TV & Movies
Guardians of the Galaxy Vol. 3: Kupas Adegan Post-Credit, Anggota Baru Guardians of the Galaxy
www.gwigwi.com – Guardians of the Galaxy Vol. 3 mengakhiri perjalanan barisan Guardians of the Galaxy asli di MCU. Namun, kemungkinan Guardian akan terus berpetualang di layar di masa mendatang, dengan banyak anggota baru setelah Star-Lord, Mantis dan Gamora keluar dari tim, dan Drax serta Nebula memutuskan untuk mundur.
Untuk melanjutkan misi melindungi galaksi, Guardians telah menambah personel yang sangat berkualitas untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh para mantan anggota. Post-credit dari Guardians of the Galaxy Vol. 3 menunjukkan bahwa, di bawah bimbingan Rocket Raccoon, para Guardian masih bekerja dengan sangat baik untuk dapat menangani ancaman terhadap kedamaian alam semesta.
Para anggota Guardians of the Galaxy yang baru
Seperti disebutkan di atas, lineup Guardian baru terungkap di adegan Post-credit, dengan pemimpinnya adalah Rocket Raccoon. Mantan anggota grup itu sendiri telah mengakui hal ini, secara resmi mengakhiri kontroversi mengenai peran kepemimpinan antara Rocket dan Star-Lord selama bertahun-tahun. Groot, dengan penampilan yang jauh lebih tinggi dan berotot, adalah anggota kedua dari anggota original yang terus bertahan dengan Guardian.
Sementara itu, wajah baru adalah semua karakter yang pernah berinteraksi dengan Guardian di masa lalu. Itu termasuk Kraglin, penerus panah Yaka Yondu Udonta dan juga telah berdiri bahu membahu dengan Guardian berkali-kali setelah peristiwa Guardians of the Galaxy Vol. 2 ; Cosmo the Spacedog, anjing luar angkasa yang berperan sebagai “kepala keamanan” di Knowhere, markas baru Guardians; Adam Warlock, penjahat kecil dalam blockbuster terbaru Marvel Studios, dan juga entitas paling kuat kedua di alam semesta Marvel .
Anggota terakhir Guardians baru adalah Phyla-Vell, gadis yang muncul di Guardians of the Galaxy Vol. 3 sebagai subjek ujian dari High Evolutionary yang jahat. Dalam aslinya, Phyla-Vell adalah pahlawan super kosmik dengan kekuatan tak tertandingi, dan juga memiliki Pita Kuantum – perangkat pengontrol energi unik yang diberikan kepada siapa pun oleh entitas Eon. Jadilah penjaga alam semesta.
Phyla-Vell memiliki dua garis keturunan Kree dan Titan, sehingga membantunya memiliki banyak kekuatan super yang berbeda seperti kecepatan super, kekuatan fisik super, refleks super, dan beberapa kekuatan lainnya. Selain itu, dia juga pemilik pedang Oblivion, yang ditempa dari sihir Death-Magic. Karena masih kecil di Guardians of the Galaxy Vol. 3 , kekuatan Phyla-Vell masih dalam masa pertumbuhan dan belum mencapai level tertinggi seperti aslinya. Namun, karakter ini dipastikan masih memiliki banyak lahan di proyek MCU mendatang, baik dengan Guardians maupun di serial solonya sendiri.
Perbedaan tim Guardians of the Galaxy yang baru dibandingkan dengan yang original
Pilihan Marvel Studios dan James Gunn untuk jajaran Guardian baru sangat berbeda dari komik Marvel. Rocket, Groot, Cosmo, Adam Warlock, dan Phyla-Vell masing-masing bergabung dengan skuad, sementara Kraglin adalah tambahan baru.
Dengan jajaran Guardians yang asli, Marvel Studios mendapatkan inspirasi besar dari serial Annihilation karya Dan Abnett dan Andy Lanning. Di dalamnya, Star-Lord lah yang merekrut superhero lain untuk membentuk tim melindungi alam semesta, termasuk Gamora, Drax, Rocket, Groot, Adam Warlock, dan Phyla-Vell. Saat melangkah ke layar perak, Marvel Studios untuk sementara memotong bahu Warlock dan juga Phyla-Vell, itulah sebabnya mereka memasukkan duo karakter ini ke dalam jajaran Guardians yang baru, sebagai cara untuk memamerkan rasa hormat terhadap aslinya, serta penambahan kualitas setelah Star-Lord, Gamora dan Mantis meninggalkan tim.
Nasib Anggota Sebelumnya
Selain Rocket dan Groot yang terus bertahan dengan Guardian, semua anggota lainnya telah memilih jalan mereka sendiri setelah mengalahkan High Evolutionary. “Star-Lord” Peter Quill memutuskan untuk kembali ke planet asalnya Bumi untuk tinggal bersama kakeknya, menghadapi sudut gelap jiwanya sejak kematian ibunya, bagaimanapun, perjalanan Peter pada akhir adegan pasca-kredit, Marvel Studios telah secara resmi mengonfirmasi bahwa karakter tersebut akan kembali di masa mendatang, dengan nama yang sangat mengesankan – Legendary Star-Lord.
Akhir dari Guardians of the Galaxy Vol. 3 juga membuka masa depan baru untuk Gamora, versi dari tahun 2014 di Avengers: Endgame. Setelah memutuskan untuk menolak kasih sayang Star-Lord, Gamora kembali ke keluarga barunya, Ravagers, yang telah lama bersamanya setelah Thanos dikalahkan. Namun, karena aktris Zoe Saldana pernah menyatakan tidak ingin melanjutkan peran tersebut, masa depan Gamora di MCU masih menjadi tanda tanya besar.
Mantis adalah anggota berikutnya yang memutuskan keluar dari tim agar bebas melakukan apa yang diinginkannya setelah bertahun-tahun melayani Ego, dan kemudian Guardian. Mantis melihat ini sebagai peluang besar untuk menemukan dirinya sendiri dan memahami misinya di alam semesta yang luas alih-alih harus bergantung pada Drax atau anggota lainnya. Dalam komik aslinya, Mantis pernah menjadi Celestial Madonna, jadi tidak menutup kemungkinan karakter ini akan memiliki peran besar di masa depan MCU, dan mungkin kembali ke Guardians di proyek selanjutnya.
Nebula dan Drax, meski tidak keluar dari tim, tidak terlibat langsung dalam misi Guardian. Sebaliknya, mereka memutuskan untuk tinggal di Knowhere untuk menjalankan dan melindungi tempat itu. Nebula muncul sebagai pemimpin yang brilian dengan banyak strategi untuk membangun kembali masyarakat di Knowhere, sementara Drax bertanggung jawab membesarkan anak-anak yang diselamatkan Guardian dari High Evolutionary. Dengan peran di belakang layar seperti itu, tidak mengherankan jika Nebula dan Drax akan terus muncul di film Guardians mendatang (jika ada), meskipun hanya sebagai cameo.
Kapan Guardian baru akan muncul kembali di MCU?
Saat ini, Marvel Studios baru mengonfirmasi kembalinya Star-Lord di masa depan MCU. Namun, dengan deretan nama-nama besar Guardians baru seperti Adam Warlock atau Phyla-Vell, mungkin hanya masalah waktu sebelum skuad ini muncul kembali di layar perak. Namun, Marvel Studios mungkin harus mencari kapten baru untuk mengarahkan Guardians of the Galaxy Vol. 4, karena sutradara James Gunn secara resmi telah mengucapkan selamat tinggal kepada Marvel untuk fokus membangun dunia sinematik DC.
Selain itu, kecil kemungkinan Guardian akan kembali segera setelah Fase 5 MCU. Mereka hanya dapat muncul di blockbuster The Marvels – satu-satunya proyek, hingga saat ini, dengan konteks ruang dan alam semesta. Ide ini juga akan sangat masuk akal, karena Rocket dan Carol Danvers pernah bekerja sama setelah peristiwa Avengers: Infinity War.
Memasuki fase 6, Guardians bisa kembali muncul di dua blockbuster Avengers selanjutnya, The Kang Dynasty dan Secret Wars – film yang diprediksi memiliki skala “lebih besar” dari Endgame. Tentunya ini akan menjadi kesempatan bagi para superhero, regu yang berbeda untuk berkumpul, dan akan menjadi kesalahan besar tanpa Guardians of the Galaxy. Selain itu, karena Avengers biasanya berdiri bahu-membahu dengan Guardian dalam pertarungan mereka melawan Thanos, tidak ada alasan mengapa mereka tidak mencari bantuan dari skuad ini ketika mereka harus berurusan dengan variasi Kang the Conqueror.
TV & Movies
Review Film The Masters of The Universe, Not Enough Power
www.gwigwi.com – Franchise legenda lagi akan tayang setelah MORTAL KOMBAT 2 dan THE MANDALORIAN AND GROGU. HE-MAN! Laama sekali penantian setelah begitu banyak rumor dan segala macamnya, MASTERS OF THE UNIVERSE akhirnya jadi film juga. Nah, apakah akan hanya menyenangkan fans lama saja?
Adam (Nicholas Galitzine) rindu dengan kampung halamannya, Eternia sampai mengganggu pekerjaannya di kantor.
Naas, saat kerajaannya diserang dulu, dia terpaksa kabur ke bumi. Sampai akhirnya dia menemukan lagi pedang yang akan menuntunnya pulang, Sword of Power.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power
Namun, baru saja dia panggul pedang itu lagi, Adam diserang monster dan dilindungi teman lamanya, Theela (Camila Mendes) yang membawanya pulang.
Sang pangeran tak menyangka Eternia kini rusak akibat lalimnya sang musuh utama, Skeletor (Jared Leto). Menggunakan Sword of Power dan sekutunya seperti Man At-Arms (Idris Elba), maka Adam harus berjuang menyelamatkan dunianya.
Sebagai adaptasi mainan HE-MAN, tentu visual dan baku hantamnya lah salah satu pesona utama. Kostumnya untungnya tidak direalistiskan tapi total mencoba setia pada mainannya. Begitu pun aksinya menghentak bahkan sedari awal. Berkat koreografi energik dan sinematografi dinamis yang cakap.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power
Nicholas Galatzine seakan menchannel man child ala Star Lord-nya Chris Pratt, tapi tetap punya keunikan sendiri. Meski berbadan besar hanya dengan tatapan saja dia bisa terkesan lembut dan membuat iba.
Sisi itulah yang membuat hero ini tak hanya sekedar mas berotot tangguh bawa pedang saja. Terdapat kualitas heroik lain yang menyokong tenaga itu, membuatnya cukup berbeda dibanding tipikal penampilannya. Dan Nicholas Galitzine berhasil menampilkannya.
Mungkin yang mengherankan adalah pilihan membuat badannya sudah bongsor walau belum berubah jadi HE-MAN. Meski visual henshinnya keren, tapi perubahan fisiknya terasa kurang sedrastis Chris Evans saat menjadi Captain America. Jadinya, efek wow transformasinya berasa kurang.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power
Di sisi lain, Jared Leto mengejutkan sebagai si antagonis. Tak sekalipun kita melihat wajahnya, tapi dia bisa melebur total dalam balutan kostum dan wajah tengkorak. Gesturnya begitu hidup dan dia bisa terlihat mengancam tapi kemudian lucu dengan seketika.
Secara cerita memang…klasik, maka film tampak mengandalkan atraksi, banter antar karakter yang memang oke saja dan komedi. Walau servicable, rasanya bila ingin menjadi franchise jaya kembali, THE MASTERS OF THE UNIVERSE tampaknya butuh lebih banyak kejutan dan selling point untuk memenangkan penonton sekarang yang sudah terhujani banyak konten, tak seperti tahun-tahun keemasannya dulu.
Bila tidak, yang senang sekali bisa jadi hanya para fans tua saja sementara penonton lain menggangguk saja kurang terkesan, seperti yang penulis rasakan.
TV & Movies
REVIEW FILM NORMAL, FILM ACTION YANG TIDAK NORMAL
www.gwigwi.com – Bob Odenkirk, sosok multitalenta yang dikenal sebagai penulis, produser, dan aktor populer lewat serial Breaking Bad serta Saturday Night Live (SNL), kembali menggebrak layar lebar. Kali ini, ia berpartner dengan Derek Kolstad—kreator bertangan dingin di balik kesuksesan waralaba John Wick dan Nobody. Sinergi keduanya membuahkan sebuah film komedi aksi berjudul Normal, yang digarap di bawah arahan sutradara Ben Wheatley, yang sebelumnya menukangi film Free Fire, Tomb Raider, dan Meg.
Film ini menyoroti kisah seorang sheriff pengganti bernama Ulysses (diperankan oleh Bob Odenkirk). Ia mendapatkan penugasan baru di sebuah kota kecil yang tenang di wilayah Minnesota bernama Normal. Ulysses hadir untuk menggantikan posisi sheriff sebelumnya, Gunderson, yang secara mengejutkan meninggal mendadak. Secara personal, Ulysses adalah pria yang fleksibel dan hanya ingin menjalani sisa kehidupannya dengan ketenangan. Namun, di balik pembawaannya tersebut, ia memendam masa lalu traumatis yang kelam saat masih menjadi seorang sheriff idealis di masa lalu.

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal
Ulysses awalnya beranggapan bahwa masa tugasnya selama delapan minggu ke depan—hingga sheriff definitif baru diangkat—akan berjalan datar dan biasa saja seperti nama kotanya. Namun, ekspektasi tersebut langsung hancur berantakan. Kehadiran sepasang pendatang baru, Moira (Lena Headey) dan Keith (Brendan Fletcher), yang nekat melakukan perampokan bank secara brutal, justru menjadi pemantik yang membuka kotak pandora dan menyingkap rahasia besar nan kelam yang selama ini disembunyikan oleh kota Normal.
Sebagai sebuah film aksi, Normal masih membawa napas dan formula yang serupa dengan John Wick dan Nobody. Sepanjang durasi, film ini dipenuhi oleh adegan-adegan sadis, berdarah, dan memilukan. Oleh karena itu, film ini sangat tidak ramah dan tidak cocok ditonton oleh Gwiple yang masih berusia di bawah 17 tahun.
Meski begitu, intensitas baku tembak dan pertarungan di film ini tidak disajikan secara bombastis atau se-elegan John Wick. Mengapa? Karena mayoritas karakter yang terlibat di dalamnya hanyalah warga sipil biasa, bukan petarung atau kombatan profesional. Namun, di situlah letak kekuatan dan keseruannya. Setiap aksi perkelahian terasa sangat mentah (raw), realistis, minim koreografi rumit, dan brutal. Unsur komedi gelap (dark comedy) di film ini juga dieksekusi dengan cerdas, di mana kelucuan sering kali lahir dari situasi gore yang dialami para korban, memicu banyak momen mencengangkan yang membuat Gwiple terbelalak.

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal
Selain itu, film ini memiliki jajaran karakter pendukung yang cukup ramai. Hebatnya, setiap tokoh diperkenalkan satu per satu dengan porsi yang pas dan penokohan yang kuat. Hal ini membuat Gwiple bisa dengan mudah mengingat mereka dalam waktu singkat, meskipun durasi kemunculan beberapa karakter tergolong singkat.
Secara keseluruhan, Normal adalah sajian film aksi yang lebih condong mendekati kembaran Nobody berkat taburan bumbu komedi yang kental, sehingga nuansanya tidak terasa sekelam dan seserius John Wick. Dengan plot cerita yang ringan, pergerakan alur yang tidak bertele-tele, serta suguhan beberapa plot twist yang menyegarkan di akhir cerita, Normal menjadi sebuah tontonan yang amat menghibur, seru, dan sangat layak untuk Gwiple saksikan langsung di layar bioskop!
Berita Anime & Manga
Review Film The Mandalorian and Grogu, Is this The Way?
www.gwigwi.com – www.gwigwi.com – Sukses dari serial Disney+ nya, Abang Din Djarin alias Mandalorian (Pedro Pascal) bersama Grogu kali ini nongol di layar besar bioskop. Apakah bisa menyuguhkan petualangan yang lebih wah?
Mandalorian diminta Kolonel Ward (Sigourney Weaver) untuk menyetujui permohonan kembar Hutt. Kedua dedengkot kriminal gang Hutt itu meminta si pemburu hadiah untuk mencari Rotta (Jeremy Allen White) yakni anak dari si cacing legendaris trilogi orisinil Star Wars, Jabba The Hutt.
Plot sebenarnya tidak se straight forward kedengarannya dan masih memberikan surprise yang boleh lah menegangkan. Walau terasa episode tambahan saja dari serialnya.
Barangkali yang disayangkan, transisi ke layar lebar ini kurang dibarengi presentasi yang lebih sinematik.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?
Konsep sinematografinya terasa tak jauh berbeda dengan di serialnya yang untuk layar kecil. Membuat petualangan ini sedikit terasa kurang epik.
Mungkin tujuannya memang menampilkan skala konflik yang lebih kecil tapi rasa low budget nya jadi berkesan sekali apalagi melihat dari layar lebar. Begitu pun spesial efek yang cukup sering terlihat kurang meyakinkan apalagi di paruh awal.
Penulis Dave Filoni (yang sekarang menjadi Presiden Lucasfilm) dan sutradara Jon Favreau, boleh jadi ahli dalam world building baik soal desain planet baru dan alien baru, tapi rasanya kurang menginjeksinya dengan karakterisasi yang unik.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?
Rotta memiliki kontras yang menarik dengan Hutt lain yang doyan jadi jahat. Kalau saja ditampilkannya tak melulu dengan dia mengeksposisi situasi dan perasaannya layaknya sinetron, dan dengan cara yang lebih subtil.
Rasanya jadi paham kenapa James Gunn begitu komitmen dengan komedinya dan serial The Boys kerap memperlihatkan nyelenehnya; gunanya untuk menghidupkan adegan dan memberi keunikan. Sesuatu yang dibutuhkan THE MANDALORIAN AND GROGU untuk lebih memoles desain produksinya yang cakap.
Apabila tujuan film ini adalah menampilkan petualangan pulp sederhana yang seru dibumbui komedi, duo Mando dan Grogu sudah plek sekali cocoknya.

Review Film The Mandalorian And Grogu, Is This The Way?
Namun rasanya mereka membutuhkan para karakter pendukung yang punya kepribadian kuat, unik dan menghibur lebih banyak lagi, juga ketegangan dan komedi yang lebih kental lagi.
Bila sudah demikian, mau berapa kali pun petualangan THE MANDALORIAN AND GROGU dirilis, meskipun tak banyak benang merah di antaranya, penonton boleh jadi masih akan wow dengan aksi keren Mando dan terpesona lucunya Grogu.
Untuk sekarang THE MANDALORIAN AND GROGU mungkin not exactly the way.
-
News4 weeks agoGenshin Impact Versi “Candra VII”: Kebenaran di Balik Lembar-Lembar Purana
-
News4 weeks agoPara Pemain “Mortal Kombat II” Meriahkan Tur Global di Jakarta lewat kehadiran di Fan Event dan Red Carpet di Jakarta
-
TV & Movies4 weeks agoResmi Meluncur, Xiaomi TV S Mini LED 2026 Standar Baru Hiburan Premium di Rumah
-
TV & Movies4 weeks agoGrogu Hadir Di Perayaan Star Wars Day Di Jakarta
-
TV & Movies4 weeks agoReview Film Mortal Kombat II, Semakin Berani Bermain
-
TV & Movies4 weeks agoREVIEW FILM FUZE, PERAMPOKAN DI TENGAH TEROR BOM YANG PENUH KEJUTAN
-
Box Office3 weeks agoReview Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru
-
Gaming3 weeks agoSiap Tempa Takdirmu: Blades of Fire Versi 2.0 Kini Resmi Hadir di Steam!





