sebagian penonton awam kecanggihan teknologi ini justru menghilangkan “keajaiban orisinal” yang dulu ada di karya Chow.

Efek CGI yang terlalu mulus terkadang membuat adegan komedi fisiknya terasa kurang otentik jika dibandingkan dengan practical effect di awal 2000-an.

Tapi ya buat gue gak jadi masalah, karena ya Inilah perkembangan dunia sinema. Dimana kita harus menerima perubahan yang cukup drastis dan bermacam-macam cara kita harus beradaptasi terhadap perubahan.

Kung Fu Soccer adalah sebuah surat cinta dari Stephen Chow untuk para penggemar setianya, sekaligus pembuktian bahwa sang maestro mampu beradaptasi dengan zaman.

Film ini mempertahankan elemen fantasi dan komedi khasnya, namun menyuntikkan kedalaman cerita yang lebih relevan dengan audiens masa kini.

Bagi Gwiple yang mencari tontonan penuh tawa, aksi yang memanjakan mata, sekaligus pesan moral yang hangat, film ini adalah pilihan tepat untuk disaksikan di layar lebar.

Rating: 7 /10

Continue Reading

TV & Movies

Review Film Seni Merayu Tuhan, Drama Religi 2.0?

Published

on

By

Review Film Seni Merayu Tuhan, Drama Religi 2.0?

www.gwigwi.com – Habib Ja'far bikin film!

Pendakwah yang populer dengan konten Pemuda Tersesat ini memfilmkan bukunya “Seni Merayu Tuhan” bersama Wahana Kreator Nasional.

Bagaimanakah buku essai ini bisa digubah dan diadaptasi dengan naratif audiovisual?

Hikmah (Ari Irham) hanya berinteraksi dengan Ibunya (Rieke Diah Pitaloka) saat ada perlu saja. Sampai akhirnya Ibunya meninggalkannya selamanya.

Review Film Seni Merayu Tuhan, Drama Religi 2.0?

Review Film Seni Merayu Tuhan, Drama Religi 2.0?

Menyesal dan ingin berbuat lebih, Hikmah berusaha menjadi lebih soleh, lebih baik dibantu oleh pacarnya yang beda server/agama, Sophia (Lutesha) dan temannya yang rada alim, Hotib (Teuku Rizky).

Dari perjalanan itu, Hikmah mengetahui keadaan sebenarnya sang Ibu dan mengetahui dirinya lebih jauh.

SENI MERAYU TUHAN punya semua tipikal genre religi. Perjalanan berubah, pertaubatan, ketemu kepala agama yang terlihat perfect doyan nasihatin, ceramah dan pencerahan.

Menariknya tak semulus itu. Hikmah mencoba lebih baik, bertemu ustadz (Alfie Alfandy) yang ternyata punya rahasia dan dari sana hidupnya penuh twist.

Seolah menolak mengikuti patron cerita demikian dan hasilnya terasa spesial. Sedikit dekonstruksi apa itu kisah religi dan malah mengorek esensinya yang bersifat universal tak hanya pakem di satu agama.

Review Film Seni Merayu Tuhan, Drama Religi 2.0?

Review Film Seni Merayu Tuhan, Drama Religi 2.0?

Hubungan Hikmah dan Sophia memiliki jurang yang sulit disatukan, tetapi film bermain cantik. Di mana ternyata perbedaan membuat mereka melihat kembali diri masing-masing, bergulat dengan luka lama dan berproses di sana.

Proses inilah yang disukai film karya sutradara Cesa David Luckmansyah ini. Sedaripada hijrah instan secara total, film mengapresiasi langkah yang lebih perlahan. Tidak terburu berubah, tapi menjalani prosesnya dan seakan membisikkan, “Gak papa. Pelan saja. Jalanin aja dulu”

Mungkin yang membingungkan dari SENI MERAYU TUHAN adalah masuk kategori apakah film ini dan untuk siapa? Tentu religi drama air mata dengan sedikit komedi. Namun barangkali, sulit menarik penonton bilamana tak mengenal Habib Ja'far atau menganggapnya lagi-lagi film penuh petuah membosankan.

No. SENI MERAYU TUHAN adalah pengembangan dari itu. Memangkas paruh klise membosankannya dan menceramahi dengan lebih subtil nan mengena dan bisa konek dengan bahkan yang tidak percaya Tuhan sekalipun.

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending